Bayar di Hotel, Fitur Terbaru Mudahkan Pesan Kamar

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Traveloka meluncurkan fitur terbarunya yang memungkinkan para traveler memesan hotel di awal dan melakukan pembayaran pada saat proses check-in, secara tunai maupun menggunakan kartu kredit. Fitur yang diberi nama “Bayar di Hotel” ini kini telah didukung ribuan mitra hotel yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia, maupun

Hingga saat ini, fitur Bayar di Hotel telah didukung oleh ribuan mitra hotel yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia maupun Asia Tenggara. Selain memudahkan karena bisa digunakan versi mobile dan web, fitur Bayar di Hotel juga dapat membantu para pelanggan untuk mengatur pengeluaran secara lebih fleksibel, karena pembayaran dilakukan saat pelanggan tiba di hotel.

“Fitur Bayar di Hotel merupakan salah satu inovasi yang kami tawarkan kepada para pelanggan untuk memberikan kemudahan pembayaran dalam melakukan pemesanan hotel. Penambahan fitur ini diharapkan dapat menjadi alternatif pembayaran yang lebih fleksibel guna memudahkan para pelanggan dalam merencanakan perjalanan mereka.” papar John Safenson, Country Market Manager Traveloka dalam keterangan tertulis yang diterima Bisniswisata.co.id, Jumat (04/05/2018).

Untuk menggunakan Bayar di Hotel, sambung dia, pelanggan hanya perlu memasukkan rincian kartu kredit sebagai jaminan pesanan. Setelah melakukan pemesanan hotel, pelanggan akan mendapatkan voucher hotel. Pada saat check-in, pelanggan cukup menunjukkan voucher hotel tersebut pada resepsionis hotel untuk kemudian melakukan pembayaran secara tunai maupun menggunakan kartu kredit.

Dilanjutkan, selain kemudahan fleksibilitas yang ditawarkan, pelanggan juga akan mendapatkan Traveloka Poin yang dapat ditukarkan dengan berbagai reward menarik jika melakukan pemesanan hotel menggunakan Bayar di Hotel. Untuk menikmati fitur ini, pelanggan dapat mengikuti beberapa langkah mudah berikut.

Langkah Pertama, cari hotel mulai dengan mengisi destinasi, jumlah tamu, dan durasi inap. Langkah Kedua, pilih hotel dengan label “Bayar di Hotel” pada halaman hasil pencarian, cari akomodasi dengan label “Bayar di Hotel” atau klik filter “Bayar di Hotel” yang terletak di bagian atas hasil halaman pencarian untuk menampilkan akomodasi dengan opsi Bayar di Hotel.

Langkah ketiga, pesan hotel pada halaman hotel, pilih akomodasi yang ditandai dengan label “Bayar di Hotel”. Terakhir, isi rincian kartu kredit setelah memilih kamar “Bayar di Hotel” dan melanjutkan pemesanan, isi rincian kartu kredit yang digunakan hanya untuk menjamin pesanan, tambahnya.

Kartu kredit pelanggan tidak akan dikenai biaya apa pun pada saat pemesanan, kecuali jika pesanan dibatalkan atau pelanggan tidak datang. Dan dapatkan voucher hotel Anda dalam waktu maksimal 60 menit setelah pesanan dikonfirmasi, Traveloka akan mengirim voucher hotel ke email pelanggan, tutupnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Lima Rekomendasi Film Akhir Pekan Pertama Mei 2018

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Film di akhir pekan pada awal Mei 2018 di Indonesia, masih dihiasi film Avengers: Infinity War. Memasuki pekan kedua, film ke-19 Marvel Cinematic Universe ini masih menguasai layar mengingat gelombang kedua penggemar Marvel yang tak kebagian tiket pekan lalu baru memulai menonton film supoerhero ini.

Meski demikian, pada akhir pekan kali ini masih terdapat sejumlah film baru yang mencoba beradu nasib melawan Thanos. Kemunculan sejumlah film baru baik Hollywood atau pun lokal di layar bioskop bisa jadi pilihan alternatif Anda menonton film, bila mulai jenuh mendengar segala soal Avengers atau pun kesal tak kunjung kebagian tiket menonton film Russo bersaudara itu.

#. Avengers: Infinity War

Bagi Anda bukan pencinta Marvel, maka bersabarlah. Layar bioskop besar diprediksi masih akan didominasi oleh film 149 menit ini selama beberapa pekan ke depan. Layar di kota besar seperti Jakarta diketahui masih didominasi oleh Avengers: Infinity War, meski sejumlah bioskop sudah mulai memberikan layarnya untuk film baru yang tayang. Kisah perjuangan seluruh superhero Marvel Cinematic Universe ini melawan Thanos mewujudkan kiamat dari infinity stone bisa disaksikan di seluruh bioskop di Indonesia.

#. Truth or Dare

Permainan truth or dare selalu menantang dilakukan anak muda di kala kumpul, termasuk sekumpulan mahasiswa dalam film ini. Namun siapa sangka, permainan yang niatnya hanya menantang untuk melakukan tindakan tertentu ataupun berkata jujur itu mendatangkan kematian bagi mereka atau sesuatu, mulai meneror dan menghukum orang-orang yang berbohong atau menolak melakukan tantangan (dare). Film yang disutradarai Jeff Wadlow dengan pemain Lucy Hale, Tyler Posey, Violett Beane, Hayden Szeto, and Landon Liboiron. Film horor thriller ini dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

#. Acts of Violence
Film yang dibintangi oleh Bruce Willis ini mengisahkan perjuangan Roman (Ashton Holmes) menolong kekasihnya, Mia (Melissa Bolona) yang diculik oleh sindikat perdagangan manusia saat pesta. Roman berusaha meminta bantuan polisi ketika mengetahui kekasihnya diculik. Namun polisi bergerak lamban. Geregetan akan situasi tersebut, Roman dan saudaranya yang mantan tentara memutuskan untuk bergerak sendiri. Film ini dapat disaksikan di jaringan Cinema XXI.

#. Stand by Me

Film ini mengisahkan perjalanan seorang wanita muda autisma yang melarikan diri dari pengasuhnya untuk menyerahkan tulisan karangannya sendiri ke kompetisi penulisan naskah Star Trek. Film yang dibintangi oleh Dakota Fanning, Toni Collette, dan Alice Eve dapat disaksikan di jaringan CGV dan Cinemaxx.

#. Ananta

Cinta kadang muncul dari perasaan benci, begitu pula yang dirasakan Tania (Michelle Ziudith) kepada Ananta (Fero Walandouw). Tania, gadis anti sosial ini kerap mencaci Ananta, pria lugu yang memilih tetap bertahan di samping Tania. Hingga suatu kali, Tania mengenalkan Pierre (Nino Fernandez) kepada Ananta. Pierre, pemuda belasteran itu berjanji akan membahagiakan Tania. Namun semenjak kedatangan Pierre, Ananta menghilang dan membuat Tania stres dan merindukan sosok yang selalu dicacinya itu. Film ini bisa disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia. (*)

Tren Art Deco Jadi Inspirasi Desainer Indonesia

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Tren Art Deco kerap jadi inspirasi bagi para desainer busana juga arsitek. Tren yang mewakili modernisme ini, di satu sisi bisa diproduksi dalam bentuk karya bersifat eksklusif, juga dalam skala besar. Sederhananya, tren ini menimbulkan kesan akan sesuatu yang trendi, elegan sekaligus penanda suatu kemajuan. Ciri-cirinya tampak dari tampilan yang simpel, bentuk yang tegas, serta tampilan yang efisien.

Kemewahan akan Art Deco juga dijadikan inspirasi rancangan busana tiga desainer Indonesia. Mereka, Barli Asmara, Mel Ahyar dan Norma Hauri dengan menyuguhkan koleksi terbarunya. Digandeng label sebuah es krim, ketiga desainer itu merepresentasikan citra label ke dalam karya busana Art Deco yang spektakuler dan disajikan di Studio Emtek City, Daan Mogot, Jakarta Rabu lalu.

Dalam keterangan resmi yang diterima Bisniswisata,co.id, Jumat (04/05/2018), eksplorasi desain bergerak di era art deco yang mengedepankan penggunaan unsur warna ungu sebagai warna tren fashion terkini.

Mel Ahyar, mempersembahkan 10 busana lewat lini busana Mel Ahyar First (MAF). Meski mengusung konsep glamor dan mewah, ia menyebut busananya sebagai ready-to-wear deluxe alias busana siap pakai tapi tidak meninggalkan konsep couture. Model terbaru tetap merasa tertantang untuk keluar dari zona nyaman. “Saya keluar dengan warna ungu, desain saya sendiri enggak begitu ungu, enggak sering pakai ungu,” paparnya.

Selain soal warna, tantangan pun ia rasakan kala harus menghadirkan sesuatu yang glamor. Selama ini, kliennya menginginkan desain yang tak begitu glamor. Kemudian ia menerjemahkan glamor era art deco lewat kerumitan craftmanship atau detail buatan tangan dan cutting atau potongan. Menurutnya, glamor tak selalu mewujud dalam sesuatu yang bling-bling. “Di sini saya coba eksplorasi dengan raw cotton, ini kayak kain belacu. Tantangan banget untuk bikin dia glamor,” lanjutnya.

Eksplorasi Mel terwujud dalam berbagai bentuk busana wanita seperti long dress juga outer atau luaran berupa blazer, coat, dan sleeveless coat. Sentuhan khas art deco ia hadirkan dalam ragam motif geometris serta garis-garis yang tampak rapi membentuk lengkung serta persegi.

Pertemuan garis-garis ini mengingatkan orang akan cetak biru suatu bangunan. Tak hanya motif geometris, detail busana juga tak meninggalkan ciri khas Mel yakni print. Detail ini hadir di beberapa bagian busana seperti kerah, bagian punggung atau lengan berupa print pilar bangunan era 1920-an yang klasik.

Tak hanya pilihan detail, tema art deco tak lantas membuat Mel meninggalkan ciri khas keduanya yakni penggunaan bold colour. Busana didominasi warna cokelat serta warna lain seperti putih, krem dan ungu. Melengkapi look para model, aksesori maupun head piece dari desainer Rinaldy Yunardy pun dilibatkan. Aksesori kebanyakan berupa mutiara yang dirangkai menjadi kalung panjang dan head piece dengan sentuhan bulu.

Hal berbeda diusung Norma Hauri. Desainer modest wear ini merepresentasikan kemewahan lewat busana-busana serba bling-bling. Ia pun menuturkan kolaborasi ini seolah gayung bersambut sebab telah lama ia ingin mewujudkan keindahan era art deco ke dalamrancangannya. “Untuk koleksi ini saya beri judul The Noble, terinspirasi dari private school buat high society lady,” kata Norma.

Norma seolah mewujudkan style para wanita yang berhasil diolah oleh sekolah-sekolah terbaik kala itu. Ia pun menghadirkan 10 look modest wear. Unsur modern ia tunjukkan dalam siluet berupa long dress plus belt, dress yang mirip long shirt plus bagian bawah agak melebar serta dress dengan potongan unik yakni membentuk diagonal dari lengan kanan dan memanjang hingga menyentuh kaki. “Untuk shape-nya terinspirasi dari (era) 1920-an, terutama dari Jeanne Lanvin,” imbuhnya.

Lanvin, desainer perempuan asal Perancis, kala itu tenar di era art deco berkat rancangannya yang indah dan romantis. Dilansir Bussines of Fashion, Lanvin eksis lewat desain evening wear yang loose, pilihan bahan yang lembut, dengan detail berupa embroidery dan manik. Inspirasi pun ia dapat dari Mesir, Roma dan Yunani kuno.

Tak heran kala melihat look busana, orang akan teringat pada dewi-dewi Yunani atau wanita Mesir. Hal ini disebabkan penggunaan kain secara menyilang di dada serta head piece berupa manik-manik. Salah satu look menggunakan motif ala Lanvin, yakni pertemuan garis-garis secara diagonal membentuk belah ketupat.

Kesan mewah terwujud dalam pilihan warna yang didominasi ungu dan emas. Selain itu, pilihan bahan yang digunakan Norma pun mencerminkan suasana glamor seperti perpaduan tafeta, jaquard serta satin. Bahan-bahan yang menampakkan kilau, tak sekadar warna blok.

Keunikan koleksi Norma terletak pada penggunaan penutup kepala. Ia tak menggunakan kerudung layaknya tampilan modest wear di Indonesia pada umumnya. Penutup kepala begitu simpel seolah model hanya menggunakan keciput atau inner sebelum mengenakan kerudung tapi warna tetap sesuai dengan busananya.

Sementara koleksi Barli Asmara, ia menampilkan sesuatu yang benar-benar terlihat mewah dan glamor. Pada awak media ia mengaku tak asing dengan tema art deco. Saat ada gelaran dihelat Oktober 2012, ia mengusung tema The Fringe. Saat itu ia menghadirkan busana yang menonjolkan detail seperti embroidery, fringe serta payet. “Di sini saya keluarkan fringe-nya (material busana mirip jerami kaku) dipadu dengan bahan rajut,” kata Barli seperti dilansir CNNIndonesia.

Total 10 look seluruhnya menggunakan fringe. Seiring para model berlenggak-lenggok, fringe pun turut mengayun dan memberikan kesan lembut, anggun tapi kuat. Bahan ini pun mampu memantulkan cahaya lampu sehingga busana-busana ini benar-benar haus akan perhatian para penikmat fashion.

Inspirasi art deco juga ia tuangkan dalam tata letak fringe. Fringe membentuk atap bangunan, bentuk garis maupun lengkung. Seluruh look didominasi warna emas dengan sedikit sentuhan ungu pada bagian pinggang. Untuk cutting, Barli memilih cutting loose yang seolah menyesuaikan dengan lekuk tubuh model.

Konsep tampilan ala Great Gasby diperkuat dengan tata rambut yang sleek dan simpel. Barli pun juga menggandeng label aksesori Le Ciel Design untuk mempercantik dan menambah kesan mewah look.

Secara keseluruhan, masing-masing desainer punya ‘bahasa’ tersendiri untuk menyampaikan konsep art deco nan glamor lewat busana mereka. Mel Ahyar tak ingin kehilangan kekhasannya meski dituntut untuk mengikuti tema dan permintaan kolaborator. Bahkan ia justru menggunakan bahan yang tak tampak mewah. Namun, ia cukup berhasil membuat ‘si kain belacu’ naik kelas berkat sentuhan detail dan motif.

Sedangkan Norma, meski dibilang pemain barunya IPMI, ia cukup berhasil membuat modest wear rancangannya tampil mewah dan futuristik. Padahal tema yang diambil adalah tema jadul. Ia pun tak menggunakan kerudung yang biasa ditemui pada modest wear Indonesia melainkan penutup kepala yang simpel. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Papandayan Hotel Tawarkan Paket Iftar ala Pasar Malam

this formate

BANDUNG, bisniswisata.co.id: Menjelang Ramadhan, biasanya sudah mengagendakan jadwal iftar atau buka puasa sejak jauh hari. Hunting paket iftar menjadi hal menyenangkan agar acara buka puasa bersama keluarga, sahabat, rekan bisnis dan reuni teman lama bisa berjalan dengan sukses dan menyenangkan.

Peluang bisnis itu, sudah diantisipasi The Papandayan Hotel Bandung. Hotel bintang lima ini merilis paket Iftar Buffet Dinner untuk buka puasa dengan mengusung konsep Pasar Malam Ramadhan. Bagi pecinta masakan Indonesia bisa menjajal menu istimewa yang disiapkan Pago Restaurant The Papandayan Hotel.

Jadi bersiap-siap memanjakan lidah, The Papandayan Hotel Bandung menyajikan lebih dari 200 menu kuliner. Seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Bisniswisata.co.id, Jumat (04/05/2018), aneka makanan itu mulai dari aneka ikan bakar, aneka sate, mie tektek, nasi goreng, bubur ayam, aneka soto, ase cabe, aneka rebusan, bandrek, dan aneka kue basah tradisional. Semuanya bisa dinikmati dengan harga 165.000++/orang.

Jika Anda lebih menyukai suasana chill dan casual, bisa memilih HB Grill Garden The Papandayan Hotel. Ramadan kali ini HB Grill Garden mengeluarkan Paket Mid-East sizzle combo.

Terdiri dari Fattoush Salad sebagai pembuka, dilanjutkan dengan main course: Lamb Kofta, Beef Kabob Koobideh, Chicken Shish Tawook, and Ras el Hanout Chicken Wings yang disajikan bersama Fragrant Chickpea Pilaf and Loobyeh Braised Green Beans. Paket Mid-East sizzle combo ini dibanderol dengan harga Rp 100.000 nett sudah termasuk Tajil dan Teh Manis.

Selain promo paket buka puasa, selama bulan Ramadan, The Papandayan menawarkan promo room Ramadan Kareem mulai dari Rp 850.000 nett sudah termasuk Sahur dan Tajil untuk 2 orang. Plus THR total Rp 10 juta untuk tamu yang beruntung. (redaksibisniswisata@gmail.com)

Singapura Permudah Penumpang Pesawat yang Terlambat

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Salah satu hal yang menyebalkan dalam penerbangan adalah menunggu penumpang yang terlambat. Bandar Udara (Bandara) pun seketika menjadi bising karena pengeras suara mengumumkan nama penumpang yang terlambat. Hal itu tentunya membuat suasana menjadi tidak nyaman.

Bandara Changi di Singapura akan memecahkan masalah tersebut dengan menerapkan teknologi pengenal wajah yang dikhususkan untuk mencari penumpang yang terlambat. Hal itu dimaksudkan agar mempersingkat waktu yang diperlukan untuk check-in.

Sebagai bandara yang masuk dalam daftar terbaik versi skytrax, saat ini Changi sedang mengembangkan cara sekaligus teknologi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Namun hal yang harus diperhatikan terkait kamera pemindai wajah itu adalah persoalan privasi.

Kepala pusat informasi Bandara Changi, Steve Lee, mengatakan teknologi tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk pengintaian. “Kami banyak seklai menerima laporan tentang penumpng yang tersesat, sehingga kami harus melakukan terobosan untuk memecahkan permasalahan itu. Tentunya, hal ini akan berlaku dengan izin dari pihak maskapai,” ujar Steve, seperti yang dikutip laman Reuters, Jumat (04/05/2018).

Sebenarnya teknologi ini sudah diperkenalkan di terminal terbaru bandara Changi. Pada terminal tersebut, calon penumpang diberikan kemudahan untuk melakukan berbagai proses seperti check-in dan imigrasi secara swalayan.

“Saat ini Anda harus menyerahkan paspor terlebih dulu, kemudian wajah Anda baru dicocokkan. Di Masa dpan, Anda tidak memerlukan paspor lagi,” ujarnya sambil menambahkan negara yang canggih bisa dilihat dari fasilitas yang tersedia di Bandaranya. (NDY)

Suka Bob Marley, Rihanna Siapkan Album Bergenre Reggae

this formate

NEW YORK, bisniswisata.co.id: Penyanyi Robyn Rihanna Fenty alias Rihanna tengah sibuk menggarap album baru, yang kali ini akan benar-benar berbeda. Dalam wawancara dengan Vogue, pelantun Umbrella itu mengatakan albumnya akan bernuansa reggae.

Meski masih dalam tahap awal penggarapan, Rihanna memungkinkan akan berkerja sama dengan Supa Dups. Dups merupakan produser rekaman yang lahir di Jamaika dan pernah bekerja sama dengan musisi kenamaan seperti Beenie Man, Sean Paul dan Elephant Man.

Rihanna mengatakan ia memang diam-diam menyukai musik reggae, meski selama ini musik yang ia rilis kebanyakan bergenre campuran pop dan RnB. Kata musisi 30 tahun itu, Bob Marley yang bagaikan dewa adalah musisi reggae favoritnya.

“Saya akan terdengar seperti turis saat memberi tahu lagu favorit dari Bob Marley,” sambut penyanyi bergenre R&B, dancehall, pop, pop dance, serta pop rock yang menguasai instrumen piano, gitar bass, serta perkusi

Namun lagu-lagu dari Bob Marley memang mengisi ponselnya. Di sela wawancara Rihanna mengambil ponsel itu dan membuktikan bahwa ia mendengarkan lagu-lagu seperti Three Little Birds, No Woman No Cry dan Redemption Song. Selain itu, Buffalo Soldier milik Marley juga merupakan lagu yang disukai Rihanna.

Menurutnya, tema dan lirik lagu itu serupa dengan kehidupannya. Buffalo Soldier bercerita tentang seorang yang berpindah dari Afrika ke Amerika. Sosok itu lantas berjuang di Amerika demi bertahan hidup.

Penyanyi berkulit hitam manis kelahiran Barbados dan kemudian pindah ke New York. Pemilik nama asli Robyn Rihanna Fenty itu sempat luntang-lantung sebelum ditemukan produser rekaman Evan Rogers di usia 16 tahun.

Genre reggae sebenarnya bukan barang baru bagi Rihanna. Pada album pertama bertajuk Music of the Sun (2005) dan dan album kedua bertajuk A Girl like Me (2006) terasa nada reggae yang dikolaborasikan dengan RnB. Rihanna belum menjelaskan kapan album barunya akan keluar dan sudah sejauh apa prosesnya. (DAY)

Hasil Kajian: Wisman Tak Terkesan Obyek Wisata Yogya

this formate

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Objek wisata maupun atraksi wisata di DIY masih gagal membuat wisatawan mancanegara (Wisman) datang berulang kali ke Bumi Mataram. Umumnya mereka hanya datang sekali, dan tidak merasa terlalu terkesan dengan apa yang ada di Yogyakarta.

“Ini hasil kajian yang dilakukan tahun 2017. Ditemukan lebih dari 80% wisman berstatus first timer alias baru pertama kali datang ke Yoyagkarta. Kajian dilakukan dengan jumlah responden sebanyak 600 orang,” ungkap Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi seperti dilansir Harian Jogja, Jumat (04/05/2018).

Dari sisi promosi objek wisata, sambungnya, sebenarnya sudah cukup bagus. Hal ini terlihat dari kenaikan jumlah wisman per tahun yang mencapai 10 sampai 12%. “Promosi sudah baik, tapi saat ke sini enggak ada yang bisa buat mereka jatuh cinta,” sambungnya.

Imam mengungkapkan, responden mengaku tertarik datang kembali ke Indonesia, karena ingin kembali diving di Wakatobi atau Bunaken. Tapi, saat dirinya menunjukkan objek wisata yang ada di DIY, seperti Hutan Pinus dan Kali Biru, wisman itu tidak terkesan sama sekali.

Namun, ketika Imam menyampaikan tentang adanya spa dengan ramuan khas Jawa, si wisman malah menunjukkan ketertarikan. “Turis asing setelah perjalanan jauh kan memang sukanya yang bisa membuat rileks gitu. Jenis seperti ini yang harus dikembangkan. Kalau pertama kali langsung mengandalkan wisata alam, akan kalah dengan daerah lain.” sambungnya. (NDY)

Ekonomi Sehat, Penumpang Udara Global Meningkat

this formate

MONTREAL CANADA, bisniswisata.co.id: Hasil lalu lintas penumpang udara global pada Maret 2018 menunjukkan permintaan naik 9,5 persen dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyebut hasil ini merupakan laju tercepat dalam 12 bulan.

“Permintaan untuk perjalanan udara tetap kuat, didukung oleh latar belakang ekonomi yang relatif sehat dan tingkat kepercayaan bisnis,” kata Direktur Jenderal dan CEO IATA Alexandre de Juniac seperti dikutip Antara, Jumat (4/5).

Namun demikian, dia mengingatkan meningkatnya biaya operasional, terutama harga bahan bakar, menunjukkan peningkatan permintaan dari tarif perjalanan yang rendah tumbuh moderat pada kuartal kedua.

Khusus penumpang internasional, permintaannya rata-rata naik 10,6 persen pada Maret tahun ini dibandingkan dengan Maret 2017. Semua wilayah juga menunjukkan peningkatan yang kuat.

Lalu lintas maskapai penerbangan Asia-Pasifik melonjak 11,6 persen pada Maret, dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Lalu lintas operator penerbangan Timur Tengah melonjak 10,7 persen, jauh meningkat dari beberapa waktu sebelumnya, bahkan Februari hanya 4,1 persen. Ini mencerminkan pertumbuhan yang sehat di pasar antara Timur Tengah dan Asia.

Operator Eropa melihat lalu lintas Maret naik 9,8 persen dibanding bulan yang sama tahun lalu, naik dari pertumbuhan tahunan 6,9 persen di Februari. “Kepercayaan bisnis di negara-negara paling terbuka di kawasan itu telah terpukul oleh ketegangan perdagangan dalam beberapa bulan terakhir, tetapi kondisi ekonomi secara luas tetap mendukung,” kata IATA.

Seperti halnya kawasan Asia-Pasifik, permintaan juga dirangsang oleh peningkatan jumlah bandara-bandara yang beroperasi nonstop. Maskapai Amerika Utara membukukan kenaikan lalu lintas 9,5 persen pada Maret secara tahun ke tahun, jauh di atas tingkat pertumbuhan rata-rata 5 tahun sebesar 3,6 persen.

“Pelemahan dolar AS memiliki efek positif pada lalu lintas masuk, sementara latar belakang ekonomi domestik yang relatif kuat mendukung permintaan keluar,” kata IATA. (NDIK)

Agrowisata Kebun Teh Pagilaran, Jadi Destinasi Wisata Baru Andalan Pemkab Batang

this formate

BATANG, Jateng, bisniswisata.co.id: Terbangun ditengah udara pagi yang dingin membuat saya ingin menarik selimut lagi. Namun waktu sholat subuh yang nyaris habis membuat saya buru-buru menyelesaikan kewajiban dan langsung membuka kordein kamar.

Wow…rumah  atau homestay yang saya tempati sewaktu check-in semalam ternyata di tengah hamparan kebun teh yang luas. Maklum saat tiba keindahannya tertelan suasana malam. Meski demikian,  semalam saat ngobrol santai bersama Dirut PT Pagilaran, Rahmat Gunadi dan jajarannya sudah terkuak sejarah panjangnya keberadaan perkebunan ini.

Tahun 1840, seorang Belanda bernama E. Blink membuka tanah hutan di daerah Pagilaran kemudian ditanami dengan tanaman kina dan kopi. Ternyata hasil yang diperoleh kurang menggembirakan dan diganti menjadi perkebunan teh.

Tahun 1899 setelah mengalami sedikit perkembangan, perkebunan tersebut diambil alih oleh Maskapai Belanda yang berkedudukan di Semarang dan berkembang pesat.

Tapi tahun 1920 terjadi kebakaran dan usahanya berhenti total. Akhirnya pada tahun 1922 perkebunan teh ini dibeli oleh bangsa Inggris yang kemudian diadakan perbaikan kembali.
Tahun 1928, Perkebunan Pagilaran digabungkan dengan P & T Lands (Pemanukan dan Tiiasem).

Pada masa penggabungan ini dimulailah pembangunan sarana kabel ban untuk mempermudah pengangkutan pucuk teh dari kebun ke pabrik pengolahan teh. Sarana kabel ban ini akan diaktifkan kembali oleh manajemen Pagilaran karena bisa menjadi daya tarik wisata.

Oleh karena Inggris kalah dengan Jepang dalam perang Asia Timur Raya maka perkebunan dikuasai oleh Jepang dan tanaman perkebunan diganti dengan tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan tentara Jepang dalam perang Dunia II.

Tidak lama setelah Hirosima dan Nagasaki dibom oleh Amerika dan Jepang kalah perang, Inggris pun kembali mengambil alih pabrik dan melakukan kembali pembenahan dan pembangunan aset-aset pabrik. Mulai infrastruktur, alat produksi, rumah-rumah dibenahi, ungkap Rahmat.

Kebun sempat dikuasai oleh bangsa Inggris lagi hingga 1949 namun akhirnya setelah Kemerdekaan RI, Melalui Surat Keputusan Menteri PTIP, Prof. Ir. Toyib Hadiwijaya perkebunan diserahkan kepada Universitas Gadjah Mada untuk dijadikan sarana pendidikan dan penelitian mahasiswa.

Selanjutnya nama perusahaan diganti dengan Perusahaan negara (PN) Pagilaran dengan luas lahan lebih dari 1000 ha, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada harus mengelolanya sebagai entitas usaha yang produktif dan tidak boleh merugi.

Hal ini membawa kepada pilihan untuk tetap mengelolanya sebagai aset komersial yang produktif dan dikelola oleh PT. Pagilaran. Selanjutnya kebun Pagilaran dikelola dengan visi dan misi untuk mendukung tidak saja dharma pendidikan dan penelitian, namun juga pengabdian yang nyata terhadap masyarakat pelaku usaha perkebunan.

Seiring dengan proses tersebut Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada melalui PT. Pagilaran juga memperoleh Hak Guna Usaha lain seluas 208 ha di Segayung Utara, Kabupaten Batang Jawa Tengah untuk kemudian dikembangkan sebagai perkebunan kakao.

Status PN diganti menjadi PT Perkebunan Perindustrian Perdagangan dan Konsultasi PT Pagilaran dan selanjutnya  mendapatan surat penugasan dari menteri Pertanian Prof. Sumantri Sastrosudiarjo No. KB.340/97/mentan/II/1985 untuk menjadi Perusahaan Inti Rakyat (PIR) Jawa Tengah seluas 4700 ha yang tersebar di Kabupaten Batang, Banjarnegara, dan Pakalongan

Hal ini di dukung oleh SK dari Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Tengah Nomor: 525/05/740 yang prinsipnya mendukung keberhasilan pembangunan pertanian di Jawa Tangah.

Pada 29 September 2016, Yayasan Fakultas Pertanian UGM (Fapertagama) menghibahkan saham PT Pagilaran kepada UGM resmi dikelola oleh UGM secara penuh, bukan hanya Fakultas Pertanian saja, tapi juga sebagai Hak Guna Usaha lahan Perhutani.

Selain untuk dikelola sebagai teaching industry bagi civitas akademika UGM,  hibah aset ini ditujukan untuk mendukung Tridharma Perguruan Tinggi yang meliputi kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat

Dengan luas 1.130 hektare, Kebun Teh Pagilaran berada di atas ketinggian 600-1.600 meter di atas permukaan laut. Kebun terbagi jadi tiga zona berdasarkan ketinggian dan jenis tehnya.

Setiap tahunnya menghasilkan tidak kurang 8.000 ton teh, dan 80 % diekspor ke lebih dari delapan negara dunia, di Asia, Eropa, dan Amerika. Pada 2008, Pagilaran pun jadi pengekspor teh kedua terbesar dari Indonesia hingga kini.

Kebun Teh Pagilaran memiliki beberapa pabrik, mulai dari teh hitam di Batang dan Pekalongan, teh hijau di Banjarnegara, teh merah di Kulonprogo, juga ada pabrik cokelat di Batang. Pabrik di kebun Pagilaran ini  mengirim teh hitam yang diproses secara ortodoks dan teh hijau kualitas premium ke mancanegara.

Wisata kebun teh di perkebunan Pagilaran, Batang, Jateng. ( foto: Sendy)

Agrowisata Kebun Teh

Tea walk adalah salah satu produk agrowisata andalan dari perkebunan Pagilaran ini. Rahmat Gunadi sang CEO mengaku awalnya mundur maju untuk mengembangkan agrowisata teh. Apalagi kunjungan wisatawan ke perkebunan justru membawa sampah.

Namun kini pihaknya merasa mantap untuk mengembangkan agrowisata menjadi destinasi baru di Kabupaten Batang. Untuk itu program jangka pendeknya adalah merenovasi sarana dan prasarana yang ada dan membangun fasilitas baru seperti area glamping ( glamour Camping) dan  membuat taman bunga.

Tidak hanya pemandangan dan udaranya yang sejuk, di Pagilaran saat ini pengunjung bisa menikmati  Outbond, Flying Fox, dan area panahan. Hampir semua tempat di area perkebunan teh ini terdapat pula spot-spot foto yang Instagramable satu di antaranya yaitu jembatan cinta.

Pengunjung yang sebagian besar adalah anak muda sangat antusias untuk berfoto di area sekitar perkebunan teh dan tempat spot foto yang disediakan secara gratis.

Oleh karena itu untuk melengkapi fasilitas yang ada Rahmat Gunadi menambahkan bahwa pihaknya siap merenovasi kolam renang, rumah gladiola dan bogenvile, renovasi ruang meeting dan resepsi, menata area  parkir dan lingjungan serta membangun Tea House.

    Serunya naik truk menuju puncak perkebunan teh Pagilaran

Melalui anak perusahaan PT Pagilaran Mitra Wisata pihaknya juga akan memberdayakan para pegawai dan masyarakat sekitar untuk membentuk koperasi, membentuk Kelompok Sadar Wisata dan membangun Lembaga Ekonomi Masyarakat karena ke depan merekalah yang menjadi pemasok kebutuhan perkebunan maupun agrowisatanya.

Kini Pagilaran sedang giat membangun wisata agronya, dengan atraksi wisata berkeliling kebun dan pabrik teh, tea tasting, wisata kuliner seputar teh, homestay, dan ragam sajian budaya lokalnya.

Pagi ini yang saya lakukan bersama rombongan Press Tour Forum Wartawan Pariwisara, Kemenpar adalah melakukan tea walk. Sebuah truk sudah siap di depan wisma yang menjadi homestay semalam.

Sebuah bangku di depan  bak truk membuat kami mampu naik satu persatu ke dalam truk. Saling bercanda tak terelakkan karena kami berjejer seperti layaknya sapi potong yang dikirim antar daerah menjelang Hari Raya Idul Adha.

Semula saya memilih berdiri untuk melihat pemandangan namun tanaman tehnya sendiri  terhalang oleh badan truk sehingga lebih bisa menikmati langit biru dan pepohonan yang dilalui.  

Perjalanan menanjak menuju Bukit Kamulyan, melewati jalan berbatu-batu dan bergoyang-goyang. Sebelumnya,  kami mampir ke rumah dinas pimpinan perkebunan menjemput Guntur Sakti, Kepala Biro Komunikasi Publik, Kemenpar.

Idealnya jika ingin keliling harus keluar jam 5.00 pagi namun rombongan ini kesiangan karena acara semalam yang cukup padat hingga pukul 00.30 WIB. Meski matahari sudah sangat kuat namun udara sejuk dan kami turun di beberapa titik yang menyuguhkan pemandangan perkebunan teh yang indah.

Kotak kue untuk sarapan bisa dinikmati sementara anggota rombongan lainnya asyik berfoto Ria. Guntur dan teman-teman lainnya malah mengusung huruf -huruf besar di atas kepala sehingga terbentuk formasi tulisan P A G I L A R A N menyembul diantara daun teh.

Puncaknya setelah naik truk sekitar tiga kilometer, terlihat kebun yang menawan dengan barisan ibu-ibu pemetik teh. Anda bisa turun, berfoto bersama mereka bahkan belajar memetik teh yang baik itu seperti apa.

Perjalanan pulang rombongan meneruskannya dengan berjalan kaki. Jalanan lebih banyak menurun sehingga rombonganpun asyik berfoto di tengah rimbunnya pepohonan teh dengan latar pegunungan.  Rimbunnya jejeran pohon-pohon besar di area perkebunan mempercantik jatuhnya sinar matahari ke tanah.

Saya sibuk menguji adrenalin melewati jalan layang di area kebun yang banyak di kunjungi wisatawan, sementara sebagian teman melongok kawasan pabrik, melihat mesin-mesin teh dengan ukuran sangat besar, rata-rata ukurannya sebesar mobil. Mulai mesin oksidasi, pengeringan hingga sortasi.

Wisatawan akan diajak ke bagian atas, untuk melihat proses produksi dari layar kaca. Karena pabrik ini sangat mengutamakan higienitas, sehingga pengunjung hanya bisa melihat dari atas melalui kaca, mulai pengeringan teh, sortasi, dan proses produksi lainnya.

berfoto dengan para pemetik teh, pekerja perkebunan

Sukses melewati jembatan layang di ketinggian sekitar 7 meter dengan pijakan potongan kayu yang tidak merata dan kadang harus lompat,  saya menyempatkan foto-foto di pojok-pojok taman sebelum akhirnya berjalan naik lagi menuju pelataran tempat semalam menonton pertunjukan tari petik teh dan suguhan musik campur sari.

Bau aroma kuah soto dan menu pelengkap lainnya langsung menyergap hidung. Tanpa dikomando lagi rombongan yang terdiri dari 16 orang langsung menyantap sarapan pagi di tengah udara terbuka dan sinar matahari.

Sambil duduk santai seorang teman dengan muka kemerahan dan berkeringat, menyeruput teh manis. “Nikmat mana lagi yang kau dustakan,” ucapnya penuh rasa syukur.

Benar sekali, begitu nikmatnya tea walk di perkebunan teh apalagi kami berada di satu2nya perkebunan teh besar di Jawa Tengah. Beragam aktivitas sudah menunggu dalam tiga hari wisata di kota Batang ini. Yuk eksplor lagi keindahannya.






Menikmati Keindahan Hutan Pinus Dan River Tubing Di Kabupaten Batang

this formate

BATANG, Jateng, bisniswisata.co.id: Hari sudah menunjukkan pukul 10 pagi ketika mobil menuruni jalanan berliku dari perkebunan Pagilaran menuju Sikembang Park, salah satu obyek wisata unggulan di Kabupaten Batang yang bertetangga dengan Pekalongan.

Jadwal rombongan kami,  Press Tour Forum Wartawan Pariwisata ( Forwapar) Kementrian Pariwisata di Kabupaten Batang,  hari ini cukup padat karena selain berkunjung ke Sikembang Park masih ada pengalaman tubing river di desa wisata Pandansari.

Batang merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang hampir sebagian wilayahnya berupa pegunungan dan perbukitan. Jadi banyak sungai, air terjun bahkan pantai.  Kawasan ini juga terletak tak jauh dari dataran tinggi Dieng yang berudara dingin.

Udara di luar sejuk dan segar sekali ditambah dinginnya AC mobil. Meski mata kembali mengantuk namun saya masih menikmati pemandangan. Batang yang  dikelilingi gunung dan bukit membuat wilayahnya dianugrahi spot-spot epic, salah satunya di Desa Kembanglangit yaitu Sikembang Park.

Bisa dibilang obyek yang instagramable karena menawarkan pemandangan alam menyegarkan dan spot selfie yang beragam, menyebar di berbagai sudut sehingga  mampu membuat para wisatawan betah untuk berlama-lama di sini.

Agro wisata Sikembang menawarkan pemandangan alam dan deretan hutan pinus yang rindang, di sini juga kerap dimanfaatkan untuk spot camping maupun pre wedding. Saat kami datang parkiran penuh dengan mobil angkot yang disewa rombongan anak sekolah dan guru-gurunya.

Rombongan tour anak-anak SD di Simembang Park, Batang

Lokasinya di Dusun Kebaturan, Desa  Kembanglangit, Kec. Blado, Kab. Batang, Jawa Tengah. Jadi dari pusat kota Batang, pengunjung akan disambut dengan hawa sejuk dan pemandangan khas pedesaan.

Hal-hal menyenangkan yang bisa kamu lakukan di Sikembang Park a.l adalah menikmati pesona alam di Gardu Pandang karena dari sini pengunjun bisa menikmati pesona alam yang begitu hijau dan deretan hutan pinus dari ketinggian. Tiba di gardu biasanya tanpa dikomando juga sudah langsung selfie.

Tempat selfie ceria lainnya adalah  dari Jembatan Bambu karena latar belakangnya nampak jalanan yang berbentuk huruf S dan hutan pinus yang rindang. Spot lainnya adalah
Rumah Pohon yang recommended sekali buat para pecinta selfie.

Spot lainnya yang kekinian dan perlu sedikit mengantri adalah foto di atas I Love U dan  spot selfie di bawah payung warna-warni yang bergantungan diantara pohon pinus membentuk formasi warna yang indah.

Sikembang Park ini dipenuhi deretan hutan pinus yang rindang. Menariknya, pengelola setempat menghiasi hutan pinus tersebut dengan sejumlah payung berwarna-warni. Buat kamu yang masih belum kenyang selfie, foto-foto di bawah payung warna-warni pasti keren kalau di posting di instagram.

Bersantai di hammock Sikembang Park ( foto   repro @gofar.mustofa ).

Capek foto-foto dari ketinggian, saya memilih duduk-duduk santai di kursi kayu bersama rekan Vivien dan Wiku. Puas ngobrol dan pingin rebahan ?. Ada  hammock warna warni bisa jadi pilihan untuk sejenak merebahkan badan. Berfoto ria di atas hammock ini juga favorit pengunjung terutama yang datang berombongan karena sekali jepret bisa terlihat tumpukan hammock.

Nyatanya kunjungan ke Sikembang Park ini jadi molor dari jadwal karena anggota rombongan asyik berfoto ria. Hari sudah lewat tengah hari ketika akhirnya mobil meluncur keluar menuju Desa Wisata Pandansari untuk makan siang dan berpetualang di sungai irigasi.

Desa Wisata Pandansari

Tertidur diperjalanan, mobil tiba-tiba sudah parkir di desa wisata Pandansari, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang.  Saya langsung mengikuti rombongan yang menyusuri pematang sawah tepi sungai irigasi.

Banyak umbul-umbul dan tulisan  PLN Peduli di berbagai tempat. Kami menuju base camp River Tubing sekaligus restoran untuk menikmati makan siang yang tertunda dua jam. Rupanya Desa Wisata yang kerap disebut Deswita  Pandansari ini dikembangkan atas kerjasama antara PLN, Pemkab serta komunitas masyarakat.

Sajian ayam bakar dan lalapan sambal langsung dilahap habis. Ada hidangan kue apem ukuran besar berwarna putih dan kecoklatan pula untuk teman minum kopi. Setelah sholat dan istirahat, satu jam kemudian anggota rombongan yang ikut river tubing mulai bersiap-siap.

River tubing di sungai irigasi Kupang

Kami berfoto sejenak di depan tulisan Deswita Pandansari yang menjadi spot selfie pengunjung. Memakai sepatu karet, helm, pelampung dan naik ke atas truk untuk memulai petualangan sejauh 4 km-6 km.

Turun dari truk yang membawa peserta berikut ban-ban besar warna-warni yang akan kami tumpangi. Spot selfie berikutnya adalah berfoto di depan semacam gapura bambu bertuliskan Start point River Tubing.

Kami turun dua tim masing-masing lima orang. Sebelum turun ke sungai mendapat bimbingan sebentar dari instruktur cara duduk, cara melindungi tubuh dan wajah bila melewati  kolong jembatan yang cukup rendah.

Pepatah Air beriak tanda tak dalam agaknya tepat untuk kondisi sungai irigasi yang disebut sungai Kupang ini. Pasalnya  saat turun ke sungai yang airnya mengalir deras ternyata ke dalamannya hanya sekitar 40-50 cm sehingga tidak perlu khawatir tenggelam.  

Apalagi antara satu ban dengan ban lainnya diikat sehingga menjadi rangkaian yang panjang dan disetiap ban ujung ada instruktur yang mengendalikan ban-ban. Setiap rangkaian ada pendamping lainnya, pemuda desa yang sudah biasa memandu rombongan.

River tubing, merupakan salah satu atraksi wisata yang mengiurkan bagi penyuka wahana adrenalin. Hampir mirip dengan arung jeram pada umumnya, tetapi tubing biasanya dilakukan di sungai yang sempit dan jeram yang rapat.

Ban yang digunakan ialah bekas ban dalam truk kontainer, yang dapat melindungi tubuh manusia dari sisi kanan dan kiri. Ban truk tersebut kemudian dilengkapi webing, atau tali khusus outdoor di bagian bawahnya. Tali-temali ini berfungsi menjaga bagian pantat dari wisatawan saat melewati jeram yang ada batu di bawahnya.

Saat memulai petualangan di air, saya bersyukur sempat memakai kaca mata hitam sehingga sambil menikmati arus dan mulut sibuk berzikir Asmaul Husna saya bebas memandang langit di atas jam tiga sore tanpa silau.

Memandang burung-burung yang terbang rendah di atas tubing rasanya juga ikut merasa bebas merdeka. Entah itu burung Sriti dan burung walet yang kerap terlihat di area persawahan dan aliran sungai, yang jelas mereka tampak begitu dekat.

Sambil meluncur dengan ban besar itu sejauh mata memandang baik di kiri maupun kanan memang lebih banyak melalui persawahan. Saat melintas di bawah pohon mirip kelor dan petai cina, saya jadi takjub sendiri karena daun-daunnya yang kecil-kecil  terlihat eksotis berlatar belakang birunya langit dan sinar matahari yang menerobos sela-sela daun.

Petualangannya cukup seru dan kadang rangkaian ban berputar-membuat lingkaran. Saat melewati aliran sungai yang lebih rendah terdengar aba-aba agar posisi tubuh dan masing-masing ban menyamping bukan berbaris sehingga dapat menjatuhkan diri tanpa terbalik.

Setelah tiga kali menepi dan naik ke tepi sawah menghindari jembatan-jembatan yang terlalu sempit untuk dilalui akhirnya mendekati garis finish juga. Rupanya titik akhir adalah di tempat tulisan besar Deswita Pandansari.

Untuk membilas badan di kamar mandi yang tersedia, kami melewati warung-warung yang menjajakan opak dari singkong untuk oleh-oleh. Rupanya banyaknya wisatawan nusantara yang datang dari kota Batang dannkota lainnya di Jateng membuka peluang masyarakat untuk membuka usaha bahkan kini sudah ada homestay buat yang ingin menginap.

Perjalanan di hari kedua Press Tour ini memberikan pengalaman-pengalaman menantang mulai dari hutan pinus hingga perjalanan dengan ban besar di sungai. Untunglah perjalanan sore itu berakhir dan besok mengunjungi obyek-obyek wisata alam lainnya.