Padang Jadi Destinasi Wisata Baru Teratas di Indonesia

this formate

Ramadi Nurima dan keluarga berwisata ke China untuk liburan keluarga.  Untuk domestik Padang jadi destinasi baru dan Beijing, China, telah menjadi destinasi terpopuler di kalangan masyarakat Indonesia (outbound), berkat arsitekturnya yang bersejarah.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Padang telah menjadi destinasi dengan pertumbuhan tercepat di kalangan wisatawan internasional yang mengunjungi Indonesia, menurut platform perjalanan digital Agoda.

Daftar New Horizons dari platform perjalanan tersebut juga mengungkapkan bahwa Banjarmasin adalah tujuan terpopuler bagi wisatawan domestik Indonesia. Sementara Beijing, China menjadi destinasi internasional dengan lonjakan popularitas terbesar di kalangan wisatawan Indonesia.

Peringkat New Horizons Agoda yang dirilis setiap tahun, membandingkan peringkat pemesanan akomodasi dalam dua tahun sebelumnya untuk mengidentifikasi destinasi wisata dengan kenaikan tertinggi, baik untuk perjalanan domestik maupun internasional.

Padang, Sumatera Barat, telah diakui sebagai destinasi baru teratas di kalangan wisatawan mancanegara (inbound) berkat kekayaan budayanya yang menjadi latar kisah-kisah legenda seperti Siti Nurbaya dan Malin Kundang.

Daya tarik lainnya adalah kulinernya yang mendunia, seperti Nasi Padang, Rendang, dan Sate Padang. Kota ini juga terkenal dengan pantai-pantainya yang menakjubkan, termasuk Pantai Carolina, Pantai Air Manis, Pantai Suwarnadwipa, Taplau, Ketaping, hingga Pantai Samudra.

Dengan akses mudah melalui Bandara Internasional Minangkabau, Padang menawarkan transportasi yang nyaman serta pengalaman budaya dan alam yang tak terlupakan.

Sementara Banjarmasin, kota terbesar di Kalimantan Selatan, menduduki peringkat teratas bagi wisatawan domestik, sebagai lokasi sempurna untuk menikmati budaya urban Kalimantan, baik di darat maupun di air.

Terletak di delta pertemuan sungai Barito dan Martapura, kota ini memiliki cuaca yang umumnya panas, dengan hujan sesekali turun bahkan selama musim kemarau.

Popularitas Banjarmasin yang terus meningkat di kalangan wisatawan domestik didukung oleh upaya daerah ini dalam mempromosikan festival lokal, pasar terapung, kuliner khas, dan pemandangan danau-danau yang indah.

Internasional

Untuk destinasi wisata internasional, Beijing, China, telah menjadi destinasi terpopuler di kalangan masyarakat Indonesia (outbound), berkat arsitekturnya yang bersejarah.

Mulai dari Mutianyu Great Wall, bagian dari tembok besar China yang terkenal, Tian Tan atau Kuil Surga yang dibangun pada masa dinasti Ming, dan The Palace Museum yang dulu dikenal sebagai The Forbidden City.

Beijing juga menawarkan pengalaman bernilai tinggi bagi wisatawan yang mencari perjalanan untuk liburan sekaligus eksplorasi budaya.

Gede Gunawan, Senior Country Director Agoda di Indonesia menyatakan, “Saya sangat senang melihat meningkatnya popularitas Padang. Ini membuktikan bahwa upaya Agoda dan banyak pihak lain di industri pariwisata Indonesia untuk mempromosikan destinasi sekunder telah membuahkan hasil.

Di saat yang sama, sangat menarik melihat minat wisatawan Indonesia yang semakin besar terhadap Beijing. Ke mana pun wisatawan Indonesia ingin menjelajah, Agoda hadir untuk membantu dengan penawaran terbaik untuk akomodasi, penerbangan, dan pilihan aktivitas.”

Bagi wisatawan Asia secara keseluruhan, Shanghai menjadi destinasi baru teratas dalam daftar New Horizons. Popularitas kota metropolitan China ini diikuti oleh Jeju (Korea Selatan), Paris (Prancis), Nha Trang (Vietnam), dan Fukuoka (Jepang).

 

Thailand Sambut 2025 di CentralwOrld–“Times Square”-nya Asia–lewat Pesta Kembang Api yang Spektakuler

this formate

Thailand Sambut 2025 di CentralwOrld–“Times Square”-nya Asia–lewat Pesta Kembang Api yang Spektakuler (PRNewsfoto/CENTRAL PATTANA)

BANGKOK, bisniswisata.co.id:  Bangkok tampil kian gemerlap pada malam Tahun Baru ketika CentralwOrld, “Times Square”-nya Asia, menghiasi langit lewat pesta kembang api 180 derajat yang spektakuler di Ratchaprasong.

Bangkok pun diliputi kemeriahan setelah ratusan ribu orang berkumpul dalam perayaan tersebut sehingga menjadi salah satu destinasi pesta hitung mundur (countdown) menyambut tahun baru yang paling menarik di dunia.

Thailand Sambut 2025 di CentralwOrld–“Times Square”-nya Asia–lewat Pesta Kembang Api yang Spektakuler (PRNewsfoto/CENTRAL PATTANA)

Malam Tahun Baru dibuka dengan lima pesta kembang api yang memukau, setiap pertunjukan mencerminkan konsep “Wheel” – Dreams, Odyssey, Poetic, Evolution, dan Wonders.

Pesta kembang api ini melengkapi sederet pesan yang dimunculkan pada layar panOramix terbesar dunia, sedangkan debut Digital Art Toys turut menambah elemen kreatif dalam pesta hitung mundur menyambut tahun baru.

Suasana semakin meriah dengan sejumlah konser yang dipersembahkan artis-artis papan atas Thailand, termasuk PP-Krit, Billkin-Putthipong, Nont Tanont, dan JAYLERR x Ice Paris.

Ikon soft power Thailand, “Moo Deng”, ikut membuat penampilan kejutan yang menghebohkan pengunjung, bersama “Countdown Angels” Ling-Orm dan Freen-Becky, serta Miss Universe Thailand 2024, Opal Suchata, yang tampil pertama kalinya di panggung pesta hitung mundur menyambut tahun baru.

Artis-artis pendatang baru, seperti ZeeNunew, BUS (Because of You I Shine), PROXIE, PiXXiE, dan 4EVE, terus menambah kemeriahan.

Sejumlah penampilan spesial, seperti dari Tattoo Colour, UrboyTJ, dan Tree Man Down, menutup pesta malam Tahun Baru dengan pertunjukan yang tak terlupakan.

Suasana pesta hitung mundur menyambut tahun baru juga terasa di seluruh Bangkok, sebab sejumlah lokasi penting di Bangkok menampilkan tayangan langsung acara tersebut, termasuk AIA Tower, Nana Intersection, dan Surasak Intersection.

Secara bersamaan, ajang “Thailand Countdown 2025” turut digelar di lokasi-lokasi Central Pattana di seluruh Thailand, mulai dari Central Westgate di Bangkok hingga Chiang Mai dan Phuket.

Berkolaborasi dengan Tourism Authority of Thailand, Bangkok Metropolitan Administration, dan mitra-mitra perusahaan, pesta ini mencerminkan kemeriahan pesta tahun baru di seluruh Bangkok sehingga memperkokoh status kota ini sebagai destinasi global perayaan Tahun Baru. (PRNewswire).

 

 

Taiwan Laporkan Lebih dari 7,85 Juta Kedatangan Wisatawan Tahun 2024

this formate

 

Administrasi pariwisata negara itu dijadwalkan untuk menciptakan pasar pariwisata baru tahun 2025 ini.

TAIPEI, bisniswisata.co.id: Administrasi Pariwisata Taiwan ( TTA)  mengumumkan bahwa kedatangan internasional ke negara itu melebihi 7,85 juta pada tahun 2024.

Dalam jumpa pers akhir Desember lalu, direktur jenderal TTA Chou Yung-hui memuji sektor perjalanan dan pariwisata Taiwan, menunjukkan bagaimana industri pariwisata bangkit kembali setelah pandemi.

Untuk tahun 2025, Chou akan menciptakan pasar pariwisata dalam penerbangan empat hingga delapan jam ke Taiwan tahun ini, dengan fokus pada India, Selandia Baru, dan Australia.

Pada saat yang sama, TTA akan membuka pusat informasi pariwisata baru bagi pengunjung asing di Sydney dan Mumbai selama beberapa bulan mendatang.

Mengidentifikasi pasar utama

Chou secara khusus menyoroti Amerika Utara dan Eropa sebagai pasar utama bagi perluasan pariwisata Taiwan.

Ia menyatakan bahwa TTA berencana untuk mendirikan pusat informasi wisata tambahan di Seattle dan Amsterdam.

Demikian pula, jumlah pengunjung dari Korea Selatan ke Taiwan melampaui satu juta pada tahun 2024.

Dari Januari hingga Oktober, jumlah pengunjung Jepang ke Taiwan juga melampaui angka satu juta, menunjukkan peningkatan sekitar 50 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023.

Membuka wilayah utara bagi wisatawan

Chou mengatakan fokus bagi pengunjung asing pertama kali adalah mempromosikan pariwisata di wilayah utara.

Sejalan dengan inisiatif ekowisata Thailand, TTA dijadwalkan untuk mempromosikan destinasi, termasuk Pulau Heping di Keelung dan Zhuangwei di Yilan kepada wisatawan Thailand.

Perlu juga dicatat bahwa wisatawan mewah Thailand senang berbelanja di Taiwan; dalam hal ini, TTA berupaya menawarkan pilihan belanja yang lebih nyaman bagi mereka.

Demikian pula, pemerintah akan terus mempromosikan diskon tiket Kereta Cepat Taiwan untuk mendorong wisatawan menjelajahi wilayah di luar Taipei.

Upaya untuk mempromosikan pariwisata Taiwan melalui acara-acara utama tahun ini, termasuk Festival Lentera Taiwan, Festival Bersepeda Taiwan, dan L’Etape Sun Moon Lake juga akan ditingkatkan untuk menarik lebih banyak wisatawan

Wamenpar Optimistis Target Kunjungan Wisman 2025 Sebesar 16 Juta Tercapai

this formate

Wamenpar Ni Luh Puspa ( kedua dari kanan/ depan), Gubernur Riau Ansar Ahmad, bersama Fritz Jaeger, wisatawan asal Amerika Serikat bersama istri dan dua anak ( paling kiri).

BINTAN, bisniswisata.co.id: Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengawali kegiatan di hari pertama tahun 2025 dengan menyambut kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) di Pelabuhan Bandar Bentan Telani, Lagoi, Bintan, Kepulauan Riau.

“Saya percaya bahwa awal tahun ini sampai akhir 2025 nanti kita bisa mencapai target 16 Juta untuk kedatangan wisatawan mancanegara,” ujar Wamenpar Ni Luh Puspa, Rabu (1/1/2025).

Penyambutan wisman pertama yang menginjakkan kakinya di Indonesia melalui Kepulauan Riau di tahun 2025 ini memberikan makna simbolis sekaligus harapan akan kinerja sektor pariwisata yang semakin meningkat dan memberikan dampak di sepanjang tahun 2025.

Kepulauan Riau memang memiliki peran dan posisi strategis dalam menunjang kunjungan wisman ke Indonesia. Letaknya yang berbatasan laut dengan Singapura dan Malaysia, menjadikan provinsi kepulauan ini sebagai satu dari tiga pintu masuk terbesar wisman ke Indonesia setelah Bali dan Jakarta.

Kepulauan Riau juga memiliki ragam destinasi dan daya tarik, baik destinasi berbasis alam, budaya, buatan, serta olahraga. “Jadi ini adalah potensi yang luar biasa untuk Kepri agar bisa terus meningkatkan kedatangan wisatawan mancanegara,” kata Wamenpar.

Wamenpar juga mendorong agar industri pariwisata dapat meningkatkan inovasi dan kreativitas dalam menghadirkan destinasi-destinasi baru yang mengedepankan wisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

“Atraksi-atraksi yang ditingkatkan diharapkan dapat membuat length of stay wisatawan lebih lama dan spendingnya lebih banyak,” tambahnya.

Untuk kunjungan wisatawan mancanegara, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hingga Oktober 2024 jumlah wisatawan mancanegara secara nasional telah mencapai 11,6 juta kunjungan dan diyakini terus bertambah hingga Desember 2024. Jumlah tersebut mendekati realisasi tahun 2023 sebesar 11,7 juta kunjungan.

“Di tahun 2025 ini Kementerian Pariwisata ditargetkan bisa mencapai (kunjungan wisman) sekitar 14 juta sampai 16 juta wisatawan mancanegara. Saya berharap (lebih) banyak (wisman) yang datang ke Kepulauan Riau ini,” ujar Wamenpar Ni Luh Puspa.

Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, mengapresiasi kehadiran Wamenpar Ni Luh Puspa dalam penyambutan kehadiran wisman pertama tahun 2025 di Kepulauan Riau.

Hal ini dikatakannya, menunjukkan komitmen yang kuat dari Kementerian Pariwisata dalam mendukung pengembangan pariwisata di Kepulauan Riau.

Data BPS menunjukkan sektor pariwisata di Kepri sudah mengalami peningkatan pascapandemi COVID-19. Hingga Oktober 2024, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepri mencapai 1,3 juta.

“Dan masih ada (penghitungan) 2 bulan lagi. Ditambah November dan Desember 2024, kunjungan wisatawan kita bisa tembus ke angka angka 1,6 juta sampai 1,7 juta,” ujar Ansar.

Sebelum pandemi, jumlah kunjungan wisman ke Kepri pernah mencapai angka 2,97 juta di tahun 2019. Hal tersebut salah satunya ditunjang dengan fasilitas keimigrasian yang ditetapkan pemerintah yakni kebijakan bebas visa dan visa on arrival.

Kebijakan seperti inilah yang saat ini terus diharapkan agar dapat kemudahan wisman ke Kepri. Sebelumnya, telah diterbitkan kebijakan bebas visa kunjungan yang dikhususkan bagi pemegang permanent resident Singapura.

Kebijakan relaksasi visa ini memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan jumlah wisman ke Kepri sebanyak 2.935 wisatawan hingga akhir November 2024.

Saat ini Pemprov Kepri secara resmi telah mengusulkan kebijakan bebas visa kunjungan tersebut diperluas untuk menjangkau entitas lain di Singapura yang juga memiliki potensi signifikan sebagai ceruk pasar baru.

Entitas yang dimaksud meliputi Pemegang Employment Pass; Pemegang S Pass; Pemegang Dependent Pass (DP) Pemegang Long Term Visit Pass (LTVP); serta Pemegang Student Pass. “Mudah-mudahan itu bisa menambah kunjungan wisatawan mancanegara di Kepri,” kata Gubernur Ansar.

Sementara untuk peningkatan length of stay, Pemprov Kepri akan menggiatkan event-event internasional di Kepri. “Kami sudah memulai kegiatan-kegiatan seperti triathlon, marathon, Tour de Bintan, dan nanti akan kami dorong kembali kegiatan seperti kite surfing, wind surfing, kite tour Asia, Asian tour golf, dan lainnya,” ujar Ansar.

Penyambutan Wisman

Kegiatan penyambutan wisman pertama tahun 2025 di Provinsi Kepri berlangsung meriah. Wisatawan disambut dengan suguhan tari tradisional Melayu, pemasangan Tanjak (penutup kepala khas Melayu), penyerahan hand bouquet, serta cenderamata Wonderful Indonesia.

Fritz Jaeger, wisatawan asal Amerika Serikat yang tinggal di Singapura adalah wisman yang tiba pertama di Bintan, Kepulauan Riau. Ia merasa tersanjung dengan sambutan hangat yang diberikan.

“Saya sangat terkejut dan bahagia bisa datang ke Indonesia di tanggal 1 Januari khususnya ke Bintan,” ujar Fritz.

Dia yang datang bersama istri dan dua anaknya, sudah lama mengenal keindahan alam dan budaya Indonesia juga keramahan masyarakatnya. Hal itu pula yang kemudian ia dan istri memilih Bali sebagai lokasi pernikahan.

“Saya sudah lama tinggal di Singapura, 18 tahun. Dan kami menikah di Bali, jadi sudah punya hubungan yang lama dengan Indonesia,” kata Fritz.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Bupati Bintan, Roby Kurniawan; Wakil Bupati Bintan, Ahdi Muqsith; serta Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, Guntur Sakti.

Hadir mendampingi Wamenpar Ni Luh Puspa, Plt. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar, Hariyanto; Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kemenparekraf, Fadjar Hutomo; serta Direktur Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenparekraf, Dwi Marhen Yono.

Outlook Pariwisata Indonesia 2025: 25 Tantangan Menuju Target PDB 8%

this formate

Wisatawan mancanegara di pantai Kuta, Bali.     ( Foto CNBC Indonesia)

Oleh Taufan Rahmadi.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Indonesia telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang ambisius, yakni mencapai 8%, pada periode 2025-2029. Dalam upaya mendukung visi tersebut, sektor pariwisata diharapkan dapat menjadi salah satu pilar utama.

Dilansir dari CNBC Indonesia.com, namun, pertanyaannya adalah, sejauh mana target dan langkah yang dirumuskan saat ini cukup untuk memastikan pariwisata menjadi kontributor signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional?

Tantangan Target PDB dan Devisa Pariwisata

Dalam draft dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang rencananya akan diperpreskan pada 2025, target kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pariwisata terhadap PDB nasional bertahap akan meningkat, dari 4,6% di 2025 hingga mencapai 5% di 2029. Di sisi lain, target devisa dari sektor ini juga ditetapkan sebesar US$ 32 miliar pada 2029.

Meski tampaknya realistis, tantangan ini masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga Indonesia seperti Vietnam misalnya menetapkan kontribusi pariwisata terhadap PDB Nasional mereka bisa di atas 15%, Filipina 8,6%, dan Thailand 7,24%.

Data terbaru menunjukkan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia berada di angka 13 juta per tahun dengan pengeluaran rata-rata US]$ 1.200 per wisatawan, menghasilkan devisa sekitar US$15,6 miliar.
Untuk mencapai US$ 32 miliar pada 2029, diperlukan peningkatan kunjungan hingga 20 juta wisman per tahun dengan pengeluaran rata-rata sebesar US$ 1.600.

Apakah target ini sudah bisa menjadikan sektor pariwisata sebagai kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional ?

Angka US$ 32 miliar devisa pariwisata di tahun 2029 menunjukkan bahwa sektor ini harus bergerak jauh lebih agresif dibandingkan performanya saat ini.

Namun, jika dibandingkan dengan kebutuhan devisa dari sektor pariwisata untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8%, yakni sekitar Rp 3.741 triliun (atau sekitar USD 250 miliar) selama lima tahun, kontribusi pariwisata berdasarkan target yang dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata di atas tampaknya masih relatif kecil.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa target devisa sebesar USD 32 miliar pada 2029 belum cukup untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor penyumbang utama pertumbuhan ekonomi.

Untuk menjadi sektor strategis, pariwisata harus bertransformasi secara signifikan, baik dalam hal volume wisatawan maupun kualitas pengeluaran mereka, Beyond Quality Tourism.

Sebagai catatan akhir tahun 2024 dalam menghadapi kompleksitas tantangan pariwisata global di tahun 2025, maka paling tidak ada 25 tantangan kerja pariwisata Indonesia 2025 yang diharapkan mampu menavigasi masa depan Industri Pariwisata.
Meskipun pemulihan sektor ini mulai terlihat pasca-pandemi COVID-19, kompleksitas masalah yang ada membutuhkan perhatian serius, kebijakan strategis, dan kolaborasi lintas sektor.

Artikel yang tayang 23 Desember 2024 di CNBC Indonesia ini mencoba mengulas 25 tantangan utama pariwisata Indonesia pada 2025 secara ringkas berdasarkan catatan Pra – Rakornas Pariwisata Kemempar 2024 dan berbagai literatur dari UN – Tourism, World Economic Forum, Bappenas dan BPS.

25 Tantangan Utama Pariwisata Indonesia tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pemulihan Pascapandemi COVID-19

Pada 2024, Indonesia mencatat 10 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), jauh di bawah angka pra-pandemi sebesar 16 juta. Di sisi lain, perjalanan wisata domestik mendominasi dengan 825 juta perjalanan ditahun 2023.

Diversifikasi produk wisata menjadi kunci pemulihan, khususnya dalam meningkatkan daya saing global sambil tetap fokus memperkuat pasar domestik.

2. Ketimpangan Distribusi Wisatawan

Bali mendominasi dengan 45% kunjungan internasional, sementara Maluku dan Papua hanya menerima kurang dari 3% wisatawan. Ketimpangan ini memperparah potensi risiko overtourism di Bali sekaligus menghambat pengembangan destinasi alternatif.

Pemerintah perlu meningkatkan infrastruktur dan promosi di kawasan lain Indonesia seperti Sumatra,Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

3. Transformasi ke Pariwisata Berkelanjutan

Baru 30% destinasi wisata yang menerapkan prinsip keberlanjutan. Masalah limbah plastik dan emisi karbon tetap menjadi isu kritis di banyak destinasi unggulan di Indonesia yang berada di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Kebijakan insentif bagi pengelolaan limbah dan energi hijau perlu diprioritaskan.

4. Peningkatan Kualitas SDM Pariwisata

Sebanyak 60% pekerja pariwisata belum terlatih sesuai standar internasional. Kurangnya kemampuan bahasa asing, seperti Mandarin dan Inggris, menjadi kendala dalam melayani pasar global. Investasi dalam pelatihan dan sertifikasi menjadi langkah strategis yang mendesak.

5. Digitalisasi Destinasi Wisata

Digitalisasi baru mencakup 40% UMKM pariwisata, sementara Bali telah mencapai 75%. Pelaku usaha di daerah perlu didukung dengan pelatihan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan akses pasar internasional.

6. Kurangnya Konektivitas Antarwilayah

Hanya 35% wilayah pariwisata prioritas memiliki akses transportasi memadai. Wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi, Papua dan Maluku misalnya masih membutuhkan peningkatan konektivitas untuk memperkuat pengembangan destinasi baru.

7. Kurangnya Diversifikasi Produk Wisata

Sebanyak 70% wisman hanya mengunjungi Bali. Wisata berbasis kuliner, kesehatan, dan event belum digarap maksimal. Inovasi produk seperti ekowisata dan wisata sejarah, wisata religi harus diperkuat untuk menarik pasar yang lebih luas.

8. Kesadaran terhadap Wisata Digital Nomad

Permintaan destinasi ramah digital nomad meningkat, tetapi infrastruktur di luar Bali masih sangat minim. Pemerintah perlu mengembangkan kebijakan visa khusus dan fasilitas penunjang untuk menggaet pasar ini.

9. Tantangan Risiko Overtourism di Bali

Sebagai kantung utama wisatawan, Bali menghadapi tekanan infrastruktur dan resiko kerusakan lingkungan. Strategi pembatasan kuota wisatawan dan promosi destinasi alternatif harus segera diterapkan.

10. Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata

Sebanyak 65% destinasi utama di Indonesia belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang efektif. Program edukasi wisatawan dan peningkatan fasilitas pengelolaan limbah menjadi prioritas untuk mendukung pariwisata berkelanjutan.

11. Aksesibilitas Wisata untuk Semua

Hanya 25% destinasi yang ramah bagi wisatawan berkebutuhan khusus. Indonesia perlu belajar dari Thailand dan Malaysia untuk memperluas aksesibilitas di seluruh destinasi.

12. Regulasi dan Legalitas UMKM Pariwisata

Sebanyak 40% UMKM pariwisata beroperasi tanpa izin resmi. Simplifikasi birokrasi dan sertifikasi usaha perlu dilakukan untuk meningkatkan daya saing UMKM.

13. Perlindungan Warisan Budaya dan Alam

Warisan Dunia UNESCO, seperti Candi Borobudur, membutuhkan keberlanjutan terhadap program perlindungan dari ancaman kerusakan akibat overtourism dan urbanisasi. Strategi konservasi berbasis komunitas dan pembatasan kapasitas pengunjung menjadi solusi jangka panjang.

14. Peningkatan Kunjungan Wisatawan Muslim

Wisatawan Muslim dari berbagai originasi wisman belum dikelola secara optimal, meski Indonesia menduduki peringkat pertama GMTI 2023.

Oleh karena itu pengembangan destinasi yang menjadi favorit wisatawan muslim yang berada di Jawa, Sumatra, Sulawesi dan Nusa Tenggara perlu ditingkatkan untuk memperluas pasar wisatawan Muslim global.

15. Keamanan dan Kenyamanan Wisatawan

Indonesia berada di peringkat ke-50 dalam indeks keamanan wisata dunia. Penegakan hukum dan pelatihan personel kepolisian pariwisata menjadi langkah krusial untuk menghadirkan rasa aman di destinasi wisata dan mengurangi resiko wisatawan nakal yang mengganggu ketertiban.

16. Mitigasi Pariwisata, Penanganan Bencana Alam di Destinasi Wisata

Sebanyak 40% destinasi utama berada di zona rawan bencana. Protokol mitigasi bencana berbasis destinasi perlu disusun untuk melindungi wisatawan dan masyarakat lokal.

17. Adaptasi terhadap Perubahan Iklim

Kenaikan permukaan laut mengancam destinasi pesisir seperti Kepulauan Seribu. Pariwisata berbasis teknologi hijau harus menjadi prioritas untuk menghadapi dampak perubahan iklim.

18. Dana Abadi Pariwisata

Alokasi anggaran pariwisata Indonesia hanya 3% dari APBN, jauh di bawah Thailand (7%). Dana Abadi Pariwisata (Indonesia Tourism Fund) adalah hal yang penting untuk segera direalisasikan.

19. Kesenjangan Pariwisata Antardaerah

Bali, Jakarta, dan Yogyakarta menyumbang 75% kunjungan internasional. Pemerataan pembangunan destinasi di luar Jawa dan Bali perlu untuk terus ditingkatkan.

20. Transformasi Digital Pelaku UMKM

Baru 40% UMKM memanfaatkan platform digital, sementara 80% wisatawan internasional mengandalkan teknologi untuk keputusan perjalanan. Pelatihan transformasi digital perlu diprioritaskan.

21. Kolaborasi Antarlembaga

Kurangnya integrasi data antar-kementerian menghambat efektivitas kebijakan. Sistem satu data pariwisata nasional menjadi solusi untuk mensinergikan strategi lintas sektor dalam mengimplementasikan program-program yang telah disusun bersama.

22. Edukasi Wisata Ramah Lingkungan

Sebanyak 70% wisatawan lokal belum memahami prinsip eco-tourism. Kampanye edukasi berbasis destinasi harus diperluas.

23. Perluasan Pasar Wisatawan Mancanegara

Jangkauan promosi pariwisata internasional tidak hanya fokus pada target wisman selama ini saja, seperti China, Australia ataupun Malaysia.

Indonesia perlu lebih agresif melakukan penetrasi ke market wisman Eropa dan Amerika misalnya yang baru hanya menyumbang 18% total kunjungan, dan juga promosi ke negara-negara Asia Timur, Timur Tengah ataupun Afrika.

24. Pengembangan Wisata MICE

Indonesia berada di peringkat ke-12 untuk wisata MICE di Asia. Peningkatan fasilitas dan promosi event internasional dapat mendongkrak posisi ini.

25. Program Insentif Pariwisata yang kompetitif

Privatisasi dan personalisasi destinasi menjadi tren baru. Indonesia perlu beradaptasi dengan kebutuhan wisatawan untuk mempertahankan daya saing global.
Program insentif pariwisata yang kompetitif seperti tiket, akomodasi, dan transportasi yang murah perlu terus untuk dilaksanakan.

Dengan menghadapi dan mengatasi tantangan-tantangan ini, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai destinasi pariwisata global yang kompetitif, inklusif, dan berkelanjutan. Strategi yang terintegrasi dan fokus pada transformasi adalah kunci untuk meraih potensi maksimal sektor pariwisata pada 2025.

Kerja Keras Menuju Target

Kesimpulannya, target kontribusi PDB 5% dan devisa USD 32 miliar di tahun 2029, berpotensi tidak cukup untuk mendorong sektor pariwisata menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi 8% seperti yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Maka, Kementerian Pariwisata dan pihak terkait perlu menyusun strategi yang lebih agresif lagi, dan berorientasi pada peningkatan waktu kunjungan dan spending wistawan di destinasi wisata.

Jika tidak, sektor pariwisata akan terus berada di posisi yang belum cukup signifikan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Penulis adalah: Pengamat pariwisara dan anggota Tim KEK Pariwisata Kemenparekraf dibawah Menparekraf Sandiaga Uno  sejak tahun 2022.

Tren Pariwisata AS 2025: Apa yang Diinginkan dan Diharapkan Konsumen Memasuki tahun 2025

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebagai pelaku bisnis perjalanan dan pariwisata, Anda mungkin bertanya-tanya seperti apa lanskap pariwisata AS pada tahun 2025.

Sebagai pemilik bisnis yang berpengalaman, Anda tahu bahwa industri perjalanan berubah dengan cepat, dan memahami tren yang akan datang dapat membantu memberikan pengalaman yang diinginkan pelanggan Anda.

Dilansir dari iges.us, dari pariwisata berkelanjutan hingga perjalanan yang berfokus pada kesehatan, cara orang Amerika bepergian akan mengalami beberapa perubahan besar dalam beberapa tahun mendatang.

Dalam laporan ini, Anda akan menemukan bahwa tren pariwisata AS untuk tahun 2025 adalah tentang personalisasi dan pengalaman yang bermakna.

Pariwisata domestik diperkirakan akan meningkat, sementara perjalanan solo dan pendalaman budaya semakin populer.

Pariwisata kesehatan dan pilihan ramah lingkungan juga meningkat, mencerminkan keinginan yang semakin besar untuk perjalanan yang bermanfaat bagi wisatawan dan planet ini.

Baik Anda menjalankan toko suvenir taman hiburan atau mengelola hotel, wawasan tentang tren perjalanan untuk tahun 2025 dan seterusnya ini akan memberi Anda awal yang baik dalam menciptakan pengalaman yang tak terlupakan bagi pengunjung dan tamu Anda di masa mendatang.

Perjalanan Domestik Melebihi Tingkat Sebelum Pandemi

Perjalanan domestik diperkirakan akan melampaui tingkat sebelum pandemi pada tahun 2025, didorong oleh apresiasi baru terhadap pengalaman lokal.

Warga Amerika menemukan kembali keindahan negara mereka sendiri, dengan minat yang semakin besar untuk menjelajahi lanskap yang belum tersentuh dan keajaiban alam.

Pergeseran ini khususnya terlihat di kalangan generasi muda, khususnya remaja, yang semakin tertarik pada program petualangan luar ruangan.

Program-program ini menawarkan aktivitas yang mengasyikkan seperti berselancar, meluncur di lintasan tali, mendaki, dan mengamati satwa liar, yang memenuhi keinginan untuk mendapatkan pengalaman alam yang autentik.

Perjalanan Darat dan Perjalanan Regional
Perjalanan Darat Amerika yang hebat terus bangkit kembali, mewujudkan semangat kebebasan dan fleksibilitas yang selaras dengan para pelancong modern.

Pada tahun 2030, perjalanan domestik diproyeksikan akan mewakili 70 persen pengeluaran perjalanan yang mengejutkan di Amerika Serikat.

Saat ini, AS memegang gelar pasar perjalanan domestik terbesar di dunia, meskipun Tiongkok diperkirakan akan mengklaim posisi ini dalam beberapa tahun mendatang.

Tren penjelajahan regional juga semakin diminati, karena wisatawan ingin menemukan permata tersembunyi yang lebih dekat dengan rumah.

Untuk mendorong perjalanan domestik, penting untuk mengetahui perubahan yang akan datang. Mulai 7 Mei 2025, Anda memerlukan SIM yang sesuai dengan REAL ID atau ID negara bagian untuk menaiki penerbangan domestik dan mengakses fasilitas federal tertentu.

Perubahan ini bertujuan untuk meningkatkan standar keamanan dan secara tidak langsung dapat mempromosikan pariwisata domestik dengan memastikan pengalaman perjalanan yang lebih lancar di dalam negeri.

Pergeseran Menuju Perjalanan yang Berkelanjutan dan Bertanggung Jawab

Saat kita melihat apa yang terjadi pada tahun 2025, tren yang berkembang menuju perjalanan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab tidak melambat.

Hingga saat ini, 83 persen wisatawan global menganggap perjalanan yang berkelanjutan sangat penting, 49 persen percaya tidak ada cukup pilihan yang tersedia. Pergeseran ini mencerminkan peningkatan kesadaran akan dampak lingkungan dan sosial dari pariwisata.

Akomodasi ramah lingkungan

Kami juga melihat peningkatan jumlah hotel ramah lingkungan di Amerika Serikat. Perusahaan-perusahaan ini tidak hanya mengikuti tren; mereka menanggapi meningkatnya perhatian konsumen terhadap masalah lingkungan.

Banyak dari hotel-hotel ini telah memperoleh sertifikasi LEED, yang menunjukkan komitmen mereka terhadap efisiensi energi dan desain ekologis.

Misalnya, beberapa hotel menggunakan sistem pemanas air tenaga surya dan sel fotovoltaik untuk menghasilkan sebagian listrik mereka.

Hotel-hotel lain telah menerapkan praktik inovatif seperti sistem pemanas dan pendingin yang hemat energi, lampu LED, dan kontrol termostat berbasis hunian.

Pilihan perjalanan yang netral karbon

Untuk mengatasi jejak karbon dari perjalanan udara, yang menyumbang sekitar 2% dari emisi CO2 global, beberapa perusahaan perjalanan mengambil langkah berani.

Misalnya, Natural Habitat Adventures telah menjadi perusahaan perjalanan pertama di dunia yang 100% netral karbon sejak 2007. Mereka tidak hanya mengimbangi emisi dari petualangan mereka tetapi juga penerbangan wisatawan mereka ke dan dari destinasi global.

Hingga saat ini, mereka telah mengimbangi 68.093 ton karbon dioksida, setara dengan 14.672 mobil yang tidak berada di jalan selama setahun.

*Dukungan untuk masyarakat lokal

Konsumen semakin mengadopsi praktik pariwisata yang bertanggung jawab, menyadari potensi mereka untuk berdampak positif pada ekonomi lokal. Perilaku ini terwujud dalam berbagai cara, seperti memprioritaskan bisnis lokal untuk pembelian dan layanan mereka.

Dengan menggunakan tempat usaha lokal, wisatawan menyuntikkan pendapatan asing ke masyarakat dan membantu menjaga sirkulasi ekonomi lokal.

Selain itu, ada tren yang berkembang untuk terlibat dengan pemandu wisata lokal, karena wisatawan mencari perspektif yang lebih autentik tentang budaya dan sejarah lokal.

Perubahan perilaku konsumen ini mencerminkan kesadaran yang lebih luas akan dampak jangka panjang pariwisata, dengan banyak wisatawan secara sadar memilih tindakan yang berkontribusi untuk melestarikan keindahan alam dan warisan budaya destinasi untuk generasi mendatang.

Fokus pada Pariwisata Kesehatan dan Kebugaran

*Pertumbuhan pariwisata medis

Kami juga mengawasi pasar pariwisata medis yang sedang berkembang pesat di tahun-tahun mendatang. Pada tahun 2025, diperkirakan akan mencapai $182,00 miliar, dengan sekitar 88 juta orang bepergian lintas batas untuk perawatan kesehatan setiap tahunnya.

Pertumbuhan ini bukan hanya tentang prosedur kosmetik; ini mencakup perawatan kritis seperti onkologi, kardiovaskular, dan neurologi. Peningkatan perjalanan medis sebagian disebabkan oleh biaya perjalanan udara yang lebih rendah, sehingga lebih terjangkau untuk mencari perawatan di luar negeri.

*Retret dan spa kesehatan

Retret dan pariwisata kesehatan mencapai $720 miliar pada tahun 2019. Pariwisata kesehatan dan retret menawarkan konsumen kesempatan untuk meremajakan tubuh dan jiwa Anda.

Liburan ini umumnya mencakup gabungan kelas yoga, makanan bergizi, perawatan spa, dan sesi meditasi, yang semuanya dirancang untuk membantu pesertanya rileks, terhubung kembali dengan diri mereka sendiri, dan melakukan detoksifikasi baik secara fisik maupun mental.

*Pengalaman perjalanan yang berfokus pada kesehatan mental

Perjalanan telah muncul sebagai alat yang ampuh untuk meningkatkan kesehatan mental, menawarkan pendekatan multifaset untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis di dunia kita yang semakin penuh tekanan.

Dampak positif pada kesehatan mental ini tidak cepat berlalu; penelitian menunjukkan bahwa manfaat psikologis dari perjalanan dapat bertahan hingga lima minggu setelah kembali ke rumah, menawarkan peningkatan suasana hati dan kondisi mental secara keseluruhan dalam jangka panjang.

Karena kesadaran akan masalah kesehatan mental terus tumbuh, perjalanan semakin diakui bukan hanya sebagai aktivitas rekreasi, tetapi juga sebagai investasi berharga dalam kesejahteraan psikologis seseorang.

*Penekanan pada Pengalaman Budaya yang Otentik

Anda akan menemukan bahwa pengalaman budaya yang autentik menjadi semakin populer dalam pariwisata AS. Pada tahun 2025, Anda dapat mengharapkan lebih banyak kesempatan untuk terlibat dengan komunitas dan tradisi lokal.

Sekitar 40% dari semua pariwisata di seluruh dunia sekarang berfokus pada perjalanan budaya dan sejarah. Tren ini memungkinkan Anda untuk menyelami jantung destinasi, terhubung dengan penduduk setempat, dan menyaksikan adat istiadat yang telah berusia berabad-abad secara langsung.

*Wisata kuliner dan petualangan kuliner

Wisata kuliner semakin diminati sebagai cara untuk menjelajahi budaya dan cita rasa lokal. Anda akan berkesempatan untuk mencicipi hidangan autentik dan bahkan mempelajari cara menyiapkannya menggunakan metode tradisional.

Misalnya, Secret Food Tours kini menjangkau 17 kota di AS, menawarkan berbagai hal mulai dari kuliner khas Meksiko di San Diego hingga hidangan khas Selatan klasik di Charleston.

*Wisata warisan dan sejarah

Situs bersejarah dan wisata warisan akan memainkan peran penting dalam pariwisata AS. Anda dapat menyelami sejarah Amerika melalui pengalaman seperti mengunjungi medan perang Perang Saudara atau menjelajahi National Mall di Washington, DC.

Generasi milenial menunjukkan minat khusus pada wisata warisan, dengan 73% menyatakan keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat budaya dan bersejarah. Pengalaman ini menawarkan Anda kesempatan untuk terhubung dengan masa lalu dan memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang budaya dan identitas Amerika.

*Dampak Perubahan Iklim pada Pariwisata

Perubahan iklim mengubah lanskap pariwisata, memaksa Anda untuk memikirkan kembali rencana perjalanan Anda. Sektor pariwisata berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca, yang mencakup sekitar 10% dari emisi global.

Dampak ini diperkirakan akan meningkat, dengan emisi pariwisata diperkirakan meningkat sebesar 25% antara tahun 2016 dan 2030.

*Adaptasi destinasi populer

Meningkatnya suhu mengubah pola perjalanan. Anda mungkin akan memilih destinasi yang lebih sejuk atau bepergian selama musim semi dan gugur, bukan musim panas.

Pariwisata pesisir, yang mencakup lebih dari 60% liburan di Eropa dan 80% pendapatan pariwisata AS, menghadapi tantangan yang signifikan. Permukaan laut naik 3,2 milimeter setiap tahun, mengancam objek wisata dan infrastruktur pesisir.

*Meningkatnya pariwisata ‘kesempatan terakhir’

Tren baru yang disebut “pariwisata kesempatan terakhir” (LCT) telah muncul. Tren ini melibatkan kunjungan ke destinasi yang terancam punah sebelum menghilang. Misalnya, 70% wisatawan yang disurvei di Great Barrier Reef termotivasi untuk melihatnya “sebelum menghilang”.

Namun, tren ini menciptakan paradoks: meningkatnya pariwisata ke situs-situs yang rapuh ini berkontribusi terhadap kehancurannya.

*Inisiatif pariwisata berkelanjutan

Untuk mengatasi tantangan ini, industri pariwisata beralih ke praktik yang berkelanjutan. Ini termasuk membatasi jumlah pengunjung, melarang transportasi yang mencemari lingkungan, dan mempromosikan penggunaan energi terbarukan.

Tujuannya adalah untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan dan budaya, memastikan pariwisata tetap menjadi kekuatan positif bagi manusia dan planet ini. Seperti yang dicatat oleh SmartFlyer:

“Pada akhirnya, perjalanan berkelanjutan adalah tentang banyak hal yang tidak dapat dilihat oleh tamu, tetapi wisatawan dapat yakin bahwa masa tinggal mereka tidak berkontribusi lebih lanjut terhadap penggunaan plastik sekali pakai atau pemborosan makanan dengan memesan dari merek yang memiliki praktik dan kebijakan inovatif.”

New Year’s Resolution 2025: Natas, Nitis dan Netes

New Year’s Resolution 2025: Natas, Nitis dan Netes

this formate

Jeffrey-Wibisono-natas-nitis-netesSEBAGAI seorang yang tumbuh dengan kekuatan nilai-nilai lokal di Jawa Timur dan Bali, perjalanan karier saya, Jeffrey Wibisono V., adalah bukti nyata bagaimana pitutur Jawa dapat menjadi pemandu dalam meniti kehidupan. Natas (Tatas: selesai dengan sempurna), Nitis (Titis: tepat sasaran), Netes (Tetes: berhasil), warisan filsafat Jawa ini tidak hanya mengajarkan saya untuk bermimpi tinggi, tetapi juga untuk bertindak bijaksana untuk  melahirkan manfaat nyata bagi banyak orang.

Natas : Mimpi yang Membumbung Tinggi

Setiap langkah pertama dimulai dari keberanian bermimpi besar. Dari awal karier saya di sebuah toko buku kecil di kota Malang hingga menjelajahi dunia dalam industri perhotelan dan pariwisata, visi yang jelas telah menjadi bahan bakar saya.

Natas adalah tentang keberanian memandang jauh ke depan. Ketika memutuskan untuk berkarir internasional, saya membawa prinsip ini—membumbungkan mimpi tinggi namun tetap berpijak pada bumi nilai-nilai lokal–.

Dalam bekerja melintasi benua —Australia, sebagian Asia, Timur Tengah, Afrika Selatan dan Eropa —saya menyaksikan keberagaman budaya sebagai pelajaran berharga. Di Australia, keramahan sederhana mencairkan kekakuan.

Di Timur Tengah, kerja dalam komunitas memperlihatkan kekuatan kolaborasi. Di Eropa, disiplin menjadi landasan menghadirkan layanan terbaik. Apakah kemudian menjadi “gamang”?

Filosofi natas mengajarkan saya bahwa mimpi tanpa akar tradisi menyebabkan kita kehilangan arah. Oleh karena itu, saya tidak hanya mengadopsi nilai-nilai global, tetapi juga menjadikan filosofi luhur Jawa sebagai pedoman. Setelah bermimpi tinggi melalui natas, langkah berikutnya adalah mendalami hikmah kehidupan dengan nitis.

Nitis: Belajar dan Melebur dengan Kehidupan

Filosofi nitis menekankan pada pembelajaran mendalam dan melebur dalam esensi kehidupan. Setiap pengalaman, mengajarkan saya bahwa sukses bukan hanya soal keahlian teknis, tapi didalam prosesnya ada kemampuan membaca, belajar dan menginternalisasi nilai kehidupan.

Ketika bekerja dengan tim multinasional, saya menanamkan nilai unggah-ungguh (kesopanan) dalam setiap interaksi. Filosofi ini melampaui batas budaya dan menjadi jembatan menciptakan harmoni. Saya percaya bahwa pelajaran terbaik muncul dari refleksi tantangan yang dihadapi, dan nitis mengingatkan untuk menjadikannya panduan bertindak lebih bijaksana. Dengan bekal hikmah nitis, saya melangkah ke nilai netes untuk melahirkan manfaat nyata.

Netes: Melahirkan Manfaat bagi Orang Lain

Ketika mimpi telah dibangun dan hikmah kehidupan diserap, langkah berikutnya adalah menghasilkan dampak nyata. Konsep netes –meneteskan– mengajarkan saya untuk melahirkan buah dari setiap upaya. Dalam karya-karya saya, seperti  Hotelier Stories: Catatan Edan Penuh Teladan dan seri tulisan filsafat pop n-JAWA-ni saya berbagi pengalaman untuk memotivasi generasi muda. Generasi penerus memiliki cara berpikir pendekatan hidup yang berbeda, namun filosofi netes mengajarkan mereka untuk tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga menghargai nilai-nilai lokal yang memperkaya hidup berbagi secara harmoni dengan “lingkungan”.

Sebagai anggota Lions Club International, saya menemukan makna mendalam dari netes: hasil terbaik adalah ketika karya semangat pengabdian kita memberi manfaat bagi komunitas.

Seperti pepatah The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others, netes menunjukkan bahwa kebahagian sejati hadir ketika kita memberi manfaat bagi sesama.

Resolusi Tahun Baru 2025

Resolusi-tahun-2025-natas-nitis-netes

 

Menyambut tahun 2025, mari kita tetap berpegang pada prinsip natas, nitis dan netes

  1. Natas (Berpikir dan Berimajinasi Tinggi)
  • Tetapkan visi besar yang inspiratif.
  • Perluas wawasan dengan pembelajaran dan eksplorasi.
  • Manfaatkan teknologi untuk mendukung tujuan.
  1. Nitis (Menginternalisasi dan Bertindak Bijaksana)
  • Berkomitmen pada kedisiplinan dan integritas.
  • Refleksi dari pengalaman untuk keputusan yang lebih baik.
  • Pelihara harmoni dalam hubungan dan lingkungan.
  1. Netes (Mewujudkan Hasil yang Bermakna)
  • Realisasikan ide menjadi aksi nyata.
  • Sebarkan dampak positif di komunitas dan organisasi.
  • Capai keseimbangan dalam hidup.

Sambut tahun 2025 dengan optimisme. Tahun 2025 adalah panggung baru untuk memadukan impian besar dengan keberanian, kearifan lokal dengan perspektif global.

Mari melangkah bersama menjadikan setiap langkah kecil bermakna besar. Dengan filosofi natas, nitis, netes, kita bisa menjadikan perjalanan ini sebagai kontribusi nyata bagi dunia. Karena pada akhirnya, hidup ini adalah tentang menjadi pribadi yang lebih baik dan membawa kebaikan bagi dunia sekitar kita.***

Jember, 30 Desember 2024

Jeffrey Wibisono V., Praktisi Perhotelan dan Pariwisata

Masa Depan Perjalanan: Tren yang Perlu Diperhatikan pada Tahun 2025 dan Selanjutnya

this formate

Oleh Sarah Vlies

Pakar Perjalanan | Melayani Klien Kelas Atas | Spesialis Perjalanan Eropa dan Asia

 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sebagai konsultan perjalanan selama bertahun-tahun, saya sering mendapati diri saya memandang ke kejauhan, bukan hanya untuk perjalanan berikutnya, tetapi juga untuk gelombang transformasi berikutnya yang akan membentuk kembali cara kita menjelajahi dunia.

Industri perjalanan selalu mengalami perubahan, dan setiap tahun menghadirkan serangkaian tren baru yang mencerminkan perubahan keinginan konsumen.

Dalam beberapa tahun ke depan, saya melihat perubahan signifikan yang akan mendefinisikan ulang esensi perjalanan.

Personalisasi: Norma Baru Salah satu tren yang paling mencolok adalah gerakan menuju kustomisasi. Penjelajah masa kini tidak lagi puas dengan pengalaman umum.

Mereka mencari petualangan yang selaras dengan kisah unik mereka. Saya ingat pernah bekerja sama dengan sepasang kekasih yang ingin merayakan pernikahan mereka di Spanyol.

Alih-alih menyarankan tour standar, saya bermitra dengan pemandu dan koki lokal untuk mengatur liburan romantis yang mencakup kelas memanggang privat dan harta karun lokal.

Pada tahun 2025, saya mengantisipasi tingkat individualitas ini akan menjadi standar. Pelancong akan mengharapkan pengalaman yang sesuai dengan minat mereka, baik itu liburan kesehatan, petualangan kuliner, atau wisata ramah lingkungan.

Keberlanjutan menjadi sorotan utama

Keberlanjutan telah bergeser dari sekadar kata kunci menjadi sebuah kebutuhan. Lebih dari sebelumnya, para pelancong memprioritaskan pilihan yang sadar lingkungan, mulai dari perjalanan yang netral karbon hingga penginapan yang menekankan praktik ramah lingkungan.

Saya telah menyaksikan perubahan ini secara langsung. Beberapa tahun yang lalu, saya mengatur liburan untuk sebuah keluarga yang ingin membenamkan diri dalam keindahan Hawaii yang menakjubkan sambil mendukung upaya konservasi lokal.

Antusiasme mereka mengilhami saya untuk meneliti lebih banyak pilihan yang ramah lingkungan bagi klien saya. Pada tahun 2025, saya yakin pilihan yang ramah lingkungan tidak hanya akan lebih disukai tetapi juga diharapkan.

Lokasi yang memprioritaskan keberlanjutan akan menonjol, menarik generasi baru pelancong yang sadar lingkungan. Bepergian Seperti Warga Lokal: Keluar dari Jalur yang biasa.

Masa Depan Perjalanan: Tren yang Perlu Diperhatikan

*Bepergian seperti warga lokal: Keluar dari Jalur yang biasa dan keinginan untuk bepergian seperti penduduk lokal semakin meningkat dan kemungkinan akan menjadi salah satu tren paling signifikan di tahun 2025.

Wisatawan semakin ingin menghindari keramaian dan merasakan destinasi dari sudut pandang penduduk lokal. Saya selalu percaya bahwa keajaiban perjalanan terletak pada permata-permata tersembunyi itu – kafe-kafe kecil yang tersembunyi di gang-gang yang tenang atau pasar jalanan yang semarak yang berdenyut dengan kehidupan.

Dalam perjalanan baru-baru ini ke Kyoto, saya memandu sekelompok orang melalui lingkungan yang kurang dikenal, tempat mereka menikmati masakan asli dan berbincang dengan penduduk setempat.

Dengan menjalin hubungan ini, klien saya mengalami sisi Jepang yang diabaikan oleh banyak wisatawan. Seiring tren ini berlanjut, saya berharap para wisatawan akan semakin mencari pengalaman unik yang memungkinkan mereka untuk benar-benar membenamkan diri dalam budaya lokal.

*Kesehatan sebagai prioritas: Pandemi telah menggarisbawahi pentingnya kesehatan mental dan fisik, dan ini akan memengaruhi tren perjalanan ke depannya.

Wisatawan akan mencari pengalaman yang mempromosikan kesehatan, mulai dari retret yoga di Thailand hingga jalan-jalan di hutan di Tiongkok.

Saya baru-baru ini membantu klien yang ingin melepaskan diri dari hiruk pikuk kehidupan kota. Kami merencanakan liburan yang tenang ke pusat kesehatan tempat dia dapat memulihkan jiwanya.

Saya memperkirakan lebih banyak klien memprioritaskan kesehatan mereka melalui perjalanan, mendorong lokasi untuk menawarkan pengalaman holistik yang memenuhi permintaan yang terus meningkat ini.

Kesimpulan: Merangkul perubahan

Saat saya merenungkan masa depan, saya dipenuhi dengan antisipasi untuk apa yang ada di depan dalam dunia perjalanan. Tren yang muncul untuk tahun 2025 dan seterusnya mencerminkan perubahan besar dalam konsumen.

Personalisasi, keberlanjutan, perjalanan autentik, dan kesehatan tidak hanya akan membentuk rencana perjalanan; tetapi juga akan menciptakan hubungan yang bermakna antara pelancong dan dunia di sekitar mereka.

Sebagai perencana perjalanan, saya bersemangat untuk merangkul perubahan ini, menciptakan pengalaman yang selaras dengan keinginan klien saya yang terus berkembang. Bagaimanapun, dalam lanskap yang terus berubah ini, kemampuan kita untuk beradaptasi dan tumbuh adalah hal yang benar-benar akan menentukan masa depan perjalanan

Vince Everett Ellison: Peran Individu Dalam Menciptakan Masa Depan yang Lebih Baik.

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Salah satu tokoh kulit hitam dari Amerika Serikat yang juga seorang penulis, komentator politik dan pembuat film dokumenter yang berfokus pada persimpangan politik Amerika, ras dan agama saat ini adalah Vince Everett Ellison.

Dilansir dari https://vinceeellison.com
Ellison dikenal karena pandangannya yang konservatif. Dia sering tampil di berbagai program televisi dan radio, seperti “Hannity,” “The Laura Ingraham Show,” Newsmax, dan OAN.

Dia juga merupakan produser dan penulis dari film dokumenter “Will You Go To Hell For Me,” yang dirilis pada 24 Februari 2024. Selain itu, Vince aktif menulis artikel untuk publikasi seperti American Greatness dan Bizpacreview.com.

Sebagai pembicara, Vince Everett Ellison
telah diundang ke berbagai acara, termasuk di University of Alabama dan University of Iowa, di mana ia membahas topik-topik seperti “DEI and Abortion: Exposing the Real Slavery and Genocide.”

Besar dilingkungan yang religius, keluarga Ellison membentuk grup musik gospel bernama “Ellison Family Gospel,” di mana Vince berpartisipasi sebagai penyanyi dan memainkan berbagai instrumen selama masa kecil dan remajanya.

Setelah bekerja selama lima tahun sebagai petugas pemasyarakatan di Kirkland Correctional Institution di Columbia, South Carolina, Ellison beralih ke sektor nirlaba. Pada tahun 2000, ia menerima nominasi dari Partai Republik untuk Distrik Kongres ke-6 South Carolina.

Sebagai penulis, ia telah menerbitkan beberapa buku yang menjadi bestseller di Amazon, termasuk “The Iron Triangle: Inside the Liberal Democrat Plan to Use Race to Divide Christians and America in their Quest for Power and How We Can Defeat Them” dan “25 Lies: Exposing Democrats’ Most Dangerous, Seductive, Damnable, Destructive Lies and How to Refute Them.”

Kini suara Ellison telah menjadi suara yang signifikan dalam diskusi mengenai kebijakan publik dan perubahan sosial, terutama dalam konteks komunitas Afrika-Amerika.

Tak heran karena berbagai pengalamannya serta jejak digitalnya bisa diikuti di https://vinceeellison.com, di mana Ellison menyaksikan ketidakadilan dan diskriminasi yang dialami oleh komunitas kulit hitam.

Ellison adalah pendukung ide-ide konservatif dan sering kali mengkritik kebijakan yang dianggapnya tidak efektif dalam membantu komunitas kulit hitam.

Pengalaman masa kecilnya telah membentuk pandangannya dan memotivasi dia untuk terlibat dalam aktivisme politik. Ellison memiliki latar belakang pendidikan yang solid, dengan gelar dalam bidang sosiologi dan ilmu politik, yang memberinya fondasi untuk memahami dinamika sosial dan politik di AS.

Pria yang dibesarkan di Selatan Amerika Serikat ini melalui bukunya, “The Iron Triangle,” mengkritik struktur kekuasaan yang dia sebut sebagai “trio besi” yang terdiri dari para politisi, media, dan pemimpin komunitas yang, menurutnya, sering kali tidak melayani kepentingan terbaik komunitas Afrika-Amerika.

Dalam bukunya dia menyampaikan argumen bahwa banyak pemimpin politik yang mengklaim memperjuangkan hak-hak warga kulit hitam padahal sebenarnya lebih terfokus pada mempertahankan kekuasaan mereka sendiri bahkan pada toloh Martin Luther King.

Martin Luther King Jr. (1929–1968) menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1964 atas upayanya memerangi ketidakadilan secara damai. Dikenang setiap tahun di Amerika Serikat melalui Hari Martin Luther King Jr. yang diperingati setiap hari Senin ketiga di bulan Januari.

Ellison juga aktif berbicara di berbagai forum dan acara, di mana ia menekankan pentingnya pendidikan, kewirausahaan, dan keterlibatan politik sebagai cara untuk memberdayakan komunitas kulit hitam.

Ia meyakini bahwa untuk mencapai perubahan yang nyata, individu harus mengambil tanggung jawab atas masa depan mereka sendiri dan tidak hanya mengandalkan pemerintah atau lembaga lain.

Menurut dia,pendekatan yang lebih berfokus pada pengembangan individu dan pemberdayaan ekonomi akan memberikan hasil yang lebih baik daripada ketergantungan pada bantuan pemerintah.

Dengan pendekatan ini, Ellison berusaha mendorong perubahan dari dalam, dengan menekankan pentingnya peran individu dalam menciptakan masa depan yang lebih baik.

Hell’s Seltzer, Minuman Unik Racikan Gordon Ramsay yang Mendunia

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Masih ingat Gordon Ramsay, seorang koki terkenal dan tokoh televisi. Di Indonesia, dia terkenal karena program televisi Master Chef dan tiga tahun terakhir telah meluncurkan produk minuman keras bernama Hell’s Seltzer pada awal tahun 2021.

Dilansir dari https://www.drinkhells.com/,
Hell’s Seltzer adalah minuman hard seltzer yang terinspirasi dari menu acara televisinya, “Hell’s Kitchen”. Minuman ini hadir dalam empat varian rasa yang berani dan setiap varian rasa terinspirasi oleh menu populer dari restoran Hell’s Kitchen miliknya di seluruh Amerika Serikat.

Hell’s Seltzer tersedia dalam kemasan 12 kaleng dengan empat varian rasa, masing-masing memiliki kandungan alkohol (ABV) sebesar 5,5%.

Dengan meluncurkan Hell’s Seltzer, Ramsay memperluas portofolio mereknya dan memanfaatkan popularitas acara televisinya, “Hell’s Kitchen”, untuk menarik konsumen yang mencari minuman keras dengan cita rasa unik dan berkualitas tinggi.

Varian Berry Inferno misalnya, lahir dari kombinasi rasa peach, blueberry, dan raspberry. Knicker Twist adalah campuran markisa, nanas, dan jeruk. Mean Green merupakan perpaduan dari kiwi, jeruk nipis, mint, dan nanas dan varian terakhir, That’s Forked adalah rasa key lime, vanilla, dan graham.

Setiap kaleng Hell’s Seltzer memiliki volume 12 ons (355 ml) dengan kandungan alkohol 5,6% ABV dan 120 kalori. Minuman ini dijual dalam kemasan 12 kaleng yang mencakup semua varian rasa tersebut.

Minuman ringan dari Amerika Serikat ini, Hell’s Seltzer dapat dibeli secara online di situs resmi mereka yaitu https://www.drinkhells.com/ untuk menikmati kesegaran dan keunikan rasanya di rumah.

Rasakan sensasi buah-buahan segar dan cita rasa yang seimbang dalam setiap tegukan Hell’s Seltzer dan temukan kenikmatannya. Minuman keras berkarbonasi yang diperkenalkan oleh Gordon Ramsay, menawarkan beberapa keunggulan yang membedakannya dari produk serupa.

Kualitasnya premium yang dikembangkan dan diuji di Hell’s Kitchen, minuman ini mencerminkan standar tinggi yang diasosiasikan dengan merek Gordon Ramsay, memastikan pengalaman minum yang berkualitas.

Tak sulit memasarkan produk minumannya ini karena Ramsay memiliki lebih dari 35 restoran di seluruh dunia. Dia juga aktif
menulis berbagai buku masak laris dan membangun merek pribadi yang kuat

Sebagai seorang koki selebritas,restaurateur, dan tokoh televisi terkenal asal Skotlandia yang lahir pada 8 November 1966 di Johnstone, Skotlandia, dan dibesarkan di Stratford-upon-Avon, Inggris, Ramsay dikenal karena keahliannya dalam memasak masakan kelas atas dan memiliki 17 bintang Michelin sepanjang kariernya.