Trip.com Lihat Permintaan di Singapura dan Hong Kong Naik Setelah Pengumuman Travel Bubble

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: – Penyedia layanan perjalanan online internasional menyaksikan lonjakan permintaan untuk perjalanan wisata Singapura-Hong Kong (SG-HK), setelah pengumuman travel bubble ( gelembung perjalanan) akan diluncurkan pada 22 November.

Dilansir dari Travel Daily News Asia, menurut data Trip.com terbaru, pada 11 November dalam tiga jam setelah pengumuman gelembung perjalanan SG-HK tentang dimulainya kembali penerbangan lintas batas .

Volume pencarian penerbangan dari Hong Kong ke Singapura tumbuh sebesar 300%, diikuti dengan peningkatan 200% dalam penelusuran hotel lokal Singapura.

Data tersebut juga menunjukkan peningkatan signifikan dalam volume penelusuran untuk produk perjalanan dari Singapura ke Hong Kong, dengan peningkatan 200% untuk penerbangan, dan peningkatan 150% untuk hotel.

Trip.com telah mengamati pertumbuhan permintaan perjalanan sejak pengumuman pertama dari perjanjian gelembung perjalanan SGHK pada 15 Oktober.

Dalam dua jam setelah pengumuman tersebut, menurut Trip.com, volume pencarian untuk penerbangan di Singapura mengalami peningkatan sebesar 56,4%, diikuti dengan peningkatan 40% dalam penelusuran hotel lokal.

Setelah itu, Trip.com menemukan bahwa minat perjalanan antara Singapura dan Hong Kong meningkat, menunjukkan rasa ‘lapar’ untuk perjalanan lintas batas tetap kuat.

Menanggapi tren ini, pada tanggal 29 Oktober, acara LIVE Trip.com Hong Kong mengiklankan berbagai diskon hotel Singapura serta penawaran hotel staycation lokal, termasuk Shangri-La Hotel Singapura, Mandarin Orchard Singapura dan Amara Sanctuary Resort Sentosa.

Selain informasi berguna bagi pelanggan Hong Kong yang berencana bertualang ke Singapura untuk perjalanan berikutnya. Pertunjukan dua jam ini menarik total 1,6 juta penonton.

Pertunjukan LIVE Trip.com telah berlangsung di Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Pelanggan di seluruh wilayah telah mengikuti diskon teratas untuk produk perjalanan yang disesuaikan dengan pasar lokal mereka, sebagai bagian dari promosi “Travel On Sale”.

Program yang menawarkan pemesanan di muka yang fleksibel untuk berbagai produk perjalanan, meningkatkan perjalanan domestik dan meletakkan dasar untuk pemulihan perjalanan global di masa depan

Airbnb Eksplorasi Masa Depan Perjalanan di Seluruh APEC

this formate

KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id: Pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, dan pakar industri di berbagai ekonomi dalam Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) baru-baru ini berkumpul di Travel Reimagined:  Airbnb and APEC Forum, membahas topik seputar masa depan pariwisata dan pemulihan pariwisata di seluruh ekonomi APEC.

Dilansir Travel Daily News kegiatan ini selenggarakan bersama oleh Kelompok Kerja Pariwisata APEC dan Pusat Nasional APEC (NCAPEC) dan Airbnb dengan serangkaian diskusi panel virtual yang diadakan pada 3, 6, dan 11 November.

Forum membahas kebutuhan untuk memfasilitasi pembukaan kembali perbatasan dan mengeksplorasi ide-ide inovatif, seperti jalur hijau dan visa kerja jarak jauh, untuk memungkinkan industri pariwisata APEC yang dinamis dan kompetitif di masa depan.

Diskusi tersebut juga difokuskan pada identifikasi tonggak penting yang diharapkan ekonomi APEC sebagai sinyal untuk membuka kembali perbatasan mereka dan inisiatif utama untuk memulihkan kepercayaan wisatawan.

Selama sesi ini, Airbnb juga menyoroti bagaimana tahun 2020 telah melihat perubahan signifikan dalam cara orang ingin bekerja, bepergian, dan tinggal di mana saja, didorong oleh gaya hidup baru bekerja jarak jauh yang diharuskan oleh pandemi. Airbnb juga merilis data baru dari survei terbaru yang menyoroti tren berikut:

Kerja jarak jauh sedang meningkat, dengan 40% orang Malaysia saat ini mengadopsi gaya hidup baru ini, dan 21% berupaya untuk bekerja dari jarak jauh di masa depan.

Prospek pekerjaan-cation sangat populer di Malaysia karena 78% tertarik untuk tinggal dan bekerja dari tempat lain selain rumah untuk waktu yang lama.

Mengutip perubahan pemandangan sebagai aspek paling menarik dari gaya hidup nomaden ini, bersama dengan peluang untuk menyegarkan kembali kehidupan kerja mereka.

Sedikitnya 73% orang Malaysia, 74% orang Korea, 84% orang Australia dan 72% orang Thailand berharap untuk bepergian di dalam negara mereka, menunjukkan tren yang meningkat dalam hidup dan bekerja dari mana saja di seluruh wilayah.

Data tambahan juga menunjukkan bahwa pencarian utama untuk fasilitas Airbnb mencakup konektivitas WiFi dan rumah ramah hewan peliharaan, yang selanjutnya mendukung tren orang yang ingin menggabungkan bekerja dan bepergian.

“Kami melihat perubahan besar dalam cara kami hidup dan bekerja, dan yakin banyak dari perubahan ini akan tetap ada lama setelah pandemi,”  kata Chris Lehane, SVP Policy and Commmunications Airbnb.

Seiring perkembangan ini, pihaknya akan terus mengembangkan cara terbaik untuk mendukung komunitasnya dengan mendukung perjalanan yang sehat dan berkelanjutan bersama dengan pemerintah daerah, tambahnya.

Sekarang ada kebutuhan untuk menciptakan bentuk perjalanan yang sehat dan berkelanjutan yang menjadi tanggung jawab kita semua dalam industri untuk memikirkannya di dunia pasca-COVID.

Menata Ulang Tujuan: Menyeimbangkan Kelangsungan Hidup dan Keberlanjutan

Sesi kedua Forum membahas lebih lanjut bagaimana pembatasan perjalanan tidak diragukan lagi telah memengaruhi sektor perhotelan dan pariwisata, dan bagaimana upaya bersama dalam mencari solusi berkelanjutan perlu dilakukan di seluruh dunia.

Pemulihan industri ini bergantung pada investasi, pemeliharaan, dan pelatihan keberlanjutan melalui kolaborasi sektor publik dan swasta, dan industri pariwisata dapat menjadi pemain kunci dalam memberikan kontribusi pada perekonomian untuk perubahan positif.

“Kita perlu melihat pariwisata sebagai penggerak ekonomi utama. Kita perlu melihat masa depan dan mempertimbangkan pembangunan berkelanjutan, dengan menggunakan industri pariwisata sebagai mekanisme perubahan positif secara lokal,” kata Dr Jutamas (Jan) WisansingJ, Anggota, Tim Strategis, Kementerian Pariwisata dan Olahraga (Thailand).

Hal Ini bisa menjadi bagian dari ekosistem yang bekerja dengan pemerintah daerah dan masyarakat adat, misalnya, dan mulai membayangkan garis finis saat kami mengembangkan solusi untuk memerangi pandemi.

“Penting bagi kami untuk memfokuskan kembali dan menata kembali peran industri pariwisata dan bagaimana hal itu dapat menguntungkan sektor lain di sekitarnya, ”kata Dr Jutamas (Jan).

Teknologi Mendorong Pemulihan Pariwisata dan Kemakmuran Bersama.

Sesi ketiga dan terakhir dari Forum membahas bagaimana pertumbuhan ekonomi digital telah menciptakan peluang baru bagi komunitas terutama di lingkungan pasca-pandemi.

Bagaimana industri perjalanan dapat memanfaatkannya karena mereka mendorong kolaborasi yang lebih besar antara sektor swasta dan publik di seluruh pemerintahan dan negara-negara mulai mencari upaya pemulihan.

Di banyak negara, termasuk Malaysia, ekonomi digital telah menjadi pendorong utama yang diperlukan untuk menopang bisnis, terutama terkait COVID-19.

“Saat ini ada kebutuhan yang semakin cepat untuk digitalisasi. Ini adalah sesuatu yang lebih menantang di masa lalu, terutama untuk bisnis tradisional dan kecil, tetapi banyak bisnis sekarang telah mengambil langkah pertama ke arah tersebut ” kata Yew Heng Lim, Regional Head of Public Affairs

Tantangannya sekarang adalah untuk menjaga momentum terus berjalan, untuk membantu mereka mengoptimalkan model bisnis mereka dengan mengeksplorasi pemasaran digital dan mengelola inventaris mereka secara lebih baik secara digital, dan secara keseluruhan untuk memanfaatkan pemulihan yang datang bersama, ”kata Yew Heng Lim, Regional Head of Public Affairs Grab.

Forum ini diselenggarakan bersama oleh Kelompok Kerja Pariwisata APEC, Pusat Nasional APEC (NCAPEC) dan Airbnb. Diketuai oleh Malaysia pada tahun 2020, diikuti oleh Selandia Baru dan Thailand pada tahun 2021 dan 2022.

Kelompok Kerja Pariwisata APEC memprioritaskan forum ini dalam Rencana Strategisnya untuk tahun 2020-2024 mempromosikan transformasi digital di sektor pariwisata terutama pada saat-saat genting seperti pandemi ini.

Tetap Aman Mendaki Gunung Sumbing Saat Pandemi

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: DKI Jakarta memperpanjang kembali masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi hingga 22 November mendatang dan hal ini berarti sudah sekitar delapan bulan pandemi masuk di Indonesia. 

Delapan bulan memang bukanlah waktu yang singkat dimana semua negara mengalami bencana virus Corona yang berdampak pada berbagai sektor industri mulai dari industri travel, perhotelan, pelayaran, penerbangan, dan lain-lain.

Dengan berlangsungnya pandemi pastinya banyak mengubah perilaku masyarakat. Ivan Athaila Putra (23) seorang Sarjana Komunikasi yang baru saja lulus di masa pandemi ini, mengaku banyak terjadi perubahan dari tahun sebelum terjadinya pandemi COVID-19.

Sebelumnya ia sangat sering mendaki gunung tapi sekerang pilih kemping di pantai untuk mengisi hari senggangnya, karena memang ia hobi traveling, namun semenjak pandemi ia mengaku jarang untuk bepergian keluar kota bahkan untuk sekedar menikmati kopi di café terdekat.

Ivan mengaku bahwa awalnya merasa takut dengan pemberitaan yang beredar mengenai virus corona, namun setelah 8 bulan berlangsung, dia merasa biasa saja karena mulai terbiasa dalam menjalani hidup dimasa pandemi ini. 

Selama Pandemi Ivan mengatakan menjadi lebih higienis dari sebelum pandemi, selalu menggunakan masker, membawa antiseptic maupun hand sanitizer saat keluar rumah, dan mengganti pakaian sehabis bepergian. Ia juga mengatakan karena lebih banyak dirumah ia juga lebih fokus beribadah.

Keluarganya pun semuanya melakukan kegiatan dari rumah dan lebih sering bertemu dibandingkan sebelum pandemi. Selain itu, keluarga menjadi lebih peduli satu sama lain dan menjadi saling mengingatkan untuk selalu mengingatkan membawa masker dan hand sanitizer saat keluar rumah.

“Setelah 7 Bulan tidak melakukan traveling saya merasa bosan dan jenuh, karena tidak kemana-mana membuat saya merasa stress, akhirnya pada bulan Oktober kemarin saya memutuskan untuk mendaki Gunung Sumbing di Jawa Tengah, bersama tiga teman saya, ” kata Ivan.

Untuk menghindari keramaian Ivan dan teman-temannya memilih untuk menggunakan transportasi mobil pribadi, karena selain lebih aman juga memudahkan akses saat mereka berada di Jawa Tengah.

Gunung Sumbing adalah gunung yang terletak di tiga wilayah kabupaten di Jawa Tengah, yaitu: Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Temanggung.

Mempunyai ketinggian 3.371 mdpl, kerap disebut kembaran dengan  dengan Gunung Sindoro. Sumbing dan Sindoro merupakan dua gunung yang kembar apabila dilihat dari arah Temanggung. 

Gunung berjenis Stratovolcano ini memiliki trek yang lebih berat karena tingkat kemiringannya yang terjal dan rutenya yang lebih panjang. Tercatat Gunung Sumbing pernah meletus pada tahun 1730.

Jenis hutan yang terdapat di Gunung Sumbing adalah hutan berjenis Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montani, dan hutan Ericaceous. Bagi Ivan yang senang naik gunung, aktivitas ini selain menantang juga memberikan kebebasan dan udara segar.

Ivan menjelaskan bahwa mendaki gunung saat pandemi sama saja seperti mendaki sebelum pandemi, hanya saja kita harus melihat aturan dari pemerintah dan pihak terkait mengenai penerapan protokol pendakian saat pandemi.

“Rata-rata kuota pendaki saat berada di gunung dibatasi, dan jumlah tenda di isi dengan kapasitas 50 persen.

Pada saat itu saya dan teman saya membawa tenda isi 6, dimana juga menguntungkan untuk kita dengan adanya ruang lebih untuk barang,” ungkapnya.

Dalam pendakian  juga mengatakan tidak terlalu banyak pendaki yang naik saat itu, mungkin dikarenakan hari kerja, sehingga tidak banyak yang mendaki.

Selama pendakian diwajibkan mengenakan masker, namun sayangnya dengan udara yang makin menipis ia merasa sedikit kesulitan bernapas saat mendaki. 

Hal  terpenting untuk mendaki gunung saat pandemik adalah mereka yang ingin mendaki disarankan untuk tidak mamaksakan kondisi kesehatan. Apabila tidak kuat lebih baik untuk beristirahat dahulu.

” Saya menyarankan untuk mendaki lebih awal, agar tidak mamaksakan diri, serta membaca peraturan terlebih dahulu yang berlaku agar tidak dikenakan sanksi blacklist, seperti yang terjadi pada beberapa pendaki di Gunung Rinjani,” ujarnya mengingatkan.

IATA Rilis Panduan Kargo Pengiriman Miliaran Vaksin COVID-19

this formate

JENEWA, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) merilis panduan untuk memastikan bahwa industri kargo udara siap mendukung penanganan, pengangkutan, dan distribusi vaksin COVID-19 skala besar.

Panduan IATA untuk Vaksin dan Farmasi Logistik dan Distribusi memberikan rekomendasi untuk pemerintah dan rantai pasokan logistik dalam persiapan untuk operasi logistik global terbesar dan paling kompleks yang pernah dilakukan.

Mencerminkan kompleksitas tantangan, Panduan ini dibuat dengan dukungan dari berbagai mitra, termasuk Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), Federasi Internasional Asosiasi Pengangkutan Barang (FIATA), Federasi Internasional Produsen dan Asosiasi Farmasi (IFPMA) ), Pan American Health Organization (PAHO), Otoritas Penerbangan Sipil Inggris, Bank Dunia, Organisasi Kepabeanan Dunia (WCO) dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Panduan tersebut mencakup gudang standar internasional dan pedoman yang terkait dengan pengangkutan vaksin dan akan diperbarui secara berkala saat informasi tersedia untuk industri. Mendampingi panduan tersebut, IATA membentuk forum berbagi informasi bersama untuk para pemangku kepentingan.

“Mengirimkan miliaran dosis vaksin yang harus diangkut dan disimpan dalam keadaan beku

ke seluruh dunia secara efisien akan melibatkan tantangan logistik yang sangat kompleks di seluruh rantai pasokan,” kata Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA.

Sementara tantangan langsungnya adalah penerapan langkah-langkah pengujian COVID-19 untuk membuka kembali perbatasan tanpa karantina, kita harus siap ketika vaksin sudah siap. Materi panduan ini adalah bagian penting dari persiapan tersebut, tambahnya.

Tantangan utama yang dibahas dalam Panduan IATA untuk Vaksin dan Farmasi Logistik dan Distribusi meliputi:

*Ketersediaan fasilitas penyimpanan dengan pengatur suhu dan kontinjensi jika fasilitas tersebut tidak tersedia

*Mendefinisikan peran dan tanggung jawab pihak-pihak yang terlibat dalam pendistribusian vaksin, terutama otoritas pemerintah dan LSM, untuk membantu distribusi yang aman, cepat dan merata seluas-luasnya.

Kesiapsiagaan industri untuk distribusi vaksin yang meliputi:

*Kapasitas & Konektivitas: Jaringan rute global telah berkurang secara dramatis dari 22.000 pasangan kota sebelum COVID.

Pemerintah perlu membangun kembali konektivitas udara untuk memastikan kapasitas yang memadai tersedia untuk distribusi vaksin.

*Fasilitas dan infrastruktur: Produsen vaksin pertama yang mengajukan permohonan persetujuan peraturan mengharuskan vaksin dikirim dan disimpan dalam keadaan beku, menjadikan fasilitas rantai sangat dingin di seluruh rantai pasokan menjadi penting.

Beberapa jenis refrigeran diklasifikasikan sebagai barang berbahaya dan volumenya diatur sehingga menambah lapisan kompleksitas tambahan.

Pertimbangannya mencakup ketersediaan fasilitas dan peralatan yang dikontrol suhu serta staf yang terlatih untuk menangani vaksin yang sensitif terhadap waktu dan suhu.

*Manajemen perbatasan: Persetujuan pengaturan dan penyimpanan serta izin yang tepat waktu oleh otoritas bea cukai dan kesehatan akan sangat penting.

Prioritas untuk proses perbatasan termasuk memperkenalkan prosedur jalur cepat untuk penerbangan berlebih dan izin pendaratan untuk operasi yang membawa vaksin COVID-19 dan potensi penurunan tarif untuk memfasilitasi pergerakan vaksin.

*Keamanan: Vaksin adalah komoditas yang sangat berharga. Pengaturan harus ada untuk memastikan bahwa pengiriman tetap aman dari gangguan dan pencurian.

Proses sudah ada, tetapi pengiriman vaksin dalam jumlah besar akan membutuhkan perencanaan awal untuk memastikan bahwa mereka dapat diskalakan.

 

Tantangan Perhotelan: Mendukung Bakat Perhotelan Masa Depan

this formate

MADRID, bisniswisata.co.id: Pada Juni 2020, Organisasi Badan Pariwisata Dunia (UNWTO) dan Sommet Education meluncurkan kompetisi kewirausahaan mengenai Tantangan Perhotelan     ( Hospitality Challenge).

Ini dirancang untuk mengidentifikasi ide dan individu yang mampu mempercepat pemulihan sektor pariwisata setelah pandemi COVID-19.

Inisiatif ini telah menerima hampir 600 lamaran dari seluruh dunia. 30 finalis teratas akan diberikan beasiswa full-board untuk program tingkat Sarjana atau Master di 30 program perhotelan yang berbeda.

Semuanya diselenggarakan oleh lembaga terkenal internasional Sommet yang berspesialisasi dalam Seni Perhotelan dan Kuliner: Institut Pendidikan Tinggi Glion, Les Roches, dan École Ducasse.

Beasiswa ini didedikasikan untuk mempercepat pengembangan pribadi individu-individu bertalenta yang akan membangun Hospitality of Tomorrow. Menghidupkan proyek yang diajukan dan meningkatkan peluangnya untuk berdampak pada sektor pariwisata telah menjadi kekuatan pendorong tantangan ini.

Tiga proyek paling kewirausahaan di antara 30 pemenang akan menerima uang awal dari Eurazeo, grup investasi global terkemuka di mana Sommet Education berada.

Dari 600 aplikasi, 39% diajukan dari Amerika, diikuti oleh Eropa (28%), Afrika dan Timur Tengah (keduanya 18%), dan Asia dan Pasifik (15%).

Ini menunjukkan bagaimana inovator dari seluruh dunia dapat menjaga pariwisata, keramahtamahan, dan perjalanan di garis depan pembangunan berkelanjutan dan perubahan positif untuk semua. serta mengutamakan Manusia dan Planet

Tantangan Perhotelan berfokus pada empat kategori. Kategori Hotel dan Operasi Terkait Hotel adalah yang paling populer, menerima 41% dari semua aplikasi.

Diikuti oleh kategori Perjalanan Mewah, Barang dan Jasa (34%), lalu kategori Makanan dan Minuman (17%), dan terakhir Smart Kategori Real Estate (8%).

Pengelompokan berbagai kategori menunjukkan minat yang kuat dalam meningkatkan sisi operasional hotel melalui dampak sosialnya, dengan banyak proyek yang bertujuan untuk mengurangi pengangguran dan manajemen staf hotel yang lebih baik.

Di antara empat kategori tersebut, empat tren utama telah muncul: pengurangan dan keberlanjutan limbah, pekerjaan dan pendidikan, keselamatan dan pengalaman perjalanan, serta pendapatan dan produktivitas.

Hampir 50% dari proyek tersebut memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 8 – Pekerjaan yang Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Banyak proyek juga menawarkan perspektif baru tentang respons COVID-19.

Sejumlah besar proyek berkualitas tinggi yang mempromosikan inklusivitas dan keberlanjutan untuk menemukan kembali Perhotelan Hari Esok.

Proyek ini juga memberikan ide-ide segar untuk sektor pariwisata. Ini akan memungkinkan pariwisata untuk terus berkontribusi pada pemulihan sosio-ekonomi secara keseluruhan.

Pengumuman Pemenang pada Maret 2021

UNWTO dan Sommet Education mengucapkan terima kasih kepada semua peserta, inovator, dan pengusaha atas antusiasme dan kontribusinya pada Hospitality Challenge, serta mengucapkan selamat kepada 30 finalis terpilih.

“Pariwisata masa depan harus merangkul ide-ide baru, suara-suara baru dan keragaman penuh yang ditawarkan sektor ini,” kata Sekretaris Jenderal UNWTO, Zurab Pololikashvili.

Kompetisi ini menyoroti pariwisata global dan perhotelan terbaik yang ditawarkan. Ini menunjukkan bagaimana inovator dari seluruh dunia dapat menjaga pariwisata, keramahtamahan, dan travel di garis depan yaitu pembangunan berkelanjutan dan perubahan positif untuk semua.

Benoît-Etienne Domenget, CEO Sommet Education menambahkan “kami sangat senang menyambut begitu banyak talenta yang beragam di institusi kami tahun depan. Keragaman latar belakang dan profil akan menjadi sumber kreativitas dan menghadirkan perspektif baru bagi semua. ”

Dari 30 finalis terpilih berikut, tiga proyek pemenang akan diumumkan pada Maret 2021:

– “Chartok” – Software Kolaborasi Hotel
– “Coliving Hotels” – Penyewaan perumahan bersama jangka menengah dan panjang
– “Digital Butler” – Bantuan untuk tamu pribadi
– “Digital Concierge” – Pengalaman tamu digital
– “FirstClasset” – Model aset dan proses pembayaran
– “Keamanan pangan dan produksi makanan organik”
– “GauVendi” – Sistem ritel
– “Klub pemesanan hotel langsung Go-Travel” – Klub pemesanan langsung berdasarkan data
– “Hogaru” – Penyedia manajemen kebersihan dan fasilitas
– “Hosbot” – asisten Perhotelan Digital
– “Hospitality Onlearning” – Platform pembelajaran Perhotelan Online
– “HUTS” – dukungan manajemen SDM
– “Gabung F&B” – Perekrutan layanan orang cacat
– “Komodore” – Otomatisasi manajemen tamu
– “Lemonade Social” – e-commerce berbasis pengalaman
– “Little Big Travel” – Pengalaman penyedia perjalanan
– “Luxury Origin” – Pengalaman kemewahan imersif yang dapat disesuaikan
– “Mes Petites Feuilles” – Urban SmartFarming
– “Olappa Linens” – Linen yang lestari
– “Recotrak” – Proses sertifikasi untuk donasi makanan
– “Searchef” – Platform berbagi Makanan & Minuman
– “Service Club Delivery” – Solusi perekrutan
– “SiliconBali” – Kemampuan kerja kaum muda
– “Travel Seeds” – Platform pemesanan online yang berkelanjutan
– “TrekSecure” – Aplikasi respons penularan Covid
– “Tiptrip” – Manajemen komentar tamu online
– “Viridescent” – Platform pemesanan online yang ramah lingkungan
– “Platform Penelitian Perhotelan – Virtual” – Platform Penelitian Perhotelan
– “Woof Together” – Standar dalam keramahan ramah hewan peliharaan
– “Young Hotelier Network” – Integrasi komunitas berdampak sosial

10 Tren Wisata yang Diprediksi Marak Tahun Depan

this formate

Wisata keluarga jadi pilihan di era pandemi (foto: tourism review)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Krisis kesehatan yang dipicu pandemi COVID-19 menyebabkan banyak orang masih enggan bepergian tahun depan. Sementara itu sebagian pelancong mencari-cari kegiatan wisata yang berbeda dari biasanya. 

Mereka merencanakan liburan yang unik yang belum pernah mereka coba sebelumnya. Studi memperkirakan orang baru akan berani kembali melakukan perjalanan setelah keadaan dirasa aman dan aturan restriksi mulai dilonggarkan. Tourism Review memprediksi ada 10 tren perjalanan wisata yang paling diminati pada 2021. Berkut ini rinciannya:

Wisata dalam kota – liburan cepat

Sejumlah kota mungkin tak lagi menarik untuk dikunjungi terutama di era pandemi COVID-19 dimana aturan jarak sosial masih ketat diberlakukan. Tetapi destinasi wisata di perkotaan masih akan banyak didatangi para turis di 2021. 

Biasanya banyak tempat menarik di kota dan beragam aktivitas dapat dilakukan di sana. Yang tak kalah penting, orang akan menemukan kenyamanan di sana seperti bandara yang besar dengan penerbangan langsung dari sudut manapun di dunia. Selain itu ada banyak pilihan hotel yang luas dan nyaman serta beragam restoran yang menarik.

Wisata Pedesaan dan Alam – Menghirup Udara Segar

Wisata di pedesaan atau dikenal juga sebagai pariwisata berbasis komunitas kini menjadi alternatif yang cukup populer. Makin banyak orang tertarik untuk bepergian ke daerah dengan komunitas yang lebih kecil.

Kebanyakan lokasinya ada di daerah pedesaan. Para pelancong tertarik untuk mempelajari gaya hidup orang desa, budaya mereka yang di banyak kasus terputus dari kehidupan kota. 

Perjalanan menjelajah alam yang berfokus pada alam liar dan relaksasi di alam terbuka juga semakin populer. Peminat pun bertumbuh pesat.

Wisata Domestik – Gairah untuk Perjalanan Singkat

Salah satu tren wisata terbesar saat ini adalah bepergian ke daerah tujuan wisata di dalam negeri. Laporan terkini tentang tren pariwisata yang dirilis pusat penelitian IDITUR menunjukkan makin banyak pelancong memilih ‘hidup sebagai [warga] lokal’ dan bersentuhan dengan segala hal berbau lokal. 

Para turis milenium ketiga cenderung memilih destinasi dan atraksi yang jarang dikunjungi orang. Mereka juga menyukai adanya kedekatan hubungan dengan penduduk lokal dan komunitas yang menjadi tuan rumah.

Tren ini menawarkan unsur otentisitas dengan cara menyelami langsung budaya lokal dan hidup seperti layaknya penduduk setempat.

Bisnis dan Pariwisata MICE – Bisnis Harus Terus Berjalan

Globalisasi dan teknologi terus bergerak maju. Demikian pula bisnis pariwisata dan MICE. Pandemi COVID-19 telah mengubah cara penyelengaraan MICE (meeting, convention, incentive, and exhibition).

Kini banyak acara digelar secara hybrid dan online. Saat ini acara tatap muka belum mungkin digelar setidaknya hingga kelak saat pandemi berakhir.

Wisata Medis dan Kesehatan – Sebuah Alternatif yang Menyehatkan

Dalam beberapa tahun terakhir, wisata medis telah berkembang cukup pesat. Pandemi COVID-19 turut memengaruhi aktivitas wisata di sektor ini karena adanya aturan pembatasan dan penutupan perbatasan di sejumlah negara. Banyak pengamat memprediksi industri ini akan segera kembali bangkit. 

Di tengah kondisi dimana banyak orang mengalami stres, wisata medis dan kebugaran menjadi pilihan. Jenis wisata ini menjadi semakin populer seiring berkembangnya konsep mindfulness.

Apalagi kini kesadaran orang untuk menjaga kesehatan dan kebugaran semakin meningkat. Kota-kota yang populer sebagai tujuan wisata kesehatan dan kebugaran antara lain India, Spanyol, Singapura, Malaysia, California, Bali, Italia, dan Hawaii.

Wisata Olahraga – Semangat dan Adrenalin

Olah raga dapat dimaknai lewat dua cara, yakni: menjadi penggemar atau sebagai atlit. Nah, wisata olahraga melibatkan keduanya. Alasan utama pengadaan jenis wisata ini adalah mengajak para turis untuk menikmati kompetisi olah raga yang digelar di luar negeri.

Di antara yang paling populer adalah Piala Dunia, Bisbol Liga Utama, Basket, dan Olimpiade. Acara-acara ini terbukti dapat menarik wisatawan.

Mereka kebanyakan datang bukan hanya untuk merasakan keseruan menyaksikan lomba yang digelar, tetapi juga mengeksplorasi tempat-tempat wisata di negara tersebut. Di masa mendatang, wisata olah raga akan lebih populer.

Wisata budaya – Rasakan pengalaman yang tak ada duanya 

Wisata budaya memberi keuntungan besar bagi ekonomi. Atraksi yang digelar dapat menarik wisatawan setiap saat sepanjang tahun. Ia juga dapat berfungsi sebagai ajang promosi memperkenalkan identitas diri daerah tersebut. 

Para turis umumya tertarik untuk mengunjungi museum, menghadiri festival, atau mencicipi masakan lokal. Selain itu mereka juga berharap dapat menyelami kehidupan masyarakat lokal bahkan belajar bahasa.

Wisata kuliner – bau dan rasa

Kini, semakin banyak wisatawan tertarik untuk mencicipi masakan lokal baik yang diperkenalkan lewat budaya maupun tayangan film populer. Aktivitas kuliner termasuk mencobai sebanyak mungkin makanan dan minuman yang menjadi ciri khas daerah tertentu. 

Sebagian orang bahkan tertarik untuk mengeksplorasi segala kehidupan terkait dengannya. Banyak daerah tujuan wisata rutin merancang festival makanan di sepanjang tahun.

Kedatangan turis berarti pendapatan bagi penduduk lokal. Ada juga wisatawan yang bahkan beminat untuk mengikuti kelas memasak yang diselenggarakan penduduk setempat.

Wisata-keluarga – kebiasaan lama yang nge-tren lagi 

Di tengah pandemi, wisata keluarga semakin menjadi pilihan. Melancong bersama anggota keluarga perlu persiapan khusus, misalnya menemukan akomodasi yang pas atau destinasi wisata yang dapat menghibur setiap anggota keluarga. 

Para pemilik hotel maupun pengelola daerah wisata perlu memperhatikan hal-hal itu. Manfaatkan teknologi dan pastikan Anda memiliki sumber daya yang memadai untuk menjamu tamu keluarga yang biasanya jumlahnya banyak.

Tujuannya agar mereka nyaman dan betah untuk tinggal. Jangan sampai tujuan utama keluarga untuk rekreasi justru berakhir mengecewakan dan menambah stres. 

Wisata Edukasi – Melihat dan Belajar

Jenis wisata ini mencakup program pertukaran pelajar, kelas musim panas atau kunjungan ke laboratorium dan lembaga lain.

Kegiatan di sektor ini kian hari kian bervariasi seiring dengan terjalinnya hubungan kerjasama internasional di bidang pendidikan.

Di banyak kasus, pelancong yang sebagian besar adalah pelajar, akan diundang untuk mengikuti wisata edukasi untuk menemukan pilihan belajar di luar negara dimana mereka tinggal. 

 

 

Maskapai penerbangan Australia Qantas merayakan hari jadinya yang ke-100

this formate

SYDNEY, bisniswisata.co.id: Maskapai penerbangan Australia Qantas merayakan hari jadinya yang ke-100 pada 16 November, berita langka untuk industri penerbangan yang tertatih-tatih oleh pandemi virus corona.

Dilansir dari CNN, Maskapai ini memulai kehidupannya sebagai Queensland and Northern Territory Aerial Services, yang disingkat QANTAS, pada – seperti yang Anda duga – 16 November 1920. Ketiga pendiri, Hudson Fysh, Paul McGinness dan Fergus McMaster, percaya bahwa bisnis perjalanan udara yang baru lahir mungkin menjadi cara untuk menghubungkan berbagai pos terdepan di daerah pedesaan Australia.

Pesawat pertamanya adalah Avro 504, biplan pra-Perang Dunia I yang dapat menampung seorang pilot dan satu penumpang. Awalnya, pesawat kecil mengirimkan surat dan barang antara kota pedalaman pedesaan.

Tetapi maskapai penerbangan berkembang seiring dengan negara dan Qantas (kali ini dalam huruf kecil) menjadi maskapai penerbangan nasional Australia pada tahun 1959. Rute penerbangan internasional pertamanya adalah ke Singapura pada tahun 1935.

Corak kangguru pertama kali muncul pada tahun 1944 dan menemani maskapai ini selama ekspansi maskapai di seluruh wilayah Asia-Pasifik dan sekitarnya.

“Di seluruh dunia, Qantas mungkin paling terkenal karena catatan keselamatan, ketahanan terbang, dan daftar panjang penerbangan yang pertama. Tetapi bagi warga Australia, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat kanguru terbang di bandara, menunggu untuk mengantarmu pulang,”  kata Alan Joyce, CEO maskapai tersebut dalam pernyataan persnya.

Di tengah pandemi, Qantas mengoperasikan banyak “penerbangan bantuan” yang membawa warga Australia kembali dari pelosok dunia.
Bukan hanya nama Qantas yang berubah selama seabad terakhir. Maskapai ini dikreditkan dengan menciptakan kelas bisnis dan, di tahun non-Covid, itu satu-satunya maskapai penerbangan yang terbang ke ketujuh benua.

Seperti banyak maskapai lain di seluruh dunia, Qantas terpukul oleh penurunan perjalanan di tengah pandemi. Ini telah menanggapi dengan meluncurkan “penerbangan ke mana-mana” di mana penumpang menghabiskan tujuh jam terbang dalam satu putaran melintasi benua, melewati situs-situs seperti Great Barrier Reef dan Uluru.

Sementara rencana besar di usia seratus tahun maskapai tersebut dikurangi karena metode pengendalian virus lokal. Qantas mengoperasikan penerbangan wisata di atas Pelabuhan Sydney untuk merayakan hari besarnya ini.

 

Daftar Periksa Kesehatan IATA untuk Bantu Maskapai Penerbangan Terapkan Panduan ICAO COVID-19

this formate

MONTREAL,  bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) merilis daftar pemeriksaan kesehatan penilaian mandiri maskapai penerbangan untuk mendukung Take-off Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).

Panduan untuk Perjalanan Udara melalui Krisis Kesehatan Masyarakat COVID-19. Panduan Take-off adalah kerangka kerja standar global dari tindakan sementara berbasis risiko untuk pemerintah dan rantai nilai transportasi udara untuk operasi yang aman selama krisis COVID-19.

Dilansir dari Eturbonews, keselamatan selalu menjadi prioritas nomor satu untuk transportasi udara. Dan tantangan COVID-19 telah menambahkan dimensi baru pada upaya organisasi ini.

Dikembangkan dengan masukan dari industri, otoritas kesehatan masyarakat, dan pemerintah, panduan lepas landas ICAO adalah standar global untuk operasi yang aman.

Daftar periksa penilaian mandiri IATA adalah panduan implementasi praktis untuk membantu maskapai penerbangan mematuhinya, “kata Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA, Alexandre de Juniac.

“Pendekatan kesehatan yang selaras adalah kunci, tidak hanya untuk pemulihan penerbangan sipil tetapi juga untuk ‘membangun kembali dengan lebih baik’,” ungkapnya.

Hal yang sangat penting untuk memastikan ketahanan jaringan penerbangan di masa depan. Daftar pemeriksaan kesehatan IATA untuk maskapai penerbangan akan menjadi penting dalam hal ini.

Memberikan momentum untuk implementasi rekomendasi ICAO Council Aviation Recovery Task Force (CART), dimana harmonisasi dan ketahanan menjadi prinsip panduannya, ” kata Presiden Dewan ICAO, Salvatore Sciacchitano.

Daftar Pemeriksaan Keselamatan Kesehatan IATA untuk Operator Maskapai menyediakan standar dan praktik yang direkomendasikan (IHSARP), materi panduan terkait, dan informasi pendukung lainnya yang diperlukan bagi operator untuk menilai sendiri. Bagian penutup tertulis harus ada:

• Pemberitahuan sebelum kedatangan;
• Mendaftar;
• Embarkasi dan Disembarkasi;
• Pembersihan Pesawat Udara;
• Kualitas Udara Onboard;
• Operasi Dalam Penerbangan;
• Awak Pesawat dan Kabin – Umum;
• Persinggahan Kru;
• Fasilitas Bandara.

Para Ahli Pertimbangkan Kapan Industri Kapal Pesiar Bisa Pulih

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pekan lalu berlangsung acara virtual CruiseWorld Travel Weekly dan para eksekutif jalur pelayaran tingkat atas diminta untuk membagikan prediksi mereka tentang kapan industri kapal pesiar kemungkinan bisa pulih ke tingkat pra-pandemi.

Dilansir dari Travelpulse, Ken Muskat, COO dari MSC Cruises, yang telah mengoperasikan kapal pesiar terbatas di Mediterania, mengatakan kepada penasihat perjalanan yang hadir bahwa mereka harus melihat, “armada penuh akan berlayar pada akhir musim panas 2021.

“Kami tidak akan memperlambat sama sekali . Saya senang kami telah terbukti menjadi yang terdepan dalam peningkatan ini dan memulai kembali pelayaran,” ungkapnya

Muskat menambahkan bahwa mulai kembali operasional global MSC akan dilakukan, “secara perlahan dan melalui protokol kesehatan dan keselamatan yang ketat. Kami sangat senang dapat mengembalikan semua kapal ke perairan.”

Ketika moderator Arnie Weissmann, editor-in-chief Travel Weekly, bertanya kepada CEO Royal Caribbean Group, Richard Fain, tentang kapan Royal Caribbean akan “kembali ke penerapan penuh”, yang terakhir menolak untuk menentukan tanggal.

“Saya benar-benar berpikir itu akan lebih cepat dari yang orang pikirkan,” kata Fain. Hal itu karena pedoman melihat adalah mempercayai, dan saya pikir Anda akan mendapatkan gambaran yang sangat cepat,” tuturnya.

Kapal MSC Opera dengan berbagai fasilitas layaknya hotel berbintang lima plus

Pada akhir musim semi, musim panas akan terlihat gelombang besar orang-orang yang kembali. Saya pikir itu akan tumbuh dengan cepat. “Saya tidak akan menentukan tanggalnya, tapi relatif cepat. ”

Fain berspekulasi bahwa pemesanan yang kuat untuk musim semi dan musim panas 2021, dan bahkan setelahnya, mencerminkan keinginan orang untuk kembali. Namun, dia juga menyuarakan peringatan bahwa lonjakan virus saat ini perlu mereda sebelum bisa sampai ke tempat biasa berlayar lagi.

Weissmann juga bertanya kepada Arnold Donald, CEO Carnival Corp., kapan kira-kira dia mengira pelayaran akan kembali ke kondisi sebelum COVID. Donald juga berhati-hati dalam menjawabnya.

Dia mengatakan bahwa jawabannya akan bergantung pada kriteria mana yang digunakan untuk mengukur pemulihan, apakah itu jumlah penumpang, pendapatan, atau kriteria lainnya.

“Secara keseluruhan, kami membutuhkan dua hingga tiga tahun untuk kembali ke level prestasi kami sebelumnya, tergantung kapan kami benar-benar memulai,” ramal Donald.

Kita bisa melihatnya paling cepat pada akhir 2022, tetapi kemungkinan besar, dengan pensiunnya kapal dan pengenalan berita kapal yang lambat, maka jika itu kembali ke tingkat tamu yang bepergian, dan itu tergantung pada berapa lama rencana perjalanannya.

” Jadi maksudnya ada banyak variabel di sini —dan Anda mungkin melihat kerangka waktu 2023. ” kata Arnold Donald, CEO Carnival Corp.

 

Royal Caribbean Mencari Relawan untuk Uji Coba Pelayaran, Siapa Tertarik?

this formate

Kapal Pesiar Royal Caribbean siap berlayar tapi simulasi (foto: CNN

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kapal Pesiar Royal Caribbean tengah mempertimbangkan untuk melakukan uji coba pelayaran. Tujuannya, meyakinkan regulator bahwa mereka dapat kembali berlayar dengan aman di era pandemi COVID-19. 

Saat ini mereka sedang mencari relawan yang berminat ikut dalam pelayaran uji coba tersebut. Responsnya sangat positif. Perusahaan mengaku dibanjiri banyak permohonan dari kandidat yang tertarik menjadi relawan.

Rencana ini terbit seiring dikeluarkannya keputusan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat yang mencabut perintah ‘No-Sail‘. Artinya, kapal pesiar kini bisa kembali menjalankan pelayaran, tentunya dengan protokol kesehatan COVID-19.

CDC menyebut jika perusahaan kapal pesiar ingin mendapatkan izin untuk kembali berlayar maka mereka harus terlebih dahulu melakukan ‘pelayaran simulasi’ yang dirancang sesuai dengan saat berlayar sungguhan.

 “Royal Caribbean memiliki tamu paling setia di industri pelayaran. Kami sangat senang karena mereka amat berminat untuk ambil bagian dalam simulasi pelayaran ini,” kata Jonathon Fishman, juru bicara Royal Caribbean separti dilansir CNN Travel.

Ia menambahkan minggu ini saja perusahaan menerima lebih dari 5.000 email yang menyatakan ketertarikan untuk bergabung dalam simulasi pelayaran. Jumlah itu belum termasuk pesan yang muncul di Tweeter resmi perusahaan atau komentar dan pesan yang tersebar di plataform media sosial lain.

Kini, sebagian besar kapal pesiar telah membatalkan rencana pelayaran hingga akhir tahun. Umumnya mereka masih takut dengan COVID-19.

Masih belum jelas apakah relawan yang akan ikut pelayaran simulasi Kapal Pesiar Royal Caribbean akan dikenakan biaya atau gratis.

Fishman mengatakan pihaknya belum dapat menjawab itu karena masih merampungkan hal-hal detil terkait rencana tersebut. Mereka ingin betul-betul memastikan perjalanan ini akan aman dan menyenangkan bagi semua orang. “Hingga saat ini  kami belum menentukan tanggal pelayaran.”

Pedoman pelayaran simulasi

Sebelum memulai pelayaran simulasi, perusahaan kapal pesiar diminta untuk melengkapi syarat yang telah ditetapkan CDC, termasuk perlindungan bagi para crew yang akan berlayar. Mereka harus secara berkala dites untuk memastikan bebas COVID-19. 

Selain itu CDC juga mensyaratkan perusahaan agar memastikan info bahwa pelayaran ini bukan sungguhan betul-betul sampai ke para relawan. Mereka harus memberitahu calon penumpang secara tertulis yang menyatakan: “bahwa ini adalah pelayaran simulasi yang protokol kesehatan dan keselamatannya belum teruji,” juga harus disebutkan: “bahwa berlayar selama pandemi itu berisiko.”

Relawan yang hendak ikut berlayar simulasi juga harus berusia minimal 18 tahun. Mereka juga dipastikan tidak memiliki penyakit bawaan yang menjadikannya rentan terpapar virus corona.

Sejauh ini perusahaan belum dapat menjanjikan kompensasi atau reward apa-apa kepada para sukarelawan.

Pelayaran simulasi ini akan dirancang sedemikian rupa seperti layaknya berlayar sungguhan. Jadi beragam aktivitas di atas kapal seperti makan malam dan hiburan hingga tamasya ke pantai pulau pribadi, tetap diselenggarakan. 

Selain itu yang juga penting diperhatikan perusahaan adalah SOP yang siap dijalankan apabila kedapatan salah seorang penumpang atau crew dinyatakan positif COVID-19.

Perusahaan harus menyiapkan ruang karantina khusus di atas kapal atau kabin yang terisolasi untuk memastikan virus corona tidak menyebar ke seluruh kapal. 

Kapal pesiar yang hendak melakukan pelayaran simulasi juga wajib mematuhi aturan CDC lain seperti ketentuan memakai masker di atas kapal bagi seluruh penumpang dan crew, menjaga kebersihan tangan, serta menjaga jarak sosial. 

Di atas kapal juga perlu disediakan laboratorium pengujian untuk mengetes seluruh penumpang dan awak saat mereka naik dan turun kapal.

Setelah pelayaran simulasi selesai, perusahaan kapal pesiar harus membuat laporan untuk diserahkan kepada CDC yang akan me-reviewnya. CDC juga akan memberikan umpan balik dan tentunya sertifikat yang menyatakan bahwa seluruh persyaratan berlayar telah dipenuhi. 

Kelak, mungkin saja pelayaran simulasi ini akan diikuti perusahaan kapal pesiar lain.Tertarikkan Anda menjadi relawan? Silakan menghubungi Royal Caribbean.