JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pertemuan singkat dan bermakna, itulah momen saat berjumpa Ketua Komunitas Backpaker internasional 814 Panji Tito bersama komunitasnya di Hotel ARTOTEL Gelora Senayan Jakarta belum lama ini.
Panji datang bersama 10 orang anggota komunitasnya yang berdiri sejak 8 Agustus 2014. Perjalanan 12 tahun di bulan Agustus tahun ini telah membuat Backpacker International 814 seperti sebuah ‘keluarga besar’ sesama traveler lover. Tak heran sayapun langsung melamar untuk ikut jadi anggota.
Berinteraksi dengan anggota komunitas ini auto merasakan vibe kekeluargaan seperti magnet positif. Apalagi komunitas perjalanan ini lahir dari semangat berbagi, saling bantu, dan membuka wawasan bahwa menjelajah dunia dapat dilakukan dengan cara yang lebih cerdas, mandiri, hemat, dan bermakna.
Untung Lia sang pendamping hidup pak Ketua yang juga tink tank di organisasi nir laba ini tidak menolak keinginan saya ini dan kami langsung akrab di meja makan Restoran Lidah Lokal di lobby hotel itu dikelilingi anggota komunitas yang cantik-cantik dan geng cowok yang ternyata juga mengenal rekan-rekan saya di industri wisata negri ini.
“Nilai utama komunitas kami ini berbagi, belajar, berani, bijak, dan bermanfaat untuk umat,” kata Panji Tito mengawali obrolan sambil menjelaskan Ardi Winangun adalah
pendiri dan penggagas awal komunitas Backpacker International 814 yang kini beranggotal aktif 350 traveler.
Menurut dia Backpacker International 814 hadir bukan hanya sebagai komunitas jalan-jalan, tetapi sebagai ruang tumbuh bersama bagi siapa pun yang ingin melihat dunia dengan cara yang lebih cerdas, hemat, mandiri, dan bermakna.

Pertemuan rutin anggota komunitas

Panji Tito ( paling kanan) bersama para anggota di Hotel Artotel Gelora Senayan, Jakarta

Dini ( kiri) dan teman-teman anggota Backpaker Internadional 814
Misi Backpacker International adalah rumah bagi para traveler yang ingin belajar mandiri, bijak mengelola budget, dan berani melihat dunia dengan cara yang lebih cerdas.
“Di sini, setiap anggota bukan hanya menjadi peserta perjalanan, tetapi juga bagian dari keluarga yang menjaga nilai kebersamaan, kepedulian, dan keberlanjutan komunitas lintas generasi. Kami rutin melakukan pertemuan dan program-program yang mencerahkan anggota komunitas,” ungkap Panji Tito.
Angka 814 menjadi identitas khusus komunitas. Maklum komunitas bernama sama juga banyak di negeri ini dan angka dibelakangnya menjadi pembeda dan penguat jati diri, karena setelah komunitas ini hadir, mulai bermunculan komunitas dengan nama sama dan konsep serupa.
“ Kami bukan hanya komunitas traveling, tetapi sebuah keluarga besar lintas usia, profesi, dan latar belakang. Kami Dipertemukan oleh semangat yang sama yaitu belajar, berbagi pengalaman, saling mendukung, dan memberi manfaat agar semakin banyak orang berani menjelajah luar negeri tanpa harus takut pada keterbatasan biaya,” tegasnya.
Meski ada embel-embel internasional bukan berarti tidak melakukan perjalanan wisata di dalam negri. Ibarat membaca Al-Quran, anggotanya rata-rata sudah khatam alias sudah berpengalaman traveling di dalam negri.
Kini kebanyakan dari mereka berwisata ke mancanegara dan berupaya ‘menaklukan’ pula transportasi publik di negara-negara yang dikunjunginya.
Pengalaman memanfaatkan transportasi lokal itulah yang dibagikan sesama anggota komu-nitas sehingga menjadi bekal ilmu bagi anggota lain untuk mencapai destinasi yang ada termasuk hidden gem di mancanegara.
“Berbagi pengalaman inilah yang membuat komunitas ini menjadi bagian dari keluarga yang menjaga nilai kebersamaan, kepedulian, dan keberlanjutan komunitas lintas generasi,” kata Panji Tito dengan bijak.
Di sini, setiap perjalanan menjadi ilmu, setiap pengalaman menjadi manfaat, dan setiap anggota menjadi bagian dari regenerasi komunitas yang hidup sepanjang masa.
Membangun budaya sharing dan saling membantu dalam komunitas traveler sangat penting karena perjalanan pada dasarnya bukan hanya soal berpindah tempat, tetapi juga tentang berbagi pengalaman, pengetahuan, dan dukungan antarmanusia.
Lagi pula, berbagi ilmu membantu anggota menghindari kesalahan yang sama karena pengalaman satu orang bisa menjadi pelajaran berharga bagi yang lain. Mulai dari mengurus visa, menghindari penipuan di destinasi tertentu, memilih hotel yang aman hingga mengetahui adat dan budaya lokal.
Dengan budaya berbagi, anggota baru tidak perlu mengulang kesalahan yang pernah dialami anggota lain dan menciptakan rasa aman. Soalnya traveler sering menghadapi situasi tak terduga seperti kehilangan barang,
ketinggalan pesawat, sakit saat perjalanan belum lagi soal kendala bahasa asing.
Ketika komunitas memiliki budaya saling membantu, anggota merasa memiliki “keluarga kedua” yang siap memberikan solusi atau dukungan. Pengetahuan kolektif komunitas jauh lebih kaya daripada panduan wisata biasa.
Komunitas yang anggotanya saling berbagi tanpa pamrih akan membangun kepercayaan yang kuat dan dari kepercayaan lahirlah
kolaborasi, pertemanan, peluang bisnis, program perjalanan bersama. Bahkan banyak komunitas traveler yang berkembang menjadi jaringan profesional karena adanya trust yang tinggi.
Orang sering mengingat bukan hanya tempat yang dikunjungi, tetapi juga orang-orang yang ditemui dan kebaikan yang diterima. Budaya
berbagi membuat perjalanan menjadl lebih manusiawi, lebih hangat dan berkesan.
.
Komunitas yang saling berbagi dapat menjadi tempat bertanya tanpa takut dihakimi, mendapatkan teman seperjalanan,menguatkan keimanan, menemukan rasa memiliki (sense of belonging).
“Jangan lupa perjalanan bukan hanya berpindah destinasi, tetapi juga proses penyembuhan (healing) dan penguatan spiritual. Perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang kita nikmati sendiri, melainkan perjalanan yang pengalamannya dibagikan sehingga dapat menerangi langkah orang lain.”
Banyak komunitas perjalanan hanya berbagi:
promo tiket, rekomendasi hotel, itinerary
atau foto-foto destinasi. Sedangkan komunitas Backpaker Internadional 814 ini saya dapati bisa menawarkan sesuatu yang lebih dalam.
Bukan hanya berbagi tempat yang dikunjungi, tetapi juga berbagi kekuatan untuk melanjut-kan perjalanan hidup. Iya betul perjalanan hidup karena curahan hati sesama anggota bisa saling menguatkan tanpa harus mengumbar kata-kata lawan bicaranya bisa menyatakan dia pernah berada di posisi yang sama, dan berhasil melewatinya. Itulah kekuatan komunitas traveler ini.
Interaksi antar anggota walau sesaat pada pertemuan kami ini bahkan masih hitungan kurang dari tiga jam saya sudah berani mengaitkan bahwa dalam ilmu pariwisata modern membangun atmosfir ‘Kekeluargaan’ menjadi tren yang sangat kuat bagi komunitas.
Wisatawan kini mencari connection (koneksi), belonging (rasa memiliki),meaning (makna), transformation (perubahan diri) bukan sekadar rekreasi.
Oleh karena itu saat berpisah di lobby hotel saya mendapat insight bahwa perjalanan yang sukses bukan terjadi karena kita pergi jauh, tetapi karena dalam perjalanan itu kita menemukan orang-orang yang mengingatkan bahwa kita tidak berjalan sendirian.
