Aktivitas Jaringan Perhotelan Meningkat Secara Global, Kecuali di Timur Tengah dan Afrika

this formate

ATHENA, bisniswisata.co.id : Timur Tengah dan Afrika merupakan satu-satunya kawasan di dunia yang menunjukkan penurunan aktivitas jaringan hotel secara keseluruhan pada akhir kuartal kedua, menurut data jaringan CoStar Juni 2025.

Dilansir dari traveldailynews.com, CoStar adalah penyedia terkemuka pasar real estat daring, informasi, dan analitik di pasar properti.

Eropa
• Sedang dibangun: 171.503 kamar 0(+3,4%)
• Perencanaan Akhir: 74.922 kamar (-19,7%)
• Perencanaan: 185.311 kamar (+15,4%)
• Total Kontrak: 431.736 (+2,9%)
Inggris memimpin kawasan ini dalam jumlah total kamar yang dibangun (24.711), diikuti oleh Jerman (23.400).

Asia Pasifik

• Sedang dibangun: 523.672 kamar (+4,0%)
• Perencanaan Akhir: 41.705 kamar (-54,3%)
• Perencanaan: 391.877 kamar (+21,0%)
• Total Kontrak: 957.254 (+4,2%)
Di antara negara-negara di kawasan tersebut, Tiongkok (318.327) memimpin dalam aktivitas konstruksi, diikuti oleh India (40.950) dan Vietnam (36.338).

Timur Tengah & Afrika

• Sedang dibangun: 103.115 kamar (-5,4%)
• Perencanaan Akhir: 21.731 kamar (-34,2%)
• Perencanaan: 94.391 kamar (+13,7%)
• Total Kontrak: 219.237 (-2,6%)
Sebagian besar aktivitas pipa di kawasan ini terpusat di Timur Tengah. Arab Saudi (46.015) dan Uni Emirat Arab (16.271) memiliki jumlah kamar terbanyak yang sedang dibangun.

Amerika

• Sedang dibangun: 189.102 kamar (-9,3%)
• Perencanaan Akhir: 303.528 kamar (+1,5%)
• Perencanaan: 410.322 kamar (+6,4%)
• Total Kontrak: 902.952 (+1,1%)

AS (138.922) memegang mayoritas kamar yang sedang dibangun di kawasan ini. Setelah AS, Meksiko (14.562), Kanada (9.128), dan Brasil (5.334) menunjukkan jumlah kamar terbanyak yang sedang dibangun.

PATA: Pariwisata Asia Pasifik Akan Mendekati 800 Juta Pengunjung pada 2027 di Tengah Lanskap Global yang Tak Menentu

this formate

Meskipun terdapat ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi, Asia Pasifik tetap menjadi kawasan pariwisata yang tangguh dan menarik.

BANGKOK, bisniswisata.co.id:  Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik (PATA) telah merilis Laporan Pertengahan Tahun untuk laporan unggulannya, Prakiraan Pengunjung Asia Pasifik 2025–2027, yang awalnya diterbitkan pada bulan Maret.

Laporan terbaru ini menyajikan pandangan yang bernuansa dan berbasis data tentang pemulihan dan pertumbuhan kawasan ini, memproyeksikan trajektori kedatangan wisatawan di 39 destinasi dalam tiga skenario berbeda.

Hal ini penting bagi para pemangku kepentingan pariwisata dalam menavigasi lanskap global yang terus berubah saat ini. Di tengah meningkatnya tantangan global – termasuk konflik geopolitik yang sedang berlangsung, ketidakpastian ekonomi, volatilitas mata uang, dan meningkatnya sentimen negatif penduduk lokal terhadap pariwisata massal .

Laporan terbaru ini menawarkan wawasan berharga tentang bagaimana industri pariwisata Asia Pasifik dapat tetap kompetitif, tangguh, dan berwawasan ke depan.

“Pembaruan pertengahan tahun ini lebih dari sekadar prakiraan – ini merupakan panduan strategis bagi para pemimpin pariwisata di seluruh kawasan,” ujar CEO PATA, Noor Ahmad Hamid.

Menurut dua, seiring industri ini bergulat dengan kekuatan tak terduga, mulai dari geopolitik hingga inflasi global, tetap mendapatkan PATA: Pariwisata Asia Pasifik Akan Mendekati 800 Juta Pengunjung pada 2027 di Tengah Lanskap Global yang Tak Menentu melalui wawasan yang tepat waktu dan berbasis bukti menjadi semakin penting. Enam bulan terakhir telah membawa gelombang perkembangan yang berdampak langsung pada industri kami, dan laporan ini memberdayakan destinasi dan pemangku kepentingan untuk mengantisipasi pergeseran pasar, bersiap menghadapi disrupsi, dan mengungkap peluang yang muncul – mulai dari wisata kebugaran dan pengaruh digital hingga pergeseran geografi pasar sumber.”

Sektor Perjalanan & Pariwisata Jerman Akan Pecahkan Rekor Sepanjang Masa di Tahun 2025

this formate

LONDON, bisniswisata.co.id: Jerman akan mencetak sejarah di sektor Perjalanan & Pariwisata pada tahun 2025, dengan setiap indikator kinerja utama diperkirakan akan mencapai titik tertinggi, menurut data terbaru dari Dewan Perjalanan & Pariwisata Dunia (WTTC).

Pengeluaran wisatawan internasional diperkirakan mencapai €57 miliar tahun ini, menandai pengeluaran wisatawan masuk tertinggi yang pernah tercatat di Jerman.

Riset Dampak Ekonomi (EIR) terbaru dari badan pariwisata global tersebut juga memprediksi bahwa total kontribusi sektor ini terhadap PDB dapat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, yaitu €499 miliar pada tahun 2025.

Hal ini setara dengan 11,6% dari PDB, sementara lapangan kerja yang didukung oleh sektor ini kemungkinan akan mencapai rekor 6,5 juta, yang mencakup 14% dari lapangan kerja nasional.

Pengeluaran wisatawan domestik juga diperkirakan akan melampaui semua tolok ukur sebelumnya, mencapai €425 miliar tahun ini.

Kebangkitan yang dahsyat ini menempatkan Jerman tidak hanya sebagai pemimpin Eropa dalam sektor Perjalanan & Pariwisata, tetapi juga sebagai contoh global dalam pemulihan dan pembaharuan.

Kebijakan pariwisata Jerman merupakan contoh nyata kemajuan yang didorong oleh implementasi aktif, yang berkembang seiring dengan perkembangan sektor itu sendiri.

Dengan menempatkan pariwisata di bawah naungan Kementerian Federal untuk Urusan Ekonomi dan Energi (Bundesministerium für Wirtschaft und Energie), pemerintah telah mendorong para pemimpin industri dan pembuat kebijakan untuk berfokus pada pertumbuhan berkelanjutan bagi sektor Perjalanan & Pariwisata.

Hal yang terpenting, fokus pada keberlanjutan ini tidak menghambat pertumbuhan ekonomi. Model Jerman menunjukkan bahwa keduanya dapat berjalan beriringan.

Julia Simpson, Presiden & CEO WTTC, mengatakan saat ini adalah tahun yang penting bagi Perjalanan & Pariwisata di Jerman. Memecahkan rekor di setiap indikator utama – pengeluaran internasional dan domestik, kontribusi PDB, dan lapangan kerja – merupakan pencapaian yang luar biasa.

“Ini menunjukkan sektor ini tidak hanya pulih, tetapi juga bangkit kembali. Jerman sekali lagi menjadi kekuatan utama dalam pariwisata global, dan momentum ini harus dilindungi dengan investasi yang cerdas dan ambisi yang berani.” tambahnya.

Dari wisata budaya di kota dan petualangan luar ruangan hingga retret kebugaran dan acara kelas dunia, daya tarik Jerman membantu membangun kembali negara ini sebagai destinasi global papan atas.

Tinjauan 2024

Data WTTC untuk tahun 2024 menunjukkan kinerja yang kuat secara keseluruhan, dengan sektor Perjalanan & Pariwisata menyumbang €484 miliar bagi perekonomian dan menciptakan 6,1 juta lapangan kerja.

Pengeluaran wisatawan domestik mencapai €422,3 miliar, sementara pengeluaran wisatawan internasional mencapai €45,1 miliar.

Proyeksi 2025 menunjukkan bahwa peningkatan tahun lalu telah membuka jalan bagi tahun bersejarah di masa mendatang, tetapi pertumbuhan yang berkelanjutan.

Terutama di pasar internasional, akan bergantung pada investasi berkelanjutan dalam konektivitas, pemasaran, dan pengalaman pengunjung.

Menatap Tahun 2035

Badan pariwisata global ini memperkirakan bahwa pada tahun 2035 sektor ini akan menyumbang €579 miliar bagi perekonomian (12,1% dari PDB), dan menciptakan 7,6 juta lapangan kerja.

Pengeluaran wisatawan internasional akan melonjak hingga €74 miliar sementara belanja domestik akan mencapai €480 miliar.
Untuk membuka potensi ini, sektor ini harus tetap fokus pada inovasi, keberlanjutan, dan penguatan daya saing global.

UN Tourism dan E1 Series Bermitra untuk Mempromosikan Mobilitas dan Pariwisata Berkelanjutan melalui Olahraga

this formate

MADRID, bisniswisata.co.id: E1 Series, kejuaraan balap perahu listrik pertama dan satu-satunya di dunia, telah menandatangani perjanjian untuk mempromosikan mobilitas dan pariwisata berkelanjutan melalui olahraga global.

Perjanjian ini ditandatangani oleh pendiri dan Ketua E1 Series, Alejandro Agag – yang juga telah ditunjuk sebagai Duta Besar Khusus Pariwisata PBB untuk Olahraga – dan Zurab Pololikashvili, Sekretaris Jenderal Pariwisata PBB, pada hari perlombaan E1 Monaco.

Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) oleh kedua organisasi di Monaco – yang dianggap sebagai pusat mobilitas laut berkelanjutan – menunjukkan dedikasi bersama mereka untuk mempromosikan teknologi transportasi laut yang bersih. Hal ini pada gilirannya mendukung pengembangan pariwisata olahraga berkelanjutan di seluruh dunia.

E1 berlomba keliling dunia mengunjungi lokasi-lokasi ikonis dari Jeddah dan Doha hingga Dubrovnik, dan akan segera bertolak ke Lagos di Afrika dan kemudian ke Miami untuk penutup musim 2025.

Sekretaris Jenderal Pariwisata PBB, Zurab Pololikashvili, mengatakan: “Persimpangan antara olahraga dan pariwisata menawarkan potensi yang sangat besar bagi pembangunan berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi, dan promosi pertukaran budaya. Perjanjian kami dengan E1 Series merupakan langkah maju dalam mewujudkan potensi ini.”

Persimpangan antara olahraga dan pariwisata menawarkan potensi yang sangat besar bagi pembangunan berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi, dan promosi pertukaran budaya.

Bergabung dengan Sekretaris Jenderal dalam penandatanganan perjanjian, pendiri dan Ketua E1, Alejandro Agag, mengatakan: “Perjanjian antara E1 dan Pariwisata PBB ini merupakan momen penting bagi pariwisata olahraga berkelanjutan.”

Setelah pengakuan saya baru-baru ini atas kemajuan mobilitas listrik, saya semakin berkomitmen untuk menunjukkan bagaimana olahraga dapat menjadi katalisator yang kuat bagi perubahan lingkungan yang positif.

Dengan menggabungkan teknologi kelautan listrik E1 dengan jangkauan dan keahlian global Pariwisata PBB, kami dapat menciptakan pengalaman yang tak terlupakan bagi para penggemar sekaligus membantu memajukan perlindungan lingkungan laut kita, tambahnya.

Penunjukannya menyoroti dedikasi Agag untuk mendorong keberlanjutan dalam olahraga bermotor, mempromosikan inisiatif yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB.

Secara khusus, UN Tourism dan Seri E1 akan berkolaborasi dalam inisiatif yang berkontribusi pada pencapaian SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), dan SDG 14 (Kehidupan Bawah Air).

Bersama-sama, kedua organisasi akan meningkatkan kesadaran publik dan mendorong aksi konservasi laut, dengan memprioritaskan perlindungan dan pemulihan ekosistem pesisir dan laut yang beragam.

Pariwisata Olahraga: Relevansi yang Semakin Meningkat

Setiap tahun, lebih dari 180 juta wisatawan internasional melakukan perjalanan untuk menghadiri acara olahraga di seluruh dunia, mulai dari turnamen global hingga lokal. Olahraga menghubungkan orang-orang lintas batas dan budaya, menciptakan pengalaman bersama dan warisan yang abadi.

Dengan nilai perkiraan $685 miliar pada tahun 2024, dan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 17,5%, pariwisata olahraga merupakan salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat dalam pariwisata.

Sektor pariwisata dan olahraga saling terkait erat melalui dampaknya, baik secara sosial maupun budaya, serta perannya dalam diversifikasi ekonomi dan pembangunan sosial. Kolaborasi antara UN Tourism dan E1 Series akan berkontribusi dalam memajukan pemahaman potensi wisata olahraga.

Da Nang mengembangkan proyek pariwisata perairan pedalaman senilai US$375 juta

this formate

DA NANG, Vietnam, bisniswisata.co.id: Komite Rakyat Kota Da Nang di Vietnam Tengah telah menyetujui kebijakan investasi untuk proyek investasi, konstruksi, dan bisnis pariwisata perairan pedalaman.

Dilansir dari https://en.vneconomy.vn/, dengan total investasi lebih dari VND9,88 triliun ($375 juta), proyek ini akan mencakup pembangunan, peningkatan, dan perluasan 20 pelabuhan perairan pedalaman beserta fasilitas pendukungnya untuk melayani operasional pelabuhan, yang mencakup lahan seluas lebih dari 15 ha.

Taman akan dibangun di belakang 11 pelabuhan ini, dengan total luas lahan diperkirakan lebih dari 25 ha. Proyek ini akan dikembangkan di sepanjang Sungai Han, Co Co, Vinh Dien, dan Cam Le, dengan tujuan menawarkan layanan pariwisata perairan pedalaman, mengembangkan produk-produk pariwisata baru seperti tour, kuliner, dan layanan hiburan di atas kapal untuk menarik wisatawan ke pariwisata perairan.

Investor akan diizinkan untuk mengoperasikan kapal penumpang ramah lingkungan dengan kapasitas mulai dari 100 hingga 500 orang.

Proyek ini akan dilaksanakan dalam dua tahap dengan tiga proyek komponen: Tahap 1 (2025–2030) akan melaksanakan pembangunan tujuh pelabuhan perairan pedalaman di sepanjang Sungai Han, dari Jembatan Thuan Phuoc hingga Jembatan Tien Son.

Tahap ini juga mencakup pengembangan taman lanskap, pengadaan perahu, dan penyelenggaraan pertunjukan seni berbasis sungai.

Tahap 2 (2028–2031) akan mencakup dua proyek komponen, yaitu pembangunan sembilan pelabuhan di sepanjang Sungai Vinh Dien dan Co Co; dan pengembangan empat pelabuhan di sepanjang Sungai Cam Le.

Sri Lanka dan Malaysia Buka Peluang Perjalanan dan Kerja Bebas Visa di KTT ASEAN

this formate

KUALA LUMPUR, bisniswisata.co.id: Ditengah gejolak ekonomi dunia dan pentingnya kerja sama regional yang sangat penting, Sri Lanka dan Malaysia telah memasuki babak baru yang penting.

Dilansir dari www.travelandtourworld.com, pada Forum Regional ASEAN (ARF) ke-32 yang diselenggarakan di Malaysia baru-baru ini, kedua negara membahas rencana – rencana inovatif untuk memperkuat hubungan diplomatik, ekonomi, dan ketenagakerjaan, seperti fasilitas visa saat kedatangan dan kuota yang besar bagi tenaga kerja Sri Lanka.

Langkah-langkah ini menandai babak baru dalam pemulihan hubungan yang erat antara negara kita dan negara tetangga, dari sudut pandang budaya, ekonomi, dan diplomatik.

Keterlibatan Diplomatik Menteri Vijitha Herath
SriLanka diwakili oleh Menteri Luar Negeri Vijitha Herath pada Pertemuan Menteri Luar Negeri Forum Regional ASEAN ke-32 di Malaysia pada 11 Juli 2025.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Herath menegaskan kembali dedikasi penuh Sri Lanka terhadap prinsip-prinsip fundamental ARF dalam membina stabilitas regional, upaya membangun perdamaian, dan kemakmuran ekonomi yang inklusif.

Menteri Herath menegaskan kembali komitmen Sri Lanka untuk lebih meningkatkan kerja sama dalam pemeliharaan perdamaian selama periode 2025-2026, yang menunjukkan proaktivitas negara dalam keamanan regional dan diplomasi multilateral.

Berdiskusi dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim

Di Forum ASEAN, Menteri Herath melakukan pertemuan bilateral penting dengan Perdana Menteri Malaysia Dr. Dato’ Seri Anwar bin Ibrahim di Kantornya di Putrajaya.

Pembicaraan bilateral antara kedua pemimpin berfokus pada dua aspek utama, yaitu operasionalisasi perjalanan bebas visa bagi warga negara Sri Lanka dan pembentukan sistem kuota 10.000 pekerjaan bagi warga negara Sri Lanka untuk bekerja di Malaysia.

Perdana Menteri Anwar Ibrahim meminta otoritas Malaysia, khususnya Kementerian Sumber Daya Manusia dan Kementerian Dalam Negeri, untuk bekerja sama secara erat dengan mitra mereka di Sri Lanka guna menerapkan langkah-langkah praktis tersebut dan mempercepat pengaturan lainnya.

Pengaturan Perjalanan Bebas Visa
Pembicaraan tersebut juga mengemukakan banyak kemajuan yang telah dicapai menuju rezim bebas visa antara Sri Lanka dan Malaysia.

Pada awalnya, pemegang paspor diplomatik dan resmi kedua negara akan diprioritaskan dan prosesnya akan diperluas kepada pemegang paspor biasa kedua negara setelah semuanya dipelajari dan kesepakatan dicapai di antara kedua negara.

Salah satu langkah pelonggaran visa yang memungkinkan dapat secara signifikan meningkatkan jumlah wisatawan, kontak dan negosiasi bisnis, serta hubungan politik antara kedua negara dengan keterlibatan antarmasyarakat yang positif. Mobilitas yang lancar ini kemungkinan besar akan secara efektif mempromosikan perdagangan bilateral dan pertukaran budaya.

Kuota Pekerjaan untuk Pekerja Sri Lanka
Salah satu terobosan utama dari diskusi ini adalah peluang yang ditawarkan oleh Malaysia untuk menyediakan kuota pekerjaan bagi warga negara Sri Lanka.

Malaysia akan menyediakan kesempatan kerja bagi 10.000 pekerja terampil dan semi-terampil Sri Lanka di kedua sektor, termasuk konstruksi, perhotelan, layanan kesehatan, pertanian, dan manufaktur.

Sebuah kelompok kerja gabungan akan dibentuk pada kuartal keempat tahun 2025 untuk aspek operasional kerja sama ini. Hal ini sangat baik bagi negara seperti Sri Lanka, menawarkan peluang kerja yang berharga bagi pekerja Sri Lanka kami di luar negeri dan semakin meningkatkan perekonomian negara dengan mengumpulkan remitansi yang lebih tinggi.

Operasionalisasi Perjanjian Ketenagakerjaan
Menteri Herath juga mengadakan pertemuan lanjutan dengan para pejabat senior Malaysia (Kementerian Sumber Daya Manusia & Kementerian Dalam Negeri).

Pembicaraan ini mencakup elemen-elemen seperti prosedur perekrutan tenaga kerja, perlindungan hak-hak pekerja, dan kemudahan integrasi warga negara Sri Lanka yang mendaftar di pasar tenaga kerja Malaysia.

Fokusnya adalah pada penerapan sistem rekrutmen yang transparan untuk mencegah eksploitasi pekerja migran dan memastikan mereka bekerja dalam kondisi yang adil, sejalan dengan praktik terbaik dalam pengelolaan migrasi tenaga kerja internasional.

Forum Investor, Perdagangan & Pariwisata Sri Lanka 2025. Poster yang mengumumkan forum tersebut bertuliskan “Sri Lanka” di bagian atas dengan huruf besar, dan “Forum Investor Perdagangan & Pariwisata 2025” di bagian bawah dengan bendera Sri Lanka di sebelah kanannya.

Pertemuan menekankan kolaborasi ekonomi antara Malaysia dan Sri Lanka, Menteri Herath diundang untuk menjadi Pembicara Utama pada hari tersebut di Forum Investor, Perdagangan & Pariwisata Sri Lanka 2025, yang diselenggarakan oleh Komisi Tinggi Sri Lanka di Kuala Lumpur.

Acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 60 pemimpin bisnis, investor, dan perwakilan perdagangan terkemuka Malaysia yang tertarik berinvestasi dalam kemitraan pariwisata antara kedua negara.

Berbicara tentang peluang bisnis di berbagai sektor, termasuk energi terbarukan, infrastruktur pariwisata, pertanian, layanan digital, dan tekstil, forum tersebut menggarisbawahi niat strategis Sri Lanka untuk memperluas basis ekonomi dan menjalin hubungan yang mendalam dengan negara-negara ASEAN.

Meningkatkan Kerja Sama Pariwisata dengan Malaka.

Untuk memperluas kerja sama budaya dan pariwisata, Menteri Herath juga mengunjungi negara bagian bersejarah Malaka. Khususnya, mengenai kemungkinan peningkatan kerja sama antara Melaka dan Sri Lanka.

Referensi khususnya mengenai pariwisata warisan budaya, pembicaraan akan kembali dibahas oleh Gubernur Tun Seri Setia, Dr. Haji Mohd Ali Bin Mohd Rustam.

Dengan Malaka sebagai situs Warisan Dunia UNESCO, terdapat kemungkinan untuk promosi bersama dan paket kolaborasi pariwisata yang menghubungkan Malaka dengan situs warisan UNESCO milik Sri Lanka yang dapat meningkatkan prospek pariwisata kedua negara.

Pertemuan Bilateral dan Diplomasi Regional

Dalam pertemuan bilateralnya dengan Malaysia, dan pemanfaatan ARF, Menteri Herath memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkuat hubungan bilateral Sri Lanka dengan mitra regional lainnya.

Ia telah berdiskusi dengan para menteri luar negeri dan pejabat senior lainnya dari Australia, Bangladesh, Tiongkok, Pakistan, Filipina, Rusia, Korea Selatan, dan Thailand.

Stabilitas regional, kerja sama ekonomi, dan kepentingan strategis bersama merupakan poin-poin utama dalam agenda pertemuan-pertemuan ini.

Selain itu, pembicaraan dengan Wakil Menteri Luar Negeri AS, Allison Hooker, menyentuh isu-isu perdagangan, khususnya penurunan tarif untuk meningkatkan produk-produk Sri Lanka seperti pakaian. Hal ini menyoroti rencana diplomatik yang lebih luas di Sri Lanka untuk meningkatkan integrasi regional dan perdagangan dunia yang pesat.

Kesimpulan: Membangun Manfaat Bersama Jangka Panjang

Forum Regional ASEAN dan interaksi tingkat bilateral yang diadakan antara Sri Lanka dan Malaysia telah menunjukkan diplomasi regional dan kerja sama bilateral yang proaktif.

Pemberlakuan perjalanan bebas visa dan migrasi tenaga kerja yang lebih luas dapat membawa kemakmuran ekonomi, pengayaan budaya, dan kehangatan diplomatik bagi kedua negara.

Seiring kedua negara bergerak maju untuk melaksanakan inisiatif-inisiatif substantif ini, dorongan bagi perekonomian masing-masing kemungkinan akan berdampak positif bagi ribuan pekerja Sri Lanka, meningkatkan pariwisata bilateral, dan mendorong integrasi regional lebih lanjut ke dalam kawasan ASEAN.

Persahabatan ini merupakan dasar yang kuat untuk manfaat jangka panjang bagi kedua belah pihak dan kemakmuran bersamua.

Menteri Pariwisata: Koperasi Desa Merah Putih Perkuat Pengelolaan Pariwisata

this formate

KLATEN, bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan keberadaan Koperasi Desa/Koperasi Kelurahan Merah Putih yang telah diresmikan Presiden Prabowo Subianto berpotensi mendatangkan dampak besar dalam pengelolaan pariwisata melalui gerakan koperasi di desa khususnya desa-desa wisata yang tersebar luas di penjuru tanah air.

Usai menghadiri peluncuran “Kelembagaan 80.000 Koperasi Desa Merah Putih/Koperasi Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP)” oleh Presiden Prabowo Subianto di Desa Merah Putih Bentangan, Desa Bentangan, Kabupaten Klaten, Senin (21/7/2025),Menpar Widiyanti Putri Wardhana mengatakan pihaknya siap berkolaborasi penuh dengan seluruh pihak untuk menghadirkan sistem ekonomi yang adil dan berkelanjutan berbasis desa.

“Dengan 6.100 lebih desa wisata yang aktif, kami melihat peluang besar untuk menyatukan gerakan koperasi dengan pengelolaan pariwisata,” ujar Menteri Pariwisata Widiyanti Putri.

Keberadaan KDMP/KKMP yang disertai perencanaan matang dan pendekatan kreatif di desa wisata, dapat mendukung tata kelola desa sehingga berdampak pada penguatan ekonomi desa juga pemerataan dan memerdekakan masyarakat dari kemiskinan.

Mulai dari pemberdayaan ekonomi lokal, pengembangan infrastruktur dan fasilitas, pelestarian budaya dan lingkungan, penciptaan lapangan kerja, serta promosi wisata berbasis komunitas.

Keberadaan KDMP/KKMP juga diharapkan dapat mendorong kolaborasi antarpelaku usaha di destinasi sekaligus membuka ruang bagi integrasi ekosistem pariwisata lokal di mana petani, pengrajin, penyedia akomodasi, kuliner, dan pemandu wisata bisa saling mendukung dalam satu sistem ekonomi yang sehat dan adil.

Koperasi Desa Merah Putih/Koperasi Kelurahan Merah Putih sendiri merupakan wujud program dari salah satu trisula pengentasan kemiskinan di era pemerintahan Prabowo Subianto yakni kesehatan, pendidikan, dan sosial-ekonomi. Dua perwujudan program lainnya adalah Cek Kesehatan Gratis untuk Anak Sekolah dan Sekolah Rakyat.

Untuk mendukung KDMP/KKMP, Kementerian Pariwisata bersama Kementerian Koperasi sebelumnya telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama (MoU) untuk mengembangkan sektor pariwisata. Yakni pengelolaan dan peningkatan status Kelompok Sadar Desa Wisata (Pokdarwis) menjadi pengelola Koperasi Merah Putih.

Proyek percontohan atas nota kesepahaman tersebut akan dilakukan di 80 desa wisata di mana tiga desa di antaranya masuk dalam 100 proyek percontohan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih nasional.

Tiga desa wisata tersebut adalah Desa Wisata Keciput di Kabupaten Belitung-Bangka Belitung, Desa Wisata Jeruju Besar di Kabupaten Kubu Raya-Kalimantan Barat, serta Desa Wisata Taman Martani di Kabupaten Sleman-DIY. Ke depan, diharapkan pengembangan koperasi ini dapat menjangkau lebih dari 6.000 desa wisata di seluruh Indonesia.

“Kolaborasi ini akan memperkuat kelembagaan di tingkat desa, menghubungkan kelompok sadar wisata dengan koperasi, dan membuka akses pembiayaan serta pasar bagi pelaku wisata lokal dan produk UMKM desa wisata,” ujar Menteri Pariwisata Widiyanti.

Presiden Prabowo dalam sambutannya mengatakan bahwa koperasi adalah alat perjuangan rakyat kecil untuk menjadi kuat secara ekonomi. Presiden juga menegaskan bahwa peluncuran 80.081 koperasi ini bukanlah langkah kecil, melainkan gerakan nasional strategis untuk memotong dominasi ekonomi oleh pihak-pihak besar yang selama ini menghambat kemajuan rakyat.

“Pada hari ini kita meluncurkan kelembagaan 80.000 Koperasi Desa dan Koperasi Kelurahan Merah Putih, tepatnya 80.081 koperasi. Hari ini adalah memang hari yang bersejarah. Kita mulai suatu usaha besar. Koperasi ini adalah usaha besar strategis,” ujar Presiden Prabowo.

Lebih dari sekadar legalitas kelembagaan, Presiden Prabowo juga menyebut bahwa koperasi-koperasi ini akan didukung dengan infrastruktur nyata seperti gudang penyimpanan, cold storage, gerai sembako, apotek, hingga kendaraan logistik.

Selain itu, akan terdapat pula fasilitas pinjaman super mikro untuk mempermudah distribusi barang dan perputaran ekonomi desa.
“Kalau kita punya niat yang baik, kehendak yang baik, dorongan yang kuat, motivasi yang kuat, bisa. Yang tidak bisa, jadi bisa 80 ribu,” ujarnya.

Turut hadir mendampingi Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana diantaranya Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata; Hariyanto; serta Asisten Deputi Pemberdayaan Masyarakat Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata, Florida Pardosi.

Timor Leste Gabung ASEAN, Negara Anggota Diminta Buka Kedubes di Dili

this formate

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) Kao Kim Hourn menghadiri press briefing di markas ASEAN, Jakarta, 28 Mei 2025. ( Foto:Tempo/Savero Aristia Wienanto).

Timor Leste dipastikan menjadi anggota penuh ASEAN pada Oktober 2025. Negara-negara anggota diminta membuka kedutaan besar di Dili sebagai komitmen diplomatik kawasan.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Timor Leste dipastikan menjadi anggota penuh ASEAN pada Oktober 2025. Proses aksesi akan rampung dalam waktu tiga bulan ke depan, setelah para pemimpin ASEAN menyepakati langkah final pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-46 di Kuala Lumpur, Mei lalu.

Kepastian ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, dalam The Briefing by the Secretary-General of ASEAN di Sekretariat ASEAN, Jakarta Selatan, Jumat, 18 Juli 2025 seperti dilansir dari tempo.co

“Timor Leste akan menjadi anggota penuh pada Oktober tahun ini. Saya kira ini sedang bergerak maju,” kata Kao. Ia menambahkan, ASEAN kini tengah menyusun langkah – langkah yang perlu dilakukan setelah status keanggotaan tersebut resmi.

Penyesuaian Dokumen Kunci

Menurut Kao, saat ini ASEAN sedang menyelesaikan dua dokumen kunci: deklarasi penerimaan Timor Leste dan instrumen penerimaan terhadap Piagam ASEAN.

“Saya pikir ini harus diselesaikan antara sekarang dan sebelum KTT ASEAN ke-47,” ujarnya.

Kao menjelaskan bahwa Sekretariat ASEAN mendukung penuh proses aksesi ini. “Kami sekarang sedang melihat di pos tersebut, apa yang perlu kami lakukan. Penyesuaian, pengaturan di kedua belah pihak, kami sedang bergerak maju,” ujarnya.

Kedutaan Besar di Dili

Salah satu implikasi dari keanggotaan penuh Timor Leste adalah keharusan negara-
negara anggota ASEAN untuk membuka kedutaan besar di ibu kota Dili. Kao mengatakan bahwa Timor Leste telah lebih dahulu membuka perwakilannya di seluruh negara ASEAN.

“Saya memahami bahwa Timor Leste telah mendirikan kedutaan besarnya di semua negara anggota ASEAN. Sehingga, itu berarti ASEAN harus membalas berdasarkan perjanjian, berdasarkan komitmen di sana,” ujar Kao.

Peluang Ekonomi dan Investasi

Kao menyebut keanggotaan penuh ini akan membuka peluang besar bagi Timor Leste, terutama di sektor ekonomi. “Ekonomi Timor Leste akan terhubung dengan ekonomi ASEAN, karena kami telah menandatangani banyak perjanjian,” ujarnya.

Ia mengatakan, ASEAN juga memiliki daftar kerja yang tengah disusun tahun ini, yang akan menghubungkan ekonomi Timor Leste dengan kawasan.

Kao kemudian mengajak negara-negara mitra dialog ASEAN untuk mulai berinvestasi di Timor Leste sebagai bagian dari dukungan pembangunan.

“Kami menyambut dukungan mereka untuk melihat perkembangan Timor Leste. Maka, pembangunan ekonomi akan dipercepat, Anda dapat melihatnya di negara-negara anggota lainnya,” kata Kao.

Setelah dua dokumen utama diselesaikan dan mendapat dukungan penuh dari seluruh negara anggota, Timor Leste dijadwalkan akan secara resmi bergabung sebagai anggota ke-11 ASEAN dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-47 pada Oktober 2025.

Target Pariwisata Thailand Kini Ke Timur Tengah

this formate

BANGKOK, bisniswisata.co.id : Pariwisata Thailand masih cukup baik di tahun 2025. Kementerian Pariwisata dan Olahraga melaporkan bahwa pada awal Juli, lebih dari 17,2 juta wisatawan mancanegara telah datang, menghasilkan sekitar 794,7 miliar baht (atau sekitar €20,9 miliar).

Namun, industri ini menghadapi beberapa kendala, terutama karena pariwisata Tiongkok pulih lebih lambat dari perkiraan. Dilansir dari tourism-review.com, beberapa data dari Agoda, ditambah dengan perubahan taktik yang dilakukan oleh Otoritas Pariwisata Thailand (TAT), menunjukkan beberapa tren yang terus berkembang.

Salah satunya adalah munculnya destinasi – destinasi baru, yang lain adalah diversifikasi asal pengunjung, dan yang ketiga adalah fokus pada pariwisata berkelanjutan yang bernilai tinggi.

Pasar dan Tujuan Sumber Teratas

Pada paruh pertama tahun 2025, Agoda menyatakan bahwa Tiongkok, Malaysia, dan Korea Selatan mengirimkan wisatawan terbanyak ke Thailand.

Setelah negara-negara tersebut, Jepang dan Singapura menyusul. Bangkok, Pattaya, dan Phuket tetap populer, menawarkan perpaduan kehidupan kota, pantai, dan hiburan malam bagi wisatawan dari tempat-tempat ini.

Hat Yai di Thailand selatan semakin populer, terutama di kalangan wisatawan Malaysia dan Singapura, karena harganya yang terjangkau. Selama dua tahun berturut-turut, kota ini menduduki peringkat sebagai destinasi termurah di Thailand, dan salah satu dari tiga kota paling ramah anggaran di Asia. Hal ini menjadikannya daya tarik besar bagi wisatawan yang ingin berhemat.

Menarik untuk dicatat bahwa preferensi pengunjung sebenarnya cukup beragam. Warga Korea Selatan cenderung tinggal paling lama, diikuti oleh wisatawan Jepang, Malaysia, Singapura, dan kemudian wisatawan Tiongkok (meskipun Tiongkok mengirimkan wisatawan terbanyak secara keseluruhan).

Tinggal lebih lama sering kali berarti orang-orang pergi ke tempat-tempat seperti Ko Tao, yang terkenal dengan wisata menyelamnya, atau Ko Phangan, yang terkenal dengan suasananya yang santai dan meriah. Beberapa orang mencari pengalaman yang lebih tenang dan autentik di tempat-tempat seperti Pathum Thani di dekat Bangkok, yang menunjukkan bahwa lebih banyak orang ingin benar-benar merasakan budaya lokal.

Diversifikasi Pasar Sumber

Dari Januari hingga Juni 2025, Thailand memiliki 16 juta wisatawan mancanegara, menghasilkan 743,582 miliar baht. Karena penurunan jumlah wisatawan Tiongkok, TAT telah menyesuaikan proyeksinya untuk keseluruhan tahun dari 40 juta menjadi 35 juta wisatawan.

Kekhawatiran keamanan, seperti penculikan aktor Tiongkok Wang Xing, menyebabkan pembatalan kunjungan selama Tahun Baru Imlek. Hal ini menunjukkan betapa rentannya pasar yang krusial ini. Untuk mengatasinya, Thailand kini mengincar pasar-pasar sumber wisatawan yang sedang berkembang, khususnya di Timur Tengah dan Asia Tenggara.

Timur Tengah menunjukkan pertumbuhan yang kuat, dengan peningkatan pengunjung sebesar 17-18%. Hal ini mendorong TAT untuk meningkatkan pilihan perjalanan udara dan mempromosikan Thailand sebagai destinasi utama di kawasan tersebut.

Asia Tenggara dan Oseania juga dipandang penting untuk meningkatkan permintaan, yang diharapkan dapat membantu mengimbangi penurunan pariwisata Tiongkok. Semua ini mencerminkan rencana yang lebih luas untuk mendiversifikasi asal wisatawan dan tidak terlalu bergantung pada satu wilayah saja.

Pergeseran Menuju Pariwisata Kelas Atas

Menjelang tahun 2026, Thailand berencana untuk berfokus pada “nilai daripada volume” guna menarik wisatawan yang berbelanja lebih banyak dan berdampak lebih kecil terhadap lingkungan. Pariwisata menyumbang 12% dari PDB negara, dan targetnya adalah meningkatkan pendapatan sebesar 7% dengan menarik wisatawan bernilai tinggi.

Pendekatan ini sejalan dengan tren global menuju keberlanjutan, dengan fokus pada pengalaman yang melindungi warisan alam dan budaya Thailand sekaligus menguntungkan perekonomian.

Pergeseran ini sudah terlihat dari semakin populernya tempat-tempat seperti Hat Yai dan Pathum Thani, yang menawarkan pengalaman autentik dan terjangkau.

Dengan mempromosikan lokasi-lokasi ini bersama tempat-tempat terkenal seperti Bangkok dan Phuket, Thailand berharap dapat menyebarkan manfaat pariwisata secara lebih merata di seluruh negeri.

Tantangan dan Peluang

Meskipun sukses, sektor pariwisata Thailand menghadapi beberapa masalah. Pemulihan pariwisata Tiongkok yang lambat akibat kekhawatiran keamanan dan persaingan dari negara lain menyebabkan ekspektasi harus disesuaikan.

Namun, kebangkitan pasar di Timur Tengah dan Asia Tenggara, ditambah dengan semakin banyaknya orang yang ingin mengunjungi berbagai destinasi, menawarkan beberapa peluang bagus. Investasi dalam perjalanan udara, pemasaran yang terarah, dan sebagainya, semuanya berkontribusi pada upaya ini.

Mempertahankan posisi Thailand sebagai pemimpin pariwisata global sangat bergantung pada penerapan praktik-praktik berkelanjutan.
Kesuksesan Thailand di masa depan bergantung pada bagaimana negara ini beradaptasi dengan permintaan wisatawan yang terus berkembang dan memperluas pilihan pariwisatanya di tengah tantangan yang dihadapi.

Kerajaan ini terus memikat jutaan orang, mulai dari pesisir Phuket hingga kekayaan budaya Pathum Thani, memadukan efektivitas biaya, keaslian, dan inovasi untuk menjaga perekonomian pariwisatanya yang penting tetap hidup.

Wisatawan Padati Bagan untuk Niikmati Pemandangan Matahari Terbenam

this formate

Wisatawan internasional terlihat menikmati matahari terbenam dari sebuah kuil di Bagan. (Foto: Zwe Marn)

NAYPYDAW, bisniswisata.co.id: Wisatawan lokal dan mancanegara menikmati pemandangan matahari terbenam di Bagan. Sebagai situs warisan budaya Myanmar, wisatawan domestik dan mancanegara mengunjungi Bagan di setiap musim.

Wisatawan mancanegara khususnya menunjukkan minat yang kuat terhadap budaya dan keindahan alam Myanmar. Para pengunjung menyaksikan matahari terbenam dari Danau Nyaunglaphak dan titik pandang Sulamani.

Sebagian besar wisatawan lokal menyaksi- kan dari Pagoda Buu pada musim ini. Keindahan Bagan selalu meninggalkan kesan yang mendalam bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, terlepas dari musim atau waktunya.

Itulah sebabnya orang-orang yang pernah berkunjung sebelumnya sering kembali lagi, dan ini merupakan ciri khas Bagan,” ujar seorang pejabat Direktorat Perhotelan dan Pariwisata (Bagan).

Para pengunjung dapat menikmati matahari terbenam dan keindahan Sungai Ayeyawady, Tantkyitaung, dan Tuyintaung dari empat titik pandang, dua gundukan, Menara Nan Myint, dan pagoda-pagoda lainnya.

Pekerjaan pemeliharaan sedang dilakukan untuk memastikan kelestarian pagoda Bagan, dan pihak berwenang melarang pengunjung memanjat pagoda setelah gempa bumi tahun 2016.

Keindahan Bagan menawarkan nilai-nilai budaya yang tinggi dari keindahan alam Myanmar, Sungai Ayeyawady, dan pagoda-pagoda kuno.

Keindahan alam yang memukau wisatawan lokal maupun mancanegara dapat dinikmati dari Danau Nyaunglaphak, Danau Sulamani, Ohhteingon (Timur), Ohhteingon (Barat), Kyaukmyatmaw, Danau Minnanthu, Danau Komauk, dan Pagoda Buu.