Pendapatan Pariwisata Filipina Capai Titik Tertinggi Baru Sebesar P760,5 Miliar

this formate

MANILA, bisniswisata.co.id: Pendapatan Filipina dari wisatawan mancanegara mencapai titik tertinggi baru pada tahun 2024 sebesar P760,5 miliar bahkan ketika pemerintah gagal memenuhi target volume pengunjung mancanegara setahun penuh selama periode tersebut.

Dilansir dari business.inquirer.net, pendapatan Filipina dari wisatawan mancanegara mencapai titik tertinggi baru pada tahun 2024 sebesar P760,5 miliar bahkan ketika pemerintah gagal memenuhi target volume pengunjung mancanegara setahun penuh selama periode tersebut.

Departemen Pariwisata Filipina (DOT) pada mengatakan penerimaan wisatawan mencapai P760,50 miliar tahun lalu, yang sembilan persen lebih tinggi dibandingkan dengan P697,46 miliar yang tercatat pada tahun 2023.

“Dengan angka-angka ini, jelas bahwa industri pariwisata Filipina tidak hanya bangkit kembali tetapi juga berkembang dan meluas, berkontribusi secara signifikan terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi negara tersebut,” kata Christina Frasco, Sekretaris Pariwisata dalam sebuah pernyataan.

“Pencapaian ini bukan sekadar statistik. Ini berarti ribuan pekerjaan diciptakan untuk orang Filipina, mendorong ketahanan ekonomi dan memungkinkan keluarga untuk berkembang,” tambah Frasco.

Dia menggambarkan pertumbuhan pada tahun 2024 sebagai “luar biasa,” seraya menambahkan bahwa sektor tersebut telah menjadi mesin penting bagi pembangunan ekonomi.

Pendapatan dari belanja wisatawan asing mencapai titik tertinggi sepanjang masa sejak tahun 2019 ketika dipatok pada P482,15 miliar.
Berdasarkan catatan DOT, penerimaan wisatawan mencapai Rp208 miliar pada tahun 2022, Rp8,49 miliar pada tahun 2021, dan Rp82,24 miliar pada tahun 2020.

Mengutip data dari World Travel and Tourism Council ( WTTC), Frasco mengatakan bahwa wisatawan internasional yang datang ke Filipina menghabiskan sedikitnya $2.073 per orang.

Wisatawan juga menginap rata-rata minimal 11 malam dan 70 persennya adalah pengunjung tetap.Menurut DOT, total 5,95 juta pengunjung datang dari luar negeri pada tahun 2024.

Dari total tersebut, 91,42 persen —atau 5,44 juta— adalah warga negara asing. Sisanya 8,58 persen, atau 510.383 pengunjung, adalah warga negara Filipina yang tinggal di luar negeri.

Korea Selatan mempertahankan posisinya sebagai sumber wisatawan asing teratas, dengan jumlah 1,57 juta atau 26 persen dari total

Wisata Halal Sedang Berkembang Pesat dan Hadir di Destinasi Dekat Anda

this formate

Oleh Hafiz M. Ahmed

TOKYO, bisniswisata.co.id: Di era globalisasi yang pesat, industri pariwisata tengah menyaksikan sektor khusus: wisata halal yang sedang berkembang pesat. Pasar yang dinamis ini melayani wisatawan Muslim yang ingin mempertahankan praktik keagamaan mereka sambil menjelajahi destinasi baru.

Wisata halal mengacu pada apa yang diizinkan dalam hukum Islam, yang mencakup berbagai pertimbangan mulai dari makanan halal hingga akomodasi, hiburan, dan pilihan transportasi yang sejalan dengan pedoman Islam.

Dilansir dari halaltimes.com, tren yang berkembang ini menyoroti meningkatnya permintaan akan pengalaman wisata yang ramah Muslim, menjadikan wisata halal sebagai fokus utama destinasi di seluruh dunia.

Dengan populasi Muslim global yang diperkirakan akan mencapai 2,2 miliar pada tahun 2030, potensi ekonomi pasar ini sangat besar. Dari Asia hingga Eropa, destinasi di seluruh dunia semakin melayani kebutuhan wisatawan Muslim, dan tren ini diperkirakan akan terus berkembang di tahun-tahun mendatang.

Apa yang Membuat Wisata Halal Semakin Populer?

Wisata halal lebih dari sekadar menyediakan pilihan makanan halal; ini adalah pendekatan menyeluruh terhadap pariwisata yang sejalan dengan prinsip-prinsip hukum Islam.

Jenis pariwisata ini melibatkan penyediaan fasilitas shalat, memastikan privasi, menciptakan lingkungan bebas alkohol, dan menyediakan hiburan yang sesuai dengan etika Islam.

Misalnya, hotel mungkin menawarkan kolam renang yang dipisahkan berdasarkan jenis kelamin, dan maskapai penerbangan mungkin menyediakan tempat salat pada penerbangan jarak jauh.

Konsep pariwisata halal bersifat komprehensif, memengaruhi berbagai aspek pengalaman perjalanan—mulai dari penerbangan dan akomodasi hingga tour, aktivitas rekreasi, dan pengalaman berbelanja.

Wisatawan mencari pilihan ramah halal yang memastikan mereka dapat memenuhi kewajiban agama seperti salat harian, makan halal, dan kesopanan.

Pertumbuhan Pariwisata Halal

Industri perjalanan halal telah tumbuh secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh generasi muda wisatawan Muslim yang paham teknologi.

Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) telah menjadi indikator penting dari pertumbuhan ini, yang secara konsisten menunjukkan ekspansi sektor perjalanan halal yang kuat.

Pada tahun 2020, pasar perjalanan halal global bernilai lebih dari $220 miliar, dan diproyeksikan akan mencapai sekitar $300 miliar pada tahun 2026.

Beberapa faktor mendorong pertumbuhan ini, termasuk meningkatnya pendapatan yang dapat dibelanjakan umat Muslim di seluruh dunia, kelas menengah yang berkembang, dan keinginan untuk pengalaman perjalanan yang lebih inklusif.

Pelancong Muslim saat ini lebih berpikiran global, sering bepergian, dan mengharapkan destinasi yang mengakomodasi gaya hidup mereka.

Tren Perjalanan Halal Meningkat

Perjalanan halal tidak lagi terbatas pada negara-negara dengan mayoritas Muslim. Destinasi di seluruh dunia menyadari nilai pasar perjalanan Muslim dan melakukan penyesuaian untuk menyambut para pelancong ini.

Asia

Asia telah mengambil peran utama dalam pariwisata halal, khususnya di negara-negara seperti Malaysia dan Indonesia, yang telah lama memiliki tradisi melayani wisatawan Muslim.

Malaysia, khususnya, telah memantapkan dirinya sebagai tujuan utama bagi wisatawan Muslim dengan menawarkan berbagai restoran bersertifikat halal, fasilitas shalat, dan akomodasi ramah Muslim.

Indonesia mengikutinya dari dekat, memanfaatkan warisan budaya dan keindahan alamnya untuk menarik wisatawan Muslim dari seluruh dunia.

Bahkan negara-negara yang secara tradisional tidak terkait dengan Islam pun ikut serta dalam tren pariwisata halal. Jepang dan Korea Selatan, misalnya, dengan cepat mengembangkan infrastruktur mereka untuk menarik wisatawan Muslim.

Jepang telah meningkatkan jumlah restoran bersertifikat halal dan memasukkan fasilitas ramah Muslim di tempat-tempat wisata.

Korea Selatan mengikutinya, menawarkan lebih banyak fasilitas salat dan pilihan bersantap halal di kota-kota besar seperti Seoul.

Eropa

Eropa juga membuat langkah maju dalam mengakomodasi pariwisata halal. Spanyol dan Jerman berada di garis depan, tidak hanya menawarkan makanan halal dan fasilitas salat tetapi juga memamerkan sejarah Islam mereka yang kaya untuk menarik wisatawan Muslim.

Signifikansi historis arsitektur Islam di tempat-tempat seperti Granada, Spanyol, merupakan daya tarik yang sangat besar bagi wisatawan. Jerman melayani pengunjung Muslim dengan memastikan privasi di akomodasi dan mempromosikan restoran halal.

Negara-negara Eropa lainnya seperti Prancis dan Inggris juga telah mengakui potensi ekonomi pariwisata halal. Kota-kota seperti London dan Paris kini menawarkan pilihan makanan halal, akomodasi ramah Muslim, dan tour masjid, yang memberikan pengalaman yang memperkaya bagi wisatawan Muslim.

Amerika Utara

Di Amerika Utara, pariwisata halal tumbuh, meskipun dengan kecepatan yang lebih lambat dibandingkan di Asia dan Eropa. Kanada dan Amerika Serikat secara bertahap gabungkan lebih banyak restoran, masjid, dan pusat komunitas bersertifikat halal ke dalam penawaran wisata mereka.

Wisatawan Muslim menemukan lebih banyak pilihan untuk fasilitas shalat dan bersantap halal, terutama di kota-kota dengan populasi Muslim yang signifikan, seperti Toronto, New York, dan Chicago.

Dampak Ekonomi Pariwisata Halal

Dampak ekonomi pariwisata halal jauh melampaui kepekaan budaya. Destinasi yang melayani kebutuhan wisatawan Muslim diuntungkan dari masa tinggal yang lebih lama, pengeluaran yang lebih tinggi, dan rasa loyalitas yang kuat dari para wisatawan tersebut.

Misalnya, hotel yang ramah halal dapat menarik tidak hanya wisatawan Muslim tetapi juga keluarga mereka, yang mengarah pada masa tinggal yang lebih lama dan pengeluaran yang lebih besar untuk atraksi lokal, tempat makan, dan belanja.

Menurut GMTI, wisatawan Muslim biasanya menghabiskan lebih banyak uang daripada wisatawan lain, terutama di negara-negara yang berupaya mengakomodasi kebutuhan mereka.

Hotel, restoran, dan tempat hiburan yang beradaptasi untuk memenuhi standar halal sering kali mengalami peningkatan pelanggan. Masuknya pengeluaran ini merangsang penciptaan lapangan kerja di sektor perjalanan dan perhotelan, yang berkontribusi pada ekonomi lokal.

Di negara-negara seperti Malaysia dan Indonesia, sektor pariwisata halal merupakan kontributor signifikan terhadap PDB. Perjalanan halal tidak hanya meningkatkan pariwisata tetapi juga mendukung bisnis lokal yang menyediakan produk dan layanan bersertifikat halal.

Selain itu, permintaan akan layanan perjalanan yang menghormati praktik Islam menciptakan peluang baru bagi para pengusaha dan bisnis untuk berinovasi.

Pemasaran Wisata Halal

Pemasaran adalah kunci untuk memasuki pasar wisata halal yang sedang berkembang pesat. Untuk menjangkau wisatawan Muslim secara efektif, destinasi harus mempromosikan kemampuan mereka untuk memenuhi persyaratan halal melalui kampanye yang terarah.

Berkolaborasi dengan blogger wisata Muslim, influencer, dan platform daring merupakan strategi yang efektif untuk membangun kepercayaan dalam komunitas Muslim.

Platform media sosial seperti Instagram, YouTube, dan TikTok semakin banyak digunakan oleh wisatawan Muslim untuk berbagi pengalaman mereka.

Destinasi yang dapat memanfaatkan platform ini untuk memamerkan fasilitas ramah halal mereka akan memperoleh keuntungan yang signifikan. Selain itu, agen perjalanan yang mengkhususkan diri dalam wisata halal, seperti HalalBooking, berpengaruh dalam mempromosikan destinasi yang melayani wisatawan Muslim.

Keaslian Itu Penting

Salah satu faktor terpenting dalam memasarkan wisata halal adalah keaslian. Wisatawan Muslim mencari destinasi yang benar-benar memahami dan menghormati kebutuhan keagamaan mereka, bukan sekadar melayani mereka sebagai strategi pemasaran.

Membangun kepercayaan melalui praktik yang transparan, sertifikasi, dan rekomendasi dari sumber tepercaya sangat penting untuk kesuksesan jangka panjang di pasar ini.

Tantangan yang Dihadapi Pariwisata Halal

Meskipun ada peluang, pariwisata halal menghadapi beberapa tantanganantara lain kurangnya Standardisasi

Salah satu tantangan utama adalah kurangnya standardisasi global dalam hal apa yang memenuhi syarat sebagai destinasi ramah halal.

Sementara beberapa negara memiliki peraturan dan proses sertifikasi yang ketat, yang lain mungkin kurang konsisten, yang menyebabkan kebingungan di antara para pelancong. Masalah ini menggarisbawahi perlunya sistem sertifikasi universal yang dapat diakui lintas batas.

Kepekaan Budaya

Tantangan lainnya adalah menavigasi kepekaan budaya yang menyertai promosi dan penyediaan layanan perjalanan halal. Di negara-negara dengan mayoritas non-Muslim, penyedia layanan mungkin tidak terbiasa dengan kebutuhan khusus pelancong Muslim, yang menyebabkan potensi kesalahpahaman atau kelalaian dalam kualitas layanan.

Kesadaran

Banyak penyedia layanan dan destinasi masih kurang menyadari apa saja yang termasuk dalam perjalanan halal. Misalnya, beberapa hotel mungkin menawarkan makanan halal tetapi gagal menyediakan fasilitas shalat yang memadai atau ruang terpisah berdasarkan jenis kelamin, yang juga merupakan pertimbangan penting bagi pelancong Muslim.

Masa Depan Perjalanan Halal

Masa depan perjalanan halal cerah, terutama dengan hadirnya teknologi dan pengalaman perjalanan yang dipersonalisasi. Inovasi seperti tour realitas virtual ke fasilitas ramah halal, aplikasi realitas tertambah untuk menemukan restoran dan masjid halal, dan perencanaan perjalanan berbasis AI yang memenuhi kewajiban agama meningkatkan pengalaman perjalanan bagi umat Muslim.

Seiring dengan semakin terhubungnya dunia, prinsip-prinsip halal dapat semakin terintegrasi ke dalam pariwisata arus utama. Destinasi yang dapat beradaptasi dengan kebutuhan wisatawan Muslim sekaligus menarik khalayak yang lebih luas akan memperoleh manfaat paling banyak.

Perjalanan halal bukan lagi pasar khusus; ini adalah sektor penting dalam industri pariwisata global. Destinasi di seluruh dunia menyadari nilai ekonomi dan budaya dari melayani wisatawan Muslim, dan tren ini diperkirakan akan terus berkembang di tahun-tahun mendatang.

Bagi mereka yang siap memanfaatkan peluang ini, pesannya jelas: perjalanan halal sedang berkembang pesat, dan akan segera hadir di destinasi di dekat Anda. Baik Anda seorang pelancong atau penyedia layanan, memahami seluk-beluk pariwisata halal adalah kunci untuk berkembang pesat di pasar yang sedang berkembang pesat ini.

Penulis adalah : Pemimpin Redaksi The Halal Times, dengan pengalaman lebih dari 30 tahun dalam jurnalisme. Dengan spesialisasi di bidang ekonomi Islam,

 

Mahakumbh 2025 India Dapat Memicu Lonjakan Industri Pariwisata, Menarik Lebih dari 150 Juta Pengunjung

this formate

UTTAR PRADESH, bisniswisata.co.id: India bersiap untuk Mahakumbh 2025, sebuah pesta spiritual yang diadakan sekali dalam 12 tahun yang siap memicu gelombang pariwisata, baik domestik maupun internasional.

Diselenggarakan di Prayagraj, Uttar Pradesh, ziarah agung di sepanjang pertemuan suci sungai Gangga, Yamuna, dan Saraswati ini diharapkan dapat menarik lebih dari 150 juta pengunjung, termasuk wisatawan internasional, pencari spiritual, dan penggemar budaya.

Mahakumbh adalah sebuah festival keagamaan umat Hindu yang diadakan secara besar-besaran di India. Festival ini merupakan salah satu pertemuan keagamaan terbesar di dunia dan dihadiri oleh jutaan peziarah.
Mereka berkumpul untuk mandi di sungai-sungai suci dengan keyakinan bahwa hal tersebut akan membersihkan dosa dan membawa keselamatan spiritual.

Makna dan asal usul

Kata Mahakumbh berasal dari “Maha” yang berarti besar. “Kumbh” yang berarti kendi atau pot, merujuk pada mitologi Hindu tentang “Samudra Manthan” (Pengadukan Lautan Susu), di mana kendi berisi amrita (air kehidupan) muncul.

Lokasi dan Waktu:Mahakumbh Mela diadakan setiap 12 tahun sekali di empat kota suci di India:
1. Prayagraj (Allahabad) – pertemuan Sungai Gangga, Yamuna, dan Saraswati.
2. Haridwar – di Sungai Gangga.
3. Ujjain – di Sungai Shipra.
4. Nashik – di Sungai Godavari.

Setiap 12 tahun, festival ini diselenggarakan di salah satu lokasi tersebut dengan rotasi, dan setiap 144 tahun diadakan Maha Mahakumbh Mela yang jauh lebih besar di Prayagraj.
Tujuan dan Ritual

Mandi di Sungai Suci: Diyakini membersihkan dosa dan memberi keselamatan. Doa dan Pemujaan: Dilakukan di tepi sungai untuk memohon berkah.

Perkumpulan Orang Suci (Sadhu): Banyak pertapa dan yogi berkumpul untuk berbagi ajaran spiritual. Mahakumbh Mela tidak hanya menjadi festival keagamaan, tetapi juga acara budaya yang memperlihatkan tradisi dan spiritualitas India.

Mahakumbh dihormati sebagai tempat berkumpulnya umat manusia terbesar di planet ini. Para peziarah, orang suci, dan peramal dari berbagai daerah berkumpul untuk melakukan ritual suci, berendam di sungai suci, dan mencari pelipur lara spiritual.

Makna spiritual acara tersebut, dipadukan dengan tampilan budaya, seni, dan tradisi India yang semarak, menciptakan daya tarik yang unik bagi wisatawan global.

Ajang tahun 2025 ini menjanjikan akan menjadi lebih penting lagi, dengan pemerintah Uttar Pradesh dan otoritas pariwisata India berinvestasi besar dalam infrastruktur, perencanaan acara, dan pemasaran untuk memaksimalkan dampaknya terhadap pariwisata.

Otoritas di Uttar Pradesh tidak akan melewatkan satu hal pun untuk memastikan Mahakumbh 2025 menjadi sukses besar. Investasi besar-besaran dalam peningkatan infrastruktur, termasuk jalan baru, fasilitas transportasi, akomodasi, dan sistem sanitasi, sedang berlangsung.

Fasilitas pengunjung dan langkah-langkah keamanan canggih sedang diterapkan untuk mengelola masuknya peziarah dan wisatawan dalam jumlah besar.

Prayagraj menyaksikan transformasi dengan fasilitas modern yang terintegrasi dengan mulus ke dalam lanskap historis dan spiritualnya. Bisnis dan pengrajin lokal bersiap untuk memamerkan kerajinan mereka, menawarkan kepada pengunjung cita rasa otentik warisan daerah tersebut.

Mahakumbh 2025, dengan perpaduan khas antara tradisi, teknologi, dan keberlanjutan, akan memberikan dampak abadi pada kancah pariwisata global, memacu pertumbuhan, dan meningkatkan apresiasi dunia terhadap warisan budaya India yang kaya.

Makanan Lezat, Pertemuan Ramah Lingkungan: Perhotelan Berkelanjutan

this formate

GP Yeow, manajer umum JW Marriott Hotel Hong Kong, adalah pendukung utama keberlanjutan dalam operasi hotel dan pertemuan hijau.

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Sebagai GM JW Marriott Hong Kong, GP Yeow mengubah hasrat menjadi kemajuan dengan pendekatannya yang ramah lingkungan terhadap gastronomi dan acara.

Dia adalah pendukung utama keberlanjutan dalam operasi hotel dan pertemuan ramah lingkungan. Makanan lezat dan akal sehat tidak pernah ketinggalan zaman. Bagi GP Yeow, keduanya adalah fondasi karier yang berkembang pesat di bidang perhotelan.

Dilansir dari meetings-conventions-asia.com Yeow telah mengubah hasratnya terhadap makanan sejak lama menjadi kekuatan transformatif bagi industri ini. Tumbuh di kota pemukiman Tionghoa di luar Kuala Lumpur, Yeow merasakan budaya makanan Malaysia yang semarak secara langsung.

Pada usia 13 tahun, ia membantu keluarganya dan bekerja di pasar basah, membawa pulang makanan untuk diolah ibunya menjadi makanan, yang kemudian ia jual ke teman-teman sekelasnya untuk mendapatkan uang saku – sebuah pertanda dari jiwa kewirausahaannya.

Kamar adalah sumber pendapatan utama, tetapi F&B adalah wajah dari sebuah hotel.

Perkenalan Yeow dengan dunia perhotelan, secara kebetulan, terjadi melalui makanan. Ketika ayahnya, yang merupakan pemandu wisata, yang terkadang membawa pulang makanan dari hotel, ia tertarik dengan berbagai rasa yang biasa ia makan.

Rasa ingin tahu Yeow semakin dalam ketika ayahnya membawanya ke Kuala Lumpur Hilton, di mana ia menemukan lobi yang megah, lampu gantung yang berkilauan, dan prasmanan dengan berbagai macam makanan.

Hal itu memicu ketertarikan seumur hidup dengan perhotelan bagi pengusaha hotel kelahiran Malaysia tersebut, yang memutuskan bahwa “hotel adalah tempat yang ingin saya tuju ketika saya tumbuh dewasa”.

Ayah Yeow menyarankan untuk menjadi koki agar dapat melihat dunia. Saat bersekolah di SMA Perth, Yeow bekerja sebagai juru masak paruh waktu di sebuah restoran Cina, mengasah keterampilan memasaknya, dan mengambil peran sebagai pelayan perjamuan dan bartender.

Ketertarikannya pada industri ini mendorongnya untuk mendaftar di Sekolah Manajemen Hotel Internasional Blue Mountains untuk mengejar karier di bidang perhotelan.
Meraih karier di luar dapur.

Setelah tiga dekade, Yeow telah mengukir jalan unik dalam perhotelan mewah, memanfaatkan akar kulinernya untuk mendorong inovasi.
“Perhotelan jauh lebih dari sekadar memasak,” katanya. “Ini tentang mengembangkan keterampilan dalam komunikasi, pemasaran, kepemimpinan, dan operasi.”

Pengalaman langsungnya dalam makanan dan minuman (F&B) juga memposisikannya sebagai pejuang keberlanjutan, sebuah tujuan yang sangat ia tekuni.

“Kemewahan dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan. Praktik ramah lingkungan kini menjadi kemewahan utama dalam perjalanan,” jelasnya.

Sejak 2023, Yeow telah mempelopori komite ESG untuk menilai kinerja bulanan dan triwulanan setiap departemen. Di bawah kepemimpinannya, hotel mewah tersebut telah mengadopsi langkah-langkah ramah lingkungan yang selaras dengan realitas lokal.

Misalnya, daripada mengganti botol plastik sekali pakai dengan botol kaca, yang tidak mudah didaur ulang di Hong Kong, properti tersebut memilih kaleng aluminium yang dapat didaur ulang. “Kita perlu mengadopsi dan beradaptasi dengan solusi lokal.” kata Yeow.

Dia juga menangani pengurangan limbah secara kreatif. Menyadari bahwa tamu sering meninggalkan keranjang buah selamat datang tanpa disentuh, ia dan timnya memperkenalkan pilihan yang lebih kecil dan lebih praktis seperti semangkuk buah beri dan menawarkan pilihan air putih atau air soda kepada tamu.

Perubahan kecil dapat memberikan dampak besar, katanya, sambil menunjukkan bahwa perubahan ini saja dapat menghemat 88 ton buah setiap tahunnya.

Di JW Marriott Hotel Hong Kong, Fish Bar dan Pool Lounge di udara terbuka menyajikan pilihan hasil tangkapan segar dan makanan laut berkelanjutan setiap hari di seluruh dunia.

Pertemuan ramah lingkungan, dampak besar

Upaya keberlanjutan JW Marriott Hotel Hong Kong meluas ke pertemuan dan acaranya. Inisiatif Meet Green at JW mempromosikan pertemuan berkelanjutan, menawarkan papan tanda digital, layar, proyektor, dan menu kode QR serta dinding LED di JW Marriott Ballroom untuk presentasi.

Menu mengutamakan pilihan berbasis tanaman dan bahan-bahan yang bersumber secara lokal, sementara sisa makanan disumbangkan atau didaur ulang.

Tempat-tempat seperti Executive Meeting Suites dan HarbourDen memanfaatkan cahaya alami untuk menghemat energi, dan para tamu didorong untuk menggunakan wadah yang dapat diisi ulang.

“Upaya-upaya ini menempatkan JW Marriott Hotel Hong Kong sebagai pemimpin dalam acara-acara ramah lingkungan,” kata Yeow, seraya menambahkan bahwa hotel tersebut telah menyelenggarakan acara-acara bergengsi seperti konferensi berskala besar dan acara-acara untuk lembaga keuangan global pada tahun 2023.

Lebih sedikit lebih baik dalam gastronomi berkelanjutan

Bagi Yeow, F&B tetap menjadi gairah sekaligus tantangan. “Kamar adalah sumber pendapatan utama, tetapi F&B adalah wajah hotel,” katanya.

Dia menekankan bagaimana reputasi properti mewah sering kali bergantung pada keunggulan kuliner dan layanannya. Lagipula, hal tersulit untuk memuaskan adalah selera manusia, tambahnya.

Di bawah arahannya, hotel memprioritaskan sumber yang bertanggung jawab untuk menyajikan makanan laut berkelanjutan, bahan organik, dan hasil bumi lokal dalam menu, hingga menyediakan tempat makan langsung di prasmanan untuk mengurangi sampah makanan.

Sementara JW Garden di lokasi menanam dan menyediakan rempah-rempah seperti kemangi dan rosemary untuk hidangan dan koktail.

Namun, pemanfaatan sampah makanan yang inovatiflah yang membedakan hotel ini. Yeow mengadopsi operasi ramah lingkungan di hotel, yang memungkinkan para koki untuk mengolah hidangan secara kreatif.

Misalnya dengan mengubah kulit semangka menjadi jus, kulit udang windu menjadi dasar sup, dan tulang ikan yang dihaluskan menjadi mi yang disajikan di Fish Bar hotel.

“Mi tulang ikan ini tidak hanya membantu mengurangi sampah makanan, tetapi juga kaya kalsium,” ungkapnya.

Setelah 22 tahun bekerja di Marriott International, termasuk tugas GM di JW Marriott Beijing dan JW Hong Kong, Yeow menemukan “karier yang sangat menguntungkan” di bidang perhotelan, setelah bertemu dengan mentor hebat yang membimbingnya di jalur karier sebagai manajer umum hotel.

“Saya dapat bepergian dan bekerja dengan orang yang berbeda di lokasi yang berbeda, menikmati keindahan setiap lokasi dan mempelajari budaya setempat. Dan, tentu saja, mencicipi beberapa masakan terbaik,” katanya.

Imigrasi Layani Paspor untuk 1.075 Pemohon di GBK dan Paspor Simpatik di Seluruh Indonesia

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Direktorat Jenderal Imigrasi akan memberikan layanan paspor untuk 1.075 orang pemohon di Plaza Parkir Timur Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat pada Minggu, 19 Januari 2025.

Direktur Visa dan Dokumen Perjalanan, Tato Juliadin Hidayawan menjelaskan bahwa layanan tersebut diberikan berkaitan hari jadi ke-75 Imigrasi yang akan jatuh pada 26 Januari.

Masyarakat yang ingin mengurus paspornya perlu terlebih dahulu mendaftarkan permohonan paspor di aplikasi M-Paspor, dengan memilih lokasi layanan “Pelayanan 1.075 Paspor HUT Ke-75 Imigrasi (Parkir Timur GBK).

“Kuota permohonan paspor di GBK kami buka sejak 2 Januari 2025 di aplikasi M-Paspor, dan terus dibuka sampai kuotanya habis. Layanan paspor yang diberikan di GBK yaitu pembuatan paspor baru dan penggantian paspor “ kata Tato Juliadin Hidayawan.

Jenis paspor yang diterbitkan adalah paspor elektronik lembar laminasi dan paspor elektronik lembar polikarbonat, ” tambah Direktur Visa dan Dokumen Perjalanan itu.

Tak hanya warga Jakarta dan sekitarnya, masyarakat di seluruh Indonesia juga dapat mengakses layanan Paspor Simpatik di kantor imigrasi terdekat.

Layanan ini dibuka setiap hari Sabtu selama bulan Januari (empat kali), hingga tanggal 25 Januari 2025, dengan jumlah kuota menyesuaikan kapasitas setiap kantor imigrasi.

Tato menerangkan, untuk mengakses layanan Paspor Simpatik, masyarakat dapat mendaftarkan permohonan melalui aplikasi M-Paspor maupun datang langsung (walk-in).

Namun, layanan walk-in akan diutamakan bagi kelompok prioritas (lansia, ibu hamil, bayi dan balita, serta warga berkebutuhan khusus).

Masyarakat yang mengurus paspor di GBK juga dapat berkunjung ke gerai-gerai Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang berpartisipasi dalam Festival Imigrasi (Imifest).

Di samping itu tersedia pula layanan kesehatan gratis berupa konsultasi dengan dokter, pengecekan tekanan darah dan kadar gula darah. Di hari yang sama, Ditjen Imigrasi juga menggelar Immigration Run (Imirun) yang dapat diikuti oleh masyarakat umum.

Tato mengingatkan, masyarakat yang paspornya hilang atau rusak tidak dapat dilayani pada layanan paspor di GBK dan Paspor Simpatik hari Sabtu di kantor-kantor imigrasi.

“Kami harap layanan 1.075 paspor di GBK dan Paspor Simpatik di seluruh Indonesia memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat. Untuk warga di daerah-daerah yang ingin mengakses layanan Paspor Simpatik, dapat konfirmasi ke kantor imigrasi terkait mengenai ketersediaan kuota paspor, “ungkap Tato.

Padang Jadi Destinasi Wisata Baru Teratas di Indonesia

this formate

Ramadi Nurima dan keluarga berwisata ke China untuk liburan keluarga.  Untuk domestik Padang jadi destinasi baru dan Beijing, China, telah menjadi destinasi terpopuler di kalangan masyarakat Indonesia (outbound), berkat arsitekturnya yang bersejarah.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Padang telah menjadi destinasi dengan pertumbuhan tercepat di kalangan wisatawan internasional yang mengunjungi Indonesia, menurut platform perjalanan digital Agoda.

Daftar New Horizons dari platform perjalanan tersebut juga mengungkapkan bahwa Banjarmasin adalah tujuan terpopuler bagi wisatawan domestik Indonesia. Sementara Beijing, China menjadi destinasi internasional dengan lonjakan popularitas terbesar di kalangan wisatawan Indonesia.

Peringkat New Horizons Agoda yang dirilis setiap tahun, membandingkan peringkat pemesanan akomodasi dalam dua tahun sebelumnya untuk mengidentifikasi destinasi wisata dengan kenaikan tertinggi, baik untuk perjalanan domestik maupun internasional.

Padang, Sumatera Barat, telah diakui sebagai destinasi baru teratas di kalangan wisatawan mancanegara (inbound) berkat kekayaan budayanya yang menjadi latar kisah-kisah legenda seperti Siti Nurbaya dan Malin Kundang.

Daya tarik lainnya adalah kulinernya yang mendunia, seperti Nasi Padang, Rendang, dan Sate Padang. Kota ini juga terkenal dengan pantai-pantainya yang menakjubkan, termasuk Pantai Carolina, Pantai Air Manis, Pantai Suwarnadwipa, Taplau, Ketaping, hingga Pantai Samudra.

Dengan akses mudah melalui Bandara Internasional Minangkabau, Padang menawarkan transportasi yang nyaman serta pengalaman budaya dan alam yang tak terlupakan.

Sementara Banjarmasin, kota terbesar di Kalimantan Selatan, menduduki peringkat teratas bagi wisatawan domestik, sebagai lokasi sempurna untuk menikmati budaya urban Kalimantan, baik di darat maupun di air.

Terletak di delta pertemuan sungai Barito dan Martapura, kota ini memiliki cuaca yang umumnya panas, dengan hujan sesekali turun bahkan selama musim kemarau.

Popularitas Banjarmasin yang terus meningkat di kalangan wisatawan domestik didukung oleh upaya daerah ini dalam mempromosikan festival lokal, pasar terapung, kuliner khas, dan pemandangan danau-danau yang indah.

Internasional

Untuk destinasi wisata internasional, Beijing, China, telah menjadi destinasi terpopuler di kalangan masyarakat Indonesia (outbound), berkat arsitekturnya yang bersejarah.

Mulai dari Mutianyu Great Wall, bagian dari tembok besar China yang terkenal, Tian Tan atau Kuil Surga yang dibangun pada masa dinasti Ming, dan The Palace Museum yang dulu dikenal sebagai The Forbidden City.

Beijing juga menawarkan pengalaman bernilai tinggi bagi wisatawan yang mencari perjalanan untuk liburan sekaligus eksplorasi budaya.

Gede Gunawan, Senior Country Director Agoda di Indonesia menyatakan, “Saya sangat senang melihat meningkatnya popularitas Padang. Ini membuktikan bahwa upaya Agoda dan banyak pihak lain di industri pariwisata Indonesia untuk mempromosikan destinasi sekunder telah membuahkan hasil.

Di saat yang sama, sangat menarik melihat minat wisatawan Indonesia yang semakin besar terhadap Beijing. Ke mana pun wisatawan Indonesia ingin menjelajah, Agoda hadir untuk membantu dengan penawaran terbaik untuk akomodasi, penerbangan, dan pilihan aktivitas.”

Bagi wisatawan Asia secara keseluruhan, Shanghai menjadi destinasi baru teratas dalam daftar New Horizons. Popularitas kota metropolitan China ini diikuti oleh Jeju (Korea Selatan), Paris (Prancis), Nha Trang (Vietnam), dan Fukuoka (Jepang).

 

Thailand Sambut 2025 di CentralwOrld–“Times Square”-nya Asia–lewat Pesta Kembang Api yang Spektakuler

this formate

Thailand Sambut 2025 di CentralwOrld–“Times Square”-nya Asia–lewat Pesta Kembang Api yang Spektakuler (PRNewsfoto/CENTRAL PATTANA)

BANGKOK, bisniswisata.co.id:  Bangkok tampil kian gemerlap pada malam Tahun Baru ketika CentralwOrld, “Times Square”-nya Asia, menghiasi langit lewat pesta kembang api 180 derajat yang spektakuler di Ratchaprasong.

Bangkok pun diliputi kemeriahan setelah ratusan ribu orang berkumpul dalam perayaan tersebut sehingga menjadi salah satu destinasi pesta hitung mundur (countdown) menyambut tahun baru yang paling menarik di dunia.

Thailand Sambut 2025 di CentralwOrld–“Times Square”-nya Asia–lewat Pesta Kembang Api yang Spektakuler (PRNewsfoto/CENTRAL PATTANA)

Malam Tahun Baru dibuka dengan lima pesta kembang api yang memukau, setiap pertunjukan mencerminkan konsep “Wheel” – Dreams, Odyssey, Poetic, Evolution, dan Wonders.

Pesta kembang api ini melengkapi sederet pesan yang dimunculkan pada layar panOramix terbesar dunia, sedangkan debut Digital Art Toys turut menambah elemen kreatif dalam pesta hitung mundur menyambut tahun baru.

Suasana semakin meriah dengan sejumlah konser yang dipersembahkan artis-artis papan atas Thailand, termasuk PP-Krit, Billkin-Putthipong, Nont Tanont, dan JAYLERR x Ice Paris.

Ikon soft power Thailand, “Moo Deng”, ikut membuat penampilan kejutan yang menghebohkan pengunjung, bersama “Countdown Angels” Ling-Orm dan Freen-Becky, serta Miss Universe Thailand 2024, Opal Suchata, yang tampil pertama kalinya di panggung pesta hitung mundur menyambut tahun baru.

Artis-artis pendatang baru, seperti ZeeNunew, BUS (Because of You I Shine), PROXIE, PiXXiE, dan 4EVE, terus menambah kemeriahan.

Sejumlah penampilan spesial, seperti dari Tattoo Colour, UrboyTJ, dan Tree Man Down, menutup pesta malam Tahun Baru dengan pertunjukan yang tak terlupakan.

Suasana pesta hitung mundur menyambut tahun baru juga terasa di seluruh Bangkok, sebab sejumlah lokasi penting di Bangkok menampilkan tayangan langsung acara tersebut, termasuk AIA Tower, Nana Intersection, dan Surasak Intersection.

Secara bersamaan, ajang “Thailand Countdown 2025” turut digelar di lokasi-lokasi Central Pattana di seluruh Thailand, mulai dari Central Westgate di Bangkok hingga Chiang Mai dan Phuket.

Berkolaborasi dengan Tourism Authority of Thailand, Bangkok Metropolitan Administration, dan mitra-mitra perusahaan, pesta ini mencerminkan kemeriahan pesta tahun baru di seluruh Bangkok sehingga memperkokoh status kota ini sebagai destinasi global perayaan Tahun Baru. (PRNewswire).

 

 

Taiwan Laporkan Lebih dari 7,85 Juta Kedatangan Wisatawan Tahun 2024

this formate

 

Administrasi pariwisata negara itu dijadwalkan untuk menciptakan pasar pariwisata baru tahun 2025 ini.

TAIPEI, bisniswisata.co.id: Administrasi Pariwisata Taiwan ( TTA)  mengumumkan bahwa kedatangan internasional ke negara itu melebihi 7,85 juta pada tahun 2024.

Dalam jumpa pers akhir Desember lalu, direktur jenderal TTA Chou Yung-hui memuji sektor perjalanan dan pariwisata Taiwan, menunjukkan bagaimana industri pariwisata bangkit kembali setelah pandemi.

Untuk tahun 2025, Chou akan menciptakan pasar pariwisata dalam penerbangan empat hingga delapan jam ke Taiwan tahun ini, dengan fokus pada India, Selandia Baru, dan Australia.

Pada saat yang sama, TTA akan membuka pusat informasi pariwisata baru bagi pengunjung asing di Sydney dan Mumbai selama beberapa bulan mendatang.

Mengidentifikasi pasar utama

Chou secara khusus menyoroti Amerika Utara dan Eropa sebagai pasar utama bagi perluasan pariwisata Taiwan.

Ia menyatakan bahwa TTA berencana untuk mendirikan pusat informasi wisata tambahan di Seattle dan Amsterdam.

Demikian pula, jumlah pengunjung dari Korea Selatan ke Taiwan melampaui satu juta pada tahun 2024.

Dari Januari hingga Oktober, jumlah pengunjung Jepang ke Taiwan juga melampaui angka satu juta, menunjukkan peningkatan sekitar 50 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023.

Membuka wilayah utara bagi wisatawan

Chou mengatakan fokus bagi pengunjung asing pertama kali adalah mempromosikan pariwisata di wilayah utara.

Sejalan dengan inisiatif ekowisata Thailand, TTA dijadwalkan untuk mempromosikan destinasi, termasuk Pulau Heping di Keelung dan Zhuangwei di Yilan kepada wisatawan Thailand.

Perlu juga dicatat bahwa wisatawan mewah Thailand senang berbelanja di Taiwan; dalam hal ini, TTA berupaya menawarkan pilihan belanja yang lebih nyaman bagi mereka.

Demikian pula, pemerintah akan terus mempromosikan diskon tiket Kereta Cepat Taiwan untuk mendorong wisatawan menjelajahi wilayah di luar Taipei.

Upaya untuk mempromosikan pariwisata Taiwan melalui acara-acara utama tahun ini, termasuk Festival Lentera Taiwan, Festival Bersepeda Taiwan, dan L’Etape Sun Moon Lake juga akan ditingkatkan untuk menarik lebih banyak wisatawan

Wamenpar Optimistis Target Kunjungan Wisman 2025 Sebesar 16 Juta Tercapai

this formate

Wamenpar Ni Luh Puspa ( kedua dari kanan/ depan), Gubernur Riau Ansar Ahmad, bersama Fritz Jaeger, wisatawan asal Amerika Serikat bersama istri dan dua anak ( paling kiri).

BINTAN, bisniswisata.co.id: Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengawali kegiatan di hari pertama tahun 2025 dengan menyambut kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) di Pelabuhan Bandar Bentan Telani, Lagoi, Bintan, Kepulauan Riau.

“Saya percaya bahwa awal tahun ini sampai akhir 2025 nanti kita bisa mencapai target 16 Juta untuk kedatangan wisatawan mancanegara,” ujar Wamenpar Ni Luh Puspa, Rabu (1/1/2025).

Penyambutan wisman pertama yang menginjakkan kakinya di Indonesia melalui Kepulauan Riau di tahun 2025 ini memberikan makna simbolis sekaligus harapan akan kinerja sektor pariwisata yang semakin meningkat dan memberikan dampak di sepanjang tahun 2025.

Kepulauan Riau memang memiliki peran dan posisi strategis dalam menunjang kunjungan wisman ke Indonesia. Letaknya yang berbatasan laut dengan Singapura dan Malaysia, menjadikan provinsi kepulauan ini sebagai satu dari tiga pintu masuk terbesar wisman ke Indonesia setelah Bali dan Jakarta.

Kepulauan Riau juga memiliki ragam destinasi dan daya tarik, baik destinasi berbasis alam, budaya, buatan, serta olahraga. “Jadi ini adalah potensi yang luar biasa untuk Kepri agar bisa terus meningkatkan kedatangan wisatawan mancanegara,” kata Wamenpar.

Wamenpar juga mendorong agar industri pariwisata dapat meningkatkan inovasi dan kreativitas dalam menghadirkan destinasi-destinasi baru yang mengedepankan wisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

“Atraksi-atraksi yang ditingkatkan diharapkan dapat membuat length of stay wisatawan lebih lama dan spendingnya lebih banyak,” tambahnya.

Untuk kunjungan wisatawan mancanegara, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hingga Oktober 2024 jumlah wisatawan mancanegara secara nasional telah mencapai 11,6 juta kunjungan dan diyakini terus bertambah hingga Desember 2024. Jumlah tersebut mendekati realisasi tahun 2023 sebesar 11,7 juta kunjungan.

“Di tahun 2025 ini Kementerian Pariwisata ditargetkan bisa mencapai (kunjungan wisman) sekitar 14 juta sampai 16 juta wisatawan mancanegara. Saya berharap (lebih) banyak (wisman) yang datang ke Kepulauan Riau ini,” ujar Wamenpar Ni Luh Puspa.

Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, mengapresiasi kehadiran Wamenpar Ni Luh Puspa dalam penyambutan kehadiran wisman pertama tahun 2025 di Kepulauan Riau.

Hal ini dikatakannya, menunjukkan komitmen yang kuat dari Kementerian Pariwisata dalam mendukung pengembangan pariwisata di Kepulauan Riau.

Data BPS menunjukkan sektor pariwisata di Kepri sudah mengalami peningkatan pascapandemi COVID-19. Hingga Oktober 2024, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepri mencapai 1,3 juta.

“Dan masih ada (penghitungan) 2 bulan lagi. Ditambah November dan Desember 2024, kunjungan wisatawan kita bisa tembus ke angka angka 1,6 juta sampai 1,7 juta,” ujar Ansar.

Sebelum pandemi, jumlah kunjungan wisman ke Kepri pernah mencapai angka 2,97 juta di tahun 2019. Hal tersebut salah satunya ditunjang dengan fasilitas keimigrasian yang ditetapkan pemerintah yakni kebijakan bebas visa dan visa on arrival.

Kebijakan seperti inilah yang saat ini terus diharapkan agar dapat kemudahan wisman ke Kepri. Sebelumnya, telah diterbitkan kebijakan bebas visa kunjungan yang dikhususkan bagi pemegang permanent resident Singapura.

Kebijakan relaksasi visa ini memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan jumlah wisman ke Kepri sebanyak 2.935 wisatawan hingga akhir November 2024.

Saat ini Pemprov Kepri secara resmi telah mengusulkan kebijakan bebas visa kunjungan tersebut diperluas untuk menjangkau entitas lain di Singapura yang juga memiliki potensi signifikan sebagai ceruk pasar baru.

Entitas yang dimaksud meliputi Pemegang Employment Pass; Pemegang S Pass; Pemegang Dependent Pass (DP) Pemegang Long Term Visit Pass (LTVP); serta Pemegang Student Pass. “Mudah-mudahan itu bisa menambah kunjungan wisatawan mancanegara di Kepri,” kata Gubernur Ansar.

Sementara untuk peningkatan length of stay, Pemprov Kepri akan menggiatkan event-event internasional di Kepri. “Kami sudah memulai kegiatan-kegiatan seperti triathlon, marathon, Tour de Bintan, dan nanti akan kami dorong kembali kegiatan seperti kite surfing, wind surfing, kite tour Asia, Asian tour golf, dan lainnya,” ujar Ansar.

Penyambutan Wisman

Kegiatan penyambutan wisman pertama tahun 2025 di Provinsi Kepri berlangsung meriah. Wisatawan disambut dengan suguhan tari tradisional Melayu, pemasangan Tanjak (penutup kepala khas Melayu), penyerahan hand bouquet, serta cenderamata Wonderful Indonesia.

Fritz Jaeger, wisatawan asal Amerika Serikat yang tinggal di Singapura adalah wisman yang tiba pertama di Bintan, Kepulauan Riau. Ia merasa tersanjung dengan sambutan hangat yang diberikan.

“Saya sangat terkejut dan bahagia bisa datang ke Indonesia di tanggal 1 Januari khususnya ke Bintan,” ujar Fritz.

Dia yang datang bersama istri dan dua anaknya, sudah lama mengenal keindahan alam dan budaya Indonesia juga keramahan masyarakatnya. Hal itu pula yang kemudian ia dan istri memilih Bali sebagai lokasi pernikahan.

“Saya sudah lama tinggal di Singapura, 18 tahun. Dan kami menikah di Bali, jadi sudah punya hubungan yang lama dengan Indonesia,” kata Fritz.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Bupati Bintan, Roby Kurniawan; Wakil Bupati Bintan, Ahdi Muqsith; serta Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, Guntur Sakti.

Hadir mendampingi Wamenpar Ni Luh Puspa, Plt. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar, Hariyanto; Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kemenparekraf, Fadjar Hutomo; serta Direktur Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenparekraf, Dwi Marhen Yono.

Outlook Pariwisata Indonesia 2025: 25 Tantangan Menuju Target PDB 8%

this formate

Wisatawan mancanegara di pantai Kuta, Bali.     ( Foto CNBC Indonesia)

Oleh Taufan Rahmadi.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Indonesia telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang ambisius, yakni mencapai 8%, pada periode 2025-2029. Dalam upaya mendukung visi tersebut, sektor pariwisata diharapkan dapat menjadi salah satu pilar utama.

Dilansir dari CNBC Indonesia.com, namun, pertanyaannya adalah, sejauh mana target dan langkah yang dirumuskan saat ini cukup untuk memastikan pariwisata menjadi kontributor signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional?

Tantangan Target PDB dan Devisa Pariwisata

Dalam draft dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang rencananya akan diperpreskan pada 2025, target kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pariwisata terhadap PDB nasional bertahap akan meningkat, dari 4,6% di 2025 hingga mencapai 5% di 2029. Di sisi lain, target devisa dari sektor ini juga ditetapkan sebesar US$ 32 miliar pada 2029.

Meski tampaknya realistis, tantangan ini masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga Indonesia seperti Vietnam misalnya menetapkan kontribusi pariwisata terhadap PDB Nasional mereka bisa di atas 15%, Filipina 8,6%, dan Thailand 7,24%.

Data terbaru menunjukkan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia berada di angka 13 juta per tahun dengan pengeluaran rata-rata US]$ 1.200 per wisatawan, menghasilkan devisa sekitar US$15,6 miliar.
Untuk mencapai US$ 32 miliar pada 2029, diperlukan peningkatan kunjungan hingga 20 juta wisman per tahun dengan pengeluaran rata-rata sebesar US$ 1.600.

Apakah target ini sudah bisa menjadikan sektor pariwisata sebagai kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional ?

Angka US$ 32 miliar devisa pariwisata di tahun 2029 menunjukkan bahwa sektor ini harus bergerak jauh lebih agresif dibandingkan performanya saat ini.

Namun, jika dibandingkan dengan kebutuhan devisa dari sektor pariwisata untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8%, yakni sekitar Rp 3.741 triliun (atau sekitar USD 250 miliar) selama lima tahun, kontribusi pariwisata berdasarkan target yang dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata di atas tampaknya masih relatif kecil.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa target devisa sebesar USD 32 miliar pada 2029 belum cukup untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor penyumbang utama pertumbuhan ekonomi.

Untuk menjadi sektor strategis, pariwisata harus bertransformasi secara signifikan, baik dalam hal volume wisatawan maupun kualitas pengeluaran mereka, Beyond Quality Tourism.

Sebagai catatan akhir tahun 2024 dalam menghadapi kompleksitas tantangan pariwisata global di tahun 2025, maka paling tidak ada 25 tantangan kerja pariwisata Indonesia 2025 yang diharapkan mampu menavigasi masa depan Industri Pariwisata.
Meskipun pemulihan sektor ini mulai terlihat pasca-pandemi COVID-19, kompleksitas masalah yang ada membutuhkan perhatian serius, kebijakan strategis, dan kolaborasi lintas sektor.

Artikel yang tayang 23 Desember 2024 di CNBC Indonesia ini mencoba mengulas 25 tantangan utama pariwisata Indonesia pada 2025 secara ringkas berdasarkan catatan Pra – Rakornas Pariwisata Kemempar 2024 dan berbagai literatur dari UN – Tourism, World Economic Forum, Bappenas dan BPS.

25 Tantangan Utama Pariwisata Indonesia tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pemulihan Pascapandemi COVID-19

Pada 2024, Indonesia mencatat 10 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), jauh di bawah angka pra-pandemi sebesar 16 juta. Di sisi lain, perjalanan wisata domestik mendominasi dengan 825 juta perjalanan ditahun 2023.

Diversifikasi produk wisata menjadi kunci pemulihan, khususnya dalam meningkatkan daya saing global sambil tetap fokus memperkuat pasar domestik.

2. Ketimpangan Distribusi Wisatawan

Bali mendominasi dengan 45% kunjungan internasional, sementara Maluku dan Papua hanya menerima kurang dari 3% wisatawan. Ketimpangan ini memperparah potensi risiko overtourism di Bali sekaligus menghambat pengembangan destinasi alternatif.

Pemerintah perlu meningkatkan infrastruktur dan promosi di kawasan lain Indonesia seperti Sumatra,Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

3. Transformasi ke Pariwisata Berkelanjutan

Baru 30% destinasi wisata yang menerapkan prinsip keberlanjutan. Masalah limbah plastik dan emisi karbon tetap menjadi isu kritis di banyak destinasi unggulan di Indonesia yang berada di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Kebijakan insentif bagi pengelolaan limbah dan energi hijau perlu diprioritaskan.

4. Peningkatan Kualitas SDM Pariwisata

Sebanyak 60% pekerja pariwisata belum terlatih sesuai standar internasional. Kurangnya kemampuan bahasa asing, seperti Mandarin dan Inggris, menjadi kendala dalam melayani pasar global. Investasi dalam pelatihan dan sertifikasi menjadi langkah strategis yang mendesak.

5. Digitalisasi Destinasi Wisata

Digitalisasi baru mencakup 40% UMKM pariwisata, sementara Bali telah mencapai 75%. Pelaku usaha di daerah perlu didukung dengan pelatihan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan akses pasar internasional.

6. Kurangnya Konektivitas Antarwilayah

Hanya 35% wilayah pariwisata prioritas memiliki akses transportasi memadai. Wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi, Papua dan Maluku misalnya masih membutuhkan peningkatan konektivitas untuk memperkuat pengembangan destinasi baru.

7. Kurangnya Diversifikasi Produk Wisata

Sebanyak 70% wisman hanya mengunjungi Bali. Wisata berbasis kuliner, kesehatan, dan event belum digarap maksimal. Inovasi produk seperti ekowisata dan wisata sejarah, wisata religi harus diperkuat untuk menarik pasar yang lebih luas.

8. Kesadaran terhadap Wisata Digital Nomad

Permintaan destinasi ramah digital nomad meningkat, tetapi infrastruktur di luar Bali masih sangat minim. Pemerintah perlu mengembangkan kebijakan visa khusus dan fasilitas penunjang untuk menggaet pasar ini.

9. Tantangan Risiko Overtourism di Bali

Sebagai kantung utama wisatawan, Bali menghadapi tekanan infrastruktur dan resiko kerusakan lingkungan. Strategi pembatasan kuota wisatawan dan promosi destinasi alternatif harus segera diterapkan.

10. Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata

Sebanyak 65% destinasi utama di Indonesia belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang efektif. Program edukasi wisatawan dan peningkatan fasilitas pengelolaan limbah menjadi prioritas untuk mendukung pariwisata berkelanjutan.

11. Aksesibilitas Wisata untuk Semua

Hanya 25% destinasi yang ramah bagi wisatawan berkebutuhan khusus. Indonesia perlu belajar dari Thailand dan Malaysia untuk memperluas aksesibilitas di seluruh destinasi.

12. Regulasi dan Legalitas UMKM Pariwisata

Sebanyak 40% UMKM pariwisata beroperasi tanpa izin resmi. Simplifikasi birokrasi dan sertifikasi usaha perlu dilakukan untuk meningkatkan daya saing UMKM.

13. Perlindungan Warisan Budaya dan Alam

Warisan Dunia UNESCO, seperti Candi Borobudur, membutuhkan keberlanjutan terhadap program perlindungan dari ancaman kerusakan akibat overtourism dan urbanisasi. Strategi konservasi berbasis komunitas dan pembatasan kapasitas pengunjung menjadi solusi jangka panjang.

14. Peningkatan Kunjungan Wisatawan Muslim

Wisatawan Muslim dari berbagai originasi wisman belum dikelola secara optimal, meski Indonesia menduduki peringkat pertama GMTI 2023.

Oleh karena itu pengembangan destinasi yang menjadi favorit wisatawan muslim yang berada di Jawa, Sumatra, Sulawesi dan Nusa Tenggara perlu ditingkatkan untuk memperluas pasar wisatawan Muslim global.

15. Keamanan dan Kenyamanan Wisatawan

Indonesia berada di peringkat ke-50 dalam indeks keamanan wisata dunia. Penegakan hukum dan pelatihan personel kepolisian pariwisata menjadi langkah krusial untuk menghadirkan rasa aman di destinasi wisata dan mengurangi resiko wisatawan nakal yang mengganggu ketertiban.

16. Mitigasi Pariwisata, Penanganan Bencana Alam di Destinasi Wisata

Sebanyak 40% destinasi utama berada di zona rawan bencana. Protokol mitigasi bencana berbasis destinasi perlu disusun untuk melindungi wisatawan dan masyarakat lokal.

17. Adaptasi terhadap Perubahan Iklim

Kenaikan permukaan laut mengancam destinasi pesisir seperti Kepulauan Seribu. Pariwisata berbasis teknologi hijau harus menjadi prioritas untuk menghadapi dampak perubahan iklim.

18. Dana Abadi Pariwisata

Alokasi anggaran pariwisata Indonesia hanya 3% dari APBN, jauh di bawah Thailand (7%). Dana Abadi Pariwisata (Indonesia Tourism Fund) adalah hal yang penting untuk segera direalisasikan.

19. Kesenjangan Pariwisata Antardaerah

Bali, Jakarta, dan Yogyakarta menyumbang 75% kunjungan internasional. Pemerataan pembangunan destinasi di luar Jawa dan Bali perlu untuk terus ditingkatkan.

20. Transformasi Digital Pelaku UMKM

Baru 40% UMKM memanfaatkan platform digital, sementara 80% wisatawan internasional mengandalkan teknologi untuk keputusan perjalanan. Pelatihan transformasi digital perlu diprioritaskan.

21. Kolaborasi Antarlembaga

Kurangnya integrasi data antar-kementerian menghambat efektivitas kebijakan. Sistem satu data pariwisata nasional menjadi solusi untuk mensinergikan strategi lintas sektor dalam mengimplementasikan program-program yang telah disusun bersama.

22. Edukasi Wisata Ramah Lingkungan

Sebanyak 70% wisatawan lokal belum memahami prinsip eco-tourism. Kampanye edukasi berbasis destinasi harus diperluas.

23. Perluasan Pasar Wisatawan Mancanegara

Jangkauan promosi pariwisata internasional tidak hanya fokus pada target wisman selama ini saja, seperti China, Australia ataupun Malaysia.

Indonesia perlu lebih agresif melakukan penetrasi ke market wisman Eropa dan Amerika misalnya yang baru hanya menyumbang 18% total kunjungan, dan juga promosi ke negara-negara Asia Timur, Timur Tengah ataupun Afrika.

24. Pengembangan Wisata MICE

Indonesia berada di peringkat ke-12 untuk wisata MICE di Asia. Peningkatan fasilitas dan promosi event internasional dapat mendongkrak posisi ini.

25. Program Insentif Pariwisata yang kompetitif

Privatisasi dan personalisasi destinasi menjadi tren baru. Indonesia perlu beradaptasi dengan kebutuhan wisatawan untuk mempertahankan daya saing global.
Program insentif pariwisata yang kompetitif seperti tiket, akomodasi, dan transportasi yang murah perlu terus untuk dilaksanakan.

Dengan menghadapi dan mengatasi tantangan-tantangan ini, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai destinasi pariwisata global yang kompetitif, inklusif, dan berkelanjutan. Strategi yang terintegrasi dan fokus pada transformasi adalah kunci untuk meraih potensi maksimal sektor pariwisata pada 2025.

Kerja Keras Menuju Target

Kesimpulannya, target kontribusi PDB 5% dan devisa USD 32 miliar di tahun 2029, berpotensi tidak cukup untuk mendorong sektor pariwisata menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi 8% seperti yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Maka, Kementerian Pariwisata dan pihak terkait perlu menyusun strategi yang lebih agresif lagi, dan berorientasi pada peningkatan waktu kunjungan dan spending wistawan di destinasi wisata.

Jika tidak, sektor pariwisata akan terus berada di posisi yang belum cukup signifikan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Penulis adalah: Pengamat pariwisara dan anggota Tim KEK Pariwisata Kemenparekraf dibawah Menparekraf Sandiaga Uno  sejak tahun 2022.