Erupsi, Wisatawan Jangan Berada di Zona Gunung Agung

0
126
Sejumlah Umat Hindu yang bermukim sekitar 10km dari Gunung Agung, menyiapkan sesajen untuk upacara Meayu-Ayu di Pura Penataran Agung Desa Pemuteran, Karangasem, Bali, Rabu (27/9). Warga di kawasan rawan bencana itu menggelar persembahyangan bersama untuk memohon agar terhindar dari bahaya, menyusul peningkatan aktivitas Gunung Agung yang masih pada level awas. (Foto: ANTARA /Nyoman Budhiana)

KARANGASEM, bisniswisata.co.id: Gunung Agung di Karangasem Bali, kembali mengalami erupsi dengan durasi sekitar 3 menit 8 detik pada Ahad (30/12) pagi, tepatnya pukul 04.09 WITA. Kementerian Energi, dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta Pos Pengamatan Gunungapi Agung menetapkan status Level III atau Siaga.

“Terjadi erupsi Gunung Agung, Bali pada 30 Desember 2018. Tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi ± 3 menit 8 detik,” ungkap Kepala Bagian Humas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Harry Tirto dalam keterangan tertulis yang diterima Bisniswisata.co.id, Ahad (30/12/2018).

Dilanjutkan, masyarakat di sekitar Gunung Agung, termasuk para pendaki maupun wisatawan nusantara (Wisnus) dan mancanegara (wisman), diimbau agar tidak berada di sekitar Zona Perkiraan Bahaya, baik untuk mendaki dan melakukan aktivitas lain. Zona yang dimaksud yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari kawah puncak gunung.

Zona Perkiraan Bahaya tersebut bersifat dinamis dan terus dievaluasi. Nantinya, zona dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual. “Selain itu, masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung juga diminta waspada terhadap potensi ancaman bahaya sekunder,” sarannya.

Bahaya sekunder, sambung dia, bBerupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi, terutama pada musim hujan, dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

Sementara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan informasi bahwa letusan atau erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung sudah berhenti.

Berdasarkan hasil pemantauan Satelit Himawari dan radar cuaca sejak Sabtu (29/12/2018) malam sampai Minggu pagi telah berhenti total. Hasil rekaman seismograf di Pulau Sertung, gugusan pulau di Selat Sunda, dekat Gunung Anak Krakatau menunjukkan tidak ada fluktuasi getaran, kalem, amplitudo rata-rata 10 mm (pada saat letusan amplitudonya 25-30 mm).

Tim PVMBG menyatakan, tidak tahu ke depan apakah masih ada fluktuasi erupsi lagi seperti terjadi pada Sabtu (22/12/2018) lalu atau erupsi mulai saat ini akan berhenti sama sekali. PVMBG juga menyampaikan terima kasih kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) atas pemantauan visual distribusi abu (lateral dan vertikal) erupsi Gunung Anak Krakatau via Satelit Himawari dan radar cuaca.

Informasi ini sangat vital untuk mengetahui aktivitas erupsi manakala para pengamat PVMBG di Pos Pasauran susah mengamati karena gunung sering tertutup kabut di musim hujan ini, sehingga sering pelaporan tinggi kolom abu tidak akurat.

Berdasarkan laporan Windi Cahya Untung, staf Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG Pos Pengamatan Pasauran Gunung Api Krakatau periode pengamatan 29 Desember 2018, pukul 00.00 sampai dengan 23.59 WIB, gunung api di dalam laut kini ketinggiannya tinggal 110 meter dari permukaan laut (mdpl) kenampakannya cerah, berawan, dan mendung.

Berdasarkan pengamatan tersebut, didapat informasi berikut, suhu 24-30 derajat Celsius, kelembapan 59-92%, tekanan 0,0-0,0 mmHg, curah hujan 0,0 mm, sedangkan kecepatan angin kencang, lemah; arah angin menuju barat laut, utara, timur laut, timur.

Pengamatan visual kenampakan dari pos pengamatan, jelas, kabut 0-III, tinggi 1.000 meter, warna kelabu putih, intensitas asap tebal.
Kegempaan masih berlanjut erupsi dan mengeluarkan abu vulkanik hingga mencapai 7.338 meter di atasnya mengalami kegempaan tremor vulkanik dengan amplitudo 25 mm.

Kesimpulannya, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau berada di Level III (Siaga) sehingga direkomendasikan masyarakat atau wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 km dari kawah. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.