EasyJet “Rescue Flights”, SIA “Grounding” Armada

0
30

JAKARTA, bisniswisata.co.id; MASKAPAI penerbangan murah Inggris, EasyJet membatalkan sebagian besar penerbangannya mulai dari Selasa, 24 Maret 2020, sehubungan dengan pembatasan perjalanan yang diberlakukan di negara-negara di seluruh dunia karena pandemi mematikan COVID-19. Perusahaan menghentikan 90% layanan, namun tetap menjalankan penerbangan penyelamatan (rescue flight) yang diharapkan semua operasi penyelamatan utama selesai hari ini.

Demikian disampaikan Johan Lundgren, Kepala Eksekutif, EasyJet menjawab Bisniswisata.co.id melalui surel Selasa, 24 Maret 2020.  Dijelaskan juga bahwa perusahaan memahami pentingnya menyediakan transportasi kembali ke tanah air bagi pelanggan EasyJet yang masih berada di luar negeri. Karenanya memutuskan untuk melanjutkan rescue flight  kembali ke tanah air selama beberapa hari. Ditegaskannya saat sebagian besar negara telah menyarankan warganya untuk menahan diri dari bepergian kecuali jika perlu, mengurangi operasi penerbangan tampaknya menjadi langkah yang tepat saat ini.

Grounding Armada

Sementara di kawasan Asia, Singapore Airlines (SIA) akan mengurangi kapasitas sebesar 96% dari total kapasitas yang semula dijadwalkan hingga akhir April 2020, seiring dengan semakin ketatnya kontrol perbatasan di seluruh dunia selama sepekan terakhir guna mengendalikan wabah COVID- 19. Menyebabkan grounding terhadap sekitar 138 dari total 147 armada milik SIA dan SilkAir.

Sementara itu, Scoot, anak perusahaan berbiaya rendah milik IA, juga akan menangguhkan sebagian besar jaringannya yang menyebabkan grounding pada 47 dari total 49 armada miliknya.

SIA Group telah melakukan diversifikasi jaringan dan mempersiapkan Scoot untuk mengantisipasi berbagai risiko serta melayani berbagai segmen penumpang dan pasar. Namun, tanpa segmen domestik, maskapai penerbangan SIA Group menjadi lebih rentan ketika pasar internasional semakin membatasi pergerakan orang secara bebas atau melarang perjalanan udara secara keseluruhan.

Pada laman perusahaan SIA, termaktub bahwa belum dapat dipastikan kapan SIA Group dapat kembali melayani secara normal, mengingat ketidakpastian akan dicabutnya kontrol perbatasan yang ketat. Penurunan permintaan terhadap perjalanan udara, telah menyebabkan penurunan yang signifikan terhadap pendapatan SIA.

Perusahaan secara aktif mengambil langkah-langkah untuk membangun likuiditasnya, serta mengurangi pengeluaran modal dan biaya operasional. Seperti disebutkan pada tanggal 17 Maret 2020, bahwa SIA mengambil kebijakan antara lain: Meminta produsen pesawat untuk menunda pengiriman pesawat, untuk menunda kewajiban pembayaran. Pemotongan gaji bagi manajemen SIA Group, skema cuti sukarela tanpa gaji hingga ke posisi manajemen tertentu. Seiring dengan situasi yang memburuk, serikat pekerja telah terlibat dalam upaya-upaya pemotongan biaya tambahan yang diperlukan dan langkah-langkah lebih lanjut akan segera diambil.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.