Komunitas Pelestari Keris Canangkan Year of Keris Legacy 2020

0
64
Ketua Umum Komunitas Pelestari Keris Cakra Wiyata

JAKARTA, bisniswisata. co.id: Menjelang Hari Pengakuan Keris Dunia 2020, Komunitas pelestari keris, Astajaya (Ajang Silaturahmi Tosan Aji Jakarta Raya) menggandeng Museum Pusaka Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menggelar Pameran Pesona Keris Ganan di TMII, Jakarta. Selain pameran keris juga dilakukan pencanangan “Year of Keris Legacy 2020”.

Sebanyak 75 keris koleksi dari 41 kolektor keris se-Indonesia menghiasi pameran Pesona Keris Ganan yang digelar sejak 13 Desember 2019 hingga 10 Januari 2020. Pameran terbuka untuk umum ini, merupakan penghargaan kepada para tokoh pelestari Keris di Indonesia, yakni Haryono Haryo Guritno tokoh yang berhasil mengangkat proposal keris untuk diakui Unesco sebagai warisan dunia pada tahun 2005 diangkat menjadi tokoh utama dalam event penghargaan ini.

“Sebagai komunitas pelestari Keris merasa wajib untuk mengambil tongkat estafet dan meneruskan warisan ini untuk disebarkan kepada masyarakat luas. Sebelumnya Museum Pusaka ini dulu dibuat oleh Ibu Tien Suharto (alm) karena menerima koleksi keris haji mas Agung, sehingga museum Pusaka adalah tempat yang tepat untuk menggelar acara ini” ujar Ketua Umum Komunitas Pelestari Keris Cakra Wiyata dalam keterangan resminya, Sabtu (14/12/2019).

Dilanjutkan, mMenuju acara puncak di bulan November 2020, dunia mengakui Keris sebagai Warisan Dunia melalui Unesco, sepanjang tahun kedepan dengan menggelar berbagai acara pameran keris, talk show, lomba membuat keris, lomba fotografi, lomba video 1 menit untuk sosialisasi di media sosial

“juga ada lomba desain keris dengan tema yang sebelumnya disampaikan presiden Jokowi dengan filosofi ‘SDM Unggul Indonesia Maju’ dan pemenang utama akan dijadikan keris asli, yang akan kami tampilkan pada penghujung acara Year of Keris Legacy 2020,” tandasnya.

Astajaya memiliki keinginan menyebarluaskan keris sebagai warisan budaya dunia, dengan mengadakan pameran ini diharapkan dapat menciptakan momentum agar semua insan perkerisan dan Generasi Mileniall maupun Gen Z agar mengenal keris lebih dekat.

“Tidak mungkin Museum atau Komunitas bekerja sendiri membudayakan keris yang masih dianggap memiliki sesuatu hal negatif didalamnya. Kami ingin menyebarkan pengenalan akan Keris yang sesungguhnya kepada generasi penerus. Diharapkan kegiatan ini dapat memicu berbagai inisiatif lain dari berbagai komunitas maupun individu di sepanjang tahun ke depan” lontarnya.

Kepala Museum Pusaka TMII, Rian Mandar menambahkan istilah keris ganan bermula dipopulerkan oleh seorang mendiang pakar keris yang sepanjang hidupnya dihabiskan untuk menelusuri seluk beluk dunia keris, yaitu Ir. Haryono Haryo Guritno (1932-2017).

“Ganan itu penyebutan untuk keris yang pada bagian gandhik-nya atau bagian bawah keris secara terukir. Ada relief hewan mitologi, ada bentuk sosok penjelmaan raksasa, naga, singa, barong, dan lainnya,” lontar Rian

Dijelaskan, secara etimologis keris ganan memang semula berasal dari kata gana dan kata lain dari ganesha, yang di dunia arkelogi sebagai satu makhluk khas pengikut Hindu aliran syiwa. Wujud Ganesha adalah perwujudan dewa dalam bentuk makhluk kerdil berbelalai gajah yang dilambangkan sebagai penopang dunia (zaetmulder). Adapun Syiwa disebut dalam nama lain sebagai Bethara Gana.

Pada perkembangannya, ganan diletakkan pada kategori keris yang di bagian gandhik-nya ada relief stilisasi makhluk hewan atau pun manusia serta makhluk mitos. Tafsir lain menyebutkan kata Ganan berasal dari kata gana dalam pengertian dari kitab Cendrasangkala Bratakesawa (1928). Yang bisa berarti mega, awang-awang, dewa gatra, piyambak, tawon, calon, ungker, kawasa, saged dan lengkung.

Berdasarkan beberapa definisi atau tafsir tersebut, ganan lebih merujuk kepada kata gatra yang berarti bentuk. “Maka keris ganan bisa dimaknai sebagai keris yang memiliki bentuk makhluk pada gandhik-nya,” ujarnya.

Saat ini baru terdata delapan varian keris ganan. Yaitu, ganan naga, ganan singa, ganan kikik, ganan peksi atau burung, ganan liman, ganan jalma, ganan yaksa dan ganan wahana. “Tujuan pameran ini, kita ingin mendekatkan komunitas keris kepada masyarakat,” imbuhnya.

Karena menurutnya, meskipun selama ini pameran keris sering diadakan, tapi informasinya hanya untuk orang pecinta keris saja. “Jadi selama ini teman perkerisan membuat kegiatan hanya membahas luk keris seperti apa. Nah, pameran ini ingin memberikan informasi nggak yang cuma dipahami oleh pecinta keris saja yang tahu anatomi keris, tapi kita ingin mengajak masyarakat tahu sejarah dan filosofinya,” ungkap Rian.

Dia berharap pameran ini bisa menambah wawasan bagi masyarakat tentang keris sebagai benda pusaka. “Setelah melihat pameran ini, diharapkan masyarakat tidak hanya mengenal keris itu sebagai benda mistik. Tapi sebagai benda seni warisan leluhur,” tandasnya. (end)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.