gambar profil orang

Perekonomian Bali anjlok 90%, Pengusaha Atraksi Wisata Harapkan Wisnus

this formate

CANGGU, Bali, bisniswisata.co.id: Perekonomian Bali bagi pengusaha atraksi wisata di Tanjung Benoa, Bali sudah anjlok 90% oleh karena itu kucuran dana hibah Kemenparekraf sangat diharapkan, kata Jimmy, Direktur Bintang Bali Beach Club, Dive & Watersport 

” Versi pemerintah pertumbuhan ekonomi Bali hanya minus 9,8%, tapi bagi kami ekosistem bisnisnya sudah berhenti, anjlok semua 90%,” kata pria bernama I Wayan Sumartha ini.

Menurut dia, setelah periode mantab alias makan tabungan dan manset  ( makan dari menjual aset), opsi lain untuk bertahan hidup adalah segera buka border Bali untuk masuknya wisatawan mancanegara  ( wisman) dan mendorong kunjungan wisarawan domestik atau disebut wisnus.

Namun dia menyadari negara asal wisman juga belum membuka perbatasannya ( border) seperti Australia yang baru buka tahun depan ( 2022), sementara negara tetangga seperti Malaysia, Singapura juga lockdown.

“Harapan kami pemerintah segera gerakan wisatawan nusantara ( wisnus)  karena bantuan pemerintah entah hibah, soft loan atau apapun belum menjamah usaha atraksi wisata seperti kami,” kata Jimmy.

Biasa menangani incentive group hingga 1500 pax per hari, Jimmy mengaku mau teriak kemana agar dana hibah bisa dijatuhkan pada usaha marine sport yang dirintisnya 3 tahun lalu mengingat setelah perhotelan, prioritas berikutnya ke biro perjalanan wisata bukan ke semua pelaku pariwisata yang ada seperti marine sport yang jadi unggulan atraksi di Pulau Dewata ini.

” Di kawasan Tanjung Benoa ini, usaha atraksi wisata Bintang Bali Beach Club yang pertama memiliki sertifikasi di era New Normal setelah obyek wisata di Bali buka Agustus 2O20 dan kini kami satu-satunya yang lebih dulu pemilik sertifikat CHSE,” kata pria yang akrab disapa Jimmy ini.

CHSE adalah program Kemenparekraf berupa penerapan protokol kesehatan yang berbasis pada Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan).

Dia bercerita 22 Maret 2020 masih punya tamu dengan 75 karyawan, namun setelah itu dunia pariwisata di Bali berhenti total. Maret- Agustus tahun lalu usahanya sudah mati suri. Saat jelang Lebaran karyawan yang pulang kampung dipanggil hingga 25 orang tapi kebijakan tidak boleh mudik menbuat pupus semua harapan.

” Selama pandemi lima karyawan dan kami sendiri sebagai owner dan direktur turun tangan kerja serabutan kadang jadi supir agar kami bisa bertahan dengan investasi peralatan yang terus butuh perawatan,”

Uang tabungan plus penjualan aset pertama sebesar Rp 800 juta sudah habis di periode makan uang tabungan ( ‘Mantab’ ). Restrukturisasi utang di BTN sudah dua kali dilakukan.

” Aset berupa villa jadi incaran para spekulan sesama pebisnis dari Jakarta dan kota besar lainnya. Tapi penawarannya tidak masuk akal namanya juga spekulan. Harga tanah saja kalau bisa mereka beli dengan harga 10% dari harga normal,”

parasut
Bintang Bali Beach Club di Tanjung Benoa tawarkan atrsksi wisata marine sport  yang lengkap.

Sementara Jimmy mengaku, sebagai pebisnis lokal dia tidak putus-putus memikirkan nasib para nelayan di Kedongan, Tanjung Benoa, Jimbaran, Nusa Dua dan daerah lainnya yang biasa memasok hasil perikanan ke restoran dan hotel di Bali.

” Nelayan Kedongan sebelum pandemi banyak mendapat pasokan dari P.Jawa dan semua stok bisa habis untuk kebutuhan di Bali. Kini semua terpuruk produksi mereka kemana ?, ekspor ke Jepangpun tidak sanggup dan permintaan berkurang,”

Pariwisata memiliki multiplier efek yang luas. Dampak bergandanya ke semua sektor. Oleh karena itu jika pemerintah membiarkan spekulan merajalela, membiarkan ekosistem pariwisata ini siklusnya jeda berkepanjangan maka Bali bukan lagi milik putra daerahnya.

Jimmy sedikitnya memiliki 6 paket terdiri dari parasailing adventure, banana boat, jet ski dengan biaya Rp 1,2 juta per orang. Ada lagi paket diving, Fly Fish dan banana boat dimana sebelum diving peserta berlatih dahulu di kolam yang tersedia di Bintang Dive Watersport lalu menyebar ke titik penyelaman.

” Titik penyelaman ada di Nusa Dua, Amed, Tulamben, Padang Bai, Candi Dasa, Nusa Penida/ Lembongan serta Pulau Menjangan. Aktivitas kami di sana pastinya berdampak ekonomi pada masyarakat lokal yang juga terus menjaga lingkungan,” kata Jimmy.

Dia berharap para pengambil keputusan memahami betul dampak berganda pariwisata baru dari satu bidang atraksi wisata yang ditekuninya ini, belum dari bidang lainnya yang terkait langsung maupun tidak langsung. “Karena itu segera membuka border dan membangkitkan pariwisata Bali kembali,” tegasnya.

Menurut dia, setelah program Work from Bali bergulir yang dimotori oleh para pegawai BUMN, baru minggu kemarin usahanya menggeliat dan dapat 50 pax per kunjungan dengan mobil pribadi,”. kata Jimmy sambil mengenang sebelum pandemi dari satu travel agent turis China saja bisa dapat 300 orang dengan bis-bis wisata berjejer 

Dia sangat mengharapkan ada program baru dari pemerintah untuk menggerakkan wisatawan nusantara ( wisnus) ke Bali dengan harga-harga paket yang disubsidi seperti yang terjadi di Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang dan negara lainnya. 

Soal mendapatkan kembali wisatawan untuk melakukan aktivitas di Tanjung Benoa, bisniswisata sendiri diburu motor oleh para karyawan perusahaan marine sport di Tanjung Benoa yang pro-aktif mencari calon tamu dan menawarkan paket-paket menarik.

Mereka tetap menjalankan motor, mensejajarkan posisi di samping supir kendaraan wisatawan sambil menawarkan produk tanpa memperdulikan keselamatan sendiri demi sesuap nasi bagi keluarga yang menunggu di rumah.

 

Avvio Prediksi Pembatalan Langsung Akan Meningkat 20% pada 2022

this formate

Seiring pemulihan COVID-19 berlanjut, hotel harus mengalihkan perhatian mereka kembali ke kekhawatiran yang telah berkembang selama bertahun-tahun untuk mempercepat pelayanan saat tamu kembali banjir dan pembatalannjuga meningkat.

NEW YORK, bisniswisata.co.id: Saat para tamu kembali ke hotel di tengah pandemi virus Corona yang masih berlangsung, para profesional perhotelan mungkin akan memberikan sampanye saat pemesanan terus meningkat. Tetapi energi baru dari sektor perjalanan datang dengan tantangannya sendiri.

Buku putih baru Avvio berjudul :’Kita Perlu Bicara Tentang Pembatalan’, melacak tantangan utama bagi manajemen hotel ini dan menawarkan strategi untuk mengatasi masalah tersebut. 

Berdasarkan analisis terhadap 2,3 juta transaksi pemesanan langsung dari 400 situs web hotel di berbagai negara antara tahun 2016 dan 2019, makalah ini menawarkan wawasan baru yang dapat membantu hotel merencanakan masa depan.

Tingkat pembatalan naik

Dilansir dari Skift.com, menurut penelitian Avvio, tingkat pembatalan terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan peningkatan 36 persen dalam tingkat pembatalan dari 2016 hingga 2019. 

Ini, tentu saja, merugikan hotel: Pembatalan bertanggung jawab atas 15 persen bagian dari pendapatan yang hilang pada tahun 2019 , naik dari 11 persen pada 2016.

Penyebab utama dari peningkatan ini adalah “ketidaksetiaan pemesanan” di mana wisatawan terus meneliti opsi hotel setelah memesan di satu atau beberapa hotel. Ini hanya mungkin karena pertumbuhan pembatalan bebas penalti, yang sekarang ditawarkan banyak hotel untuk meningkatkan tarif pemesanan.

ROI pemasaran tergerus

Seiring dengan hilangnya pendapatan langsung dari pembatalan, hotel juga kehilangan uang ketika mereka membelanjakan untuk pemasaran digital gjna menarik calon tamu yang akhirnya tidak menginap.

ROI pemasaran digital biasanya didasarkan pada berapa banyak pemesanan langsung yang dihasilkan oleh upaya pemasaran, tanpa melacak apakah pemesanan tersebut kemudian dibatalkan.

Avvio memperkirakan bahwa pada tahun 2019 hotel di Inggris menghabiskan lebih dari £11,5 juta untuk pemasaran digital yang mengakibatkan pembatalan pemesanan tanpa penalti. 

Contoh seperti ini membuktikan bahwa penilaian ROI pemasaran tidak cukup tanpa informasi komprehensif tentang berapa banyak pemesanan yang dihasilkan pemasaran yang dipertahankan dan berapa banyak yang dibatalkan.

Akan jadi masalah akut di 2022 

Avvio memprediksi hotel akan menghadapi tingkat pembatalan langsung sebesar 20 persen atau lebih pada tahun 2022. Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan yang berkelanjutan ini. 

COVID -19 telah meningkatkan harapan tamu akan fleksibilitas dalam pemesanan. Kembalinya perjalanan menciptakan pasar yang sangat kompetitif untuk hotel.

Faktor lain adalah agen perjalanan online, yang cenderung meningkatkan program loyalitas tamu untuk mendapatkan pangsa pasar. Menurut laporan Outlook Pemesanan Langsung Hotel terbaru dari Skift pada tahun 2021, lebih dari setengah pemesanan hotel berasal dari saluran pihak ketiga ini meskipun para pelaku bisnis perhotelan telah berupaya untuk meningkatkan pemesanan langsung.

Selain itu, muncul teknologi baru yang memungkinkan wisatawan memantau tarif setelah pemesanan dan mengotomatiskan pemesanan ulang untuk mendapatkan tarif yang lebih rendah di hotel lain.

Hotelier harus fokus ke retensi booking.

Strategi retensi pemesanan sekarang menjadi kebutuhan bagi setiap hotel yang bersaing untuk mendapatkan tamu akhir-akhir ini. Strategi ini dimulai dengan menganalisis pola pembatalan untuk mendapatkan pemahaman tentang dinamika kerja di hotel tertentu.

Segmentasi pemesanan memungkinkan penemuan jenis tamu mana yang kemungkinan besar akan dibatalkan. Misalnya, penelitian Avvio menemukan bahwa secara umum, pasangan memiliki tingkat pembatalan yang jauh lebih tinggi daripada keluarga, dengan 66,7 persen kehilangan pendapatan dari pembatalan karena pasangan mengubah rencana mereka.

Ini adalah awal yang baik, tetapi dengan alat yang mendukung AI, hotel dapat menentukan pemesanan individu mana dalam segmen tertentu yang kemungkinan besar akan dibatalkan.

Analisis ini memberikan skor risiko pembatalan untuk setiap pemesanan yang merespons perubahan kondisi pasar. Sulit untuk mengambil pendekatan yang ditargetkan untuk mengurangi pembatalan tanpa alat yang menunjukkan reservasi mana yang paling berisiko dibatalkan.

Avvio menghadapi tantangan industri ini secara langsung dengan evolusi terbaru dari AI Booking Engine-nya, allora.ai, yang kini tidak hanya berfokus pada peristiwa konversi pemesanan yang dipersonalisasi, tetapi juga identifikasi aktif dan retensi pemesanan yang berisiko dibatalkan.

Retensi booking dilihat sebagai KPI  

Saat menilai ROI upaya pemasaran, metrik keberhasilan utama sering kali diidentifikasi sebagai akuisisi pemesanan, dengan KPI kuncinya adalah biaya per akuisisi. Tetapi memperoleh pemesanan hanyalah setengah dari cerita; apakah pemesanan dipertahankan sama pentingnya.

Hotel harus melampaui KPI tradisional untuk memasukkan elemen persamaan ini, tidak hanya melihat pada akuisisi tetapi juga tingkat retensi.

Salah satu opsi adalah beralih dari mengukur pendapatan per kamar yang tersedia (Gross RevPAR) ke laba per kamar yang tersedia (Net RevPAR), sebuah strategi yang memperhitungkan biaya “tersembunyi” seperti pengeluaran pemasaran dan kerugian akibat pembatalan.

Mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pembatalan dan bagaimana mengukur dampaknya akan membantu hotel mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pemasaran dan manajemen yang efektif. Penting untuk tidak hanya memikirkan akuisisi pemesanan sebagai metrik utama kesuksesan. Mempertahankan pemesanan tamu adalah tujuan yang sama pentingnya.

 

September, Emirat Dibuka untuk Penguna Kapal Pesiar

this formate

ABU DHABI, bisniswisata.co.id:  September, Emirate, Abu Dhabi akan menyambut kembali kedatangan kapal pesiar, setelah penutupan sepanjang tahun 2020. Dan hanya penumpang yang divaksinasi diizinkan turun di Emirat dan tindakan pencegahan – penerapan ProKes COVID-19 – diperketat, kata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata ( Department of Culture and Tourism/DCT )  Emirate – Abu Dhabi dalam pernyataan tertulis yang diterima bisniswisata.co.id

“Kami sangat siap untuk menerima dan menyambut pengunjung yang divaksinasi ke ibukota UEA, dan sangat senang melihat dimulainya kembali kegiatan pelayaran di Pelabuhan Zayed dan Pulau Sir Bani Yas,” kata Noura Rashed Al Dhaheri, Direktur Pelaksana – Bisnis Pelayaran, Pelabuhan Abu Dhabi.

“Kami telah menerapkan rencana manajemen pelayaran untuk memastikan pemulihan yang efisien, lancar, dan aman ke operasi pelayaran reguler. Sejalan dengan protokol kesehatan Abu Dhabi untuk kedatangan internasional, Pelabuhan Abu Dhabi memulai beberapa langkah kesehatan dan keselamatan untuk melindungi penumpang dan awak. Meliputi kegiatan sterilisasi harian di seluruh terminal, persyaratan pengujian PCR sebelum keberangkatan, serta penerapan rencana tanggap darurat yang komprehensif untuk menangani kasus positif di dalam terminal

Dia menambahkan: “Penumpang kapal pesiar yang mengunjungi Abu Dhabi dapat diyakinkan bahwa setiap tindakan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan mereka selama mereka berada di Abu Dhabi.”

Bahari

Pariwisata bahari telah berkembang di Abu Dhabi, dan pada tahun 2019, sekitar 500.000 pengunjung kapal pesiar tiba di pelabuhan emirat, menandai peningkatan 46 persen dibandingkan tahun 2018. Jumlah kunjungan kapal pesiar juga meningkat 43 persen pada tahun 2019 mencapai 192.

Dibukanya kembali pelayaran kapal pesiar ke Abu Dhabi, menurut Ali Al Shaiba, Direktur Eksekutif Pariwisata dan Pemasaran DCT Abu Dhabi, membantu memperkuat posisi ibu kota UEA sebagai pusat pariwisata bahari. DCT, bekerja sama dengan stake holder terkait di Pelabuhan Abu Dhabi, untuk lebih meningkatkan sektor pariwisata maritim dan menarik lebih banyak bisnis dan memberi layanan dan pengalaman yang tak tertandingi saat menjelajahi Abu Dhabi bagi wisatawan.

Abu Dhabi secara bertahap dibuka kembali untuk wisatawan, dan menurut Bloomberg, juga tawaran vaksinasi bagi wisatawan. DCT Abu Dhabi juga mengatakan bahwa mereka akan mengumumkan serangkaian inisiatif sepanjang tahun untuk mempromosikan destinasi tersebut kepada khalayak global. Abu Dhabi saat ini sedang melihat perkembangan proyek-proyek besar, seperti proyek kanal Al Qana sepanjang 2,4 kilometer, Hotel Warner Bros pertama di dunia, akuarium terbesar di Timur Tengah dan Snow Abu Dhabi – taman salju dalam ruangan terbesar di dunia seluas 11.660 meter persegi — siap dibuka akhir tahun ini. *

Hardjoko Trisnadi, Dari Jurnalis Mengelola Bisnis

this formate

PELUNCURAN BUKU HARJOKO TRISNADI

 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Para alumni Majalah Tempo menerbitkan dan meluncurkan buku baru. Biografi seorang tokoh senior di balik bisnis Tempo: Harjoko Trisnadi. Salah seorang pendiri Majalah Berita Mingguan Tempo.

Peluncuran buku berjudul: Harjoko Trisnadi Dari Jurnalis Mengelola Bisnis itu dilaksanakan, Selasa malam (22 Juni 2021) bersamaan dengan ulang tahun ke-91 sosok yang selama ini di berada di dapur bisnis Majalah Berita Tempo.

Acara peluncuran dilangsungkan secara virtual melalui aplikasi zoom yang diinisiasi Didi Prambadi, mantan wartawan Tempo yang kini  bermukim di Philadelphia, AS. Didi juga adalah pengasuh majalah untuk komunitas Indonesia di sana. Namanya Lantern Indonesia.

“Kita semua, terutama saya, amat mengenal Mas Harjoko Trisnadi. Dia salah satu sosok penting dalam perjalanan Majalah Tempo yang kini sudah berusia 50 tahun,” ujar Goenawan Mohamad, mantan pemred dan salah seorang pendiri Majalah Tempo ketika membuka acara peluncuran buku.

Dia bersyukur karena buku tentang sosok Pak HT–begitu biasa Harjoko Trisnadi dipanggil– akhirnya bisa diterbitkan. “Saat Tempo sudah berusia 50 tahun. Mas Harjoko berusia 91 tahun dan saya sendiri 80 tahun,” ujar GM pada acara daring yang diikuti 72 alumni Tempo, keluarga dan kerabat Pak HT. 

Ikut hadir dan memberi selamat kepada Pak HT dalam acara itu, antara lain, Dahlan Iskan, Christianto Wibisono, dan Arif Zulkifli, kini Direktur Utama PT Tempo Inti Media.

Buku biografi Pak HT dirancang dan ditulis para alumni Tempo dalam rangka menyambut ulang tahun Tempo ke-50, Maret lalu. Diisi dengan Kata Pengantar oleh A. Margana, Prolog oleh Goenawan Mohamad, Epilog oleh Dahlan Iskan. Lalu, riwayat perjalanan hidup Harjoko Trisnadi ditulis oleh: Marah Sakti Siregar, Renville Almatsier, dan Tutty Baumeister. 

Lahir di Demak, 22 Juni 1930, Pak HT atau nama awalnya Joppie Kho Tiang Hoen. Ia memulai karier sebagai wartawan di Majalah Star Weekly saat dipimpin tokoh pers Petrus Kanisius (P.K) Ojong– salah satu pendiri Koran Kompas bersama Jacob Oetama–pada tahun 1952. Ia banyak berguru dalam masalah jurnalisme dan pengelolaan media dari tokoh pers yang dikenal idealis dan pekerja keras itu.

Setelah sembilan tahun berkiprah dan sedang asyik-asyiknya menjadi wartawan, Star Weekly dibredel pemerintah Orde Lama tahun 1961. Penyebabnya, antara lain,  karena tulisan-tulisan di majalah –yang saat itu oplah mencapai  52.000 eksemplar–sering mengeritik policy luar negeri pemerintah. Menlu ketika itu dijabat Dr Soebandrio, sekutu dekat Bung Karno.

Lepas dari Star Weekly, Pak HT bersama beberapa seniornya eks Star Weekly mendirikan Mingguan Djaja. Mereka bekerja sama dan didukung Gubernur DKI Jakarta waktu itu Dr. Soemarmo Sastroatmodjo.

Awalnya, sampai tahun 1965, Mingguan Djaya masih bisa eksis. Tapi setelah terjadi peristiwa G 30 S/ PKI tahun 1965  terjadi perubahan politik di Indonesia. Rezim Orla digantikan Orba. ABRI masuk ke dunia politik. Posisi Soemarmo digantikan Letjen KKO Ali Sadikin (1966).

Rezim Orde Baru memberi kebebasan pers. Sejumlah media yang sebelumnya dibredel, misalnya, Indonesia Raya (dipimpin Mochtar Lubis)dan Pedoman (dipimpin Rosihan Anwar) dibolehkan terbit lagi. 

Bersama mereka terbit juga beberapa media baru yang isinya tajam dan kritis. Misalnya, Kompas dan Harian KAMI. Mingguan Djaja yang kala itu diterbitkan  yayasan nirlaba milik Pemda DKI, Yayasan Jaya Raya, pun tersisih dan kehilangan pasar.

Lalu sekitar empat tahun kemudian, Ir.Ciputra, Ketua Umum Yayasan Jaya Raya dihubungi Lukman Setiawan yang baru mengundurkan diri dari Koran Kompas. Lukman Setiawan mengabarkan kepada Ciputra bahwa terjadi perpecahan di Majalah Berita Ekspres yang diterbitkan Goenawan Mohamad dkk bekerja sama (dimodali) tokoh pers pemilik Grup Koran Merdeka B.M Diah. 

Tanggal 14-19 Oktober 1970 berlangsung Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Palembang. Awalnya dalam kongres itu terpilih Rosihan Anwar sebagai Ketua Umum PWI Pusat. Tapi sejumlah figur wartawan  dari media yang pro pemerintah Orba menolak sosok Rosihan Anwar. Mereka mengadakan kongres tandingan dan memilih B.M Diah sebagai ketua umum.

GM mengeritik B.M Diah yang dinilainya menolak bermusyawarah dan membawa PWI bekerja sama dengan pemerintah. 

B.M Diah yang membaca kritik GM di beberapa media,  langsung berang. GM pun dipecat. Beberapa temannya para pengasuh  Ekspres, seperti Fikri Jufri, Christianto Wibisono, solider memihak GM. Mereka semua pun ikut dipecat.

Lukman Setiawan meminta Ciputra membantu para wartawan yang baru kehilangan pekerjaan itu. Setelah berunding alot, tercapai kesepakatan pada akhir 1970. Yayasan Jaya Raya menjadi penerbit baru majalah berita yang mirip Ekspres. Namanya Majalah Berita Mingguan Tempo. Mulai terbit 6 Maret 1971.

GM memimpin barisan redaksinya. Sedangkan Ciputra kemudian menunjuk stafnya di PT Pembangunan Jaya Eric Samola bersama Harjoko Trisnadi untuk mengelola urusan bisnis majalah tersebut. Langkah baru Yayasan Jaya Raya itu sekaligus menjadi pamungkas ditutupnya Mingguan Djaja.

Dalam perjalanan ikut membesarkan Tempo sampai majalah itu kini berusia 50 tahun, Pak HT yang low profile, menjalani suka duka. Masa keemasan dan masa surut Tempo setelah dua kali mengalami pembredelan. Pertama, pembekuan SIUPP tahun 1982. Kedua, pembatalan SIUPP pada 21 Juni 1994. Bersama Majalah Berita Editor dan Tabloid Detik, Tempo dibredel pemerintah.

Menghargai kiprahnya yang berpuluh tahun setia mengurus media massa, Panitia Hari Pers Nasional pada tahun 2018 menganugerahkan  Penghargaan Seumur Hidup (Lifetime Award) kepada Harjoko Trisnadi. 

 

pantai biru

Beberapa Destinasi Larang Wisatawan Belum Vaksinasi.

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pergerakan wisatawan tidak atau belum mendapat vaksinasi makin sempit. Pasalnya sejumlah negara yang bergantung pada pariwisata –seperti dilansir CNBC — memprioritaskan keselamatan dengan persyaratan masuk yang disederhanakan daripada kebijakan pintu terbuka.

Ketika Anguilla dibuka kembali November lalu, para wisatawan ke pulau kecil Karibia itu perlu dites negatif untuk COVID-19 sebelum dan sesudah tiba.

Ruam kasus baru kemudian terjadi pada bulan April, dan Anguilla menutup kembali perbatasannya untuk turis selama sebulan.
Wilayah luar Inggris mengubah taktiknya. Mulai 1 Juli, pengunjung harus divaksinasi setidaknya tiga minggu sebelum tiba.

Hal Ini berlaku untuk “semua pengunjung  yang memenuhi syarat untuk divaksinasi,” menurut situs web Anguilla Tourist Board, yang mengatakan anak-anak dikecualikan dari persyaratan tersebut.

Wisatawan yang divaksinasi tidak perlu lagi dikarantina, mengikuti tes COVID pada saat kedatangan atau membayar biaya masuk. Awal tahun ini, wisatawan yang divaksinasi dikenai biaya $300 untuk masuk, sementara pengunjung yang tidak divaksinasi dikenai biaya $600.

Kasus Meningkat

Anguilla bukan satu-satunya pulau Karibia yang menutup pintu bagi wisatawan yang tidak divaksinasi. Negara kepulauan ganda St. Kitts dan Nevis menerapkan kebijakan serupa bulan lalu.

Mulai 29 Mei, St. Kitts hanya menerima wisatawan yang telah divaksinasi dengan vaksin AS atau Eropa. Aturan baru itu adalah bagian dari beberapa inisiatif yang diumumkan oleh Perdana Menteri Timothy Harris dalam menanggapi sekelompok 16 kasus COVID yang terdeteksi di pulau-pulau itu bulan lalu, menurut Otoritas Pariwisata St. Kitts.

“Persyaratan perjalanan yang diumumkan sebelumnya untuk wisatawan yang tidak divaksinasi adalah batal demi hukum,” menurut sebuah pernyataan yang mengumumkan perubahan kebijakan.

Pulau-pulau tersebut berada di bawah pukul 6 sore karena diberlakujan jam malam setiap hari, dan lokasi wisata ditutup hingga 26 Juni. Jangka waktu untuk membuka kembali bagi wisatawan yang tidak divaksinasi belum ditentukan.

Anak-anak yang tidak divaksinasi yang bepergian dengan orang tua yang divaksinasi juga dapat masuk, meskipun mereka harus “berlibur di tempat” selama 14 hari, daripada sembilan hari yang diperlukan untuk turis yang divaksinasi.

Anguilla dan St. Kitts serta Nevis dianggap sebagai destinasi tingkat 1 rendah COVID oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS. Keduanya disorot oleh CNBC pada bulan Maret sebagai salah satu dari segelintir tujuan wisata yang dibuka dengan tetap mempertahankan tingkat infeksi COVID yang rendah. Sebuah ‘alasan yang menarik’ untuk bepergian.

Lokasi lain mengharuskan pengunjung yang tidak divaksinasi untuk menunjukkan bahwa mereka bepergian untuk alasan yang lebih dari sekadar membutuhkan liburan.

Ketika Polinesia Prancis, yang mencakup pulau Tahiti dan Bora Bora, dibuka kembali pada 1 Mei, ia memilih orang Amerika sebagai satu-satunya warga negara yang dapat masuk untuk tujuan pariwisata.

Kebijakan itu juga berlaku untuk orang Amerika yang tidak divaksinasi, meskipun yang tidak diimunisasi harus dikarantina. Semua itu telah berubah. Mulai 16 Juni, wisatawan yang divaksinasi dapat masuk jika mereka menghabiskan 15 hari sebelumnya di Inggris, sebagian besar wilayah Prancis atau negara “zona hijau” Prancis, menurut organisasi pemasaran tujuan Polinesia Prancis.

Negara-negara “zona hijau” saat ini mencakup sebagian besar Eropa, ditambah negara-negara seperti Australia, Kanada, dan Amerika Serikat.
Semua orang — termasuk semua wisatawan yang tidak divaksinasi — harus menunjukkan “alasan kuat” terkait kesehatan, keluarga, atau pekerjaan untuk bepergian ke Polinesia Prancis.

“Pariwisata bukanlah alasan kuat untuk bepergian,” menurut situs web pariwisata Tahiti. Kebijakan Prancis sedikit lebih santai. Ini memungkinkan wisatawan yang tidak divaksinasi dari negara-negara “hijau” untuk masuk melalui tes COVID negatif.

Menurut situs web Kementerian Prancis untuk Eropa dan Luar Negeri,  wisatawan dari negara-negara “oranye” – yang setiap negara tidak ada dalam daftar hijau atau merah, yaitu mayoritas dunia – harus divaksinasi untuk masuk atau menunjukkan “alasan mendesak” untuk bepergian.

Kolektifitas Prancis di St. Barts dan St. Martin di Karibia dibuka kembali bulan ini dengan kebijakan serupa. Nils DuFau, presiden dewan pariwisata St. Barts, secara terpisah mengeluarkan pengumuman bahwa St. Barts terbuka untuk orang Amerika yang divaksinasi mulai 9 Juni.

Spanyol melangkah lebih jauh. Mulai 7 Juni, Spanyol menyambut wisatawan dari Eropa dan mereka yang berasal dari daftar 10 negara dengan tingkat Covid-19 yang rendah; semua turis lain harus menunjukkan sertifikat vaksinasi untuk masuk.

Daftar negara dari Prancis dan Spanyol serupa. Namun, Inggris saat ini ada dalam daftar Spanyol, sedangkan AS dan Kanada tidak.

Usaha menyeimbangkan

Negara-negara yang bergantung pada turis, seperti yang ada di Karibia, harus menyeimbangkan dampak ekonomi dari menyambut turis dengan keselamatan warganya, kata Tim Hentschel, salah satu pendiri dan CEO perusahaan reservasi hotel HotelPlanner.

“Saya hanya bisa membayangkan betapa menantangnya percakapan itu antara pakar penyakit menular suatu negara yang menyarankan kebijakan yang lebih ketat versus kepala pariwisata yang berdebat untuk membiarkan semua orang segera masuk sehingga ekonomi tidak merosot,” katanya.

Hentschel mengatakan bahwa sementara 13 negara Karibia berdaulat, wilayah Prancis seperti Martinique dan Guadeloupe dan wilayah Belanda seperti Curacao, Aruba dan Sint Maarten, mungkin akan mengikuti kebijakan negara.

Hentschel menyebut Asia “cerita yang sangat berbeda”, terutama karena tingkat vaksinasi yang lebih rendah. “Begitu ada kemajuan, wabah baru dan penguncian terjadi, seperti di Singapura,” katanya.

“Perjalanan Asia kembali ke perjalanan normal pra-pandemi akan jauh lebih lama – mungkin satu tahun atau lebih, sayangnya.” tambahnya.

Destinasi Asia tidak lagi membutuhkan vaksinasi untuk bepergian, tetapi benua itu sebagian besar masih tertutup bagi pengunjung rekreasi. Model “Phuket Sandbox” yang banyak dibicarakan — di mana pulau populer Phuket dijadwalkan dibuka kembali pada 1 Juli, sebelum seluruh Thailand — mengesampingkan persyaratan karantina untuk wisatawan yang divaksinasi dari negara berisiko rendah hingga menengah.

Wisatawan yang tidak divaksinasi masih dapat masuk, meskipun mereka tunduk pada periode isolasi 14 hari,  ungkap Otoritas Pariwisata Thailand mengkonfirmasi kepada CNBC.

Meskipun mengharuskan turis untuk divaksinasi masuk akal di beberapa tempat, itu tidak akan berhasil di semua tempat, kata Hentschel.

“Menariknya, Meksiko tidak pernah menutup perbatasannya untuk turis Amerika selama pandemi ini,” katanya.

“Jadi, itulah salah satu contoh di mana kebijakan yang lebih terbuka masuk akal bagi Meksiko mengingat kedekatannya dengan AS, miliaran pengiriman dan perdagangan lintas batas yang dilakukan setiap hari dan ketergantungan mereka pada dolar pariwisata AS.”

Pria bermasker

Vietnam & Singapura Buka Kembali Penerbangan

this formate

HANOI, bisniswisata.co.id: Vietnam dan Singapura sepakat untuk saling mengakui sertifikat vaksin dan segera melanjutkan penerbangan komersial sehingga kedua negara mereka dapat segera melanjutkan perjalanan udara guna menghidupkan kembali sektor ekonomi.

Dilansir dari VN Express, pada pertemuan di Hanoi Senin, Menteri Luar Negeri Bui Thanh Son dan mitranya dari Singapura, Vivian Balakrishnan, sepakat untuk mempercepat pembentukan kelompok kerja untuk pengakuan sertifikat vaksin bersama.

Banyak investor Singapura juga telah mengincar pasar Vietnam dalam beberapa tahun terakhir sementara sekitar 12.000 warga Vietnam tinggal di Singapura.

Vietnam menutup perbatasannya dan membatalkan semua penerbangan internasional pada Maret tahun lalu, dan hanya mengizinkan kategori pengunjung tertentu dengan persyaratan karantina Covid-19.

Singapura baru-baru ini meningkatkan periode karantina menjadi 21 hari karena memerangi wabah yang lebih luas yang dipicu oleh jenis baru virus corona.

Sejak bulan lalu, pengunjung dari Vietnam ke Singapura harus tinggal di rumah selama 21 hari di fasilitas khusus dan menjalani tes reaksi berantai polimerase pada saat kedatangan, 14 hari kemudian dan sebelum akhir periode 21 hari sebagai bagian dari tindakan pencegahan pandemi yang lebih ketat. .

 

WTTC Surati PM Inggris, Ingatkan Kerugian Musim Panas £19,8 Miliar

this formate

Surat WTTC kepada Boris Johnson memperingatkan kerugian harian sebesar £639 juta jika perjalanan internasional tetap terlarang pada bulan Juli

LONDON, bisniswisata.co.id: World Tourism & Travel Council ( WTTC) memprediksi kerugian bulanan £ 19,8 miliar sehingga sedikitnya 218.000 pekerjaan berisiko serius hilang jika perjalanan internasional tetap terlarang selama periode puncak liburan musim panas.

Organisasi dunia ini mendesak rencana empat langkah untuk memulai kembali perjalanan internasional dengan aman karena Inggris Raya akan kehilangan £639 juta per hari selama bulan Juli jika perjalanan internasional tetap terlarang, menurut surat terbuka kepada Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson.

WTTC  yang mewakili sektor Perjalanan & Pariwisata swasta global, telah menulis surat kepada Perdana Menteri Inggris, memperingatkan Inggris menghadapi kemungkinan kerugian 19,8 miliar poundsterling jika perjalanan internasional secara efektif ditunda hingga Agustus.

Selain itu lebih banyak pekerjaan di sektor ini juga berisiko serius kehilangan, jika tidak ada tindakan yang diambil sekarang – selain 307.000 pekerjaan yang hilang di Inggris tahun lalu.

Kondisi Ini mendesak pemerintah untuk membuka pintu bagi perjalanan internasional untuk menghindari menimbulkan kerusakan jangka panjang yang parah pada ekonomi negara – dan untuk mencegah risiko daya saing sektor travel & tourism di Inggris

Surat yang ditandatangani oleh Anggota WTTC termasuk TUI, Silversea Cruises, dan The Travel Corporation, antara lain, memuji kemajuan yang dicapai dengan peluncuran vaksin yang sangat sukses, yang harus dimanfaatkan oleh pemerintah, untuk memungkinkan dimulainya kembali penerbangan internasional yang aman. Mendorong warga bepergian dan mengaktifkan kembali ekonominya.

Surat Itu juga menguraikan empat langkah yang dapat segera diambil oleh pemerintah, yang akan memberikan dorongan yang sangat dibutuhkan untuk bisnis travel & tourism yang sedang berjuang di seluruh negeri, karena khawatir musim panas akan segera berlalu.

“Jika perjalanan internasional tetap terlarang sepanjang bulan Juli, penelitian WTTC telah menunjukkan bahwa setiap hari, Inggris akan kehilangan £639 juta yang mengejutkan dan hal ini sangat menunda pemulihan ekonomi dan daya saing Inggris,” kata Virginia Messina, Wakil Presiden Senior WTTC.

Menurut dia, menghentikan dimulainya kembali perjalanan internasional dapat merugikan negara. “Kami tidak bisa menunda lagi – kami kehabisan waktu dan uang, dengan lebih banyak bisnis yang terancam bangkrut, yang akan mengakibatkan lebih banyak kehilangan pekerjaan,” tegas Virginia Messina

 Namun, ada langkah-langkah yang dapat diambil pemerintah sekarang sehingga pada 24 Juni ketika daftar hijau tujuan perjalanan diperbarui, kita dapat membuat perjalanan kembali dengan aman, membawa kepastian ke pasar yang memohon stabilitas dan membantu memperkuat pemulihan ekonomi, ujarnya.

 “Hanya melalui langkah-langkah ini masa depan akan lebih cerah bagi banyak orang dan kita akan dapat mencapai pemulihan jangka panjang, inklusif dan berkelanjutan.  Pemulihan mobilitas lintas batas yang bebas sangat penting untuk membantu mendorong pemulihan ekonomi dari pandemi.”

Surat terbuka WTTC kepada Boris mengusulkan empat langkah utama berikut:

*Membuka kembali perjalanan internasional dengan mengizinkan warga negara yang divaksinasi lengkap untuk bepergian secara bebas tanpa karantina, baik masuk maupun keluar.

Mereka harus dapat mengunjungi negara-negara dengan tingkat vaksinasi yang sama dan dengan tingkat infeksi yang terbukti rendah, seperti UE, AS, dan Kanada, melalui pendekatan transparan berbasis data yang akan membantu memulihkan kepercayaan konsumen.

*Hapus persyaratan pengujian PCR untuk perjalanan dari negara-negara dalam daftar hijau dan ganti dengan tes cepat atau tanpa tes

*Hanya perlu satu tes untuk mereka yang bepergian dari negara-negara dalam daftar tujuan perjalanan berwarna kuning.  Tes PCR mahal dan tidak nyaman. Penggunaannya akan terus menghalangi orang untuk bepergian baik untuk bisnis maupun liburan.

*Tetapkan tanggal untuk membuka kembali perjalanan internasional – akan diumumkan pada 24 Juni dan dilaksanakan pada 19 Juli, sejalan dengan pembukaan terakhir langkah-langkah sosial di Inggris.

*Pengunjung internasional ke Inggris menghabiskan £35,6 miliar pada tahun 2019, menghasilkan pertumbuhan dan kemakmuran di seluruh negeri, membantu menjadikannya ekonomi terbesar kelima di dunia dalam hal PDB Perjalanan & Pariwisata.

Pada tahun 2019, sektor Perjalanan & Pariwisata berkontribusi 10,1% terhadap PDB Inggris, dan mendukung 4,3 juta pekerjaan, mewakili 12% dari total lapangan kerja.

 Namun, pandemi COVID-19 menjungkirbalikkan dunia ini, menghancurkan sektor travel & tourism dengan 62 juta pekerjaan hilang secara global, sementara lebih banyak lagi yang tetap berisiko.

 

Yakinkan Kesiapan Bali Buka “Border” Juli

this formate

LUMAJANG, Jatim, bisniswisata.co.id: Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, secara tegas meyakinkan semua pihak atas kesiapan “Bali” – pemerintah, industri, masyarakat– membuka “border”internasional.
“Kesiapan pemerintah nya, kesiapan kesehatan masyarakatnya serta kesiapan fasilitas penunjang pariwisata sudah sangat baik. Bicara ketaatan masyarakat Bali pada prokes, sangat luar biasa,” tandas Wagub Bali dalam webinar bertajuk “Persiapan Bali untuk Open Border Internasional yang digelar Jaringan Wisata Muhamadiyah pada Selasa (22/6) sore.
Bali siap buka border internasional
Wagub Bali yang mengikuti webinar dari Pura Mandara Giri, Semeru Agung Lumajang, Jawa Timur memaparkan bahwa dari sisi kesehatan, Bali menunjukkan progres kencang untuk program vaksinasi.
” Dari target 70 persen vaksinasi untuk 4 juta masyarakat Bali sudah lebih dari 50 persen yang sudah tervaksin. Prokes, masyarakat Bali di posisi no 1 secara nasional untuk disiplin pemakaian masker,” jelas Wagub yang akrab disapa Cok Ace ini.
Kesiapan Bali juga ditunjukkan dengan 1000 hotel dan fasilitas pariwisata sudah memiliki standar CHSE. Tiga kawasan telah dirancang sebagai kawasan hijau yakni Ubud, Nusa Dua dan Sanur dengan sistematis. Pola penanganan wisatawan dari mulai datang , karantina dan dibolehkan ke kawasan hijau hingga kembali ke negaranya sudah disiapkan, jelasnya.
Sejatinya, kata Cok Ace, Bali sudah berencana membuka pariwisata sejak September tahun lalu (2020), karena kondisi di lapangan kurang kondusif, dilakukan penjadualan ulang untuk dibuka Juli mendatang.
“Kami semua sangat berharap Juli ini ( dibuka, red). Meskipun belum seratus persen seperti dulu. Ada beberapa pola yang bisa kita coba. Ada travel bubble yang memungkinkan pergerakan wisatawan antar negara atau antar provinsi. Ada pola essensial traveler, free COVID corridor. Beberapa pola yang bisa kita gunakan,” katanya.
Jika memungkinkan, setidaknya Juli ini, tidak ada penundaan. Jika pun nantinya akan ada sistem “buka tutup ‘‘bisa dilakukan andaikata kasus masih dinamis. Namun beberapa bulan ini kondisi pengendalian pandemi sangat baik. “Saya yakinkan kesiapan kami di Bali,” ujar Wagub.
Cok Ace mengingatkan, membuka “border” internasioan untuk Bali, tidak hanya perlu kesiapan Bali tapi juga faktor eksternal seperti kondisi negara asal wisatawan, serta pertimbangan pemerintah pusat, tegasnya.
Domestik
Fasilitas kesehatan setara Singapura atau Kualalumpur
Yang pasti Bali sudah membuka pintu wisdom. Tren untuk datang ke Bali pun meningkat dan stake holder berupaya menjaga keamanan dan kesehatan wisatawan domesti yang berwisata ke Bali. Mendukung pernyataan Cok Ace, Kepala Kantor perwakilan BI Bali, Trisno Nugroho menegaskan kesiapan Bali untuk open international border.
Pemerintah Bali sangat konsen mengendalikan pandemi dan menjaga ekonomi. Setelah dengan upaya pembukaan border domestik, Bali mengupayakan peningkatan fasilitas kesehatan dan
vaksinasi masyarakat. Saatnya masyarakat Indonesia menikmati Bali sebagai ikon pariwisata nasional.
” Obyek wisata yang sudah siap, masyarakat yang sudah banyak tervaksin. Lalu zona hijau di Sanur, Nusa dua, dan Ubud, rumah sakit juga dipersiapkan. Selain mempersiapkan Bali menghadapi wisata pasca pandemi, Bali juga bangkit mengarah ke quality tourism dengan mengembangkan pasar digital nomad, medical tourism. Khusus untuk kesehatan, infrastruktur pendukungnya pun dipersiapkan setara Singapura atau Kuala lumpur,” jelas Trisno Nugroho, yang juga menjabat Wakil Ketua Tim Percepatan Pemulihan Ekonomi Bali.
Di kesempatan yang sama Ketua PP Muhammadiyah yang juga Wakil Ketua MUI Anwar Abbas menegaskan warga Muhammadiyah harus bisa berperan dan berkontribusi, minimal mensosialisasikan bahwa Bali sudah aman.
“Kepastian dan kejelasan dari pemerintah Bali membuat suasana menjadi aman dan terjamin.
Jaringan wisata Muhammadiyah, komit membantu pemerintah Bali,” tutupnya.*

Kapan ‘Border’ di Buka ? 32 Juli 2021.

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pertanyaan itu bukan hanya diajukan oleh masyarakat Bali tetapi juga para wisatawan mancanegara yang mencintai Bali. Maklum sebagai destinasi wisata poluler di dunia, Bali pun menjadi milik dunia.

Hilda Sabri

Begitu banyak orang memendam keinginan untuk segera berwisata ke Bali. Perjalanan “balas dendam” karena sekian lama tidak bisa travelling ini misalnya sudah dipersiapkan turis Ukraina yang siap booking charter flight begitu Bali diumumkan tanggal pembukaannya.

Dwi Yani, wartawan senior yang juga Kepala Perwakilan bisniswisata.co.id & Eksplore! wilayah Indonesia Timur dengan tenang menjawab pertanyaan sesuai judul di atas. ” Border buka. 32 Juli 2021,” ujarnya tanpa ekspresi.

Entah karena bosan mendapat pertanyaan dari berbagai pihak termasuk kalangan pers di luar negri. Pastinya dalam tahun Kabisat hanya sampai tanggal 31 Juli. Jadi tanggal 32 Juli hanya pengalihan yang menunjukkan masih tanggal ketidakpastian.

Memang tidak salah juga sih kalau Kepala negara dan Menparekraf Sandiaga Uno masih terus memberikan jawaban mengambang apalagi dengan situasi belakangan ini dengan kasus COVID-19 yang meroket.

Terakhir dalam Weekly Press Briefing dari Balkondes Borobudur, Magelang,  Jateng, hari ini ( 22Juni) Menparekraf sebut akan tinjau ulang buka botder Bali disesuaikan dengan situasi COVID -19.

“Namun pencet tombolnya itu (kapan ditetapkan dibukanya) tergantung dari situasi COVID-terkini. Persiapannya masih di level 90 persen untuk penyiapan travel corridor arrangement,” ungkapnya.

Permintaan masuknya pesawat charter dari luar negri juga terus bertambah secara signifikan oleh karena itu ujicoba berupa penerbangan charter juga sudah disiapkan, kata Sandiaga Uno.

Kebijakan yang diambilnya adalah berbasis data dan science serta mempertimbangkan sisi ekonomi, kesehatan maupun kesiapan para pelaku ekonomi serta pemerintah setempat sehingga pengumuman terbukanya Bali kata Sandi, akan diumumkan Gubernur Bali sendiri.

Menparekraf bakal menunda pembukaan Bali bagi turis asing apabila pandemi COVID-19 belum menunjukan perbaikan dari jadwal semula yang diharapkan awal Juli dan kini beredar lagi desas-desus jadi 15 Juli 2021.

Menghadapi pertanyaan pers, dia menjelaskan di tengah situasi yang VUCA singkatan dari volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity yaitu fenomena dari situasi dunia yang mengalami perubahan sangat cepat dan cenderung tidak bisa ditebak apalagi ditengah kondisi pandemi global, peranan data jadi sangat penting.

” Oleh karena itu jika para ekonom menanggapi kebijakan kami termasuk Work from Bali atau Work from Destination maka ini adalah inovasi dan adaptasi yang kami lakukan berdasarkan data dan science,” tegas Sandiaga Uno.

Jika suatu kebijakan tidak tepat tinggal dihentikan seperti pembukaan Bali yang harus menunggu hingga kasusnya melandai. Sebagai Pemerintah, pihaknya juga sangat ingin  segera mengucurkan dana hibah, stimulus dan kebijakan lainnya yang hingga akhir semester pertama 2021 ini belum juga turun.

Adapun beberapa program yang bisa dimaksimalkan antara lain dana hibah pariwisata, bantuan insentif pajak, dan permodalan dengan likuiditas. Dana Pemulihan Ekonomi Nasional juga akan dimanfaatkan Sandiaga untuk pelaku UMKM di tengah wacana penguncian wilayah ( lockdown ) mulai dari Jakarta hingga Yogya.

“Kebijakan buka border Bali juga akan disertai kebijakan sebagai tujuan wisata vaksinasi baik bagi wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara,” jelasnya.

Pemerintah akan menunjuk Bali sebagai lokasi destinasi wisata yang akan menjalankan program wisata bervaksin. Program ini dibuat untuk Pulau Dewata demi mendorong perekonomian Bali.

Perkiraan Bank Indonesia Bali untuk semester kedua 2021, perekonomian bahkan akan meluncur lagi ke level 6% sehingga Bali sangat membutuhkan kebijakan yang tepat apalagi di gelombang ketiga COVID ini ada penurunan kunjungan wisatawan nusantara ke Bali.

Bali akan prioritaskan wisatawan yang sudah vaksinasi di samping juga menjadikan vaksinasi sebagai daya tarik karena wisman maupun wisnus yang belum vaksinasi bisa mendapatkan gratis di Pulau dewata.

“Kebijakan ini sudah banyak diterapkan negara lain dan hal ini sudah dilaporkan kepada Bapak Presiden dan sudah mendapatkan persetujuan mengenai usulan tersebut dengan memanfaatkan program vaksin Gotong Royong,” kata Sandi.

Dengan demikian bukan hanya masyarakat Bali yang mendapatkan vaksin, tapi dipastikan para wisatawan yang masuk ke Bali baik wisatawan nusantara maupun wisatawan asing itu sudah dalam kondisi tervaksin, jelasnya

Pengamat pariwisata Wuryastuti Sunario atau akrab di sapa Tuti mengatakan masalah membuka perbatasan ( border)  itu sangat complex

“Tidak tergantung pada  Pemerintah Indonesia saja, tapi terutama pada negara-negara  asal wisman apakah memperbolehkan wisatawannya ke luar negeri,” 

Australia sudah mengumumkan  tutup border sampai pertengahan 2022. Begitu juga dengan Singapura, Malaysia, Vietnam dan banyak lagi. Jadi pembukaan border kaitannya juga dengan negara asal sumber wisman. ” Apakah mereka juga mau buka border apa tidak,” tambah Tuti.

Sebab yang paling mengerikan, ujarnya, adalah masuk virus yang tidak kelihatan terutama varian delta dari India. Begitu satu orang yang terjangkit masuk Bali, maka dalam  waktu sekejap ratusan orang akan ikut terjangkit.

“Saya kira masyarakat Bali perlu dijelaskan mengapa perbatasan Indonesia masih tetap ditutup. Bukan karena keinginan 6 menteri. Bukan juga keinginan Presiden Jokowi. Tetapi karena musuh ganas yang tidak tampak ini yg mengharuskan orang stay at home,” 

Nah terjawab ya kapan pencet tombolmya Bali terbuka bagi Wisman. Kalau mengacu pada organisasi pariwisata dunia seperti WTTC dan IATA, sikap pemerintah di berbagai belahan dunia rata-rata sama saja, mau negara maju di Eropa sampai Amerika Serikat.  Sabaarrr yaa…….

 

 

Digitels, “Malaikat” Hospitality Yang Turun di Bali.

this formate

CANGGU, Bali, bisniswisata.co.id:
Sejatinya selalu ada kemudahan dibalik kesulitan. Di Bali saat para pemilik hotel berburu waktu dan terdesak dari segala arah untuk melepas aset guna menyelesaikan utang-utang ke berbagai pihak, Digitels datang ke Bali.

Ibarat malaikat hospitality,  kehadiran Digitels dalam ‘diam’ sudah menanamkan investasi akhirat bagi pemiliknya yaitu Tiandy dan Jeremy yang menolong banyak orang di destinasi utama negri ini.

” Tentunya tidak ada yang kebetulan karena jika kita yakin Tuhan ada dan maha penolong maka pertolongannya bisa datang kapan saja,” kata Jeremy dan Tiandy, founder Digitels saat ditemui di Signature Seminyak 4.0 Smart Hotel & Residences di Jl. Mertanadi No.74, Kerobokan, Kec. Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali

Tanpa berorientasi pada keuntungan, keduanya merasa tertantang untuk mengaplikasikan inovasi karya mereka sebagai startup pertama di dunia yang dapat mengubah sebuah hotel biasa menjadi smart hotel lengkap dengan aplikasi (B2B & B2C).

Tiandy yang berpengalaman di bidang game online dan Jeremy yang berpengalaman 25 tahun di bidang hospitality jaringan hotel internasional membangun PT Aplikasi Pintar Indonesia.

Sejak tahun lalu mereka telah memperkenalkan Digitels, startup layanan akomodasi berbasis teknologi dengan ekosistem digital 4.0 secara menyeluruh.

“Kunci keunggulannya adalah Digitels brain yang dapat diimplementasikan pada hotel, melalui sistem yang terhubung, berjalan dan digunakan melalui aplikasi,” kata Tiandy.

Kondisi pandemi global COVID-19 yang membuat pariwisata Bali terpuruk membuat keduanya langsung work from Bali sejak tahun lalu. Keduanya mengaku ikut prihatin dengan nasib para pebisnis perhotelan yang ada.

” Akhirnya kami ambil alih property hotel yang mau dijual. Kami sewa sepuluh tahun dan kami jadikan smart hotel lengkap dengan aplikasinya. Pemilik hotel yang bekerja sama dengan kami tetap memiliki hotelnya ketika situasi sudah normal. Percayalah COVID-19 akan berlalu ,” kata Tiandy.

Kini Signature Seminyak Smart Hotel by Digitels punya tungkat hunian 70% dari 100 an kamar yang ada. Tiandy mengatakan manajemen hotelnya tidak ragu memberikan harga kamar senilai harga sewa kamar kost karena situasi pandemi harus memikirkan kemampuan orang lain meski lokasinya di Seminyak dekat Sun Set Road sangat strategis.

Dewa penolong bagi hotel yang baru beroperasi langsung menghadapi pandemi global ini mengintegrasikan rangkaian layanan akomodasi dengan aplikasi yang mudah diimplementasikan pada fasilitas yang diinginkan.

Digitels terbukti membawa perubahan revolusioner pada sektor perhotelan, baik dari segi biaya operasional, efisiensi layanan, standar kesehatan dan keamanan, serta peningkatan Gross Operating Profit (GOP).

Dengan smart hotel conversion (SHC), Digitels E-system dapat mengubah Hotel, Apartemen, Condotel, Perkantoran dan Rumah Pribadi menjadi ekosistem pintar 4.0 berbasis IOT.

“Digitels adalah ekosistem digital berbasis cloud pertama di dunia yang memiliki semua perangkat lunak yang dibutuhkan hotel untuk beroperasi berdasarkan IoT ( Internet of Things),”

Tiandy menjelaskan, pemasangan E-system ini sangat mudah dan praktis dan pemilik tidak perlu mengganti peralatan, furnitur atau piranti yang sudah ada. Semua langsung aktif setelah terhubungkan dengan digitels brain.

Digitels akan membantu pemilik hotel untuk menurunkan biaya operasional, efisiensi staf, menggantikan sepenuhnya kunci/kartu, penghematan energi, waktu dan operasional. Kemudian semuanya akan berdampak meningkatkan 10-30% pada pendapatan.

“TV tabung yang masih digunakan di banyak hotel dan homestay juga tetap bisa digunakan tanpa sentuh semua berkat brain technology yang ada,” kata Jeremy menambahkan.

Dia lalu memperagakan perintah pada aplikasi ketika penghuni kamar berada di luar yaitu di Beach Walk Mall Kuta,  sementara anaknya yang sekamar usai berenang ingin masuk kamar.

” Ibunya tinggal mengendalikan melalui aplikasi di handphonenya untuk membuka kamar sehingga sang anak bisa masuk kamar dengan kendali jarak jauh. Mudahkan ?,” kata Jeremy santai.

Tekhnologinya  dapat mengubah hotel konvensional apa pun menjadi hotel pintar tanpa properti harus mengubah fitur elektronik apa pun yang ada di kamar

“Karena kami adalah touchless, cashless dan paperless, hotel yang menggunakan Digitels dapat menyesuaikan dengan Protokol Kesehatan & Keselamatan Konsep Hotel New Normal,” tegasnya.