Malaysia Kokohkan Komitmen Wujudkan Nusantara Emas 2045 lewat Jaringan PERMATA

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Visi besar “Indonesia Emas 2045” yang telah lama digagas ESQ, dan saat ini sudah menjadi Visi bangsa dan negara kini semakin mendekati kenyataan. Bertempat di Gibraltar Room, Menara 165, Jakarta, sebuah momen bersejarah yang penuh makna telah berlangsung Silaturahim Persaudaraan Ekonomi Nusantara (PERMATA) Indonesia-Malaysia, 27 November 2025.

Acara ini menandai puncak kunjungan balasan delegasi perekonomian dan usahawan dari Malaysia yang berlangsung sejak 24 November 2025.

Acara utama yang dihadiri puluhan delegasi Malaysia dipimpin Adj. Prof. Hashim Bin Salleh, President Kuala Lumpur International Chamber of Commerce/KLICC. Sedangkan dari Indonesia dihadiri jajaran petinggi ESQ, Yayasan Desa EMAS Indonesia, FKA 165, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan pelaku usaha lainnya.

Show of Force Ekonomi Rakyat: Desa EMAS dan PNM Siap Kolaborasi Global

Kunjungan delegasi usahawan Malaysia ini merupakan jawaban atas kunjungan delegasi Indonesia sebelumnya yang diwakili oleh Gerakan Desa EMAS (GDE) dan PT. Permodalan Nasional Madani (PNM) pada 22 hingga 27 Juli 2025.

Pertemuan di Menara 165 ini menjadi ajang “show of force” kesiapan Indonesia berkolaborasi strategis dengan Malaysia melalui sinergi GDE dan PNM, dalam membangun perekonomian rakyat berbasis kelompok wanita dan desa, terutama di sektor Ultra Mikro dan UMKM.

Visi Indonesia Emas 2045 yang telah diperjuangkan sejak 2005 oleh Founding Father ESQ yakni Ary Ginanjar Agustian jauh sebelum ditetapkan pemerintah pada tahun 2019. Visi tersebut selaras dengan prioritas Presiden RI, Prabowo Subianto, yang memfokuskan pada penguatan Ketahanan Pangan, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan Makanan Bergizi Gratis.

“Malam ini adalah sebuah silaturahim yang Insya Allah akan membawa kemajuan bagi kita semua, di dua negara. Kita punya kesempatan untuk mengembangkan bisnis, mulai dari pemanfaatan lahan sawit hingga sinergi dengan sapi potong, serta potensi luar biasa di Kutai Kartanegara dan Garut. Inilah tanda-tanda kelanjutan dari Persaudaraan Serumpun Indonesia- Malaysia,” ujar Hariyo Puguh, Dirut PT. Grha 165, dalam sambutannya. Dia juga menyoroti peran Menara 165 sebagai “Markas Peradaban Emas” atau “Nusantara Madani”.

Pra-Acara: Penguatan UMKM dan Pembangunan Desa

Sebelum puncak acara di Menara 165, delegasi Malaysia telah melakukan serangkaian kunjungan strategis, menegaskan keseriusan kerja sama ini.

Mengawali kunjungannya, para delegasi Malaysia bersilaturahim ke SMESCO Indonesia. Kunjungan ke SMESCO ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara SMESCO Indonesia dengan Yayasan Desa Emas Indonesia (YDEI).

“Tujuan MoU ini adalah sebagai bentuk kerjasama strategis dalam peningkatan kapabilitas UMKM berdaya saing, khususnya terkait akses pasar di platform SMESCONNECT dalam membuka peluang UMKM memasuki pasar global”, kata Erick Firmansyah, Direktur Eksektutif GDE disela-sela acara.

Untuk itu isi Draft MoU-nya ini diarahkan meliputi fasilitasi, kurasi, dan pendampingan UMKM mitra YDEI dan kelompok Mekaar Kampung Madani PNM untuk memasuki platform perdagangan digital dan pameran internasional, kata Erick.

Menanggapi penandatanganan MoU tersebut, Adj. Prof. Hashim Bin Salleh President Kuala Lumpur International Chamber of Commerce/KLICC menekankan bahwa persaingan sejatinya bukan antar-negara serumpun, melainkan di pasar global, seperti di Arab Saudi.

Hashim mencontohkan, KLICC sebelumnya telah membawa usahawan Malaysia ke Surabaya untuk mendapatkan bahan mentah ubi sebagai bahan baku keripik. Ia menegaskan bahwa kerjasama yang sudah berjalan dimana bahan mentah dari Indonesia dan teknologi serta manajemen dari Malaysia merupakan bentuk kolaborasi yang sangat efektif.

Bersamaan dengan kunjungan ke Smesco Indonesia, sebagian delegasi Malaysia juga berkunjung ke PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Disana mereka melihat langsung keberhasilan program PNM Mekaar dalam memberdayakan lebih dari 15 juta Ibu prasejahtera di Indonesia.

Kunjungan ini dimaksudkan untuk melihat model pembinaan danpemberdayaan ultra mikro PNM, yang kemudian diintegrasikan dengan Gerakan Desa EMAS menjadi Kampung Madani atau Desa Emas.

Asst. VP. Management Services dan Community Development for Micro Small Entreprises PNM, Octo Wibisono, menyampaikan kebanggaan bahwa PNM tidak hanya menyalurkan modal, namun juga memberikan pelatihan dan pendampingan, yang selaras dengan konsep PERMATA (Persaudaraan Ekonomi Nusantara).
“Angka NPL (rasio kredit macet) PNM rendah, yaitu 1,5%, bahkan saat ini PNM mengalahkan Grameen Bank (pemenang Nobel) dalam pemberdayaan ultra mikro, berkat pembinaan modal sosial melalui pelatihan yang berbasis ESQ”, kata Octo.

Kunjungan lapangan

Rangkaian kunjungan delegasi Malaysia dan Pengusaha Malaysia ke Jawa Barat pada 24-28 November 2025 ditandai dengan meninjau Warung Mekaar Cicendo, Bandung dan melihat Kampung Madani Lembang, dimana disana sedang diadakan pertemuan Kelompok Mingguan Bermakna, Klasterisasi Pertanian, Praktik Kesenian Angklung.

Selain itu para delegasi juga berkunjung ke Desa Emas Kramat Wangi, Garut dan mengadakan dialog dengan warga pembuat batik yang juga sebagai nasabah unggulan PNM.

 

Adj. Prof. Hashim Bin Salleh President Kuala Lumpur International Chamber of Commerce/KLICC

PERMATA: Visi Nusantara Emas dan Industri Halal Global

Disela-sela kegiatan, Dr. Aries Muftie dalam kapasitasnya sebagai Pembina Gerakan Desa EMAS/YDEI menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud tanpa hadirnya 80.000 Desa Emas.

Dia menjelaskan bahwa gagasan Persaudaraan Ekonomi Nusantara (PERMATA) lahir dari semangat kekeluargaan serumpun yang bertujuan menguasai pasar konsumsi 300 juta penduduk Indonesia-Malaysia, khususnya di Halal Industri.

“Indonesia dan Malaysia bila penduduknya digabung itu terdapat 300 juta orang. itu artinya ada 300 (juta) mulut yang perlu makan dan 300 (juta) orang memerlukan pakaian. “ Dr. Aries Muftie.

Seharusnya konsumsi yang 300 (juta) itu halal dan disediakan oleh orang Indonesia dan Malaysia. Karena itu, Permata bertujuan agar sumber daya alam Indonesia yang berlimpah, dapat diolah dandinikmati di lokal dan global, khususnya di Arab Saudi,” tambahnya sekaligus menyampaikan harapan terwujudnya Nusantara Emas 2045.

Belasan MoU ditandatangani

Selama kunjungan delegasi dan usahawan Malaysia ke Indonesia ini tercatat 16 MoU (Memorandum of Understanding) telah ditandatangani.

Ini menjadi bukti kokohnya hubungan strategik dua hala, Malaysia dan Indonesia melalui jaringan kerjasama ekonomi yang mapan dan inklusif, khususnya dalam keusahawanan dan ekonomi desa.

Ke-16 MoU tersebut antara lain kerjasama dalam pengadaan bahan baku, hilirisasi dan distribusi kopi, kerjasama mengolah kulit sapi menjadi gelatin, perdagangan ritel, perijinan, inkubasi dan digitalisasi.

Kerjasama yang telah ditandatangani juga meliputi hilirisasi kelapa, pemberdayaan potensi ekonomi desa maupun pemasaran, hubungan perniagaan Timur Tengah dan sekitarnya serta kerjasama di bidang bio massa.

Tidak hanya itu, MoU ini secara simbolis juga akan memperluas usaha eksport dan repatriasi
pasaran kedua negara. Dari Malaysia, perusahaan Hartaniaga Capital Berhad bersama Yayasan Desa Emas Indonesia (YDEI).

Kedusnya akan berperan sebagai gerbang bagi produk-produk usahawan desa Indonesia yang berada di bawah pembinaan PNM. Produk-produk tersebut selanjutnya diproses dan dieksport ke pasaran global.

Setiap produk yang dihasilkan hasil sinergi Indonesia–Malaysia harus memiliki standar halal yang dikeluarkan JAKIM, MUI, dan badan halal antar bangsa.

Penghargaan Inovasi Pariwisata 2025 Soroti Pengalaman Perhotelan Berbasis Data dan Destinasi Blerkelanjutan

this formate

SIPRUS, bisniswisata.co.id : Edisi keenam Penghargaan Inovasi Pariwisata yang diselenggarakan selama Tourism Innovation Summit ( TIS) 2025, menyoroti teknologi dan model bisnis yang membentuk masa depan pariwisata.

Dengan lebih dari 165 pengajuan yang ditinjau, penghargaan ini mengakui transformasi digital, keberlanjutan, dan peningkatan pengalaman pelanggan sebagai landasan pengembangan pariwisata cerdas.

Dilansir dari traveldailynews.com, model komersial baru mendapat perhatian besar tahun ini. TripResal e meraih Penghargaan Vueling untuk Model Bisnis Baru Teknologi Perjalanan Terbaik , yang mengakui pasar amannya untuk menjual kembali reservasi yang tidak dapat dikembalikan.

Solusi ini bertujuan untuk mengurangi kerugian pendapatan sekaligus meningkatkan fleksibilitas bagi pelanggan dan penyedia akomodasi. Experience Buddy dan Ddriftt juga terpilih untuk inovasi yang mendukung pariwisata pedesaan dan transaksi sewa liburan berbasis kepercayaan.

Pemasaran destinasi dan keterlibatan budaya perkotaan diakui melalui Penghargaan Mabrian untuk Inovasi Martech Terbaik .

Dewan Kota Malaga meraih penghargaan tertinggi untuk inisiatif “Malaga Loves” , sebuah proyek seni urban yang dirancang untuk memperkuat kebanggaan warga dan mengangkat identitas budaya.

Walks Tours dan Devour Tours , serta kampanye destinasi Slovenia yang berfokus pada Olimpiade, menjadi finalis.

Radisson Hotel Group dianugerahi Penghargaan Newhotel untuk AI dan Inovasi Digital atas penerapan kecerdasan buatan untuk mempersonalisasi layanan tamu dan menyederhanakan alur kerja operasional.

Wakil Kementerian Pariwisata Ekuador dan Visit Flanders terpilih sebagai finalis atas pemanfaatan Big Data dan AI untuk meningkatkan daya saing pariwisata berkelanjutan dan meningkatkan rekomendasi pengunjung.

Pengalaman imersif menarik minat industri melalui Adestic Award untuk Keunggulan dalam Pengalaman Pelanggan. Inside Your Movie menerima penghargaan tersebut untuk produk yang memberikan narasi sinematik yang disesuaikan dengan perjalanan masing-masing wisatawan.

Wine on Route , yang menawarkan panduan wisata anggur berbasis AI, dan Púy du Fou Spanyol masuk dalam daftar nominasi.

Keberlanjutan tetap menjadi tema sentral di TIS 2025. United Waterways memenangkan Penghargaan Septeo untuk Kepemimpinan Berkelanjutan Terbaik atas konfigurator pelayaran sungainya yang memungkinkan kapal inovatif berdampak rendah dan manajemen emisi CO₂ yang lebih baik.

Program Transavia France untuk mengurangi emisi operasional dan inisiatif pariwisata regeneratif berbasis komunitas Galiwonders juga mendapat pengakuan.

Solusi pariwisata inklusif melengkapi kategori penghargaan. TUR4all , yang dioperasikan oleh Impulsa Igualdad , meraih Cadena SER Award untuk Keunggulan Keberagaman dan Inklusi atas penyediaan layanan perjalanan aksesibel yang menginvestasikan kembali pendapatan ke dalam inisiatif otonomi sosial.

Autism Friendly Club dan Guides for Good , yang memobilisasi relawan untuk meningkatkan aksesibilitas budaya, dinobatkan sebagai finalis.

Pemenang tahun ini menunjukkan bagaimana inovasi kolaboratif di seluruh perhotelan, manajemen destinasi, dan transportasi dapat memperkuat ketahanan pariwisata dan menyelaraskan pertumbuhan sektor dengan keberlanjutan dan nilai komunitas.

PARKROYAL Serviced Suites Manila Bay

this formate

PARKROYAL Serviced Suites Manila Bay ( Foto oleh Pan Pacific).

MANILA, bisniswisata co.id: Pan Pacific Hotels Group (PPHG), divisi perhotelan dari UOL Group Limited yang berbasis di Singapura, telah menandatangani perjanjian manajemen untuk mengelola PARKROYAL Serviced Suites Manila Bay, yang akan memajukan ekspansi Grup di segmen hunian jangka panjang yang berkembang pesat di Asia Tenggara.

Dilansir dari www.hospitalitynet.org, terletak di Metro Manila, jantung keuangan dan komersial negara ini, properti ini akan berada di dalam sebuah pengembangan multiguna dua menara yang terdiri dari perkantoran, ruang ritel, dan suite berlayanan.

Proyek ini akan memiliki 169 suite, dengan pilihan tipe studio, satu kamar tidur, dan dua kamar tidur untuk para tamu. Proyek ini ditargetkan untuk dibuka pada paruh pertama tahun 2027.

Membangun Momentum Pertumbuhan Filipina

Metro Manila merupakan pusat pemerintahan, keuangan, pendidikan, budaya, dan kedutaan besar berbagai negara. Kota ini merupakan pusat perdagangan dan investasi utama Filipina dan siap untuk pertumbuhan berkelanjutan yang didorong oleh lanskap ekonomi yang kuat.

Negara ini merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di kawasan ini. Menurut Bank Pembangunan Asia1, produk domestik bruto (PDB) Filipina diperkirakan tumbuh sebesar 6,0% pada tahun 2025 dan 6,1% pada tahun 2026, naik dari pertumbuhan 5,6% tahun lalu.

Negara ini juga mengalami pemulihan yang berkelanjutan dalam kedatangan internasional pascapandemi. Menurut Biro Imigrasi, Filipina mencatat 14,7 juta kedatangan internasional pada tahun 2024 dengan Korea Selatan, AS, Tiongkok, Jepang, Australia, dan Singapura sebagai negara-negara asal kedatangan wisatawan terbanyak.

Menurut data dari Departemen Pariwisata3, kedatangan wisatawan telah tumbuh lebih dari 60% antara tahun 2022 dan 2024.

Selain itu, wisatawan tinggal untuk durasi yang lebih lama. Menurut Departemen Pariwisata, wisatawan sekarang tinggal rata-rata lebih dari 11 malam, naik dari sekitar 9 malam sebelum pandemi.

Hal ini mendorong permintaan akomodasi jangka panjang premium di Metro Manila. Kondisi pasar untuk masa inap jangka panjang tetap sehat karena tingkat hunian hotel secara keseluruhan tetap tinggi.

Menurut JLL5, hunian hotel keseluruhan di Metro Manila naik menjadi 83,2% pada Q4 2024 dari 78,4% pada Q3 2024, didorong oleh permintaan yang kuat dari tamu liburan dan korporat.

Membentuk masa depan hunian jangka panjang di Asia Tenggara
Penandatanganan PARKROYAL Serviced Suites Manila Bay menandai langkah maju dalam peta jalan pertumbuhan PPHG Versi 2.0.

Strategi ini berpusat pada ambisi untuk memperkuat dan mempertajam portofolio Grup sejalan dengan tren perjalanan tamu saat ini.

Inti dari strategi ini adalah segmen hunian jangka panjang, yang terus berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan hunian fleksibel oleh pelancong bisnis, eksekutif yang pindah lokasi, dan tamu dengan liburan panjang yang menginginkan hunian fleksibel dengan jaminan setingkat hotel.

Di seluruh Asia Pasifik, proyeksi industri menunjukkan tren positif multi-tahun untuk apartemen berlayanan, yang menggarisbawahi permintaan akan hunian berkualitas tinggi yang dikelola secara profesional di kota-kota pusat.

Berdasarkan rekam jejak yang telah terbukti, PPHG telah menyegarkan merek PARKROYAL Serviced Suites dengan konsep-konsep siap masa depan yang memadukan kenyamanan hunian, layanan yang dikurasi dengan cermat, dan kemudahan akses.

Bergabungnya Manila ke dalam portofolio masa inap jangka panjang Grup yang terus berkembang bersamaan dengan pembukaan baru-baru ini di kawasan tersebut.

PPHG menetapkan tolok ukur baru untuk perhotelan masa inap jangka panjang, yang mana kenyamanan, gaya hidup, dan keberlanjutan bersatu dalam ruang yang dirancang sesuai cara orang hidup, bekerja, dan terhubung saat ini.

ISH dan EUNIC Kembali Bermitra Dalam Pendidikan Perhotelan

this formate

Sekolah Perhotelan India melanjutkan inisiatif pembelajaran globalnya dengan Institut Kebudayaan Nasional Uni Eropa untuk tahun ketiga berturut-turut. (Foto: ISH)

LONDON, bisniswisata.co.id: Sekolah perhotelan India bermitra dengan Institut Kebudayaan Nasional Uni Eropa untuk tahun ketiga berturut-turut. Acara tahun ini memperluas kolaborasi yang menghadirkan pengetahuan kuliner Eropa ke dalam pendidikan perhotelan di India.

Dilansir dari www.asianhospitality.com, sebagai bagian dari inisiatif ini, ISH menyelenggarakan kelas master yang dipimpin oleh para ahli dari Austria, Ceko, Prancis, Georgia, Hongaria, Italia, Latvia, Polandia, Malta, Spanyol, dan Ukraina.

Para mahasiswa mengeksplorasi identitas kuliner masing-masing negara sambil memperkuat teknik praktis dan konteks budaya, lapor The Economic Times.

“Kami merasa terhormat menyambut EUNIC di kampus kami untuk tahun ketiga berturut-turut. Mahasiswa kami berinteraksi dengan budaya yang membentuk perhotelan global dan pengalaman ini memperkuat jalur mereka menuju karier internasional,” kata Kunal Vasudeva, salah satu pendiri dan direktur pelaksana ISH.

Program tahun ini ditutup pada 13 Desember dengan makan siang Natal Eropa yang diselenggarakan oleh Pusat Kebudayaan Hongaria Institut Liszt dan Kedutaan Besar Hongaria di New Delhi.

Para diplomat, delegasi budaya, pemimpin industri, dan komunitas ISH akan berkumpul untuk memamerkan karya mahasiswa yang dibentuk oleh sesi internasional tahun ini.

“Sebuah inisiatif EUNIC, The Global Table di ISH, akan menghadirkan lebih banyak kedutaan besar Eropa ke kampus pada edisi ini. Setiap kunjungan akan membuka dapur ISH untuk cita rasa dan ide baru,” demikian pernyataan ISH di media sosial.

Kelas demonstrasi di seluruh kampus membawa para koki tamu dan perwakilan budaya langsung ke dalam pembelajaran mahasiswa.

Baru-baru ini, ISH menjamu hampir 200 konselor untuk “Retret Konselor” ketujuhnya di Gurugram.

Industri Pariwisata Thaland Mendorong Peringatan

this formate

Negeri Senyum berisiko kehilangan daya tariknya sebagai destinasi wajib dikunjungi, dan hanya akan menjadi “salah satu pilihan di antara banyak pilihan”.

BANGKOK, bisniswisata.co.id : Sektor pariwisata Thailand, yang telah lama dianggap sebagai penggerak utama perekonomian Thailand, telah mengeluarkan peringatan keras kepada pemerintah.

Mereka berpendapat bahwa jika langkah-langkah cepat dan efektif tidak diambil, Negeri Senyum berisiko kehilangan daya tariknya sebagai destinasi wajib dikunjungi, dan hanya akan menjadi “salah satu pilihan di antara banyak pilihan”.

Dilansir dari tourism-review.com, Minggu lalu, sebuah aliansi langka terbentuk antara lima asosiasi pariwisata Thailand: Dewan Pariwisata Thailand (TCT), Asosiasi Agen Perjalanan Thailand (ATTA), Asosiasi Agen Perjalanan Thailand (TTAA), Asosiasi Hotel Thailand (THA), dan Asosiasi Maskapai Penerbangan Thailand (AAT).

Dalam pertemuan tertutup dengan Perdana Menteri Anutin Charnvirakul, mereka mempresentasikan rencana darurat bercabang dua yang terdiri dari langkah-langkah dukungan jangka pendek dan strategi jangka panjang yang bertujuan untuk mempersiapkan industri pariwisata di masa depan.

Urgensi ini dipicu oleh angka-angka yang mengkhawatirkan. Meskipun pemulihan pascapandemi yang kuat awalnya terlihat, proyeksi kini menunjukkan potensi penurunan 7% dalam kedatangan wisatawan internasional pada tahun 2025 dibandingkan dengan tahun 2024.

Pasar-pasar utama di Asia dan ASEAN menunjukkan tanda-tanda perlambatan, dan insiden viral di media sosial, mulai dari penipuan turis hingga masalah keamanan, memperkuat persepsi negatif jauh lebih kuat daripada yang dapat diatasi oleh inisiatif pemasaran.

Rencana Aksi Lima Poin
Prioritas langsung asosiasi didefinisikan secara jelas:

1.Kampanye Global untuk Keselamatan dan Kepercayaan – Upaya substansial dan terkoordinasi untuk memulihkan kepercayaan, khususnya di pasar yang terdampak insiden penting.

2.Insentif Agresif untuk Perjalanan Udara – Subsidi untuk kursi pesawat, perluasan subsidi rute, dan perjanjian pemasaran kolaboratif dengan maskapai penerbangan untuk rute internasional dan domestik.

3.Tindakan Pengurangan Pajak yang Ditargetkan – Pengurangan atau pembebasan sementara PPN pada hotel, tur, dan penerbangan domestik untuk membuat perjalanan lebih terjangkau dan merangsang permintaan.

4.Manajemen Proaktif Komunikasi Krisis – Pembentukan unit tanggap cepat untuk menangani liputan media sosial yang negatif dalam hitungan jam, bukan hari.

5.Peningkatan Penegakan Hukum di Lapangan – Peningkatan upaya untuk memerangi penipuan, penagihan berlebih, dan pelecehan wisatawan, yang cenderung menyebar dengan cepat secara daring.

Keamanan muncul sebagai isu utama. Sebagaimana dicatat oleh seorang pemimpin asosiasi, “Sebuah video berdurasi 15 detik yang memperlihatkan seorang turis ditipu di Phuket dapat merusak iklan ‘Amazing Thailand’ yang telah berjalan selama satu dekade.”

Reset Jangka Panjang: Enam Pilar Strategis

Dengan melihat lebih jauh dari sekadar intervensi langsung, industri ini mengusulkan agenda modernisasi komprehensif untuk dipertimbangkan oleh Dewan Pariwisata Nasional yang diusulkan:

•Reformasi menyeluruh terhadap peraturan pariwisata dan prosedur birokrasi Thailand yang sudah ketinggalan zaman

•Peningkatan layanan dan standar kualitas secara nasional (terutama di luar pusat wisata utama seperti Bangkok, Phuket, dan Chiang Mai)

•Investasi besar-besaran dalam infrastruktur di kota-kota kecil dan provinsi-provinsi

•Pengembangan produk pariwisata yang inovatif, berkelas tinggi, dan khusus untuk bersaing dengan destinasi seperti Vietnam, Indonesia, dan Jepang

•Rebranding komprehensif “Thailand” untuk dekade mendatang, mengalihkan fokus dari pantai dan kuil untuk mempromosikan negara tersebut sebagai destinasi yang beragam dan bernilai tinggi.

•Penerapan standar keberlanjutan yang nyata dan dapat ditegakkan untuk melestarikan aset alam dan budaya, yang merupakan daya tarik utama bagi wisatawan

Asosiasi memperingatkan bahwa perubahan mendasar ini penting untuk mencegah Thailand kalah bersaing dengan pesaing yang lebih gesit.

Tanggapan Perdana Menteri
Anutin Charnvirakul menyatakan minatnya, menyebut pariwisata Thailand sebagai “urat nadi perekonomian kita” dan menjanjikan tindakan cepat.

Dia menekankan momentum positif yang dihasilkan dari kunjungannya baru-baru ini ke Tiongkok, di mana diskusi tingkat pemerintah membuka jalan bagi kesepakatan langsung antara maskapai penerbangan dan operator tur, yang dapat membantu mengamankan peningkatan jumlah pengunjung Tiongkok selama beberapa tahun ke depan.

Kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Tiongkok yang potensial dapat memperkuat perjanjian pariwisata bilateral yang signifikan, yang mungkin merupakan dorongan paling signifikan sejak pembebasan visa diberlakukan sebelum pandemi.

Namun, para pemimpin industri meninggalkan pertemuan dengan perasaan lebih optimistis namun berhati-hati daripada benar-benar yakin.

Seorang eksekutif yang hadir menyatakan, “Kata-kata memang dihargai, tetapi kami sudah pernah mendengar janji sebelumnya. Kami membutuhkan anggaran yang disetujui dan kampanye yang diluncurkan sebelum Songkran.”

Thailand menyambut hampir 36 juta pengunjung pada tahun 2024, tetap menjadi destinasi global teratas. Namun, lampu peringatan memang menyala: Vietnam (sudah melampaui angka sebelum pandemi), Indonesia (mempromosikan “10 Bali Baru”), dan Jepang (mengalami lonjakan pariwisata dengan infrastruktur yang unggul) dengan cepat meraih kemajuan.

Thailand, selama bertahun-tahun, mengandalkan daya tarik alam, kehangatan, dan harga yang luar biasa rendah. Formula itu tidak lagi efektif sekarang, di era di mana wisatawan memprioritaskan keselamatan, pengalaman asli, dan keberlanjutan – dan di mana satu video TikTok negatif dapat dengan cepat menghancurkan pemesanan hotel.

Semester berikutnya kemungkinan akan menentukan apakah Thailand akan mengalami kebangkitan yang signifikan atau justru mengalami penurunan perlahan di antara destinasi-destinasi Asia Tenggara lainnya.

Sebagaimana disampaikan dengan gamblang oleh perwakilan industri kepada Perdana Menteri, ini bukan sekadar penurunan biasa. Ini merupakan momen yang menentukan dan eksistensial.

Negeri Senyum ini mempertahankan semua unsur yang dibutuhkan untuk tetap unggul – pantainya, budayanya yang semarak, kulinernya, dan masyarakatnya sungguh tak tertandingi.

Pertanyaan inti berkisar pada apakah para pembuat keputusannya memiliki urgensi dan tekad politik yang dibutuhkan untuk melindungi aset vital yang telah menghasilkan manfaat substansial selama bertahun-tahun

AS Percepat Proses Visa Bagi Penggemar Piala Dunia 2026

this formate

CHESHIRE, bisniswisata.co.id : Menjelang Piala Dunia FIFA 2026, Amerika Serikat menawarkan gestur penting bagi para penggemar sepak bola di seluruh dunia: penyederhanaan proses visa yang bertujuan memastikan pemegang tiket dapat dengan mudah melintasi perbatasan dan menikmati setiap momen.

Presiden Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino mengumumkan “FIFA Pass” pada 17 November 2025, menjanjikan prioritas bagi para pelamar. Langkah ini menjawab kekhawatiran bahwa kebijakan imigrasi Amerika yang lebih ketat dapat menghalangi penggemar internasional.

Dilansir dari tourism-review.com, inisiatif ini berlangsung di titik krusial turnamen yang diselenggarakan bersama oleh AS, Meksiko, dan Kanada dari 11 Juni hingga 19 Juli 2026.

Dengan 48 tim dan 104 pertandingan yang belum pernah terjadi sebelumnya—menjadikannya Piala Dunia terbesar yang pernah ada—penyelenggara memperkirakan 5 hingga 10 juta penonton akan memadati stadion-stadion di seluruh Amerika Utara.

Sebelas dari 16 kota tuan rumah berada di AS, termasuk kota-kota besar seperti Los Angeles, New York/New Jersey, Dallas, dan Miami, yang akan menjadi tuan rumah final.

Saat ini, 34 negara telah lolos, termasuk negara-negara besar seperti Prancis, Brasil, dan Argentina, yang membuka jalan bagi ajang global yang berpotensi melampaui turnamen yang diselenggarakan AS tahun 1994 dalam hal jumlah penonton dan dampak ekonomi.

‘FIFA Pass’: Melewati Antrean Panjang
“Sistem Penjadwalan Janji Temu Prioritas FIFA” memungkinkan pembeli tiket terverifikasi—mereka yang membeli langsung melalui jalur resmi FIFA—untuk meminta wawancara visa yang dipercepat di kedutaan dan konsulat AS di seluruh dunia.

Dalam pengumuman di Ruang Oval, Trump, bersama Infantino, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem, menyebutnya sebagai “pengubah permainan” bagi para penggemar setia.

Dia menjelaskan bahwa sistem ini akan “memungkinkan pemegang tiket yang memiliki waktu tunggu lama untuk meminta janji temu prioritas,” dan mendesak semua orang untuk “segera mendaftar” guna menghindari potensi penundaan.

Infantino mendukung hal ini, dengan menekankan peran program ini dalam menyediakan “kondisi terbaik” bagi para peserta. “Dengan FIFA Pass ini, kami dapat memastikan bahwa mereka yang membeli tiket yang merupakan penggemar sepak bola sejati akan dapat menghadiri Piala Dunia FIFA 2026,” ujarnya.

Dia memprediksi penjualan tiket dapat mencapai 6 hingga 7 juta. Untuk menangani lonjakan jumlah pengunjung yang diantisipasi, Departemen Luar Negeri telah mengerahkan lebih dari 400 agen konsuler tambahan di seluruh dunia, yang secara efektif menggandakan staf di kedutaan-kedutaan penting untuk memproses aplikasi.

Namun, pemerintah dengan cepat meredam ekspektasi. Seperti yang dinyatakan Rubio dengan gamblang dalam pengarahan, “Tiket Anda bukanlah visa.”

Program ini hanya menempatkan pelamar di urutan terdepan, tetapi mereka tetap harus menjalani pemeriksaan latar belakang lengkap, wawancara, dan mungkin masih menghadapi penolakan berdasarkan kriteria standar, seperti risiko keamanan atau pelanggaran masa lalu.

Pengingat ini menekankan keterbatasan program: program ini merupakan alat untuk memfasilitasi perjalanan, bukan pengabaian sepenuhnya, dalam sikap Trump yang lebih luas dan lebih tegas terhadap imigrasi.

Menavigasi Ketegangan: Dari Larangan hingga Diplomasi Sepak Bola

Pengumuman ini muncul di tengah meningkatnya pengawasan terhadap kebijakan masuk AS. Sejak awal Juni 2025, pemerintahan Trump telah memberlakukan larangan masuk bagi warga negara dari 12 negara—kebanyakan di Afrika dan Timur Tengah—dan membatasi tujuh negara lainnya, dengan alasan keamanan nasional.

Meskipun para pejabat memastikan bahwa tim-tim Piala Dunia akan dikecualikan, beberapa masalah telah muncul. Misalnya, tim bola basket putri Senegal terpaksa membatalkan kamp pelatihan AS pada akhir Juni karena penundaan visa, sebuah contoh nyata bagaimana bahkan pertukaran olahraga pun dapat menghadapi tantangan.

Para kritikus, termasuk para advokat imigran, meyakini FIFA Pass hanyalah solusi parsial. Dengan waktu tunggu visa turis AS yang sudah sangat lama di wilayah-wilayah dengan permintaan tinggi seperti Asia Selatan dan Amerika Latin, program ini dapat membebani sumber daya konsuler di wilayah lain.

Trump, yang tak pernah ragu untuk bersikap kontroversial, juga telah menimbulkan potensi masalah dengan mengancam akan memindahkan pertandingan dari kota-kota tuan rumah yang “bermasalah”.

Ia secara khusus menyebutkan Seattle—yang dijadwalkan menjadi tuan rumah enam pertandingan di bawah kepemimpinan wali kotanya yang progresif—dan memperingatkan, “Jika kami merasa akan ada masalah, saya akan meminta Gianni untuk memindahkannya ke kota lain.”

Komentar semacam itu telah menuai penolakan dari pejabat setempat. Meskipun keputusan akhir mengenai tempat penyelenggaraan berada di tangan FIFA, langkah ini menunjukkan pendekatan diplomasi yang praktis.

Satuan Tugas FIFA 2026 Gedung Putih, yang dibentuk awal tahun ini melalui perintah eksekutif, mengoordinasikan peningkatan infrastruktur dan inisiatif pariwisata, membingkai acara tersebut sebagai “kesempatan sekali seumur hidup” yang bertepatan dengan peringatan 250 tahun Amerika Serikat pada tahun 2026.

Infantino, yang rutin mengunjungi Gedung Putih sejak pelantikan Trump pada bulan Januari, memuji kolaborasi ini sebagai contoh yang baik tentang bagaimana olahraga dan diplomasi dapat bekerja sama.

Apa Artinya bagi Penggemar dan Game Global

Bagi para penggemar yang berencana menyaksikan Messi di Miami atau Mbappé di Manhattan, FIFA Pass menawarkan jalan pintas yang berharga. Aplikasi akan diproses melalui portal khusus, yang akan menghubungkan verifikasi tiket dengan janji temu visa, sehingga berpotensi memangkas waktu tunggu dari enam bulan menjadi hanya beberapa minggu dalam beberapa kasus.

Tim-tim yang telah lolos, seperti negara tuan rumah dan tim unggulan seperti tim putra AS, menunjukkan antusiasme yang tinggi, dan pengundian pada 5 Desember di Washington, DC, diperkirakan akan menghasilkan antusiasme yang besar.

Secara ekonomi, potensi manfaatnya sangat besar: Turnamen ini dapat menambah $5 miliar bagi perekonomian AS, menguntungkan hotel, maskapai penerbangan, dan bisnis lokal di kota-kota tuan rumah, mulai dari Atlanta hingga Vancouver.

Namun, keberhasilan bergantung pada pelaksanaan yang efektif. Jika Pass berfungsi sebagaimana mestinya, hal ini dapat meredakan kekhawatiran tentang isolasi AS dan mengubah stadion sepak bola menjadi ruang pertukaran budaya.

Di sisi lain, jika mengalami masalah atau penundaan, hal ini dapat berdampak negatif pada reputasi Piala dan menghambat penyelenggaraan acara berskala besar di masa mendatang.

Seperti yang dicatat Trump, penjualan tiket sudah memecahkan rekor. Dengan perhatian global yang terfokus pada AS, ada peluang untuk meraih kesuksesan, baik di lapangan maupun dalam menunjukkan bahwa kecintaan terhadap olahraga ini dapat menyatukan orang-orang, bahkan di masa-masa perpecahan.

Jadi, para penggemar sebaiknya memesan tiket, mengunjungi portal, dan mulai merencanakan. Turnamen ini akan dimulai hanya dalam tujuh bulan, dan proses visa mungkin akan sedikit lebih mudah sekarang

Surga Pariwisata Bali Hadapi Banyak Pengunjung

this formate

Surga pariwisata Bali pada tahun 2024 dikunjungi lebih dari 6,3 juta wisatawan mancanegara Namun, hal ini justru menjadi indikator nyata bahwa destinasi tropis yang dicintai ini sedang terbebani oleh popularitasnya sendiri.

DENPASAR, bisniswisata.co.id : Surga pariwisata Bali pada tahun 2024 dikunjungi lebih dari 6,3 juta wisatawan mancanegara—sebuah tonggak sejarah yang mungkin diharapkan akan membawa selebrasi bagi pulau di mana pariwisata menjadi penggerak utama perekonomiannya.

Namun, hal ini justru menjadi indikator nyata bahwa destinasi tropis yang dicintai ini sedang terbebani oleh popularitasnya sendiri.

Dilansir dari tourism-review.com, sejak Anda tiba di Denpasar, masalahnya sudah jelas: kemacetan lalu lintas yang panjang mengganggu rute antara bandara dan Ubud, pantai-pantai dipenuhi sampah plastik dan deretan kursi berjemur yang tak berujung, hamparan sawah terabaikan oleh para pencari foto Instagram, dan di pura-pura yang dihormati, tongsis tampaknya lebih banyak daripada yang sebenarnya.

“Zona wisata” yang membentang dari Canggu, Seminyak, Kuta, dan Ubud hingga tebing timur kini tampaknya menyerap sebagian besar kedatangan wisatawan ini, yang secara efektif mengubah pulau nan indah ini menjadi salah satu kawasan wisata terpadat di Asia Tenggara.

Memang, ada reaksi balik. Beberapa perusahaan tur Eropa dan Australia mengalami penurunan pemesanan untuk tahun 2025-2026 dibandingkan dengan puncaknya pascapandemi di tahun 2024.

Wisatawan yang dulu hanya memimpikan Bali kini mulai bertanya-tanya tentang “Bali berikutnya”—destinasi yang lebih tenang dan bersih seperti Lombok, Sumba, atau bahkan Sri Lanka dan Filipina.

Ini Bukan Masalah Pariwisata Berlebihan—Ini Masalah Kurangnya Kontrol

Konsensus umum di antara analis lokal, pemilik hotel, dan bahkan beberapa orang dalam pemerintahan menunjukkan hal ini: Bali tidak secara khusus menderita akibat kelebihan wisatawan; melainkan, Bali berjuang dengan kurangnya pengelolaan yang tepat.

Promosi tak terkendali: Meski Bali dikenal sebagai surga wisata, Kementerian Pariwisata Indonesia terus gencar mengejar peningkatan jumlah wisatawan, sering kali tanpa mempertimbangkan kapasitas pulau tersebut.

Masalah administratif: Seringnya pergantian kepemimpinan di dinas pariwisata provinsi, peraturan yang saling bertentangan, dan penegakan hukum yang tidak konsisten telah berkontribusi pada lingkungan yang kurang teregulasi.

Vila-vila ilegal bermunculan dengan cepat, terkadang tanpa izin yang sesuai atau pengelolaan air limbah yang memadai. Bisnis-bisnis yang tidak berdokumen—mulai dari pusat yoga yang tidak bersertifikat hingga bar-bar gelap—beroperasi secara terbuka.

Pajak pariwisata yang dipertanyakan: Retribusi sebesar 150.000 rupiah ($10) yang diperkenalkan pada Februari 2024 ditujukan untuk mendanai proyek konservasi dan budaya.

Namun, Kepala Dinas Pariwisata Bali, Tjokorda Bagus Pemayun, mengakui bahwa hanya sekitar 35% wisatawan mancanegara yang membayarnya pada tahun 2024.

Pengumpulannya tidak meratabeberapa hotel memungutnya secara konsisten, yang lain tidak memprioritaskannya, dan portal daringnya sendiri terkadang tidak dapat diandalkan.

Pertanyaan Ekspatriat

Penduduk asing yang telah lama tinggal—nomaden digital, instruktur yoga, pemilik vila, dan pensiunan—semakin menjadi pusat ketegangan lokal. Meskipun banyak yang memberikan kontribusi penting bagi perekonomian, sekelompok kecil telah memicu kebencian dengan mengabaikan peraturan visa, merugikan bisnis lokal, dan mengubah daerah yang tenang menjadi destinasi pesta.

Laporan tentang warga asing yang mengoperasikan tempat peristirahatan atau bar ilegal tanpa pengawasan telah menjadi topik hangat di media lokal, memicu persepsi bahwa budaya dan sumber daya surga pariwisata Bali sedang dikomersialkan oleh pihak luar yang mungkin tidak sepenuhnya menghormati norma-norma pulau ini.

Risiko Spiral Kematian

Secara historis, destinasi yang gagal mengelola pariwisata massal secara efektif cenderung mengalami tren penurunan: peningkatan pariwisata berarti penurunan kepuasan, yang berujung pada berkurangnya kunjungan berulang dan berkurangnya promosi dari mulut ke mulut yang positif.

Ini mengurangi keinginan untuk berbelanja dan persaingan untuk mendapatkan harga terendah. Akibatnya, semakin banyak wisatawan yang sadar anggaran untuk mengimbanginya. Bali tampaknya mulai menunjukkan gejala awal.

Hotel-hotel di Canggu dan Ubud melaporkan bahwa tarif harian rata-rata di musim sepi sudah sekitar 10-15% lebih rendah daripada tingkat riil tahun 2023, meskipun biaya lahan dan operasional meningkat.

Pantai-pantai yang dulunya berperingkat teratas kini sering muncul dalam daftar “paling mengecewakan”. Situs-situs suci, seperti Tanah Lot dan Pura Besakih, telah menerapkan pembatasan pengunjung yang ketat dan waktu masuk yang terbatas—tindakan yang agak terlambat bagi penduduk Bali yang mungkin merasa pulau mereka sendiri telah menjadi agak asing.

Jalan Keluar—Jika Bali Bertindak Cepat
Tentu saja, hal ini pada taraf tertentu tidak dapat dihindari. Destinasi seperti Bhutan, yang menekankan pariwisata bernilai tinggi dengan jumlah pengunjung yang lebih rendah.

Palau, yang berkomitmen pada standar lingkungan yang ketat, bersama Islandia pascapandemi, menunjukkan bahwa tindakan politik yang tegas dan regulasi yang jelas dapat mengubah arah pariwisata.

Mengenai Bali, tindakan yang diperlukan sudah dipahami dengan baik, meskipun tekad politik mungkin masih kurang:

•Berlakukan pembatasan daya dukung yang ketat di wilayah selatan, dan secara aktif mengarahkan pembangunan ke wilayah utara dan timur yang jarang dikunjungi.

•Terapkan pajak turis yang wajib dan universal, yang dipungut saat kedatangan di bandara tanpa kecuali.

•Ambil tindakan tegas terhadap aktivitas pembangunan yang melanggar hukum dan pelanggaran visa—dimulai dengan kasus-kasus yang dipublikasikan secara luas untuk membuat pernyataan yang jelas.

•Memulai rencana penyebaran yang komprehensif: menyediakan subsidi penerbangan ke wilayah yang kurang berkembang, berinvestasi dalam infrastruktur di luar wilayah selatan, dan mengembangkan inisiatif pemasaran yang menyoroti “Bali yang lain.”

Memberikan kewenangan kepada desa setempat (banjar) untuk menolak proyek konstruksi besar, sehingga mengembalikan rasa otonomi lokal.

Selama tindakan ini tidak dilaksanakan, Bali akan tetap terjerat: ketenarannya yang meningkat berisiko memudarkan daya tarik yang awalnya membuatnya terkenal.

Pulau ini tetap memiliki keindahan alam yang memukau, penduduk yang ramah, dan budaya yang khas. Namun, surga pariwisata tidaklah terbatas, dan Bali dengan cepat kehabisan waktu untuk membuktikan bahwa ia mampu melindungi apa yang paling dihargai dunia darinyap

Menerawang Pariwisata Indonesia 2026:

Menerawang Pariwisata Indonesia 2026

this formate

Oleh : Jeffrey Wibisono V

Siapa Pangsa Pasarnya dan Apa yang Sebenarnya Mereka Cari?  satu pertanyaan yang akhir-akhir ini sering muncul dalam diskusi pariwisata:

“Indonesia 2026 akan kedatangan siapa, dan seberapa besar dampaknya bagi ekonomi lokal?”

Pertanyaan sederhana, tetapi penting. Sebab, kita sudah melewati masa ketika industri “hanya” menghitung jumlah kepala. Sekarang kita masuk era baru: pariwisata berbasis kualitas, pengalaman, dan dampak ekonomi nyata.

Dan di sinilah 2026 menjadi tahun menarik untuk “dibaca”.

Wisnus: raksasa senyap bernilai triliunan rupiah.

Mari mulai dari pasar domestik. Data BPS mencatat bahwa wisatawan nusantara (wisnus) melakukan sekitar 1.021 miliar perjalanan pada 2024—angka tertinggi sepanjang sejarah perjalanan domestik. Jumlah ini bukan hanya besar, tapi luar biasa masif. (Sumber: BPS – Perjalanan Wisata Nusantara 2024)

Belanja per orangnya, mengalami penurunan dari Rp 2,57 juta pada 2023 menjadi Rp 2,31 juta pada 2024, tetapi total perputaran uangnya justru tembus lebih dari Rp 2.300 triliun setahun.

Jika tren kenaikan perjalanan 2025–2026 stabil di kisaran 5–7 persen, dengan sedikit perbaikan rata-rata belanja, maka Rp 2.500–2.700 triliun bukan angka yang muluk untuk 2026.

Inilah “mesin”—pariwisata— ekonomi terbesar Indonesia, tidak terlalu disorot, tetapi menjadi backbone industri.

Wisman: jumlah pergerakan lebih rendah dari wisnus, tetapi devisanya sangat besar.

Dari sisi wisatawan mancanegara, pemerintah melalui RPJMN 2025–2029 menargetkan 16–17,6 juta wisman pada 2026. Angka ini sejalan dengan pemulihan dan perluasan konektivitas internasional.

Sumber BPS menunjukkan bahwa wisman mengeluarkan rata-rata US$ 1.625 per kunjungan pada 2023, “naik” lebih dari 12 persen dibanding tahun sebelumnya. Jika tren ini berlanjut, sangat masuk akal jika 2026 berada di kisaran US$ 1.700–1.800 per kunjungan.

Jika target wisman 16–17,6 juta orang tercapai, maka Indonesia berpotensi memanen:

  • US$ 27,2 miliar – US$ 31,7 miliar, setara Rp 420–480 Triliun

Ini bukan sekadar angka, tetapi energi devisa —jika dikelola dengan tepat— bisa mengalir ke UMKM lokal, pemandu wisata, desa wisata, transportasi rakyat, kuliner rumahan, sampai seniman daerah.

Siapa Pengunjung Terbesar Kita?

Daya tarik pariwisata 2026 tidak lagi ditentukan negara asal, tapi “usia” dan “gaya hidup”.

Beberapa data penting:

  • Kajian wisatawan Denpasar 2024 menunjukkan 64% wisatawan adalah Gen Z (11–26 tahun), 26% milenial (27–42 tahun), sisanya Gen X. (Sumber: Profil Wisatawan Denpasar 2024)
  • Artikel dan survei tren pariwisata global dan Kemenparekraf juga menguatkan bahwa Gen Z dan milenial adalah motor utama pariwisata 2025–2026.

Arti sederhananya: pengunjung terbesar Indonesia 2026 adalah usia “18–40 tahun.”

Mereka adalah:

  • Digital native
  • Senang bepergian spontan
  • Mengutamakan pengalaman
  • Tidak mengejar “yang paling murah”, tetapi yang paling “bernilai”
  • Sangat dipengaruhi review online, rekomendasi komunitas, dan konten kreator

Ini generasi yang memandang perjalanan “bukan” sebagai aktivitas liburan, tetapi bagian dari “identitas diri”.

Apa yang Mereka Cari?

  1. Pengalaman yang Otentik

Bukan sekadar spot foto. Tetapi “cerita” di balik tempat, interaksi dengan warga lokal, memasak di dapur warung, belajar batik di rumah perajin, atau mendaki ditemani pemandu desa.

  1. Nature & Wellness

Tren wisata alam, geowisata, trek pendek, forest healing, spa herbal, yoga retreat, digital detox—semuanya naik daun. Pemerintah juga menegaskan strategi memperkuat desa wisata dan nature-based tourism dalam kerangka RPJMN. (Sumber: RKP/RPJMN 2025–2029)

  1. Serba Digital

Booking online, QRIS, e-wallet, itinerary digital, sampai tiket tanpa kertas. Destinasi yang tidak muncul di layar mereka, “tidak” dianggap ada.

  1. Value for Money

Wisatawan 2026 tidak sekadar berhemat, tapi ingin “kejelasan” harga dan “konsistensi” layanan. Sekali kecewa, mereka memindahkan preferensi dengan sangat cepat.

Segmentasi 2026: Tidak lagi berdasar negara, tetapi “siapa” mereka?

Dengan dominasi Gen Z dan milenial yang kuat, cara mengemas produk wisata harus berubah:

  • Fokus pada cerita, bukan fasilitas semata
  • Kombinasikan lokalitas + kenyamanan modern
  • Buka ruang kolaborasi dengan komunitas
  • Ciptakan titik interaksi (touchpoints) yang mudah dibagikan di media sosial
  • Pastikan manfaat ekonominya jatuh ke warga sekitar: UMKM, perajin, seniman, nelayan, petani

Karena kontribusi terbesar pariwisata bukan pada jumlah kunjungan, tapi pada jumlah uang yang tinggal di daerah.

Apa Implikasinya bagi Ekonomi Lokal?

Jika kita gabungkan potensi:

  • Rp 2.500–2.700 triliun dari wisnus
  • Rp 420–480 triliun dari wisman

…maka total lebih dari Rp 3.000 triliun bisa bergerak melalui pariwisata Indonesia pada 2026. Namun, pertanyaan besarnya adalah:

Berapa persen dari angka itu yang benar-benar sampai ke tangan pelaku lokal?

Di sinilah, tahun 2026 menjadi momentum penting, strategi pariwisata nasional perlu diarahkan agar:

  • Kebocoran ekonomi (economic leakage) ditekan
  • UMKM lokal mendapat panggung
  • Desa wisata bukan hanya “ditampilkan”, tetapi “dilibatkan” dalam keputusan
  • Operator, investor, dan pemda membangun model bagi hasil yang adil
  • Digitalisasi tidak melupakan human touch yang menjadi identitas Indonesia

Bukan Sekadar Tahun Ramai Wisatawan

Tahun 2026 adalah tahun ketika Indonesia “belajar” mengelola nilai, bukan sekadar “menarik” angka.

Karena yang datang bukan hanya turis —tetapi:

  • Generasi muda penuh ekspektasi
  • Wisatawan berdaya beli besar
  • Pencari pengalaman otentik
  • Mereka yang ingin uangnya berdampak

Maka tugas kita adalah memastikan bahwa pariwisata 2026 menjadi panggung ekonomi lokal, bukan sekadar statistik nasional.

Akhirnya, saya tutup dengan satu pertanyaan reflektif:

Ketika 2026 tiba dengan jutaan wisatawan, apakah kita sudah siap memastikan bahwa setiap rupiah yang mereka bawa pulang adalah cerita baik tentang Indonesia?

Penulis adalah : Konsultan Manajemen Perhotelan dan Pariwisata

 

UN Tourism Pariwisata Sambut Baik Pengakuan Pemimpin G20 dan Dukungan Kuat untuk Pariwisata di Bawah Presidensi G20 Afrika Selatan

this formate

MADRID, bisniswisata.co.id : KTT G20 Afrika Selatan: Deklarasi Pemimpin mencakup serangkaian komitmen penting untuk memajukan pariwisata sebagai pendorong utama pembangunan inklusif dan berkelanjutan dengan fokus pada:

•Mempromosikan inovasi dan investasi
•Meningkatkan konektivitas udara, akses pasar dan rute baru
•Mendukung digitalisasi usaha rintisan pariwisata dan UMKM
•Membuka pembiayaan untuk pariwisata berkelanjutan
•Menciptakan peluang bagi pemuda, perempuan, masyarakat dalam situasi rentan, masyarakat lokal dan masyarakat adat
•Mengembangkan praktik pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan
•Memobilisasi modal publik-swasta untuk investasi penyelarasan keberlanjutan, dan
•Mengintegrasikan pariwisata dalam strategi pembangunan nasional

Dilansir dari untourism.int, Sekretaris Jenderal Pariwisata PBB, Zurab Pololikashvili, mengatakan: “Negara-negara G20 mewakili sekitar 70% pariwisata internasional, sehingga pengakuan yang jelas akan pentingnya sektor kami bagi kesejahteraan bersama dan keberlanjutan ini sangat kami sambut baik. “

Kami khususnya terdorong melihat niat para Pemimpin G20 untuk bekerja sama dalam meningkatkan konektivitas antar destinasi, mempercepat inovasi dan peralihan ke digital, memastikan sektor ini tidak meninggalkan siapa pun, dan menempatkan pariwisata dalam strategi pembangunan nasional, kata Zurab Pololikashvili.

Langkah besar telah dibuat oleh Presidensi G20 Afrika Selatan. Saya ingin mengucapkan selamat kepada Yang Mulia Presiden Cyril Ramaphosa atas kepemimpinannya yang luar biasa, yang pertama di Afrika, dan Menteri Patricia DeLille atas kepemimpinannya di bidang pariwisata, tambahnya.

Dalam Deklarasi tersebut, para Pemimpin G20 menekankan “dukungan kuat mereka terhadap inovasi dan investasi pariwisata, peningkatan konektivitas udara, perluasan akses pasar, pembukaan lebih banyak rute, promosi keberlanjutan, keselamatan dan keamanan penerbangan.

Hal ini sekaligus memastikan persaingan yang adil dan koordinasi kebijakan, fasilitasi kontak antarmasyarakat dan pengembangan praktik pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan, serta kemajuan inovasi digital untuk meningkatkan usaha rintisan perjalanan dan pariwisata serta UMKM.

Para Pemimpin G20 selanjutnya berkomitmen untuk bekerja guna “mempromosikan dan memperluas kesempatan bagi pemuda, perempuan, masyarakat dalam situasi rentan, masyarakat lokal, dan Masyarakat Adat, sebagaimana mestinya, dengan pendekatan praktis dan berbasis bukti.”

Mereka “menekankan pentingnya mengintegrasikan pariwisata ke dalam strategi pembangunan nasional dan perlunya membuka pembiayaan bagi pariwisata berkelanjutan.

Kami menyerukan mobilisasi modal publik-swasta melalui lingkungan investasi yang transparan, terprediksi, dan selaras dengan keberlanjuta

Pariwisata PBB sebagai Mitra Pengetahuan Presidensi G20 Afrika Selatan.

UN Tourism merasa terhormat telah bekerja sama dengan Presidensi G20 Afrika Selatan sebagai Mitra Pengetahuan dan berkontribusi pada diskusi di Kelompok Kerja Pariwisata dan Pertemuan Menteri Pariwisata yang diadakan September lalu.

Saat itu, para Menteri Pariwisata berkumpul di Mpumalanga dan berkomitmen untuk memajukan kebijakan yang mendorong sektor pariwisata yang berkelanjutan, inklusif, dan tangguh, yaitu dalam hal:

•Inovasi digital untuk meningkatkan usaha rintisan perjalanan dan pariwisata serta UMKM
•Pembiayaan dan investasi pariwisata untuk meningkatkan kesetaraan dan mendorong pembangunan berkelanjutan
•Konektivitas Udara untuk Perjalanan yang Lancar
•Meningkatkan ketahanan untuk pembangunan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan

G20 mewakili sekitar 70% dari seluruh kedatangan wisatawan internasional dan ekspor pariwisata. Pariwisata menyumbang 3,1% dari total PDB G20, 5% dari seluruh ekspor, dan 21% dari seluruh ekspor jasa

Jumlah Wisatawan Internasional Naik 5% dalam Sembilan Bulan Pertama Tahun 2025

this formate

MADRID, bisniswisata.co.id: Jumlah wisatawan internasional (pengunjung yang bermalam) tumbuh 5% pada Januari-September 2025 dibandingkan periode yang sama tahun 2024 dan 3% di atas angka sebelum pandemi 2019.

Dilansir dari www.untourism.int, menurut edisi terbaru Barometer Pariwisata Dunia, lebih dari 1,1 miliar wisatawan melakukan perjalanan internasional antara Januari dan September tahun ini, sekitar 50 juta lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Hasil ini mencerminkan permintaan perjalanan yang berkelanjutan sepanjang tahun meskipun inflasi tinggi dalam layanan pariwisata dan keyakinan wisatawan yang beragam akibat ketegangan geopolitik dan perdagangan. Kuartal ketiga mengalami peningkatan 4% dibandingkan tahun 2024 dengan musim panas yang kuat di Belahan Bumi Utara.

Sekretaris Jenderal Pariwisata PBB, Zurab Pololikashvili, mengatakan: “Pariwisata internasional terus mengalami pertumbuhan berkelanjutan hingga tahun 2025, baik dalam hal kedatangan internasional maupun yang terpenting dalam penerimaan, meskipun terjadi inflasi tinggi dalam layanan pariwisata dan ketegangan geopolitik. Afrika dan Eropa khususnya menunjukkan hasil yang menonjol.”

Pariwisata internasional terus mengalami pertumbuhan berkelanjutan hingga tahun 2025, baik dalam hal kedatangan internasional maupun yang terpenting dalam penerimaan, meskipun terjadi inflasi tinggi dalam layanan pariwisata dan ketegangan geopolitik.

Afrika terus mencatat kinerja terkuat di antara kawasan-kawasan lainnya.

Barometer Pariwisata Dunia terbaru menganalisis pariwisata internasional selama sembilan bulan pertama tahun 2025 berdasarkan kawasan dan subkawasan. Poin-poin penting meliputi:

Afrika mengalami peningkatan kedatangan wisatawan sebesar 10% hingga September, menurut data terbatas yang tersedia. Afrika Utara (+11%) dan Afrika Sub-Sahara (+10%) mencatat pertumbuhan dua digit dalam kedatangan wisatawan.

Eropa, kawasan tujuan wisata terbesar di dunia, mencatat 625 juta wisatawan internasional antara Januari dan September 2025, meningkat 4% dari bulan yang sama pada tahun 2024. Semua subkawasan Eropa menikmati hasil yang solid selama kuartal ketiga, mencerminkan musim panas yang kuat.

Eropa Barat (+5%) dan Eropa Mediterania Selatan (+3%) mencatat kinerja yang kuat, sementara Eropa Utara (-1%) mencatat hasil yang lebih moderat. Eropa Tengah dan Timur terus pulih dengan kuat (+8%), meskipun kedatangan wisatawan tetap 11% di bawah level tahun 2019.

Benua Amerika mencatat pertumbuhan 2% pada periode ini, dengan peningkatan 3% pada Q1 dan Q2, tetapi sedikit menurun pada Q3 (-1%). Hasil di antara sub-wilayah beragam. Amerika Selatan (+9%) menikmati kinerja terbaik, meskipun kuartal ketiga stagnan.

Amerika Utara (-1%) mencatat hasil yang lebih lemah, sebagian karena penurunan kecil di Amerika Serikat dan Kanada. Kedatangan di Amerika Tengah meningkat 3% hingga September, sementara Karibia (+1%) mencatat pertumbuhan yang relatif lebih moderat.

Kedatangan di Timur Tengah tumbuh 2% pada Januari-September dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan 33% lebih banyak kedatangan dibandingkan tahun 2019, hasil regional terkuat dibandingkan tahun sebelum pandemi.

Kedatangan di Asia dan Pasifik tumbuh 8%l dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, mencapai 90% dari angka sebelum pandemi (-10% dibandingkan Januari-September 2019) seiring dengan pemulihan kawasan tersebut.

Asia Timur Laut menonjol dengan peningkatan kedatangan sebesar 17% dibandingkan tahun 2024, tetapi masih 12% di bawah level tahun 2019.

Beberapa tingkat pertumbuhan kedatangan tertinggi pada Januari-September 2025 tercatat di Brasil (+45% dibandingkan tahun 2024), Vietnam dan Mesir (keduanya +21%), serta Etiopia dan Jepang (keduanya +18%).

Afrika Selatan melaporkan pertumbuhanp sebesar 17%, Sri Lanka dan Mongolia keduanya 16%, dan Maroko 14%. Semua destinasi ini telah melampaui level tahun 2019.

Menurut IATA, lalu lintas udara internasional (RPK) tumbuh 7% pada Januari-September 2025 dibandingkan bulan yang sama pada tahun 2024.

Kapasitas udara internasional (ASK) meningkat 6% dalam periode sembilan bulan ini. Hunian global di tempat akomodasi mencapai 68% pada bulan September 2025, menyamai tingkat hunian pada bulan September 2024 (berdasarkan data STR).

Pengeluaran wisatawan yang tinggi di sebagian besar destinasi

Data bulanan penerimaan pariwisata internasional menunjukkan pengeluaran wisatawan yang tinggi di beberapa destinasi hingga September 2025.

Jepang (+21%), Nikaragua (+19%), Mesir (+18%), Mongolia dan Maroko (keduanya +15%), Latvia (+13%), Brasil (+12%), dan Prancis (+9%) termasuk di antara negara-negara dengan pertumbuhan penerimaan terbaik dalam sembilan bulan pertama tahun 2025.

Permintaan yang kuat juga terlihat pada pengeluaran wisatawan keluar negeri dari beberapa pasar besar seperti Amerika Serikat (+7% hingga Agustus), Prancis (+5%), Jerman dan Italia (keduanya +4%), serta Spanyol (+15% hingga Agustus) dan Republik Korea (+7%).

Hasil di jalur yang tepat untuk mencapai proyeksi pertumbuhan tahun 2025, meskipun menghadapi tantangan. Menurut proyeksi Pariwisata PBB pada bulan Januari tahun ini, kedatangan wisatawan internasional diperkirakan akan tumbuh 3% hingga 5% pada tahun 2025.

Meskipun hasil hingga bulan September sejalan dengan proyeksi Pariwisata PBB, faktor-faktor seperti harga perjalanan yang tinggi dan lingkungan geopolitik yang menantang tetap menjadi risiko penurunan yang penting.