HOSPITALITY HOTEL NASIONAL TEKHNOLOGI

Keren, Ada Startup Hospitality Pertama di Dunia Karya Anak Bangsa

CANGGU, bisniswisata.co.id:  Ibarat pepatah Asam di gunung garam di laut bertemu dalam satu belanga maka jodoh bisnis antara Tiandy yang developper game asal Indonesia dan Jeremy Fang asal Singapura sebagai hotelier telah menghasilkan aplikasi smart hotel pertama di dunia dalam satu genggaman.

Ini memang bukan perjodohan perkawinan lawan jenis, tapi perjodohan bisnis yang justru membuat usahanya semakin marak di era pandemi global COVID-19 dan di era yang disebut VUCA.

VUCA adalah akronim yang berarti volatility (volatilitas), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas), dan ambiguity (ambiguitas), kombinasi kualitas yang jika digabungkan mencirikan sifat dari beberapa kondisi dan situasi yang sulit.

Namun sinergi dan kolaborasi kedua anak muda ini mampu menolong banyak orang maupun banyak jenis bisnis yang serba digital dan terintegrasi kedalam satu sistim disebut Digitels, melalui PT. Aplikasi Pintar Indonesia berbasis teknologi 4.0.

” Kita semua tahu dalam bisnis hotel banyak system dan software yang dipakai dengan investasi miliaran. Booking dari online travel agent  ( OTA) bahkan kerap  tidak tercatat dengan baik sehingga tamu sudah datang dihotel, tapi reservasinya tidak muncul dalam sistem bahkan di hotel bintang lima sekalipun,” kata Jeremy.

Banyaknya system yang tidak tersambung antar berbagai bagian itulah yang kini diatasi dengan Digitels sehingga menjadi satu ekosistem yang saling berhubungan dengan menghemat jauh biaya operasional. 

Tak heran pihaknya mengklaim sebagai startup hospitality pertama di dunia yang menciptakan digital hospitality ecosystem, mendukung  bisnis hotel di era New Nornal sehingga menjadi smart hotel, tanpa kontak , tanpa pembayaran tunai dan tanpa kunci.

Di masa pandemi inilah saatnya hotel-hotel berbenah, menyiapkan akomodasi dengan sentuhan inovasi teknologi digitalisasi sehingga bisa semakin memanjakan tamu yang menginap.

Apa sih yang disatukan oleh Digitels dalam satu sistem itu ? antara lain fitur cerdasnya adalah mesin pemesanan, manajer saluran cerdas serta smart check in tercepat di dunia oleh tamu yang memiliki smartphone.

Bagi hotel-hotel di Bali yang bersiap dengan pembukaan border untuk beroperasi kembali setelah sekian lama tidak beroperasi penuh karena tidak ada tamu yang datang, persiapan restart membutuhkan modal besar.

“Bank mana yang bisa kasih pinjaman uang cepat supaya mereka bisa meneruskan bisnisnya,” tanya Jeremy. Membuka kembali bisnis hotel memang tidak semudah membuka pintu rumah kita. Itulah sebabnya sejak tahun lalu bersama Tiandy dia akhirnya bekerja dari Bali ( Work from Bali).

Mereka  memperkenalkan ekosistem dari sistem dompet elektronik, sistem rumah tangga cerdas, sistem pelayanan F&B cerdas, sistem produksi F&B (dapur) cerdas, sistem SDM cerdas hingga ke sistem akuntansi  dan sistem manajemen listrik (EMS) cerdas.

diagram
Digitels, tawarkan ekosistem smart hotel

Smart Hotel 

Dengan konsep SHC (smart hotel conversion), Digitels E-system dapat mengubah Hotel, Apartemen, Condotel, Perkantoran dan Rumah Pribadi menjadi ekosistem pintar 4.0 berbasis IOT (internet of things). Pemasangan E-system ini sangat mudah dan praktis dan pemilik tidak perlu mengganti peralatan, furnitur atau piranti yang sudah ada.

“Hotel jadi smart tanpa harus ganti alat-alat hotel, kecuali untuk hotel yang masih menggunakan kunci manual. Sistem Digitels hardware’s dan software termasuk IoT) bisa dipasang untuk semua kelas hotel,” terang Jeremy.

Digitels bisa membantu pemilik hotel menurunkan biaya operasional dan efisiensi staf (25-40 persen dari total karyawan), menggantikan sepenuhnya kunci/kartu, penghematan energi, waktu dan operasional, yang kesemuanya akan berkontribusi pada peningkatan pendapatan.

Aplikasi Digitels berbasis Internet of Things (IoT) yang menyodorkan solusi digital itu bisa mendukung pemulihan pariwisata Indonesia, khususnya Bali. 

Soalnya hadirnya Digitels berangkat dari gagasan mengintegrasikan rangkaian layanan akomodasi dengan aplikasi yang mudah diimplementasikan pada fasilitas yang diinginkan, kata Jeremy

Menurut dia , dengan Digitels cost of sales rendah, bisa hemat listrik hingga 40% dengan Smart Energy Management System. Bahkan laba atau profit dengan menggunakan Digitels ini bisa naik hingga 100% atau dua kali lipat.

Saat ini layanan Digitels sudah digunakan beberapa hotel Indonesia salah satunya di Bali ada di Signature Seminyak Hotel di Kuta Utara, Badung yang sudah menggunakan paket layanan full yang ditawarkan Digitels.

“Hotel Signature Seminyak sepenuhnya kami kelola dengan tekhnologi ini dengan sistem sewa 10 tahun. Pemilik tetap memiliki hotelnya tidak perlu menjual aset di tengah tekanan situasi pandemi,” timpal Tiandy.

Setelah diambil alih Digitels tingkat hunian hotel mencapai 70% dan kini terhambat karena ada PPKM darurat tetapi banyak penyewa sebagai long staying guest. Saat program Work from Bali ( WfB) digaungkan pemerintah okupansinya penuh, tambahnya.

Karena sudah menggunakan fitur EMS (energy management system) yang menjalankan otomatisasi on/off saat tamu sedang tidak berada di kamar, maka diperkirakan dapat menghemat biaya energi hingga US$ 80/ruangan. 

“Kami targetkan semua hotel di Bali gunakan layanan Digitels dan saat ini beberapa hotel sedang tahap persiapan pemasangan sistem kami,” ungkap Jeremy.

Walaupun punya sistem smart hotel yang canggih, Digitels tidak menjual sistemnya ke hotel melainkan cukup berbaik hati hanya dengan meminjamkannya kepada pemilik/manajemen hotel berupa sistem lengkap dengan peralatan seharga US$1.000 atau setara hampir Rp 150 juta.

Pemilik/manajemen hotel cukup membayar biaya peminjaman sistem hanya sebesar Rp 5 ribu per kamar per malam. Tentu ini sangat terjangkau dan bisa dikatakan sangat murah dibandingkan kecanggihan yang ditawarkan sistem smart hotel dari Digitels ini.

“Kami pinjamkan alat seharga US$1.000  dan cukup bayar Rp 5 ribu untuk satu kamar per malam. Tarif harga pandemi ini dikenakan security deposit hanya Rp 2,5 juta yang bisa dicicil beberapa kali sampai ada kamar yang terisi,” ungkap Jeremy.

Demi membantu bisnis hotel terus berjalan, untuk pemasangan sistem smart hotel dari Digitels ini minimal pada 10 kamar hotel dan tidak ada tambahan biaya jika pemilik atau manajemen mau menambah fitur/sistem dan sampai pasang full sistem pun tidak kenakan biaya tambahan apapun, lanjut Jeremy.

profil
Jeremy Fang, COO Digitels

Sistem pengoperasian Digitels juga didukung fasilitas Big Data yang akan membantu manajemen menghemat budget secara signifikan dan penerapannya dimulai dari proses check in, menghidupkan peralatan dalam hotel, menggunakan layanan hotel sampai pada proses check out 

“Semua sudah terintegrasi, sehingga memudahkan layanan hopitality baik tamu, pengelola maupun staff   semua hanya dalam satu genggaman.

Hotel yang menggunakan Digitels dapat memenuhi protokol kesehatan & keselamatan konsep hotel New Normal dan membantu pemilik, manajemen, dan staf hotel dengan mengurangi kesalahan manusia hingga 100% dan dapat mencapai tingkat efisiensi staf tertinggi dengan pengurangan staf hingga 25%.

“Dalam merekrut karyawan baru yang kita butuhkan orang yang pro-aktif, murah senyum dan benar-benar menghayati perannya dengan tulus. Jadi jangan heran kalau kami malah mendapatkan mereka sedang bekerja di mall. Tidak melulu lulusan perhotelan,” kata Jeremy.

Badai pasti berlalu

Bali memang selalu menjadi top of mind,  begitu juga dalam pikiran Tiandy dan Jeremy. Keputusan mereka untuk Work from Bali ( WfB) karena kepedulian tinggi dengan nasib perhotelan di Bali yang nilai asetnya diperkirakan total mencapai Rp 4 triliunan. 

Optimisme badai pandemi global COVID-19 pasti berlalu diyakini keduanya dengan positif. Hasil WfB yang menguras tabungan Tiandi dan Jeremy berbuah pengelolaan langsung hotel Signature Seminyak.

Hal ini bukan hanya menguatkan passion yang sama untuk menolong para pebisnis di pulau dewata ini, tapi juga memberikan semangat kerja yang tinggi. ” Setiap hari jadi merasa excited ( bergairah) karena kerja rasa liburan. Bisa pakai-pakaian casual dan celana pendek dan kami mengelola hotel ini layaknya bersama keluarga besar,” kata Tiandy.

Selama obrolan siang itu, baik Jeremy dan Tiandy memang tampak kompak bahkan dengan para staf yang hanya segelintir orang saat kami melewati yang mereka sebut ‘office’ tepat disebelah ruangan tempat kami berkumpul.

Tiandy adalah seorang pengusaha kreatif dan visioner dengan lebih dari 20 tahun pengalaman bisnis di Game Online, IT & Pengembangan Properti di Cina, Malaysia, dan Indonesia.

Dia memiliki dan mengoperasikan perusahaan game online terbesar ke-2 di Indonesia selama 10 tahun dan perusahaan game online itu adalah yang pertama di Indonesia yang dapat menerima pembayaran virtual dari seluruh dunia.

Pada pengembangan properti, Tiandy memiliki beberapa hotel dan resor yang sukses seperti Agra Nusa Villas, The Nest di Benoa Bali dan The Sapphire Cliff Resort, Uluwatu

Saat ini dia adalah  kunci yang memimpin pembangunan dan pengembangan The Umalas Signature Residence;  Smart Hybrid Serviced Apartments pertama di Indonesia.

Pada akhir 2018, Tiandy mendirikan Digitels dan saat ini juga menjabat sebagai CEO Digitels, sebuah perusahaan rintisan yang akan merevolusi industri perhotelan dengan menciptakan ekosistem sistem operasi hotel lengkap pertama di dunia berdasarkan IoT.

Nah bagaimana dengan Jeremy ?karirnya di industri perhotelan, perjalanan & pariwisata berlangsung lebih dari 25 tahun dengan pengalaman luas di Singapura, Filipina, dan Indonesia.

Pengalaman Jeremy mulai menjadi Co-Owner Seal Adventures & Pisa Dive Resort Batangas The Philippines, Assistant General Manager Sijori Resort Sentosa & Batam, Division Manager of SembCorp Parks Management.

Pria yang umurnya ternyata sudah 51 tahun ini juga pernah menjadi General Manager Puri  Garden Hotel, Mandarin Regency Hotel, General Manager Novotel Medan (Accor Hotels), Corporate General Manager WBS Group dan Chief Hospitality Officer Nusa Capital Group.

Pada tahun 2019, Jeremy ikut mendirikan Digitels dan saat ini menjadi Chief Operating Officer ( COO). ” Kami bukanlah startup unicorn (yang menghabiskan anggaran untuk mencapai target), tetapi startup  yang akan terus berkembang seiring dengan masuknya pendapatan dari operasional,” ujarnya.

Oleh karena itu, Jeremy meyakini selain menjadi solusi, Digitels dapat menjadi investasi jangka panjang yang layak dan menguntungkan. Semoga ya…..

 

Hilda Ansariah Sabri

Hilda Ansariah Sabri, Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers. Saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat ( 2018-2023)