foto bersama

Moslem Friendly Tourism Jadi Fokus Utama Program Kerja MES Korsel

this formate

SEOUL,  bisniswisata.co.id: Pengurus Wilayah Khusus MES Korea Selatan mengadakan pertemuan dengan KBRI Seoul dan BNI Seoul di kantor Kedutaan Republik Indonesia di Seoul. 

Pertemuan pertama pasca disahkannya Pengurus Wilayah Khusus Masyarakat Ekonomi Syariah ( MES) cabang Korea Selatan pada 24 Juni 2021 lalu dan menjadi langkah awal bagi MES Korea Selatan dalam membangun komunikasi dan sinergi dengan diaspora Indonesia yang ada di Seoul.

Hadir dalam pertemuan akhir Juni lalu, Ketua Umum dan sekretaris Umum PWK MES Korea Selatan, Mohammad Musafak dan Rusdi Syamsudin, Minister Councellor for Investment and Trade KBRI Seoul, Ani Nigeriawati, dan General Manager BNI Seoul, Anisfu Zahri Husin.

Mohammad Musafak menjelaskan bahwa pertemuan antara MES Korea Selatan dengan KBRI Seoul dan BNI Seoul dalam rangka membahas rencana program kerja di awal kepengurusan yang akan difokuskan pada pengembangan dan optimalisasi potensi moslem-friendly tourism di Korea Selatan.

Musafak menambahkan bahwa MES Korea Selatan memiliki misi untuk ikut berkontribusi membangun bangsa dengan berpartisipasi aktif dalam menggali potensi industri halal luar negeri, dalam hal ini potensi  halal food dan halal tourism di Korea Selatan.

Dalam kesempatan yang sama, Ani Nigeriawati mengatakan bahwa KBRI Seoul menyambut baik dan siap bersinergi dengan MES Korea Selatan untuk mendorong terciptanya kemudahan bagi produk UMKM Indonesia untuk memasuki pasar Korea Selatan.

Ani menambahkan bahwa kebutuhan produk-produk halal di Korea Selatan saat ini semakin meningkat seiring dengan jumlah populasi muslim di Korea yang semakin bertambah. 

Pihaknya berharap, KBRI Seoul dan MES Korea Selatan bisa saling bersinergi mendukung pemerintah termasuk dalam upaya pemulihan ekonomi Indonesia di masa pandemi.

Sementara itu, mewakili BNI Seoul, Anisfu Zahri Husin menjelaskan, sebagai satu-satunya Bank dari Indonesia yang ada Korea Selatan, pihaknya siap bekerja sama dengan MES Korea Selatan dalam menjalankan program kerja yang telah dicanangkan. 

Anisfu juga berjanji akan menyampaikan perihal terbentuknya kepengurusan MES Korea Selatan ini ke perwakilan Bank Indonesia yang ada di Tokyo dimana Korea Selatan termasuk salah satu kewenangan dan wilayah kerja Bank Indonesia di Tokyo.

 

IATA : Optimisme Untuk Mulai Kembali Perjalanan 

this formate

MONTREAL, bisniswisata.co.id: IATA dan Tourism Economics baru-baru ini merilis pandangan jangka panjang untuk pemulihan permintaan penumpang pasca-COVID-19 yang menunjukkan bahwa orang-orang tetap bersemangat untuk bepergian dalam jangka pendek dan panjang.

Sorotan perkiraan meliputi:

Pada tahun 2021, jumlah penumpang global diperkirakan akan pulih menjadi 52% dari tingkat sebelum COVID-19 (2019).

Pada tahun 2022, jumlah penumpang global diperkirakan akan pulih hingga 88% dari tingkat sebelum COVID-19.

Pada tahun 2023, jumlah penumpang global diperkirakan akan melampaui tingkat sebelum COVID-19 (105%).

Pada tahun 2030, jumlah penumpang global diperkirakan akan tumbuh menjadi 5,6 miliar. Itu akan menjadi 7% di bawah perkiraan pra-COVID-19 dan perkiraan kerugian pertumbuhan 2-3 tahun karena COVID-19.

Dilansir dari Travelbiznews.com, setelah tahun 2030 perjalanan udara diperkirakan akan melambat, karena demografi yang lebih lemah dan asumsi dasar tentang liberalisasi pasar yang terbatas.

Ini memberikan pertumbuhan tahunan rata-rata antara 2019 dan 2039 sebesar 3,2%. Prakiraan pertumbuhan pra-COVID-19 IATA untuk periode ini adalah 3,8%.

Pemulihan jumlah penumpang sedikit lebih kuat daripada pemulihan permintaan yang diukur dalam pendapatan penumpang kilometer (RPK), yang diperkirakan akan tumbuh rata-rata tahunan sebesar 3% antara 2019 dan 2039.

Hal Ini karena kekuatan yang diharapkan dari pasar domestik seperti China dengan jumlah penumpang yang besar dan jarak yang lebih pendek.

Kerusakan akibat krisis COVID-19 akan terasa selama bertahun-tahun yang akan datang, tetapi semua indikasi adalah bahwa orang-orang telah mempertahankan kebutuhan dan keinginan mereka untuk bepergian.

Setiap kemungkinan untuk membuka kembali perbatasan dipenuhi dengan lonjakan pemesanan secara instan. Contoh terbaru adalah lonjakan 100 poin persentase dalam pemesanan dari Inggris Raya ke Portugal ketika “Daftar Hijau” Inggris diumumkan pada awal Mei.

Ekonomi kuat dan dapat mendorong pertumbuhan dalam perjalanan. Tingkat produksi industri Februari 2021 mencapai 2% di atas level Februari 2019.

Konsumen telah mengumpulkan tabungan dalam penguncian, dalam beberapa kasus melebihi 10% dari PDB.

Tingkat vaksinasi di negara maju (dengan pengecualian Jepang) harus melebihi 50% dari populasi pada kuartal ketiga tahun 2021. – IATA

 

Setelah Phuket, Koh Samui dibuka kembali pada 15 Juli 

this formate

Menyusul peluncuran Program Phuket Sandbox  yang mulus pada 1 Juli lalu, Koh Samui dijadwalkan untuk dibuka kembali pada 15 Juli mendatang.

BANGKOK, bisniswisata.co.id: Aplikasi untuk Certificate of Entry (COE) di bawah program Samui Plus akan dibuka minggu ini untuk turis yang divaksinasi.

Yuthasak Supasorn, Gubernur Tourism Authority of Thailand (TAT), mengatakan tidak akan ada penundaan untuk persetujuan pembukaan kembali.

Melansir dar iTravel Daily Media, program ini hanya membutuhkan stempel persetujuan dari Center for Covid-19 Situation Administration (CCSA) untuk memulai proses pendaftaran.

Setiap penumpang yang bepergian ke Koh Samui harus mengisi pernyataan kesehatan pribadi secara online dan harus mengikuti prosedur berikut untuk perjalanan mereka:

*Hari 0 (menunggu)*
• Tes PCR pertama di bandara, karantina kamar di hotel ALQ
*Hari 1 – 3 (Karantina Area)*
• Jika hasil tes PCR negatif, traveler bisa bersantai dan menikmati area di dalam hotel ALQ
*Hari 4 – 7 (Rute Tertutup)*
• Wisatawan bebas melakukan aktivitas di ‘rute tertutup’ yang disetujui oleh kesehatan umum approved
• Tes PCR kedua
• Setelah 7 hari, dengan hasil tes negatif, tamu dapat check out dari hotel ALQ
*Hari 8 – 14*
• Menginap di hotel atau vila mana pun yang bersertifikat SHA Plus (Samujana!)
• Tes PCR ketiga
• Jika hasil tes PCR negatif maka traveler bisa bebas bepergian di Koh Samui, Koh Phangan & Koh Tao
• Wisatawan harus menginap di SHA plus hotel bersertifikat

Setelah tinggal dua minggu penuh di daerah yang ditentukan, wisatawan dengan hasil negatif akan bebas melakukan perjalanan ke provinsi lain secara nasional.

Rio The Survivor Raih 24 Penghargaan Internasional

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Di tengah badai pandemi COVID -19 di Indonesia yang kian mengkhawatirkan hingga berdampak pada segala sendi kehidupan termasuk menggangu industri film nasional, kabar gembira kembali diperoleh dari film Rio The Survivor.

Film yang diangkat dari kisah nyata tersebut masuk nominasi di Durban International Film Festival (DIFF), Afrika Selatan.  Fesival film paling bergengsi di benua Afrika tersebut telah berusia 42 tahun dan menjadi salah satu ajang kualifikasi untuk Academy Award.

Untuk tahun 2021, DIFF menerima lebih dari 3.000 film dari berbagai belahan dunia dan telah dipilih 35 film yang masuk nominasi Film Terbaik kategori Feature atau film panjang, demikian dalam rilisnya.

“Prestasi tersebut menambah daftar apresiasi dan penghargaan yang telah diraih oleh film Rio The Survivor,”  kata Yudie Oktav, produser sekaligus sutradara Rio The Survivor.

Sejauh ini Rio The Survivor telah meraih 24 penghargaan dari berbagai festival film internasional di berbagai negara dengan perincian 19 sebagai pemenang dan 5 sebagai finalis dan nominasi, yang dua diantaranya masih berlangsung yakni di Spanyol dan Afrika Selatan.

Tidak hanya masuk nominasi di DIFF, Rio The Survivor juga akan ditayangkan secara perdana di Afrika Selatan. Panayangan khusus hanya untuk wilayah Afrika Selatan tersebut akan berlangsung pada 23 Juli hingga 1 Agustus 2021.

“Tentu kami sangat bangga dan merasa terhormat karena Durban International Film Festival merupakan salah satu festival film yang cukup bergengsi ” tambahnya.

Hal ini kembali memberi gambaran bahwa Rio The Survivor mendapat tempat di perfilman internasional karena banyak festival film internasional di berbagai negara yang memberikan apresiasi dan penghargaan kepada Rio The Survivor,” ucap Yudie Oktav.

Setelah tayang di Afrika Selatan, selanjutnya Rio The Survivor kemungkinan besar akan tayang di Malaysia karena sudah ada yang membeli hak penayangan di Malaysia. Bagaimana dengan di Indonesia, kapan akan tayang di negeri sendiri?

“Seperti yang banyak terjadi, karya anak bangsa yang berprestasi dan diakui di luar negeri justru kerap tidak mendapat tempat di negeri sendiri. Kebanyakan masyarakat kita kecenderungannya lebih bangga pada mimpi, budaya, dan karya dari luar. Jadi, sejujurnya saya belum tahu kapan akan tayang di Indonesia,” jawab sosok yang banyak berkecimpung di dunia jurnalistik ini.

“Semoga saja bisa segera tayang di Indonesia, karena banyak pesan moral yang sangat mendalam di film Rio The Survivor yang memang ditujukan untuk masyarakat dan anak-anak Indonesia,” sambung Yudie.

Hidup dengan HIV

Rio The Survivor sendiri berkisah tentang persahabatan dan perjuangan anak yang hidup dengan HIV untuk nendapatkan hak hidup dan pendidikan. Para pemainnya diperankan sangat bagus oleh anak-anak dan para pemain yang sebagian besar berasal dari Yogyakarta. 

Rio sebagai tokoh utama diperankan sangat luar biasa oleh Raditya Evandra, bintang muda berbakat yang juga pernah dinobatkan sebagai Pemeran Anak Terbaik pada Indonesia Movie Actors Award dalam film Kucumbu Tubuh Indahku. 

Di Rio The Survivor, Evan pun dinobatkan sebagai Best Actor di Rumania, Swedia, India, dan Venezuela. Sedangkan Yudie dinobatkan sebagai Best Director di Inggris, India, Venezuela, serta meraih Best Script Writer di India dan Best Screenplay di Venezuela.

Untuk filmnya sendiri, Rio The Survivor dinobatkan sebagai Best Movie di Inggris, Turki, Swedia, India, Venezuela, Honorable Award Best Film di Italia, serta beberapa nominasi di beberapa negara termasuk di festival yang masih berlangsung di Spanyol dan Afrika Selatan.

Selain pemain-pemain dari Yogyakarta, film Rio The Survivor didukung oleh Bambang Pamungkas, mantan bintang sepak bola tim nasional Indonesia, dan gitaris Slank, Ridho Hafiedz, yang bertindak sebagai music director. Sedangkan untuk soundtrack film melibatkan band legendaris Godbless, /rif, Buluk bersama band Kausa, dan Jikunsprain.

DAFTAR AWARD RIO THE SURVIVOR:

  1. Best Movie di London Independent Film Awards, Inggris
  2. Best Movie di Best Istanbul Film Festival, Turki
  3. Best Movie di Stockholm City Film Festival, Swedia
  4. Best Movie di Uruvatti International Film Festival, India
  5. Best Movie di Five Continents International Film Festival, Venezuela
  6. Honorable Award Best Film di Florence Film Awards, Italia
  7. Best Director, Yudie Oktav, di London Independent Film Awards, Inggris
  8. Best Director, Yudie Oktav, di Uruvatti International Film Festival, India
  9. Best Director, Yudie Oktav, di Five Continents International Film Festival, Venezuela
  10. Best Script Writer, Yudie Oktav, di Uruvatti International Film Festival, India
  11. Best Screenplay, Yudie Oktav, di Five Continents International Film Festival, Venezuela
  12. Best Actor, Raditya Evandra, di Eastern Europe Film Festival, Romania
  13. Best Actor, Raditya Evandra, di Stockholm City Film Festival, Swedia
  14. Best Actor, Raditya Evandra, di  Uruvatti International Film Festival, India
  15. Best Young Actor, Raditya Evandra, di Five Continents International Film Festival, Venezuela
  16. Best Supporting Actress: Sri Widayati, di Five Continents International Film Festival, Venezuela
  17. Special Mention Original Score:, Ridho Hafiedz, di Five Continents International Film Festival, Venezuela
  18. Best Production, Yudie Oktav & Moh. Unggul, di Five Continents International Film Festival, Venezuela
  19. Best Sound Design, H. Maman, di Five Continents International Film Festival, Venezuela

FINALIS & NOMINASI:

  1. Best Movie di Eastern Europe Film Festival, Rumania
  2. Best Movie di Barcelona Indie Filmmakers Festival, Spanyol (masih berlangsung)
  3. Best Movie di Rome Independent Prisma Awards, Italia
  4. Best Director di Best Film Awards, London, Inggris
  5. Best Movie di Durban International Film Festival, Afrika Selatan (masih berlangsung)
patung

Tidak ada Maskapai Bahas Kemungkinan Direct Flight ke Phuket

this formate

PHUKET, bisniswisata.co.id: Sejauh ini belum ada maskapai yang memulai negosiasi untuk rute penerbangan yang akan ditetapkan dengan Phuket, Thailand, kata Direktur Humas Kantor Pariwisata Pemerintah Macau (MGTO), Lau Fong Chi.

Melansir dari Macau Business, pekan lalu, Thailand membuka pulau resor populer Phuket untuk orang asing yang divaksinasi sepenuhnya dari negara-negara berisiko rendah, yang memungkinkan pelancong dari daerah berisiko rendah hingga menengah – termasuk Makau – bepergian di wilayah tersebut.

Paket sandbox  terbuka untuk pengunjung asing dewasa, yang harus memberikan bukti dua vaksinasi, tes COVID-19 negatif tidak lebih dari 72 jam sebelum keberangkatan, dan bukti polis asuransi yang mencakup perawatan untuk virus setidaknya US$ 100.000, antara lain.

Setelah 14 hari, pengunjung dapat melakukan perjalanan ke tempat lain di Thailand. Pengunjung yang bepergian dari Thailand ke Makau masih harus menyelesaikan karantina 21 hari.

Saat ini, penerbangan yang beroperasi dari Makau melibatkan tujuan di Daratan China, Taiwan atau Singapura.

bandara

Emirates Siap Hadapi Musim Panas yang Padat

this formate

DUBAI, bisniswisata.co.id: Hari-hari tersibuk untuk maskapai adalah dua akhir pekan berikutnya, 2 hingga 3 Juli dan 9 hingga 10 Juli, meskipun lalu lintas penumpang yang tinggi diperkirakan akan  berlangsung hingga 12 Juli.

Dilansir dari TTRWeekly, selain, hampir 100.000 penumpang akan tiba di Dubai dengan penerbangan Emirates untuk memulai liburan musim panas mereka selama periode yang sama.
Semua titik kontak Emirates dan DXB sepenuhnya siap untuk mengelola peningkatan lalu lintas penumpang, dengan langkah-langkah dan protokol yang dirancang untuk meningkatkan keselamatan saat calon penumpang bergerak melalui Terminal 3.

Hal Ini termasuk protokol pembersihan yang kuat dan konsisten untuk area lalu lintas tinggi seperti kursi dan pegangan tangan; teknologi pembersih modern untuk permukaan di ruang tunggu khusus Emirates yang membuatnya bebas kuman lebih lama.

Begitu pula langkah-langkah jarak sosial melalui marka lantai, signage, dan karyawan bandara dengan aman mengelola arus penumpang; stasiun pembersih tangan serta partisi Plexiglas di meja check-in Emirates dan di Lounge Emirates, di antara banyak tindakan lainnya.

Calon penumpang sangat dihimbau untuk tiba di bandara setidaknya tiga jam sebelum keberangkatan penerbangan mereka untuk menghindari penundaan.

Penumpang didorong untuk menambah waktu perjalanan mereka dengan lalu lintas jalan raya yang diperkirakan akan memasuki Terminal 3.
Calon penumpang juga diingatkan untuk meninjau persyaratan perjalanan terbaru ke tujuan yang mereka pesan.

Ini termasuk apakah formulir, sertifikat vaksinasi, atau tes PCR negatif diperlukan di Emirates Travel Hub, yang memiliki informasi terbaru untuk setiap negara di jaringan rute maskapai.

Penumpang dapat secara fisik check-in dan menurunkan bagasi mereka di konter Emirates mana pun 24 jam sebelum keberangkatan. Semua penumpang yang melakukan check-in fisik di bandara diminta untuk check-in selambat-lambatnya 3 jam sebelum keberangkatan.

Calon penumpang yang hadir kurang dari 60 menit sebelum jadwal keberangkatan penerbangan mereka tidak akan diterima untuk perjalanan. Mereka juga dapat melakukan check-in online 48 jam hingga 90 menit sebelum keberangkatan penerbangan.

Mereka yang memilih untuk check-in online diingatkan untuk mengunjungi konter check-in Emirates atau kios nirsentuh untuk menyelesaikan pemeriksaan dan formalitas dokumentasi perjalanan yang diperlukan.

Para penumpang juga disarankan untuk memastikan mereka tiba di gerbang keberangkatan tepat waktu. Gerbang dibuka 90 menit sebelum keberangkatan, keberangkatan dimulai 45 menit sebelum setiap penerbangan, dan gerbang ditutup 20 menit sebelum keberangkatan.

Pengalaman tanpa sentuhan dan tanpa kertas untuk perjalanan yang lebih mulus.

Pengguna Emirates dapat menantikan pengalaman bandara yang lebih mudah dan bebas repot dengan check-in tanpa kontak, jalur biometriknya, dan verifikasi digital informasi medis COVID-19.

Maskapai ini telah mempertajam fokusnya pada teknologi dan layanan yang mengoptimalkan pemrosesan penumpang untuk meminimalkan antrean demi pengalaman cepat yang mengutamakan keselamatan dan efisiensi.

Secara signifikan mengurangi waktu tunggu, kios nirsentuh Emirates sepenuhnya dikendalikan oleh perangkat seluler pribadi tanpa perlu menyentuh layar, menyediakan cara lain bagi penumpang untuk menikmati pengalaman pra-naik yang aman dan efisien.

Bersamaan dengan check-in, calon penumpang dapat memilih kursi di pesawat, menurunkan tas mereka, dan bahkan membayar produk tambahan seperti bagasi tambahan.

Calon penumpang juga dapat menggunakan jalur biometrik Emirates untuk perjalanan tanpa kontak melalui 18 meja check-in dan tujuh gerbang boarding biometrik, tanpa pemeriksaan dokumen dan antrian yang lebih sedikit.

Maskapai ini  juga memimpin dalam menyediakan lebih banyak cara bagi calon penumpangnya untuk memenuhi persyaratan kesehatan sebelum keberangkatan melalui verifikasi digital.

Calon penumpang yang terbang antara Dubai dan London, Barcelona, Madrid, Istanbul, New York JFK, Moskow, Frankfurt, Charles De Gaulle, dan Amsterdam sekarang juga dapat menggunakan IATA Travel Pass untuk mengelola dokumentasi perjalanan COVID-19 mereka, termasuk vaksinasi dan hasil tes PCR terbaru.

Maskapai ini sedang mengembangkan rencana untuk meluncurkan solusi IATA Travel Pass di seluruh jaringan globalnya musim panas ini.
Pada bulan Juli, Emirates juga akan menghubungkan aplikasi Alhosn dengan sistem check-innya, selain integrasi yang sudah ada dengan Otoritas Kesehatan Dubai (DHA).

Calon penumpang akan mendapatkan keuntungan dari pengambilan digital dan verifikasi rekam medis COVID-19 untuk pengalaman tanpa kertas di mana pun di UEA mereka telah menyelesaikan vaksinasi atau PCR COVID-19 dan tes antigen.

 

Pasca Pandemi Apakah Overtourism Akan Kembali ?

this formate

AMSTERDAM, bisniswisata.co.id: Kota Amsterdam, dengan populasi sekitar 860.000, memiliki 20,3 juta pengunjung pada 2018, dan sekitar dua juta lebih banyak pada 2019. Banyak, atau bahkan mayoritas, datang ke Rembrandt di Rijksmuseum, untuk melihat bunga matahari Van Gogh, untuk lihat  Anne Frank House atau untuk menyusuri kanal.

Dilansir dari Tourism-review.com banyak lainnya adalah turis bermasalah. Mereka datang dalam tour bir, tour obat bius, mabuk, dilempari batu, berkeliaran di jalanan sambil menangis. Sekarang, alkohol tidak boleh lagi dijual setelah pukul sepuluh malam.

Ada aturan siapa pun yang menangis di malam hari, tidur di mobil mereka atau hanya parkir di suatu tempat, buang air kecil di kanal, mengadakan pesta perahu yang keras, atau membawa ganja atau gas tertawa harus membayar denda. “Tuan rumah” akan mendukung pekerjaan polisi.

Ada beberapa pendekatan untuk membatasi overtourism yang bermasalah dalam beberapa tahun terakhir. “City in Balance” berusaha memprioritaskan kebutuhan warga; “Enjoy & Respect” menggunakan penargetan Facebook dan Instagram untuk membuat wisatawan yang berpotensi bermasalah menyadari hukuman berat untuk perilaku yang tidak diinginkan dan secara proaktif mengekangnya.

Mengingat turis tampaknya tidak diharapkan untuk berubah, kota harus berubah. Sebagai langkah pertama, prostitusi adalah pindah dari De Wallen ke pusat-pusat erotis, di pinggiran kota.

Apakah Mood Akhirnya Berubah?

“Kami melewatkan kesempatan,” kata Andreas Kagermeier. Dia adalah seorang peneliti pariwisata, yang mengajar di Universitas Trier. Pada tahun 2017, ketika perlawanan penduduk kota menyebar dari Barcelona ke Dubrovnik, ke Venesia dan juga ke Amsterdam, dan media akhirnya menemukan kata “overtourism”, industri pariwisata dan ilmu pariwisata sama-sama terkejut.

“Kami belum membuat sistem peringatan dini. Kami baru bangun ketika penduduk tiba-tiba pergi ke barikade. Masalahnya, seperti yang dia lihat, adalah bahwa “setelah suasana hati membaik, hampir tidak mungkin untuk memperbaikinya “kata Kagermeier. ”

Anda dapat menggunakan batasan, seperti yang coba dilakukan Hallstatt, atau dengan biaya masuk seperti Dubrovnik. Namun, pada akhirnya, Anda harus untuk menggambar garis keras.” Garis keras Dubrovnik saat ini hanya di bawah 40 euro. Itulah berapa biaya untuk melihat kota di dalam temboknya, ujarnya.

Amsterdam, Barcelona atau Venezia, Salzburg, Hallstatt atau bahkan Dubrovnik memiliki kesamaan yang tampaknya menentukan mereka untuk fenomena overtourism: turis dan penduduk lokal hampir tidak dapat menghindari satu sama lain.

Wisatawan muncul secara massal, berduyun-duyun ke tempat wisata yang sama berulang-ulang, biasanya tinggal untuk liburan singkat di kota atau bahkan hanya perjalanan sehari. Relatif mudah untuk melihat kepadatan sebagai kemacetan.

Bentuk pariwisata massal ini perlahan muncul dengan kapal pesiar yang terus berkembang, dengan preferensi baru untuk liburan pendek, dan dengan pemerintah kota dan industri yang sama-sama menginginkan satu hal di atas segalanya: Pertumbuhan.

Di Barcelona, ​​jumlah penginap semalam telah meningkat sepuluh persen setiap tahun sejak 1995. Yang terdengar moderat dan stabil bukanlah: dari 2010 hingga 2019, jumlah turis meningkat lebih dari dua kali lipat dari tujuh juta menjadi 20,3 juta.

Untuk Palma de Mallorca, ledakan terjadi setelah krisis keuangan dengan kapal pesiar. Alih-alih sekitar 550.000 turis seperti pada 2009, 1,2 juta sekarang turun di ibu kota pulau itu.

Di Barcelona, ​​Palma de Mallorca atau Venesia, kapal-kapal raksasa membuang antara 15 dan 20.000 penumpang setiap hari ke jalan-jalan sempit dan mencemari udara dengan belerang dioksida yang jauh lebih banyak daripada lalu lintas mobil.

Di Venesia, MS Orchestra sudah berlayar melewati tengah laguna pada awal Juni. Mustahil untuk berbicara tentang pengusiran kapal pesiar dari Venesia, kata penulis Petra Reski di blog Venice-nya.

Penggunaan wisata Venesia, yang dimulai paling lambat sekitar tahun 2000, akan terus berlanjut, terlepas dari semua pernyataan yang bertentangan oleh pemerintah kota, sebelum dan sesudah Corona.

Venesia memiliki sekitar 33 juta wisatawan per tahun, pelabuhan diprivatisasi. Bahkan tempat berlabuh baru yang direncanakan untuk kapal pesiar akan dibiayai oleh investor seperti kelompok baja Duferco dan tidak akan mengubah apa pun tentang masalah struktural.

Fakta bahwa penduduk setempat tidak menginginkan penjualan ini tidak memperlambat pembangunan. “Fase Corona tidak digunakan untuk mendengarkan lebih dekat penduduk,” kata Kagermeier mengacu pada kasus semua kota.

Selama jeda wajib, meskipun diprotes, beberapa di antaranya besar-besaran, ada grosso modo tidak fokus pada pendekatan partisipatif. Hasilnya: “Tidak ada tanda-tanda pariwisata pascapandemi terlihat berbeda dari sebelumnya.”

Overtourism sebagai Gejala

Sesuatu dapat dilakukan untuk itu meskipun pendekatan seperti “pemerataan”, di mana Anda mencoba menarik perhatian wisatawan ke destinasi lain atau menyebarkannya secara lebih merata sepanjang tahun, biasanya tidak berhasil: wisatawan yang ingin melihat Sagrada Familia ingin langsung melihatnya.

Mereka yang ingin naik kapal pesiar ingin langsung merasakannya dan m ereka yang ingin berpesta akan pergi ke Ballermann di Mallorca. Kota-kota, yang secara finansial tertekan oleh krisis, berharap pariwisata akan segera bangkit kembali.

Hanya delapan juta pengunjung datang ke Amsterdam pada 2020. 11 persen pekerjaan Amsterdam bergantung pada pariwisata. Oleh karena itu, kotamadya Amsterdam menggambarkan skenario yang menurutnya mungkin ada lebih sedikit lagi, yaitu tujuh juta, pada tahun 2021 sebagai “kasus terburuk”.

Di Barcelona, ​​para turis mulai memperhatikan ketika Airbnb menghantam pasar perumahan dan tenaga kerja yang terpukul oleh krisis keuangan. Sebuah studi tahun 2019 oleh Universitat Autònoma de Barcelona menyimpulkan bahwa tujuh persen kenaikan sewa disebabkan oleh Airbnb. Dengan sewa yang sudah tinggi, pengangguran yang tinggi dan upah riil yang stagnan, efek ini kemudian menjadi masalah.

Apakah Pengunjung Lebih Baik Dari Turis?

Overtourism, kara Kagermeier menekankan, bukanlah konsep yang jelas. Sebaliknya, ini menggambarkan suasana hati yang hanya dapat dikaitkan secara longgar dengan penyebab tertentu.

Tidak ada kota yang ingin suasana berubah. Kota-kota seperti Wina, Kopenhagen, dan bahkan Barcelona tentu saja memantau bagaimana populasi mereka terhadap turis. Untuk Kopenhagen, itu sudah menjadi tanda peringatan ketika peringkat persetujuan untuk pariwisata turun di bawah delapan puluh persen, lapor Kagermeier.

Di Barcelona, ​​persetujuan saat ini mencapai tujuh puluh persen. Seberapa tinggi persetujuan pada akhirnya juga tergantung pada berapa banyak penduduk perempuan yang mendapat untung dari pariwisata.

Sebelum Corona, Wina baru saja mengembangkan strategi baru untuk pariwisata Wina. Tanpa banyak kebutuhan, seperti yang mungkin diasumsikan, karena menurut survei oleh “Wien Tourismus”, badan kota yang bertanggung jawab atas manajemen pariwisata, sembilan dari sepuluh orang Wina sepenuhnya mendukung pariwisata.

Norbert Kettner, direktur Pariwisata Wina, juga mengaitkan fakta bahwa Wina tidak pernah terpengaruh oleh pariwisata berlebihan dengan tata letak kota yang murah hati. Ada cukup ruang untuk semua orang.

“Strategi Ekonomi Pengunjung,” yang dikembangkan pada tahun 2019 dengan Kota Wina, industri pariwisata, pengembang perkotaan dan real estat, perdagangan perwakilan distrik, penyedia mobilitas, universitas, dan dewan penasihat internasional, memiliki jenis teori jendela pecah sendiri.

Teori ini seperti yang pernah terjadi di New York pada awal 1980-an: jika terlalu banyak toko suvenir muncul, pembatasan akan diberlakukan, seperti penjualan tiket konser di jalanan. “Apa pun yang berkontribusi pada ‘penjualan’ ruang publik – mobil listrik norak atau penjualan di jalanan yang melimpah – harus dilihat sebagai tanda peringatan,” kata Kettner.

Wina juga memiliki masalah Airbnb, ditangguhkan karena alasan Corona, mirip dengan Barcelona. Pada tahun 2017, sebuah studi oleh Universitas Teknologi Wina menunjukkan bahwa pasar perumahan Wina kehilangan sekitar 2.000 apartemen karena persewaan turis. Masalah bagi Wina dan hotel sama-sama yang masih limbo.

Sekarang, setelah pandemi atau lebih tepatnya di masa pandemi, situasi di Wina menjadi ambivalen. Pariwisata Wina ingin terus mempromosikan “pariwisata berkualitas” dan untuk memikat pengunjung ke distrik lain sejauh Transdanubia, di sisi lain Danube.

Bagi mereka yang datang ke Wina dengan mobil, idenya adalah meningkatkan kedatangan dengan kereta api. Namun,

“peredam drastis” pada pandemi membuat banyak bisnis hotel tidak lagi memiliki cadangan. “Dalam gema krisis, kita terutama harus membangkitkan frekuensi lagi,” rangkum Kettner.

Namun, dia juga mengharapkan pariwisata pulih pada tahun 2023. Lebih dari dua puluh proyek hotel baru telah didaftarkan, ada penambahan baru pada jaringan hotel mewah, dan pariwisata konvensi juga tergelincir dengan hati-hati

lukisan

Kemenparekraf Dukung Gelaran ARTJOG MMXXI Promosikan Karya Seniman

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Festival ArtJog MMXXI: Arts in Common  Time (to) Wonder diselenggarakan mulai hari ini pada 8 Juli-31 Agustus 2021 di Jogja National Museum, Yogyakarta, untuk memberikan ruang promosi karya seniman kepada publik.

Tema ArtJog kali ini adalah Time (to) Wonder sebagai tajuk kedua setelah common|space (2019) yang sedianya berlangsung pada Juli-Agustus 2020. Meskipun jadwal penyelenggaraan festival bergeser, formasi seniman ARTJOG MMXXI- time (to) wonder tidak berubah.

Acara yang didukung oleh Kemenparekraf/Bekraf tahun ini menghadirkan kembali program-program andalan seperti Special Project, Young Artists Awards, dan Daily Performance, di samping program edukasi publik Curatorial Tour dan Meet the Artist.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menjelaskan ARTJOG diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan karya seni para seniman dengan publik secara luas.

Event ini mencerminkan besaran potensi ekonomi kreatif yang dimiliki dunia seni rupa Indonesia. Sehingga pergelaran menjadi salah satu upaya untuk membangkitkan industri ekonomi kreatif di tengah pandemi COVID19.

“Kami mengapresiasi resiliensi ARTJOG selama lebih dari satu dekade sebagai ruang pertemuan dan pertukaran gagasan dalam kesenian dan kreativitas para seniman terbaik Indonesia,” kata Sandiaga.

Menurut dia, upaya ini menandakan kebangkitan industri ekonomi kreatif hadir dalam dimensi ruang dan waktu tertentu sebagai perwujudan kesadaran bersama untuk beradaptasi dengan normal yang baru.

Sandiaga mengatakan Kemenparekraf mendukung komitmen ArtJog yang telah menumbuhkan gairah bagi seniman seni rupa kontemporer untuk berkarya sekaligus menjadi media edukasi seni dan budaya kontemporer bagi masyarakat umum dan generasi muda.

“Dengan kehadiran pameran seperti ArtJog, dapat membuka kesempatan dan akses untuk seniman-seniman Indonesia agar berdaya saing sekaligus mempercepat laju perekonomian bangsa,” ujar Sandiaga.

Lebih lanjut, pergelaran ArtJog akan hadir dengan metode bauran antara luring dan daring. Ruang pamer dan dan karya tetap hadir berwujud fisik dan konkret.

“ArtJog ini akan menerapkan sistem kunjungan terbatas dan protokol kesehatan yang berlaku. Namun, dalam kurun waktu pemberlakukan kebijakan PPKM Darurat, ArtJog belum dapat dikunjungi oleh khalayak umum,” ujar Heri Pemad. sebagai penyelenggara.

Expanded ArtJog juga tetap hadir sebagai program baru yang akan terus berlanjut di ArtJog ke depannya. Kolaborasi dengan praktisi dokumenter untuk merekam realita di sekitar ArtJog masih dijalin untuk terus memberi pengalaman yang berbeda bagi publik.

Masih dalam semangat kemanusiaan, ArtJog MMXXI bersama ArtCare Indonesia juga kembali untuk mewadahi kepedulian para seniman di masa pandemi yang belum usai ini.

Selain itu, pelaksanaan ArtJog tak lepas dari Jogja Art Weeks sebagai sebuah inisiatif yang terus berupaya menggerakkan ekosistem kreatif di Yogyakarta dan sekitarnya.

Pengelolaan festival dengan metode daring dan fisik yang dilakukan ArtJog adalah sebuah usaha untuk terus mempertemukan berbagai gagasan dan praktik berkesenian, serta mendekatkan hal tersebut ke hadapan publik.

Informasi terkini mengenai pelaksanaan ArtJog MMXXI: _Arts in common – Time (to) Wonder_, termasuk tanggal pembukaan pameran untuk publik dapat dipantau di www.artjog.id dan akun resmi media sosial ARTJOG.

 

FDFA: Toko Duty Free Di Perbatasan Kanada Merana

this formate

TORONTO, Kanada, bisniswisata.co.id:  The Frontier Duty Free Association (FDFA) yang mewakili industri toko bebas bea di perbatasan darat Kanada, meminta pemerintah untuk membantu sektor ini bertahan dari penutupan toko jangka panjang yang dipaksakan oleh krisis COVID-19.

Dilansir dari Moodiedavittreport.com, pada konferensi pers online pada hari Rabu, Direktur Eksekutif FDFA Barbara Barrett dan Anggota Dewan Philippe Bachand membahas tantangan yang dihadapi industri, dengan sebagian besar toko tutup dan penjualan (saat ini terutama dari lalu lintas komersial) turun -95% secara keseluruhan pada 2019.

“Tutupnya perbatasan AS-Kanada untuk perjalanan yang tidak penting telah membuat anggota mengambil hutang yang signifikan hanya untuk bertahan selama ini tetapi kami masih belum memiliki akhir yang terlihat. Bukan karena kesalahan kami sendiri, tetapi karena penutupan perbatasan, bisnis kami berada dalam kondisi kritis.” kata Barrett.

Dia mengatakan bahwa sektor perbatasan darat – kebanyakan adalah bisnis ritel lokal yang dimiliki secara mandiri – mencari “keadilan” dari pemerintah. Elemen pertama yang diperlukan adalah akses ke dana bantuan untuk membantu bisnis bertahan, katanya.

“Toko bebas bea mempekerjakan ribuan orang Kanada dan mempertahankan pendapatan miliaran dolar di Kanada alih-alih hilang dari toko bebas bea AS di ujung jalan,”

Anggaran 2021 mengumumkan Dana Bantuan Pariwisata C$500 juta dan kami meminta sebagian kecil tapi adil dari bantuan ini. Kami menginginkan program hibah C$200,000 (US$160,000) per toko untuk C$6,6 juta (US$5,3 juta) secara keseluruhan, berdasarkan ukuran dan kebutuhan, tambahnya

Pihaknya juga meminta penunjukan ekspor. Meskipun hanya untuk ekspor, produk bebas bea perbatasan darat tunduk pada kebijakan dalam negeri seperti label Kanada pada produk yang hanya dapat diekspor.

Hal ini menempatkan toko pada kerugian kompetitif dengan pengecer bebas bea AS dan pada akhirnya mengakibatkan hilangnya pendapatan yang signifikan. Sangat penting untuk pemulihan dan daya saing industri bebas bea Kanada yang semarak sehingga diperlakukan sebagai ekspor saja dan diberi penunjukan ekspor.

“Memiliki pelepasan dari kebijakan ini akan memungkinkan kami untuk berdiri lebih cepat dan pulih lebih cepat.”  ungkap Barbara Barrett

Pembatasan perjalanan antara AS dan Kanada akan berakhir pada 21 Juli tetapi pengamat mengatakan ini kemungkinan akan digantikan oleh rencana pembukaan kembali secara bertahap, dengan beberapa pembatasan pada perjalanan yang tidak penting terus berlanjut.

Menguraikan situasi yang dihadapi oleh 33 toko perbatasan darat di Kanada, Barrett mencatat bahwa toko-toko ini adalah bagian integral dari komunitas kota perbatasan dan industri pariwisata di Kanada, bertindak sebagai duta besar bagi pengunjung ke negaranya.

“Kami adalah bisnis khusus ekspor yang sangat diatur oleh Badan Layanan Perbatasan Kanada (CBSA). Setiap barang dan setiap manusia yang memasuki toko kami harus keluar ke AS. Ini berarti bahwa selama 16 bulan, kami telah 95% hingga 100% ditutup. Bisnis apa yang dapat ditutup selama 16 bulan dan diharapkan bertahan tanpa dukungan tambahan?

“Sementara bisnis lain dapat dibuka pada waktu-waktu tertentu dan dapat beralih ke model bisnis lain seperti penjualan online, atau penjemputan atau pengantaran atau takeaway di tepi jalan, model bisnis kami yang sangat diatur tidak memungkinkan kami untuk melakukannya,” urainya.

Dia mengingatkan bisnis ini tidak seperti toko bebas bea bandara yang dimiliki dan dioperasikan oleh perusahaan besar non-Kanada yang dapat melayani mereka yang terbang melintasi perbatasan, sementara tokonya tetap tutup karena orang Kanada tidak dapat mengemudi melintasi perbatasan.

“Terlebih lagi, kami memiliki ratusan ribu dolar inventaris yang harus dihancurkan atau dibuang ke tempat sampah saat sudah habis masa berlakunya dan tidak ada cara untuk mengembalikan atau menjualnya. Kami bahkan tidak dapat menyumbangkannya tanpa biaya yang signifikan.”

FDFA mengatakan bahwa program bantuan pemerintah tertentu [terutama program subsidi upah dan sewa -Red] sangat penting untuk kelangsungan hidup sampai saat ini, tetapi ini akan berkurang mulai minggu ini, bahkan sebelum pemulihan perjalanan dimulai.

“Kami menutup toko kami, Philipsburg Duty Free, pada Maret 2020, dan dibuka kembali pada Juni untuk melayani jumlah terbatas. Kami memiliki pengurangan gaji tetapi sekarang ini menjadi 60%, 40%, 20% dan akhirnya tidak ada apa-apa tetapi kami masih perlu menjaga toko kami tetap buka karena kami memiliki stok ratusan ribu dolar ” Anggota Dewan FDFA Philippe Bachand

Kami hanya melayani beberapa pembeli truk dan melakukan 2% dari bisnis normal, tetapi kami harus bertahan hidup, membayar staf kami, dan memiliki biaya tambahan – dan semua ini tidak akan disubsidi.”

Barrett menambahkan bahwa pihaknya sangat menyadari bahwa jika bisnisnya  sebagai salah satu sektor yang paling hancur menjadi korban waktu penarikan [dukungan],

Bersama dengan seluruh industri pariwisata, bisnis duty free hancur dan mungkin tidak akan pernah pulih sepenuhnya. Artinya masyarakat kecil, khususnya masyarakat perbatasan, tidak akan mampu lagi mendukung pariwisata.

“Selama pemerintah menutup perbatasan, kami tidak dapat melakukan bisnis kami dan kami meminta untuk dapat bertahan untuk memiliki masa depan,” 

Pengecer dan karyawan mereka tidak membuat kesalahan bisnis atau merencanakan sesuatu dengan buruk. Kami tutup untuk melindungi warga Kanada dan kami layak untuk tidak tertinggal dan sektor ekspor berusia 40 tahun mati begitu saja.

“Kami senang melakukan bagian kami untuk menjaga keamanan warga Kanada. Dan kami sekarang meminta pemerintah untuk melakukan bagiannya untuk membantu kami bertahan dan memiliki masa depan yang layak. Bagi kami ini sepertinya masalah keadilan. ”

 

Cathay Bergerak Lampaui ‘Pasifik’ dengan Citra Gaya Hidup Travelling

this formate

HONG KONG, bisniswisata.co.id: Cathay Pacific memperkenalkan merek gaya hidup perjalanan baru yang dikenal sebagai ‘Cathay’ sebagai perusahaan ‘bergerak melampaui’ sekedar layanan maskapai penerbangan murni.

Citra baru ‘Cathay’ akan mengintegrasikan layanan penghargaan dan loyalitas dengan penawaran kemitraan baru dan pengalaman pilihan untuk bersantap, berbelanja, kesehatan, menginap di hotel, dan penerbangan di platform baru dengan tagline ‘Elevate Your Life’. 

Dilansir dari Campaingsia,com, penawaran baru pertamanya adalah kartu kredit co-branded Cathay  yang akan segera diluncurkan di Hong Kong. Merek baru ini akan menyatukan Cathay Pacific, Marco Polo Club, dan Asia Miles untuk menyederhanakan cara pelanggan memperoleh status dan menggunakan miles. Program hubungan pelanggan yang diperbarui ini akan diluncurkan pada paruh pertama tahun 2022. 

Awalnya, produk ‘Cathay’ yang baru hanya akan tersedia di Hong Kong, tetapi tujuannya adalah untuk memperluasnya ke pasar lain seiring waktu. Yang penting, Cathay Pacific akan tetap menjadi nama maskapai secara global.

“Ini semua adalah bagian dari ‘Move Beyond’—sebuah visi untuk kepemimpinan, inovasi, dan keunggulan layanan,” kata Edward Bell, General Manager Brand, Insights, Marketing di Cathay Pacific. 

“Perjalanan memenuhi keseharian. Brand  ‘Cathay’ yang baru membawa pemikiran dan inspirasi perjalanan lebih dekat, ke dalam kehidupan kita sehari-hari.”

Kampanye ‘Elevate Your Life’

Untuk menandai peluncurannya, tim Cathay di Publicis Groupe Hong Kong telah mengembangkan kampanye baru dengan visual luar rumah dan film yang memvisualisasikan banyak penghargaan Cathay.

Di dalamnya, protagonis menemukan dirinya terangkat di ‘world fantasy’ di mana dia benar-benar terangkat, mengambang melalui kebun sayur yang rimbun, lautan gaun, galaksi kebugaran dengan bola olahraga raksasa dan ruang yang dipenuhi kursi hotel.

Ini merangkum berbagai pengalaman yang diberikan melalui ‘Cathay’ baru. Natalie Lam, chief creative officer untuk APAC dan MEA di Publicis Groupe, mengatakan Hong Kong adalah kota yang penuh dengan brand gaya hidup premium.

“Kami membutuhkan film yang membedakan Cathay dari kompetisi mewah namun identik. Mengambil inspirasi dari warisan layanan Cathay dan perhatian terhadap detail, kami ingin membawa pemirsa keluar dari kenyataan yang diharapkan, dengan memasukkan sentuhan magis ke dalam momen sehari-hari, dan membawanya ke dalam perjalanan keajaiban visual yang imersif dan cair.” kara Nathalie Lam.