Budaya Berbagi dan Kekeluargaan Kiat Sukses Backpacker Internasional 814

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Pertemuan singkat dan bermakna, itulah momen saat berjumpa Ketua Komunitas Backpaker internasional 814 Panji Tito bersama komunitasnya di Hotel ARTOTEL Gelora Senayan Jakarta belum lama ini.

Panji datang bersama 10 orang anggota komunitasnya yang berdiri sejak 8 Agustus 2014. Perjalanan 12 tahun di bulan Agustus tahun ini telah membuat Backpacker International 814 seperti sebuah ‘keluarga besar’ sesama traveler lover. Tak heran sayapun langsung melamar untuk ikut jadi anggota.

Berinteraksi dengan anggota komunitas ini auto merasakan vibe kekeluargaan seperti magnet positif. Apalagi komunitas perjalanan ini lahir dari semangat berbagi, saling bantu, dan membuka wawasan bahwa menjelajah dunia dapat dilakukan dengan cara yang lebih cerdas, mandiri, hemat, dan bermakna.

Untung Lia sang pendamping hidup pak Ketua yang juga tink tank di organisasi nir laba ini tidak menolak keinginan saya ini dan kami langsung akrab di meja makan Restoran Lidah Lokal di lobby hotel itu dikelilingi anggota komunitas yang cantik-cantik dan geng cowok yang ternyata juga mengenal rekan-rekan saya di industri wisata negri ini.

“Nilai utama komunitas kami ini berbagi, belajar, berani, bijak, dan bermanfaat untuk umat,” kata Panji Tito mengawali obrolan sambil menjelaskan Ardi Winangun adalah
pendiri dan penggagas awal komunitas Backpacker International 814 yang kini beranggotal aktif 350 traveler.

Menurut dia Backpacker International 814 hadir bukan hanya sebagai komunitas jalan-jalan, tetapi sebagai ruang tumbuh bersama bagi siapa pun yang ingin melihat dunia dengan cara yang lebih cerdas, hemat, mandiri, dan bermakna.

Pertemuan rutin anggota komunitas

Panji Tito ( paling kanan) bersama para anggota di Hotel Artotel Gelora Senayan, Jakarta

Dini ( kiri) dan teman-teman anggota Backpaker Internadional 814

Misi Backpacker International adalah rumah bagi para traveler yang ingin belajar mandiri, bijak mengelola budget, dan berani melihat dunia dengan cara yang lebih cerdas.

“Di sini, setiap anggota bukan hanya menjadi peserta perjalanan, tetapi juga bagian dari keluarga yang menjaga nilai kebersamaan, kepedulian, dan keberlanjutan komunitas lintas generasi. Kami rutin melakukan pertemuan dan program-program yang mencerahkan anggota komunitas,” ungkap Panji Tito.

Angka 814 menjadi identitas khusus komunitas. Maklum komunitas bernama sama juga banyak di negeri ini dan angka dibelakangnya menjadi pembeda dan penguat jati diri, karena setelah komunitas ini hadir, mulai bermunculan komunitas dengan nama sama dan konsep serupa.

“ Kami bukan hanya komunitas traveling, tetapi sebuah keluarga besar lintas usia, profesi, dan latar belakang. Kami Dipertemukan oleh semangat yang sama yaitu belajar, berbagi pengalaman, saling mendukung, dan memberi manfaat agar semakin banyak orang berani menjelajah luar negeri tanpa harus takut pada keterbatasan biaya,” tegasnya.

Meski ada embel-embel internasional bukan berarti tidak melakukan perjalanan wisata di dalam negri. Ibarat membaca Al-Quran, anggotanya rata-rata sudah khatam alias sudah berpengalaman traveling di dalam negri.

Kini kebanyakan dari mereka berwisata ke mancanegara dan berupaya ‘menaklukan’ pula transportasi publik di negara-negara yang dikunjunginya.

Pengalaman memanfaatkan transportasi lokal itulah yang dibagikan sesama anggota komu-nitas sehingga menjadi bekal ilmu bagi anggota lain untuk mencapai destinasi yang ada termasuk hidden gem di mancanegara.

“Berbagi pengalaman inilah yang membuat komunitas ini menjadi bagian dari keluarga yang menjaga nilai kebersamaan, kepedulian, dan keberlanjutan komunitas lintas generasi,” kata Panji Tito dengan bijak.

Di sini, setiap perjalanan menjadi ilmu, setiap pengalaman menjadi manfaat, dan setiap anggota menjadi bagian dari regenerasi komunitas yang hidup sepanjang masa.

Membangun budaya sharing dan saling membantu dalam komunitas traveler sangat penting karena perjalanan pada dasarnya bukan hanya soal berpindah tempat, tetapi juga tentang berbagi pengalaman, pengetahuan, dan dukungan antarmanusia.

Lagi pula, berbagi ilmu membantu anggota menghindari kesalahan yang sama karena pengalaman satu orang bisa menjadi pelajaran berharga bagi yang lain. Mulai dari mengurus visa, menghindari penipuan di destinasi tertentu, memilih hotel yang aman hingga mengetahui adat dan budaya lokal.

Dengan budaya berbagi, anggota baru tidak perlu mengulang kesalahan yang pernah dialami anggota lain dan menciptakan rasa aman. Soalnya traveler sering menghadapi situasi tak terduga seperti kehilangan barang,
ketinggalan pesawat, sakit saat perjalanan belum lagi soal kendala bahasa asing.

Ketika komunitas memiliki budaya saling membantu, anggota merasa memiliki “keluarga kedua” yang siap memberikan solusi atau dukungan. Pengetahuan kolektif komunitas jauh lebih kaya daripada panduan wisata biasa.

Komunitas yang anggotanya saling berbagi tanpa pamrih akan membangun kepercayaan yang kuat dan dari kepercayaan lahirlah
kolaborasi, pertemanan, peluang bisnis, program perjalanan bersama. Bahkan banyak komunitas traveler yang berkembang menjadi jaringan profesional karena adanya trust yang tinggi.

Orang sering mengingat bukan hanya tempat yang dikunjungi, tetapi juga orang-orang yang ditemui dan kebaikan yang diterima. Budaya
berbagi membuat perjalanan menjadl lebih manusiawi, lebih hangat dan berkesan.
.
Komunitas yang saling berbagi dapat menjadi tempat bertanya tanpa takut dihakimi, mendapatkan teman seperjalanan,menguatkan keimanan, menemukan rasa memiliki (sense of belonging).

“Jangan lupa perjalanan bukan hanya berpindah destinasi, tetapi juga proses penyembuhan (healing) dan penguatan spiritual. Perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang kita nikmati sendiri, melainkan perjalanan yang pengalamannya dibagikan sehingga dapat menerangi langkah orang lain.”

Banyak komunitas perjalanan hanya berbagi:
promo tiket, rekomendasi hotel, itinerary
atau foto-foto destinasi. Sedangkan komunitas Backpaker Internadional 814 ini saya dapati bisa menawarkan sesuatu yang lebih dalam.

Bukan hanya berbagi tempat yang dikunjungi, tetapi juga berbagi kekuatan untuk melanjut-kan perjalanan hidup. Iya betul perjalanan hidup karena curahan hati sesama anggota bisa saling menguatkan tanpa harus mengumbar kata-kata lawan bicaranya bisa menyatakan dia pernah berada di posisi yang sama, dan berhasil melewatinya. Itulah kekuatan komunitas traveler ini.

Interaksi antar anggota walau sesaat pada pertemuan kami ini bahkan masih hitungan kurang dari tiga jam saya sudah berani mengaitkan bahwa dalam ilmu pariwisata modern membangun atmosfir ‘Kekeluargaan’ menjadi tren yang sangat kuat bagi komunitas.

Wisatawan kini mencari connection (koneksi), belonging (rasa memiliki),meaning (makna), transformation (perubahan diri) bukan sekadar rekreasi.

Oleh karena itu saat berpisah di lobby hotel saya mendapat insight bahwa perjalanan yang sukses bukan terjadi karena kita pergi jauh, tetapi karena dalam perjalanan itu kita menemukan orang-orang yang mengingatkan bahwa kita tidak berjalan sendirian.

Filipina Menetapkan Standar Baru dalam Pariwisata Ramah Muslim

this formate

Dari tradisi yang sarat dengan nilai-nilai keagamaan hingga destinasi ramah Muslim, Filipina siap menyambut pengunjung Muslim dari seluruh dunia (Foto: DOT)

MANILA, bisniswisata.co.id: Filipina terus memperkuat posisinya sebagai destinasi ramah Muslim yang sedang berkembang di Asia, menyambut wisatawan dari Timur Tengah dan dunia Muslim yang lebih luas melalui ekosistem pengalaman pariwisata halal dan ramah Muslim yang terus berkembang.

Momentum ini semakin diperkuat oleh hubungan pariwisata dan budaya yang kuat dengan negara-negara mayoritas Muslim tetangga seperti Brunei, Indonesia, dan Malaysia di bawah BIMP-EAGA yaitu
Brunei-Indonesia–Malaysia–Filipina East ASEAN Growth Area

Seperti diakui oleh Mastercard-CrescentRating Filipina adalah destinasi ramah Muslim yang sedang berkembang dan menduduki peringkat ke-8 di antara destinasi non-OIC dalam Indeks Perjalanan Muslim Global (GMTI) 2025.

Filipina terus mendapatkan pengakuan internasional atas upayanya dalam memajukan pariwisata halal dan ramah Muslim.

Di seluruh kepulauan, wisatawan kini dapat menikmati berbagai pilihan akomodasi, tempat makan bersertifikasi halal, atraksi budaya, dan layanan pariwisata yang dirancang untuk mendukung kebutuhan berbasis keyakinan wisatawan Muslim sekaligus menawarkan pengalaman budaya dan warisan yang otentik.

Selain infrastruktur pariwisata, Filipina juga berinvestasi dalam pengembangan tenaga kerja, kesiapan destinasi, dan inisiatif kesadaran budaya untuk memperkuat penyediaan layanan pariwisata halal dan ramah Muslim di seluruh negeri.

Departemen Pariwisata Filipina (DOT) terus mendukung pertumbuhan ini melalui implementasi Program Pengakuan Tempat Akomodasi Ramah Muslim (MFAE) di seluruh hotel dan tempat pariwisata.

Ini sekaligus mendorong sertifikasi halal di antara restoran, akomodasi, dan penyedia layanan pariwisata di seluruh negeri.

Pertumbuhan Infrastruktur dan Pengalaman Perjalanan Halal

Infrastruktur pariwisata ramah Muslim terus berkembang di seluruh Filipina, didukung oleh inisiatif pengembangan pariwisata halal nasional dari DOT. Hingga saat ini, DOT telah secara resmi mengakui 67 Tempat Akomodasi Ramah Muslim (MFAE) di seluruh negeri.

Hal ini mencerminkan komitmen berkelanjutan Filipina untuk memperkuat ekosistem pariwisata halal dan ramah Muslimnya. Memimpin upaya ini adalah Megaworld Hotels & Resorts, jaringan hotel pertama di Filipina yang mencapai pengakuan MFAE 100% di semua propertinya, yang semakin memperkuat portofolio akomodasi ramah Muslim yang berkembang di negara ini.

Selain pengembangan infrastruktur, Filipina juga bangga memperkuat kesadaran budaya dan kesiapan tenaga kerja pariwisatanya. Melalui berbagai inisiatif pelatihan dan peningkatan kapasitas yang dilakukan oleh DOT, diperkirakan 3.000 petugas dan pemangku kepentingan pariwisata di seluruh negeri telah menerima pelatihan khusus tentang dasar-dasar halal.

Mereka memahami wisatawan dan tamu Muslim, dan pentingnya layanan yang peka dan penuh hormat secara budaya. Di antara destinasi utama negara ini, Boracay terus memperkuat posisinya sebagai destinasi pulau ramah Muslim melalui inisiatif seperti Marhaba Boracay, yang memiliki teluk pantai seluas 800 meter persegi yang didedikasikan untuk keluarga Muslim.

Boracay, Cebu, Cagayan de Oro, Davao City, dan Metro Manila terus menampilkan semakin banyak tempat makan bersertifikasi halal, fasilitas ibadah, dan layanan pariwisata yang dirancang untuk mendukung kebutuhan dan kenyamanan wisatawan Muslim.

Selain akomodasi dan tempat makan, Filipina menawarkan kesempatan kepada wisatawan Muslim untuk merasakan kekayaan keragaman budaya negara ini melalui tour warisan budaya, pengalaman pulau dan alam, komunitas lokal yang dinamis, dan kunjungan ke situs warisan Islam di seluruh Mindanao.

Mulai dari pantai-pantai yang masih alami dan pulau-pulau tropis hingga pusat-pusat kota yang dinamis dan destinasi budaya, negara ini terus memposisikan dirinya sebagai destinasi yang ramah di mana para pelancong Muslim dapat menikmati perjalanan bermakna yang berlandaskan keramahan, inklusivitas, dan pemahaman budaya.(PRNewswire)

Malaysia Pertahankan Keunggulan Kompetitif di Industri Halal Global Melalui Jakim – BMI

this formate

KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id: Kredibilitas kelembagaan Malaysia tetap menjadi keunggulan kompetitif utama dalam lanskap sertifikasi halal global, yang didukung oleh sistem sertifikasi halal yang diakui secara internasional dikembangkan oleh Departemen Pengembangan Islam Malaysia (JAKIM), menurut BMI, sebuah unit dari Fitch Solutions.

Di lansir dari Bernama dalam sebuah pernyataan, BMI mengatakan bahwa JAKIM secara luas dianggap sebagai tolok ukur halal untuk ketelitian, konsistensi, dan kematangan operasional

Pengaruh Malaysia berasal dari persepsi bahwa sistem sertifikasinya kredibel secara teknis, dikelola secara profesional, dan dapat dipahami secara internasional.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa Malaysia juga diuntungkan oleh basis konsumen yang relatif makmur, dengan 47,6 persen rumah tangga diproyeksikan berpenghasilan di atas US$25.000 pada tahun 2026, lebih tinggi daripada di pasar negara berkembang mayoritas Muslim seperti Turki (25,9 persen) dan Indonesia (9,6 persen).

“Selain itu, Malaysia memiliki ekosistem halal yang lebih luas yang mencakup keuangan Islam, pariwisata, farmasi, dan manufaktur berorientasi ekspor,” ungkap BMI

Malaysia bergerak lebih awal untuk memformalkan tata kelola halal, dengan sertifikasi halal yang diakui negara dengan diperkenalkan di tingkat nasional pada tahun 1994 di bawah Divisi Makanan dan Produk Konsumen Islami JAKIM saat itu.

Sebagai perbandingan, beberapa negara mayoritas Muslim lainnya mengembangkan kerangka kerja halal yang kuat lebih lambat atau mengadopsi pendekatan yang lebih terdesentralisasi.

Sebagai contoh, Indonesia memiliki ekosistem halal yang sudah lama mapan melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI), tetapi peralihan ke kerangka kerja yang lebih formal dan dipimpin negara di bawah Badan Penyelenggara Penjaminan Produk Halal (BPJPH) setelah badan tersebut secara resmi didirikan pada tahun 2017.

Dalam pasar global yang terfragmentasi, negara dan perusahaan sering mencari lembaga sertifikasi yang sudah dipercaya secara luas, dan Malaysia telah berhasil menjadikan sistem sertifikasinya bernilai komersial di luar batas negaranya sendiri.

“Kelemahan Malaysia adalah kurangnya kekuatan pendorong dari pasar domestik yang sangat besar. Sertifikasinya mungkin dihormati secara luas, tetapi tidak dapat memaksa perusahaan internasional untuk menyesuaikan diri dengan cara yang sama seperti yang berpotensi dilakukan Indonesia melalui besarnya permintaan.”

Malaysia juga beroperasi dalam sistem di mana bahkan badan sertifikasi yang sangat dihormati pun tidak menikmati pengakuan universal.

Secara global, BMI menyatakan bahwa ekonomi halal telah berkembang dari isu kepatuhan keagamaan yang khusus menjadi sistem perdagangan dan regulasi internasional yang besar, dengan makanan dan minuman halal tetap menjadi segmen terbesar dan paling berkembang.

Pengeluaran untuk makanan dan minuman halal diperkirakan akan tumbuh dari US$1,3 triliun pada tahun 2026 menjadi US$1,8 triliun pada tahun 2030, mewakili tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 6,9 persen selama periode perkiraan (2026-2030), yang sebagian besar didorong oleh ekspansi ekonomi yang kuat di pasar mayoritas Muslim.

Namun, sistem sertifikasi masih terfragmentasi di berbagai negara dan badan sertifikasi, sehingga menciptakan kompleksitas bagi pengecer, produsen, dan eksportir, meningkatkan biaya, dan memperlambat masuknya pemain ke pasar.

Laporan Perjalanan untuk Perempuan Muslim 2026: Membuat Perjalanan Lebih Aman bagi Perempuan

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Lanskap perjalanan global sedang mengalami transformasi besar yang dipimpin oleh salah satu segmennya yang paling berpengaruh.

Pada tahun 2025, diperkirakan 186 juta pengunjung Muslim internasional menyumbang $210 miliar bagi perekonomian global—angka yang diproyeksikan akan meningkat menjadi 245 juta pengunjung dan $235 miliar dalam lima tahun.

Dalam pertumbuhan ini, perempuan Muslim memainkan peran sentral, kini menyumbang 48% dari kedatangan pengunjung Muslim global.

Laporan Muslim Women in Travel 2026 diterbitkan untuk memberikan peta jalan yang dapat ditindaklanjuti bagi industri dengan mensintesis kecerdasan kolektif dari lebih dari 1.700 responden dan pemangku kepentingan industri.

Laporan ini bertujuan untuk memahami realitas perjalanan berbasis agama yang lebih kompleks, memastikan bahwa masa depan pariwisata lebih aman, lebih inklusif, dan sangat berempati terhadap kebutuhan perempuan Muslim.

Memahami Tantangan: Kerangka Kerja PAINS

Untuk benar-benar membuat perjalanan lebih aman dan mudah diakses, kita harus terlebih dahulu mengidentifikasi di mana letak hambatannya. Laporan ini menggunakan kerangka kerja PAINS untuk mengkategorikan lima tantangan spesifik yang dihadapi perempuan Muslim:

Privasi: Kekhawatiran utama terlepas dari pakaian; banyak pelancong menghadapi kesulitan dengan fasilitas yang kurang memiliki privasi yang memadai atau memiliki aturan berpakaian yang ketat.

Fasilitas: Kebutuhan berbasis agama, seperti ruang sholat yang dipisahkan berdasarkan jenis kelamin atau fasilitas wudu (bersuci), seringkali diabaikan atau gagal memenuhi kebutuhan khusus perempuan.

Identitas: Di luar gender, perempuan Muslim mungkin menghadapi prasangka atau stereotip berdasarkan ekspresi keyakinan, warna kulit, atau etnis mereka.

Jaringan: Meskipun para pelancong ingin terhubung dengan komunitas lokal dan kelompok yang memiliki minat yang sama, menemukan jaringan yang aman dan terverifikasi ini tetap menjadi tantangan.

Keamanan: Ini mencakup keamanan umum dan ketakutan khusus terkait meningkatnya Islamofobia, kejahatan kebencian, dan prasangka terhadap perempuan Muslim.

Merancang untuk Keberagaman: Persona Wisatawan

Wisatawan Muslimah bukanlah kelompok yang seragam. Untuk meningkatkan pengalaman mereka, industri pariwisata harus mengenali empat persona berbeda ini:

Perencana Perjalanan Keluarga yang Berpusat pada Keagamaan. Dalam perjalanan keluarga, perempuan seringkali menjadi penyelenggara dan pengatur anggaran utama. Hal ini bahkan lebih terlihat dalam perjalanan keagamaan.

Penting untuk dicatat bahwa wisatawan keluarga adalah salah satu pola perjalanan paling populer bagi perempuan.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan perjalanan mereka, destinasi harus memprioritaskan fasilitas ibadah yang bersih dan ramah perempuan serta akomodasi berorientasi keluarga dengan fasilitas ramah anak.

Penjelajah Solo Independen

Ini adalah segmen yang berkembang dari para pelancong wanita Muslim, yang sering mencari otonomi dan pengembangan diri. Ketika mereka bepergian sendirian, otonomi dan keselamatan adalah dua aspek yang diprioritas

Objek wisata dan akomodasi harus memper-hatikan hal ini dan menyediakan alat digital untuk perencanaan dan navigasi, serta keselamatan umum dan sinyal ramah Muslim yang jelas.

Pelancong Sosial Berkelompok Wanita

Berpergian dalam kelompok khusus wanita, para wanita di sini berfokus pada menciptakan perjalanan wisata yang berpusat pada kenyamanan bersama dan koneksi sosial.

Untuk memenuhi kebutuhan persona pelancong ini, bisnis dapat menawarkan ruang dan fasilitas khusus wanita seperti spa, pantai pribadi, dan tempat sholat. Selain itu, akomodasi yang ramah sosial dengan kegiatan untuk mempererat hubungan akan semakin melengkapi pengalaman perjalanan.

Pelancong Multimoda Hibrida

Ini adalah wanita yang menyesuaikan gaya perjalanan mereka tergantung pada konteks perjalanan. Sepanjang perjalanan solo, kelompok, dan keluarga, mereka terus-menerus menyesuaikan peran mereka mulai dari perencanaan, koordinasi, hingga pengambilan keputusan.

Bagi para pelancong wanita ini, standar ramah Muslim yang konsisten di semua titik kontak adalah hal utama. Untuk memudahkan perjalanan mereka, diperlukan juga pemesanan digital yang mudah diakses, pilihan dompet elektronik, dan mobilitas yang lancar.

Rekomendasi untuk Industri

Dapat dipahami bahwa perempuan memiliki peran utama dalam pengambilan keputusan perjalanan. Untuk memfasilitasi hal ini dan membuat pengalaman perjalanan lebih baik bagi perempuan, termasuk para ibu, para pemangku kepentingan pariwisata harus fokus pada transparansi dan inklusivitas. Rekomendasi utama meliputi:

*Menerapkan standar sertifikasi yang transparan untuk makanan Halal dan fasilitas ibadah.

*Memanfaatkan agen AI untuk memberikan penilaian keselamatan secara real-time dan peringatan lokal.

Mendorong inisiatif yang dipimpin perempuan, seperti pantai khusus perempuan (seperti yang terlihat di Pantai Pasir Emas di Turki) atau tur yang dipimpin perempuan, yang menarik bagi 90% wisatawan perempuan yang lebih menyukai lingkungan hotel yang dipimpin perempuan.

Ambil Peran Utama dalam Pariwisata Inklusif

Laporan Muslim Women in Travel 2026 adalah seruan untuk bertindak. Merayakan Hari Ibu, publikasi ini merupakan seruan universal untuk menjadikan pasar pariwisata lebih ramah dan memfasilitasi perempuan Muslim.

Dengan memahami wisatawan perempuan Muslim dan mengatasi tantangan perjalanan mereka saat ini, kita dapat membuka potensi di masa depan.

Unduh laporan lengkapnya di sini untuk mengetahui bagaimana destinasi Anda dapat mengakomodasi kebutuhan wisatawan perempuan Muslim.

Pariwisata Religius di Spanyol, Segmen yang Berkembang Pesat dalam Transformasi

this formate

MADRID, bisniswisata.co.id: Di antara negara-negara Eropa, Spanyol saat ini menonjol karena perubahan pola perjalanan berbasis keagamaan. Belum lama ini, perjalanan semacam itu hanya berpusat pada ritual atau situs suci.

Sekarang, perjalanan tersebut menjadi bagian dari eksplorasi budaya yang lebih luas, memengaruhi ekonomi lokal dan identitas regional.

Dilansir dari tourism-review.com, temuan utama berasal dari laporan terbaru oleh ObservaTUR, berjudul Pariwisata Religius di Spanyol: Perjalanan Menuju Segmen yang Sedang Bertransformasi.

Untuk menyusunnya, para peneliti bekerja sama dengan lebih dari dua belas spesialis sambil meninjau lebih dari seratus dokumen. Pertumbuhan di sini terkait erat dengan bagaimana pengunjung berinteraksi dengan warisan, ingatan, dan tempat – bukan hanya doktrin.

Ledakan Pariwisata Religius dengan Spanyol sebagai Pelopor

Setiap tahun, perjalanan religi mengalihkan lebih dari 300 juta individu di berbagai benua, berkembang sekitar sepuluh persen per tahun.

Pada tahun 2026, perkiraan yang hati-hati menempatkan nilai sektor ini di atas lima belas miliar euro; namun, prospek yang lebih berani mengisyaratkan bahwa nilainya mungkin akan melampaui 400 miliar dalam sepuluh tahun.

Di tengah lanskap ini, Spanyol kini berdiri kokoh di antara tiga destinasi wisata global teratas – menyamai Italia dan wilayah-wilayah yang sakral dalam sejarah Alkitab.

Salah satu aset utama terletak pada daya tarik luas Camino de Santiago. Festival Pekan Suci menarik pengunjung dari seluruh dunia.

Situs-situs seperti El Rocío, Montserrat, dan El Pilar menjadi daya tarik yang kuat bagi para peziarah. Sejarah keagamaan di sini sangat dalam, membentuk bagian dari kehidupan sehari-hari di berbagai wilayah.

Sebanyak 20 juta orang di Spanyol melakukan perjalanan yang terkait dengan iman atau akar budaya. Angka itu mungkin rendah jika menghitung kunjungan kuil dan pertemuan spiritual besar. Bahkan dengan perkiraan minimum, hampir sepertiga populasi ikut serta dalam beberapa cara.

Jenis Wisatawan Baru dan Lebih Beragam

Apa yang mendorong pertumbuhan ini? Perpaduan antara perubahan minat wisatawan, akses yang lebih baik ke situs-situs terpencil, kunjungan yang disesuaikan, dan kemajuan teknologi.

Setelah lockdown, lebih banyak orang menghubungkan praktik spiritual dengan warisan, kesehatan, dan eksplorasi batin.
Saat ini, para peziarah bukanlah seperti dulu – berbagai usia, latar belakang, dan kepercayaan berbaur lebih bebas.

Semakin banyak pengunjung yang datang, termasuk kaum muda dan keluarga yang terdiri dari beberapa generasi, masing-masing mencari kedalaman dalam apa yang mereka temui.

Meskipun ikatan dengan agama terorganisir mungkin lemah atau sesekali, rasa ingin tahu tetap kuat terhadap ekspresi seperti “Katolik yang keren.”

Ketertarikan tersebut seringkali berpusat pada perpaduan: momen spiritual yang terkait dengan kisah-kisah lama, makanan lokal, ruang terbuka, dan keseimbangan batin.

Tidak setiap perjalanan dimulai dari doktrin; banyak yang dimulai dengan kerinduan yang tenang.

Kini semakin jelas terlihat, jalur spiritual terbentuk bersamaan dengan pengalaman pribadi yang mendalam, tur yang berfokus pada cerita, sementara perjalanan yang berakar pada budaya perlahan menggantikan refleksi tenang yang hanya berfokus pada situs-situs warisan.

Salah satu alasan yang menonjol adalah Andalusia sangat menekankan pariwisata religi di Spanyol. Berkat pendekatan yang berfokus pada jangkauan global, banyak penawaran muncul di seluruh wilayah: jalur yang menelusuri sejarah, perjalanan yang dikurasi, pameran karya seni suci, festival yang ditandai oleh tradisi, serta pertemuan yang berakar pada keyakinan.

Tersebar di seluruh Spanyol terdapat kekayaan budaya yang melimpah – tujuh puluh delapan katedral berdiri bersama lebih dari tiga ribu seratus situs keagamaan yang dilindungi, delapan belas di antaranya berstatus UNESCO.

Tidak terbatas pada keyakinan saja, tempat-tempat ini memicu aktivitas di bidang penginapan, ritel, transportasi, dan layanan makanan.

Dengan setiap euro yang diinvestasikan dalam pariwisata religi, manfaatnya menyebar secara diam-diam tetapi luas ke kota-kota terdekat.

Penurunan musiman mereda di tempat pariwisata semacam itu berkembang, memberikan energi baru ke wilayah terpencil atau yang terabaikan.

Tantangan dan Peluang di Masa Depan

Meskipun ada kemajuan, hambatan masih ada. Untuk maju, para spesialis menekankan penyempurnaan layanan melalui profesionalisme yang lebih besar, hubungan yang lebih kuat antara badan pemerintah dan kelompok berbasis agama.

Ini bersamaan dengan penggunaan teknologi yang lebih cerdas – dan tidak melupakan pengalaman perjalanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung yang berubah.

Tetap setia pada akar sakral sambil memanfaatkan keuntungan ekonomi, tanpa mengubah keseimbangan, tetap menjadi inti. Keaslian harus dipertahankan bahkan ketika peluang berkembang.

Di antara solusi yang ditawarkan, laporan ObservaTUR menguraikan hampir dua belas tujuan strategis bersama dengan empat puluh tindakan spesifik.

Kerangka kerja pemantauan yang menggunakan enam belas indikator disarankan, bertujuan untuk mencerminkan cakupan masalah secara lebih akurat meskipun data yang ada masih terfragmentasi.

2026 Titik Balik untuk Pariwisata Religi di Spanyol

Dari menjelang tahun 2026, perjalanan yang terkait dengan agama di Spanyol mungkin akan mengalami perubahan yang signifikan. Alasan utamanya adalah Yubileum Piala Suci, yang menarik pengunjung karena kejadiannya yang langka.

Kemudian datang perayaan untuk menghormati San Juan de la Cruz, yang menawarkan kedalaman budaya di samping makna spiritual.

Katedral Toledo menandai delapan ratus tahun sejak pembangunan dimulai – tonggak sejarah ini menambah bobot historis.

Mulai tanggal 4 Oktober, ibadah yang terkait dengan Virgen de la Cabeza mendapatkan penekanan baru. Di sepanjang garis pantai, jalur alternatif yang terkait dengan Camino de Santiago tampak lebih terlihat sekarang.

Menjelang acara tersebut, kedatangan Paus Leo XIV dapat membawa keuntungan ekonomi mulai dari €90 hingga €125 juta. Namun di luar angka-angka tersebut, pengaruhnya yang lebih dalam mungkin terletak pada visibilitas.

Semua ini memposisikan Spanyol di panggung dunia sebagai destinasi yang dibentuk oleh iman, sejarah, dan momen-momen yang mengubah perspektif.

Para Manajer Perjalanan Global Beralih ke Strategi Asia Seiring Berkembangnya Tuntutan Perjalanan bisnis.

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Setelah berakhirnya GBTA APAC 2026 dan menjelang pembukaan ITB China 2026, Kalangan industri wisata melihat pelajaran yang dapat dibagikan oleh para profesional perjalanan bisnis Asia kepada rekan-rekan global mereka.

Mengingat situasi saat ini, tidak mengherankan jika sebagian besar aktivitas perjalanan dan pariwisata tahun ini condong ke Asia, terutama yang berkaitan dengan perjalanan bisnis.

Beberapa minggu yang lalu, kami berkesempatan meliput Konferensi GBTA APAC 2026 di mana ditekankan bahwa sektor ini berkembang pesat di Asia…dan seluruh dunia perlu mengikutinya.

Berdasarkan diskusi di Konferensi tersebut, di Travel Daily Media Global Summit kami sendiri di Bangkok bulan lalu, serta acara industri lainnya di seluruh Asia Pasifik, dunia memiliki banyak hal untuk dipelajari dari rekan-rekan Asia-nya dalam hal meningkatkan perjalanan bisnis di tengah tantangan saat ini.

Pembelajaran utama telah diringkas menjadi tiga konsep fundamental yang akan kami uraikan dalam artikel ini, dan secara khusus berkaitan dengan membangun hubungan interpersonal, memanfaatkan penggunaan teknologi, serta tren bleisure yang melanda dunia perjalanan global.

Bertemu langsung masih penting

Perjalanan bisnis adalah salah satu sektor yang paling terpukul selama pandemi karena pembatasan global mencegah pertemuan tatap muka, mendorong dunia untuk bergantung pada platform komunikasi seperti Microsoft Teams dan Slack, serta platform konferensi seperti Zoom.

Sementara sebagian besar dunia Barat terus merangkul konferensi virtual, rekan-rekan mereka di Asia menyambut pembukaan kembali dunia untuk membangun kembali hubungan dengan klien dan kolega secara langsung.

Ini adalah budaya, karena sebagian besar negara Asia sangat menghargai pembentukan hubungan dekat di dalam dan di luar pekerjaan untuk memastikan komunikasi yang baik dan menumbuhkan kepercayaan di antara pihak-pihak yang terlibat.

Memang, seperti halnya para pelancong bisnis dari Asia Timur, seluruh dunia perlu menyadari bahwa pertemuan tatap muka masih memiliki dampak yang lebih besar daripada telekonferensi apa pun terhadap bisnis seseorang.

Lagipula, mengutip CEO GBTA Suzanne Neufang: “Selama pandemi, orang-orang seperti Bill Gates memprediksi bahwa perjalanan internal akan hilang.

Perjalanan internal perusahaan akan benar-benar berakhir berkat semua teknologi virtual hebat yang diluncurkan.

Untungnya, prediksi itu tidak terjadi. Bahkan, perjalanan internal setidaknya merupakan salah satu dari dua atau tiga alasan utama mengapa perusahaan masih mengirim karyawan mereka untuk melakukan perjalanan dinas.

Aplikasi membuat segalanya lebih mudah di Asia

Hal yang menarik tentang dunia perjalanan di Asia adalah bahwa mereka telah sangat memahami manfaat penggunaan aplikasi super.

Di Asia Tenggara, ada MOVE milik Air Asia yang memungkinkan para pelancong untuk melakukan segalanya mulai dari pemesanan penerbangan hingga memilih tempat wisata untuk dikunjungi

Grab telah memperluas kemampuannya untuk mencakup pemesanan hotel dan restoran di samping layanan transportasi dan pengiriman makanan andalannya.

Di Tiongkok Daratan dan wilayah otonom khususnya, Alipay lebih dari sekadar solusi pembayaran biasa, tetapi aplikasi serba guna yang dapat digunakan untuk membeli tiket kereta api, memesan transportasi, dan bahkan melakukan penerjemahan bagi para pelancong yang kesulitan berkomunikasi dengan penduduk setempat.

Aplikasi-aplikasi ini secara khusus dibuat untuk pasar regional di mana kenyamanan dan otonomi digital adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, dan alat-alat tersebut mempermudah segala hal mulai dari pemesanan hingga pemantauan bagi para manajer perjalanan bisnis.

Mereka yang berada di belahan dunia lain dapat belajar banyak dari hal ini, khususnya terkait implementasi alat visibilitas pengeluaran yang memastikan kepatuhan terhadap peraturan perjalanan perusahaan sekaligus memberikan fleksibilitas optimal bagi para pelancong individu.

Mengaburkan batas antara bisnis dan rekreasi

Meskipun perjalanan gabungan, yaitu perjalanan di mana istirahat dan relaksasi mengikuti bisnis atau sebaliknya, hampir selalu menjadi hal yang wajar, hal ini menjadi lebih umum dalam beberapa tahun terakhir.

Berkat para pekerja digital nomaden dan pelancong muda yang bekerja, kebijakan perjalanan di Asia menjadi lebih fleksibel dan lincah, memungkinkan karyawan untuk memperpanjang perjalanan bisnis guna memastikan rekreasi pribadi atau menambah waktu berkualitas bersama keluarga.

Dengan demikian, para pelancong bisnis Asia kembali bekerja dengan kepuasan yang lebih besar daripada sekadar mengetahui bahwa misi telah tercapai; pada saat yang sama, perusahaan dapat memaksimalkan pengembalian atas pengeluaran mereka untuk perjalanan.

Seperti yang telah kami nyatakan dalam artikel sebelumnya, ini merupakan keuntungan besar bagi para pelancong bisnis yang menjalani beberapa pertemuan dalam satu perjalanan karena memungkinkan mereka untuk menyegarkan diri sebelum kembali melapor dan melanjutkan bisnis seperti biasa.

Destinasi Global Tingkatkan Transportasi dan Layanan Kesehatan Seiring Pasar Perjalanan senior Dekati US$2 triliun

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id:  Semakin banyaknya pelancong senior di seluruh dunia, beberapa ibu kota dan kota besar terkemuka menyambut mereka dengan berbagai fasilitas ramah senior.

Baru minggu lalu, Fortune Business Insight menerbitkan laporan mereka tentang industri perjalanan lansia global, yang menyebutkan bahwa nilainya kini mendekati US$1,87 triliun pada akhir tahun 2025.

Dilansir dari traveldailymedia.com, akibatnya, jika pasar tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 8,6 persen, kita mungkin akan melihat nilainya melonjak hingga sekitar US$2,07 triliun pada akhir tahun ini.

Dengan pertumbuhan industri yang begitu pesat, tidak mengherankan jika sejumlah negara menyambut para pelancong lansia dengan meriah sambil memastikan mereka memiliki semua yang dibutuhkan untuk perjalanan yang aman, nyaman, dan berkesan.

Dalam artikel ini, kami menyoroti lima negara yang berada di garis depan sektor perjalanan lansia dan melihat apa yang mereka lakukan untuk semakin banyaknya pelancong lansia.

Spanyol: Lansia dengan Daya Beli Lebih Tinggi

Sebuah laporan tahun 2026 dari Caixa Bank Research menunjukkan bahwa konsumen berusia di atas 65 tahun kini memiliki daya beli di atas rata-rata nasional dan, akibatnya, bertanggung jawab atas sebagian besar pengeluaran pariwisata baik di dalam negeri maupun internasional.

Wisatawan lansia Spanyol cenderung lebih memilih perjalanan domestik, dengan alasan anggaran dan kesehatan saat mengambil keputusan, tetapi mendapatkan nilai yang sangat baik untuk uang mereka di destinasi yang kurang dikenal di seluruh negeri.

Demikian pula, karena Spanyol dengan cepat berkembang sebagai pusat pariwisata lambat yang berfokus pada kesehatan dan budaya.

Wisatawan lansia dari luar negeri mengunjungi daerah-daerah seperti Tenerife di mana fasilitas untuk perawatan kesehatan preventif, penuaan sehat, dan pemulihan umum dari stres dan cedera semakin banyak dibuka.

Thailand: Penyembuhan masih menjadi kemewahan baru

Negara Asia Tenggara ini telah lama menjadi benteng pariwisata medis global, jadi tidak mengherankan jika negara ini menjadi pusat bagi wisatawan lansia yang mencari perawatan kesehatan berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau daripada di negara asal mereka.

Dampaknya sektor perhotelan Thailand telah meningkatkan kualitas layanannya seiring dengan meningkatnya popularitas tempat peristirahatan kesehatan dan peremajaan, menawarkan berbagai fasilitas untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan para tamu senior.

Demikian pula, terutama bagi mereka yang datang untuk prosedur medis atau terapi, negara ini juga memiliki fasilitas yang menawarkan pilihan perjalanan berkelas dunia bagi mereka yang tinggal dalam jangka waktu lebih lama.

Jepang: Penuaan super memiliki manfaatnya

Mengingat bahwa Negeri Matahari Terbit memiliki populasi tertua di dunia dengan 29,3 persen penduduknya berusia 65 tahun ke atas, negara ini telah berupaya mengembangkan lingkungan penuaan super yang dapat dipelajari oleh seluruh dunia mengenai aksesibilitas.

Memang, lembaga nasional seperti JR Pass untuk perjalanan kereta api menawarkan banyak cara bagi para pelancong lanjut usia untuk bepergian, termasuk akses tanpa hambatan.

Banyaknya lift dan jalan setapak mekanis untuk memastikan pergerakan yang lebih mudah, dan bantuan yang memadai dari staf dan sukarelawan yang terlatih bagi lansia.

Selain itu, di kota-kota kecil, pusat-pusat komunitas membuka pintu mereka bagi para pelancong lanjut usia, baik lokal maupun asing, dan melibatkan mereka dalam kegiatan budaya yang bermakna dan mendalam.

Malaysia: Rumah Kedua di Asia Tenggara

Bagi para pensiunan yang ingin meninggalkan negara asal mereka untuk perubahan pemandangan dan ritme kehidupan yang sesungguhnya, Malaysia bisa menjadi berkah yang tak terduga.

Program Malaysia My Second Home (MM2H) negara ini telah berhasil menarik para lansia dari luar negeri yang ingin tinggal dalam jangka panjang untuk menikmati gaya hidup yang terjangkau namun berkualitas tinggi.

Fakta bahwa negara ini termasuk di antara negara-negara teraman dan paling stabil secara politik di dunia telah menambah kilau reputasinya, serta keunggulan fasilitas wisata medisnya yang sangat membantu para pelancong lanjut usia.

China: Aksesibilitas adalah prioritas nasional

Bulan lalu, kami membuat artikel tentang industri pariwisata lansia China yang kini dianggap sebagai sektor prioritas bagi pemerintah nasionalnya.

Hingga akhir tahun 2025, lebih dari satu juta wisatawan Tiongkok berusia di atas 65 tahun telah memanfaatkan inovasi baru dalam perjalanan kereta api yang khusus untuk kenyamanan mereka, termasuk gerbong kereta khusus yang dilengkapi dengan fitur aksesibilitas dan diawaki oleh pengasuh terlatih.

Namun, ini bukan berarti perjalanan pariwisata lansia di Tiongkok berjalan mulus; jauh dari itu, karena negara ini masih perlu melakukan sesuatu tentang buta huruf digital dalam ekonomi yang semakin berpusat pada digital, serta langkah-langkah terkait asuransi perjalanan dan perawatan medis saat bepergian untuk individu lanjut usia.

Melintas Dua Negara Rencana Kereta Api Trans Kalimantan Sejalan dengan Proyek TBR Brunergy

this formate

Rencana jalur kereta cepat Trans Borneo disebut akan menghubungkan Pontianak, Brunei, Sabah, hingga kawasan IKN. (Dok.Brunergy, Diolah: AI/Pontianak Post)

PONTIANAK, bisniswisata.co.id: -Rencana pemerintah membangun jaringan kereta api di Pulau Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer sejalan dengan proyek kereta api lintas negara Trans Borneo Railway (TBR) yang digaungkan oleh perusahaan Brunei, Brunergy Utama Sdn Bhd.

Dilansir dari Pontianak Post, Proyek kereta api lintas negara Trans Borneo Railway(TBR) mengungkap rencana pembangunan jalur kereta cepat sepanjang 1.620 kilometer yang akan menghubungkan Pontianak, Malaysia, hingga Brunei Darussalam dan terkoneksi ke Ibu Kota Nusantara (IKN).

Rencana tersebut pertama kali diumumkan Brunergy melalui situs resminya, dua tahun lalu, dengan konsep pembangunan dua tahap yang menghubungkan kawasan pesisir Kalimantan Barat hingga Sabah, Malaysia, sebelum diteruskan ke Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur menuju Samarinda serta IKN.

Brunergy menyebut kereta cepat itu dirancang melaju dengan kecepatan 300-350 kilometer per jam dengan rata-rata jarak antar stasiun sekitar 150 kilometer dan waktu tempuh sekitar 30 menit per segmen perjalanan.

Tahap pertama direncanakan melintasi Pontianak, Mempawah, Singkawang, Sambas, Kuching, Sibu, Bintulu, Miri, Limbang, Lawas hingga Kota Kinabalu di Sabah.

Sementara tahap kedua akan menghubungkan Brunei menuju wilayah Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur melalui Long Bawan, Malinau, Tanjung Selor, Bontang, Samarinda, hingga Balikpapan.

Pemerintah Indonesia Belum Terima Proposal Resmi

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan pemerintah Indonesia belum menerima proposal resmi terkait proyek lintas negara tersebut.

“Itu saya baru dengar memang ada semacam usulan dari Malaysia, dari Sarawak. Untuk kami sih dengan senang hati membahasnya. Apabila itu baik buat semuanya, kenapa tidak?” ujar Dudy dikutip Kompas.

Menurut Dudy, pembahasan proyek tersebut sejauh ini masih berada pada tahap komunikasi awal dan belum masuk ke pembahasan teknis di Kementerian Perhubungan.

Dia menegaskan pemerintah masih perlu menghitung aspek kelayakan dan dampak ekonomi sebelum proyek dapat dipertimbangkan lebih lanjut.
“Kita lihat niatnya dulu, hitungannya bagaimana. Kita harus kaji dulu hitungannya,” katanya.

AHY Dorong Konektivitas Kalimantan Tidak Hanya Jalan Tol

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyatakan pembangunan konektivitas di Kalimantan tidak cukup hanya mengandalkan jalan darat dan jalan tol.

Menurut AHY, Indonesia membutuhkan integrasi moda transportasi laut, udara, dan kereta api agar pembangunan nasional tidak lagi terpusat di Pulau Jawa.

“Pembangunan tidak boleh Jawa sentris. Kita bukan negara kontinental, sehingga pembangunan konektivitas tidak bisa menggunakan resep negara-negara kontinental,” ujar AHY akhir pekan lalu di acara Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara di Jakarta

Pernyataan itu muncul di tengah masuknya kembali proyek Trans Kalimantan dalam agenda pengembangan jaringan perkeretaapian nasional hingga 2045.

Pemerintah saat ini merencanakan pembangunan jaringan kereta api di Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer sebagai bagian dari Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (Ripnas).

AHY mengatakan pemerintah masih melakukan perhitungan matang lintas kementerian sebelum proyek dijalankan.
Harapan Baru bagi Wilayah Pedalaman Kalimantan

Brunergy menilai proyek TBR dapat membuka akses bagi wilayah-wilayah pedalaman Kalimantan yang selama ini masih terisolasi dan sulit dijangkau.

Perusahaan tersebut menyebut konektivitas baru akan mempercepat distribusi barang, jasa, dan mobilitas masyarakat lintas negara di Pulau Kalimantan yang memiliki lebih dari 30 kelompok etnis.

Selain memangkas waktu tempuh logistik, proyek itu juga diklaim berpotensi menciptakan lapangan kerja baru serta memperkuat pertumbuhan ekonomi kawasan.

Brunergy sendiri didirikan pada 2013 dan awalnya bergerak di sektor minyak dan gas sebelum beralih fokus ke pengembangan transportasi massal dan kereta cepat di kawasan Borneo sejak 2014

Dewan Pariwisata Hong Kong bermitra dengan Informa Markets

this formate

Dr. Peter Lam dari HKTB (belakang kiri), Stephen Carter dari Informa Group (belakang kanan) ( Foto: HKTB) 

HONG KONG, bisniswisata.co.id: Nota Kesepahaman (MoU) antara Informa Markets dan Dewan Pariwisata Hong Kong (HKTB) akan menghadirkan serangkaian pameran baru. Perjanjian tiga tahun antara destinasi dan perusahaan pameran ini akan menciptakan The Festival of Connoisseurs (TFOC).

TFOC akan melaksanakan serangkaian acara bisnis yang ditujukan untuk sektor mewah termasuk kapal pesiar, perjalanan, perhiasan, supercar, seni, properti, penerbangan pribadi, kesehatan, minuman beralkohol, dan santapan mewah.

“Kemitraan ini sangat penting tidak hanya meningkatkan posisi Hong Kong sebagai destinasi global utama untuk pariwisata MICE kelas atas, tetapi juga menegaskan peran penting kota ini sebagai ‘penghubung super’ dan ‘penambah nilai super’ antara Tiongkok Daratan dan dunia, kata ketua HKTB, Dr. Peter Lam.

Pada saat yang sama, kolaborasi ini mendorong pengembangan pasar pariwisata kelas atas Hong Kong dan membantu menarik lebih banyak merek internasional dan pengunjung bernilai tinggi ke kota ini, tambahnya.

Acara-acara dalam Festival of Connoisseurs diharapkan akan tersebar di berbagai tempat di Hong Kong dan akan berkembang dalam skala dan jangkauannya dari waktu ke waktu. Acara kolektif ini akan menjadi acara unggulan bagi Hong Kong.

“Hong Kong telah menjadi jantung kisah Informa di Asia selama lebih dari tiga dekade,” kata CEO dan presiden Informa Markets Asia, Margaret Ma Connolly.

“Selama waktu itu, kami telah tumbuh bersama kota ini — melalui transformasinya, ketahanannya, dan penemuan kembali yang berkelanjutan sebagai salah satu destinasi bisnis paling berpengaruh di dunia.”

“Keputusan untuk meluncurkan Festival of Connoisseurs di sini bukan sekadar keputusan komersial. Ini adalah pernyataan keyakinan yang mendalam dan kami percaya Hong Kong berdiri sebagai gerbang utama antara ekonomi terbesar kedua di dunia dan panggung global, tempat kemakmuran Timur bertemu dengan seni Barat,” kata Margaret Ma Connolly.

Dengan menyatukan sumber daya, penge-tahuan, dan keahlian portofolio mewah global Informa  mulai dari pameran perahu paling bergengsi di dunia hingga pameran perhiasan terbaik.

Begitu pula  dari platform penerbangan pribadi eksklusif di Dubai hingga pameran supercar spektakuler di Monaco dan  menempatkannya di Hong Kong, kami membangun platform pameran mewah definitif Asia untuk jangka panjang. ungkapnya.

Indonesia Mengerahkan 8.633 Petugas untuk Memantau Penyembelihan Hewan Idul Adha

this formate

Petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal memeriksa daging kurban di Masjid Al Hidayah di Dusun Rowosari, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Jawa Tengah, pada Rabu (27 Mei 2026).

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pertanian Indonesia telah mengerahkan 8.633 petugas veteriner di seluruh negeri untuk memantau hewan kurban menjelang Idul Adha, seiring pemerintah memperketat pengawasan terhadap kesehatan hewan, kepatuhan halal, dan standar penyembelihan.

Dilansir dari kantor betita Antara, Para petugas, termasuk dokter hewan dan tenaga paramedis, telah ditugaskan di seluruh negeri, kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Agung Suganda di Jakarta pada Rabu.

Suganda mengatakan pemantauan mencakup kesehatan hewan, kesehatan masyarakat veteriner, kesejahteraan hewan, dan kepatuhan halal, termasuk kegiatan penyembelihan yang dilakukan di luar rumah potong hewan berlisensi.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga telah mengeluarkan surat edaran dan meningkatkan sosialisasi kepada panitia kurban menjelang hari raya Islam tersebut.

Pemerintah daerah telah mengerahkan tim pemantauan tambahan yang melibatkan asosiasi dokter hewan, kelompok peternak, dan penyembelih halal bersertifikat.

Mahasiswa dari 14 sekolah kedokteran hewan juga berpartisipasi dalam inspeksi dan mengedukasi masyarakat tentang praktik penyembelihan higienis yang sesuai dengan standar kedokteran hewan.

“Insya Allah, proses penyembelihan Idul Adha 1447 Hijriah akan berjalan lancar,” kata Suganda.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan Indonesia menghadapi surplus ternak menjelang perayaan Idul Adha tahun ini.

Ketersediaan ternak kurban telah mencapai sekitar 3,2 juta ekor, sementara permintaan nasional diperkirakan mencapai 2,4 juta ekor, sehingga terdapat surplus sekitar 800.000 ekor.

Surplus tersebut mencerminkan kondisi pasokan domestik yang stabil meskipun terdapat ketidakpastian global yang lebih luas, kata Sudaryono.

“Ada surplus sekitar 800.000 ekor, yang menunjukkan bahwa negara ini tetap dalam kondisi baik,” tambahnya.