Sebuah ruangan hotel di Kolombo ( Foto: ANI)
NEW DELHI, bisniswisata.co.id: Sri Lanka menghadapi krisis ekonomi di tengah kemarahan publik dan protes terhadap kelangkaan makanan dan bahan bakar besar-besaran.
Sektor pariwisata negara itu, salah satu kontributor utama ekonominya yang perlahan bangkit kembali setelah pandemi COVID kini terpukul keras lagi akibat tekanan ekonomi.
Sri Lanka sedang berjuang melawan krisis ekonomi yang parah dengan kelangkaan makanan dan bahan bakar yang mempengaruhi sejumlah besar orang di negara kepulauan itu.
Perekonomian negara kepulauan yang telah terjun bebas sejak awal pandemi COVID sekarang berada dalam pergolakan krisis spiral, dengan kekurangan obat-obatan, makanan dan listrik yang berkepanjangan.
Beberapa hotel yang terletak di Kolombo mengatakan mereka telah menderita kerugian besar karena protes massal yang sedang berlangsung di kota.
Kevin, General Manager Colombo Court Hotel di kota itu mengatakan kepada kantor berita ANI, salah satu alasan besar utama adalah pemadaman listrik yang sedang berlangsung, kenaikan harga bahan bakar dan kurangnya barang-barang penting.
“Hal ini telah menjadi pukulan besar bagi kami para pelaku bisnis perhotelan karena kami tidak dapat bertahan hidup tanpa listrik. Kami telah mengupayakan daya listrik sendiri karena itu adalah hal utama yang dicari wisatawan.” kata Kevin.
Manajer yang telah berkecimpung dalam bisnis hotel selama beberapa tahun ini mengatakan dia belum pernah melihat sektor pariwisata seperti itu dalam kondisi suram sebelum COVID-19.
Setelah COVID, negara dilanda krisis ekonomi. Selama masa pandemi pohaknya menemukan cara untuk beroperasi sebagai hotel dan sekarang setelah keluar dari pandemi, muncul krisis baru yang telah melanda negara.
“Kami melakukan bisnis pada bulan Maret dan berharap kami sekarang menuju normal. Sementara kami dulu menampung akomodasi untuk 1.000 turis, kini jumlahnya turun drastis,” kata Kevin.
India telah menjadi salah satu pasar sumber utama pariwisata Kolombo dan berbagai bagian Sri Lanka, tetapi dengan kerusuhan yang sedang berlangsung, bisnis pariwisata telah terkena dampak besar, kata pengelola hotel itu.
“India adalah pasar besar bagi kami dan kami memiliki banyak klien dari India tetapi kali ini tidak mendapatkan pemesanan karena protes yang sedang berlangsung,” katanya kepada ANI.
Para pelaku bisnis perhotelan mengatakan bahwa untuk pertama kalinya sejak COVID, kamar-kamar tetap kosong selama berminggu-minggu. Koki dan karyawan sering pergi berhari-hari tanpa pekerjaan dan ada keheningan di area dapur.
“Sebelumnya kami biasa menerima pesanan dalam jumlah besar dan mewah dari wisatawan untuk membuat hidangan khusus, tetapi sayangnya protes yang sedang berlangsung telah memukul industri kami dengan buruk,” kata seorang koki hotel kepada ANI.
Pada 5 April, anggota asosiasi hotel dan stafnya melakukan demo dalam jumlah besar.” Kita perlu menyelamatkan industri pariwisata di negara ini.” Kata Gerard Medina, Ketua, Chefs Guild of Sri Lanka.
Sementara itu, Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa telah mencabut status darurat yang diberlakukan di negara itu untuk memastikan “keamanan publik dan pemeliharaan ketertiban umum.”
Keputusan ini diumumkan setelah pertemuan komite umum darurat dari Asosiasi Pejabat Medis Pemerintah negara itu (GMOA) untuk membahas penerapan undang-undang darurat dan kekurangan obat yang parah, ungkap Daily Mirror melaporkan.
Sri Lanka saat ini menghadapi kekurangan devisa yang menyebabkan kekurangan makanan, bahan bakar, listrik dan gas dan telah mencari bantuan dari negara-negara sahabat untuk bantuan ekonomi. Mata uang Sri Lanka juga telah terdevalasi hampir 90 SLR terhadap dolar AS sejak 8 Maret.










