DESTINASI EVENT INTERNATIONAL

Mengapa ‘frolleagues’ Membangun ikatan yang Lebih Baik Daripada Kegiatan Team Building?

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Bagaimana fenomena teman-kolega dapat menginspirasi acara kerja yang lebih baik untuk ikatan, moral, dan kohesi yang sesungguhnya.

Dilansir dari meetings-conventions-asia.com,
memanfaatkan batas-batas yang semakin kabur antara teman dan kolega dalam perencanaan kohesi.

Jika kolega memilih untuk menghabiskan liburan mereka bersama sebagai “frolleagues” – gabungan antara teman dan kolega – mengapa program kohesi perusahaan masih kesulitan menciptakan koneksi yang tulus?

Sekilas, frollidays – gabungan kata dari frolleague dan holidays – mungkin tampak seperti fenomena generasi. Sebuah studi tahun 2024 tentang perjalanan di India menunjukkan bahwa 40% profesional Gen Z dan Milenial lebih memilih bepergian dengan teman kerja daripada keluarga atau teman sekolah.

Riset Flight Centre Travel Group pada tahun 2025 juga melihat tren frolliday yang semakin populer, dengan para profesional Gen Z memimpin gerakan ini.

Stereotip “teman kerja” (froleague), seperti yang sering disebut, melibatkan para profesional muda yang persahabatan di tempat kerja memainkan peran sentral sebelum mereka memasuki kehidupan pernikahan.

Namun tren ini melampaui usia. Di banyak masyarakat Asia, orang-orang cenderung lebih lama melajang. Bahkan para profesional yang sudah menikah pun sering menemukan ikatan sosial terkuat mereka berakar di tempat kerja.

Hal ini dibentuk oleh tekanan bersama dan interaksi sehari-hari, dengan lebih sedikit waktu untuk mengeksplorasi koneksi sosial di luar tuntutan pekerjaan dan keluarga.

Alih-alih tren yang berlalu, “teman kerja” mengungkapkan bagaimana tempat kerja menciptakan dan mempertahankan ikatan sosial – dan mengapa moral dan kohesi paling kuat terjadi ketika ikatan ini terbentuk secara organik.

Format team building tradisional, dari makan malam formal hingga retret yang terprogram dengan ketat, tetap umum. Namun, kedekatan yang dipaksakan antara rekan kerja tidak secara otomatis menumbuhkan koneksi yang tulus.

Keberhasilan ikatan “teman kerja” – baik selama liburan santai, pertemuan di dapur, atau malam bermain permainan papan – berakar pada otonomi, minat bersama, dan waktu yang tidak terstruktur.

Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, berikut beberapa cara agar kegiatan utama untuk membangun kekompakan dapat mengambil inspirasi dari tren liburan santai (frolliday) untuk memaksimalkan dampak dan keuntungan.

Luangkan waktu untuk kegiatan santai

Retret skala besar yang mencoba memenuhi kebutuhan semua orang akan mengurangi pengalaman individu. Daripada mendikte setiap momen dan merencanakan setiap bagian dari rencana perjalanan secara berlebihan, berikan peserta waktu luang di mana mereka dapat memilih bagaimana – dan dengan siapa – mereka menghabiskan waktu tersebut.

Persiapkan sebelum acara

Selingi acara utama untuk membangun kekompakan dengan kegiatan informal, yang dipimpin karyawan dan berdasarkan minat. Ini bisa sesederhana kelompok lari, wisata kuliner lokal, atau jalan-jalan sambil berfoto.

Dengan melakukan hal itu, Anda mempersiapkan koneksi yang tulus antar departemen sehingga mereka tidak akan merasa dipaksa ketika percampuran tak terhindarkan terjadi pada acara team building resmi berikutnya.

Jadikan liburan bisnis sebagai kebiasaan

Popularitas liburan santai (frolliday) menunjukkan bahwa perjalanan adalah cara paling ampuh untuk mencairkan suasana dan mempererat hubungan antar karyawan.

Dampak positifnya tidak harus terbatas hanya pada retret, insentif, pembangunan tim, atau format bleisure (gabungan bisnis dan liburan).

Bahkan dalam perjalanan yang berfokus pada bisnis, bersiaplah untuk melacak hasil kohesi selama waktu luang di luar rapat agar ROI (Return on Investment) yang pasti tidak terlewatkan.

Meskipun demikian, pelajaran dari budaya frolleague (hubungan antar rekan kerja) jelas: Hubungan yang bermakna dipupuk oleh pilihan, pengalaman bersama, dan kebebasan.

Saat organisasi menavigasi masa depan pekerjaan, kualitas koneksi, bukan hanya kuantitas atau skala program, akan menentukan kekuatan budaya perusahaan.

Merancang retret yang menghargai otonomi dan chemistry sosial dapat membantu membawa yang terbaik dari ikatan frolleague ke kolaborasi dan produktivitas di tempat kerja.

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)