Membuka Peluang Masa Depan Melalui Inovasi di Sektor Halal dan Digital

this formate

PADANG, bisniswisata.co.id: Bertekad menjadi negara dengan populasi muslim terbesar yang menjadi produsen utama dan inovator produk Halal di berbagai bidang menjadi kesimpulan hasil dari International Ranah Minang Halal Lifestyle Festival
( IRMHLF) 2025 yang menjadi panggung global diplomasi Halal Sumatra Barat maupun Indonesia seutuhnya.

Selama 3-4 Mei 2025, Kampus Universitas Baiturrahmah, Padang, menjadi pusat pembahasan Halal Lifestyle atau gaya hidup halal melibatkan 7 Dubes dari negara-negara Organisasi Kerjasama Islam ( OKI), akademisi internasional dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand dan Korea Selatan. Hadir pula 7 Wakil Menteri di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menggelar Wamen Club Talk.

Hebatnya lagi meski pembahasan dalam presentasi para nara sumber di International Ranah Minang Halal Lifestyle Festival (IRMHLF) 2025 itu melahirkan hal-hal yang penting bagi Sumatra Barat dan bagi bangsa ini maupun kepentingan negara-negara anggota OKI. Pesertanya setia mengikuti acara dari jam 9.00 pagi hingga pukul 16.00 sore dan menikmati keindahan ruangan konfrensi dan lingkungan kampus yang penuh dengan ornamen cantik bak istana raja-raja.

Ya betul, kampus rasa istana bisa dinikmati para peserta, mulai dari mesjid besar dengan lampu-lampu kristal mewah bernama Masjid Baiturrahmah di bagian depan menghadap Jl. By Pass, Aie Pacah, Kec. Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat 25586.

Masih di bagian depan ada Rumah Gadang Baiturrahmah tempat menjamu delegasi dengan gala dinner serta tempat menikmati budaya serta musik Talempong dan peragaan busana haute couture karya para desainer Sumbar.

Mesjid besar, rumah gadang letaknya berdekatan dalam satu area komplek kampus dengan ruang konfrensi yang mewah dilengkapi kursi-kursi kerajaan pula membuat para undangan tersanjung.

Moderator dari kegiatan ini, Gunawan Yasni, praktisi Ekonomi Syariah yang juga pengajar di berbagai institusi keuangan syariah memulai acaranya dengan santai dan berpantun serta meminta peserta dalam dan luar negri menyemangatinya dengan meneriakkan kata-kata “Cakep”.

Sudah tertata rendang dan nasi dimasak.
Setelah habis semuanya dibayar.
Sudah ada halal kuliner di benak.
Ayuk dicoba halal lifestyle yang anyar.

Di dalam kapal badan tak enak.
Barulah fajar pulang berlayar.
Biaya dan utang beranak pinak.
Ayuk dicoba keuangan syariah yang bayar.

randang & rice have been cooked & arranged.
When has been consumed all are paid.
Halal culinary is in the mind.
Let’s try halal lifestyle which is kind.

The body is not well during the sailing.
In the dawn return from sailing.
Expenses & debts all over the place.
Let’s try to have sharia finance in place.

Tak heran sebelum moderator Gunawan Yasni memainkan perannya memandu acara, Dubes UAE, Abdulla Salem Al Dhaheri mewakili perwakilan Dubes dari negara-negara OKI mengatakan tak menyangka Halal Lifestyle Festival di Sumbar ini memiliki inisiatif membahas masalah halal secara menyeluruh terutama di era tekhnologi AI.

Acara ini juga dapat menjadi ajang bagi para pelaku industri halal untuk saling bertemu dan berdiskusi guna menggagas kolaborasi untuk menghasilkan strategi inovatif bagi pengembangan Industri Halal dunia meskipun disuarakan dari Sumbar.

“Halal lifestyle itu bukan slogan atau label tapi merupakan kebanggaan dan warisan budaya Islam yang tertuang dalam Al-quran dan dengan permintaan yang tinggi kita harus memperluas dengan memanfaatkan tekhnologi digital yang akan kita bahas bersama ini,” kata Dubes UAE, Abdulla Salem Al Dhaheri.

Halal industry, kata Abdulla, mencakup Keuangan Syariah, Makanan & Minuman ( Food & Beverage), Modest Fashion, Halal Tourism, Farmasi, Cosmetics, Media & Recreation. Masalah regulasi, sertifikasi, standarisasi akan menjadi sorotan untuk mendorong industri ini dengan memanfaatkan tekhnologi digital.

“ Saya percaya, inisiatif Indonesia Halal Life Style ( IHLC) dan Universitas Baiturrahmah
( Unbrah) Padang, akan memperbaiki ekosistem halal industry apalagi negara-negara OKI belum sepenuhnya menjadi produsen maupun eksportir halal produk,”

Dubes UAE, Abdulla Salem Al Dhaheri dalam kesempatan itu optimistis hasil dari kegiatan International Ranah Minang Halal Lifestyle Festival ( IRMHLF) 2025 dan memproyeksi keuangan syariah, modest fashion dan implementasi halal tourism bisa mempercepat dan menjadi motor penggerak kolaborasi diantara negara OKI setelah event ini.

Tiga Isu Utama dalam Produk Halal: Pengolahan, Bahan Baku, Autentikasi

Pidato Utama oleh Assoc. Prof. Dr. Winai Dahlan, Pendiri Pusat Sains Halal – Universitas Chulalongkorn, Thailand “Inovasi Digital untuk Keunggulan Halal: Memberdayakan Dapur Halal Global”

Pengalaman Thailand dalam Pengembangan Halal Sci-DigiTech untuk Mendukung Ekonomi Halal dikupasnya dengan gamblang termasuk dukungan pemerintah Thailand terhadap industri halal, kata cucu pendiri Muhammadiyah di Indonesia ini yang menhadi warga Thailand.

Kalau pemerintah pusat maupun daerah di Indonesia masih mempermasalahkan definisi halal tourism, halal industri maka di Thailand, negara dengan populasi muslim yang hanya 7% itu sudah sangat maju mengembangkan semua sektor halal.

Hal ini didasari riset, fakta dan kesadaran bahwa konsumen Muslim semakin memprioritaskan kualitas dan keamanan produk sedangkan harga yang kompetitif tetap menjadi perhatian utama, penerapan Sci-DigiTech di sektor halal di negara itu untuk memperkuat kepercayaan dan keyakinan konsumen terus berkembang.

Thailand dengan populasi Muslim yang kecil (7%) merupakan salah satu pengekspor makanan halal terkemuka di dunia. Selama dua dekade terakhir, pemerintah Thailand telah mengeluarkan empat resolusi kabinet yang menugaskan Pusat Sains Halal di Universitas Chulalongkorn (HSC) untuk memajukan Sci-DigiTech halal guna mendukung sertifikasi halal nasional.

HSC telah menetapkan teknik ilmiah laboratorium forensik halal yang menganalisis produk lebih dari 197.000 sampel dan membuat basis data referensi kimia:

HSC juga telah mengembangkan HAL-Q, sistem manajemen mutu makanan halal, yang diterapkan di 1.172 pabrik makanan, yang mencakup 159.466 karyawan. Selain itu, pusat halal ini telah mengembangkan dua jenis sistem AI: implementasi dengan bantuan manusia dan kecerdasan buatan berbasis mesin.

Inovasi ini telah menghasilkan pengembangan NFTS dan aplikasi terdesentralisasi (DApps) yang mendukung sistem blockchain halal dalam operasi industri. Konsumen kini dapat memverifikasi keamanan produk melalui aplikasi seluler Halal Route, yang dirancang khusus untuk wisatawan.

Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk melacak proses produksi dengan mudah melalui ponsel pintar mereka tanpa biaya, meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk halal sekaligus mendukung pariwisata halal di negara tersebut.

Sementara itu Prof. Irwandi Jaswir, M.Si., Ph.D, Koordinator Penelitian, Pusat Penelitian Industri Halal, di Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM) dalam sambutannya membahas soal Memajukan Riset dan Inovasi Berbasis Halal

Tiga tantangan utama dalam industri halal yang memerlukan pertimbangan cermat adalah bahan baku, metode pemrosesan, dan teknik analisis. Dalam kerangka Islam, banyak masalah muncul dalam industri halal, yang mencakup kategorisasi produk sebagai produk hewani atau nabati, metode yang digunakan dalam pemrosesan, komposisi bahan tambahan, pengemasan, distribusi, dan penjualan.

Irwandi juga menekankan bahwa halal mencakup kualitas tidak hanya dari sudut pandang Syariah, tetapi juga dari sudut pandang bisnis dan ekonomi. Oleh karena itu, pembahasan tentang produk halal tidak terbatas pada komunitas Muslim.

Di Malaysia, penelitian dan pengembangan autentikasi halal untuk pangan dan farmasi menggunakan a.l:
Spektroskopi Inframerah Transformasi Fourier (FTIR), Teknologi Hidung Elektronik (E-nose), Differential Scanning Calorimetry (DSC) , Teknik Biologi Molekuler (DNA, ELISA), Kromatografi (misalnya GC-FID, GC-TOF-MS,
(HPLC, GCMS), dll.

Untuk menghadapi tantangan, Irwandi mengatakan bahwa tantangan dalam Kepatuhan terhadap persyaratan halal dan mutu harus memenuhi persyaratan halal, sehingga otoritas Halal perlu memiliki sistem audit/monitoring yang lebih ketat.

“Diperlukan metode ilmiah mutakhir yang andal untuk analisis komponen non-halal (misalnya asal babi, alkohol) dalam produk selain juga teknik analisis menjadi tantangan utama untuk autentikasi produk,” tambahnya.

Fateh Ali, seorang, Inovator, penemu & pendiri SmartDeen ( kiri) dan Dubes UAE, Abdulla Salem Al Dhaheri mewakili perwakilan Dubes dari negara-negara OKI.

Aplikasi Tekhnologi Digital

Pembicara kunci lainnya, Fateh Ali, seorang
Inovator, penemu & pendiri SmartDeen
yang juga seorang eksekutif ahli Al dan pemimpin visioner teknologi yang tiga kali mendirikan perusahaan rintisan berbasis di Singapura mengatakan masa depan Kecerdasan Buatan ( AI) dapat dibentuk oleh etika Islam.

“1.400 tahun yang lalu, Islam meletakkan prinsip-prinsip keadilan, privasi data (ghibah), dan kewajaran. Kini, Silicon Valley tengah berupaya menuangkannya ke dalam kode Al.” kata Fateh Ali tenang tapi membuat audiense terkejut.

Menurut dia, Muslim sudah memiliki kompas
Al yang menggantikan pekerjaan, Al membantu memberi makan 1 miliar orang secara etis dan Al tidak akan datang tapi dia sudah ada di sini bersama kita

Mengapa hal Ini penting? Karena dunia Muslim masih muda, dinamis, dan digital. Sebanyak
67% pemuda Muslim menggunakan platform digital setiap hari – tetapi berapa banyak yang membentuknya? Dunia tidak membutuhkan lebih banyak teknologi.

“Hal yang dibutuhkan adalah teknologi moral. Dan siapa yang lebih baik untuk memimpin itu? karena 1 dari 4 orang di bumi adalah Muslim dan 1 dari 3 pemuda di dunia adalah Muslim,” tegas Fateh Ali.

Perekonomian dunia diperkirakan mencapai US$7 triliun pada tahun 2030 dan Al dapat memperdalam kesenjangan atau membuka era keemasan pemberdayaan.

Pasar halal global sedang berkembang pesat, mulai dari keuangan, makanan, hingga mode. Tetapi sayangnya, sistem AI tidak dibangun dengan mempertimbangkan nilai-nilai kita.

“Fintech halal sedang berkembang, tetapi di mana perangkat AI bersertifikat halal? Sebagian besar kumpulan data berpusat di Barat. Model bisnis kita Islami, tetapi tumpukan teknologi kita tidak. Itulah celahnya. Bukan hanya desain yang berbasis teknologi, tetapi juga desain yang disengaja dan bernilai,” ungkap Fateh Ali.

Peluang triliunan dolar berikutnya terletak di persimpangan nilai-nilai Islam dan etika Al
Tantangan misalnya:
• Kita tidak terlambat menuju masa depan atau kita tiba lebih awal menuju masa depan kita sendiri.
• Kita tidak perlu menunggu izin dari Silicon Valley. Kita hanya perlu bersatu dengan tujuan dan dunia Muslim memiliki kompas moral yang sangat dibutuhkan dunia

Visi ke depan bukan fiksi ilmiah. Ini Islam dan
skenario futuristik penggunaan Al dalam Islam adalah inovasi, jangan terlambat!. Bayangkan Siri – tetapi dengan Adab. Bayangkan ChatGPT – tetapi dilatih berdasarkan Al-Quran, dan Hadits. Bayangkan teknologi yang tidak hanya melayani kita – tetapi juga mengangkat jiwa kita.

Al adalah penemuan terakhir manusia
pertanyaan yang kuat, Apa yang akan Anda bangun? Apa yang akan Anda danai? Apa yang akan Anda ajarkan kepada anak-anak Anda?

Kita terus mengatakan ‘dunia Muslim’ seolah-olah itu adalah satu pasar. Namun, itu tidak benar. Itu adalah tiga pasar: Sejujurnya, kita adalah…. Satu Secara Spiritual. Sebagai pasar, ada TIGA segmen.

Jangan hanya berpikir Umat, tapi pikirkan Umat berpenghasilan tinggi, Di situlah peluangnya berada dan berpenghasilan menengah serta yang kurang terlayani
Ini bukan ekonomi satu umat, melainkan tiga. Nilai yang sama, kebutuhan yang berbeda

Segmen Muslim1, populasinya 300 juta, ukuran ekonominya US$ 2,8 triliun, kebutuhannya premium dan paham tekhnologi → Ingin Premium – Fintech mewah, teknologi kesehatan

Segmen Muslim 2, populasinya 800 juta, ukuran ekonominya US$ 3,5 triliun, kebutuhannya sudah sadar nilai dan mengutamakan perangkat selular→ Ingin Nilai – Mode halal yang dapat diskalakan, chatbot Al, Perjalanan halal

Segmen Muslim 3, populasinya 900 juta, ukuran ekonominya US$ 700 miliar→ Ingin Akses – Aplikasi Al-Qur’an suara, bot bahasa lokal, teknologi zakat.

Al adalah penemuan terakhir manusia
Pertanyaan yang kuat adalah apa yang akan Anda bangun? Apa yang akan Anda danai? Apa yang akan Anda ajarkan kepada anak-anak Anda? Mari kita manfaatkan peluang besar ini dalam ekonomi triliunan dolar yang tumbuh paling cepat di hadapan kita

Membangun untuk Ummat , Wa qul Rabbi zidni ‘ilma, Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku, dan berilah aku karunia untuk dapat memahaminya, kata Fateh Ali mengakhiri presentasinya diikuti tepukan tangan dan kekaguman kolaborasi Halal Lifestyle dan tekhnologi. Allahu Akbar !.

Hidup Bermakna

Bayangkan teknologi yang tidak hanya melayani kita – tetapi juga mengangkat jiwa kita, ungpap Fateh Ali saat menutup presentasinya.

Selama beberapa dekade, teknologi terobsesi dengan produktivitas, keuntungan, dan kesenangan. Namun, bagaimana jika batas berikutnya bukan hanya teknologi yang lebih cerdas… melainkan teknologi yang lebih bijak? Teknologi yang mengingatkan Anda untuk berhenti sejenak. Bercermin, berdoa terhubung kembali dengan tujuan Anda.

Di SmartDeen, itulah yang sedang kami bangun – perangkat layar sentuh bertenaga AI yang mendukung kesejahteraan spiritual yang didukung oleh desain, keyakinan, dan kecerdasan. Tidak hanya untuk membuat hidup lebih mudah. ​​Namun, untuk membuat hidup lebih bermakna.

International Ranah Minang Halal Lifestyle Festival 2025 Panggung Global Diplomasi Halal Sumbar

this formate

 Ketua Yayasan Baiturrahmah, Hj Maizarnis         ( duduk tengah) bersama para pembicara internasional, para Wamen dan para Dubes mewakili negara anggota OKI

PADANG, Sumbar, bisniswisata.co.id: International Ranah Minang Halal Lifestyle Festival (RMHLF) 2025 menjadi panggung diplomasi halal yang mempertemukan para pembicara internasional, Duta Besar dari negara-negara OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) dan tokoh nasional lintas sektor, kata Prof Dr. Sapta Nirwandar, Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center ( IHLC) sebagai penyelenggara bekerjasama Universitas Baiturrahmah ( Unbrah).

Berbicara saat membuka RMHLF, Sapta Nirwandar mengatakan event ini akan membuka pintu bagi kemitraan nyata antara para pelaku bisnis Sumatera Barat dan pasar halal global, disamping mempromosikan wilayah yang indah ini sebagai destinasi yang ramah Muslim.

Menurut Sapta, Sumatera Barat adalah tempat yang tepat dan bermakna untuk pertemuan ini. Selain budayanya yang kaya, provinsi ini terkenal dengan kulinernya—kuliner Padang—yang tidak hanya lezat, tetapi juga menunjukkan kreativitas dan tradisi dalam cara penyajiannya. Dari pemilihan bahan hingga pengemasannya, semuanya merupakan kombinasi dari penelitian, teknologi, dan seni.

“Saya berpesan juga pada pembicara internasional dan para Dubes negara-negara OKI yang hadir agar mencoba minum Teh Talua khas Sumbar karena meningkatkan stamina tubuh serta berguna sebagai pengganti makanan, karena di dalam teh talua sudah mengandung kalori yang berguna bagi tubuh,”

Teh yang dicampur telur bebek atau telur ayam kampung dikocok, dicampur sedikit susu dan gula, hingga berbusa. Setelah itu, seduh dengan air teh panas dan sedikit perasan jeruk nipis. Minuman khas ini perlu dipromosikan lebih luas lagi, tambah Sapta Nirwandar.

Sementara itu Prof. Dr. Ir.H Musliar Kasim MS, Rektor Unbrah sebagai tuan rumah mengatakan Sumatera Barat secara historis terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Indonesia.

Saat ini hampir 97% penduduk Sumatera Barat menganut agama Islam. Suku Minangkabau, yang merupakan penduduk asli dataran tinggi Sumatera Barat, membentuk 88% dari populasi Islam ini.

“Masuknya Islam ke Minangkabau berdampak signifikan terhadap cara hidup masyarakatnya. Mereka mengadopsi filosofi hidup yang dikenal sebagai adat bersendi syarak syarak bersendi kitabullah,” kata Musliar Kasim.

Menurut dia, filosofi ini merupakan sistem yang memandu interaksi antara individu dengan lingkungannya berdasarkan nilai-nilai Islam dan adat istiadat. Posisi warisan budaya dan Islam yang kaya di Sumatera Barat ini telah menjadi tempat yang ideal untuk memelihara dan mempromosikan konsep Gaya Hidup Halal global dan menjadikan Sumatra Barat tujuan Halal Tourism sebagai bagian dari Halal Industry.

             Para Dubes negara-negara OKI

Mempromosikan gaya hidup halal mendorong hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dalam semua aspek kehidupan, bukan hanya makanan dan minuman tetapi juga hukum Syariah di bidang-bidang seperti keuangan, pakaian, hiburan, dan banyak lagi.

“Festival Gaya Hidup Halal Ranah Minang Internasional ini menandai peluang penting untuk memperkuat industri Halal. Ini akan memberikan peluang bagi kerja sama internasional, mendorong kolaborasi lintas sektor, dan merangsang inovasi untuk kemajuan ekonomi halal global,” kata Musliar Kasim.

Melalui festival ini, para praktisi bisnis di industri halal dapat menunjukkan dan mempromosikan produk mereka kepada konsumen. Acara ini juga dapat menjadi ajang bagi para pelaku industri halal untuk saling bertemu dan berdiskusi guna menggagas kolaborasi baru guna menghasilkan strategi inovatif bagi pengembangan Industri Halal, tambahnya

International Ranah Minang Halal Lifestyle Festival (RMHLF) 2025 melibatkan Prof. Winai Dahlan, atas karya perintisnya dalam sains dan teknologi halal, Fateh Ali dari Singapura, atas wawasan berharga mengenai pasar halal global dan peluang untuk berkolaborasi.

Irwandi Jaswir dari Malaysia, atas keahlian dalam kerja sama regional di industri halal dan bagaimana kita dapat tumbuh bersama.
Kim So Il dari Korea, atas eksplorasi potensi ekspor Indonesia yang sangat besar ke Korea dan penguatan hubungan dagang.

Pembicara lainnya Ali Fahmi, atas kreasi inovatif mengenai Simfratani, dan kontribusinya terhadap inovasi makanan halal,
Nadia Mira, atas penelitian inovatif mengenai kapsul halal dari durian dan rumput laut yang membantu memajukan ilmu makanan halal dan farmasi.

Kegiatan Ini juga dihadiri pula oleh para Duta Besar yang mewakili negara-negara Organisasi Kerjasama Islam yaitu H.E. Abdulla Salem Obaid Salem Al Dhaheri (Uni Emirat Arab), Sudqi Atallah Abd Alkader Al Omoush (Yordania), Yasser Hasan Farag Elshemy (Mesir), Mohamed Trabelsi (Tunisia), Ramil Rzayev (Azerbaijan), Armin Limo (Bosnia & Herzegovina), Macocha Tembele (Tanzania).

Hadir juga anggota Wamen Club  ( WMC) yang melakukan WMC Talk dengan Gufron, mantan Wamen Kesehatan yaitu para Wakil Menteri di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Prof. Dr. Bayu Krisnamurti M.S, Prof. Ir Bambang Susantono, MCP, PhD, Prof Dr. Eko Prasodjo,Prof dr. H. Fasli Jalal, Ir. Susilo Siswoutomo, Dr. Rusman Heriawan S.E, M.Si, Prof. Dr. Mahmuddin Yasin, MBA dan Prof. dr. Ali Ghufron Mukti

International Ranah Minang Halal Lifestyle Festival (RMHLF) 2025 berlangsung 3-4 Mei 2025 dipandu oleh moderator Gunawan Yasni dan para undangan yang juga menghadiri gala dinner dengan peragaan modest fashion dari para desainer Sumbar serta atraksi budaya lainnya

MITI: Ekspor Produk Halal Malaysia Lampaui RM61 miliar pada tahun 2024

this formate

Miti mengatakan pertumbuhan ekspor terutama didorong oleh ekosistem halal yang kuat, termasuk di sektor makanan dan minuman. (Foto Bernama)

KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id: kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia  (Miti) mengatakan pertumbuhan ekspor meningkatan 15% dari RM53,72 miliar yang tercatat pada tahun sebelumnya.

Dilansir dari halalfocus.com, ekspor produk halal Malaysia naik menjadi RM61,79 miliar pada tahun 2024, peningkatan 15% dari ekspor yang tercatat pada tahun sebelumnya, menurut kementerian investasi, perdagangan, dan industri (Miti).

Wakil sekretaris jenderal Miti (industri) Hanafi Sakri mengumumkan angka-angka tersebut pada peluncuran terbatas Malaysia International Halal Showcase 2025 (Mihas) di sini.

“Malaysia terus mempertahankan posisi teratasnya dalam peringkat Indikator Ekonomi Islam Global selama 10 tahun berturut-turut. Kekuatan Malaysia terletak pada keuangan Islam, makanan halal, serta media dan rekreasi.

Dilansir dari www.freemalaysiatoday.com, pada tahun 2024, ekspor produk halal Malaysia mencapai RM61,79 miliar, meningkat 15% dari RM53,72 miliar yang tercatat pada periode yang sama tahun 2023,” kata Hanalfi Sakri

Hanafi mencatat bahwa industri halal merupakan bagian penting dari produk domestik bruto Malaysia, dengan proyeksi yang memperkirakan kontribusinya akan meningkat menjadi 10,8%, atau RM231 miliar, pada tahun 2030.

“Pertumbuhan ini terutama didorong oleh ekosistem halal kami yang kuat di sektor-sektor seperti makanan dan minuman, keuangan, dan perjalanan.”

Ketua Malaysia External Trade Development Corporation (Matrade) Reezal Merican Naina Merican menggambarkan target ekspor negara sebesar RM1,58 triliun tahun ini sebagai “target yang sederhana” meskipun ia meramalkan tantangan ke depannya.

Meskipun demikian, Reezal mengatakan Matrade menerapkan beberapa strategi, termasuk diversifikasi pasar, khususnya terhadap pasar negara berkembang.

“Kami berfokus pada mitra dagang yang saat ini berkontribusi terhadap surplus perdagangan kami. Pada saat yang sama, kami juga meninjau mitra yang memiliki defisit perdagangan dengan kami, dan menjajaki cara untuk menghilangkan atau mengurangi kesenjangan tersebut,” katanya.

Pada bulan Maret, dilaporkan bahwa Matrade telah ditugaskan untuk meningkatkan nilai ekspor negara tersebut sebesar 5% menjadi RM1,58 triliun pada tahun 2025.

Pada akhir tahun 2024, Matrade telah mencatat ekspor sebesar RM1,51 triliun, melampaui target sebenarnya sekitar RM10 miliar

Festival Halal Internasional di Padang: Diplomasi, Budaya, dan Gaya Hidup Halal Bertemu di Ranah Minang

this formate

Prof Dr H. Musliar Kasim MS dan Prof Dr Sapta Nirwandar SE, DESS ( tengah) bersama panitia penyelenggara International Ranah Minang Halal Lifestyle Festival (RMHLF) di Rumah Gadang Universitas Baiturrahman, Padang.          ( Foto: IHLC)

PADANG, bisniswisata.co.id: International Ranah Minang Halal Lifestyle Festival (RMHLF) 2025 resmi dibuka. Festival yang digelar selama dua hari ini bukan sekadar ajang perayaan budaya dan kuliner, tetapi juga menjadi panggung diplomasi halal yang mempertemukan para duta besar dari negara-negara OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) dan tokoh nasional lintas sektor.

“Festival ini bukan hanya tentang halal sebagai label, tetapi halal sebagai nilai yang menyatukan. Indonesia, khususnya Sumatera Barat, punya kekuatan besar untuk menjadi motor penggerak halal lifestyle dunia.” kata Prof. Dr. Sapta Nirwandar, Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center. ( IHLC).

Kegiatan berlangsung di Rumah Gadang Universitas Baiturrahman, Padang, Sumbar pada 3-4 Mei 2025 dimana IHLC bekerjasama dengan Universitas Baiturrahman Padang dan Pemprov Sumatra Barat menyelenggarakan Festival Halal Internasional ini.

Sebuah event yang mempertemukan para tokoh halal di dalam dan luar negri dengan total pembicara sebanyak 9 orang dengan moderator M Gunawan Yasni, Dosen Senior di Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia.

“Event ini mengundang para pembicara internasional yaitu Assoc. Prof. Dr. Winai Dahlan, pendiri Halal Science Center Chulalongkorn University, Thailand, Prof. Irwandi Jaswir, M.Sc., Ph.D.International Institute For Halal Research and Training,IIUM, Malaysia, Fateh Ali, Founder & CEO SmartDeen – Singapura, Kim So Il, dari Busan Indonesia Center,” kata Sapta Nirwandar, Ketua IHLC.

Nara sumber lainnya Nadia Mira Kusumaningtyas, S.Si., M.Sc, Researcher, dari Universitas Gontor Darussalam, Dr. Edi Suandi, SE, MM, dosen Universitas Baiturrahmah Padang, Dr. Ir. Yan Heryandi, MP, Ketua Halal Center Universitas Andalas dan Halal Auditor LPPOM MUI serta Riyanto Sofyan B.S.E.E. MBA, President Commissioner, PT Sofyan Hotel Corp dan moderator Gunawan Yasni.

 

Mereka membahas topik-topik krusial, mulai dari transformasi digital industri halal, masa depan ekspor halal, hingga inovasi pangan berbasis riset halal.

Selain itu Sorotan utama datang dari kehadiran 10 Duta Besar negara OKI, termasuk:
– H.E. Abdulla Salem Obaid Salem Al Dhaheri (Uni Emirat Arab)
– H.E. Sudqi Atallah Abd Alkader Al Omoush (Yordania)
– H.E. Yasser Hasan Farag Elshemy (Mesir)
– H.E. Mohamed Trabelsi (Tunisia)
– H.E. Ramil Rzayev (Azerbaijan)
– H.E. Armin Limo (Bosnia & Herzegovina)
– H.E. Macocha Tembele (Tanzania)
– H.E. Sheikh Mohamed Ahmad Salim Al Shanfari (Oman)
– H.E. Fauziya Edrees Al-Sulaiti (Qatar)
– H.E. Mawlawi Sadullah Baloch (Afghanistan)

Para duta besar ini tidak hanya hadir sebagai tamu kehormatan, namun aktif dalam dialog diplomasi halal, menggarisbawahi pentingnya kerja sama ekonomi dan budaya antarnegara Islam.

Senada dengan itu, Rektor Universitas Baiturrahmah, Prof. Dr. Ir. H. Musliar Kasim, M.S. menambahkan, “Kampus ini menjadi tempat bersatunya riset, budaya Minang, dan gaya hidup halal. Kami bangga menjadi tuan rumah forum internasional yang memperkuat posisi Indonesia di dunia Islam.”

Tidak kalah menarik, malam harinya digelar Gala Dinner & Modest Fashion Show yang menampilkan harmoni antara keanggunan busana muslimah, cita rasa kuliner Minang, dan lantunan musik Talempong.

Acara ini dibuka oleh Menteri Kebudayaan RI, Dr. Fadli Zon dan didukung oleh brand nasional seperti Wardah dan Kahf yang memperkuat narasi gaya hidup halal Indonesia di mata dunia. Turut hadir dalam malam tersebut, Walikota Padang, Bapak Fadly Amran, yang memberikan dukungan dan apresiasi terhadap inisiatif promosi budaya dan gaya hidup halal melalui kegiatan ini.

Menurut laporan Indonesia Halal Market Report 2024, konsumsi halal nasional mencapai lebih dari USD 184 miliar pada 2022, sementara laporan SGIE 2024 mencatat konsumsi halal global mencapai USD 2,5 triliun dan akan tumbuh hingga USD 5,96 triliun pada 2026. Angka-angka ini menunjukkan bahwa potensi industri halal bukan sekadar tren, tetapi masa depan ekonomi global.

Festival ini diharapkan menjadi pemantik lahirnya kolaborasi konkret antara daerah, dunia usaha, kampus, dan negara-negara sahabat, menjadikan Sumatera Barat sebagai simpul penting dalam peta halal dunia.

Acara ini terselenggara berkat sinergi erat antara Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Universitas Baiturrahmah, dan Yayasan Baiturrahmah sebagai penyelenggara utama yang telah memberikan dukungan penuh, baik dari sisi fasilitas, infrastruktur, hingga partisipasi aktif dalam setiap rangkaian kegiatan.

Pemerintah Ingin Jadikan RI  Pemimpin Industri Halal Dunia

this formate

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza saat peluncuran pameran Halal Indo 2025 di Jakarta, Senin (28 April 2025). ANTARA/Muzdaffar Fauzan

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Kementerian Perindustrian menargetkan Indonesia menjadi produsen produk halal terkemuka di dunia. Hal ini dibuktikan dengan potensi industri yang sangat besar, terbukti dari transaksi ekspor yang mencapai US$64,11 miliar pada 2024.

“Kita harus benar-benar memperkuat dan meningkatkan seluruh ekosistem industri halal. Ini bukan sekadar tujuan, tetapi kebutuhan strategis,” kata Wamenperin Faisol Riza saat peluncuran pameran Halal Indo 2025 di Jakarta, Senin, seperti dilansir dari Antara.

Menurut Riza, posisi Indonesia dalam ekonomi Islam global terus membaik di berbagai sektor.Kemajuan ini tercermin dalam State of the Global Islamic Economy Report 2023/2024 yang menunjukkan Indonesia naik satu peringkat ke posisi ketiga, di bawah Malaysia dan Arab Saudi.

Namun, Indonesia masih perlu lebih gencar menggenjot sektor farmasi dan kosmetik berbasis halal dibanding negara-negara yang bukan mayoritas penduduk Muslim.

Tantangan lain dalam pengembangan industri halal adalah global branding produk halal yang belum optimal.

Riza mencontohkan, negara-negara lain sudah memiliki posisi kuat di pasar halal global, seperti Australia yang dengan cepat menjadi pemasok daging sapi halal terbesar, dan China yang menjadi pemasok utama busana muslim.

“Negara-negara tersebut telah menerapkan strategi branding untuk mengamankan posisinya di pasar halal global,” ujarnya.

Untuk mendongkrak branding industri halal dalam negeri agar menjadi produsen terkemuka di dunia, Kementerian Perindustrian akan menyelenggarakan Halal Indonesia International Industry Expo (Halal Indo) 2025 yang dijadwalkan pada 25-28 September 2025 di Tangerang, Banten.

Ajang Halal Indo tahun lalu menarik lebih dari 12 ribu pengunjung, dengan nilai transaksi Rp1,3 miliar (sekitar US$77.419), dan total komitmen Rp6 miliar (sekitar US$357.320).

 

Indonesia Siap Jaring Wisman Melalui “Arabian Travel Market Dubai 2025”

this formate

DUBAI, bisniswisata.co.id:  Indonesia melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) siap menjaring lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman) untuk berkunjung ke tanah air melalui bursa pariwisata internasional terbesar di kawasan Timur Tengah “Arabian Travel Market (ATM) Dubai 2025” yang berlangsung di Dubai World Trade Centre, mulai 28 April hingga 1 Mei 2025.

Deputi Bidang Pemasaran, Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, dalam pernyataannya di Jakarta, Minggu (27/4/2025) menjelaskan melalui ATM Dubai 2025, Indonesia berupaya mempromosikan destinasi pariwisata dengan meningkatkan _brand recognition_ Wonderful Indonesia seiring tren saat ini.

“Tidak hanya promosi secara general, bursa pariwisata seperti ATM Dubai sangat membantu baik industri pariwisata maupun pemerintah dalam memperkenalkan destinasi unggulan di setiap wilayah,” kata Made.

Bursa pariwisata internasional terbesar di kawasan Timur Tengah ini telah berlangsung selama 30 tahun. ATM Dubai 2025 diperkirakan akan dikunjungi oleh lebih dari 47.000 pengunjung dan menampilkan kurang lebih 2.700 exhibitors dari 161 negara.

Made menekankan, kehadiran Indonesia dalam ATM Dubai 2025 merupakan salah satu upaya penting untuk menjaga eksistensi Indonesia sebagai destinasi unggulan di dunia internasional khususnya kawasan Timur Tengah.

Tahun lalu, jumlah wisatawan asal Timur Tengah yang berkunjung ke Indonesia mencapai 224 ribu kunjungan atau naik sebesar 24 persen dari tahun sebelumnya, sehingga pertumbuhan yang positif ini merupakan potensi yang perlu terus digarap di masa mendatang.

“Target kunjungan wisman pada 2025 sebesar 14 juta sampai 16 juta wisman, dengan 249 ribu di antaranya adalah target wisatawan dari kawasan Timur Tengah. Angka ini meningkat 6,4 persen dari tahun sebelumnya sehingga diperlukan langkah akselerasi dan aktivitas promosi yang lebih intensif agar dapat menunjang pencapaian target tersebut, tentu salah satu upayanya melalui partisipasi Kemenpar dan industri pariwisata Indonesia di ATM Dubai tahun ini,” ujar Made.

Dengan tema besar “Experiential Tourism” dan fokus produk mencakup Gastronomy, Marine, dan Wellness, Paviliun Wonderful Indonesia akan memfasilitasi 20 industri pariwisata sebagai co-exhibitors yang terdiri dari TA/TO, DMC/DMO, Hotel/Resort, dan Atraksi Wisata berlokasi di Hall 7 No. AS 8558 – AS 8558A, DWTC.

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta dan Indonesia Inbound Tour Operators Association (IINTOA) juga turut berkolaborasi pada bursa bergengsi ini dengan membuka lahan untuk memfasilitasi 15 delegasi industri pariwisata Jakarta dan 26 delegasi industri pariwisata anggota IINTOA.

Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara III Kementerian Pariwisata, Raden Wisnu Sindhutrisno, menambahkan bahwa kolaborasi bersama mitra _stakeholder_ dalam kepesertaan pada bursa pariwisata internasional ini diharapkan dapat memaksimalkan aktivitas promosi yang menunjukkan daya saing pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia dalam skala global.

“Melalui pertemuan bisnis antara _sellers_ dan _buyers_ yang diatur pada _pre-scheduled appointment system_, diharapkan target kepesertaan pada pameran ini sebesar 44 ribu potensial pax dapat tercapai,” kata Wisnu.

Wisnu berharap, bursa pariwisata Arabian Travel Mart Dubai ini mampu memberikan dampak positif pada peningkatan jumlah wisman khususnya untuk pasar Timur Tengah.

“Sehingga secara keseluruh dapat mendukung pencapaian target sekaligus mendorong pemulihan ekonomi Indonesia pasca-pandemi,” kata Wisnu.

Selain itu, sebagai upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan Timur Tengah, Kementerian Pariwisata juga akan menandatangani perjanjian kerja sama dengan Qatar Airways.

Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama antara Kementerian Pariwisata dan Qatar Airways ini akan ditandatangani pada 28 April 2025, pada hari pertama penyelenggaraan Arabian Travel Market (ATM) Dubai 2025.

Table Top East Java Adventure Trip di Jember

Table Top East Java Adventure Trip di Jember

this formate

JEMBER, bisniswisata.co.id: Wijaya Kusuma Ballroom Java Lotus Hotel Jember, menjadi tempat penyelenggaraan Table Top East Java Adventure Trip ke-4 (JAT4) Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) DPD Jawa Timur. Ajang berskala nasional —buyers meet seller JAT4 – 2025, mempertemukan 100 buyer dan 50 seller dari dalam dan luar negeri untuk mempererat jejaring bisnis sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Java Lotus Hotel Jember berkomitmen menjadi bagian aktif dalam mendorong kemajuan pariwisata dan ekonomi kreatif Jawa Timur melalui hospitality berkelas dunia dengan kearifan lokal, budaya Pandhalungan. Kami percaya bahwa setiap pertemuan di Java Lotus Hotel bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang membangun masa depan pariwisata yang lebih kuat, berketahanan dan berkelanjutan,” ujar Jeffrey Wibisono V, General Manager Java Lotus Hotel Jember.

Terpilihnya Java Lotus Hotel Jember sebagai titik simpul pertemuan bisnis pelaku pariwisata, selain posisi yang strategis. Hotel menyediakan fasilitas ruang dan kebutuhan logistik pendukung pertemuan klas internasional berkapasitas kecil sampai besar. Tersedia fasilitas Rooftop dan SkyLounge Restaurant, Infinity Swimming Pool, makanKOE Restaurant yang menyajikan comfort Indonesian food rasa “Jemberan” hingga Ballroom yang representative.

East Java Adventure Trips (JAT) ke-4, bertema East Java Cross Border Adventures, merupakan program kolaboratif ASPPI DPD Jawa Timur untuk meningkatkan daya saing pariwisata Jawa Timur. Perjalanan eksplorasi dimulai pada 28 April s,d 2 Mei dari Surabaya, Bromo, Batu, hingga berakhir di Banyuwangi. Dan Java Lotus Hotel Jember menjadi titik penting untuk aktivitas networking profesional antar pelaku industri.

Networking berupa table top diselenggarakan di Java Lotus Hotel Jember pada 30 April menjadi salah satu highlight kegiatan mempertemukan buyer dan seller dalam suasana eksklusif, profesional, nyaman, mensinergikan pengelola destinasi wisata, akomodasi, kuliner, atraksi wisata, serta travel agents.

Mengukuhkan Jember di Peta Pariwisata JaTim

Dengan dipilihnya Java Lotus Hotel Jember sebagai tuan rumah Table Top JAT4 2025, semakin memperkuat posisi Jember sebagai salah satu destinasi wisata, bisnis, dan event di Jawa Timur. Acara ini tidak hanya memperkenalkan keindahan wisata alam seperti Air Terjun Tumpak Sewu dan Gunung Argopuro, tetapi juga menampilkan kekayaan budaya, kuliner, dan kreativitas lokal.

Java Lotus Hotel di Table Top JAT 4

Ajang JAT ke 4 ASPPI menghubungkan potensi budaya dan alam Jawa Timur ke dalam bisnis kepariwisataan. Ruang yang membuka peningkatan pemahaman industri akan potensi alam dan budaya kawasan JaTim untuk dikemas menjadi paket kreatif layak pasar.

Pada kesempatan tersebut Java Lotus Hotel Jember menjadi “rumah besar Nusantara” dengan hospitality yang mengedepankan kehangatan, keramahan bagi seluruh tamu. Juga mengupayakan keterhubungan potensi lokal ke pasar dunia, dengan sajian gastronomi Pandhalungan —nasi Langgi dan sayur Gudhuk bercitarasa daun Kolpoh–.

“Hotel yang baik bukan hanya tempat menginap, tempat menyelenggarakan acara, pertemuan saja. Juga menjadi tempat di mana gagasan besar, kolaborasi nyata, dan cerita indah dimulai,” lanjut GM Java Lotus Hotel di sela penyelenggaraan Table Top JAT- ke 4 ASPPI Jatim.

Pala Papua Dulu Diabaikan, Kini Diburu Industri Parfum Dunia Berkat Perempuan Adat

this formate

PAPUA, bisniswisata.co.id: Di balik hutan lebat Papua Barat, sekelompok perempuan adat tengah berusaha membalik nasib dengan mengubah buah pala—warisan leluhur mereka—menjadi komoditas bernilai tinggi yang kini dilirik oleh industri parfum dunia.

Dipimpin oleh Mama Siti, 52 tahun, para petani perempuan ini mempertahankan tradisi, memperjuangkan kelestarian hutan dan meningkatkan kesejahteraan komunitas mereka melalui inovasi berkelanjutan.

“Pohon pala di hutan desa dusun pala, Desa Pangwadar, Kecamatan Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat rata-rata sudah banyak, jadi tugas laki-laki biasanya hanya memanjat pohon untuk mengambil buah yang sudah matang,” kata Mama Siti menjelaskan.

Untuk pengolahannya, sejauh ini sudah ada 118 wanita yang membersihkan buah pala, memisahkan daging dan bijinya, lalu menjemurnya di bawah sinar matahari, tambahnya.

Mama Siti adalah petani pala sekaligus dewan pengawas anggota koperasi yang dipimpin oleh perempuan adat di Papua Barat. Ia menjadi teladan dalam menerapkan keterampilan dan ketelatenan serta memimpin perempuan dalam mengolah pala menjadi produk siap jual.

Bagi masyarakat adat Papua Barat, pohon pala melambangkan kehidupan itu sendiri. Dianggap sebagai “penjelmaan perempuan”, pohon pala memainkan peran penting dalam menopang masyarakat, dan tabu yang ketat melarang penebangan pohon-pohon ini.

Rasa hormat yang mendalam terhadap pohon pala telah menyebabkan tradisi unik seputar panennya, menunjukkan hubungan masyarakat yang berkelanjutan dengan alam.

Dua bulan sebelum musim panen, masyarakat adat akan duduk bersama dan berdiskusi – “wewowo” dalam bahasa lokal. Selama waktu ini, mereka melakukan upacara di mana mereka secara simbolis “mengenakan” pohon pala dengan kebaya, pakaian tradisional yang biasanya dikenakan oleh perempuan.

Ini adalah tanda bahwa tidak ada yang bisa memanen pala muda dan mereka menyebutnya “kera-kera”. Pohon-pohon itu “dilepas pakaiannya” tepat sebelum panen, memungkinkan masyarakat untuk mulai memanen pala. Setelah panen, mereka meninggalkan lahan untuk pulih secara alami.

Sayangnya, harga jual pala yang rendah dan siklus panen yang hanya dua kali setahun membuat banyak petani kesulitan secara ekonomi. Banyak di antara mereka yang hanya memiliki pekerjaan musiman dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Harga pala seringkali fluktuatif dan tidak menentu tergantung musim. Ketika harga turun, pendapatan dari pala hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat musim panen berakhir, banyak dari kami terpaksa harus beralih profesi untuk menunjang kebutuhan keluarga masing-masing.” tambah Mama Siti.

“Pohon pala Tomandin bukan sekadar pohon bagi kami. Ini adalah warisan dari nenek moyang kami yang hidup dari generasi ke generasi untuk memberi kami kehidupan. Saya hanya bisa mengatakan bahwa pala Tomandin adalah keajaiban bagi kami,” ujarnya

1.Inisiatif Wewowo Lestari

Di tengah tantangan tersebut, muncul sebuah inisiatif bernama Wewowo Lestari yang digagas oleh Kaleka. Program ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah pala Papua, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, perempuan petani diajarkan teknik pengolahan pala yang lebih baik. “Kami berupaya memberdayakan para petani dengan memberikan edukasi dan pelatihan dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas panen secara efisien,” kata Venticia Hukom, Asisten Badan Eksekutif Kaleka.

Hal ini dilakukan dengan menerapkan SOP yang baik dalam setiap tahap produksi, mulai dari pengumpulan buah hingga pengeringan pala menggunakan solar dryer, yang pada akhirnya berhasil meningkatkan 13-40% pendapatan penjualan pala.

Peran Kaleka tidak hanya berhenti pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga berupaya membuka pasar yang lebih luas. Pihaknya secara aktif bekerja sama dengan laboratorium Association Francaise des Dieteticiens Nutritionnistes (AFDN) asal Prancis untuk melakukan riset lanjutan terhadap hasil olah pala.

Terutama dalam mengembangkan prototipe produk parfum yang akan diajukan kepada perusahaan-perusahaan ternama di dunia parfum, seperti Hermes dan Chanel.

“Orang biasanya menghiraukan pala Papua karena oil extraction rate yang sangat rendah, namun penelitian secara berkala berhasil membuahkan hasil dalam meningkatkan oil extraction rate pala Papua yang tadinya 1% menjadi 3,5% sehingga bisa dikembangkan menjadi produk turunan lain seperti parfum dan kosmetik.” jelas Venticia Hukom.

Keberhasilan dari penemuan penelitian lanjut tersebut membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, pala Papua memiliki potensi yang sangat besar untuk bersaing di pasar internasional.

Meningkatkan Perekonomian Lokal dan Melestarikan Lingkungan

Inisiatif Wewowo Lestari juga berdampak pada peningkatan pendapatan petani, serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan.

Melalui Koperasi Mery Tora Qpohi, badan usaha yang didirikan dari dan untuk petani pala, petani mendapatkan tambahan pendapatan sebesar 11-40% sesuai dengan jenis dan kualitas pala dijualbelikan.

Jumlah ini lebih tinggi dibanding pendapatan yang didapatkan petani jika menjual pala ke pengepul atau tengkulak lokal.

Kabupaten Fakfak di Papua Barat adalah rumah bagi 908.850 hektar hutan di mana sekitar 26.927 masyarakat adat bergantung pada 56 pohon pala per hektar hutan untuk mata pencaharian mereka.

Kaleka telah bekerja untuk keberlanjutan pala selama sekitar delapan tahun. Pala bukan sekadar komoditas; bagi masyarakat adat, pala adalah kehidupan.

“Dengan menerapkan kearifan lokal dalam pengolahan pala secara berkelanjutan, kami dapat mempertahankan mata pencaharian yang stabil tanpa harus mengorbankan lingkungan serta memberikan insentif bagi kami untuk senantiasa menjaga kelestarian hutan, sehingga tidak bergantung pada industri ekstraktif yang merusak hutan.” kata Mama Siti menjelaskan.

Pemanfaatan seluruh bagian pala, termasuk kulit dan biji, juga menghasilkan produk turunan F&B yang baru seperti sirup, manisan untuk supermarket dan cafe di Fakfak sampai produk kosmetik seperti minyak atsiri. Hal ini semakin meningkatkan nilai ekonomis komoditas ini.

Dibantu oleh Kaleka, pihaknya terus berupaya memanfaatkan semua bagian dari pala untuk meminimalisir sampah dari penggunaannya yang biasa menumpuk saat difungsikan menjadi bahan masak.

“Saat ini, kami sudah menjual kurang lebih 500 botol sari buah yang berbahan dasar daging buah pala yang selama ini hanya ditinggalkan di bawah pohon pala sampai membusuk,” tutur Siti.

Keberhasilan inisiatif Wewowo Lestari memberikan harapan baru bagi petani pala di Papua. Melalui pendekatan ekonomi restoratif, Wewowo Lestari mendorong pembelajaran bersama berlandaskan bukti yang diharapkan.

Hal ini dapat mendorong advocacy perubahan kebijakan pengelolaan lingkungan dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Dengan pendekatan berbasis komunitas, program ini menjaga tradisi dan kekayaan alam Papua sebagai pondasi ekonomi lokal.

“Dalam lima tahun, kami membayangkan sebuah usaha sosial fungsional yang dipimpin oleh masyarakat adat yang dapat menjual pala mereka dengan nilai tinggi, seperti halnya komoditas berkelanjutan lainnya yang diproduksi di Papua Barat seperti rumput laut, kepiting, dan nilam, yang dapat meningkatkan mata pencaharian masyarakat adat,”
ujar Venticia Hukom.

Dalam sepuluh tahun, Kaleka menargetkan hutan adat untuk mendapatkan pengakuan di tingkat nasional, dan beberapa kebijakan dalam perlindungan hutan dapat menginspirasi daerah lain di Indonesia.

“Dalam lima belas tahun, kita akan melihat industri cluster parfum, minyak atsiri, dan produk perikanan di Fakfak, Papua Barat,” tambah Venticia Hukom.

Inisiatif ini menjadi contoh nyata bahwa pelestarian alam dan peningkatan ekonomi dapat berjalan berdampingan, dipimpin oleh kearifan lokal Papua.

Tentang Kaleka

Kaleka (sebelumnya Yayasan Inobu) adalah organisasi nirlaba Indonesia yang bergerak dalam memperjuangkan pengelolaan bentang alam dan bentang laut untuk Indonesia yang berkelanjutan dengan mengutamakan kepentingan masyarakat lokal maupun masyarakat adat.

Didirikan pada tahun 2014, dengan berjumlah kurang lebih dari 72 staf hingga saat ini, staf Kaleka mewakili keragaman masyarakat dari berbagai kepulauan di Indonesia yang berkomitmen untuk menegakkan hak asasi manusia serta memberikan perlindungan terhadap lingkungan.

Kekuatan tematik Kaleka meliputi bidang sumber berkelanjutan, konservasi dan restorasi, sistem pertanian pangan, pengembangan masyarakat serta tata kelola lingkungan dan sosial.

Inti dari pendekatan Kaleka adalah konsep Collaborative, Action Research. Dalam membuat gerakan, Kaleka bekerjasama dengan para mitra, termasuk pemerintahan di tingkat nasional dan sub-nasional, organisasi masyarakat sipil, produsen, perusahaan manufaktur dan konsumen, universitas, petani, serta masyarakat lokal untuk mengidentifikasi prioritas mereka.

Melalui penelitian praktik terbaik dalam sains, sambil menggabungkan pengetahuan masyarakat lokal dan penduduk asli, Kaleka menguji, menerapkan, mengevaluasi, dan menyempurnakan inovasi.

Pendekatan ini memastikan penerimaan dan relevansi intervensi terhadap mitra lokal, serta memungkinkan Kaleka untuk menskalakannya secara nasional.

Survei Scuba Deals 2025 Agoda: Indonesia Jadi Destinasi Selam Paling Diinginkan

this formate

Keindahan taman laut Wakatobi ( Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Platform perjalanan digital Agoda merilis hasil Survei Scuba Deals 2025, yang mengungkap preferensi dan motivasi para penggemar selam di Asia.

Dari destinasi impian hingga anggaran perjalanan, survei ini menyoroti tren yang membentuk dunia wisata bawah laut.
Survei yang dilakukan di 11 negara di Asia ini menunjukkan bahwa kawasan ini, terutama Asia Tenggara, tetap menjadi surga bagi para penyelam.

Dikenal dengan lokasi selamnya yang beragam dan kaya akan kehidupan laut, Asia Tenggara terus menarik wisatawan dengan keindahan bawah laut yang menakjubkan.

Hasil survei Scuba Deals Agoda mengungkap perubahan preferensi dan motivasi para penyelam, memberikan wawasan mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi petualangan selam mereka;

1.Indonesia adalah destinasi selam impian

Indonesia menempati peringkat teratas sebagai destinasi selam paling diinginkan oleh wisatawan Asia. Dengan keanekaragaman hayati laut yang memukau dan terumbu karang yang indah, Indonesia mengungguli destinasi populer lainnya seperti Filipina, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Destinasi-destinasi ini secara keseluruhan menjadi daya tarik utama bagi para penyelam dari seluruh dunia.

2. Relaksasi bawah laut jadi alasan utama menyelam

Bagi banyak penyelam, lautan menjadi tempat untuk menghilangkan stres. Hampir sepertiga (30%) responden menyebut relaksasi sebagai alasan utama mereka menyelam, terutama bagi penyelam dari Filipina, Malaysia, dan Thailand. Sementara itu, eksplorasi kehidupan laut juga menjadi faktor pendorong penting, dengan 24% responden tertarik pada keindahan makhluk-makhluk laut.

3. Harga tetap penting, tapi anggaran lebih besar

Meskipun keterjangkauan menjadi faktor utama dalam memilih akomodasi, penyelam bersedia mengeluarkan dana lebih untuk pengalaman bawah laut mereka. Sebanyak 40% responden mengaku menghabiskan 15-30% lebih banyak untuk perjalanan selam dibandingkan dengan liburan biasa.

4. Durasi perjalanan selam biasanya 4-7 hari

Perjalanan singkat mendominasi tren wisata selam, dengan hampir setengah (48%) penyelam memilih perjalanan berdurasi 4-7 hari. Perjalanan akhir pekan juga cukup populer, dipilih oleh 41% responden.

Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman selam yang singkat dan padat semakin diminati karena lebih mudah disesuaikan dengan jadwal yang sibuk.

5. Terumbu karang jadi lokasi selam favorit

Sebagian besar penyelam (75%) lebih memilih lokasi selam di terumbu karang. Keanekaragaman hayati dan formasi terumbu yang berwarna-warni di perairan Asia terus menarik perhatian penyelam, menjadikannya lokasi yang wajib dikunjungi oleh pecinta dunia bawah laut.

Gede Gunawan, Senior Country Director Indonesia di Agoda, menyatakan Asia adalah rumah bagi beberapa destinasi selam paling populer di dunia dan tetap menjadi favorit di kalangan penyelam.

“Di Agoda, kami berkomitmen untuk membantu wisatawan mengakses pengalaman luar biasa ini. Dengan menawarkan penawaran terbaik untuk akomodasi, penerbangan, dan aktivitas, kami ingin menjadikan eksplorasi dunia bawah laut lebih mudah dan terjangkau bagi semua orang.” ujarnya.

Mulai 1 April, program Scuba Deals Agoda menawarkan diskon tambahan 10% untuk hotel-hotel yang berpartisipasi di destinasi selam di Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. (PRNewswire).

Trip.com Luncurkan Peringkat Global Trip.Best 2025: Destinasi, Tema & Tren Baru

this formate

Bali mempertahankan reputasinya sebagai tempat menginap mewah seperti
Amankila Bali. ( Foto: Amankila)

*Sorotan Indonesia: Indonesia mempertahankan daya tariknya sebagai destinasi kelas dunia dengan 35 entri di berbagai destinasi, penginapan, restoran, dan objek wisata
*Peringkat regional baru: Trip.Best 2025 memperkenalkan peringkat Eropa 100 dan Amerika 100 untuk pertama kalinya, bersamaan dengan peringkat Global 100 dan Asia 100 yang sudah ada.
*Tema dan fitur perjalanan baru: Tema objek wisata baru seperti “Kesenangan Air” dan “Pemandangan Musim Gugur”, plus, fitur “Destinasi Bulan Ini” kini menawarkan pilihan perjalanan baru dari bulan ke bulan.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Trip.com, salah satu penyedia layanan perjalanan daring terkemuka di dunia, telah merilis Trip.Best Global Rankings 2025, edisi kedua dari daftar rekomendasi tahunan perusahaan yang menampilkan 100 destinasi, penginapan, atraksi, restoran, dan hiburan malam teratas di Asia dan di seluruh dunia.

Sebagai daftar rekomendasi perjalanan bertenaga AI di Trip.com, Trip.Best Global Rankings membantu wisatawan global memilih pengalaman terbaik yang ditawarkan destinasi.
Disusun menggunakan perpaduan analisis data berbasis AI, ulasan pengguna, dan keahlian manusia, peringkat tersebut menampilkan perusahaan terkait perjalanan yang mencontohkan kualitas layanan.

Memberikan standar layanan yang konsisten, popularitas – menunjukkan permintaan pencarian dan volume pemesanan yang positif, reputasi – mengumpulkan ulasan pengguna yang positif dan fitur-fitur khusus – dengan diferensiasi unik dan kualitas menonjol dalam daftar.

Peringkat Global Trip.Best 2025 menempatkan Bali dan Jakarta di antara 100 destinasi teratas di dunia – masing-masing di peringkat #10 dan #41 – serta 35 hotel, restoran, dan objek wisata paling diminati di Indonesia dalam daftar tersebut.

Krishna Arya, General Manager Indonesia, Trip.com, mengatakan, “Kami senang bahwa Indonesia sebagai destinasi, serta tempat menginap dan objek wisatanya, terus diminati oleh para pelancong.

Masuknya mereka ke dalam Peringkat Global Trip.Best 2025 merupakan indikator yang jelas tentang daya tarik Indonesia yang berkelanjutan sebagai destinasi pilihan di Asia dan di seluruh dunia.

Arya menjelaskan lebih lanjut tentang daftar Trip.Best, “Peringkat Global Trip.Best 2025 terus menetapkan standar untuk keunggulan perjalanan.

Peringkat ini memanfaatkan ratusan juta poin data dari platform Trip.com, menggunakan ulasan pelanggan asli, popularitas penjualan sepanjang tahun, jaminan kualitas yang konsisten, dan fitur di seluruh hotel, objek wisata, kehidupan malam, restoran, dan destinasi di seluruh dunia.

“Data yang digunakan divalidasi oleh beragam audiens global dan peringkat yang dihasilkan akan membantu wisatawan menyusun pengalaman terbaik untuk perjalanan mereka.” ungkap Arya

Apa yang Baru dalam Peringkat Global Trip.Best 2025

Edisi tahun ini juga meluncurkan beberapa tambahan yang menarik. Untuk pertama kalinya, Trip.com telah memperkenalkan daftar Eropa 100 dan Amerika 100 ke Peringkat Global Trip.Best tahun ini, memperluas peringkat regional di luar daftar Global dan Asia 100 yang sudah ada untuk merayakan lebih banyak destinasi terbaik di dunia.

Selain itu, wisatawan dapat menjelajahi rekomendasi perjalanan musiman baru dalam dua kategori Daya Tarik baru, termasuk Kesenangan Air – menyoroti taman air, pantai, dan pulau yang paling digemari, dan Pemandangan Musim Gugur , memamerkan tempat-tempat terbaik untuk menikmati pemandangan dedaunan musim gugur.
Hotel Mewah dan Resor Ramah Keluarga Mendominasi Peringkat Global.

Dalam kategori Penginapan, Peringkat Global Trip.Best 2025 menyoroti pilihan akomodasi terbaik di seluruh dunia, mulai dari hotel kota yang sangat mewah hingga resor keluarga yang indah.

Paris mempertahankan reputasinya untuk perhotelan mewah dalam peringkat 100 Hotel Mewah Global. Hotel legendaris Prancis, Hotel de Crillon, A Rosewood Hotel di Paris, berhasil menduduki posisi No. 1 secara global, dengan ikon Paris lainnya seperti Le Bristol Paris dan La Réserve Paris muncul di lima besar.

New York juga menorehkan prestasi, dengan Four Seasons Hotel New York Downtown dan The St. Regis New York di 10 besar. Di Tokyo, Aman Tokyo, dan di Singapura, Raffles Singapore menjadi nama-nama yang patut disebutkan, melanjutkan tren merek hotel Asia yang kuat mendominasi eselon atas peringkat mewah.

Bali mempertahankan reputasinya sebagai tempat menginap mewah, dengan mengamankan beberapa tempat dalam peringkat 100 Hotel Mewah Global, termasuk properti terkenal seperti Amankila (#11), Mandapa – a Ritz Carlton Reserve (#13), Bvlgari Resort (#14) dan Raffles di Bali (#39).

Selain kemewahan, penginapan berorientasi keluarga dan hotel kaya budaya semakin populer. Peringkat Global Trip.Best 2025 menyoroti Asia sebagai pemimpin dalam resor ramah anak, dengan Tiongkok, Jepang, dan Uni Emirat Arab yang menonjol.

Misalnya, Tiongkok membanggakan Atlantis Sanya, resor luas yang menawarkan taman air dan pantai yang menyenangkan bagi keluarga.
Jepang memiliki Tokyo Disneyland Hotel, yang terkenal dengan pengalaman Disney yang mendalam yang menyenangkan pengunjung dari segala usia.

Di Uni Emirat Arab, Atlantis, The Palm di Dubai, menawarkan fasilitas kelas dunia dan petualangan keluarga yang tak terlupakan. Resor-resor ini memenuhi permintaan yang terus meningkat untuk liburan ramah keluarga, memastikan kesenangan dan kenyamanan bagi wisatawan dari segala usia.

Hotel-hotel yang berbudaya dan indah juga menjadi sorotan utama – wisatawan mencari tempat menginap yang menawarkan nuansa tempat, baik itu tempat peristirahatan bergaya ryokan di Pegunungan Alpen Jepang atau pondok safari di Afrika yang memadukan kemewahan dengan cita rasa lokal.

Khususnya, kategori “Hotel yang Instagramable” – akomodasi yang dihargai karena daya tariknya yang fotogenik – didominasi oleh hotel-hotel desain bergaya di Asia dan Eropa, yang terinspirasi oleh inspirasi perjalanan yang didorong oleh media sosial.

Misalnya, hotel-hotel fiktif “White Lotus”, yang ditampilkan dalam serial HBO yang populer, adalah resor mewah di dunia nyata, tempat para wisatawan berbondong-bondong ke Four Seasons Resort Koh Samui, Four Seasons Resort Maui di Wailea, dan San Domenico Palace di Italia.

Properti yang sempurna untuk berfoto seperti The Langham dan The Orient Jakarta, Royal Hideaway Hotel juga telah menjadi destinasi untuk era Instagram.

Di berbagai benua, baik itu vila di Bali atau chalet ski di Swiss, peringkat hotel Trip.Best tahun 2025 menangkap tren yang luas: wisatawan semakin mencari pengalaman yang berkesan dan tema yang unik (mewah, keluarga, pemandangan, dll.) di akomodasi mereka, bukan hanya tempat untuk tidur.

Taman Bertema Tetap Populer, Sementara Pengalaman Musiman Baru Muncul
Objek wisata global pada tahun 2025 mengungkapkan satu favorit yang jelas: taman hiburan.

Peringkat “Hal Terbaik untuk Dilakukan” Global Trip.Best sebagian besar didominasi oleh taman hiburan yang terkenal di dunia, terutama di Asia dan Amerika Utara.

Faktanya, enam dari sepuluh objek wisata teratas global dipimpin oleh objek wisata yang menarik banyak orang seperti Walt Disney World Resort di AS, Universal Studios Jepang, Shanghai Disney Resort, dan banyak lagi.

Taman-taman besar ini terus menarik keluarga dan pencari sensasi, menunjukkan bagaimana wisata taman hiburan menjadi tren global.

Selain taman hiburan, objek wisata budaya seperti The Louvre di Paris, The Palace Museum di Beijing, dan Vatican Museums di Vatican City tetap menjadi pesaing utama, yang menunjukkan permintaan berkelanjutan untuk pengalaman seni dan warisan.

Sementara itu, ada juga lebih banyak penekanan pada aktivitas musiman dan pengalaman. Baik itu hutan berapi New England atau kuil emas Jepang, mengintip dedaunan (pariwisata yang berpusat pada pemandangan dedaunan) telah menjadi hobi musiman utama.

Restoran Mewah dan Tempat Kuliner Lokal Membentuk Wisata Kuliner Global

Tidak ada pengalaman wisata yang lengkap tanpa makanan lezat, dan Peringkat Global Trip.Best 2025 menegaskan pentingnya wisata kuliner.

Daftar tahun ini – yang mencakup Restoran Mewah, Restoran Lokal, dan Restoran untuk Pemandangan & Pengalaman – merayakan semuanya mulai dari kuliner kelas atas hingga makanan lokal yang disukai.

Dalam kategori 100 Restoran Mewah Global, Eropa memimpin dengan restoran seperti Arpège di Paris dan Sketch (Ruang Kuliah & Perpustakaan) di London yang berada di peringkat teratas.

Restoran lain yang menonjol termasuk Per Se di New York dan Le Bernardin, serta DiverXO di Madrid. Sushi Saito di Tokyo dan Sorn di Bangkok menunjukkan bahwa dunia kuliner Asia sedang berkembang pesat di panggung kuliner global.

Kategori “Restoran untuk Pemandangan & Pengalaman” juga menampilkan restoran-restoran di cakrawala Korea dan Dubai, yang menawarkan makan malam dengan pemandangan sebagai bagian dari pengalaman perjalanan wisatawan.

Dari puncak Burj Khalifa hingga Bicena di Seoul, tempat-tempat ini menyajikan pengalaman tak terlupakan yang memadukan suasana dan seni kuliner.

Di antara kuliner lokal, Singapura dan Thailand menonjol sebagai destinasi kuliner dengan beberapa tempat teratas seperti Palm Beach Seafood dan Jeh O Chula di Bangkok.

Pemandangan kuliner yang beragam di kota-kota ini terus menarik pengunjung dari seluruh dunia, mengukuhkan tempat mereka sebagai pusat gastronomi yang sedang naik daun. (PRNewswire)