JAKARTA, bisniswisata.co.id: Mari kita keluar dari kegelapan – kita semua suka bepergian dan mengunjungi tempat-tempat terindah dan eksotis yang ditawarkan planet kita yang indah. Namun, tidak semua dari kita tahu bagaimana mempersiapkan diri untuk petualangan travelling dengan baik.
Dilansir dari Traveldailynews.com, Situasi tak terduga cenderung terjadi bahkan pada pelancong dan pakar paling berpengalaman, yang merupakan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Paspor hilang, cuaca buruk, dan penundaan penerbangan hanyalah puncak gunung es.
Triknya adalah melakukan semua yang Anda bisa untuk mencegah kecelakaan itu dan menghindari situasi apa pun yang dapat berdampak dengan cara apa pun. Bersiaplah untuk hal yang tidak terduga dan ketahui bagaimana mengelola ketika segala sesuatunya berjalan lambat.
Dengan mengingat semua itu, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk memastikan Anda diperlengkapi dengan baik dan siap menghadapi apa pun yang mungkin Anda hadapi. Kiat-kiat berikut harus mengubah pemula menjadi pelancong berpengalaman.
Paspor yang valid adalah yang paling tidak Anda khawatirkan
Memiliki paspor yang valid bukanlah satu-satunya hal yang Anda butuhkan untuk menaklukkan dunia, bahkan lebih dari itu. Meskipun Anda perlu memilikinya, untuk mencapai tempat yang Anda tuju membutuhkan lebih dari sekadar memiliki dokumen yang tepat.
Memiliki paspor yang valid adalah langkah pertama dalam perjalanan Anda untuk menjadi seorang musafir berpengalaman; itu yang penting berikutnya.
Beberapa negara seperti China dan Rusia mewajibkan pelancong bahwa paspor mereka harus berlaku setidaknya enam bulan setelah tanggal penerbangan pulang mereka, sementara negara lain mewajibkan paspor masih berlaku tiga bulan setelah keberangkatan.
Lalu, ada masalah visa. Beberapa tujuan memerlukan visa, yang membuat Anda melewati banyak dokumen dan peraturan. Untuk memastikan perjalanan Anda menyenangkan, sebaiknya lakukan riset terlebih dahulu sebelum berangkat ke bandara.
Periksa biaya data / seluler Anda
Kami memang hidup di dunia seluler internet, dan Anda perlu mengawasi penggunaan seluler dan data Anda di belahan dunia yang jauh. Dunia jauh lebih terhubung daripada sepuluh tahun yang lalu, itulah sebabnya Anda harus mendapat informasi tentang biaya menggunakan telepon Anda di luar negeri. Dan hadapi saja – Anda harus sering menggunakan ponsel saat bepergian.
Masuk ke mode pesawat itu mudah; cakupan dan pengoperasian ponsel Anda di luar negeri yang seharusnya menjadi perhatian utama Anda. Oleh karena itu, pastikan Anda menanyakan kepada operator Anda bahwa telepon Anda memiliki jangkauan di tempat tujuan Anda dan dapat dioperasikan sepenuhnya untuk menghindari situasi yang canggung dan tagihan telepon yang tinggi.
Sangat penting untuk menentukan jumlah data yang Anda perlukan berdasarkan penggunaan dan tagihan sebelumnya. Anda juga dapat membeli kartu SIM di tempat tujuan untuk menghindari biaya roaming yang mahal.
Tukarkan mata uang hanya di kantor pertukaran resmi
Apa pun yang Anda lakukan, hindari menukar mata uang Anda di kantor pertukaran tidak resmi. Ini adalah kesalahan yang dilakukan oleh banyak pemula yang bepergian.
Mungkin ide yang bagus untuk menyelesaikan masalah ini di bandara. Namun, mereka terkenal karena nilai tukar mereka, dan berbisnis dengan mereka tidak lain adalah penipuan.
Cara terbaik untuk pergi adalah tiba di tujuan Anda dengan mata uang lokal yang sudah disiapkan. Anda dapat memeriksa dengan credit union atau bank Anda apakah mereka mendukung mata uang lokal sebelum Anda pergi.
ATM lokal juga cenderung menawarkan penawaran yang adil. Jika Anda memiliki kartu kredit tanpa biaya transaksi luar negeri, itu akan menjadi solusi terbaik.
Lakukan penelitian tentang adat istiadat dan norma budaya setempat.
Setiap negara asing memiliki adat istiadat dan norma budaya setempat yang harus Anda ketahui. Anda tidak perlu lebih dari menyadari bagaimana berperilaku saat Anda berada di sana.
Anda akan terkejut betapa beberapa frasa sopan dalam bahasa lokal dapat membantu Anda tinggal, terutama jika Anda mengunjungi negara dengan kebiasaan yang kuat. Tunjukkan rasa hormat dan penghargaan Anda, dan penduduk setempat akan membuat Anda merasa lebih diterima untuk itu.
Ingatlah untuk melindungi privasi dan data digital Anda.
Ke mana pun Anda pergi, kemungkinan besar Anda harus menggunakan internet untuk mencari jalan keluar. Kebanyakan orang menggunakan Wi-Fi publik untuk terhubung ke internet, tetapi ini adalah kesalahan yang dapat merugikan Anda.
Wi-Fi publik menghadapkan Anda pada berbagai risiko yang tidak Anda perlukan sama sekali. Oleh karena itu, cara terbaik untuk online dengan aman saat menavigasi negara asing adalah dengan menggunakan VPN untuk bepergian.
Ini akan melindungi Anda dari bahaya yang mungkin muncul saat Anda terhubung ke hotspotWi-Fi gratis di hotel atau fasilitas lainnya. Namun, perhatikan bahwa VPN dapat berguna sebelum perjalanan Anda.
Dengan mengubah alamat IP Anda, Anda dapat memanipulasi lokasi Anda. Dengan demikian, Anda dapat menemukan penawaran yang lebih baik dan membayar lebih sedikit daripada yang Anda bayarkan dari lokasi sebenarnya.
Kesimpulan
Sekarang setelah Anda mempersenjatai diri dengan beberapa pengetahuan dasar, sekarang saatnya pergi ke sana dan menaklukkan dunia seperti penjelajah sejati.
Bepergian adalah hal yang indah, dan Anda dapat membuatnya sangat menyenangkan jika Anda memperhatikan hal-hal kecil. Tentu saja, perjalanan mungkin tidak tersedia saat ini. Jadi, luangkan waktu Anda untuk mempersiapkan petualangan besar berikutnya.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia, tak sedikit orang yang biasanya disibukkan dengan rutinitas kantor mendadak kehilangan greget lantaran kebijakan untuk melakukan perkerjaan dari rumah (work from home). Situasi inilah yang akhirnya membuat workation jadi salah satu opsi untuk menyelesaikan pekerjaan.
Workation merupakan sebuah metode yang menggabungkan bekerja sekaligus rekreasi. Workation tak cuma menjadi solusi untuk menyeimbangkan kehidupan agar tak terasa monoton, tapi metode ini juga terbukti mampu meningkatkan produktivitas kerja.
Aktivitas workation, biasanya lekat dengan citra para digital nomad yang bisa bekerja di mana pun tak terbatas tempat dan waktu. Asalkan koneksi internet mumpuni untuk merampungkan pekerjaan dan terkoneksi dengan rekan kerja secara virtual.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, menyebut salah satu kunci untuk para digital nomad adalah produk wisata.
“Digital nomad termasuk wisatawan nusantara, mereka harus diberikan satu produk wisata dan akses ekonomi kreatif yang bisa mendukung digital nomad sehingga mereka bisa bekerja di mana saja,” kata Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno di kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, awal Februari 2021.
Beruntung Indonesia memiliki banyak destinasi untuk melakukan workation, sebut saja Bali, Lombok, Danau Toba, dan lainnya. Namun tak selamanya workation itu harus pergi ke tempat yang jauh. Menuju kota tetangga dengan kendaraan, sudah tergolong workation.
Ambil contoh Bandung, yang bisa ditempuh dalam tempo sekitar 2 jam perjalanan darat, jika bertolak dari Jakarta. Atau jika ingin merasakan perjalanan yang lumayan jauh dari Jakarta, cobalah arahkan kendaraan ke kawasan Jogja-Solo-Semarang (Joglosemar).
Nah, salah satu ide yang layak dicoba untuk workation adalah dengan campervan. Karena dengan cara ini, selain memangkas biaya sewa penginapan, kita juga akan mendapat bonus pemandangan alam yang indah di sepanjang perjalanan.
Campervan merupakan mobil yang memiliki fasilitas lengkap layaknya rumah. Semua aspek dari sebuah rumah tersedia di campervan, misalnya dapur, tempat tidur, kamar mandi, bahkan ruang makan. Campervan adalah salah satu cara favorit dan aman untuk sebuah perjalanan, terlebih di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini.
Sebelum workation dengan campervan, sebaiknya cari tahu dulu info penyewaan campervan yang sesuai dengan kebutuhan kita. Jika urusan campervan sudah aman, jangan lupa buat daftar tempat-tempat menawan yang ingin disinggahi selama perjalanan. Karena banyak banget destinasi wisata eksotis kalau liburannya #DiIndonesiaAja.
Dan yang terpenting dari workation dengan campervan adalah, tetap patuhi protokol kesehatan. Pakai masker, jaga jarak, dan rajin cuci tangan di mana pun kita berada! Ingat kita harus terapkan 3M sampai pandemi ini benar-benar pergi.*
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Badan PBB untuk Pembangunan (UNDP) bersama Kementerian Luar Negeri Norwegia, dan NORAD(Norwegian Agency for Development Cooperation) kembali menggelar kompetisi penyelesaian limbah laut di Indonesia. Kompetisi yang bertajuk EPPIC (Ending Plastic Pollution Innovation Challenge) 2 ini merupakan lanjutan dari EPPIC yang berfokus ke negara-negara ASEAN.
EPPIC tahap pertama dilaksanakan tahun lalu, berfokus di Ha Long Bay Vietnam dan Koh Samui Thailand, untuk tahap 2 dilaksanakan dengan berfokus di Indonesia dan Filipina.
Tujuan kompetisi EPPIC untuk mencari solusi inovatif berdampak secara nyata dan mampu berkontribusi kepada masyarakat tidak hanya secara lingkungan, namun juga dapat berpengaruh secara ekonomi dan sosial budaya.
“Berdasarkan studi lain menunjukan bahwa Asia Tenggara merupakan wilayah dengan kontribusi kebocoran plastik di lautan yang terbesar. UNDP berharap bahwa EPPIC dapat berkontribusi untuk menurunkan angka tersebut melalui munculnya solusi-solusi inovatif, pengembangan dan replikasinya,” ungkap Sophie Kemkhdaze, selaku DeputyResident Representative UNDP Indonesia
Riset dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan bahwa ada sekitar 268,740 – 594,558 ton sampah plastik yang masuk ke perairan Indonesia tiap tahunnya. Pusat Penelitian Oseanografi LIPI memperkirakan kasar nilai potensi laut Indonesia sampai Maret 2019 adalah senilai 1.772 triliun. Besarnya potensi nilai laut kemudian menjadikan Indonesia tentunya harus memiliki perhatian khusus terhadap kondisi laut.
“Dari EPPIC 2020 sebelumnya di Vietnam dan Thailand, kita sudah melihat solusi yang ditawarkan oleh berbagai startup, LSM, dan akademisi yang berasal dari negara-negara ASEAN. Tahun ini, kami berharap dapat melihat kontribusi yang lebih banyak lagi untuk menyelesaikan masalah-masalah polusi plastik laut yang ada di Indonesia dan Filipina. Gerakan bersama ini tidak hanya akan meningkatkan kekuatan kawasan ASEAN, tapi juga kemitraan multilateral di kawasan ASEAN,” tutup Kemkhadze.
Novrizal Tahar, Direktur Pengelolaan Sampah, KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) Republik Indonesia sekaligus Sekretaris Tim Pelaksana Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut mengatakan, pemerintah Indonesia telah mengambil langkah pengurangan sampah dan sampah plastik dari hulu hingga hilir.
Permasalahan terkait sampah memang selama ini sudah menjadi permasalahan yang tidak hanya dihadapi oleh Indonesia atau ASEAN, namun juga seluruh dunia. Terbukti dengan tertuangnya permasalahan ini dalam salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan nomor 14 yaitu Kehidupan Bawah Laut yang tentu menjadi fokus pemerintah Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi oleh laut.
Polusi plastik sendiri saat ini memang sudah menjadi masalah yang cukup besar bagi dunia dan Indonesia. Hingga saat ini, masyarakat Indonesia masih sangat bergantung dengan penggunaan plastik, baik sebagai bungkusan makanan, maupun penggunaan sebagai kantong belanja. Hal ini terjadi karena plastik memang merupakan opsi yang relatif murah dan mudah untuk didapatkan sehingga bisa menekan biaya produksi, jelasnya.
Selain faktor kebiasaan, faktor lain yang cukup berpengaruh dalam pengelolaan polusi plastik adalah, sulitnya proses penguraian dari plastik. Sulitnya bagi plastik untuk terurai secara alami mengakibatkan sampah plastik cenderung tetap berada pada kondisi dan memiliki kandungan yang sama selama jangka waktu yang sangat lama.
Dengan adanya EPPIC diharapkan inovasi yang dimunculkan dapat ikut membantu meringankan beban permasalahan polusi plastik yang ada, memberikan dorongan ekonomi, serta menumbuhkan pemahaman masyarakat tentang bahaya dan dampak dari polusi plastik demi keberlangsungan hidup manusia dan hayati.*
Bisakah resor kembali ke status semula sebagai sektor akomodasi yang berkembang pesat? Berikut tulisan ketiga Lebawit Lily Girma yang dilansir dari Skift
NEW YORK, bisniswisata.co.id:Wisatawan memilih untuk tetap tinggal di kawasan yang dekat dengan rumah untuk sementara agar bisa bertahan melewati tahun 2021.
“Kami telah memperhatikan lebih banyak wisatawan di kawasan pasar drive ( menyetir sendiri) yang memesan kamar resort seperti [Club Med] Sandpiper Bay di Florida, dan kami perkirakan tren perjalanan domestik ini akan berlanjut, ”kata Carolyne Doyon, president and CEO of Club Med North America.
Pemesanan untuk resort meningkat dua kali lipat antara Januari 2021 dan 2019, yang juga terdiri dari banyak pelanggan baru, mulai dari reuni keluarga, pernikahan jarak sosial, dan beberapa pertemuan dan grup insentif.
Doyon mengatakan ada juga pergeseran dalam pemesanan akhir pekan panjang. “Sejak membuka kembali Sandpiper Bay pada bulan Juni, kami melihat peningkatan 9 persen dalam pemesanan ‘minggu pendek’, atau masa inap 4 hingga 5 malam, yang dilakukan selama seminggu,” kata Doyon.
Pihaknya mengantisipasi tren ini akan terus berlanjut karena wisatawan ingin memperpanjang liburan mereka dan menggabungkannya dengan bekerja dari jarak jauh.
Di Karibia, resort lengkap berukuran butik yang menawarkan kolam renang pribadi dan cabana di atas air, serta dengan akses pantai yang cepat, menerima lebih banyak permintaan.
“Kami mulai melihat tren klien yang meminta kategori yang lebih tinggi, karena mereka menyadari kategori yang lebih tinggi berarti lebih banyak privasi,” kata Marilyn Cairo, vice president of global sales Karisma Hotels and Resorts
Pemesanan menjadi lebih pendek, sehingga menyulitkan resort untuk memproyeksikan 2021. “Yang menjadi perhatian semua orang adalah berita jangka pendek,” kata Coll dari Apple Leisure.
“Jika mereka tidak melihat apa-apa, tidak ada batasan, mereka mulai memesan. Jadi kami mendapatkan banyak sekali pemesanan baru, 15 hari, 30 hari sebelum keberangkatan. ”
Selain itu, beberapa resort melaporkan klien yang memesan langsung dengan merek tersebut. “Merek menghasilkan kepercayaan,” kata Adam Stewart, Executive Chairman Sandals Resorts.
Stewart mencatat 85 persen pengenalan merek Sandal di Amerika Utara. “Itu terbukti sangat baik bagi kami secara keseluruhan, jadi kami akan terus berkembang.”
Perubahan besar yang juga diuntungkan resort merek mewah sejauh ini adalah kenyataan bahwa kapal pesiar belum berlayar. “Kami melihat peningkatan pemesanan dari tamu baru,” kata Doyon lagi.
“Pada 2021, sedikitnya 66 persen pemesanan berasal dari tamu Club Med yang baru pertama kali datang. Banyak dari mereka yang secara historis adalah penggemar kapal pesiar yang rencana mereka dibatalkan dan sedang mencari liburan alternatif. ”
Apa semua resort inklusif model berkelanjutan ?
Dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang sadar di sisi lain COVID dan resort yang semakin memperluas skala kemewahan untuk mendapatkan keuntungan dari lonjakanpasca-COVID, kemungkinan pengawasan akan meningkat atas komitmen keberlanjutan model semua-inklusif.
Sifat terpencil dari resort all-in dan terputusnya mereka dari lingkungan komunitas yang sederhana seperti apa yang pernah dikecam oleh Taleb Rifai, mantan sekretaris jenderal UNWTO sebagai “perkebunan modern” telah dikritik dan diperdebatkan dengan sengit di dalam sektor pariwisata selama modelnya ada.
Kebocoran ekonomi, misalnya, berlanjut sehubungan dengan mayoritas resort di Karibia dan Meksiko, yang dimiliki oleh perusahaan multinasional.
Memang benar bahwa sejak tahun 1980-an sebagian besar merek resort internasional telah menempuh perjalanan panjang dalam mengadopsi dan memasukkan beberapa bentuk program pengelolaan berkelanjutan untuk properti mereka.
Mulai dari inisiatif lingkungan yang mengurangi penggunaan plastik pra-COVID, hingga menawarkan aktivitas budaya di luar resort , sebagai hasil dari permintaan pelanggan.
Tetapi para ahli mencatat bahwa ini adalah campuran tentang seberapa banyak penghijauan adalah bagian dari etos perusahaan dibandingkan dengan ukuran penghematan biaya.
“Apa yang kami lihat adalah tren yang sangat meluas bagi resort pantai untuk mengadopsi semacam program sertifikasi lingkungan,” kata Honey dari Responsible Travel’s yang mencatat bahwa penelitian terakhirnya menunjukkan ada 16 program sertifikasi internasional berbeda yang digunakan oleh hotel dan resort all-in di Karibia.
Sertifikasi dapat dibuat oleh rantai resort itu sendiri, tetapi jenis yang lebih ketat adalah sertifikasi pihak ketiga oleh grup seperti Bureau Veritas dan EarthCheck. “Sandal misalnya adalah salah satu rantai, di seluruh perusahaan mereka menggunakan EarthCheck jadi itu sangat bagus,” kata Honey.
“Apa yang Anda temukan adalah bahwa beberapa hotel paling ramah lingkungan adalah hotel independen.”
Resort bersertifikasi pihak ketiga menerbitkan laporan keberlanjutan tahunan atau dua kali setahun di situs web mereka dengan data ekstensif tentang jejak dan pendekatan mereka dalam menyeimbangkan manusia, planet, dan keuntungan menurut wilayah geografis.
Namun, sebagian besar resort mewah yang lebih besar cenderung berfokus terutama pada langkah-langkah penghematan energi dan limbah, termasuk air daur ulang, panel surya, keran toilet aliran rendah, dan penggunaan air limbah di taman.
“Meskipun terpuji, itu juga terutama didasarkan pada penghematan biaya,” kata Honey. Hitunglah selama lima tahun mereka akan mendapatkan kembali uang mereka jika mereka berinvestasi dalam jenis AC baru atau keran dan sebagainya.
Apa yang tidak begitu mudah untuk dihijaukan dan dipamerkan? Keberlanjutan sosial: mencari makanan secara lokal versus mengimpor, mempekerjakan secara lokal daripada mengimpor eksekutif hotel asing, dan membayar upah yang adil, di antara indikator utama.
Memang, pemerintah gembar-gembor investasi resor sebagai tanda keberhasilan karena mereka menciptakan ribuan lapangan kerja dan oleh karena itu sebagai indikator pertumbuhan ekonomi, khususnya di Karibia, kawasan yang paling bergantung pada pariwisata di dunia. Honey tidak setuju dengan alasan ini.
“Republik Dominika telah melihat pengeluaran berubah dari US$ 300-an per malam tamu di tahun 1980-an menjadi hanya US$100-an sekarang dan cara mereka mempertahankannya adalah dengan membangun lebih banyak hotel dan memiliki lebih banyak turis datang, ”kata Honey. Dia mencatat bahwa ini adalah pendekatan cupet mengingat jejak karbon dan persediaan yang dibutuhkan untuk setiap tamu.
Apple Leisure’s Coll mengatakan dampak investasi resort pada komunitas lokal terbukti, membandingkannya dengan jalur pelayaran yang bahkan tidak menggunakan uang mereka sendiri untuk membangun fasilitas dok.
“Kami berbicara tentang pertumbuhan besar-besaran karena sekarang Anda memiliki banyak orang yang bekerja, mendapatkan gaji dan membelanjakan uang,” katanya.
Royalton Punta Cana, bagian dari Blue Diamond Resorts, bergabung dengan portofolio Marriott International.
Di setiap pulau di mana semua termasuk dibatasi, tidak ada pertumbuhan. Bagaimana orang bisa mengatakan bahwa semua termasuk tidak berkontribusi pada ekonomi lokal? Ini politik.
Menurut Honey, argumen pekerjaan memiliki beberapa validitas tetapi tidak menggambarkan gambaran yang lengkap atau akurat. “Anda perlu melihat pekerjaan-pekerjaan itu – apakah mereka membayar upah layak ? Berapa omset yang mereka miliki?
Pertanyaan lainnya adalah berapa banyak pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, pekerjaan administratif, yang dipegang oleh penduduk setempat? Dan berapa banyak uang yang dihabiskan oleh turis di dalam resor dan berapa banyak yang dibelanjakan di luar komunitas? ”
Pemimpin pariwisata IDB Invest, Basso setuju bahwa lebih banyak pertanyaan perlu diajukan kepada pengembang, untuk tujuan keberlanjutan sosial. “Di Amerika Latin, sekitar 54 persen perempuan berpartisipasi di sektor pariwisata,” kata Basso.
“Di Karibia, jumlahnya sekitar 59 persen,” dengan mayoritas wanita dipekerjakan sebagai garda terdepan meja, sementara sangat sedikit yang memiliki peran pengawas atau manajerial.
Basso bekerja dengan sektor swasta di Amerika Latin dan Karibia untuk menawarkan solusi keuangan dan layanan konsultasi dalam transaksi yang ditentukan untuk memiliki dampak perkembangan yang tinggi – tidak hanya menghasilkan lapangan kerja tetapi dengan efek trickle-down ke dalam ekonomi, memajukan pasar dan membuatnya lebih mutakhir.
“Saat kami berbicara dengan klien pengembang kami, kami mengatakan apa yang Anda lakukan untuk memberikan panduan dukungan pelatihan untuk meningkatkan peran perempuan sehingga mereka tidak terbatas hanya pada posisi staf junior ” kata Basso. Hal yang sama berlaku untuk lapangan kerja bagi kaum muda.
Adam Stewart, Executive Chairman Sandals Resorts yang juga Ketua Dewan Pariwisata Jamaika bertujuan untuk memperkuat hubungan industri pariwisata ke sektor ekonomi lainnya.
Dia setuju bahwa klaim penciptaan lapangan kerja tidak mencukupi dan bahwa merek harus bekerja lebih baik, menambahkan bahwa pariwisata mungkin lebih dihormati dan dihargai.
Fakta bahwa sebuah hotel menciptakan katalisator ekonomi yang berhubungan dengan apa yang kita sebut keterkaitan misalnya cara orang mencapai resor yang merupakan taksi yang dimiliki mandiri ?, hiburan di hotel harusnya mengutamakan pemain lokal, makanan juga bukan hasil mengimpor, “kata Stewart dan menambahkan memang seseorang perlu melihat kehidupan di luar pekerjaan langsung dan perlu melihat pekerjaan tidak langsung.
Pelanggan masa depan sadar all-inklusif
Raquel dan Junior Liriano adalah salah satu dari jumlah pelanggan resort lengkap yang cerdas yang terus meningkat. Dalam iklim pasca pandemi, konsumen cenderung lebih peduli terhadap lingkungan dan tentang kepekaan sosial dan budaya merek, selain dari masalah keselamatan dan kebersihan – terutama karena persaingan dan pilihan di antara resort meningkat dan seiring nama merek besar tumbuh.
“Kami melihat orang Dominika dengan posisi pengambilan keputusan,” kata Liriano tentang kunjungan keluarganya yang selanjutnya dan lebih baik di Hilton La Romana, di Republik Dominika.
“Seperti manajer layanan pramutamu, manajer hubungan pelanggan, manajer layanan pernikahan; mereka dikenali dari seragam mereka sehingga mereka mudah dikenali dan membuat banyak hal terjadi untuk kami. “
Seperti Liriano, wisatawan kulit berwarna serta wisatawan penyandang disabilitas cenderung menghargai merek yang tidak hanya memasarkan kepada mereka secara langsung, tetapi juga merek yang menempatkan penduduk setempat pada posisi manajerial dan kepemimpinan.
Loyalitas konsumen akan condong ke resort yang merangkul inklusivitas dan multikultural dalam melayani Dan sejauh ini, merek resor all-in dan milik multinasional serta destinasi telah melakukan pekerjaan yang buruk dari yang terakhir.
“Ketika saya bekerja dengan St Lucia, setiap kali kami mengadakan kampanye baru, saya adalah orang yang berpikir, dapatkah kita memberi warna di sana?” Kelly Fontenelle, seorang profesional pemasaran pariwisata dan pendiri Travel Advisors Selling the Caribbean (TASC).
“Karena saya juga konsumen Dan suka bepergian, jadi saya butuh perwakilan. Jika saya membuka brosur, dan saya melihat tidak ada orang yang seperti saya, saya tidak ingin pergi ke tempat-tempat itu. “
Fontenelle juga menunjukkan kurangnya budaya lokal di tempat di resort all-in, terutama dalam hal makanan. Selama Covid, grup Facebook TASC Fontenelle dengan cepat menjadi sumber utama untuk pembaruan transparan tentang penutupan resort all-in, pembukaan kembali, dan protokol kesehatan di tujuan Karibia dan Meksiko di tengah komunikasi resort atau kantor pariwisata yang tertinggal.
Sejauh ini, grup ini telah memiliki lebih dari 7.000 anggota, terdiri dari penasihat perjalanan, kantor pemasaran destinasi, dan media.
“Ada kekosongan yang ada di sana, tapi tidak ada yang menyadarinya,” kata Fontenelle, mencatat bahwa peran barunya tidak bersaing dengan dewan pariwisata.
Rumah kaca Rainforest Alliance Certified di resor Karisma Hotels ‘El Dorado Royale menghasilkan sekitar 14 ton sayuran per bulan.
TASC menyediakan webinar budaya serta sorotan tujuan dalam upaya mendorong penasihat perjalanan untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang Karibia dan Meksiko di luar resort all-in dan membantu mereka terhubung dengan budaya lokal untuk menjual secara lebih otentik kepada konsumen. Pada bulan Januari, Fontenelle meluncurkan layanan berlangganan US$ 19,99 per bulan untuk konten pemasaran pro TASC.
Pasca Covid, wisatawan cenderung memilih agensi yang dapat menawarkan pengetahuan tentang destinasi, dan mereka cenderung menyukai merek resor yang melakukan investasi signifikan di komunitas tempat mereka beroperasi, baik dalam mendorong tamu untuk sering mengunjungi restoran lokal dan memilih operator tour lokal, atau dalam menawarkan kegiatan “pariwisata regeneratif” yang didanai melalui yayasan dari resort itu.
Hanya segelintir merek resor all-inclusive yang menjalankan yayasan mapan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan mereka, seperti Sandals, Club Med, dan Karisma. Itu karena jika menyangkut masalah itu, pemilik resor dengan ikatan seumur hidup dengan tujuan masing-masing cenderung lebih peduli tentang masa depan jangka panjang komunitas mereka.
Membangun kembali lebih baik : resort dengan dampak pembangunan
Membangun kembali dengan lebih baik harus melibatkan “mengaktifkan rantai nilai lokal” seperti yang dijelaskan Basso dari IDB Invest, dengan membeli produk dan barang secara lokal. COVID mengalihkan permintaan bantuan keuangan untuk mendukung bisnis yang ada, dukungan terbaru dari lembaga tersebut condong ke merek berdampak yang berkembang secara regional.
“Di tengah lingkungan COVID, kami memutuskan untuk terus memajukan dan mendukung pengembangan konsep yang dinamis di kawasan ini,” kata Basso, menunjuk pada investasi US$ 50 juta IDB Invest baru-baru ini di jaringan hotel gaya hidup global Selina.
“Kami percaya bahwa ke depan, konsep-konsep yang mampu mengumpulkan dukungan masyarakat lokal memiliki potensi keberlanjutan yang lebih besar dalam jangka panjang.”
Proyek jangka panjang IDB Invest lainnya adalah Four Seasons Tropicalia Hotel di pantai utara Republik Dominika. Basso tidak dapat mendiskusikan statusnya tetapi menjelaskan upaya tersebut sebagai perubahan besar dari kawasan resor pariwisata massal negara itu dalam model resor yang didorong keberlanjutan dan konstruksi bersertifikat EDGE pertama di negara itu.
Bagian dari kerja konsultasi badan perbankan swasta untuk proyek ini mencakup pelatihan petani lokal dalam praktik pertanian terbaik untuk ketahanan badai dan mitigasi dampak peristiwa alam, serta membantu mendirikan koperasi petani sehingga petani dapat menjual produk mereka ke resor mewah daerah. .
“Hotel resort tidak dapat terus dibangun tepat di pantai, mereka akan tersapu,” kata Honey dari Responsible Travel’s. Dia mencatat bahwa kesadaran akan perubahan iklim adalah bagian dari membangun kembali dengan lebih baik.
“Sudah ada perkiraan bahwa jika ada kenaikan suhu dua derajat celcius di Karibia, 150 resort akan hilang di seluruh Karibia; ini mungkin terjadi dua tahun yang lalu jadi pandangannya sangat pendek”.
Basso percaya ada kesadaran yang lebih besar setelah badai kembar tahun 2017 bahwa tidak memperhatikan dampak perubahan iklim bukanlah suatu pilihan.“Perlu diprioritaskan dalam proses pengambilan keputusan dan pengembang juga memahami pentingnya hal itu.”
Tetapi akankah pemerintah memiliki ketabahan dan kepemimpinan untuk menolak investasi yang tidak memprioritaskan masalah perubahan iklim dan standar keberlanjutan, baik sosial maupun lingkungan, terutama setelah kemerosotan ekonomi yang besar?
Menurut Basso, di dunia pasca-Covid, dunia keuangan yang mendukung industri all-in dan perhotelan juga memiliki potensi dan kekuatan, seperti resort, untuk membuat pilihan yang lebih baik.
“Pesan yang kami coba sampaikan pada komunitas keuangan adalah, ada ruang bagi kami untuk menjadi berani, bagi kami untuk menjadi kreatif, bagi kami untuk menyingsingkan lengan baju dan mengidentifikasi pengembang yang melakukan hal yang benar, ”kata Basso.
“Saya tidak berpikir bahwa pendorong perubahan adalah resort. Namun yang terjadi adalah konsumen membutuhkan jenis pengalaman yang berbeda, dan apa artinya – klien saat ini, mereka menjadi semakin canggih ”.
Honey percaya bahwa dua pelajaran penting akan keluar dari COVID untuk resortall-in, yang akan menghadirkan tantangan bagi mereka.
“Komitmen nyata untuk bisnis dan komunitas lokal yang telah keluar dari pandemi – dan peningkatan rasa hormat serta kekaguman terhadap petugas kebersihan di garis depan,” kata Honey.
Dia menyadari bahwa mereka perlu dibayar dengan baik, perlu dilatih dengan baik, dan bahwa mereka pantas mendapatkan lebih banyak rasa hormat dari tamu, karena merekalah yang menjaga tempat ini tetap berjalan.”
Sementara itu, para eksekutif resor mengawasi hadiah jangka panjang, bersemangat dan yakin bahwa permintaan akan kembali setelah pembatasan dicabut dari pasar sumber wisatawan kembali lagi.
“Saya tidak punya alasan untuk percaya dengan informasi yang saya miliki di depan saya saat ini, dari semua yang saya tahu tentang di mana kita berada [kecuali] sesuatu yang secara dramatis berubah sehingga kita tidak akan membuat kemajuan besar pada musim panas,” kata Stewart Sandals.
Dia optimistis pada musim gugur yang lebih besar lagi, pada Thanksgiving orang akan makan kalkun mereka dan mengemasi tas mereka, dan saya pikir kita akan memiliki Natal yang fenomenal.”
Berjualan kembali untuk mencatat keuntungan mungkin terlihat menjanjikan untuk resor mewah yang serba inklusif, tetapi itu akan terjadi di tengah lanskap pariwisata yang ditransformasikan yang ditempa dengan ketidaksetaraan sosial yang semakin dalam dan krisis lingkungan.
Segmen industri ini kemungkinan akan menghadapi lebih banyak pengawasan dan akuntabilitas daripada yang diharapkan – dari konsumen pasca-COVID yang cerdas yang lebih peduli dengan suite dengan layanan pelayan pribadi dan kolam renang tanpa batas pribadi, dan dari komunitas yang terkena dampak di sekitarnya.
Rumah kaca Rainforest Alliance Certified di resor Karisma Hotels ‘El Dorado Royale menghasilkan sekitar 14 ton sayuran per bulan
JENEWA, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengumumkan kedatangan pelancong pertama di Bandara Heathrow London, kemarin, menggunakan aplikasi IATA Travel Pass untuk mengelola kredensial kesehatan perjalanan mereka.
“Keberhasilan implementasi IATA Travel Pass dalam uji coba ini dengan penumpang Singapore Airlines menunjukkan bahwa teknologi dapat membantu pelancong dan pemerintah secara aman, nyaman, dan efisien untuk mengelola kredensial kesehatan perjalanan. Pentingnya hal ini untuk memulai kembali penerbangan internasional tidak dapat dilebih-lebihkan, “kata Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA.
JoAnn Tan, Penjabat Wakil Presiden Senior, Perencanaan Pemasaran, Singapore Airlines, mengatakan kredensial kesehatan digital akan sangat penting karena perbatasan dibuka kembali dan pembatasan perjalanan semakin dicabut di seluruh dunia.
Penerapan IATA Travel Pass yang sukses mencerminkan tujuan Singapore Airlines menggunakan solusi digital yang aman untuk memverifikasi kredensial kesehatan, dan mendukung pengalaman perjalanan yang aman dan lancar bagi pelanggan kami, tambah JoAnn Tan.
Penumpang pada penerbangan Singapore Airlines dari Singapura ke London selama uji coba dapat menggunakan IATA Travel Pass untuk: *Buat versi digital paspor mereka yang aman di perangkat seluler mereka. *Masukkan detail penerbangan mereka untuk mempelajari batasan dan persyaratan perjalanan. *Dapatkan hasil tes terverifikasi dan konfirmasi bahwa mereka memenuhi semua persyaratan perjalanan
“Kesuksesan hari ini adalah kemenangan besar bagi banyak pihak. Ini memberi para pelancong toko serba ada untuk membantu mereka mematuhi aturan baru untuk perjalanan. Ini menunjukkan bahwa pemerintah dapat secara efisien mengelola persyaratan perjalanan ini dengan keyakinan penuh pada identitas penumpang dan kebenaran kredensial perjalanan.
Hal yang terpenting, menghindari antrian panjang. dan itu adalah alat yang dibuat khusus bagi maskapai penerbangan untuk mengelola persyaratan perjalanan baru tanpa tenggelam dalam proses kertas yang tidak efisien dan tidak efektif, “kata de Juniac.
Pemrosesan Otomatis
Maskapai memahami bahwa operasi darat mereka akan terhenti jika mereka harus mengelola persyaratan perjalanan COVID-19 — hasil tes atau sertifikasi vaksin — dengan dokumentasi kertas. Hal yang sama berlaku untuk otoritas perbatasan.
Inggris berada di depan pemerintah lain dalam memetakan cara untuk memulai kembali perjalanan internasional dalam skala besar. Konsep bukti kehidupan nyata ini harus memberikan kepercayaan kepada semua pemerintah bahwa industri memiliki solusi digital yang bisa diterapkan yang akan mengurangi tekanan memasukkan pemeriksaan sertifikat kesehatan ke dalam proses perjalanan, termasuk di perbatasan.
“Uji coba ini adalah kesempatan bagi kami untuk bekerja dengan pemerintah Inggris untuk menunjukkan bahwa solusinya berhasil dan untuk berbagi hasil dengan orang lain saat kami membangun sistem yang kuat dan efisien yang akan membantu dunia bergerak kembali, ”kata Nick Careen, Senior IATA Bandara Wakil Presiden, Penumpang, Kargo, Keamanan.
Standar Global
Untuk mendapatkan manfaat maksimal dari IATA Travel Pass dan menghindari kebingungan dan ketidaknyamanan bagi penumpang, standarisasi sertifikasi tes atau vaksinasi, dan penerimaan mereka oleh pihak berwenang adalah kuncinya.
Jajak pendapat wisatawan IATA baru-baru ini menemukan bahwa 89% setuju dengan kebutuhan standar global dan 80% ingin menggunakan aplikasi seluler untuk mengelola kredensial perjalanan mereka.
Jumat lalu, ICAO memindahkan penetapan standar global untuk sertifikasi pengujian / vaksinasi selangkah lebih dekat dengan kenyataan. Pemerintah berikutnya perlu memberikan sertifikat tes / vaksinasi COVID-19 digital ketika orang-orang diuji atau divaksinasi sehingga mereka memiliki dokumen yang dapat diverifikasi di perangkat seluler mereka.
Hal Ini akan memastikan kesetaraan, pengakuan timbal balik, dan penerimaan sertifikasi COVID-19 untuk penumpang saat mereka bepergian ke seluruh dunia. IATA mewakili sekitar 290 maskapai yang terdiri dari 82% lalu lintas udara global.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, berkesempatan untuk menghadiri pembukaan acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Kamis (18/3/2021).
Turut mendampingi Menparekraf, Direktur Bidang Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Reza Pahlevi dan Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf/Baparekraf Wawan Rusiawan.
Dalam acara tersebut, ada beberapa catatan yang disampaikan oleh Menparekraf Sandiaga, saat memberikan sambutannya. Pertama, ia menjelaskan terkait program vaksinasi bagi para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Saya baru saja kembali dari Bali mendampingi Presiden Joko Widodo untuk meninjau pelaksanaan vaksinasi masal di Ubud, Gianyar. Bali sebagai destinasi tulang punggung mendapatkan tugas untuk melakukan vaksinasi sebanyak 2 – 2,5 juta sebelum Juni 2021,” jelasnya.
Dengan adanya vaksinasi ini diharapkan akan menekan laju penularan COVID-19 dan _confidence level_ Bali meningkat. Sehingga, sesuai dengan arahan Bapak Presiden, pariwisata nusantara sudah bisa kembali lagi ke Bali, tambah Menparekraf.
“Selain itu, mengutip dari Bapak Presiden, kalau semua angka COVID-19 kondusif, serta semua pihak patuh dan kita mendapatkan _resiprosity_ dari negara-negara sahabat mudah-mudahan sekitar bulan Juni atau Juli 2021, kita bisa mulai membuka perbatasan untuk wisatawan mancanegara,” tambahnya.
Selain, Provinsi Bali, wilayah Jabodetabek juga akan mendapat prioritas penerima vaksin. “Untuk vaksinasi bagi pelaku pariwisata di wilayah Jakarta sedang kita dorong, dan sudah ada titik terangnya, tapi saya tidak mau obral janji. Selain Bali, Presiden mengatakan bahwa di Jabodetabek juga diprioritaskan untuk pelaku sektor dan pelayan publik,” kata Sandiaga.
Menparekraf berharap anggota PHRI di seluruh Indonesia dapat terlibat secara aktif dalam proses vaksinasi, agar pandemi COVID-19 segera berakhir sehingga sektor pariwisata dan ekonomi kreatif kembali bangkit.
Kedua, mengenai program stimulus dana hibah pariwisata. Pada 2020, Kemenparekraf sudah menyalurkan dana hibah sebesar Rp2,2 triliun kepada 6,730 hotel dan 7,630 restoran. Pada tahun 2021 ini, Kemenparekraf mengalokasikan anggaran dengan estimasi sebesar Rp2,7 – 3,7 triliun untuk disalurkan kepada usaha pariwisata.
“Dengan dana hibah ini, tentu kita ingin membuka lapangan kerja seluas-luasnya dan memulihkan ekonomi dan kita harus menebar semangat. Karena saya sangat prihatin di destinasi super prioritas termasuk destinasi tulang punggung seperti Bali, sudah satu tahun menghadapi pandemi. Jadi kita harus membangkitkan kembali semangat mereka,” kata Sandi.
Ketiga, mengenai pelaksanaan event. Sebelumnya, Kemenparekraf sudah berkoordinasi dengan Polri bahwa pada prinsipnya event bisa dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin, serta bersinergi dengan aparat setempat termasuk Satgas COVID-19, Polres, dan Pemda.
“Jumlahnya dijaga, kalau zona hijau kita bisa completely offline, kalau zona kuning atau oranye kita bisa hybrid, dan kalau zona tidak memungkinkan bisa full online. Jadi ini sudah kita dapat komitmen dari Bapak Kapolri,” tuturnya.
Kemudian, program CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental sustainability). Pada tahun 2020, sebanyak 5,853 usaha yang dinyatakan tersertifikasi. Terdiri dari 2,679 hotel, 2,427 restoran, dan 575 usaha pariwisata lainnya.
Sedangkan, pada tahun 2021 akan ada perubahan yaitu Kemenparekraf akan membuka partisipasi sektor swasta untuk membantu menerapkan program CHSE.
“Indonesia tercatat ada sekitar 20 ribu hotel, jadi ini akan memakan waktu yang lama apabila pemerintah melakukan program sertfikasi CHSE ini sendiri. Untuk itu, kita buka peluang bagi pihak swasta untuk memberikan kontribusinya,” kata Sandiaga Uno.
Selain itu, pihaknya perlu merangkul masyarakat untuk memantau hotel dan restoran setelah mendapat sertifikasi CHSE bagaimana kepatuhannya terhadap protokol kesehatan, ujarnya.
Selanjutnya, program peminjaman lunak (softloan). Seperti, Provinsi Bali yang mengajukan model peminjaman dengan total Rp9,4 triliun.
“Saya tidak mau sektor ini ada permanentdamage, banyak yang bilang sudah satu tahun mantab (makan tabungan). Oleh karena itu, model seperti yang di ajukan Provinsi Bali bisa menjadi acuan,” tegasnya.
Hal ini sudah ditindaklanjuti dan dipimpin oleh Pak Hengki Manurung, Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis. Jadi, jika ada anggota PHRI yang ingin mengajukan juga, boleh langsung ajukan programnya seperti apa. Karena, kita ingin setiap programnya bisa di eksekusi dengan cepat dan langsung menyentuh kepada masyarakat, jelas Sandiaga.
Terakhir, mengenai discount promo yang sedang dipertimbangkan oleh Kemenparekraf/Baparekraf. Karena, program ini merupakan salah satu yang dapat memicu aktivitas pariwisata di Indonesia.
“Jadi harus dipersiapkan dengan baik dan dipastikan baik hotel, restoran, maupun penerbangan sudah menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.“Mudah-mudahan program promo discount ini bisa segera kita garap,” kata Menparekraf.
JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno mengandalkan sejumlah program unggulan untuk mempercepat pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pascaprogram vaksinasi nasional dimulai.
Menparekraf Sandiaga Uno saat Weekly Press Briefing di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (18/3/2021) menjelaskan, ada beberapa program unggulan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mulai dari adaptasi teknologi hingga pengembangan desa wisata di tanah air.
Ia menjelaskan saat pandemi banyak bermunculan para pelaku parekraf yang beradaptasi dengan teknologi. Pemerintah melalui Bank Indonesia sudah meluncurkan QRIS sebagai platform pembayaran bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif bersama dan juga penerapan Go Mandalika yaitu platform e-tourism di NTB.
“Saat pandemi seperti ini terdapat peluang terbuka yang berkaitan dengan teknologi dan ekonomi digital yang akan ditindaklanjuti sehingga semakin banyak pelaku parekraf yang beradaptasi yang mengaplikasikan ekonomi digital,” ujarnya.
Menparekraf Sandiaga juga menjelaskan, pengembangan desa wisata yang menjadi salah satu program unggulan Kemenparekraf diharapkan menjadi lokomotif penggerak untuk pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Program unggulan kita, yang diharapkan bisa menyentuh masyarakat di seluruh nusantara yaitu pengembangan 244 desa wisata yang kita targetkan hingga 2024 menjadi desa wisata mandiri, saya melihat desa wisata ini membangkitkan satu pariwisata di era baru,” ujarnya.
Menparekraf memgimbau secara tegas jika sektor parekraf bukan bagian dari masalah tetapi, pariwisata dan ekonomi kreatif adalah solusi sebagai sektor untuk memulihkan perekonomian di Tanah Air.
“Kita hadirkan Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) sebagai pedoman dan bagian dari komitmen, bahwa kita adalah bagian dari solusi dan secara tegas saya sampaikan selama kita mau melakukan protokol kesehatan, meningkatkan disiplin, tahapan-tahapan ini bisa dimulai tahun ini,” ujarnya.
Terkait penyelenggaraan event, Menparekraf juga sudah berkoordinasi dengan Satgas, Kepolisian, Pemda, hingga stakeholder lain. Jika penyelenggaraan event sudah dapat dilaksanakan namun tetap dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin.
Menparekraf Sandiaga Uno juga menjelaskan, terkait visa jangka panjang atau long term visa, pihaknya sedang berkoordinasi dengan K/L terkait seperti Kemenlu, Kemenkumham, dan lainya.
“Saat ini, sedang dalam tahap finalisasi, secondhome visa diharapkan dapat meningkatkan kualitas pariwisata dari sisi lama kunjungan dan jumlah pengeluaran yang berdampak terhadap ekonomi masyarakat. Apalagi, saat ini terdapat potensi 1 miliar warga dunia yang berusia 60 tahun ke atas dengan pendapatan lebih dari US$1,5 triliun ” ujarnya.
Rencana pembukaan pintu perbatasan bagi wisatawan mancanegara, sesuai target yang ditetapkan Presiden Jokowi untuk Bali akan dibuka pada Juni-Juli 2021.
“Rencana kebijakan visa jangka panjang juga sejalan dengan persiapan pemerintah menerapkan kebijakan travel bubble dan ASEAN Travel Corridor. Beberapa pintu kedatangan yang disiapkan adalah Bali, Batam, dan Bintan. Kami berharap rencana pembukaan pintu wisatawan asing dengan kerja sama tertentu ini segera rampung karena menerapkan prinsip resiprosity atau timbal balik,” katanya.
SURABAYA, bisniswisata.co.id: Sekolah Islam Shafta, Yayasan Al Insanul Kamil Surabaya, Jawa Timur menyelenggakan wisata alam dan outbound untuk para karyawan Dan keluarganya dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
“Kegiatan ini dilakukan dengan santai namun memiliki tujuan mempererat silaturahmi, kebersamaan dan saling kerjasama,” kata Ahmad Nashruddin, Ketua Yayasan Al Insanul Kamil.
Dukungan dan perhatian kepada karyawan dan keluarganya terlebih di tengah masa Pandemi menjadi prioritas saat libur Isra Miraj. Tujuannya untuk lebih mengeratkan satu sama lain sekaligus memberi kesegaran baru dan miliki kinerja yang lebih bagus, tambahnya.
Kegiatan berlangsung di dua tempat dan pertama yang disinggahi adalah Taman Dayu Golf, Jl. Raya Surabaya – Malang Km. 48. Setelah itu dilanjutkan ke Bhakti Alam di kawasan Ngembal, Tutur, Pasuruan.
Berwisata alam hawanya sejuk memang menjadi salah satu pilihan ke Taman Dayu. Bukan hanya tersedia lapangan golf yang luas tapi fasilitasnya juga menunjang mulai dari kolam renang hingga untuk kegiatan outbond dan family gathering atau liburan bersama keluar tercinta karena ada akomodasinya juga kelas resort.
Di Taman Dayu rombogan langsung berolah raga bersama, makan pagi dan main futsal. Kegiatan kelompok dilakukan untuk melatih konsentrasi dan mengakrabkan suasana karena tim yang dibuat tidak boleh dari keluarga.
Wisata dilanjutkan ke Agrowisata Bhakti Alam di ketinggian 550 mdpl desa Ngembal Kab. Pasuruan. Tempatnya cocok bagi yang menyukai kegiatan luar ruang (outbond) atau wisata perkebunan.
Berlokasi tidak jauh dari kota Surabaya dan Malang yang menawarkan kesejukan di alam terbuka dan teduhnya tanaman tropis. Bhakti Alam Agrowisata menawarkan berbagai aktivitas dan wahana bagi pengunjung. Baik untuk orang dewasa maupun ana-anak.
Ahmad Nashruddin, Ketua Yayasan Al Insanul Kamil Dan kegiatan family gathering di dua tempat.
Kegiatan seperti memerah susu sapi, mencicipi buah segar yang sedang panen, atau berkunjung ke pabrik susu pasteurisasi. Aktivitas & wahana yang bisa dilakukan di taman wisata alam ini cukup beragam terutama kegiatan yang berhubungan dengan peternakan dan perkebunan.
Berkeliling kebun salah satu kegiatan yang mengasyikan karena pengunjung bisa mengikuti tour singkat berkeliling kebun. Waktu yang dihabiskan sekitar 40 menit menggunakan kereta wisata mini yang disediakan pengelola. Pemandu wisata akan mendampingi dan menjelaskan tentang tanaman dan kebun selama tour.
Melihat langsung pabrik pengolahan susu yang menghasilkan produk-produk susu. Matapun dimanjakan oleh kebun sayuran dan buah bahkan bisa berkesempatan untuk mencicipi bebuahan menjadi pengalaman mengasyikan.
Di Bhakti alam sejumlah permainan juga sudah menunggu peserta rombongan Shafta ini. Setiap satu game setiap kelompok menampilkan yel-yel penyemangat. Karena berbeda kelompok, setiap anggota keluarga bersaing dengan keluarganya sendiri.
Setiap kelompok berusaha untuk menunjukkan sebagai tim paling kompak setiap sesi kegiatan. Pemandu dari Bhakti alam terus mengajak pola berpikir tim untuk memecahkan setiap tantangan yang diberikan, kadang kelucuan dan melepas tawa ketika saat tertentu muncul setiap kelompok melakukan kesalahan.
Akhir kegiatan ini dilakukan refleksi tujuan dan sasaran yang dicapai dengan kegiatan Family Gathering. Sebuah kebersamaan yang terus dikembangkan sekaligus mengajak seluruh keluarga memajukan sekolah Islam Shafta dengan slogan Shafta Jaya, Keluarga Bahagia.
BALI, bisniswisata.co.id: MenteriPariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, melakukan pertemuan dengan Duta Besar India untuk Indonesia, Manoj Kumar Bharti. Dalam pertemuan itu keduanya membahas berbagai rencana program ke depan, terutama peluang peningkatan kerja sama di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif pascapandemi.
Antara lain tentang rencana pembukaan kembali Bali dengan penerbangan langsung dari India yang saat ini sedang kita siapkan dan dalam tahap finalisasi,” kata Menparekraf Sandiaga Uno usai bertemu Dubes India Manoj Kumar Bharti, Rabu (17/3/2021) di Nusa Dua.
Pemerintah Provinsi Bali sebelumnya telah menetapkan tiga kawasan untuk menjadi zona hijau. Yakni Ubud di Kabupaten Gianyar, Sanur di Kota Denpasar, dan ITDC Nusa Dua di Kabupaten Badung. Ketiga kawasan itu akan menjadi prioritas lokasi vaksinasi bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dan juga masyarakat. Upaya tersebut, menurut Dubes India akan meningkatkan kepercayaan diri wisatawan India untuk memulai penerbangan langsung melalui konsep travel corridor arrangement.
Jumlah kunjungan wisatawan asal India ke Bali setiap tahunnya terus meningkat. Data BPS Bali menunjukkan, tahun 2017 sebesar 264.516 wisatawan, tahun 2018 sebesar 353.894 wisatawan, dan di tahun 2019 sebesar 374.043 wisatawan
Juga dibahas tentang kerja sama investasi dan perdagangan dalam lingkup pariwisata dan ekonomi kreatif. Termasuk tentang adaptasi teknologi guna memperkuat dan menciptakan peluang dalam sektor parekraf tanah air, khususnya dalam penguatan desa wisata yang menjadi salah satu program andalan dari Kemenparekraf/Baparekraf.
Duta Besar India untuk Indonesia, Manoj Kumar Bharti, yang baru 1,5 bulan menjalankan tugasnya sebagai Dubes di Indonesia mengaku kagum dengan keindahan alam dan budaya yang ada di Indonesia, khususnya Bali. Dimana terdapat kemiripan seni budaya serta populasi agama Hindu yang besar di Bali.
“Bagaimana mereka (masyarakat Bali) mempraktikkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari yang dimana ini tidak terjadi di India. Tentu ini akan menjadi pengalaman yang menarik bagi wisatawan India untuk berkunjung ke Bali,” kata Dubes Manoj.
Ia optimistis target 2 juta masyarakat Bali yang mendapat vaksinasi hingga Juli mendatang akan meningkatkan kepercayaan diri bagi wisatawan India untuk berkunjung ke Bali nantinya.
Bea Siswa
Sementara dalam pertemuan dengan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Dubes India untuk Indonesia memaparkan berbagai kerjasama infrastruktur yang telah dilakukan dengan pemerintah Indonesia. Berharap dapat lebih intensif bekerjasama dengan pemerintah Provinsi Bali. Juga disampaikan tentang pemberian beasiswa ke India bagi masyarakat Indonesia.
“Pemerintah menyediakan 100 beasiswa yang nantinya disebar di seluruh Indonesia. Dan kami harap masyarakat Bali bisa menikmati beasiswa tersebut,” jelas Manoj Kumar Bharti.
Dalam hal ini, Wagub Cok Ace mengapresiasi langkah-langkah pemerintah India, hubungan Indonesia terutama Bali dengan India sudah terjalin dari dulu. Hal tersebut bisa dilihat dari akulturasi budaya negara dari Asia Barat tersebut di Bali. Sehingga ia berharap dengan penguatan kerjasama ini, bisa membangun hubungan yang lebih erat dari kedua negara.
Selain itu, Wagub yang juga menyinggung masalah Free COVID Corridor yang sedang dirancang untuk membuka pariwisata Bali. Beberapa negara yang menjadi target utama program tersebut adalah Belanda, India dan negara-negara di Timur Tengah.
“Jadi saya berharap dukungan anda untuk meyakinkan warga India supaya bisa berkunjung ke Bali jika program tersebut sudah berjalan,” tandasnya. *
BALI, bisniswisata.co.id: Rapat koordinasi (rakor) tingkat menteri terkait perluasan travel corridor arrangement untuk sektor pariwisata digelar yang memungkinkan kunjungan kembali wisatawan mancanegara (wisman).
“Kehadiran kembali wisatawan diharapkan sejalan dengan pemulihan ekonomi terutama bagi daerah yang bergantung pada sektor Parekraf seperti Provinsi Bali,” kata Menparekraf/ Ketua Baparekraf Sandiaga Salahuddin Uno saat menggeea Rakor tersebut.
Presiden Joko Widodo meminta sejumlah upaya untuk memulihkan sektor pariwisata khususnya di Bali terus diimplementasikan agar sektor pariwisata bisa menerima kembali wisatawan.
“Ini adalah bentuk komitmen kami dari Kemenparekraf untuk menindaklanjuti guidance yang disampaikan oleh Presiden kemarin, yaitu bagaimana Bali bisa menyiapkan pembukaan bagi wisatawan mancanegara pada pertengahan Juni atau Juli tahun ini dengan berbagai persyaratan,” ujar Menparekraf Sandiaga Uno hari ini, Rabu (17/3/2021) di Poltekpar Bali, Nusa Dua.
Hadir dalam rakor tersebut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi; Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo; Gubernur Bali I Wayan Koster; Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati; Dirjen Imigrasi Kemenkumham Jhoni Ginting.
Hadir juga seluruh pejabat Eselon I di lingkungan Kemenparekraf/Baparekraf; serta 6 perwakilan dari sejumlah kementerian/lembaga seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian BUMN, Satgas COVID-19 dan pihak terkait lainnya.
Menparekraf mengatakan, persyaratan tersebut adalah angka COVID-19 yang terkendali dan terus ditekan, peningkatan kepatuhan protokol kesehatan, peningkatan dan penguatan dari testing, tracing and treatment serta vaksinasi di Bali yang ditargetkan mencapai angka 2 juta atau lebih di bulan Juli.
Sebelumnya Pemerintah Provinsi Bali telah menentukan pilot project di tiga kawasan yang ditetapkan sebagai zona hijau, yakni Ubud di Kabupaten Gianyar, Sanur di Kota Denpasar, dan ITDC Nusa Dua di Kabupaten Badung.
Penetapan zona tersebut dimaksudkan untuk membentuk zona berpola hidup sehat dan menerapkan standar protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19 secara ketat dengan kebijakan vaksinasi menyeluruh terhadap orang yang tinggal dan beraktivitas di wilayah tersebut.
Hal itu sekaligus merupakan prakondisi dari tahapan-tahapan yang nantinya akan ditempuh untuk kembali membuka sektor pariwisata apabila situasi pandemi telah terkendali.
“Kami membahas dengan Bu Menlu dan perwakilan kementerian/lembaga, semua sudah memberikan masukan dan kita sudah mencapai kesepakatan bahwa kita memulai proses finalisasi persiapan kita dalam konsep travel corridorarrangement,” kata Sandiaga Uno.
“Hal Ini akan kita monitor dan evaluasi setiap dua minggu dan akan kami lakukan langkah koordinasi untuk dilaporkan kepada Presiden untuk segera dirataskan (rapat terbatas) dan diambil keputusannya,” kata Sandiaga
Evaluasi tersebut mulai dari angka vaksinasi yang terus ditingkatkan, monitoring kepatuhan protokol kesehatan, serta kesiapan dari kementerian dan lembaga dalam mendukung rencana ini. Seperti persiapan e-Visa dari pihak imigrasi, kesiapan bandara yang disiapkan Kementerian BUMN, juga peningkatan laboratorium PCR dan lain sebagainya.
Dari hasil evaluasi tersebut, kemudian dilanjutkan dengan tahapan uji coba di tiga kawasan zona hijau di Bali.”Uji coba kita akan lakukan secepatnya. Tentunya sesuai arahan Presiden di bulan Juni-Juli, kita punya waktu sekitar tiga bulan untuk persiapan, tentu harus ada simulasi dan mungkin ada trial atau pilot project . Mungkin akan ada charter flight dan kita pantau betul (pelaksanaanya di lapangan),” kata Sandiaga.
“Semakin banyak uji coba yang kita lakukan, semakin siap kita. Dan setelah kita lakukan monitoring dan evaluasi, kalau proofofconcept nya itu bisa kita dapatkan, kita bisa perluas nanti baik wilayah originasi daripada wisatawan maupun destinasi wisatanya juga.
Jadi nanti mungkin bisa diperluas (tidak hanya di 3 kawasan zona hijau) juga ke destinasi lainnya seperti Kuta atau Seminyak atau Canggu atau Nusa Penida. Ini nanti akan kita evaluasi secara ketat, tambah Sandiaga.
Terkait target negara dalam penerapan travelcorridor arrangement , Menparekraf mengatakan penentuannya akan dipimpin oleh Kementerian Luar Negeri. Diantaranya negara yang tingkat vakinasinya tinggi, negara dengan penerapan protokol kesehatan ketat
yang diikuti testingtracingand treatment yang tinggi, juga negara dengan asas resiprokal dan faktor-faktor lainnya.
“Tadi yang sudah disebut ada beberapa negara seperti Belanda, Tiongkok, Uni Emirat Arab atau negara Timur Tengah lainnya dan Singapura. Tapi finalisasinya tergantung dari travel corridorarrangement dari masing-masing negara,” kata Menparekraf Sandiaga.