Hotel Baru Bermunculan di Tengah Pandemi Corona

this formate

Mission San Juan Capistrano di California (foto: California Mission Guide)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Benarkah Covid-19 telah menghempaskan industri hotel? Belum tentu. Nyatanya, sejumlah hotel baru dijadwalkan akan dibuka dalam waktu dekat meski pandemi COVID-19 belum menunjukan tanda-tanda akan mereda.

Menurut laporan situs Hotel News Now yang merupakan divisi pemberitaan perusahaan riset hotel STR, di Amerika saja sektor perhotelan telah kehilangan 5 juta pekerjaan sejak Februari.

Sementara itu menurut Zachary Sears, ekonom senior di Tourism Economics – bagian dari perusahaan riset Oxford Economics –  tingkat hunian hotel di beberapa kasus turun 95% dibandingkan tahun lalu.

 “Hotel-hotel terpaksa ditutup secara permanen karena merugi secara finansial,” katanya seperti dilansir CNN Travel.

Laporan dari American Lodging and Hotel Industry yang dirilis 31 Agustus 2020,  menunjukkan tingkat hunian pada 65% hotel di sana masih di bawah 50%. Minat konsumen untuk melancong, masih menurut laporan tersebut, dinilai berada pada titik terendah sepanjang masa.

Hanya 38% orang Amerika menyatakan akan berlibur pada akhir tahun. Padahal biasanya ada 70% orang Amerika berlibur pada musim liburan tersebut.

Terlepas dari skenario suram karena pandemi diperkirakan masih terus berlanjut, selalu ada titik terang: hotel-hotel baru, baik hotel brand bintang lima maupun yang kecil-kecil, yang tersebar di Eropa dan AS hingga Afrika, Asia, dan Australia, bersiap untuk dibuka pada musim gugur, memasuki musim dingin ini. 

 “Beberapa bulan ke depan ini akan menjadi waktu yang sibuk bagi pembukaan hotel baru,” kata Leo Sorcher, pendiri perusahaan travel untuk wisata luksurius Inhabit the World. “Mereka (pemilik hotel. Red) melihat ’secercah cahaya di ujung terowongan.’” 

Di AS, misalnya, sebuah penginapan di California akan sebera dibuka bulan ini. Penginapan (Inn) ini terletak di jantung pusat kota, dekat reruntuhan gereja peninggalan Mission San Juan Capistrano pada abad ke-19. 

Pada bulan yang sama, sebuah hotel butik mewah River House di Odette juga akan dibuka. Lokasinya yang tersembunyi menjadi tempat favorit para artis maupun selebriti untuk menghabiskan waktu liburan mereka.

Sementara itu bulan depan, Palm Beach akan membuka resor keduanya di Nantucket, sebuah pulau yang terletak di negara bagian Massachusetts.

Menyeberang ke Eropa: London setidaknya akan memiliki dua hotel baru pada musim gugur ini, yakni: The Mayfair Townhouse, di Mayfair, dan The Mitre Hampton Court.

Di Madrid, ibu kota Spanyol sekaligus kota terbesar di sana, Mandarin Oriental Ritz akan memulai debut gemilangnya pada awal 2021. 

Daftar pembukaan hotel masih panjang, termasuk One & Only Desaru Coast di Malaysia, Angama Safari Camp di Cagar Alam Nasional Maasai Mara, Kenya dan The Oval Hotel di Adelaide, Australia.

Industri akan bangkit kembali

Para ahli meyakini industri hotel akan bangkit lagi meski sulit mengetahui kapan hal itu akan terjadi. “Yang pasti, obat untuk melawan virus corona akan segera ditemukan. Itu artinya industri akan kembali pulih,” kata Sears dari Tourism Economics. Dia meyskini Ini hanya persoalan waktu. Sementara itu hotel baru akan terus dibuka.

Sorcher dari Inhabit the World, perusahaan travel untuk wisata luksurius, sepakat. Ia bahkan mengatakan membuka hotel di saat seperti ini memiliki peluang sukses lebih baik ketimbang biasanya.

 “Orang-orang di balik properti ini telah mengamati pandemi. Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana hotel-hotel lain menghadapinya, dan mempelajari apa yang berhasil dan yang tidak sukses. Mereka berada pada waktu yang tepat untuk bekerja dengan baik.”  katanya.

Ada Aplikasi Arms Travel Advisor Baru dengan Intel Terkait Real Time COVID-19 

this formate

NEW JERSEY, AS, bisniswisata.co.id: Ada aplikasi baru yang mengubah permainan bernama DDragonSlayerjasi apps yang memberikan informasi terpusat dan real-time kepada para pelancong pembpara travel advisor  mereka tentang status pembukaan kembali di 50 negara bagian AS, serta 124 negara yang daftarnya terus bertambah di seluruh dunia.

Selain itu, aplikasi ini siap menampilkan persyaratan dan batasan terkait COVID-19 di setiap tujuan, seperti protokol karantina dan apa yang dapat Anda lihat dalam hal kondisi lokal pada saat kedatangan.

Bagi konsumen dan para travel advisor, masalah pembatasan perjalanan  dan regulasi yang selalu berubah-ubah jadi sulit untuk mengikuti perkembangannya. 

Wisatawan kerap jadi bingung, ada perbatasan yang dibuka kembali tiba-tiba secara spontan ditutup, hotel dan objek wisata ditutup dan penerbangan dibatalkan pada saat-saat terakhir, semua terjadi secara tak terduga dan hampir seketika.

Hal ini menjadi luar biasa dan hampir tidak mungkin untuk diikuti.  Untuk itulah DragonSlayer punya misi mengubah semua itu dan membantu para travel advisor dan wisatawan  yang berminat travelling lagi mendapatkan kembali kepercayaan diri yang mereka butuhkan guna melakukan pemesanan rencana perjalanan ke depan.

Pendiri dan CEO DragonSlayer, Peter Wells, mengatakan bahwa ketika pandemi global melanda dan hampir menghentikan perjalanan di seluruh dunia pasti ada cara untuk menggunakan momen ini.

“Bukan untuk keuntungan saya, tetapi untuk mencari peluang dan, yang saya lihat adalah kurangnya informasi ini … terlepas dari semua teknologi yang kami miliki, kata Peter Wells dilansir dari Travelpulse.

Tidak ada satu tempatpun yang dapat Anda tuju sebagai pelancong atau, sekarang, sebagai agen perjalanan untuk mencari tahu apa peraturan terbaru tentang bagaimana saya bisa mengisi bagian yang kosong, apakah itu negara bagian atau negara? dan kemudian, begitu sampai di sana, apakah barnya buka? tanyanya.

Wells melihat kebutuhan dan mulai bekerja membangun DragonSlayer.  Menggunakan pembelajaran mesin dan analitik kepatutan, sistem SAFE-T (Smart Analytics for Educating Traveler) memberi peringkat tujuan dan memberi mereka skor nol hingga seratus dalam hal kemampuan perjalanan mereka saat ini.

Aplikasi tersebut bahkan dapat disesuaikan menurut tingkat kenyamanan individu pengguna, dan hasilnya kemudian disesuaikan dengan preferensi mereka melalui filter toleransi risiko yang dipersonalisasi.

 “Kami yakin tidak ada yang seperti itu di pasar,” kata Wells.Pendekatan revolusioner DragonSlayer memberikan penggunanya informasi yang komprehensif, akurat dan mudah dicerna.

Dapat dilakukan melalui tatap muka langsung juga yang memungkinkan mereka untuk memvisualisasikan perbandingan antara berbagai tujuan.  

Dengan menerapkan filter, Anda dapat dengan mudah mempersempit hasil Anda untuk mengungkapkan, katakanlah misalnya negara mana yang terbuka untuk pelancong AS tanpa memerlukan karantina pada saat kedatangan atau yang memerlukan tes COVID-19 untuk masuk.

Anda juga dapat mempelajari lebih jauh detailnya dan mempelajari tentang protokol test khusus negara atau negara bagian serta persyaratan yang diperlukan, visa atau kebijakan pemesanan yang fleksibel. Semua itu untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang pengalaman perjalanan Anda.  

Anda juga dapat membuat daftar pantauan sehingga jika ingin pergi ke suatu tempat tertentu, tetapi belum diizinkan atau tidak ingin karantina. Anda akan diberi tahu setiap kali ada perubahan kebijakan di tujuan yang Anda inginkan  .

 “Kami telah melihat negara-negara buka dan kemudian tutup lagi,” kata Wells. Kroasia terbuka tanpa harus test kesehatan dan kemudian segera berubah pikiran lagi, wisatawan harus lakukan test,”

Lalu ada pertanyaan seputar transit di bandara. Semua ini pertanyaan yang dimiliki agen perjalanan dan itu adalah jawaban yang kami masukkan ke dalam aplikasi, tutur Wells.

 “Aspek waktu nyata atau real time itu akan menjadi salah satu nilai jualnya, karena orang tidak ingin terjebak di tengah-tengah Atlantik dan mengetahui bahwa Kroasia sudah tutup bagi wisatawan lagi ketika mereka sampai di sana,” kata Wells.  

Dia juga mengungkapkan bahwa perusahaan segera memasukkan layanan berbasis lokasi yang akan memungkinkan klien dengan mudah dan andal menemukan fasilitas pengujian COVID-19 terdekat yang disetujui.

DragonSlayer awalnya diluncurkan pada Desember 2019 sebagai aplikasi travel butik, “Sekarang, Anda mungkin mengajukan pertanyaan, Mengapa Anda menawarkan ini kepada agen perjalanan lain?  Bukankah mereka akan melihat Anda sebagai pesaing? 

‘Saya benar-benar percaya pada ungkapan pasang naik mengangkat semua perahu ‘.  Saya hanya berpikir kita harus membuat orang merasa percaya diri untuk bepergian lagi. “

Wells dan timnya menekankan bahwa DragonSlayer, sebagai situs sumber tunggal untuk semua informasi perjalanan terkait COVID, dapat menjadi alat yang sangat berguna bagi travel advisor yang kliennya beralih ke panduan di pasar yang membingungkan untuk konsumen langsung. 

Hari-hari mengandalkan pemesanan dan mesin pencari untuk merencanakan liburan Anda sendiri (setidaknya untuk sementara) sudah berlalu.

Travel advisor  pasti akan memainkan peran kunci dalam pemulihan industri perjalanan, karena konsumen semakin menghargai aspek keandalan dan keamanan dalam perencanaan perjalanan yang dapat mereka sediakan. 

Pembuat DragonSlayer berencana untuk menyesuaikan platform saat era pandemi berkembang dan seterusnya untuk memfasilitasi interaksi antara agen perjalanan dan klien mereka.

Aplikasi DragonSlayer akan resmi diluncurkan pada 21 September 2020. Pengguna Android dapat mengunduh aplikasi tersebut di Play Store, sedangkan pengguna iPhone atau desktop dapat mendaftar untuk menerima notifikasi 

 

 

Travel Advisor Meluncurkan Platform Media Sosial THE HUB  

this formate

Badan Pariwisata Costa Rica adalah sslah satu anggota The Hub, untuk memprosikan alambya yang indsh. ( Foto: Unsplash.com/ Trail)

NEW JERSEY, AS, bisniswisata.co.id: Platform media sosial baru – THE HUB – dirancang untuk menyatukan industri perjalanan guna menemukan cara berkembang di era virus korona, kata Tom Brussow, pemilik dan presiden Sunsational Beach Vacations, yang ikut mendirikan platform tersebut bersama  Pat Miller, seorang profesional penyiaran dan konsultan pemasaran untuk bisnis kecil.

 “Sebagai praktisi,  saya khawatir tentang posisi industri perjalanan di mana kita semua akan berada dalam 12 bulan ke depan. Saya melihat kebutuhan akan tempat untuk menghubungkan dan menggabungkan kekuatan dengan agen dan pemasok lain,” ujarnya.

Tom menilai akan menjadi lebih kuat jika industri wisata bersatu di masa yang sangat menantang ini.  Meskipun ada banyak agen di luar sana, dia tidak dapat menemukan komunitas yang menyediakan semua informasi yang diinginkan dalam satu tempat.  

“Saya pikir agen lain mungkin merasakan hal yang sama, jadi kami mengambil lompatan dan meluncurkan THE HUB yang bisa jadi travel advisor,  pemasok, badan pariwisata, dan DMC  bekerja sama menciptakan visi bersama dengan rencana tindakan dan strategi khusus untuk membantu industri kembali ke masa kemakmuran dalam beberapa minggu atau bulan mendatang,” katanya.

Selama sesi mingguan Path to Prosperity Travel Think Tank, ide dan peluang yang diidentifikasi oleh kelompok akan ditambahkan ke dalam rencana strategis dan diprioritaskan sesuai dengan dampak, sumber daya yang dibutuhkan dan jadwal pelaksanaan,katanya.

“Kami benar-benar percaya bahwa ini adalah bagian penting dari resep bagaimana kami kembali ke tempat yang jauh lebih baik.  Kami juga berada dalam posisi yang sangat unik untuk memimpin inisiatif ini,” tambah Pat Miller dilansir dari Travelpulse.

Hal ini karena pihaknya adalah platform di seluruh dunia yang tidak berafiliasi atau berpegang pada konsorsium, pemasok, tourism board atau asosiasi mana pun dan keanggotaannya mencerminkan hal itu.  

“Hasilnya, kami dapat memenuhi dan melayani kebutuhan seluruh industri dengan cara yang sangat efektif dan terjangkau. ”

Di antara banyak hal lainnya, THE HUB menciptakan komunitas destinasi untuk advisor, yang akan membekali mereka dengan semua alat dan informasi yang mereka butuhkan untuk mempromosikan dan menjual destinasi tersebut.

Ini juga akan mengungkap manifest, yang akan mengkonsolidasikan acara dan kesepakatan industri di satu tempat.

Keanggotaan untuk advisor dan pemasok perjalanan individu advisor US$ 19,99 per bulan.  Tarif diskon untuk organisasi dengan banyak anggota juga tersedia.Calon anggota dapat memanfaatkan uji coba 14 hari gratis.

 

Suka Bepergian ? Kemaslah Isi Koper Dengan Profesional   

this formate

Mengemas isi koper dengan baik. ( Foto: Shutterstock)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Bagi sebagian dari kita, ini adalah bagian perjalanan yang menarik yaitu memutuskan apa yang akan Anda bawa dan mengatur semuanya di dalam koper Anda.  

Dilansir dari travelsense.org, ada seni yang bagus untuk mengemas dalam jumlah yang tepat dan menyertakan beberapa barang yang akan membuat perjalanan Anda semakin menyenangkan.

Siapa yang lebih baik untuk bertanya daripada orang yang sering bepergian.  Kami menempatkan beberapa ‘antena’ di industri perjalanan dan memberikan beberapa saran tentang pengepakan seperti seorang profesional.

Jajak pendapat informal para profesional industri mengungkapkan bahwa pengepakan per kelompok telah menjadi favorit besar. Koper tersedia dalam  berbagai ukuran, di dalamnya ada tas-tas kain segi empat dengan ritsleting persegi panjang tempat Anda memasukkan berbagai  item pakaian.

Biasanya dikelompokkan bersama seperti kemeja, kaus kaki dan pakaian dalam, dan sebagainya tak ubahnya seperti folder file untuk pakaian. Cara yang bagus untuk tetap teratur, terutama jika Anda sedang bepergian dan tidak pernah punya waktu untuk membuka kemasan dengan benar dan menyisakan satu kantong khusus  untuk cucian kotor.

Berikut adalah beberapa ide packing  l yang kami peroleh dari berbagai jenis perjalanan. Dari Alycia Oliphant, Manajer Pengembangan Bisnis untuk Cunard Line, yang mengatakan bahwa rata-rata dia berada di jalan. Berikut penjekasannya;

“Di tas saya, saya selalu memiliki rencana perjalanan, earphone, buku ‘asli’ karena saya tidak suka e-reader, krim obat untuk mengatasi kekeringan dalam penerbangan, dan dua syal murah: satu untuk dipangkuan saya dan satu untuk saya kenakan di bahu,”  

Saya tidak pernah memakai sepatu kets atau sepatu bertali kalau-kalau mereka meminta Anda melepas sepatu Anda di bagian keamanan, karena merepotkan untuk dilepas dan dipasang kembali.  Dan saya selalu memakai kaus kaki: siapa yang ingin bertelanjang kaki melewati detektor keamanan!

Saya juga menyimpan perlengkapan mandi kedua untuk bepergian jadi saya tidak selalu mencari peralatan di kamar mandi.  Saya memiliki masalah teknologi hingga ke sains dan menyimpannya dalam satu paket.  

Salah satu gadget yang saya suka adalah lampu baca leher angsa miniatur yang dihubungkan ke laptop saya.  Ini memberikan cahaya yang lebih lembut daripada cahaya putih dari layar.

Berkemas untuk kapal pesiar tentu saja berbeda!  Lebih banyak sepatu, tas dan perhiasan.  Anda cukup banyak harus memiliki dua pakaian per hari, yang bagus untuk saya karena saya suka berdandan.

Penulis perjalanan yang produktif Tim Johnson (timjohnsontravels.com) memiliki  pengalaman  keliling 145 negara dan baginya, kesederhanaan adalah yang terbaik.  Dia belajar jauh-jauh hari untuk bepergian dengan hanya membawa barang, tidak peduli berapa lama perjalanan atau eksotisme tujuannya.

“Saya tidak pernah meninggalkan rumah tanpa penyumbat telinga, karena Anda tidak pernah tahu kapan kamar hotel Anda akan menghadap ke jalan yang sibuk, atau Anda akan mendengar teriakan di belakang Anda di pesawat,”

Barang lain yang sangat diperlukan bagi saya adalah pakaian renang.  Saya pernah berenang di pantai Antartika serta 1.000 kilometer di utara Lingkaran Arktik, jadi Anda tidak pernah tahu kapan Anda akan membutuhkan jas.

Dan untuk menyimpannya sebagai barang bawaan saja, Tim mengatakan dia merasa nyaman dengan mengemas “versi paling sederhana dari pakaian saya, jika bukan yang paling bergaya — termasuk enam kemeja polo hitam yang hampir sama semua,” 

Christina Annese bekerja sebagai Account Manager utama di Icelandair dan sering bepergian untuk urusan bisnis.  Dia menemukan bahwa sandal balet yang terlipat di tasnya hanya memakan sedikit ruang dan fleksibel dalam hal mode dan juga  bantal leher.

Tadinya dia tidak pernah mengira  menginginkan bantal leher karena  kesannya seperti orang yang kutu buku, tapi sekarang dia suka sekali bantalnya. Dia juga selalu bawa tisu desinfektan dan tas tangan dengan penutup ritsleting.

Karena sering bepergian ke Islandia, Christina menyarankan bahwa untuk perjalanan ke suhu yang lebih dingin, Anda harus mengemas pakaian yang dapat dikenakan berlapis.

Saya melakukan perjalanan sekitar 15 kali setahun dan menemukan beberapa trik saya sendiri.  Saya tidak pernah memasukkan pakaian langsung dari laci ke dalam koper saya.

Sebaliknya, saya meletakkan semua yang saya rencanakan untuk dibawa ke tempat tidur dan memperkirakan apakah itu akan muat ke dalam koper saya.

Dengan begitu, jika saya harus mengurangi bawaan. Saya bisa mengeluarkannya dari tumpukan daripada harus membongkar isi koper dan mengganggu susunan isi tas yang dikemas dengan hati-hati.

Dan meskipun para profesional yang saya sebutkan di atas menyukai kemasan mereka, saya malah penggemar kantong plastik vakum yang kuat dan bening untuk meletakkan pakaian. 

Pakaian di pres dan tinggal menggulungnya untuk menekan pakaian dan mengeluarkan udara.  Banyak barang, terutama yang berukuran besar seperti sweater, berukuran setengah dari ukuran biasanya. Plastik vakum sangat membantu jika Anda pergi dengan rute khusus. Setiap set ada berbagai ukuran, jadi seperti pengepakan untuk hemat ruang.

Saya juga suka memasukkan tas kecil terpisah dalam tas jinjing saya yang berisi barang yang saya perlukan dalam pesawat: bahan bacaan, syal, bantal leher, penyegar napas, kebutuhan teknologi, pelembab, makanan ringan.  Dengan cara itu saya bisa menariknya keluar saat saya duduk.

Beberapa barang membuat hidup saya lebih mudah di jalan. Barang itu termasuk lampu malam plug-in kecil untuk kamar hotel saya. Kipas kertas genggam telah terbukti menjadi penyelamat dalam perjalanan ke iklim yang lebih hangat seperti Venesia,  berjemur matahari dan Karibia yang panasnya menguap.

Jaket jeans juga bagus, karena modelnya klasik, tahan angin, dan dengan saku yang selalu berguna untuk notebook, ponsel, atau uang receh – jaket jean selalu dapat didandani dengan syal yang bagus.

Kemaslah dengan cerdas dan Anda akan memudahkan diri Anda sendiri dan menghindari kerepotan. Martha Chapman telah bepergian sejak dia berusia 12 tahun dan mengatakan bahwa dia selalu menantikan petualangan berikutnya.

 

Uji Coba Pembukaan Kembali Puncak Sosok, Nominator 10 Besar Dataran Tinggi Terpopuler

this formate

Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Kwintarto Prabowo saat memberikan sambutan. ( Foto: Satrio Purnomo) 

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Kwintarto Prabowo meminta masyarakat Bantul dan wisatawan domestik lainnya yang hadir pada uji coba pembukaan kembali obyek Puncak Sosok agar mematuhi protokol kesehatan dengan baik dan benar.

” Ingat setelah enam bulan tutup, kini bukit yang terletak di Desa Bawuran, Pleret, Bantul, DIY baru uji coba pembukaan dengan jumlah orang yang terbatas. Kita semua harus menjaga agar obyek yang masuk 10 besar dataran tinggi terpopuler di Indonesia ini bisa beroperasi penuh kembali,” kata Kwintarto Prabowo.

Dia mengingatkan para pengunjung pada pembukaan uji coba ini, Sabtu Malam Minggu, kemarin ( 5/ 9/ 2020) bahwa Puncak Sosok masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia ( API) 2020 sehingga pengunjung bisa mendukung dengan ketik API 10H kirim ke : 99386.

” Kita semua tahu pertumbuhan ekonomi sudah minus dan pembukaan kembali obyek-obyek wisata seperti Puncak Sosok akan menggeliatkan perekonomian setempat sehingga aturan sering cuci tangan, jaga jarak, selalu pakai masker jangan diabaikan,” tambahnya.

Ketidak disiplinan pengunjung akan membuat obyek ditutup kembali karena sifatnya masih uji coba dan dalam pengawasan pemerintah DIY maupun pusat. Kalau tidak peduli dengan protokoler kesehatan maka ratusan UMKM dan masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan akan gigit jari, kehilangan nafkah lagi.

Rudi Haryanto, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Jambon desa Bawuran mengatakan konsep untuk Puncak Sosok adalah wisata malam dan dari lebih 170 warga yg terlibat untuk mengelola tempat wisata ini untuk menyaksikan keindahan kota Yogyakarta di waktu malam sambil kulineran.

Menikmati pemandangan kota Yogyakarta dari atas ketinggianbdi Puncak Sosok serta pengunjung uji coba pembukaan kembali.

” Obyek wisata ini adalah aset bersama dan dijaga bersama. Datang sehat, pulangpun sehat dan selamat sehingga protokol kesehatan haeus dipatuhi ” kata Rudi wanti-wanti apalagi Puncak Sosok di percaya Pemda DIY, untuk mewakili penghargaan dataran tertinggi favorit API.

Pihaknya sebagai pengelola wisata Puncak Sosok juga akan membatasi jumlah pengunjung agar tidak membuat kerumunan dalam jumlah yang besar karena biasanya pengunjung yang datang bisa mencapai 1000-3000 pengunjung perharinya.

“Pemandangan sangat indah sekali untuk di kunjungi dan berwisata, dan masuknya pun hanya bayar parkir.

Evaluasi akan terus dilakukan pasca masa uji coba tersebut agar didapatkan upaya kebiasaan baru dan penerapan protokol kesehatan yang tepat serta efektif ,”  ungkap Rudi Haryanto.

Puncak Sosok Bawuran, salah satu tempat di Jogja di mana kita bisa menikmati senja menjelang matahari terbenam sembari melihat pemandangan alam yang terhampar luas.

Tempat wisata ini merupakan kreatifitas dari pemuda setempat untuk menghidupkan wisata di daerah Pleret. Setelah melalui perjalanan kurang lebih 30 menit dari kota Jogja dengan perjalanan yang terjal, lelah pengunjung akan terbayar dengan melihat pemandangan alam yang indah dari atas bukit.

Selain menyuguhkan pemandangan alam, bukit ini juga dilengkapi dengan trek downhill maupun sepeda santai, cocok bagi yang gemar petualang sepeda. Jika tiba sire hari bisa menikmati pemandangan di sisi selatan, yang terlihat adalah hamparan hijaunya sawah dan gemerlap kota Jogja

Arah kebalikannya ( Utara) justru Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, Piyungan. Meskipun terhitung wisata baru, Puncak Sosok sudah  dilengkapi dengan fasilitas dan spot-spot foto, diantaranya panggung, ayunan, tempat duduk yang nyaman, gubuk, warung-warung kuliner, toilet dan mushola.

Adapula pagupon “rumah merpati”, sembari menikmati alam kita akan ditemani oleh burung merpati yang berterbangan disekitar kita dan alunan musik. Saat ini, pengunjung belum dikenakan retribusi tiket masuk, hanya dipersilakan untuk mengisi kas seikhlasnya.

 

Bali “Under Control”, Siap “re- Branding”

this formate

INSAN pariwisata di Bali sedang ngotot berupaya untuk mengembalikan ekonomi bisnis dan rumah tangga mereka bergulir nyata dan produktif. Tonggak yang ditancapkan oleh Pemerintah Provinsi Bali ternyata harus tetap ditempatnya sampai waktu yang belum ditentukan.

Dengan menggunakan kalimat “sampai kondisi pandemi di Bali, nasional dan internasional kondusif”, demikian Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan keputusannya dalam keterangan pers pada hari Rabu (26/8) bertempat di Gedung Gajah, Jayasabha, Denpasar, yang dilansir kantor berita Antara.

Di atas permakluman tingkat provinsi ini, sebagai penghadang yang kuat adalah masih tetap diberlakukannya PERMENKUMHAM Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Pelarangan Sementara Orang Asing Masuk Wilayah Republik Indonesia.

Jadual semula untuk membuka Bali bagi international visitors yang telah beredar luas adalah hari baik sesuai kalender Bali yaitu pada Kajeng Keliwon sekaligus hari Sugihan Bali atau 11 September 2020 pada kalender masehi.

Saya, sebagai praktisi pariwisata, memperhitungkan membuka Bali dengan status COVID-19 under-control (terkendali) dan masuk ke program recovery adalah proses marketing re-branding suatu destinasi.

Keputusan ini sangat strategis dan “merupakan proses jangka panjang” untuk memulai re-branding, segmenting & targeting, selling, serta positioning. Sehingga menurut saya, lebih cepat pintunya dibuka akan lebih baik untuk menentukan action plan.

Mengapa?

Terbukti dan sudah menjadi fakta, dengan dibukanya Bali untuk pengunjung domestik, hasilnya masih jauh dari harapan dan belum membuat pulau tujuan wisata nomer satu ini hidup kembali secara bisnis.

Secara teori, bisa saya jabarkan bahwa aktivitas re-brandingpemasaran destinasi wisata diawali dengan memilih target pasar. Pasar disini adalah negara-negara yang sudah masuk dalam status persiapan mengijinkan warga negaranya untuk melakukan perjalanan keluar negeri. Sembari memonitor keputusan Kementerian Luar Negeri dalam hal pemberlakuan visa masuk dan tata caranya selama beradaptasi dengan COVID-19.

Deal-deal strategis negara di dalam pemerintahan — seperti biasa—beyond our knowledge dan bisa berubah setiap saat. Maka tugas kita adalah selalu “siap berjaga”.

Namun, kepastian pintu masuk harus kita buka terlebih dahulu sembari mengerjakan PR segmenting & targeting pangsa pasar. Sehingga kita tidak bakal gelagapan ketika tamu-tamu hadir kapanpun.

Aktivitas selling guna mendapatkan, menjaga, dan menumbuh-kembangkan target pelanggan sangat memakan waktu, energi. Disini termasuk juga dana sebagai bagian dari positioning dan membangun trust (kepercayaan).

Sebagai acuan, secara digital untuk SEO google saja, perlu waktu 3 – 6 bulan untuk produk yang diluncurkan, mulai dikenal publik.

Yakinkah kita saat ini, sudah siap dan terarah menciptakan, menyampaikan, mengkomunikasikan penawaran Bali sebagai destinasi —dengan jaminan –konsistensi implementasi protokol cleanliness, health, safety and environment (CHSE)  serta fungsi kontrolnya?

Mengulas tentang Strategic Destination Marketing, secara teori, banyak sekali pendekatannya. Tetapi saya sebagai praktisi sudah pasti bukanlah ahlinya. Secara praktis saya dapat menyampaikan yang taktis saja mengenai re-branding marketing suatu produk sesuai pengalaman saya.

Kita perlu melakukan pendekatan pada proses adaptasi terhadap perilaku pasar dalam masa pandemi COVID-19 sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki Bali sebagai destinasi pariwisata unggulan. Pada dasarnya strategi pemasaran destinasi harus mengacu pada bottom lines pembangunan destinasi yaitu sustainable tourism development.

Bali sudah memilikinya. Tetapi untuk re-branding adaptasi hidup berdampingan dengan COVID-19 kali ini, Bali dengan bisnis pariwisatanya harus melaksanakan beberapa pendekatan. Kita perlu menekankan penyelarasan antara peluang pasar terhadap Bali yang memiliki daya tarik (market attractiveness) dengan kemampuan ekosistem sumber dayanya (resource capabilities) .

Yang saya pikirkan kali ini adalah kita harus berpacu dengan waktu untuk mengatasi krisis ekonomi, sekaligus berupaya secara strategis membangun kembali perekonomian seluruh masyarakat.

Perlu waktu cukup lama untuk bangkit dari keterpurukan yang telah membuat banyak dari kita, terengah-engah bahkan diambang keputus-asa-an. Maka, mari kita sedini mungkin mematangkan proses manajemen strategis re-branding destinasi bagi Bali.

Apakah kita sudah siap dengan pendekatan integrated driven atau pendekatan yang mempertimbangkan sisi pasar dan sumberdaya secara seimbang (balance)?

Yes, disini Bali sebagai tuan rumah bagi semua visitors domestic dan international termasuk mempertimbangkan kelayakan safety dan comfort dalam hal fasilitas kesehatan, keamanan, ekonomi, sosial, serta kelestarian lingkungan alam.

Singkat kata,  kita harus segera berproses melakukan berbagai pendekatan dengan mempelajari sampai mengimplementasikan  adaptasi terhadap perilaku pasar sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki oleh Bali sebagai destinasi.

Perlu waktu berapa lama dimulai dari appraisal sampai implementasi untuk membangkitkan Bali For The World?

Bali, 06 September 2020

Jeffrey Wibisono V.

Riset UFI: Permintaan Ruang Pameran di Asia anjlok hingga 75% pada 2020

this formate

Laporan UFI berikan informasi rinci tentang perkembangan pameran dagang dan fasilitas pendukung di 17 pasar ( Foto: Travel Daily News)

HONGKONG, bisniswisata.co.id: UFI, Asosiasi Industri Pameran Global, telah merilis edisi ke-16 dari laporan tahunannya tentang Industri Pameran Dagang di Asia, menangkap sebuah industri di tengah krisis global yang belum pernah terjadi sebelumnya.  

Laporan yang disusun di Hong Kong oleh BSG, mencakup kinerja aktual industri pada tahun 2019, serta prakiraan untuk tahun 2020 dan 2021. Secara keseluruhan, BSG memperkirakan bahwa Asia akan mencatat penurunan permintaan ruang  pameran 75%.

Hal Ini berarti ruang pameran yang terjual diperkirakan turun dari 24,5 juta m2 yang tercatat pada 2019 menjadi hanya 6,8 juta m2 pada 2020 seperti dilansir dari Travel Daily News.

Menurut BSG, pencapaian hasil ini bergantung pada pasar di China – yang menyumbang hampir 60% dari ruang pameran yang terjual di Asia.  Jika China menghindari gelombang infeksi kedua atau ketiga yang signifikan, maka  6,8 juta m2 yang terjual di seluruh wilayah pada tahun 2020 dapat dicapai. 

Jika China mengalami wabah lain dan kembali ke lockdown, hasil aktual pada tahun 2020 akan jauh lebih rendah. Dari pasar besar di Asia, China diperkirakan akan mencatat kinerja terkuat pada tahun 2020 dengan penurunan ruang pameran yang terjual sebesar 65%.

Jepang, pasar pameran perdagangan terbesar kedua di kawasan ini, diperkirakan mengalami penurunan sebesar 75%.  Pasar dengan pameran perdagangan yang sangat internasional, termasuk Hong Kong dan Singapura, akan mencatat penurunan 90% lebih dalam ruang pameran yang terjual pada tahun 2020.

Pada tahun 2021, perkiraan BSG untuk wilayah Asia Pasifik adalah ruang bersih yang terjual di kisaran 50% hingga 60% dari level 2019 – dengan China diharapkan mengungguli semua pasar lainnya.  Pada 2021, China diperkirakan akan mencapai 70% hingga 75% dari ruang bersih yang terjual pada 2019 – kecuali wabah baru COVID-19 yang signifikan.

Pada tahun 2021, pasar pameran perdagangan terbesar kedua di Asia, Jepang diperkirakan akan mencatat 40% hingga 50% ruang yang terjual pada tahun 2019, terhambat oleh penutupan tempat-tempat utama yang sedang berlangsung yang diperlukan untuk pertandingan Olimpiade yang ditunda.

Manajer Regional UFI Asia / Pasifik dan direktur pelaksana BSG, Mark Cochrane mencatat bahwa “ramalan untuk tahun 2021 sangat menantang karena daftar panjang potensi yang tidak diketahui.

Ini termasuk kemungkinan gelombang infeksi baru di pasar mana pun, waktu dan tingkat keparahan pembatasan pemerintah di  setiap pasar, adanya pembatasan perjalanan, dan sejumlah faktor lainnya.

Laporan tersebut juga memberikan ringkasan rinci tentang kinerja industri di Asia tahun lalu.  Pada 2019, di seluruh wilayah, ruang pameran yang terjual di pameran perdagangan Asia mencapai 24,5 juta m2, mewakili tingkat pertumbuhan rata-rata 4,8% di 17 pasar pameran perdagangan Asia atau naik dari 23,4 juta m2 pada 2018.

Sisi positifnya, investasi dalam kapasitas tempat terus berlanjut.  Pada akhir 2021, kapasitas tempat di Asia akan menjadi 11,8 juta m2, dan jumlah tempat pameran yang dibangun khusus yang beroperasi di Asia akan lebih dari 280. Pasar utama termasuk India, Korea dan China akan menambah kapasitas.

“Industri kita saat ini sedang menghadapi krisis yang paling menantang dalam sejarahnya.  Pada tahun 2020, ruang pameran yang terjual akan turun lebih dari 90% di beberapa pasar,” kata Kai Hattendorf, CEO dan Managing Director UFI

Pemulihan penuh tidak akan terwujud hingga 2022 atau 2023. Dengan pemikiran tersebut, data dan analisis dalam laporan ini menjadi lebih berharga daripada sebelumnya bagi anggota UFI.  karena mereka mengadvokasi dukungan pemerintah dan merencanakan strategi pemulihan mereka, tambah Kai Hattendorf.

Laporan ini memberikan informasi rinci tentang perkembangan pameran dagang dan fasilitas pendukung di 17 pasar: Tiongkok Daratan, Hong Kong, Makau, Australia, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Pakistan, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, Kamboja  , Myanmar dan Vietnam. 

Laporan tersebut juga mencakup analisis tentang kinerja pasar aktual pada 2019 serta prakiraan untuk 2020 dan 2021, dan komentar tentang tren utama di setiap pasar.

Costa Cruises akan Memulai Kembali Pelayaran Akhir Pekan ini

this formate

Costa Magica, sslah satu nama kapal dari Carnival Corporation yang memulai kembali paket liburan di atas kapal pediar besok per 6 September 2020. ( Foto: Travel Daily News)

MIAMI, AS,  bisniswisata.co.id: Kapal Pesiar Costa Cruises yang berbasis di Italia melanjutkan pelayaran awal dari pelabuhan Italia mula Minggu besok 6 September 2020 dan akan diikuti kapal kedua dari kapal milik  perusahaan Carnival Corporation itu, AIDA Cruises yang berbasis di Jerman, dilanjutkan pada 1 November dengan pelayaran ke Canary Island.

Dua merek jalur pelayaran dari Carnival Corporation & plc itu telah mengumumkan rencana untuk melanjutkan operasi pelayaran 

secara bertahap dengan enam kapal awal dan rencana perjalanan terbatas, menjadi dua yang pertama dari sembilan merek dari  perusahaan pelayaran global itu untuk melanjutkan operasionalnya.

Dilansir dari Travel Daily News, pelayaran awal akan dilakukan dengan kapasitas penumpang yang disesuaikan dan protokol kesehatan yang ditingkatkan dan dikembangkan dengan pemerintah dan otoritas kesehatan untuk mengikuti pedoman mitigasi tepi pantai.

Kapal Pesiar Costa memulai kembali pelayaran dengan dua kapal awal yang berangkat dari pelabuhan Italia mulai 6 September. Costa Deliziosa akan menawarkan kapal pesiar mingguan dari Trieste pada tanggal 6, 13, 20 dan 27 September.

Kapak ini mengunjungi lima tujuan di Italia selatan, termasuk Bari dan Brindisi di Puglia ,Corigliano-Rossano di Calabria, dan Siracusa dan Catania di Sisilia. 

Costa Diadema akan menyusul pada 19 September dari Genoa, mengunjungi pelabuhan Italia di Mediterania barat, termasuk Civitavecchia / Roma, Napoli, Palermo, Cagliari dan La Spezia.  Rencana perjalanan satu minggu dipesan khusus untuk tamu Italia.

AIDA Cruises akan melanjutkan operasi pelayarannya dengan dua kapalnya, berlayar dari Kepulauan Canary pada November 2020, diikuti oleh dua kapal tambahan yang berangkat dari Mediterania barat dan Uni Emirat Arab mulai Desember 2020. 

Kapal pesiar merek yang pertama ditetapkan  akan dimulai 1 November, dengan perjalanan tujuh hari dan keberangkatan dari Las Palmas, Gran Canaria, dengan AIDAmar. Diikuti oleh pelayaran dari Las Palmas dan Santa Cruz de Tenerife dengan AIDAperla pada 7 November 2020.

Pada bulan Desember, AIDA Cruises akan melanjutkan pelayaran  operasi di Mediterania Barat dengan AIDAstella berangkat dengan kapal pesiar tujuh hari dari Palma, Mallorca, mulai 12 Desember 2020.

Selain itu, AIDAprima akan menawarkan kapal pesiar tujuh hari dari Dubai mulai 11 Desember dan dari Abu Dhabi mulai 15 Desember 2020.

Bekerja sama dengan otoritas kesehatan global dan nasional serta pakar medis, Costa Cruises dan AIDA Cruises telah mengembangkan seperangkat protokol kesehatan dan kebersihan yang komprehensif untuk membantu memfasilitasi kembalinya liburan kapal pesiar yang aman dan sehat.

Baik Costa dan AIDA memberikan informasi mendetail kepada tamu tentang protokol mulai ulang yang ditingkatkan, yang akan terus mengikuti pedoman kesehatan dan mitigasi tepi pantai sebagaimana ditentukan oleh masing-masing negara dan disetujui oleh negara bendera, Italia.  Protokol akan diperbarui berdasarkan pengetahuan ilmiah dan medis yang berkembang terkait dengan strategi mitigasi.

Costa Cruises telah mengembangkan Protokol Keselamatan Costa untuk armadanya, termasuk prosedur operasi baru yang didukung oleh para ahli ilmiah independen di bidang kesehatan masyarakat dan konsisten dengan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh Pemerintah Italia dan otoritas Eropa. 

Serangkaian tindakan dan prosedur yang komprehensif mencakup area utama seperti kesehatan dan keselamatan awak, proses pemesanan, aktivitas tamu, hiburan dan makan, dan perawatan medis di atas kapal, serta operasi pra-naik, saat naik dan turun akan mencakup pengujian  untuk semua tamu sebelum embarkasi. 

 “Tanggung jawab tertinggi dan prioritas utama kami selalu kepatuhan, melindungi lingkungan, dan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan tamu kami, komunitas yang kami kunjungi, dan kru kami,” kata Arnold Donald, CEO Carnival Corporation.

Pihaknya bekerja sama dengan sejumlah besar ahli medis dan ilmuwan di seluruh dunia, dan mereka memberi wawasan yang sangat berharga yang digunakan untuk mengembangkan protokol baru dan ditingkatkan yang demi kepentingan terbaik para tamu, kru, dan publik secara keseluruhan. 

Di wilayah dunia di mana penyebaran komunitas sebagian besar dimitigasi dan pihak berwenang mendukung kembalinya layanan secara bertahap dari waktu ke waktu. “kami berharap dapat menyambut tamu lagi juga di pesawat. ” kata Arnold Donald.

Lebih luas lagi, karena pemahaman tentang COVID-19 terus berkembang, Carnival Corporation telah bekerja dengan sejumlah pakar kesehatan, epidemiologi, dan kebijakan masyarakat terkemuka dunia untuk mendukung kembalinya liburan kapal pesiar. 

Di antara para ahli tersebut adalah Dr. Simon Clarke, profesor dalam mikrobiologi seluler, Sekolah Ilmu Biologi Universitas Reading (Inggris), 

Michael S. Diamond, MD, PhD, profesor kedokteran Herbert S. Gasser, mikrobiologi molekuler, patologi & imunologi;  dan direktur asosiasi, Pusat Program Imunologi dan Imunoterapi Manusia, Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis

Pihaknya juga melibatkan Michael Z. Lin, MD, PhD, profesor neurobiologi, bioteknologi, dan biologi kimia dan sistem;  dan peneliti utama, The Lin Lab, Fakultas Kedokteran Universitas Stanford

Ada Dr. Jewel Mullen, MD, MPH, dekan untuk ekuitas kesehatan, University of Texas di Austin, Dell Medical School serta Emil C. Reisinger, MD, profesor penuh penyakit dalam, penyakit menular dan pengobatan tropis dan direktur Divisi Pengobatan Tropis dan Penyakit Menular, Departemen Penyakit Dalam, Universitas Rostock, Jerman

Begitu juga Dr. Stefano Vella, MD, mantan direktur, Pusat Kesehatan Global Nasional, Istituto Superiore di Sanita (Institut Kesehatan Nasional Italia);  dan asisten profesor kesehatan global, Universita Cattolica del Sacro Cuore (Universitas Katolik Hati Kudus) di Roma

Para penasihat ini telah bekerja dengan perusahaan dan mereknya untuk meninjau prosedur yang ada dan yang disempurnakan serta memberikan saran tambahan berdasarkan bukti ilmiah terbaru dan praktik terbaik untuk perlindungan dan mitigasi.

 

Ekonomi AS Kehilangan Sedikitnya US$ 425 Juta Sehari dari Rontoknya Bisnis Travel & Tourism

this formate

Detail kubah Gedung Capitol AS dengan bendera nasional yang melambai – Washington DC, Amerika Serikat ( Foto: Shutterstock/Orhan Cam).

LONDON, bisniswisata.co.id: Penelitian terbaru oleh World Travel & Tourism Council (WTTC) mengungkapkan bahwa perekonomian Amerika Serikat kehilangan penghasilan sebesar US$ 155 miliar karena anjloknya perjalanan internasional selama tahun 2020.

WTTC yang mewakili sektor swasta, industri travtl & tourism (perjalanan & pariwisata)  global, mengatakan penurunan besar-besaran dalam jumlah pelancong internasional dan wisatawan yang mengunjungi AS karena pandemi COVID-19, dapat mengakibatkan penerimaan devisa anjlok hingga 79%.

“Kerugian besar bagi perekonomian Amerika ini setara dengan kekurangan US$ 425 juta sehari, atau hampir US$ 3 miliar seminggu, bagi perekonomian negara,” kata Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC.

WTTC dan Anggotanya baru-baru ini meminta Presiden Donald Trump dan para pemimpin negara G7 lainnya, agar melakukan pendekatan yang terkoordinasi dalam memimpin respons pemulihan terhadap krisis.

Terpukulnya sektor travel & tourism     ( perjalanan & pariwisata)  AS dibongkar oleh WTTC karena dampak ekonomi dari virus korona terus membara melalui sektor ini.  Hampir 12,1 juta pekerjaan di AS yang didukung oleh Perjalanan & Pariwisata berisiko hilang dalam skenario ‘terburuk’ yang dipetakan oleh pemodelan ekonomi WTTC.

Menurut Laporan Dampak Ekonomi 2020 WTTC, selama 2019, Perjalanan & Pariwisata bertanggung jawab atas 16,8 juta pekerjaan di AS, atau 10,7% dari total tenaga kerja negara itu. Sektor Ini juga menghasilkan US$ 1,8 triliun, atau 9% untuk ekonomi Amerika.

“Penderitaan ekonomi yang dialami jutaan rumah tangga di seluruh AS, yang mata pencahariannya bergantung pada travel & tourism  terbukti dari angka-angka terbaru kami yang mengejutkan,” tambah Gloria Guevara.

Menurut dia, minimnya pengunjung internasional ke AS karena pandemi dapat menghapus lebih dari US$ 155 miliar dari ekonomi AS atau kerugian sebesar US$ 425 juta sehari – yang mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih.  Itu juga dapat mengancam posisi New York sebagai salah satu pusat utama dunia untuk perjalanan bisnis dan rekreasi.

“Koordinasi internasional untuk membangun kembali perjalanan transatlantik akan memberikan dorongan bagi sektor travel  & tourism,” jelas Gloria.

Hal  Ini akan menguntungkan maskapai penerbangan dan hotel, agen perjalanan dan operator tur dan merevitalisasi jutaan pekerjaan dalam rantai pasokan yang bergantung pada perjalanan internasional melintasi Atlantik.

“Kami sangat perlu mengganti tindakan karantina dengan program pengujian dan penelusuran yang cepat, komprehensif, dan hemat biaya di titik keberangkatan di seluruh negeri ” katanya menyinggung kebijakan karantina disejumlah negara yang menghambat pemulihan.  

Investasi akan jauh lebih kecil daripada dampak karantina yang memiliki konsekuensi sosial-ekonomi yang menghancurkan dan berdampak luas bagi negara dan perekonomian dunia.

Kesepakatan US$ 750 juta baru-baru ini dengan laboratorium Abbott untuk tes cepat senilai US $ 5/ orang sangat menjanjikan dalam hal ini, dan kami berharap hal itu memungkinkan AS untuk terus membuka kembali dan dapat membuktikan sebagai cetak biru untuk jalan ke depan bagi negara lain. 

Pengujian dan penelusuran bertarget akan membantu membangun kembali kepercayaan konsumen untuk bepergian, ungkapnya.

 “Sistem pengujian dan pelacakan perputaran yang cepat untuk semua penumpang yang berangkat berarti bahwa pemerintah dapat mempertimbangkan untuk memulihkan perjalanan antara Amerika dan hub internasional utama, sebuah langkah yang akan membantu memulai pemulihan ekonomi global.” kata Gloria Guevara.

Analisis WTTC mengungkapkan  pengeluaran perjalanan internasional di AS selama 2019 mencapai US$ 195,1 miliar, menyumbang 16% dari total pengeluaran pariwisata di negara itu.  Belanja perjalanan domestik tahun lalu bertanggung jawab atas 84% ​​lainnya.

Rincian lebih lanjut mengungkapkan betapa pentingnya pengeluaran dari pelancong internasional selama 2019 bagi perekonomian. Setiap bulan jumlahnya hampir US$ 16,3 miliar, atau US $ 3,7 miliar seminggu – dan luar biasa, US$ 534,5 juta sehari.

Antara 2016 dan 2018, pasar sumber masuk terbesar ke AS adalah wisatawan dari Kanada dan Meksiko, masing-masing menyumbang 26% dan 24% dari semua kedatangan internasional, Inggris berada di urutan ketiga dengan 6%, dan Jepang di tempat keempat dengan 5  %.

Data tahun 2018, yang paling mutakhir, menunjukkan bagaimana Kota New York sangat bergantung pada pengeluaran pengunjung internasional dibandingkan dengan AS secara keseluruhan.  Ini menyumbang 45% dari semua pengeluaran pariwisata di kota dan sisanya dari wisatawan domestik 55%.

Inggris adalah pasar sumber terpenting untuk kota dengan hampir satu dari 10 semua kedatangan internasional (9%),  China di tempat kedua dengan 8%, dan Kanada serta Brasil di tempat ketiga sama-sama berkontribusi  7% dari kedatangan wisman.

Hilangnya pengeluaran dari pengunjung internasional ini dapat berdampak besar dalam jangka panjang di New York selama bertahun-tahun yang akan datang.

Menurut Laporan Dampak Ekonomi 2020 WTTC, selama 2019, travel & tourism bertanggung jawab atas satu dari 10 pekerjaan (total 330 juta), memberikan kontribusi 10,3% terhadap PDB global dan menghasilkan satu dari empat dari semua pekerjaan baru.

 

CLIA Umumkan Pengangkatan Direktur Jenderal Divisi Eropa  

this formate

Ukko Metsola, Direktur Jendral CLIA Divisi Eropa. Bergabung dengan CLIA dari Royal Caribbean Group. Sebelumnya punya karir politik memegang posisi senior di Parlemen dan di Kantor Perdana Menteri Finlandia. ( Foto: CLIA)

BRUSSELS, bisniswisata.co.id:  Cruise Lines International Association (CLIA), menunjuk  Ukko Metsola sebagai Direktur Jenderal CLIA di Eropa, efektif per awal September 2020, ungkap siaran persnya.

Efektif per tanggal 1 September, Ukko memimpin kehadiran CLIA di Eropa, sedangkan Tom Boardley juga mulai menggeser perannya sebagai Sekretaris Jenderal. 

Ukko akan menjabat sebagai Direktur Jenderal selama masa transisi kritis dimana industri kapal pesiar mulai beroperasi kembali secara bertahap.

Ukko Metsola bergabung dengan CLIA dari Royal Caribbean Group di mana dia telah menjabat sebagai Wakil Presiden untuk Hubungan Pemerintah di Eropa dan Asia-Pasifik sejak 2016. 

Selama karir politik sebelumnya, Ukko memegang posisi senior di Parlemen Finlandia dan di Kantor Perdana Menteri Finlandia.  Dia adalah lulusan Universitas Helsinki dan Sekolah Harvard Kennedy, tempat dia belajar dengan beasiswa Fulbright.

“Saya ingin berterima kasih kepada Tom Boardley atas kontribusinya selama masa jabatannya sebagai Sekretaris Jenderal, dan terutama atas kepemimpinannya di Eropa selama krisis global ini,” kata  Kelly Craighead, Presiden dan CEO, CLIA 

Menurut dia, Tom akan melanjutkan hubungannya dengan CLIA dalam peran sebagai penasihat dan akan membantu transisi Ukko. 

“Saat kita melangkah ke tahap kritis berikutnya dengan kembalinya kita ke pelayanan, saya senang bahwa Ukko Metsola telah setuju untuk memimpin kita di Eropa dan mendorong keterlibatan industri kita dengan Lembaga Uni Eropa,” tambah Kelly.

Pengetahuan mendalam Ukko tentang sektor pelayaran dikombinasikan dengan kekayaan pengalamannya dalam kebijakan publik dan urusan Uni Eropa membuatnya sangat cocok untuk peran kepemimpinan ini pada momen yang sangat penting bagi industri cruise.

“Saya senang atas kesempatan untuk mewakili industri yang mendukung kluster maritim yang beragam dan luas, mencakup bisnis di seluruh benua, dari operator tur yang dikelola keluarga hingga galangan kapal besar Eropa dan pemasok mereka,” kata Ukko Metsola.

Dengan akar Eropa yang kuat dan komitmennya terhadap inovasi, kolaborasi, dan keberlanjutan, industri pelayaran dapat berkontribusi pada pemulihan ekonomi masa depan dan bermitra secara konstruktif dalam agenda pertumbuhan hijau Eropa. 

Didirikan pada tahun 1975, Cruise Lines International Association (CLIA) adalah asosiasi perdagangan industri kapal pesiar terbesar di dunia, memberikan suara yang bersatu dan otoritas terkemuka dari komunitas pelayaran global. 

Organisasi ini mendukung kebijakan dan praktik yang mendorong lingkungan kapal pesiar yang aman, terjamin, sehat, dan berkelanjutan serta didedikasikan untuk mempromosikan pengalaman perjalanan kapal pesiar.

Misi CLIA adalah organisasi global yang mendorong kesuksesan anggota kami dengan mengadvokasi, mendidik, dan mempromosikan kepentingan bersama komunitas kapal pesiar.

CLIA mewakili kepentingan komunitas industri kapal pesiar, 50 lebih jalur pesiar yaitu dari laut hingga kapal pesiar khusus, jalur CLIA mewakili lebih dari 95 persen kapasitas pelayaran global.

Memiliki lebih dari  340 dan anggota mitra eksekutif – Sebagai pemasok dan mitra utama untuk jalur pelayaran. Mitra eksekutif memainkan peran utama dalam keberhasilan operasi pelayaran, termasuk pelabuhan & tujuan, pengembangan kapal, pemasok dan layanan bisnis.

Ada 15.000 agen perjalanan global dan 25.000 anggota agen perjalanan termasuk sub-agen, tuan rumah, waralaba, dan konsorsium terbesar di dunia.

Melayani lebih dari 24 juta penumpang setiap tahunny dengan jangkauan 7 wilayah disSeluruh dunia yaitu perwakilan CLIA Australasia, Asia, Brazil, Eropa ( Belgia), Eropa ( London), Amerika Utara, Amerika Barat Laut & Kanada