Solo Traveller Tak Gentar oleh Coronavirus

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Solo Traveller terus berencana untuk bepergian lebih sering di tengah   pembatasan perjalanan yang dipicu COVID-19.Hampir 3.000 responden berbagi pemikiran mereka tentang perjalanan solo dan virus Corona. Mereka  menjelaskan bahwa mereka memiliki keinginan, sarana keuangan, dan niat untuk kembali ke perjalanan domestik dan internasional

Dilansir dari Travel Bis News, publikasi mengenai Solo Traveller untuk mereka yang bepergian sendiri,ini  hasil survei pembaca tahunan ke-8 mereka dengan dukungan Overseas Adventure Travel, pemimpin dalam tour solo-friendly.

“Kami menerima tanggapan lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dengan 80% responden adalah perempuan.  Ini menunjukkan keinginan besar yang terpendam untuk bepergian . Respons survei tahun ini luar biasa,” kata Janice Waugh, penerbit Solo Traveler.

 “Pelancong tunggal pada dasarnya mandiri dan berani, dan itu tercermin dalam kebutuhan mereka untuk kembali ke dunia luar,” kata Brian FitzGerald, CEO dan presiden Overseas Adventure Travel.

 “Wisatawan yang berwisata sendirian juga memberi tahu kami betapa pentingnya membuat perjalanan berkelanjutan dan mendukung komunitas lokal.  Mereka tidak hanya ingin melihat dunia – mereka juga ingin membentuknya. “

Lebih dari tiga perempat (77%) wisatawan tunggal ini  bersedia melakukan perjalanan internasional selama mereka tidak perlu melakukan karantina di tempat tujuan.  Survei dengan 2.915 responden menunjukkan bahwa vaksin Coronavirus bukanlah faktor terpenting yang mempengaruhi kapan solo traveller ini  akan melakukan perjalanan internasional lagi.

 Enam puluh satu persen (61%) mengatakan mereka akan melakukan perjalanan internasional setelah vaksin tersedia.  Responden juga mengungkapkan bahwa perjalanan akan mendapat prioritas yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Hasil survei menunjukkan bahwa banyak pelancong solo ini akan menghabiskan lebih banyak uang untuk perjalanan daripada di masa lalu. Untungnya, mayoritas  terus memiliki sarana keuangan untuk memenuhi keinginan perjalanan mereka.  

Tujuh puluh satu persen (71%) responden secara keseluruhan melaporkan bahwa pandemi tidak berdampak pada kemampuan finansial mereka untuk bepergian, sementara 14% mencatat bahwa mereka sekarang memiliki lebih banyak uang dan 15% melaporkan memiliki lebih sedikit.

Perlu juga dicatat bahwa responden yang berusia di atas 45 tahun memiliki posisi keuangan yang lebih baik daripada mereka yang berusia di bawah 44 tahun. Namun, secara keseluruhan, 43% responden menyatakan bahwa mereka akan menetapkan prioritas baru untuk perjalanan dalam anggaran pribadi mereka.

Bagaimana mereka akan bepergian ?

Survei tersebut juga menanyakan bagaimana  solo  travrller akan melakukan perjalanan secara berbeda setelah mereka dapat melakukan perjalanan internasional.

Lebih dari setengah (53%) responden menyatakan bahwa mereka cenderung melakukan tour dengan pengawalan ketika mereka dapat melakukan perjalanan internasional lagi.  Ini adalah tiga kali lipat jumlah orang yang tidak mungkin mengikuti tour.

Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa: 40% akan melakukan perjalanan dengan lebih sadar dan berkelanjutan, 40% memilih Eropa dan Inggris sebagai tujuan, melebihi tujuan lainnya dan 26% akan melakukan lebih banyak perjalanan darat.

Upaya Memberdayakan Pekerja Migran Indonesia Sebagai Tourism Ambassador di Garis Depan

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) melakukan kolaborasi dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) untuk menjadikan pekerja migran Indonesia (PMI) sebagai duta pariwisata.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio, dalam sambutannya secara daring, di Jakarta, Rabu (18/11/10), mengatakan duta pariwisata atau _tourism ambassador_ merupakan sosok yang diharapkan dapat menjadi bagian terdepan.

Pekerja migran di sebuah wilayah dalam menggali, memperkenalkan, hingga kemudian menjadi bagian dari kehidupan seni, budaya dan pariwisata daerah. “Kami menilai para pekerja migran Indonesia berpotensi besar untuk dijadikan sebagai duta pariwisata,”kata Wishnutama.

Tidak hanya menjadi duta bela negara saja, tetapi pekerja migran Indonesia kami harapkan mampu untuk lebih mengenalkan Indonesia pada dunia, terutama wisata di daerah PMI bekerja, ungkapnya.

Untuk itu, Kemenparekraf dan BP2MI melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam rangka memperingati Hari Pekerja Migran Internasional Tahun 2020, di Kantor UPT BP2MI, Jakarta (18/11/2020).

Penandatanganan dilakukan secara simbolis oleh Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya dengan Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Benny Ramdhani.

“Penandatanganan nota kesepahaman ini kami harapkan bisa menjadi momentum untuk lebih menyelaraskan pengambilan kebijakan demi menghasilkan program-program yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Selain itu, MoU ini diharapkan dapat memperkokoh kerja sama dan kolaborasi antara Kemenparekraf dan BP2MI dalam upaya peningkatan dan pengembangan peran pekerja migran Indonesia dalam industri pariwisata dan ekonomi kreatif,” ujar Wishnutama.

Sementara itu, Benny Ramdhani mengatakan kerja sama yang dilakukan dengan Kemenparekraf, akan memberikan gelar istimewa kepada para pekerja migran Indonesia sebagai duta pariwisata. Hal ini dilakukan untuk memasarkan dan mempromosikan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia.

“Menurut World Bank terdapat 9 juta pekerja migran Indonesia termasuk di dalamnya para pekerja yang diberangkatkan secara non-prosedural. Hal ini menunjukkan bahwa potensi jumlah wisatawan mancanegara yang bisa didatangkan oleh pekerja migran kita ke Indonesia cukup banyak,” kata Benny

Oleh karenanya, kita berharap para pekerja migran bisa dibekali wawasan terkait pariwisata Indonesia yang dapat dikenalkan kepada para pemberi kerja.Kedepan, pihaknya akan menitipkan surat dari pemerintah Indonesia untuk pemberi kerja atau pimpinan perusahaan di mana PMI bekerja.

“Melalui surat ini, kita bisa memperkenalkan destinasi wisata Indonesia. Karena terdapat logo _Wonderful Indonesia_ di amplopnya dan ada gambar 10 destinasi wisata Indonesia yang sedang menjadi prioritas pemerintah untuk dipromosikan,” ujar Benny.

Dia berharap dengan adanya duta pariwisata Indonesia dari kalangan pekerja migran ini, nantinya bisa memperkenalkan keindahan alam, seni, dan budaya secara luas serta dapat mendatangkan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

 

Pandemi COVID-19 Dongkrak Biaya Hidup di Eropa, Ini Daftar 10 Kota Termahal di Dunia

this formate

Biaya hidup di Eropa naik selama pandemi COVID-19 (foto: CNN)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Impian setiap orang, umumnya: pindah ke kota besar dan hidup glamor. Tentu saja itu tidak murah. Penasaran, dimana kota-kota termahal di dunia itu berada? Riset terkini menempatkan Paris, Hong Kong, dan Zurich sebagai top three.

Baru-baru ini Economist Intelligence Unit (EIU) mendata 133 kota di dunia lalu memeringkatnya sesuai urutan mulai dari yang termahal. Indikatornya adalah daftar harga 138 item kebutuhan sehari-hari.

Kota-kota di Eropa mulai melewati Singapura dan Osaka dari segi biaya hidup. Salah satu pendorongnya adalah pandemi COVID-19 yang membumbungkan harga-harga kebutuhan sehari-hari. 

Fluktuasi mata uang akibat pandemi – termasuk penurunan drastis dolar AS – menyebabkan kota-kota di Afrika, Amerika, dan Eropa Timur menjadi lebih murah.

Ini terhitung sejak Maret ketika banyak kota mulai memberlakukan aturan restriksi yang ketat untuk mencegah penyebaran virus corona. Sementara Eropa Barat, di mana nilai Euro terhadap dollar naik, harga pun ikut terdongkrak. Franc Swiss juga meningkat nilainya.

Sementra itu Singapura dan Osaka turun ke urutan keempat dan kelima. Tel Aviv dan Osaka bersaing di peringkat kelima. Eksodus pekerja asing selama pandemi antara lain penyebab penurunan Singapura. Menurut EIU populasi ekspatriat turun untuk pertama kali selama 17 tahun.

Studi ini juga mencatat Teheran di Iran mengalami kenaikan peringkat cukup besar. Peringkatnya saat ini berada di urutan 79, naik dari sebelumnya di 106. Penyebab utamanya adalah sanksi yang diberlakukan Amerika Serikat yang berdampak pada naiknya harga-harga barang. 

Sedangkan sejumlah kota di Brazil, seperti Reykjavik, Rio de Janeiro, dan Sao Paulo, mengalami penurunan peringkat. Di sana harga-harga justru turun cukup besar.

EIU mengaitkan penurunan peringkat kota-kota di Brasil itu disebabkan oleh “melemahnya mata uang dan naiknya tingkat kemiskinan”. Brasil, tentu saja, sangat menderita selama pandemi.

“Pandemi Covid-19 telah menyebabkan dolar AS melemah sementara mata uang Eropa Barat dan Asia Utara menguat terhadapnya.Pada gilirannya hal itu menyebabkan terjadinya pergeseran harga barang dan jasa,” kata Upasana Dutt, kepala biaya hidup sedunia di EIU.

Berikut daftar 10 besar kota dengan biaya hidup termahal di dunia 2020

  1. Paris, Perancis
  2. Hong Kong
  3. Zurich, Switzerland
  4. Singapore
  5. Osaka, Japan
  6. Tel Aviv, Israel
  7. Geneva, Switzerland
  8. New York City
  9. Copenhagen, Denmark
  10. Los Angeles

 

 

Etihad Airways Umumkan Rute Baru ke Israel Mulai Maret 2021

this formate

ABU DHABI, bisniswisata.co.id – Etihad Airways, maskapai penerbangan nasional UEA, akan meluncurkan penerbangan harian terjadwal sepanjang tahun ke Tel Aviv, pusat ekonomi dan teknologi Israel.

Dilansir dari Daily Travel News, peluncuran penerbangan mengikuti normalisasi hubungan diplomatik antara kedua negara, dan penandatanganan Abraham Accords antara UEA dan Israel di Washington D.C. pada 15 September.

Hanya sebulan kemudian, Etihad menjadi maskapai GCC pertama yang mengoperasikan penerbangan penumpang komersial ke dan dari Tel Aviv pada 19 Oktober 2020 lalu.

Mohammad Al Bulooki, Chief Operating Officer, Etihad Aviation Group, mengatakan setelah penandatanganan perjanjian bilateral baru, Etihad dengan senang hati mengumumkan hubungan langsung antara kota-kota penting ini.

“Dimulainya penerbangan terjadwal adalah momen bersejarah dan sebagai maskapai penerbangan, memperkuat komitmen Etihad untuk menumbuhkan peluang perdagangan dan pariwisata tidak hanya antara kedua negara tetapi juga di dalam dan di luar kawasan.” kata Mohammad Al Bulooki

Layanan baru yang berlaku mulai 28 Maret 2021 ini akan memberikan pilihan dan kenyamanan yang lebih baik bagi pelancong bisnis dan rekreasi point-to-point antara UEA dan Israel.

Hal Ini tidak hanya akan mempromosikan pariwisata masuk langsung ke Abu Dhabi, tetapi juga akan memberi penduduk Emirat dan UEA kesempatan untuk menemukan situs bersejarah, pantai, restoran, dan kehidupan malam Israel.

Keberangkatan akan diatur waktunya dengan mudah untuk terhubung melalui Abu Dhabi ke gerbang utama di seluruh jaringan Etihad termasuk China, India, Thailand, dan Australia.

Terbang ke, dari, dan melalui Abu Dhabi sangat didukung oleh program sanitasi dan keselamatan Etihad Wellness, yang memastikan standar kebersihan tertinggi dipertahankan di setiap tahap perjalanan pelanggan.

Tentunya Ini termasuk Duta Kesehatan yang terlatih secara khusus, yang pertama di industri ini, yang telah diperkenalkan oleh maskapai penerbangan untuk memberikan informasi dan perawatan kesehatan perjalanan yang penting di darat dan di setiap penerbangan, sehingga para tamu dapat terbang dengan lebih mudah dan tenang.

 

Pilihan  Gen Z  Berwisata Aman di Tengah Pandemi

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Dimas memeriksa catatannya ketika ditanya berapa kali melakukan perjalanan wisata di tengah pandemi global ? jumlahnya cukup mengejutkan juga karena mencapai 19 kali.

” Gue bener-bener ngitung dari archive story nih, ternyata memang 19 kali selama pandemi global. Terakhir libur panjang lima hari pas libur bersama Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW lalu ke Yogya 28 Oktober – 1 November lalu” kata Dimas, 22 tahun.

Bepergian saat pandemi global masih berlangsung bagi Dimas tidak masalah. Tiga bulan pertama saat berita COVID-19 sangat mencekam dunia, Dimas mampu mengerem keinginannya untuk travelling, apalagi semua obyek wisata tutup.

Namun seiring perkembangan dan pengetahuan yang dimilikinya, maka dia rajin menyambangi obyek-obyek wisata terdekat dari rumah dengan mamakai kendaraan pribadi serta mengendarai sendiri untuk mencapai tempat-tempat yang ingin ditujunya.

“Siapa saja tentunya tak ingin terpapar penyakit Coronavirus, oleh karena itu di setiap tujuan obyek wisata patuhi pakai masker, jaga jarak dan yang utama adalah pergi dalam kondisi tubuh fit,” ujarnya.

Dimas mengaku bosan bekerja dari rumah sehingga setiap libur dia langsung pergi wisata alam seputar Sentul, Bogor, Sukabumi, Banten dengan rajin browsing. Tentunya tempat-tempat terbuka yang dipilihnya.

Setiap kali bepergian entah dengan keluarga maupun teman komunitas Dimas membuat perencanaan sendiri mulai dari rute perjalanan hingga mengatur budget pengeluarannya.

Saat ke Yogya bersama teman naik mobil pribadi, banyak tempat yang disambanginya di kota Gudeg itu mulai dari ke Gua Pindul dan Cave Tubing, menikmati kopi klotok, Lava Tour Jeep Merapi, kulineran di Raminten, kuliner gudeg Yuk Djum, bakpia dan makanan khas lainnya.

Dia juga banyak menghabiskan waktu dipasar Bringharjo dan Malioboro bukan karena hobi belanja tetapi banyak belajar dari kehidupan masyarakat setempat sekaligus aktivitas wisatawan domestik dengan duduk manis di kursi-kursi yang tersedia sepanjang Malioboro.

Dia juga menyelami kehidupan masa lalu dengan menghabiskan waktu di Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko bukan sekedar untuk jeprat-jepret tapi mengagumi peradaban masa silam.

Prambanan misalnya kerap menjadi venue untuk acara-acara musik internasional sehingga ide-ide Dimas juga bermunculan selain memenuhi rasa penasaran atas kreasi-kreasi hebat para penyelenggara event.

Dimas, pilih berwisata ke Yogyakarta dengan beragam pilihan jenis wisata yang ada dari petualangan, kuliner, budaya hingga tradisi masa silam
Dimas menikmati keindahan kota Yogyakarta diwaktu malam

Selama bepergian yang tidak pernah dilupakan dan selalu tersedia di tas adalah Masker, handsanitizer, personal medicine dan rajin cuci tangan. Kebetulan di era pandemi juga banyak tersedia tempat cuci tangan.

” Paling banyak mengeluarkan uang waktu ke Jogja saja Rp 3 juta. tempat lainnya murah meriah tapi bisa refreshing,” ungkapnya.

Marcelia. 23 tahun, juga pilih travelling untuk mengusir kebosanan di rumah. Bahkan dia tak segan-segan mengajak anjing kecil kesayangannya untuk jalan-jalan di udara terbuka dan berfoto ria.

Seperti halnya Dimas, Marcelia suka pergi dengan kendaraan pribadi ke obyek-obyek wisata yang berjarak 1-2 jam saja dari tempat tinggalnya tapi sudah memberikan nuansa baru dan refreshing.

” Tidak banyak mengeluarkan uang karena untuk bensin dan kuliner saja sekitar Rp 500.000. Selama pandemi ada tiga kali wisata terakhir seputar Bogor saja,”

Terakhir waktu libur Maulid Nabi Marcelia dan keluarga menginap di villa di Bogor dan mendapat udara segar meski tidak jauh dari Jakarta dan yang terpenting adalah tetap quality time bersama orangtua dan saudara-saudaranya.

Baik Dimas dan Marcelia mengaku jadi paham diseputar Jakarta banyak sekali pilihan berwisata tanpa harus ngemall dan pilihan tempat spot foto yang terbuka serta instagramable banyak sekali.

“Kuncinya ya rajin browsing dan kalau tempatnya terbuka dan banyak spot foto jadi tertarik datang,” kata gadis cantik ini.

Di Yogya , Dimas juga mendapati banyak spot foto yang indah seperti memandang keindahan kota Yogyakarta dari atas ketinggian saat malam hari. “Gratis cukup parkir mobil ditepian dan mendapat foto bagus,” ujarnya.

Sosok Dimas maupun Marcelia bisa jadi mewakili gambaran hasil riset Juli tahun lalu oleh Booking.com mengenai Gen Z , generasi yang sepenuhnya hidup di era digital. Mereka yang berusia 16-24 tahun ini memprioritaskan traveling dari pada 

Riset global tentang Gen Z dengan 22.000 responden dari 29 pasar ini tidak hanya mengungkap rencana perjalanan mereka, tapi juga arti perjalanan dalam aspirasi hidup mereka yang lebih luas.

Enam dari sepuluh (60%) merasa bahwa pengalaman traveling selalu sepadan dengan uang yang dihabiskan. Meski masih muda, Gen Z cukup yakin dengan apa yang mereka inginkan, terutama soal rencana perjalanan. Sebanyak 67% Gen Z bersemangat untuk mengunjungi destinasi berikutnya.

Selain itu, 55% Gen Z juga menganggap bahwa bepergian di dalam negeri sendiri membantu mereka belajar lebih jauh tentang diri mereka sendiri dan siap solo traveling.

Banyak traveler muda yang telah bepergian dengan keluarga sebelumnya, dengan dua perlima (42%) melakukannya karena mereka bisa pergi ke banyak tempat tanpa mengeluarkan biaya sendiri. 

Tapi berhubung Gen Z sebagian sudah memasuki dunia kerja dan berpenghasilan sendiri maka mereka sedang dalam usia untuk meninggalkan rumah dan siap solo travelling.

Marcelia mengaku sudah membuat bucket list  apa saja yang akan dilakukannya jika pandemi berakhir. Penggemar dilm  drama Korea ini tahun depan ingin segera ke Korea. 

“Kalau bepergian ke luar negri tahun ini karena masih pandemi jadi rumit. Indonesia saja belum terima wisatawan asing. Mudah-mudahan tahun depan COVID-19 sudah hilang. ” kata Marcelia.

Sedangkan Dimas juga belum tertarik untuk berwisata ke luar negri karena tempat-tempat dalam bucket list nya  di dalam negri madih panjang dan kalau bisa sesegera mungkin dikunjungi supaya bisa menambahkan tempat baru ke dalam daftar archive storynya

“Belum ada bayangan mau ke luar negri sampai dua tahun ke depan,” jelas Dimas mengakhiri impiannya.

 

Pemulihan Pariwisata Eropa Dihentikan Gelombang COVID-19 ke Dua

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menurut laporan triwulanan terbaru  European Rravel Commission (ETC), pelonggaran pembatasan pandemi di seluruh Eropa Juli dan Agustus lalu menyebabkan sedikit pemulihan pariwisata Eropa dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Dilansir dari Tourism Review, pemberlakuan kembali larangan dan pembatasan perjalanan baru-baru ini karena meningkatnya jumlah kasus COVID-19 dengan cepat menghancurkan peluang pemulihan awal sektor ini. Menurut laporan ETC, kedatangan orang Eropa cenderung menurun 61% pada tahun 2020.

Solusi Umum Diperlukan

Menyusul publikasi laporan tersebut, Eduardo Santander, direktur eksekutif ETC, berkomentar: “Dengan gelombang kedua pandemi Covid-19 mencengkeram Eropa sebelum musim dingin, sekarang lebih penting dari sebelumnya bagi negara-negara Eropa untuk bergabung untuk menyepakati solusi bersama,”

Tidak hanya untuk menahan penyebaran virus, tetapi juga untuk mendukung pemulihan pariwisata Eropa yang berkelanjutan, memulihkan kepercayaan para pelancong dan, yang terpenting, melindungi jutaan bisnis dan pekerjaan yang berisiko, katanya.

Menurut ETC, arah pemulihan ekonomi di seluruh Eropa akan sangat bergantung pada pemulihan industri pariwisata. Sektor ini menyumbang hampir 10% dari PDB Uni Eropa dan menyediakan lebih dari 22 juta pekerjaan.

Eropa Selatan Paling Parah

Destinasi Mediterania, Siprus dan Montenegro, adalah yang paling terpukul oleh penurunan kedatangan dengan penurunan masing-masing 85% dan 84%, yang disebabkan oleh ketergantungan yang lebih tinggi pada wisatawan asing.

Negara lain yang mengalami kerugian besar antara lain Rumania, dimana kedatangan turun hingga 80%, Turki (-77%), Portugal dan Serbia (keduanya -74%). Islandia dan Malta (keduanya -71%) juga berkinerja buruk karena lokasi geografis dan batasan perbatasan yang ketat.

Sebaliknya, Austria tampaknya mendapat keuntungan dari perjalanan musim dingin di 2019 dan di awal tahun, yang menyebabkan penurunan “hanya” 44% untuk tahun ini hingga September 2020.

Ketergantungan yang lebih besar pada perjalanan jarak pendek juga menempatkan Austria pada posisi yang kuat untuk mencapai kenaikan yang tidak terlalu bergejolak, karena pembatasan di negara itu dilonggarkan lebih cepat daripada di negara lain.

Menurut ETC, hal ini menggarisbawahi perlunya kerjasama pariwisata Eropa yang luas di antara negara-negara anggota. Pendekatan yang berbeda untuk pembatasan travel telah mengurangi permintaan travel dan kepercayaan konsumen.

Sebuah survei baru-baru ini oleh IATA menunjukkan bahwa pembatasan perjalanan sama menakutkannya dengan risiko tertular virus itu sendiri. Solusi yang selaras untuk pengujian dan pelacakan serta tindakan karantina akan sangat penting untuk menahan risiko penurunan di seluruh Eropa.

Lebih Banyak Perjalanan ke Daerah Pedesaan di Masa Depan

Menurut analisis, prakiraan terbaru akan sedikit positif, karena ada tanda-tanda pemulihan yang lebih cepat dalam perjalanan domestik di industri pariwisata Eropa. ETC mengharapkan level 2019 dicapai pada 2022.

Perjalanan jarak pendek Eropa juga diharapkan pulih lebih cepat pada tahun 2023, diuntungkan dari pelonggaran pembatasan perjalanan yang lebih cepat dan persepsi risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan perjalanan jarak jauh. Menurut prakiraan, total volume perjalanan hanya akan mencapai level pra-pandemi pada 2024.

Pandemi COVID-19 juga berdampak pada pilihan perjalanan di negara-negara Eropa tertentu. Terjadi peningkatan yang signifikan dalam perjalanan ke daerah pedesaan dan pantai di musim panas.

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kekhawatiran yang jelas tentang bepergian ke lokasi perkotaan yang padat penduduk yang lebih sulit untuk menjaga jarak sosial.

Kurang Wisata

Perubahan dalam preferensi perjalanan ini pada akhirnya bisa menjadi solusi untuk masalah overtourism dan memungkinkan destinasi untuk merangsang permintaan akan pariwisata berkelanjutan.

Menurut perkiraan ETC, peningkatan minat dalam perjalanan ke tujuan wisata sekunder dapat mengurangi beberapa hotspot wisata populer yang sebelumnya bergulat dengan permintaan travel yang berlebihan.

Perilaku travel yang disesuaikan juga dapat membantu mendistribusikan manfaat ekonomi dari pariwisata secara lebih merata di negara-negara di sektor pariwisata Eropa.

 

Pelatihan- bisniswisatacoid

“Skill-up”, Percaya Diri untuk Melangkah

this formate

BALI, bisniswisata.co.id: “Saya harus mulai dari mana?” ujar perempuan paruh baya peserta pelatihan DIGIMAKz Skill-up Digital Marketer #1. Secara profesi, yang bersangkutan telah bergelut dengan dunia digital dalam hitungan waktu memadai. Saat harus memulai untuk kebutuhan pribadi, diluar tugas kewajiban sebagai pekerja profesional, tidak semua orang memiliki cukup keberanian memulai dan paham memulai darimana.

Kurang percaya diri mengeksplore kemampuan, tidak hanya bagi kalangan profesional yang sudah berumur. Kalangan profesional muda pun masih tergagap-gagap saat mencoba bebas memanfaatkan teknologi — sebenarnya sudah menjadi kesehariannya — untuk urusan bisnis pribadi.

Membangun raya percaya diri, ditengah upaya meningkatkan keahlian, bukan upaya ringan, juga bukan hal yang mustahil dipraktikkan. Kuncinya, mau membuka diri dan berkolaborasi dengan sumber-sumber energi positip lainnya, ungkap konsultan  Telu Learning Consulting.

Dalam dunia digital, tidak berbeda jauh dengan keseharian dinamika kehidupan manusia. Jika dalam kehidupan sehari-hari, setiap persoalan dibicarakan, dikonsultasikan, di bahas dan dicari solusinya. Dunia digital, diperlukan rasa percaya diri, berani mencoba, memanfaatkan sebesar-besarnya kemampuan teknologi tersebut.

Masih berkaitan dengan upaya skill-up optimasi teknologi, program DIGIMAKz Skill-up Digital Marketer menawarkan sesi pelatihan ke #2, materi fokus perihal optimasi mesin pencari. Terbuka untuk umum, baik dari hospitality industry mau pun pebisnis independen, siapa pun yang berminat meningkatkan kemampuan digital marketing-nya.

Menurut Jeffrey Wibisono, salah seorang mentor DIGIMAKz, dalam dunia digital, optimasi menggunakan keywords. Perlu pemilihan kata-kata yang tepat sesuai target pasar, konsistensi, repetitif, telaten dan komunikatif. Bekerja secara digital-pun, kita dituntut untuk ramah dan rutin berinteraksi dengan audiens, paparnya kepada bisniswisata.co.id

Apakah Anda pernah bertanya-tanya, mengapa saat memasukkan kata kunci tertentu di mesin pencari seperti Google? Ada website yang selalu muncul di halaman pertama? Dan mungkin website Anda, muncul di halaman kesekian atau malah tidak terdeteksi keberadaannya di Google?

Itulah perlunya optimasi mesin pencari atau biasa dikenal dengan search engine optimization alias SEO. Mesin pencari pun tidak melulu berhubungan dengan Google. Karena setiap platform memiliki mesin pencari dengan algoritma masing-masing, seperti Youtube dan Instagram, misalnya.

Optimasi laman digital pada DIGIMAKz Workshop Series #2, juga mempelajari, langsung praktek,  mengulik seni copywriting, content writing dan Google My Business.

Materi belajar digital marketing itu, menurut Digital Maker Suzana Widiastuti, banyak sekali silabusnya. Disarankan peminat, peserta pelatihan fokus, step by step, menghadapi kesulitannya satu persatu dihadapi dan dikerjakan sampai mendapat nilai keberhasilan.

“Terlalu besar target, pikiran kita menjadi tumpul dalam menemukan kematangan analisa dan menyediakan solusi. Dalam digital marketing, bukan hal tabu  tidak tahu semua jawaban.  Yang kita pelajari hari ini, bisa jadi besok sudah berubah alogaritmanya. Kita hanya perlu  kontrol dan membuat skala prioritas,” paparnya lebih jauh.

 DIGIMAKz menyelenggarakan mentorship berseri dengan tujuan memperkaya peserta dengan pengetahuan bisnis era digital. Berpedoman pada prokes peserta DIGIMAKz pada Sabtu 28 November di Fame Hotel di batasi  maksimum 20 orang. Selain kepentingan protokol kesehatan, di dalam kelas praktek, disediakan pendampingan agar peserta workshop tidak tergagap menjalankan teori dan praktek.

Penasaran? Berniat meningkatkan kemampuan? Cukup sisihkan budget Rp 250 K per orang dan waktu setengah-hari di akhir pekan. Modul pelatihan dapat dilihat pada https://digimakz.com/digimakz-workshop-series/

Kudapan Sehat Sankyoudai Sushi

this formate

BALI, bisniswisata.co.id: MENINGKATKAN imune tubuh, salah dua yang dapat dilakukan adalah dengan mengkonsumsi makanan sehat, gizi seimbang, fresh. Tanpa kehilangan cita rasa dan kehilangan hobi mencicip olahan dapur baik nusantara mau pun dari mancanegara.

Nilai tambah berlipat saat makanan tidak hanya memberi nilai lebih pada jasmani dan rohani, juga memberi kesempatan berbagi kepedulian sosial. Terlebih saat krisis sebagai dampak pandemi — diharapkan segera tertangani— setiap langkah, hendak lah memberi manfaat sebesar- besarnya bagi lingkungan.

Untuk kudapan sehat, memenuhi selera kekinian bagi semua kalangan, tiga kerabat dalam partner bisnis kuliner “Sankyoudai”, menawarkan olahan sushi, kuliner otentik etnis Jepang, dengan wasabhi dan saus khasnya.

Sankyoudai Sushi Restaurant, selain menyediakan alternatif  kuliner sehat, juga membuka peluang kerja bagi tenaga terampil kudapan Jepang dan pelatihan bagi peminat pengembangan bisnis kuliner. Ungkap salah seorang share holder bisnis Sankyoudai Sushi, I Gede Wahyu Rismawan.

Pandemi, membawa hikmah tersendiri dalam bisnis kulinari. Tumbuh semarak bisnis makanan olahan dari rumah ke rumah dan warung serta resto mandiri di beberapa sudut tujuan wisata. Bali sebagai pulau tujuan wisata, dikunjungi warga dunia dengan membawa budayanya. Termasuk budaya kulinari mereka. Pilihan pun beragam, tersedia bagi semua kalangan dengan pilihan harga terjangkau.

Sushi yang identik dengan kudapan “mahal” ditangan chef Sankyoudai menjadi layak dikocek korban pandemi. “Tetap menjaga kulitas kudapan,” papar Wahyu kompetensi matematika yang melalangbuana sebagai sales marketing didunia bisnis.

Restoran sushinya didesign  sebagai salah satu fusion Japanese restoran dengan konsep millennial. Menawarkan kelezatan masakan Jepang dengan sentuhan  budaya Bali dan  Indonesia. Diharapkan, restoran ini mampu menjadi salah satu fusion Japanese restaurant  terbaik, sebagai  trend center lifestyle bahwa makan sushi tidak harus mahal

Pandemi yang menyebabkan dinamika bisnis kepariwisataan terhenti sejenak, membangkitkan semangat lajang kelahiran Klungkung, 13 august 1989 untuk tetap berkarya. Berbekal pengalaman sebagai sales marketing produk hotel, villa, restoran dan masih menjabat sebagai resort manager, Wahyu didukung dua kerabat dekatnya  membuka usaha sushi untuk  menyalurkan ilmu, dapat membantu menampung tenaga kerja dan tentu saja tetap berpedoman menjaga nama Bali sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di dunia, jelasnya mewakili para share holder.

Di Sankyoudai Sushi, tidak harus memesan menu normal, pelanggan dapat memesan sushi dalam bentuk pieces dengan harga Rp. 5.000 – Rp 10.000. Bisa memilih makan ditempat di ruang berpendingin bebas asap rokok, boleh di outdoor. Restoran berkapasitas 25 kursi indoor dan 35 kursi outdoor, kapasitas terbatas, pasalnya manajemen menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah.

Meski belum dapat melakukan reservasi on-line, Sankyoudai Sushi menyediakan nomor whatsapps customer service yang sigap mengirim daftar menu dan mencatatkan kursi bagi pelanggan. “Sekaligus membangun data base pelanggan,” jelas Wahyu

Target marketnya adalah komunitas sushi lover dan kaum millennial, mendukung pencapaian target market disiapkan live music, pertunjukan sulap dan fire dance. Wahyu juga menyiapkan pesan antar. Segera dibuka cabang di Canggu dan Ubud. Bagi share holder Sankyoudai Sushi, pelanggan datang sebagai tamu, pulang sebagai keluarga. Silaturahmi tetap dijaga, berharap mereka menjadi repeater guest yang loyal.

Trip.com Lihat Permintaan di Singapura dan Hong Kong Naik Setelah Pengumuman Travel Bubble

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: – Penyedia layanan perjalanan online internasional menyaksikan lonjakan permintaan untuk perjalanan wisata Singapura-Hong Kong (SG-HK), setelah pengumuman travel bubble ( gelembung perjalanan) akan diluncurkan pada 22 November.

Dilansir dari Travel Daily News Asia, menurut data Trip.com terbaru, pada 11 November dalam tiga jam setelah pengumuman gelembung perjalanan SG-HK tentang dimulainya kembali penerbangan lintas batas .

Volume pencarian penerbangan dari Hong Kong ke Singapura tumbuh sebesar 300%, diikuti dengan peningkatan 200% dalam penelusuran hotel lokal Singapura.

Data tersebut juga menunjukkan peningkatan signifikan dalam volume penelusuran untuk produk perjalanan dari Singapura ke Hong Kong, dengan peningkatan 200% untuk penerbangan, dan peningkatan 150% untuk hotel.

Trip.com telah mengamati pertumbuhan permintaan perjalanan sejak pengumuman pertama dari perjanjian gelembung perjalanan SGHK pada 15 Oktober.

Dalam dua jam setelah pengumuman tersebut, menurut Trip.com, volume pencarian untuk penerbangan di Singapura mengalami peningkatan sebesar 56,4%, diikuti dengan peningkatan 40% dalam penelusuran hotel lokal.

Setelah itu, Trip.com menemukan bahwa minat perjalanan antara Singapura dan Hong Kong meningkat, menunjukkan rasa ‘lapar’ untuk perjalanan lintas batas tetap kuat.

Menanggapi tren ini, pada tanggal 29 Oktober, acara LIVE Trip.com Hong Kong mengiklankan berbagai diskon hotel Singapura serta penawaran hotel staycation lokal, termasuk Shangri-La Hotel Singapura, Mandarin Orchard Singapura dan Amara Sanctuary Resort Sentosa.

Selain informasi berguna bagi pelanggan Hong Kong yang berencana bertualang ke Singapura untuk perjalanan berikutnya. Pertunjukan dua jam ini menarik total 1,6 juta penonton.

Pertunjukan LIVE Trip.com telah berlangsung di Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Pelanggan di seluruh wilayah telah mengikuti diskon teratas untuk produk perjalanan yang disesuaikan dengan pasar lokal mereka, sebagai bagian dari promosi “Travel On Sale”.

Program yang menawarkan pemesanan di muka yang fleksibel untuk berbagai produk perjalanan, meningkatkan perjalanan domestik dan meletakkan dasar untuk pemulihan perjalanan global di masa depan

Airbnb Eksplorasi Masa Depan Perjalanan di Seluruh APEC

this formate

KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id: Pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, dan pakar industri di berbagai ekonomi dalam Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) baru-baru ini berkumpul di Travel Reimagined:  Airbnb and APEC Forum, membahas topik seputar masa depan pariwisata dan pemulihan pariwisata di seluruh ekonomi APEC.

Dilansir Travel Daily News kegiatan ini selenggarakan bersama oleh Kelompok Kerja Pariwisata APEC dan Pusat Nasional APEC (NCAPEC) dan Airbnb dengan serangkaian diskusi panel virtual yang diadakan pada 3, 6, dan 11 November.

Forum membahas kebutuhan untuk memfasilitasi pembukaan kembali perbatasan dan mengeksplorasi ide-ide inovatif, seperti jalur hijau dan visa kerja jarak jauh, untuk memungkinkan industri pariwisata APEC yang dinamis dan kompetitif di masa depan.

Diskusi tersebut juga difokuskan pada identifikasi tonggak penting yang diharapkan ekonomi APEC sebagai sinyal untuk membuka kembali perbatasan mereka dan inisiatif utama untuk memulihkan kepercayaan wisatawan.

Selama sesi ini, Airbnb juga menyoroti bagaimana tahun 2020 telah melihat perubahan signifikan dalam cara orang ingin bekerja, bepergian, dan tinggal di mana saja, didorong oleh gaya hidup baru bekerja jarak jauh yang diharuskan oleh pandemi. Airbnb juga merilis data baru dari survei terbaru yang menyoroti tren berikut:

Kerja jarak jauh sedang meningkat, dengan 40% orang Malaysia saat ini mengadopsi gaya hidup baru ini, dan 21% berupaya untuk bekerja dari jarak jauh di masa depan.

Prospek pekerjaan-cation sangat populer di Malaysia karena 78% tertarik untuk tinggal dan bekerja dari tempat lain selain rumah untuk waktu yang lama.

Mengutip perubahan pemandangan sebagai aspek paling menarik dari gaya hidup nomaden ini, bersama dengan peluang untuk menyegarkan kembali kehidupan kerja mereka.

Sedikitnya 73% orang Malaysia, 74% orang Korea, 84% orang Australia dan 72% orang Thailand berharap untuk bepergian di dalam negara mereka, menunjukkan tren yang meningkat dalam hidup dan bekerja dari mana saja di seluruh wilayah.

Data tambahan juga menunjukkan bahwa pencarian utama untuk fasilitas Airbnb mencakup konektivitas WiFi dan rumah ramah hewan peliharaan, yang selanjutnya mendukung tren orang yang ingin menggabungkan bekerja dan bepergian.

“Kami melihat perubahan besar dalam cara kami hidup dan bekerja, dan yakin banyak dari perubahan ini akan tetap ada lama setelah pandemi,”  kata Chris Lehane, SVP Policy and Commmunications Airbnb.

Seiring perkembangan ini, pihaknya akan terus mengembangkan cara terbaik untuk mendukung komunitasnya dengan mendukung perjalanan yang sehat dan berkelanjutan bersama dengan pemerintah daerah, tambahnya.

Sekarang ada kebutuhan untuk menciptakan bentuk perjalanan yang sehat dan berkelanjutan yang menjadi tanggung jawab kita semua dalam industri untuk memikirkannya di dunia pasca-COVID.

Menata Ulang Tujuan: Menyeimbangkan Kelangsungan Hidup dan Keberlanjutan

Sesi kedua Forum membahas lebih lanjut bagaimana pembatasan perjalanan tidak diragukan lagi telah memengaruhi sektor perhotelan dan pariwisata, dan bagaimana upaya bersama dalam mencari solusi berkelanjutan perlu dilakukan di seluruh dunia.

Pemulihan industri ini bergantung pada investasi, pemeliharaan, dan pelatihan keberlanjutan melalui kolaborasi sektor publik dan swasta, dan industri pariwisata dapat menjadi pemain kunci dalam memberikan kontribusi pada perekonomian untuk perubahan positif.

“Kita perlu melihat pariwisata sebagai penggerak ekonomi utama. Kita perlu melihat masa depan dan mempertimbangkan pembangunan berkelanjutan, dengan menggunakan industri pariwisata sebagai mekanisme perubahan positif secara lokal,” kata Dr Jutamas (Jan) WisansingJ, Anggota, Tim Strategis, Kementerian Pariwisata dan Olahraga (Thailand).

Hal Ini bisa menjadi bagian dari ekosistem yang bekerja dengan pemerintah daerah dan masyarakat adat, misalnya, dan mulai membayangkan garis finis saat kami mengembangkan solusi untuk memerangi pandemi.

“Penting bagi kami untuk memfokuskan kembali dan menata kembali peran industri pariwisata dan bagaimana hal itu dapat menguntungkan sektor lain di sekitarnya, ”kata Dr Jutamas (Jan).

Teknologi Mendorong Pemulihan Pariwisata dan Kemakmuran Bersama.

Sesi ketiga dan terakhir dari Forum membahas bagaimana pertumbuhan ekonomi digital telah menciptakan peluang baru bagi komunitas terutama di lingkungan pasca-pandemi.

Bagaimana industri perjalanan dapat memanfaatkannya karena mereka mendorong kolaborasi yang lebih besar antara sektor swasta dan publik di seluruh pemerintahan dan negara-negara mulai mencari upaya pemulihan.

Di banyak negara, termasuk Malaysia, ekonomi digital telah menjadi pendorong utama yang diperlukan untuk menopang bisnis, terutama terkait COVID-19.

“Saat ini ada kebutuhan yang semakin cepat untuk digitalisasi. Ini adalah sesuatu yang lebih menantang di masa lalu, terutama untuk bisnis tradisional dan kecil, tetapi banyak bisnis sekarang telah mengambil langkah pertama ke arah tersebut ” kata Yew Heng Lim, Regional Head of Public Affairs

Tantangannya sekarang adalah untuk menjaga momentum terus berjalan, untuk membantu mereka mengoptimalkan model bisnis mereka dengan mengeksplorasi pemasaran digital dan mengelola inventaris mereka secara lebih baik secara digital, dan secara keseluruhan untuk memanfaatkan pemulihan yang datang bersama, ”kata Yew Heng Lim, Regional Head of Public Affairs Grab.

Forum ini diselenggarakan bersama oleh Kelompok Kerja Pariwisata APEC, Pusat Nasional APEC (NCAPEC) dan Airbnb. Diketuai oleh Malaysia pada tahun 2020, diikuti oleh Selandia Baru dan Thailand pada tahun 2021 dan 2022.

Kelompok Kerja Pariwisata APEC memprioritaskan forum ini dalam Rencana Strategisnya untuk tahun 2020-2024 mempromosikan transformasi digital di sektor pariwisata terutama pada saat-saat genting seperti pandemi ini.