UMKM Pariwisata Filipina Dapat Pinjam Hingga Rp20 juta Melalui SBCorp

this formate

MANILA, bisniswisata.co.id: Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang pariwisata kini dapat memanfaatkan pinjaman hingga Rp20 juta melalui program pinjaman serbaguna Turismo Asenso di bawah Badan Usaha Kecil (SBCorp), ungkap Departemen Pariwisata Filipina (DOT).

DOT menyatakan bahwa program ini bertujuan untuk memberdayakan UMKM pariwisata dengan menyediakan akses pembiayaan berbunga rendah untuk membantu meningkatkan skala operasional dan layanan bagi wisatawan.

“Dengan kontribusi pariwisata sebesar 8,9 persen terhadap PDB (produk domestik bruto) dan penyediaan lapangan kerja bagi lebih dari 6,75 juta warga Filipina, pendekatan kami selalu berfokus pada pengembangan pariwisata sebagai penggerak ekonomi yang kuat, “ kata Menteri Pariwisata Christina Frasco.

Program pinjaman Turismo Asenso merupakan bagian dari visi ini—memberikan modal yang dibutuhkan UMKM pariwisata kami untuk berekspansi, mempekerjakan lebih banyak orang, dan meningkatkan layanan

“Ini adalah dukungan nyata dan mudah diakses bagi para wirausahawan yang menjadi jantung ekonomi pariwisata kami.” ujarnya.

Program ini diluncurkan setelah penandatanganan nota kesepahaman resmi antara Departemen Perhubungan dan Departemen Perdagangan dan Industri pada April lalu.

Pemohon yang memenuhi syarat dapat meminjam hingga PHP20 juta dengan suku bunga 1 persen per bulan berdasarkan saldo menurun.

Untuk pinjaman tanpa agunan, peminjam baru dapat mengakses hingga PHP3 juta, sementara peminjam yang sudah ada dapat memenuhi syarat untuk pinjaman hingga PHP5 juta.

Jangka waktu pembayaran fleksibel hingga lima tahun juga tersedia.

Pelamar yang berminat harus memiliki bisnis terdaftar milik orang Filipina atau dengan setidaknya 60 persen kepemilikan orang Filipina atas bisnis tersebut.

Tentunya memiliki rekam jejak bisnis tidak kurang dari satu tahun; dengan ukuran aset tidak melebihi PHP100 juta, tidak termasuk lot; dan tidak memiliki akun yang jatuh tempo di salah satu program SBCorp dan tidak ada temuan kredit negatif yang besar. (PNA)

Kemenpar dan Pemprov Bali Perkuat Sinergi Hadapi Tantangan Pengembangan Pariwisata

this formate

DENPASAR, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali untuk pengembangan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, khususnya hadapi tantangan dan isu-isu terkini di salah satu provinsi unggulan pariwisata Indonesia tersebut.

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana dalam “Courtesy Meeting” dengan Gubernur Bali Wayan Koster, Jumat, mengatakan Bali merupakan destinasi yang sangat strategis dan memiliki posisi krusial dalam peta pariwisata Indonesia. Hal tersebut ditandai dengan jumlah kunjungan wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara yang terus meningkat setiap tahunnya.

Bali menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata menjadi penggerak ekonomi daerah. “Jadi, izinkan kami menaruh perhatian khusus pada Bali,” ujar Menteri Pariwisata di Gedung Kertha Saba, Denpasar, Bali.

Menteri Pariwisata Widiyanti menjelaskan, terdapat sejumlah tantangan yang harus segera mendapat tindak lanjut melalui sinergi yang kuat. Pertama terkait akomodasi, khususnya vila yang tidak memiliki izin operasi resmi. Selain itu, juga tantangan pembangunan dan tata ruang pariwisata di Bali yang perlu lebih merata dan tanpa menggeser fungsi lahan produktif.

Kementerian Pariwisata memberikan atensi khusus terhadap permasalahan ini, dan siap untuk terus berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait untuk melakukan pembahasan strategis.

“Kami mengapresiasi inisiatif pemerintah provinsi yang tidak hanya berkomitmen menata yang non-resmi, tetapi juga memverifikasi dan mengawasi akomodasi resmi agar tetap akurat dan terkini,” ujar Menteri Pariwisata. Hal itu termasuk terkait permasalahan kemacetan, pengelolaan sampah, serta pengembangan pariwisata di Bali Utara dan Bali Barat.

“Kami juga memahami bahwa saat ini terdapat tantangan di Bali terkait perilaku sebagian wisatawan. Kami akan terus mendorong edukasi wisatawan melalui kolaborasi dengan KBRI dan kanal-kanal lainnya khususnya dalam menyosialisasikan Dos and Don’ts yang sesuai dengan nilai dan ketentuan lokal,” ujar Menteri Pariwisata Widiyanti.

Selain itu yang tidak kalah penting adalah upaya memperkuat promosi Bali secara konsisten. Meski Bali sudah menjadi top of mind, namun tetap perlu upaya-upaya untuk terus menjaga dan memperkuat promosi Bali. Untuk itu, sinergi dalam penguatan program harus menjadi perhatian bersama. Kementerian Pariwisata selalu terbuka untuk menyerap aspirasi lebih lanjut.

“Kami berkomitmen untuk mendukung arah pengembangan wisata Bali yang sudah dirancang Pak Gubernur Wayan Koster bahkan untuk 100 tahun ke depan. Pariwisata Bali harus tumbuh dengan terarah, adil bagi masyarakat, dan lestari bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata Rizki Handayani menambahkan, akomodasi yang tidak memiliki perizinan merupakan salah satu isu yang menjadi perhatian besar Kementerian Pariwisata. Bersama sejumlah kementerian/lembaga, Kementerian Pariwisata telah berkoordinasi untuk melakukan langkah-
langkah yang dibutuhkan.

Kementerian Pariwisata juga mendukung upaya yang diambil Pemprov Bali dalam menangani maraknya akomodasi ilegal. “Kami sudah memiliki data yang telah ditindaklanjuti teman-teman dinas dalam melakukan pengawasan,” ujar Rizki.

Sementara terkait promosi, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan Kementerian Pariwisata telah menyiapkan calender of promotion Wonderful Indonesia untuk tahun 2026 sehingga dapat disinergikan dengan program promosi dari Pemprov Bali.

“Kami juga sudah berbicara dengan airlines dan kami akan berkoordinasi dengan Kemenhub dan mengimbau seluruh airlines yang terbang ke Bali untuk menayangkan Dos and Don’ts sebagai informasi bagi wisatawan yang akan datang ke Bali,” ujar Made.

Gubernur Bali Wayan Koster mengapresiasi kunjungan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana bersama jajaran yang secara khusus membahas berbagai isu pariwisata Bali.

“Dan itu memang sangat dibutuhkan. Apa yang dipaparkan Ibu Menteri sangat tepat, menjawab berbagai isu krusial di Bali terutama dalam mendukung pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan dan semoga bisa segera ditindaklanjuti,” ujar Wayan Koster.

Usai menggelar pertemuan dengan Pemerintah Provinsi Bali, Menteri Pariwisata Widiyanti melanjutkan kunjungan dengan bertemu sejumlah pelaku industri pariwisata Bali di The Tugu, Canggu, Bali.

Menteri Pariwisata berdiskusi dan menyerap aspirasi dari para pelaku mengenai peluang dan tantangan dalam mendukung pengalaman berwisata yang berkualitas dan berkelanjutan bagi wisatawan.

Turut hadir mendampingi Menteri Pariwisata Widiyanti Putri, Deputi Bidang Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata, Hariyanto.

Halal Indo 2025 Membangun Ekosistem Industri Halal yang Berdaya Saing Global

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Indonesia, sebagai salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, tengah perkuat posisinya untuk menjadi pemain kunci dalam industri halal global. Berbagai inisiatif sedang dijalankan, termasuk pembentukan ekosistem industri halal yang inklusif, relevan, dan berdaya saing global.

Sejalan dengan ambisi ini, Dyandra Promosindo menyelenggarakan Media & Influencer Gathering Halal Indo 2025 dengan tema “Dari Gaya Hidup ke Industri Global: Perjalanan Indonesia Menjadi Pusat Halal” di Paragon Community Hub.

Acara yang bertujuan untuk membangun ekosistem industri halal yang lebih modern, berkelanjutan, dan diakui secara global ini merupakan bagian dari rangkaian pameran Halal Indo 2025 yang dijadwalkan berlangsung pada 25-28 September 2025, di ICE BSD City, Tangerang.

Kris Sasono Ngudi Wibowo, Kepala Pusat Industri Halal Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menyatakan bahwa Indonesia harus memanfaatkan momentum positif pertumbuhan ekonomi global dan industri halal untuk mencapai komitmennya menjadi pemain kunci di pasar dunia. Langkah pertama, tegasnya, adalah memperkuat ekosistem untuk memastikan daya saing global.

Sebagai bagian dari upaya penguatan ekosistem industri halal nasional, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia terus mengakselerasi pengembangan industri halal Indonesia di tingkat nasional dan global melalui berbagai program terpadu yang berfokus pada penguatan ekosistem halal nasional dan daya saing industri.

Strategi utama meliputi penguatan regulasi dan kebijakan, pengembangan infrastruktur ekosistem halal, fasilitasi sertifikasi halal bagi industri kecil dan menengah (IKM) dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), inovasi produk dan industri berbasis halal, promosi dan ekspor produk halal, serta kolaborasi global dan diplomasi halal.

Selain itu, perluasan pasar terus diupayakan melalui kerja sama internasional dan partisipasi dalam pameran global, serta penghargaan melalui Indonesia Halal Industry Awards (IHYA).

Namun, membangun ekosistem industri halal di tahun 2025 membutuhkan peran dan dukungan semua pihak. Oleh karena itu, Kris menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Dyandra Promosindo yang secara konsisten mendukung komitmen pemerintah dalam memajukan industri halal dalam negeri melalui pameran Halal Indo 2025.

Tahun ini, fokusnya adalah menarik lebih banyak pembeli agar pelaku industri dapat memperoleh manfaat dari komitmen dan transaksi. Tujuan utama Halal Indo 2025 adalah memberikan gambaran kepada seluruh pemangku kepentingan, pelaku industri, publik, dan pembeli internasional bahwa pihaknya siap menghadapi tantangan dan peluang pengembangan industri halal, jelas Kris.

Muhammad Adi Yasir, Senior Head of Stakeholders Relations Paragon Corp, menyatakan bahwa Halal Indo 2025 merupakan langkah signifikan untuk membuka pintu bagi lebih banyak kemitraan dan perluasan pasar.

Ia menambahkan bahwa Paragon Corp sangat terbuka untuk menjajaki peluang kolaborasi guna mempercepat perkembangan industri halal di Indonesia. “Kolaborasi merupakan salah satu kunci penting untuk memajukan industri halal. Di Paragon Corp, tindakan kami selalu didorong oleh semangat kebermanfaatan.” kata Muhammad Adi Yasir

Maka, dalam berkolaborasi dengan siapa pun, Paragon berkomitmen untuk senantiasa memberikan manfaat bagi pelaku industri halal, masyarakat, pemerintah, dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan,” ujarnya.

Ismi Puspita, Project Manager Halal Indo 2025, mengatakan bahwa Halal Indo 2025 tidak hanya akan mencakup sektor makanan, minuman, farmasi, dan fesyen, tetapi juga akan menambah sektor bisnis baru: pendidikan, pariwisata, dan keuangan Islam.

Sektor-sektor ini akan ditampilkan di 387 stan di area seluas 3.886 m². Halal Indo 2025 menargetkan transaksi dan komitmen sebesar USD 380 juta dengan 13.000 pengunjung, baik lokal maupun internasional.

Halal Indo 2025 menampilkan beberapa program, termasuk Media & Influencer Gathering, Business Coaching, Indonesia Halal Industry Expo (IHYA), serangkaian Talk Show di bawah naungan Halal Connect, dan sesi Business Matching.

Selain itu, Halal Indo 2025 berfungsi sebagai platform kolaborasi dengan pemerintah, komunitas, media, pelaku industri, dan masyarakat umum.

Melalui berbagai program yang menarik dan kolaborasi yang kuat, Halal Indo 2025 diharapkan menjadi platform strategis untuk mempromosikan produk halal unggulan Indonesia, meningkatkan kerja sama internasional, dan memperluas pasar ekspor.

“Kami percaya bahwa untuk mewujudkan visi ini, kami tidak dapat melakukannya sendiri. Para pemangku kepentingan adalah sinergi yang memperkuat kami, untuk mengangkat nama Indonesia di industri halal global. Hari ini, kami ingin berbagi semangat ini dan membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya,” jelasnya.

Uganda dan Indonesia Pererat Hubungan Ekonomi, Mendorong Perdagangan, Pariwisata, dan Pertumbuhan Pasar Halal

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Forum Bisnis Uganda–Indonesia berlangsung pada hari Kamis, 10 Juli 2025, di Hotel Park Hyatt, Jakarta, dan merupakan langkah besar dalam hubungan kedua negara yang sedang berkembang.

Forum bergengsi ini mempertemukan para pejabat pemerintah, pemimpin industri, dan investor yang semuanya berupaya mengembangkan kemitraan berkelanjutan di berbagai sektor penting, termasuk pariwisata, perdagangan, mineral, minyak dan gas, serta inovasi digital.

Dilansir dari www.travelandtourworld.com, forum ini menggarisbawahi investasi bersama sebagai pijakan yang semakin penting untuk memajukan dan memperdalam hubungan ekonomi.

Karena kedua negara berkepentingan untuk memaksimalkan keunggulan komparatif mereka, acara ini berfungsi sebagai platform untuk pertumbuhan berkelanjutan dan kemitraan strategis jangka panjang.

Kemitraan Perdagangan yang Meningkat

Perdagangan Uganda-Indonesia juga mengalami ekspansi pesat sebesar 47,25% antara tahun 2020 dan 2024. Omzet perdagangan melonjak menjadi US$52,8 juta pada kuartal pertama tahun 2025, dari US$8,9 juta.

Hal ini menunjukkan meluasnya hubungan ekonomi kedua negara. Uganda, negara yang kaya akan sumber daya alam dan berlokasi strategis di Afrika Timur, menjadi tujuan favorit baru bagi investor Indonesia.

Infrastruktur digital yang berkembang pesat, tenaga kerja muda, dan keanggotaan dalam kelompok perdagangan regional utama menjadikan negara ini sangat menarik sebagai pusat investasi asing.

Area Prioritas Peluang Investasi

Perekonomian Uganda memiliki beragam peluang investasi dan peluang yang tersebar di berbagai sektor, termasuk sektor-sektor yang dapat menjadi basis keahlian dan bisnis Indonesia.

Beberapa area dengan potensi kolaborasi terbesar adalah:

Layanan Digital dan TIK: Ekonomi digital yang berkembang pesat di Uganda menawarkan beragam peluang investasi di bidang BPO, pengembangan perangkat lunak, dan layanan digital lainnya. Investasi dalam pelatihan coding, perusahaan teknologi, dan infrastruktur digital dapat mendorong ekosistem teknologi negara yang sedang berkembang.

Agribisnis: Dengan lahan pertaniannya yang kaya, Uganda menghadirkan peluang besar dalam agribisnis, terutama yang berkaitan dengan produksi beras dan tanaman pangan lainnya. Tekstil dan Garmen: Dengan tenaga kerja yang terampil namun relatif murah, Uganda memiliki potensi besar untuk memasuki produksi tekstil dan garmen, sebuah industri dengan permintaan ekspor yang tinggi.

Potensi jangka panjang pengembangan pondok ramah lingkungan, resor, dan lembaga pelatihan.

Pariwisata dan Perhotelan: Uganda memiliki industri pariwisata yang berkembang pesat yang menawarkan potensi untuk mengembangkan ekowisata bagi konsumen Uganda dan pasar internasional.

Lira dan Kyegegwa telah mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam industri pariwisata. Daya tarik alam dan budayanya menjadikan negara ini tempat yang ideal untuk berinvestasi dalam infrastruktur pariwisata berkelanjutan.

Pertambangan dan Energi: Potensi alam untuk pertambangan dan energi hijau sangat luas dengan peluang investasi yang tersedia di sektor mineral serta infrastruktur minyak dan gas. Negara ini juga sedang mengembangkan industri energinya untuk memenuhi peningkatan permintaan.

Logistik dan Rantai Pasok Halal: Seiring dengan meningkatnya minat Uganda terhadap pasar halal, industri logistik dan rantai pasok juga beradaptasi dengan tuntutan perdagangan halal internasional.

Hal ini merupakan peluang bagi pelaku bisnis Indonesia untuk ikut serta dalam mengembangkan sektor halal di Uganda.
Uganda dan Indonesia memiliki banyak komplementaritas perdagangan. Uganda mengekspor kakao, kulit, dan komoditas ke Indonesia, sementara Indonesia memasok baja, mesin, dan perekat ke Uganda.

Intensifikasi kerja sama pariwisata dan industri halal

Pariwisata merupakan salah satu bidang kerja sama bilateral yang menjanjikan. Uganda menandatangani perjanjian pariwisata bilateral dengan Asosiasi Agen Perjalanan dan Wisata Indonesia (ASITA) untuk mengembangkan infrastruktur pariwisata di Uganda selama pertemuan tersebut.

Kemitraan ini merupakan tindak lanjut dari tur pengenalan pariwisata Uganda yang sukses yang dipimpin oleh operator tur Indonesia pada tahun 2024 untuk memastikan penawaran pariwisata negara tersebut.

Sejalan dengan ambisinya untuk menjadi kekuatan halal, Uganda sedang membangun landasan untuk membangun logistik dan rantai pasokan halal. Dengan lokasi yang strategis dan relatif baru dalam ekonomi halal, Uganda memang merupakan mitra yang menarik bagi Indonesia, salah satu ekonomi halal terbesar di dunia.

Insentif bagi Investor di Uganda

Uganda sangat tertarik untuk memastikan iklim investasi yang kondusif dan kompetitif guna menarik dan mempertahankan investor asing. Insentif utama bagi investor meliputi:

* Libur Pajak: Operasi jangka panjang dapat memanfaatkan libur pajak selama 10 tahun, sebuah nilai tambah yang besar bagi investor.

• Insentif Reinvestasi: Tidak ada batasan untuk reinvestasi, yang memungkinkan investor untuk meningkatkan lebih banyak operasi di Uganda.

* Repatriasi Keuntungan: Uganda dengan mudah mengizinkan pengiriman keuntungan kepada investor asing.

* Pembebasan Pajak Penghasilan untuk Bisnis Baru: Bisnis baru milik Uganda akan menerima pembebasan pajak penghasilan selama tiga tahun yang berlaku efektif Juli 2025, untuk mendorong kewirausahaan lokal.

• Pengecualian Bea Masuk: Barang-barang bisnis untuk produksi seperti mesin merupakan pengecualian bea masuk dan membantu dalam operasi pemotongan biaya.

• Kepemilikan Asing: Investor dapat memiliki 100% perusahaan mereka di Uganda, dan memegang kendali penuh atas operasi mereka.

Masa Depan Kerja Sama Bilateral yang Lebih Baik

Uganda dan Indonesia memiliki hubungan yang relatif longgar di sektor politik dan ekonomi, tetapi platform seperti ini membantu merencanakan masa depan bagi kedua negara.

Uganda – Faktor Positif Dengan sumber daya alam yang kaya, populasi muda, dan infrastruktur yang terus berkembang, Uganda berada di posisi yang baik untuk menarik investasi di berbagai sektor inti.

Negara Asia Tenggara ini diharapkan dapat memanfaatkan pasar Uganda yang sedang berkembang dan kawasan Afrika Timur dengan memanfaatkan kekuatan ekonomi dan kapabilitasnya di berbagai sektor.

Forum ini berfungsi sebagai platform untuk memperdalam kerja sama, dan didasarkan pada pembangunan ekonomi berkelanjutan dan kemitraan yang saling menguntungkan. Kedua negara juga berkomitmen untuk bekerja sama guna memanfaatkan potensi penuh pasar masing-masing dan memacu pertumbuhan di tahun-tahun mendatang.

Menteri Pariwisata Zanzibar Tentang Visinya untuk Pertumbuhan, Pengunjung GCC, dan Ekowisata

this formate

ZANZIBAR, bisniswisata.co.id: Pantai-pantainya yang masih asli, budaya Swahili, dan meningkatnya daya tariknya sebagai destinasi mewah, Zanzibar memposisikan dirinya sebagai pemain terdepan dalam pariwisata berkelanjutan.

Dilansir dari www.travelandtourworld.com, dalam wawancara eksklusif dengan Gulf Business ini, Mudrick Ramadhan Soragha, Menteri Pariwisata Zanzibar, menguraikan visi pulau tersebut untuk pariwisata bernilai tinggi dan berdampak rendah.

Dia membahas berbagai hal mulai dari kemitraan strategis dengan negara-negara Teluk ( GCC) dan peningkatan jumlah pengunjung hingga resor ramah lingkungan, konservasi budaya, dan terminal bandara baru yang berbasis digital.

Zanzibar semakin dikenal sebagai destinasi pantai dan budaya premium. Bagaimana strategi pariwisata menyeimbangkan pengembangan kemewahan dengan kebutuhan untuk melestarikan ekosistem alam dan warisan Swahili pulau tersebut?

Strategi pariwisata Zanzibar berpedoman pada prinsip “keberlanjutan dengan keaslian”. Kami menyadari bahwa meskipun pariwisata mewah sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi kami, hal itu tidak boleh mengorbankan ekosistem laut kami yang rapuh atau warisan Swahili kami yang telah berusia berabad-abad, ungkapnya.

Untuk memastikan keseimbangan ini, kami telah menerapkan penilaian dampak lingkungan yang ketat sebagai prasyarat untuk semua pembangunan.

Kami secara aktif mendorong desain berkelanjutan, mengutamakan arsitektur vernakular berdampak rendah yang terintegrasi secara mulus dengan lanskap alam dan budaya.

Kami juga bekerja sama erat dengan UNESCO untuk melindungi aset warisan dan memastikan bahwa semua pembangunan pariwisata selaras dengan identitas budaya Zanzibar yang unik, kata Mudrick Ramadhan Soragha.

Terakhir, keterlibatan masyarakat tetap menjadi inti, memastikan bahwa pembangunan mengangkat mata pencaharian lokal dan mencerminkan esensi warisan Zanzibar.

Banyak negara GCC berinvestasi dalam pembangunan pesisir mewah dan wisata pantai sepanjang tahun. Pelajaran atau kemitraan apa yang dapat dieksplorasi Zanzibar dengan negara-negara Teluk untuk meningkatkan penawaran wisata pantainya sendiri secara berkelanjutan?

Transformasi visioner

Teluk menjadi pusat wisata mewah sepanjang tahun memberikan cetak biru yang menarik bagi Zanzibar. “Kami sedang menjajaki kemitraan bilateral dengan UEA, Qatar, dan Bahrain di berbagai bidang seperti investasi perhotelan, pertukaran budaya, dan infrastruktur hijau.” katanya.

Keahlian kawasan Teluk dalam menginte- grasikan teknologi adaptif iklim, pengalaman kesehatan dan warisan budaya, serta perhotelan ramah halal sejalan dengan ambisi Zanzibar. Pihaknyai saat ini sedang dalam diskusi lanjutan dengan entitas seperti Retaj Group dari Qatar dan investor swasta lainnya di kawasan ini.

Pemerintah ingin memastikan bahwa calon investor memprioritaskan integrasi komunitas lokal dan bahwa pembangunan akan memberikan manfaat langsung bagi penduduk setempat.

Cara untuk mencapai hal ini adalah dengan mempekerjakan staf pulau untuk semua fungsi hotel dan menyediakan furnitur, karya seni, dan desain interior dari pengrajin lokal.

Tujuan kami adalah untuk mengembangkan koridor investasi pariwisata jangka panjang antara Teluk dan Zanzibar yang dibangun di atas nilai-nilai bersama, yaitu inovasi, keberlanjutan, dan penghormatan terhadap warisan budaya.

Dengan meningkatnya pariwisata dari Timur Tengah ke Afrika Timur, bagaimana Zanzibar menyesuaikan produk pariwisatanya untuk menarik wisatawan bernilai tinggi dari GCC sambil tetap mempertahankan pengalaman autentik?

Kami sedang menyusun serangkaian pengalaman wisata yang secara langsung menjawab preferensi wisatawan Teluk, terutama keluarga, pasangan yang cerdas, dan wisatawan yang religius.

Ini termasuk vila tepi pantai yang sangat privat, kuliner halal, dan wisata budaya khusus yang menghormati warisan Islam Zanzibar yang mendalam.

Menteri Pariwisata mengatakan tengah meningkatkan konektivitas udara dan menyederhanakan prosedur visa bagi warga negara GCC.

Inilah sebabnya Zanzibar secara proaktif memanfaatkan kesempatan untuk menjadi tuan rumah konferensi AVIADEV, sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk menarik lebih banyak penerbangan langsung ke pulau tersebut.

Namun, meskipun kami meningkatkan penawaran layanan kami agar sesuai dengan harapan wisatawan berpenghasilan tinggi, kami tetap berkomitmen untuk melestarikan jiwa Zanzibar, baik melalui wisata berlayar dhow tradisional, tur perkebunan rempah-rempah, maupun pengalaman imersif.

Pariwisata yang berlebihan dan perubahan iklim memberikan tekanan pada destinasi pesisir di seluruh dunia. Kebijakan atau investasi infrastruktur apa yang diprioritaskan kementerian Anda untuk menjadikan pariwisata pantai Zanzibar tangguh iklim dan berkelanjutan secara lingkungan?

Kami sangat menyadari bahwa masa depan Zanzibar bergantung pada ketahanan ekologis. Inti dari kebijakan ekonomi biru kami adalah inisiatif Perencanaan Tata Ruang Laut, sebuah proyek zonasi pesisir yang ambisius, bekerja sama dengan berbagai mitra lingkungan, yang bertujuan untuk memastikan pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir yang berkelanjutan.

Secara paralel, kami meningkatkan infrastruktur pengelolaan limbah dan air di dalam kawasan pariwisata utama dan berinvestasi dalam pelatihan masyarakat lokal tentang praktik terbaik yang berkelanjutan.

Kami juga membangun kawasan perlindungan laut dan melaksanakan proyek restorasi terumbu karang, khususnya di sekitar Pulau Pemba—pusat keanekaragaman hayati yang vital.

Visi jangka panjang kami menekankan pariwisata berdensitas rendah dan bernilai tinggi. Dengan mengutamakan resor ramah lingkungan daripada model pariwisata massal, kami bertujuan untuk melindungi lingkungan dan identitas budaya kami untuk generasi mendatang, kata Mudrick Ramadhan Soragha.

Bagaimana Zanzibar memanfaatkan perangkat digital, sertifikasi ekologi, dan strategi pariwisata cerdas agar tetap kompetitif di pasar global?

Zanzibar sedang menjalani transformasi digital dengan peluncuran sistem data pengunjung cerdas, perizinan daring, dan platform promosi digital.

Melalui program yang didanai Inggris, kami juga sedang menguji coba penerapan sertifikasi ekologi untuk hotel dan operator tur, serta mempromosikan praktik berkelanjutan melalui pengembangan kapasitas bagi usaha kecil.

Dengan menyelaraskan diri dengan tolok ukur keberlanjutan global dan menerapkan inovasi digital, kami bertujuan untuk memposisikan Zanzibar sebagai pemimpin regional dalam pariwisata yang bertanggung jawab.

Berikan kami rincian wisatawan yang berkunjung ke Zanzibar dari GCC, dengan menyoroti kemungkinan UEA, Arab Saudi, dan pasar sumber utama lainnya.

Timur Tengah, khususnya kawasan Teluk, muncul sebagai pasar sumber potensial tinggi bagi Zanzibar. Pada tahun 2024, kedatangan wisatawan dari UEA mencapai sekitar 11.000, sementara Arab Saudi menyumbang 9.500 wisatawan.

Secara kolektif, Qatar, Kuwait, dan Bahrain menyumbang tambahan 6.000 wisatawan. Angka-angka ini menempatkan GCC dengan kokoh di antara sepuluh pasar sumber wisatawan non-Afrika teratas versi kami.

Tujuan kami adalah menggandakan volume ini pada tahun 2027, didukung oleh kemitraan strategis maskapai penerbangan, pemasaran destinasi, dan penawaran perhotelan yang dirancang khusus.

Secara keseluruhan, 71,6 persen kedatangan di Zanzibar berasal dari Eropa, dengan Italia, Jerman, Prancis, dan Polandia sebagai yang terdepan. Kedatangan dari Afrika juga tumbuh pesat, dengan Afrika Selatan dan Kenya menunjukkan pertumbuhan dua digit.

Mayoritas wisatawan (86 persen) adalah generasi Milenial dan Gen Z, dengan rata-rata menginap delapan malam. Dengan persentase 98,3 persen, liburan tetap menjadi tujuan utama perjalanan ke pulau ini.

Ceritakan tentang investasi pemerintah terhadap pariwisata ?

Pemerintah Zanzibar sedang melakukan investasi transformatif untuk membuka potensi penuh sektor pariwisata, yang telah mencatat pertumbuhan rekor. Tahun lalu, Zanzibar menyambut 736.755 pengunjung internasional, meningkat 15,4 persen dibandingkan tahun 2023 dan jauh di atas tingkat pra-pandemi, dengan tingkat hunian hotel mencapai 79,3 persen pada bulan-bulan puncak.

Investasi utama untuk mendukung pertumbuhan pariwisata pulau ini yang berkelanjutan meliputi pembangunan terminal bandara internasional baru di Bandara Internasional Abeid Amani Karume, yang telah memperluas kapasitas bandara menjadi 1,5 juta penumpang per tahun dan meningkatkan konektivitas udara ke destinasi tersebut.

Dengan pariwisata yang kini berkontribusi lebih dari 27 persen terhadap PDB Zanzibar, menyumbang 80 persen dari pendapatan devisanya, dan pendapatan sektor ini melebihi US$1 miliar pada tahun 2024, kami juga sedang mengembangkan Lembaga Pelatihan Pariwisata mutakhir untuk membekali tenaga kerja lokal dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk memenuhi standar perhotelan internasional.

Selain itu, investasi publik-swasta yang substansial diarahkan pada resor ramah lingkungan, pusat kebugaran, dan marina berkelanjutan. Inisiatif konservasi warisan budaya kami juga sama kuatnya, dan kami sedang memulihkan khazanah arsitektur di Stone Town dan situs budaya lainnya.

Untuk melindungi wisatawan dan memperkuat kepercayaan pasar, kami memperkenalkan skema asuransi pariwisata dan meluncurkan platform layanan digital.

Semua ini berlandaskan pada visi nasional kami untuk membangun ekonomi pariwisata yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing global, yang berlandaskan keberlanjutan dan didorong oleh inovasi.

Vietnam Incar Ledakan Pasar Halal Lewat Strategi Ekspor

this formate

HANOI, bisniswisata.co.id: Vietnam berada di ambang peluang ekonomi besar karena memposisikan dirinya untuk menjadi pemain penting di pasar Halal global, yang saat ini bernilai lebih dari US$3 triliun per tahun.

Sektor yang sedang berkembang pesat ini mewakili lebih dari sekadar kepatuhan agama. sektor ini telah berkembang menjadi penanda universal kualitas, keamanan, dan produksi etis yang menarik bagi konsumen di seluruh dunia.

Perkembangan terkini menunjukkan bahwa Vietnam sedang bersiap untuk membuat lompatan substansial ke pasar yang menguntungkan ini, dengan lembaga pemerintah dan perusahaan swasta berkolaborasi untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang muncul.

Pada seminar tingkat tinggi baru-baru ini di Kota Ho Chi Minh yang diselenggarakan oleh Pusat Dukungan Integrasi Internasional dan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, para pemimpin industri memetakan jalur Vietnam menuju kesuksesan di pasar Halal.

Konsensusnya jelas: meskipun terdapat tantangan, kekuatan pertanian, kemampuan manufaktur, dan posisi geografis strategis Vietnam memberikannya keunggulan unik dalam melayani pasar mayoritas Muslim dan sekitarnya.

Memahami Ekonomi Halal Global

Pasar Halal telah bertransformasi dari ceruk keagamaan menjadi kekuatan ekonomi arus utama. Apa yang awalnya merupakan pedoman penyiapan makanan bagi konsumen Muslim telah berkembang menjadi sistem komprehensif yang mencakup a.l: Makanan dan minuman, Farmasi,
Kosmetik dan perawatan pribadi, Mode dan tekstil,Pariwisata dan perhotelan dan Jasa keuangan.

Ekspansi ini mencerminkan meningkatnya kesadaran konsumen tentang asal produk, proses manufaktur, dan pertimbangan etika yang melampaui persyaratan agama. Di Asia Tenggara saja, pasar makanan halal diproyeksikan mencapai $300 miliar pada tahun 2025, dengan tingkat pertumbuhan yang melampaui sektor makanan konvensional.

Bagi Vietnam, hal ini merupakan peluang emas untuk mendiversifikasi ekspor di luar pasar tradisional. Sektor pertanian negara tersebut, yang menyumbang sekitar 15% dari PDB, berpotensi mendapatkan manfaat khususnya dari sertifikasi halal.

Produk-produk seperti kopi, makanan laut, rempah-rempah, dan buah-buahan tropis dapat dihargai lebih tinggi di pasar Timur Tengah dan Asia Tenggara dengan sertifikasi yang tepat.

Dewan Kerja Sama Teluk: Peluang Pasar Premium

Enam negara anggota GCC – Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain – mungkin merupakan peluang langsung yang paling menarik bagi eksportir Vietnam. Negara – negara kaya minyak ini memiliki beberapa karakteristik yang menjadikannya target ideal:

Daya beli tinggi: Dengan pendapatan per kapita berkisar antara $40.000 hingga $80.000, konsumen GCC mengutamakan kualitas daripada harga.

Produksi domestik terbatas: Kawasan ini mengimpor sekitar 90% kebutuhan pangannya karena kondisi kering dan terbatasnya lahan subur.

Populasi yang terus bertambah: Negara-negara GCC memiliki beberapa tingkat pertumbuhan populasi tertinggi di dunia, yang memastikan perluasan pasar.

Pusat perdagangan strategis: Terutama UEA, yang berfungsi sebagai pintu gerbang ke pasar Timur Tengah dan Afrika yang lebih luas.

Perdagangan Vietnam dengan GCC terus tumbuh, mencapai $18 miliar pada tahun 2024 dengan ekspor Vietnam senilai $7,5 miliar. Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) Vietnam-UEA yang akan segera berlaku menjanjikan percepatan pertumbuhan ini melalui pengurangan tarif dan penyederhanaan prosedur perdagangan.

Nguyen Minh Phuong, Kepala Divisi Asia Barat-Afrika di Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, menjelaskan bahwa konsumen GCC menunjukkan preferensi khusus yang selaras dengan kemampuan Vietnam.

“Kami melihat permintaan yang kuat untuk makanan laut olahan, varietas beras premium, kopi spesial, dan produk kosmetik alami – semua area di mana Vietnam memiliki keunggulan kompetitif,” ujarnya.

Potensi Besar Asia Selatan

Di luar Timur Tengah, 600 juta konsumen Muslim di Asia Selatan menghadirkan peluang besar lainnya. Pasar makanan halal di kawasan ini sendiri diperkirakan mencapai $70-$100 miliar per tahun, dengan beberapa karakteristik penting:
*Urbanisasi yang pesat mengubah pola konsumsi ke arah makanan kemasan dan olahan
*Demografi muda dengan 60% populasi berusia di bawah 35 tahun
*Pertumbuhan kelas menengah dengan peningkatan pendapatan yang dapat dibelanjakan
*Adopsi digital mendorong pertumbuhan e-commerce di sektor makanan dan barang konsumsi

Le Thi Mai Anh dari Kementerian menyoroti peluang produk spesifik: “Konsumen Asia Selatan menunjukkan minat khusus pada produk kemasan kecil, produk organik, dan suplemen kesehatan. Ada juga permintaan yang meningkat untuk bahan baku tekstil dan wewangian untuk industri garmen lokal.”

Tantangan Sertifikasi

Meskipun potensi pasarnya tidak dapat disangkal, sertifikasi halal menghadirkan tantangan yang kompleks bagi bisnis Vietnam.

Tidak seperti beberapa standar kualitas yang berlaku untuk seluruh fasilitas, sertifikasi halal mengikuti produk tertentu melalui seluruh rantai pasokan mereka – mulai dari bahan baku hingga pemrosesan, pengemasan, penyimpanan, dan transportasi.

Nguyen Thi Ngoc Hang dari Otoritas Sertifikasi Halal Vietnam menjelaskan: “Setiap bahan, setiap alat bantu pemrosesan, setiap fasilitas penyimpanan harus mematuhi persyaratan Halal.

Bahkan produk pembersih yang digunakan di fasilitas tersebut pun memerlukan verifikasi. Ini adalah sistem komprehensif yang menuntut perencanaan dan dokumentasi yang cermat.”

Lanskap sertifikasi semakin rumit karena tidak adanya standar universal. Pasar Halal utama seperti Malaysia, Indonesia, Arab Saudi, dan UEA masing-masing memiliki sistem dan persyaratan sertifikasinya sendiri.

Produk yang disertifikasi untuk Malaysia mungkin tidak secara otomatis memenuhi syarat untuk Arab Saudi, sehingga memerlukan beberapa sertifikasi bagi perusahaan yang menargetkan pasar yang berbeda.

Membangun Kesuksesan Awal

Terlepas dari tantangan-tantangan ini, beberapa perusahaan Vietnam telah berhasil menembus pasar Halal, memberikan contoh bagi perusahaan lain untuk diikuti:

Vinh Hoan Corporation: Eksportir makanan laut terkemuka ini telah mengembangkan lini pemrosesan dan sertifikasi Halal khusus untuk produk-produk utama seperti fillet basa dan produk makanan laut bernilai tambah yang ditujukan untuk pasar Timur Tengah.

Trung Nguyen Group: Raksasa kopi Vietnam ini telah meraih sejumlah sertifikasi Halal untuk produk-produk kopi premiumnya, yang memungkinkan akses ke pasar-pasar mayoritas Muslim di Asia Tenggara dan Timur Tengah.

Pemrosesan Barang Ekspor Cau Tre: Perusahaan ini telah menyesuaikan operasi pemrosesan sayurannya agar memenuhi persyaratan Halal, terutama untuk pasar di Malaysia dan Indonesia.

Para pionir ini menunjukkan bahwa meskipun proses sertifikasi membutuhkan investasi dan adaptasi, manfaatnya dalam hal akses pasar dan harga premium dapat sangat substansial.

Dukungan Pemerintah dan Inisiatif Strategis

Menyadari pentingnya pasar Halal secara strategis, otoritas Vietnam telah menerapkan beberapa langkah dukungan:

*Pembentukan lembaga sertifikasi Halal untuk menyederhanakan proses sertifikasi

*Program pelatihan untuk mengedukasi bisnis tentang persyaratan Halal

*Kegiatan promosi perdagangan yang secara khusus menargetkan pasar Halal

*Dukungan finansial untuk UKM yang ingin mendapatkan sertifikasi Halal

*Pengembangan kawasan industri Halal dengan infrastruktur sertifikasi bersama

*Kementerian Perindustrian dan Perdagangan telah mengidentifikasi pasar Halal sebagai prioritas dalam strategi diversifikasi pasarnya, terutama karena pasar tradisional menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Jalan ke Depan: Strategi untuk Sukses

Para pakar industri merekomendasikan beberapa strategi kunci bagi bisnis Vietnam yang ingin sukses di pasar Halal:

Mulailah dengan riset pasar yang menyeluruh: Pahami tidak hanya persyaratan sertifikasi tetapi juga preferensi konsumen, saluran distribusi, dan pertimbangan budaya di pasar sasaran.

Kembangkan peta jalan sertifikasi: Bekerja samalah dengan konsultan Halal berpengalaman untuk menavigasi proses sertifikasi secara efisien.

Manfaatkan kekuatan Vietnam: Fokus pada produk-produk yang sudah menjadi keunggulan kompetitif Vietnam – makanan laut, kopi, rempah-rempah, tekstil, dan kosmetik alami.

Jalin kemitraan: Berkolaborasilah dengan distributor dan peritel lokal di pasar sasaran yang memahami preferensi konsumen Halal.

Berinvestasilah dalam branding: Sertifikasi Halal saja tidak cukup – produk membutuhkan branding yang kuat yang mengomunikasikan kualitas dan keandalan.

Manfaatkan kanal digital: Banyak konsumen Halal, terutama demografi yang lebih muda, merupakan pengguna aktif platform e-commerce.

Peluang Transformatif

Seiring dengan terus meningkatnya permintaan global akan produk Halal – baik dari populasi Muslim maupun konsumen yang sadar kesehatan pada umumnya – Vietnam berada di momen yang krusial.

Keunggulan alami negara ini di bidang pertanian dan manufaktur, dikombinasikan dengan dukungan strategis pemerintah dan keahlian sektor swasta yang terus berkembang, memposisikannya dengan baik untuk menjadi eksportir Halal yang signifikan.

Perjalanan ini membutuhkan investasi dan adaptasi, tetapi potensi keuntungannya sepadan dengan upaya yang dikeluarkan.

Dengan berhasil menavigasi persyaratan sertifikasi Halal dan memahami target pasar, bisnis Vietnam tidak hanya dapat mengakses ekonomi Halal senilai $3 triliun, tetapi juga segmen pasar premium di seluruh dunia yang menghargai jaminan kualitas dan keamanan yang diwakili oleh sertifikasi Halal.

Dengan strategi yang tepat dan upaya berkelanjutan, Vietnam dapat mengikuti jejak negara-negara seperti Thailand dan Brasil yang telah membangun sektor ekspor Halal yang berkembang pesat, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekspor, dan memperkuat ketahanan ekonomi.

Far East Hospitality Tambah Dua Properti di Osaka ke Portofolio Jepang

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Far East Hospitality telah memperluas kehadirannya di Jepang dengan meluncurkan dua properti baru di Osaka dengan merek Far East Village.

Dilansir dari www.ttgasia.com, Far East Village Hotel Osaka, Namba South, dan Far East Village Hotel Osaka, Honmachi menandai langkah terbaru grup dalam rencananya untuk menggandakan portofolio menjadi 2.000 kamar di kota-kota utama Jepang – Tokyo, Osaka, Kyoto, dan Fukuoka – dalam lima tahun ke depan.

Grup ini memasuki Jepang pada Juli 2020 dengan Far East Village Hotel Tokyo Ariake, diikuti oleh hotel kedua di Yokohama pada Juni 2021. Grup ini menambahkan properti ketiga di Tokyo Asakusa pada tahun 2023 meskipun ada pembatasan perjalanan terkait pandemi.

Dengan penambahan dua hotel di Osaka, Far East Hospitality kini mengoperasikan lima hotel di Jepang dalam lima tahun setelah memasuki pasar.

Sektor pariwisata Jepang telah menunjukkan pemulihan yang berkelanjutan sejak pandemi. Di Tokyo, jumlah kedatangan wisatawan internasional antara Januari dan Oktober 2023 sekitar 12 kali lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya dan melampaui tingkat sebelum pandemi lebih dari 34 persen.

Tren peningkatan ini berlanjut pada tahun 2024, dengan negara tersebut mencatat 36,9 juta wisatawan internasional, meningkat 47,1 persen dari tahun 2023.

Grup tersebut menyatakan bahwa ekspansi berkelanjutannya didukung oleh permintaan dari wisatawan mancanegara dan pergeseran preferensi ke arah perjalanan yang personal dan berfokus pada budaya, tren yang sejalan dengan penawarannya.

Far East Village Hotel Osaka, Namba South adalah properti dengan 77 kamar yang terletak di kawasan Oku-Namba, dekat dengan tempat-tempat wisata seperti Kuil Namba Yasaka dan Dotonbori.

Hotel ini dapat dicapai dengan berjalan kaki dari Stasiun Daikokucho dan Namba, menyediakan akses ke wilayah Kansai yang lebih luas.

Far East Village Hotel Osaka, Honmachi memiliki 165 kamar dan terletak di kawasan bisnis Chuo-ku dekat Istana Osaka. Para tamu juga dapat mengakses Taman Osaka-jo dan distrik Minami dari hotel.

Panduan Village Passport tersedia bagi para tamu, yang menawarkan rekomendasi lokal tentang tempat makan, objek wisata, dan aktivitas di area tersebut.

“Kami sangat antusias untuk merangkul kekayaan budaya Jepang dan mewujudkan filosofi Live Like a Local kami, mengajak wisatawan untuk terlibat secara bermakna dengan apa yang ditawarkan Jepang.

Dengan keahlian dan komitmen kami terhadap keramahtamahan autentik, kami berharap dapat memberikan pengalaman tak terlupakan bagi tamu dan memaksimalkan potensi properti ini,” ujar Mark Rohner, Chief Operating Officer Far East Hospitality.

Masuk ke pasar Osaka melalui akuisisi dua hotel yang berlokasi di pusat kota dan kemitraan dengan Far East Hospitality untuk manajemen mereka menandai tonggak penting dalam pertumbuhan portofolio hotel yang berkelanjutan.

“Kami berharap dapat bekerja sama dengan Far East Hospitality untuk memberikan pengalaman luar biasa bagi tamu dan semakin memperkuat jejak kami di lokasi-lokasi utama di seluruh Jepang,” tambah Benjamin Cho, Principal Anglo Fortune Capital Group.

Asosiasi Hotel Mesir Tandatangani Kemitraan Strategis dengan Sommet Education untuk Memberdayakan Talenta Perhotelan Mesir

this formate

KAIRO, bisniswisata.co.id: Asosiasi Hotel Mesir (EHA) berinvestasi dalam tenaga kerja terampil untuk mendorong sektor perhotelan Mesir dan mengumumkan kemitraan besar berdurasi dua tahun dengan Sommet Education, pemimpin dunia dalam pendidikan perhotelan.

Perjanjian ini, yang mencakup Glion Institute of Higher Education dan Les Roches yang ternama dari Sommet Education, ditanda – tangani di hadapan Menteri Pariwisata dan Purbakala, Sherif Fathy.

Dilansir dari www.hospitalitynet.org, kemitraan penting ini merupakan hasil langsung dari negosiasi yang ekstensif dan cermat yang dipimpin oleh komite pelatihan EHA dan Sommet Education. Kedua belah pihak memiliki visi yang kuat untuk mendefinisikan ulang standar perhotelan di Mesir, dan komite bekerja keras untuk mengamankan perjanjian penting ini.

Kolaborasi ini kini siap untuk secara mendalam mendukung dan mengangkat seluruh sektor perhotelan. Inisiatif ini bertujuan untuk memberdayakan warga Mesir yang ambisius untuk industri perhotelan global melalui pendidikan kelas dunia, keterampilan tingkat lanjut, dan pengalaman internasional.

Perjanjian ini memberikan akses eksklusif kepada staf anggota EHA yang memenuhi syarat ke program pascasarjana dan eksekutif perhotelan di Glion dan Les Roches melalui beasiswa parsial.

Sommet Education Foundation, entitas nirlaba dari grup ini, juga akan menawarkan satu beasiswa penuh untuk salah satu program di atas kepada kandidat Mesir yang luar biasa berdasarkan kriteria kebutuhan.

Inisiatif ini merupakan kunci bagi tujuan pariwisata Mesir, sejalan dengan rencana pemerintah untuk menyambut 30 juta wisatawan pada tahun 2031 dan memperluas kapasitas hotel secara signifikan.

Dengan meningkatkan keterampilan profesional dan menyediakan pelatihan terbaik, kemitraan ini akan meningkatkan kualitas layanan, mendorong inovasi, dan memastikan pertumbuhan berkelanjutan bagi industri perhotelan Mesir.

“Kolaborasi ini merupakan pengubah permainan bagi lanskap perhotelan Mesir. Dengan membuka pintu bagi institusi ternama global seperti Glion dan Les Roches, kami memberikan akses kepada anggota kami ke pengetahuan dan keterampilan kelas dunia yang akan memajukan seluruh industri.” kata Mohamed Ayoub, Ketua Asosiasi Hotel Mesir.

Ini tentang mempersiapkan orang-orang kami untuk memimpin—tidak hanya secara lokal, tetapi juga di panggung dunia.Kolaborasi ini bertujuan untuk membangun jembatan antara talenta Mesir yang luar biasa dan pendidikan perhotelan kelas dunia.

Di Sommet Education, kami percaya bahwa semangat adalah fondasi dari layanan yang hebat. Dengan memberikan kesempatan kepada individu yang termotivasi untuk belajar di Glion dan Les Roches, kami membantu mengembangkan para pemimpin yang dapat memajukan industri perhotelan, tidak hanya di Mesir, tetapi juga secara global. “ kata Adrian Artimov, Chief Commercial Officer Sommet Education.

Selain beasiswa, kemitraan ini menawarkan pendidikan daring eksekutif, sertifikat program untuk anggota EHA, dan delapan acara pengembangan profesional bersama – 4 acara per tahun – serta jejaring, dengan Sommet Education berpartisipasi dalam semua acara besar yang diselenggarakan EHA.

Glion dan Les Roches, yang terakreditasi oleh Komisi Pendidikan Tinggi New England (NECHE), menawarkan program unggulan di bidang perhotelan, kemewahan, pariwisata, dan manajemen acara, yang memberikan perspektif global dan jalur karier langsung.

Seiring Mesir terus berkembang sebagai destinasi wisata global, kolaborasi ini menjadi kunci bagi pengembangan talenta dan pertumbuhan sektor yang berkelanjutan.

Cvent Accelerate Singapore 2025 Berdayakan Profesional Acara & Perhotelan dengan Inovasi, Wawasan, dan Peluang Jaringan

this formate

Salah satu pembicara di Cvent Accelerate Singapura

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Cvent, penyedia teknologi pertemuan, acara, dan perhotelan terkemuka di industri global, sukses menyelenggarakan Cvent Accelerate Singapore edisi keempat di Fairmont pekan lalu.

Acara yang berlangsung 12 Juli 2025. ini menarik lebih dari 600 perencana acara, pemasar, dan profesional perhotelan, mencetak rekor kehadiran baru dan menyoroti momentum yang berkembang di industri MICE.

Dilansir dari www.ncnewsonline.com, Cvent Accelerate 2025 menyoroti pergeseran strategis dari memperlakukan acara sebagai taktik yang terisolasi menjadi manfaatkannya sebagai pendorong pertumbuhan yang kuat.

Para peserta mendalami konsep Event-Led Growth—sebuah gerakan go-to-market yang menggunakan acara sebagai saluran utama untuk akuisisi dan retensi pelanggan.

Tidak seperti pendekatan tradisional seperti Sales-Led Growth dan Product-Led Growth, ELG menekankan integrasi strategis acara untuk membina hubungan yang mendalam dan mendorong hasil bisnis yang nyata.

Para peserta menjajaki solusi inovatif Cvent yang didukung AI, CventIQ. Solusi ini menawarkan serangkaian fitur cerdas yang dirancang untuk meningkatkan pengalaman peserta dan mengoptimalkan manajemen acara.

Peserta merasakan langsung manfaat asisten pribadi berteknologi AI, rekomendasi sesi yang dapat disesuaikan, dan peluang jaringan yang lebih efisien.

Will Kataria, Country Head dan Senior Director, Asia Pasifik, Cvent, mengatakan acara ini bukan lagi sekadar logistik; melainkan tentang menciptakan pengalaman tak terlupakan yang mendorong pertumbuhan dan menumbuhkan loyalitas merek.

“Sesi kami di Cvent Accelerate akan memberdayakan para pemimpin industri dengan pengetahuan dan strategi yang dibutuhkan untuk mengangkat acara menjadi komponen utama dari pendekatan pasar mereka.” Kataria menambahkan.

Acara sangat kuat; acara membangun merek, memberikan nilai ekstrinsik dan intrinsik bagi mereka yang hadir dan mengerjakannya, serta berpotensi menjadi mesin pendapatan yang kuat jika diselenggarakan dengan baik. tambahnya.

Di acara tersebut, para peserta menjajaki lanskap acara dan teknologi yang dinamis selama sehari. Para pakar industri berbagi tren dan strategi utama, yang memungkinkan peserta beradaptasi dengan perkembangan seperti perubahan pola pemesanan dan adopsi teknologi yang cepat.

Diskusi berfokus pada masa depan acara, mengkaji potensi dampaknya terhadap perencanaan dan pelaksanaan acara. Para peserta mendapatkan strategi praktis untuk menciptakan pengalaman yang menarik dan inklusif.

Keterlibatan dan pengalaman pelanggan telah menjadi faktor penting dalam mendefinisikan ulang manajemen acara. Cvent Accelerate memamerkan kekuatan transformatif dari perpaduan acara, MarTech, dan data untuk meningkatkan keterlibatan pelanggan.

Para peserta mendapatkan wawasan dan strategi yang menarik, memberdayakan mereka untuk mendorong inovasi dan unggul dalam lanskap acara yang terus berubah.

Cvent Accelerate Singapura menyediakan platform untuk kolaborasi yang lebih luas antara tempat acara, penyelenggara, dan pemasok.

Para peserta mengeksplorasi topik-topik seperti retensi acara, perencanaan, manajemen, dan peran teknologi dalam memajukan tujuan keberlanjutan.

Para inovator berbagi wawasan tentang pemanfaatan lalu lintas pejalan kaki peserta untuk menghasilkan listrik dan penerapan aeroponik untuk mengurangi limbah makanan.

Selain itu, Cvent, bersama ZEERO EVENTS, melanjutkan komitmennya terhadap keberlanjutan di Cvent Accelerate dengan memulai penanaman 412 pohon dalam proyek reboisasi bakau Mozambik.

Upaya ini, bersama dengan investasi dalam Proyek Energi Terbarukan PBB, akan mengurangi 67 ton CO2e. Selain itu, 120 pohon juga diberikan sebagai hadiah, sehingga mencapai pengurangan lebih lanjut sebesar 19.692 kg CO2e dengan mengganti barang-barang promosi tradisional dengan souvenir pohon ZEERO EVENTS untuk para peserta.

Di tahun keempatnya, Cvent Accelerate melanjutkan percakapan penting bagi para profesional acara dan perhotelan serta menyediakan platform untuk kolaborasi yang lebih erat antara tempat acara, penyelenggara, dan pemasok.

Ledakan Investasi Hotel di Italia

this formate

CHESHIRE, bisniswisata.co.id : Sektor properti perhotelan Italia sedang booming. Investasinya mencapai €2,2 miliar pada tahun 2024—atau setengahnya dari tahun sebelumnya.

Bagaimana dengan paruh pertama tahun 2025? Sudah lebih dari €1,5 miliar, menurut Laporan Pasar Properti Perhotelan 2025. Di seluruh Eropa, investasi hotel melonjak 40% menjadi €22,5 miliar.

Italia kini siap menapaki tangga kesuksesan di Eropa, didorong oleh permintaan hotel mewah, meningkatnya jumlah wisatawan, dan meluasnya pariwisata ke luar tempat-tempat populer.

Kekuatan Eropa

Dilansir dari tourism-review.com, Pasar perhotelan Eropa mencatat sekitar 1.000 transaksi pada tahun 2024. Jumlah tersebut setara dengan lebih dari 120.000 kamar dan portofolio senilai €8 miliar.

Inggris (€7,85 miliar), Spanyol (€3 miliar), dan Prancis (€2,4 miliar) merupakan pemain terbesar. Namun, Italia, yang tidak jauh tertinggal dengan €2,2 miliar, mungkin akan melampaui Prancis pada tahun 2025.

Hal ini dapat menempatkan Italia di antara tiga pasar teratas di Eropa. Segmen hotel mewah dan kelas atas di sini menarik 60% investasi, yang mencapai sekitar €2,3 miliar selama satu setengah tahun terakhir. Pada tahun 2024 saja, sekitar 6.500 kamar telah berpindah tangan.

Investasi Hotel Dinamis di Italia

Pasar properti perhotelan Italia sedang mengalami periode yang luar biasa dan dinamis. Tingkat hunian yang tinggi, peningkatan jumlah wisatawan, dan angka keuangan yang kuat seperti RevPar dan ADR turut mendukung.

Sektor perhotelan merupakan bagian penting dari perekonomian Italia. Para ahli menekankan prospek yang baik untuk tahun 2025, dengan menyebutkan investasi perhotelan sebesar €1,5 miliar yang telah masuk pada paruh pertama tahun ini.

Selain itu, munculnya “destinasi impian” di kota-kota dan wilayah yang lebih kecil juga patut dicatat. Jenis perhotelan baru ini bekerja sama dengan komunitas lokal dan memberi Italia keunggulan.

Kota-kota seperti Florence, Milan, Roma, dan Venesia? Masih populer di kalangan investor. Namun, kota-kota seperti Bologna, Genoa, Napoli, Palermo, dan Verona sedang naik daun, begitu pula dengan tempat-tempat di tepi danau dan laut.

Penyebaran yang lebih luas ini menunjukkan minat yang lebih besar dari investor institusional. Hanya sebagian kecil, sekitar 12%, dari 79 dana real estat yang aktif benar-benar berasal dari Italia.

Investasi Hotel Bernilai Mewah dan Warisan Budaya

Pada tahun 2024, aset real estat perhotelan Italia bernilai sekitar €160 miliar, meningkat 11% dibandingkan tahun 2023. Hotel menyumbang sebagian besar aset tersebut, yaitu €133 miliar (lebih dari 80%), sementara akomodasi non-hotel sekitar €29 miliar.

Jumlah properti perhotelan dalam portofolio dana real estat juga meningkat, dari 144 menjadi 191, yang dikelola oleh 25 perusahaan manajemen aset. Omzet real estat meningkat dari €3 miliar pada tahun 2023 menjadi €3,4 miliar pada tahun 2024.

Proyeksi untuk tahun 2025? Lonjakan 9% menjadi €3,7 miliar, melampaui angka sebelum tahun 2019. Segmen mewah dan kelas atas benar-benar mendorong pertumbuhan.

Mereka targetkan wisatawan internasional yang menginginkan pengalaman berkualitas tinggi. Sebagian besar kota mencatat tingkat hunian untuk hotel menengah hingga mewah di atas 65% pada tahun 2024.

Kota-kota seperti Bologna, Firenze, Milan, Roma, dan Venesia bahkan melampaui 75%. Melihat ke tahun 2025, Bologna dan Milan mendekati 80%, sementara Roma dan Venesia sedikit menurun.

Prakiraan Pariwisata yang Cerah

Prospek pariwisata Italia pada tahun 2025 tampak cerah. Kami memperkirakan sekitar 134 juta kedatangan, lebih dari 467 juta menginap, dan pengeluaran sebesar €135 miliar.

Untuk mempertahankannya, Schiavo menekankan pentingnya berinvestasi lebih banyak dalam hal-hal seperti inovasi, keberlanjutan, dan arsitektur yang baik untuk meningkatkan industri perhotelan.

Dengan memadukan sejarah Italia dengan perkembangan terbaru di dunia perhotelan, negara ini ingin tetap menjadi salah satu tempat favorit di Eropa.