JAKARTA, bisniswisata.co.id: DKI Jakarta memperpanjang kembali masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi hingga 22 November mendatang dan hal ini berarti sudah sekitar delapan bulan pandemi masuk di Indonesia.
Delapan bulan memang bukanlah waktu yang singkat dimana semua negara mengalami bencana virus Corona yang berdampak pada berbagai sektor industri mulai dari industri travel, perhotelan, pelayaran, penerbangan, dan lain-lain.
Dengan berlangsungnya pandemi pastinya banyak mengubah perilaku masyarakat. Ivan Athaila Putra (23) seorang Sarjana Komunikasi yang baru saja lulus di masa pandemi ini, mengaku banyak terjadi perubahan dari tahun sebelum terjadinya pandemi COVID-19.
Sebelumnya ia sangat sering mendaki gunung tapi sekerang pilih kemping di pantai untuk mengisi hari senggangnya, karena memang ia hobi traveling, namun semenjak pandemi ia mengaku jarang untuk bepergian keluar kota bahkan untuk sekedar menikmati kopi di café terdekat.
Ivan mengaku bahwa awalnya merasa takut dengan pemberitaan yang beredar mengenai virus corona, namun setelah 8 bulan berlangsung, dia merasa biasa saja karena mulai terbiasa dalam menjalani hidup dimasa pandemi ini.
Selama Pandemi Ivan mengatakan menjadi lebih higienis dari sebelum pandemi, selalu menggunakan masker, membawa antiseptic maupun hand sanitizer saat keluar rumah, dan mengganti pakaian sehabis bepergian. Ia juga mengatakan karena lebih banyak dirumah ia juga lebih fokus beribadah.
Keluarganya pun semuanya melakukan kegiatan dari rumah dan lebih sering bertemu dibandingkan sebelum pandemi. Selain itu, keluarga menjadi lebih peduli satu sama lain dan menjadi saling mengingatkan untuk selalu mengingatkan membawa masker dan hand sanitizer saat keluar rumah.
“Setelah 7 Bulan tidak melakukan traveling saya merasa bosan dan jenuh, karena tidak kemana-mana membuat saya merasa stress, akhirnya pada bulan Oktober kemarin saya memutuskan untuk mendaki Gunung Sumbing di Jawa Tengah, bersama tiga teman saya, ” kata Ivan.
Untuk menghindari keramaian Ivan dan teman-temannya memilih untuk menggunakan transportasi mobil pribadi, karena selain lebih aman juga memudahkan akses saat mereka berada di Jawa Tengah.
Gunung Sumbing adalah gunung yang terletak di tiga wilayah kabupaten di Jawa Tengah, yaitu: Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Temanggung.
Mempunyai ketinggian 3.371 mdpl, kerap disebut kembaran dengan dengan Gunung Sindoro. Sumbing dan Sindoro merupakan dua gunung yang kembar apabila dilihat dari arah Temanggung.
Gunung berjenis Stratovolcano ini memiliki trek yang lebih berat karena tingkat kemiringannya yang terjal dan rutenya yang lebih panjang. Tercatat Gunung Sumbing pernah meletus pada tahun 1730.
Jenis hutan yang terdapat di Gunung Sumbing adalah hutan berjenis Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montani, dan hutan Ericaceous. Bagi Ivan yang senang naik gunung, aktivitas ini selain menantang juga memberikan kebebasan dan udara segar.
Ivan menjelaskan bahwa mendaki gunung saat pandemi sama saja seperti mendaki sebelum pandemi, hanya saja kita harus melihat aturan dari pemerintah dan pihak terkait mengenai penerapan protokol pendakian saat pandemi.
“Rata-rata kuota pendaki saat berada di gunung dibatasi, dan jumlah tenda di isi dengan kapasitas 50 persen.
Pada saat itu saya dan teman saya membawa tenda isi 6, dimana juga menguntungkan untuk kita dengan adanya ruang lebih untuk barang,” ungkapnya.
Dalam pendakian juga mengatakan tidak terlalu banyak pendaki yang naik saat itu, mungkin dikarenakan hari kerja, sehingga tidak banyak yang mendaki.
Selama pendakian diwajibkan mengenakan masker, namun sayangnya dengan udara yang makin menipis ia merasa sedikit kesulitan bernapas saat mendaki.
Hal terpenting untuk mendaki gunung saat pandemik adalah mereka yang ingin mendaki disarankan untuk tidak mamaksakan kondisi kesehatan. Apabila tidak kuat lebih baik untuk beristirahat dahulu.
” Saya menyarankan untuk mendaki lebih awal, agar tidak mamaksakan diri, serta membaca peraturan terlebih dahulu yang berlaku agar tidak dikenakan sanksi blacklist, seperti yang terjadi pada beberapa pendaki di Gunung Rinjani,” ujarnya mengingatkan.

