Indonesia Mengerahkan 8.633 Petugas untuk Memantau Penyembelihan Hewan Idul Adha

this formate

Petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal memeriksa daging kurban di Masjid Al Hidayah di Dusun Rowosari, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Jawa Tengah, pada Rabu (27 Mei 2026).

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pertanian Indonesia telah mengerahkan 8.633 petugas veteriner di seluruh negeri untuk memantau hewan kurban menjelang Idul Adha, seiring pemerintah memperketat pengawasan terhadap kesehatan hewan, kepatuhan halal, dan standar penyembelihan.

Dilansir dari kantor betita Antara, Para petugas, termasuk dokter hewan dan tenaga paramedis, telah ditugaskan di seluruh negeri, kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Agung Suganda di Jakarta pada Rabu.

Suganda mengatakan pemantauan mencakup kesehatan hewan, kesehatan masyarakat veteriner, kesejahteraan hewan, dan kepatuhan halal, termasuk kegiatan penyembelihan yang dilakukan di luar rumah potong hewan berlisensi.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga telah mengeluarkan surat edaran dan meningkatkan sosialisasi kepada panitia kurban menjelang hari raya Islam tersebut.

Pemerintah daerah telah mengerahkan tim pemantauan tambahan yang melibatkan asosiasi dokter hewan, kelompok peternak, dan penyembelih halal bersertifikat.

Mahasiswa dari 14 sekolah kedokteran hewan juga berpartisipasi dalam inspeksi dan mengedukasi masyarakat tentang praktik penyembelihan higienis yang sesuai dengan standar kedokteran hewan.

“Insya Allah, proses penyembelihan Idul Adha 1447 Hijriah akan berjalan lancar,” kata Suganda.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan Indonesia menghadapi surplus ternak menjelang perayaan Idul Adha tahun ini.

Ketersediaan ternak kurban telah mencapai sekitar 3,2 juta ekor, sementara permintaan nasional diperkirakan mencapai 2,4 juta ekor, sehingga terdapat surplus sekitar 800.000 ekor.

Surplus tersebut mencerminkan kondisi pasokan domestik yang stabil meskipun terdapat ketidakpastian global yang lebih luas, kata Sudaryono.

“Ada surplus sekitar 800.000 ekor, yang menunjukkan bahwa negara ini tetap dalam kondisi baik,” tambahnya.

Muhammadiyah Kayu Putih Mudahkan Jemaah Sholat Idul Adha dengan Pembayaran QRIS

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sedikitnya 2000 lembar flyer Sholat Idul Adha 1447 H dibagikan kepada para jemaah sholat Idul Adha di halaman International Equestrian Park Pulomas, Jakarta Timur pagi ini.

“Total 4000 flyer dibagikan sebelum hari H untuk publik dan yang dibagikan saat pelaksanan sholat Idul Adha hari ini juga 2000 lembar,” kata Ketua Ranting Muhammadiyah Kayu Putih, H. Ferrizal Nasrullah, S.E. sebagai ketua panitia penyelenggara shalat Idul Adha.

Uniknya dalam flyer atau selebaran tersebut selain sudah tertera nama khatib dan imam masing-masing H. Fahmi Salim Lc MA dan imam Wasdi Rahman, juga ada foto pembangu-nan gedung Madrasah Diniyah 02 termasuk pengembangan Baitul Quran dan rumah tinggal imam di gedung yang sama.

Jemaah juga tinggal melakukan scan QRIS untuk infak atas nama Muhammadiyah Ranting Kayu Putih dan Baitul Quran Muhammadiyah melalui Bank BNI. Serta scan untuk naskah khutbah sholat Idul Adha 27 Mei 2026 di lapangan parkir halaman Pacuan Kuda Pulomas.

QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) adalah standar kode QR nasional yang dikembangkan oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). QRIS menggabungkan berbagai macam QR dari berbagai penyelenggara sistem pembayaran ke dalam satu kode tunggal.

“ Hasil infak Idul Adha kami prioritaskan untuk penyelesaian pembangunan Madrasah Diniyah 02, gedung tiga lantai dengan fasilitas lainnya,” kata H. Ferrizal Nasrullah SE.

Foto bersama para pengurus Ranting Muhamnadiyah Kayu Putih dan khatib H Fahmi Salim Lc MA ( ketiga dari kanan)

Pengurus Ranting Muhammadiyah ( PRM) Kayu Putih dikenal berprestasi dan pernah meraih predikat Ranting Unggulan Terbaik se-Indonesia. Tak heran gebrakan pemanfaatan QRIS untuk memudahkan jemaah mendukung pendanaan bagi fasilitas umat mendapat apresiasi dari jemaah.

“ Sebenarnya sejak tahun lalu kami sudah menerapkan sedekah, infaq melalui QRIS dan kali ini kita lebih optimalkan,” tambah H. Ferrizal.

PRM yang dipimpinnya membawahi dan mengelola beberapa amal usaha pendidikan di wilayah tersebut, di antaranya SD Muhammadiyah 41 Jakarta Timur (Berlokasi di Jl. Marmer No. 11, Kayu Putih) dan SMP Muhammadiyah 39 Jakarta Timur (Berlokasi di Jl. Marmer No. 1-7-9-11, Kayu Putih)

Fasilitas pendidikan ini telah terakreditasi A dan Muhammadiyah terus melakukan regenerasi kepengurusan, pengembangan Madrasah, Baitul Quran dan kegiatan sosial lainnya.

H. Ferrizal Nasrullah tidak menyebutkan berapa jumlah infak dari jemaah shalat Idul Adha tahun 2025 yang diterima PRM Kayu Putih dan seberapa besar kenaikan yang diterima dengan penggunaan QRIS, namun semua sangat menunjang penyediaan berbagai fasilitas untuk umat.

Selain melalui QRIS, para panitia terutama para ibu juga mengedarkan kantong sedekah di tiap saf, sementara anak-anak remaja membantu menyebarkan flyer berisi kode QRIS perbankan dan isi khotbah khotib yang bisa langsung di unduh ke handphone secara digital.

Sholat Iedul Adha 2026 Pesan Kuat Perdamaian Dunia

this formate

JAKARTA bisniswisata.co.id: Hari Raya Qurban atau Iedul Adha bukan ritual individual umat Islam tetapi menjadi pesan perdamaian yang sangat kuat ditengah situasi geopolitik, suasana perang bahwa Idul Adha adalah suatu tatanan kehidupan dunia yang sangat ideal dari Islam.

“ Ini miniatur mini kehidupan dunia versi agama Islam yang tanpa kekerasan, tanpa diskriminasi” kata khatib H. Fahmi Salim Lc M.A dihadapan jemaah sholat Iedul Adha di halaman Pacuan Kuda Pulomas, Jakarta Timur.

Sholat yang digelar oleh  Muhammadiyah Ranting Kayu Putih Pulomas ini  mengajak jemaah menjadi agen perdamaian. ” Dalam Islam ada larangan kekerasan baik verbal maupun tindakan nyata, larangan adanya pelanggaran moral maupun konflik sosial dan pesannya adalah perdamaian harus di mulai dari dalam diri sendiri, tegas khatib

Lebaran Haji atau Hari Raya Iedul Adha memperingati ketaatan luar biasa Nabi Ibrahim SAW yang mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail.

Jadi Idul Adha sangat erat kaitannya dengan ibadah haji karena perayaannya bertepatan dengan puncak pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci, serta keduanya memiliki akar sejarah yang sama yaitu napak tilas perjuangan dan ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

“Saat itu kaum lelaki umat Islam semua memakai Ihram, kain putih melilit tubuh dimana tidak ada perbedaan ras, kasta, jabatan. Semua berkumpul di Padang Arafah dan standarnya adalah ketakwaan pada Allah,” jelas H. Fahmi Salim Lc M.A

Tidak ada superioritas dan menjadi simbol perlawanan terhadap rasisme. Ibadah ini mempertemukan semua umat Islam dari berbagai belahan dunia dengan Standar Operation Procedure ( SOP) ibadah yang sama dan hanya menyembah satu tuhan  Alkah SWT sang Maha Pencipta. Pesannya meski berbeda-beda tetapi tetap satu.

“Ribuan tahun lalu Allah SWT sudah mempertemukan manusia dari berbagsi bangsa di Baitullah sehingga Mekkah menjadi Zona aman global, siapa yang masuk ke Baitullah. Tidak boleh membunuh termasuk pada hewan dan tanaman. Belajar standar ketakwaan pada Allah adalah dengan berkurban,” tegasnya.

Berkurban selain menunjukkan akhlak individu seorang Muslim juga simbol pengorbanan dalam hidup berdampingan di dunia ini dan sekaligus umat Islam dunia menunjukkan adanya suatu distribusi kesejahteraan secara massal di seluruh dunia karena perintah berkurban hewan kambing dan sapi adalah untuk memberikan daging qurban pada orang yang membutuhkan.

“ Jadi umat Islam sendiri adalah model dari perdamaian dunia yang memperlihatkan bagaimana keadilan sosial harus dijalankan, dunia harus berjalan dengan toleransi, kolaborasi karena dunia membutuhkan kedamaian bukan konflik,”

Idul Adha mengajarkan dunia bahwa
menyembelih hewan qurban sesuai perintah agama adalah bentuk kecintaan dan agar menyebarkan nilai – nilai Islam dalam kehidupan sehari- hari.

Sementara itu imam Wasdi Rahman yang memimpin sholat memilih Surah Al-A’la yang disunnahkan dibaca pada saat Sholat Jumat, Sholat Idul Fitri dan Idul Adha, serta Sholat Witir. Rasulullah SAW sangat menyukai surat ini karena berisi tasbih (penyucian Allah) dan penetapan kekuasaan-Nya.

Di rakaat kedua, imam membaca Surah Al-Ghasyiyah yang sering disebut sebagai Hari Pembalasan yang mengajak manusia untuk merenungkan kebesaran Allah melalui penciptaannya mulai dari hewanbunta, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung ditegakkan, dan bagaimana bumi dihamparkan.

WTTC: Perjalanan & Pariwisata Meningkat Setelah Pemulihan yang Efektif

this formate

LONDON, bisniswisata.co.id: Perjalanan & Pariwisata Meningkat Setelah Pemulihan yang Efektif” Kata WTTC dalam Laporan Global Baru yang Memperkuat Ketahanan Sektor yang Terbukti Setelah Krisis

Dewan Perjalanan & Pariwisata Dunia (WTTC) telah meluncurkan laporan global terbarunya, “Mempercepat Pemulihan Perjalanan & Pariwisata – Bukti Global dari Empat Dekade Krisis,” selama acara Leadership Cruise yang bersejarah di Mesir, mengirimkan pesan yang kuat kepada pemerintah, investor, dan wisatawan di seluruh dunia: pariwisata selalu pulih.

Diluncurkan di atas kapal Crystal Serenity saat para pemimpin global melintasi Terusan Suez, laporan yang dikembangkan dalam kemitraan dengan Chemonics International dan Sekolah Bisnis Universitas George Washington ini, mengacu pada data global selama empat dekade.

Hal ini untuk mengkonfirmasi ketahanan struktural sektor tersebut. Di antara 100 peristiwa krisis signifikan, tidak ada destinasi yang mengalami keruntuhan jangka panjang setelah krisis berakhir, terutama dengan kepemimpinan yang kuat dari pemerintah. Pemulihan tidak hanya konsisten, tetapi dalam banyak kasus mengarah pada pertumbuhan yang lebih kuat.

Mesir sendiri, tempat KTT Kepemimpinan diadakan, adalah contoh ketahanan tersebut, yang bangkit kembali dengan kuat setelah beberapa krisis.

Peluncuran ini datang pada saat yang kritis bagi Pariwisata global, karena sektor ini terus menghadapi ketidakpastian geopolitik sambil mendorong pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia.

Menurut data terbaru WTTC, Pariwisata menyumbang US$11,6 triliun terhadap PDB global pada tahun 2025 (9,8% dari ekonomi global) dan mendukung 366 juta pekerjaan, satu dari setiap sembilan pekerjaan di seluruh dunia.

Sektor yang Didefinisikan oleh Ketahanan

Penelitian baru WTTC menegaskan bahwa pemulihan bukanlah pertanyaan tentang “apakah,” tetapi “seberapa cepat.” Bahkan di tengah pandemi COVID-19, guncangan global terparah dalam sejarah modern.

Perjalanan internasional pulih dari penurunan 72% pada tahun 2020 menjadi 1,47 miliar kedatangan pada tahun 2024 (sama seperti pada tahun 2019), dan pada tahun 2025, pengeluaran wisatawan internasional mencapai rekor $2,02 triliun.

Demikian pula, setelah krisis keuangan global 2008, sektor ini pulih hanya dalam dua tahun, kemudian mencetak rekor baru dalam kedatangan internasional dan mencapai US$1,35 triliun dalam pengeluaran wisatawan internasional pada tahun 2010.

Laporan ini menunjukkan bahwa dalam sebagian besar kasus, destinasi tidak hanya pulih tetapi juga melampaui puncak sebelumnya, menunjukkan bahwa gangguan seringkali menciptakan peluang untuk transformasi, investasi, dan pertumbuhan.

Pelayaran Kepemimpinan: Platform Global untuk Pemulihan

Laporan ini diluncurkan selama Pelayaran Kepemimpinan pertama WTTC yang mempertemukan para Menteri, mantan Kepala Negara, dan CEO dari seluruh ekosistem Pariwisata & Perjalanan global.

Acara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Mesir ini berfungsi sebagai platform tingkat tinggi untuk mempercepat pemulihan melalui kolaborasi publik-swasta, dengan diskusi yang berfokus pada pemulihan konektivitas, membangun kembali kepercayaan wisatawan, dan membentuk pertumbuhan sektor pariwisata dekade berikutnya.

Perlintasan simbolis melalui Terusan Suez, salah satu jalur perdagangan global terpenting di dunia, menggarisbawahi pesan utama dari acara dan laporan tersebut: konektivitas dan kerja sama global sangat penting untuk pemulihan.

Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC, mengatakan organisasinya mengirimkan pesan yang jelas dan berbasis bukti kepada dunia: Pariwisata selalu pulih. Laporan ini membuktikan apa yang telah berulang kali ditunjukkan oleh sektor pariwisata bahwa ketahanan tertanam dalam DNA.

Bahkan setelah krisis yang paling parah, orang-orang terus bepergian, dan destinasi kembali lebih kuat, dengan tindakan yang lebih cepat mengarah pada pemulihan yang lebih cepat, tegas Gloria Guevara

“Peluncuran laporan ini selama Pelayaran Kepemimpinan kami di Mesir, pada momen yang sangat penting ini, memperkuat pentingnya kepemimpinan, koordinasi, dan kepercayaan dalam mempercepat pemulihan,”

Pertanyaannya bukanlah apakah sektor ini akan pulih, tetapi seberapa cepat kita memilih untuk memungkinkan pemulihan tersebut.

Anna Slother, Presiden Chemonics International, menambahkan bahwa Chemonics telah menghabiskan puluhan tahun mendukung pariwisata dan pembangunan ekonomi di lingkungan yang kompleks, di mana gangguan tidak dapat dihindari.

Bermitra dengan WTTC membawa pengalaman praktis itu ke dalam kerangka kerja global, menghubungkan strategi dengan realitas di lapangan.

Di ujung rantai itu terdapat lapangan kerja, usaha mikro, dan bisnis pariwisata kecil yang paling rentan terhadap krisis dan yang paling diuntungkan dari pemulihan yang efektif. Itulah yang pada akhirnya dilayani oleh kesiapan, dan yang tetap kami dukung.”

Ibrahim Osta, Direktur Senior Pertumbuhan Ekonomi & Pemimpin Pariwisata Global, Chemonics International, mengatakan di setiap krisis pariwisata besar ketidakstabilan geopolitik hingga terorisme dan pandemi, pemulihan tidak pernah terjadi secara kebetulan.

“Destinasi yang muncul lebih kuat adalah destinasi yang menggabungkan kepemimpinan yang tegas, koordinasi publik-swasta, dan dukungan berkelanjutan untuk bisnis kecil dan komunitas yang membentuk tulang punggung ekonomi pengunjung.” tegasnya.

Dari Pemulihan Menuju Pertumbuhan

Laporan ini menyoroti bahwa kecepatan dan kekuatan pemulihan terutama bergantung pada kualitas respons kebijakan, khususnya koordinasi antara pemerintah dan sektor swasta, komunikasi yang jelas, dan investasi berkelanjutan selama masa krisis.

Mengidentifikasi empat pilar untuk membangun kerangka kerja pariwisata yang tangguh dan mempercepat pemulihan: memulihkan kepercayaan wisatawan, menjaga keberlangsungan bisnis, memastikan respons kelembagaan yang tegas, dan mendorong adaptasi struktural jangka panjang.

Laporan ini juga menguraikan lima prinsip utama berbasis bukti bagi para pembuat kebijakan dan investor untuk mendorong pemulihan yang lebih cepat

Berinvestasi secara kontra-siklik pada titik terendah krisis, melindungi UKM sebagai tulang punggung sektor ini, menjaga konektivitas udara sebagai aset strategis, menghindari reaksi berlebihan dalam penyampaian pesan dan kebijakan, dan menggunakan gangguan untuk membangun ke depan melalui transformasi dan diversifikasi.

Seperti yang disoroti sepanjang diskusi Leadership Cruise, prinsip-prinsip ini telah membentuk fase selanjutnya dari sektor ini: bergerak melampaui pemulihan menuju pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.

Momen Penting bagi Sektor Ini

Peluncuran “Mempercepat Pemulihan Pariwisata & Perjalanan” menandai momen penting bagi sektor global, memperkuat peran WTTC sebagai suara sektor swasta dan penyelenggara kepemimpinan global.

Seiring dengan pemulihan dan perkembangan Pariwisata & Perjalanan, pesan dari Mesir jelas: kepercayaan kembali, konektivitas semakin kuat, dan sektor ini tetap menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi yang paling tangguh dan dinamis di dunia

UN Tourism dan Bahama Soroti Inovasi yang Bentuk Masa Depan Pariwisata Karibia

this formate

MADRID, bisniswisata.co.id: UN Tourism, bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata, Investasi, dan Penerbangan Bahama, telah menyoroti generasi baru inovator yang memajukan pariwisata tangguh di Karibia.

Tantangan Kepulauan Berkelanjutan Bahama (Bahamas Sustainable Islands Challenge) diciptakan untuk mengenali ekosistem startup yang sedang berkembang serta kebutuhan akan kolaborasi lintas Karibia yang lebih besar, investasi yang lebih banyak, dan kemitraan publik-swasta yang lebih kuat.

Direktur Eksekutif Pariwisata PBB  ( UN Tourism) Natalia Bayona mengatakan pariwisata menyumbang 15% dari PDB di Bahama, menjadikannya mesin ekonomi dan sumber kerentanan.

“Kami mengidentifikasi solusi dan membangun jalur wirausahawan yang mampu mengatasi tantangan kritis di Bahama dan Karibia yang lebih luas, sambil membantu mengkatalisasi ekosistem startup regional yang berkembang pesat yang didorong oleh kolaborasi lintas Karibia yang lebih kuat.”

BahamaPenerima Penghargaan:
*Juara Kedua – Kategori 1: Konservasi Laut dan Kelautan: Island Bey Coastal Stewards
*Juara Kedua – Kategori 3: Teknologi Hijau untuk Pariwisata Berkelanjutan: Coco Bliss Bahamas
*Juara Pertama – Kategori 1: Konservasi Laut dan Kelautan: Bluequest Bahamas
*Juara Pertama – Kategori 2: Pariwisata Lokal dan Berbasis Komunitas: Access Island Guide
*Juara Pertama – Kategori 3: Teknologi Hijau untuk Pariwisata Berkelanjutan: Program Daur Ulang Out Island Water Company

Pemenang Keseluruhan – Tantangan Inovasi Pulau Berkelanjutan Pariwisata PBB Bahama: Program Daur Ulang Out Island Water Company.

Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pariwisata, Direktur Jenderal Kementerian Pariwisata, Investasi & Penerbangan, Latia Duncombe, mengatakan: “Bahamas Sustainable Island Challenge menunjukkan bagaimana destinasi pulau kecil dapat memimpin transformasi pariwisata global melalui inovasi,”

Dengan memberdayakan pengusaha lokal untuk mengembangkan solusi dalam keberlanjutan, pariwisata berbasis komunitas, dan teknologi hijau, Bahama secara sengaja membangun ekosistem inovasi yang memperkuat ketahanan, menarik investasi, dan mengubah kerentanan kita menjadi keunggulan kompetitif jangka panjang, tanbahnya.

“Tantangan ini membawa perhatian global pada solusi yang dibentuk oleh tangan-tangan Bahama, wawasan Bahama, dan pengalaman Bahama, “ kata Latia Duncombe.

Melalui kemitraan dengan UN Tourism, pihaknya menerjemahkan solusi tersebut menjadi peluang yang siap dipasarkan, memastikan bahwa pariwisata berkelanjutan di Bahama tidak hanya dibahas di tingkat kebijakan, tetapi juga dimajukan melalui inovasi praktis dan dampak yang terukur.

Mendukung inovator Karibia

Enam finalis dibimbing oleh Caribbean Climate Innovation Center (CCIC), Program Pembangu-nan PBB (UNDP), Tech Beach Retreat, UnTours, dan Kerja Sama Pengembangan Pariwisata Bahama.

Semua pemenang mendapatkan modal awal dari Kerja Sama Pengembangan Pariwisata Bahama, akan bergabung dengan Jaringan Inovasi Global Pariwisata PBB, dan mendapat-kan beasiswa untuk Akademi Daring Pariwisata PBB. Pemenang akan mendapatkan manfaat dari program akselerasi lebih lanjut.

Sebagai yang pertama dari jenisnya di Karibia, inisiatif ini meletakkan dasar untuk kolaborasi di masa depan. Pariwisata PBB dan para mitranya akan memperluas model ini.

Gunanya memperkuat ekosistem inovasi untuk Negara-Negara Kepulauan Kecil yang Sedang Berkembang (SIDS).Tantangan ini juga didukung oleh mitra termasuk Bank Pembangunan Inter-Amerika (IDB), dan Katapult Ventures.

PATA Luncurkan Program Mikro-kredensial, Fasilitasi Pelatihan Keterampilan yang Relevan bagi Para Profesional Pariwisata

this formate

Noor Ahmad Hamid, CEO, PATA, mengumumkan peluncuran program Mikro-kredensial di KTT Tahunan PATA 2026 di Gyeongju, Korea (ROK)

BANGKOK, bisniswisata.co.id: Asosiasi Perjalanan Pasifik Asia (PATA) secara resmi meluncurkan Program Mikro-kredensial PATA, sebuah inisiatif pembelajaran global baru yang bertujuan untuk memberdayakan para profesional pariwisata di Asia Pasifik dengan keterampilan praktis yang didorong oleh industri,

Program yang diluncurkan pada KTT Tahunan PATA 2026 (PAS 2026), pekan lalu
diselenggarakan di src.pata.org, terdiri dari kursus singkat yang dikembangkan oleh dua anggota PATA, yaitu EarthCheck dan The Sigmund Project, dengan pembelajaran mandiri dan konten yang berfokus pada pengetahuan pariwisata yang relevan.

Kelompok sasaran adalah para profesional tingkat pemula hingga senior, pengusaha dan UKM, serta organisasi pemerintah dan pariwisata. Peserta didik juga akan mendapatkan sertifikat digital setelah menyelesaikan pelatihan.

CEO PATA, Noor Ahmad Hamid mengatakan, “Industri pariwisata berkembang pesat, dan banyak profesional serta organisasi berupaya untuk mengikuti perkembangan tantangan, teknologi, dan harapan baru.

“Di PATA, salah satu tujuan utama kami selalu mendukung industri melalui berbagi pengetahuan dan kolaborasi. Melalui inisiatif ini, kami berharap dapat membuat pembelajaran praktis lebih mudah diakses dan fleksibel, sambil memanfaatkan keahlian dan pengalaman jaringan global PATA,”

PATA percaya bahwa dengan berbagi pengetahuan dan belajar dari satu sama lain, kami dapat membantu para pemangku kepentingan pariwisata di seluruh wilayah untuk tumbuh, beradaptasi, dan bergerak maju bersama, tambahnya

Kursus awal yang tersedia dalam program ini meliputi:

Mengintegrasikan ESG ke dalam UKM Pariwisata – EarthCheck; Kursus ini menawarkan strategi ESG praktis bagi bisnis pariwisata kecil untuk membangun operasi yang lebih berkelanjutan dan meningkatkan efisiensi.

Peserta akan mempelajari tindakan sederhana dan hemat biaya yang dapat memberikan dampak lingkungan dan sosial yang terukur.

Pemasaran Berbasis AI untuk Profesional Pariwisata – Proyek SigmundKursus ini menawarkan aplikasi praktis AI untuk menciptakan kampanye pemasaran yang lebih cepat dan cerdas, memproduksi konten, iklan, dan materi branding secara internal, serta secara signifikan mengurangi waktu pemasaran dan biaya produksi

GSTC  Bergabung dengan Dewan Wawasan Melampaui Pariwisata ( BTIC) Forum Ekonomi Dunia

this formate

WASHINGTON, bisniswisata co.id: Dewan Pariwisata Berkelanjutan Global (GSTC) telah bergabung dengan Dewan Wawasan Melampaui Pariwisata (BTIC), sumbangkan keahliannya dalam standar pariwisata berkelanjutan, kolaborasi sektor publik dan swasta, dan praktik keberlanjutan yang kredibel untuk dialog global tentang masa depan perjalanan dan pariwisata.

Inisiatif Melampaui Pariwisata, yang diluncurkan oleh Forum Ekonomi Dunia bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata Arab Saudi, bertujuan untuk mendukung transformasi sektor pariwisata global melalui tindakan terkoordinasi dan terukur di seluruh bidang keberlanjutan, inklusi, dan ketahanan.

Dengan menyatukan pemerintah, bisnis, komunitas, masyarakat sipil, dan sektor terkait, inisiatif ini akan mengeksplorasi bagaimana perjalanan dan pariwisata dapat melampaui batas-batas sektor tradisional dan berkontribusi lebih efektif terhadap kemakmuran inklusif, ketahanan jangka panjang, dan pertumbuhan berkelanjutan.

Inisiatif ini menyoroti perlunya keselarasan yang lebih besar di seluruh pendorong utama seperti sumber daya manusia dan keterampilan, keuangan, infrastruktur, teknologi dan inovasi, serta kebijakan dan tata kelola.

Dokumen ini mengakui pariwisata sebagai ekosistem yang saling terhubung, bukan sebagai industri yang berdiri sendiri, dan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi tantangan bersama dan membuka manfaat yang lebih luas bagi destinasi, bisnis, komunitas, dan wisatawan.

Selama tiga tahun ke depan, Kementerian Pariwisata Arab Saudi dan Forum Ekonomi Dunia akan fokus pada pembangunan komunitas yang beragam, pengembangan alat praktis, dan percontohan model pariwisata berkelanjutan.

Prioritas utama Dewan Wawasan Pariwisata Luar Biasa (Beyond Tourism Insights Council) meliputi peluncuran edisi berikutnya dari Indeks Pengembangan Perjalanan & Pariwisata yang berpengaruh dan pengenalan platform Bintang Dampak Pariwisata Luar Biasa (Beyond Tourism Impact Stars) untuk menyoroti inovasi di sektor swasta. GSTC diwakili dalam dewan tersebut oleh Wendy Li, Direktur Program Nasional GSTC.

“GSTC senang dapat berkontribusi pada Dewan Wawasan Pariwisata Luar Biasa. Seiring pariwisata terus berkembang, sangat penting bahwa keberlanjutan tidak diperlakukan sebagai topik terpisah, tetapi sebagai bagian inti dari bagaimana sektor ini direncanakan, dikelola, dan diukur. Standar GSTC menyediakan kerangka kerja praktis untuk membantu destinasi dan bisnis bergerak maju,” kata Randy Durband, CEO GSTC.

Partisipasi GSTC dalam Beyond Tourism Insights Council mencerminkan komitmen berkelanjutannya untuk memajukan pemahaman bersama tentang pariwisata berkelanjutan secara global, yang didasarkan pada standar yang kredibel, panduan praktis, dan kolaborasi di seluruh sektor publik dan swasta

ICCA Memamerkan Data, Teknologi, dan Intelijen Strategis di IMEX Frankfurt

this formate

AMSTERDAM, bisniswisata.co.id:International Congress and Convention Association (ICCA) telah mengakhiri kehadirannya di IMEX Frankfurt, menyoroti pekerjaan yang sedang berlangsung dalam penelitian, teknologi, dan kolaborasi untuk mendukung komunitas acara bisnis global.

Sepanjang minggu, ICCA berinteraksi dengan anggota dan pemangku kepentingan industri untuk berbagi informasi terbaru tentang inisiatif terbarunya, termasuk solusi teknologi baru, publikasi penelitian utama, dan pengembangan kolaboratif di seluruh ekosistem pertemuan.

Fokus utama adalah Teknologi ICCA, dengan presentasi ICCA Business Intelligence Pro, sebuah rangkaian intelijen terintegrasi yang dikembangkan secara eksklusif untuk anggota ICCA.

Platform ini menyatukan kumpulan data terstruktur dan alat analitik yang dirancang untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti bagi destinasi dan organisasi yang beroperasi di pasar pertemuan global.

Solusi ini menggabungkan intelijen penawaran, diagnostik strategis, dan peningkatan visibilitas aktivitas asosiasi, dengan memanfaatkan sumber daya data ICCA yang telah lama ada.

ICCA juga menyoroti pembentukan EEEIA, yang mencerminkan komitmen bersama di seluruh industri untuk kolaborasi, penyelarasan, dan kemajuan kolektif yang lebih kuat dalam ekosistem acara.

Riset tetap menjadi fokus utama. ICCA memamerkan edisi terbaru ICCA GlobeWatch: Business Analytics – Country & City Rankings, yang menganalisis data dari 12.438 pertemuan asosiasi internasional di seluruh dunia.

Peringkat ini terus berfungsi sebagai titik referensi global terkemuka untuk pertemuan asosiasi, menawarkan wawasan terstruktur tentang aktivitas pertemuan internasional berdasarkan negara, kota, wilayah, dan sektor.

Dr. Senthil Gopinath, CEO ICCA mengungkap-kan peran organisasinya adalah untuk membekali industri pertemuan global dengan informasi yang andal dan perspektif jangka panjang.

“Melalui inisiatif riset dan teknologi kami, ICCA terus mendukung anggota dan pemangku kepentingan dalam memahami di mana pertemuan berlangsung dan bagaimana pertemuan tersebut berkontribusi pada tujuan ekonomi, sosial, dan kelembagaan.” jekasnya

Saat IMEX Frankfurt berakhir, ICCA menegaskan kembali komitmennya untuk melayani sebagai komunitas global bagi industri acara bisnis, mendukung anggotanya melalui riset yang berwibawa, data yang terpercaya, dan inovasi yang berfokus pada anggota.

Timor-Leste Resmi Memulai Proyek Pariwisata Utama Lainnya

this formate

DILI,  Timor-Leste, bisniswisata co.id: Timor-Leste secara resmi telah memulai pembangunan Pusat Konvensi Internasional baru, sebuah pembangunan penting yang diharapkan dapat memperkuat sektor pariwisata dan acara negara tersebut menjelang Kepemimpinan ASEAN pada tahun 2029.

Batu fondasi diletakkan pada tanggal 20 Mei 2026, selama perayaan kemerdekaan nasional, oleh Perdana Menteri Xanana Gusmão, Presiden José Ramos-Horta, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pariwisata dan Lingkungan Hidup Francisco Kalbuadi Lay, Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn, dan Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles.

Terletak di tepi pantai kawasan pelabuhan lama Dili, pembangunan ini akan menampilkan fasilitas konvensi utama dengan ruang konferensi, auditorium, dan ruang pameran. Fasilitas ini juga akan mencakup atraksi rekreasi dan pengunjung seperti promenade pejalan kaki di sepanjang dermaga, akuarium,

kincir ria, dan kawasan hiburan dan ritel.

Pusat konvensi ini akan memainkan peran penting dalam persiapan Timor-Leste untuk menjadi tuan rumah pertemuan regional dan internasional besar, termasuk acara-acara yang terkait dengan Kepemimpinan ASEAN pada tahun 2029, seperti KTT Kepala Negara.

“Seiring dengan komitmen ASEAN kami, fasilitas konvensi baru ini akan memberikan dorongan besar bagi sektor pariwisata Timor-Leste yang sedang berkembang dengan memberi kami kapasitas untuk menjadi tuan rumah pertemuan dan acara regional dan internasional besar,” kata Antonio da Silva, Direktur Jenderal Pariwisata.

“Ini juga akan memperkuat kemampuan kami untuk menarik pasar pertemuan, insentif, konferensi, dan pameran (MICE) bernilai tinggi di seluruh Asia Tenggara.”

Proyek ini merupakan kelanjutan dari tiga investasi infrastruktur besar lainnya yang diharapkan selesai pada tahun 2029, yang akan semakin mendukung pertumbuhan pariwisata Timor-Leste dan perekonomian secara lebih luas.

Antara lain peningkatan bandara internasional Dili senilai USD 300 juta, konversi Pelabuhan Tibar Bay menjadi terminal kapal pesiar, dan Proyek Rehabilitasi Tepi Laut Dili.

Kepemimpinan ASEAN Membuahkan Keuntungan Besar bagi Pariwisata Filipina

this formate

Filipina Tuan rumah. KTT Pemimpin ASEAN ke-48 di Cebu dibuka dengan pertunjukan budaya di Mactan Expo Center di Lapu-Lapu City, Cebu (Foto PNA oleh Avito Dalan)

MANILA, bisniswisata.co.id: Selain meningkatkan reputasi Filipina sebagai pemimpin regional, kepemimpinan negara ini di Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) membawa keuntungan yang lebih langsung dan nyata bagi warga Filipina, dorongan yang sangat dibutuhkan untuk pariwisata dan perhotelan lokal dari wisatawan ASEAN yang berharga.

Negara ini telah lama menganggap ASEAN sebagai sumber utama wisatawan jarak pendek, mengandalkan kebijakan yang ada yang memungkinkan warga Asia Tenggara untuk bepergian tanpa visa di dalam kawasan tersebut.

Jika Filipina sepenuhnya menguasai Asia Tenggara, negara ini akan memiliki pasar yang sudah berada di jalur untuk menjadi ekonomi terbesar ke-4 di dunia pada tahun 2030.

Data dari Forum Ekonomi Dunia memproyeksikan bahwa pada tahun 2030, ASEAN berada di jalur untuk menjadi ekonomi terbesar ke-4 di dunia.

“Strategi kami selama kepemimpinan ini memanfaatkan pergeseran ini. Kami menyesuaikan intervensi kami untuk memastikan Filipina menjadi pilihan utama bagi negara-negara tetangga regional kami yang semakin makmur,” kata juru bicara Departemen Pariwisata (DOT), Ina Zara-Loyola, kepada Philippine News Agency.

Pada bulan Januari lalu, negara ini mengamankan prospek penjualan senilai PHP1,44 miliar dan menjadi tuan rumah bagi lebih dari 2.000 orang di Cebu untuk Travel Exchange dan Forum Pariwisata ASEAN (ATF) 2026 saja.

“Ini adalah bukti nyata bahwa tanggung jawab penyelenggaraan kami saat ini menghasilkan keuntungan ekonomi yang langsung dan substansial bagi rantai nilai pariwisata lokal kami,” kata Zara-Loyola.

Di industri perhotelan, kepemimpinan Filipina mendorong “permintaan bernilai tinggi” di antara hotel-hotel — mulai dari paket pertemuan dan tarif kamar hingga makanan dan minuman, transportasi, dan pengalaman yang dikurasi.

Loleth So, Presiden Asosiasi Penjualan dan Pemasaran Hotel (HSMA) dan Direktur Komersial Grup Megaworld Hotels & Resorts, mengatakan pertemuan-pertemuan tersebut memberikan eksposur dan akses yang lebih kuat kepada anggota HSMA ke segmen bernilai tinggi seperti Pertemuan, Insentif, Konferensi, dan Pameran (MICE).

Pertemuan tingkat tinggi ini, katanya, sangat berharga dalam menampilkan Filipina sebagai “pemain kompetitif” di kancah MICE dengan kemampuan untuk menyelenggarakan acara berskala besar.

“Pada saat sebagian industri mengalami penurunan kinerja karena ketidakpastian global, peluang ini membantu mengimbangi kerugian dan mempertahankan momentum bisnis,” katanya kepada PNA.

“Bahkan dengan penurunan kehadiran yang dilaporkan sebesar 43 persen, industri telah menunjukkan bahwa permintaan premium masih dapat dipenuhi ketika hal itu paling penting,” tambahnya.

Meskipun masih menjabat sebagai ketua ASEAN, Loleth So mengatakan negara ini harus menggandakan upaya untuk mempertahankan momentum tersebut.

“Menjadi tuan rumah tidak boleh dilihat sebagai momen sesaat, tetapi sebagai momentum yang diterjemahkan menjadi permintaan jangka panjang,” katanya.

“Ini berarti memperkuat konektivitas, memastikan pengalaman perjalanan yang lancar, dan mempertahankan pesan global yang jelas dan konsisten tentang apa yang ditawarkan Filipina,” tambahnya.

Sorotan pada Cebu

ASEAN adalah kelompok ekonomi dan politik dengan 11 negara anggota pada tahun 2025, yaitu Filipina, Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Timor-Leste.

Filipina memulai tugasnya sebagai tuan rumah ASEAN setahun lebih awal dari jadwal, setelah Myanmar — yang awalnya dijadwalkan untuk memimpin ASEAN 2026 — diskors dari jabatan ketua pertemuan tersebut menyusul kudeta militer pada tahun 2021.

Pertemuan-pertemuan besar yang diselenggarakan di bawah kepemimpinan sejauh ini termasuk ATF pada bulan Januari dan KTT Pemimpin ASEAN ke-48 pada bulan Mei — semuanya diadakan di provinsi pulau Cebu.

Oleh karena itu, Cebu telah “melihat aktivitas yang menggembirakan” sebagai destinasi tuan rumah, yang mampu mendorong “peningkatan yang signifikan dibandingkan kinerja dasar” di sektor perhotelan.

Pemilihan Cebu sebagai tempat penyelenggaraan bersifat strategis.

Dari sekian banyak pulau populer di negara ini, Kongres Pariwisata Filipina (TCP) mengatakan Cebu adalah salah satu provinsi yang telah “berkembang secara signifikan” dalam hal inventaris hotel, infrastruktur pariwisata, dan profesionalisme pariwisata.

Lokasinya, tambahnya, memungkinkan wisatawan untuk dengan mudah mengakses destinasi terdekat seperti Bohol, Siquijor, Dumaguete, Siargao, dan Palawan.

“Ini membuat perjalanan lebih nyaman bagi wisatawan ASEAN yang semakin lebih menyukai perjalanan multi-destinasi dan berbasis pengalaman daripada perjalanan satu destinasi,” kata Presiden TCP James Montenegro kepada PNA.

“Banyak destinasi ASEAN memiliki garis pantai dan resor yang indah, tetapi Cebu menawarkan ekosistem pariwisata yang lebih seimbang dan terintegrasi. Ini menggabungkan rekreasi, bisnis, budaya, menyelam, gastronomi, belanja, kesehatan, dan konektivitas dalam satu destinasi,” tambahnya.

Montenegro mengatakan warisan budaya Cebu yang kaya dan identitas kuliner yang beragam juga memungkinkan “pengalaman yang lebih dalam dan lebih otentik” di luar pariwisata pantai tradisional.

“Wisatawan ASEAN saat ini tidak hanya mencari destinasi; mereka mencari pengalaman manusia yang otentik dan hangat, dan itu tetap menjadi salah satu keunggulan terkuat Filipina,” katanya.

Memaksimalkan Kepemimpinan ASEAN

Sementara itu, ia mengatakan Manila harus menggunakan kepemimpinan ASEAN sebagai platform untuk memengaruhi prioritas pariwisata regional dan memperkuat kepercayaan investor di negara tersebut.

Ia mengatakan Filipina harus mendorong konektivitas udara yang lebih kuat antara kota-kota sekunder ASEAN dan gerbang-gerbang baru seperti Cebu, Clark, Bohol, Palawan, dan Kalibo.

Montenegro mendesak ASEAN untuk memposisikan diri sebagai kawasan “pusat konektivitas utama untuk pelayaran dan wisata antar pulau”—sebuah langkah yang akan sangat menguntungkan Filipina dengan lokasi geografis dan garis pantainya yang luas.

Selain itu, dia menyarankan peningkatan kerja sama ASEAN dalam standar keberlanjutan, pengembangan tenaga kerja pariwisata, sistem pariwisata digital, dan inisiatif perjalanan tanpa hambatan.

“Sebagai ketua ASEAN, Filipina mendapatkan platform yang lebih kuat untuk memengaruhi prioritas pariwisata regional dan meningkatkan visibilitas negara sebagai tujuan pariwisata dan investasi,” katanya.

“Yang lebih penting, kepemimpinan ASEAN membantu memperkuat kepercayaan di antara investor, maskapai penerbangan, operator hotel, dan pemangku kepentingan pariwisata internasional ,”

Yaitu dengan memposisikan Filipina sebagai pemimpin aktif dalam membentuk kebijakan pariwisata regional dan kolaborasi pariwisata jangka panjang di seluruh Asia Tenggara,” tambahnya.

Menaklukkan Asia Tenggara

Sejak ASEAN mengadopsi perjanjian bebas visa tahun 2006, perjalanan antara Filipina dan negara-negara anggota ASEAN lainnya telah meningkat lebih dari dua kali lipat, dengan destinasi seperti Boracay, Palawan, dan Bohol sebagai “favorit utama” di kalangan wisatawan Asia Tenggara.

Berdasarkan data Departement of Tourisn (DOT) Filipina tahun lalu menyambut total 446.227 pengunjung dari sembilan negara ASEAN — Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam, naik dari 202.886 pengunjung yang tercatat dari kawasan tersebut ketika skema bebas visa diperkenalkan pada tahun 2006.

Namun pertanyaannya tetap ada. Dapatkah Filipina sebagai destinasi benar-benar bersaing dalam menarik wisatawan Asia Tenggara ketika negara-negara tetangga ASEAN menawarkan pengalaman liburan yang relatif serupa?

Bagi Montenegro, jawabannya adalah ya.

Eksekutif tersebut mengatakan Filipina memiliki apa yang dicari sebagian besar wisatawan dalam sebuah destinasi — pengalaman otentik dan positif dengan penduduk setempat.

“Banyak destinasi ASEAN bersaing dalam hal infrastruktur, harga, atau skala. Filipina bersaing paling baik dalam hal keramahan, pelayanan, keaslian, dan keterlibatan manusia,” katanya.

“Pengunjung tidak hanya melihat destinasi; mereka berinteraksi secara mendalam dengan komunitas, budaya, dan keramahan lokal. Hal itu menciptakan koneksi emosional yang lebih kuat dan daya ingat merek, yang kami harapkan akan menghasilkan kunjungan berulang dan loyalitas pariwisata yang lebih kuat dari waktu ke waktu,” katanya.

Negara ini secara keseluruhan, tambahnya, unik sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 7.000 pulau, susunan geografis yang memberi wisatawan pilihan yang lebih luas untuk pengalaman seperti menyelam dan wisata bahari, kesehatan, gastronomi, petualangan, warisan budaya, dan destinasi pulau mewah.

“Tidak seperti beberapa destinasi di mana pariwisata terasa sangat urban atau komersial, Filipina masih menawarkan rasa misteri, penemuan, dan keaslian,” katanya.

Mayoritas wisatawan ASEAN ke Filipina adalah “muda, mandiri secara finansial, dan melek digital,” dengan usia rata-rata antara 33 dan 39 tahun, menurut DOT.

Motivasi utama mereka untuk bepergian adalah liburan dan rekreasi, dan sangat bergantung pada agen perjalanan online dan platform digital sebagai saluran pemesanan utama mereka.

Singapura dan Malaysia secara konsisten mendorong volume wisatawan tertinggi ke negara ini, dengan lebih dari 198.000 dan 100.000 kedatangan, masing-masing, pada tahun 2025 saja.

DOT juga melihat tren peningkatan “kunjungan berulang yang tinggi,” khususnya dari wisatawan Thailand dan Indonesia.

Saat ini, Zara-Loyola mengatakan pemerintah sedang mengintensifkan upaya kampanye untuk memperkenalkan para pengunjung ini ke destinasi-destinasi baru di Filipina di luar tempat-tempat wisata populer dan biasa.

Manila juga berupaya meningkatkan konektivitas udara untuk memperluas total kapasitas penerbangan masuk dari ASEAN, yang saat ini mencapai 82.628 kursi per minggu, katanya. (PNA)