Dua Bandara di Kaltim Diresmikan Presiden Jokowi

0
268
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Bandar Udara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Kota Samarinda, dan Bandara Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), (Foto: Setkab.go.id)

SAMARINDA, bisniswisata.co.id: Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Bandar Udara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Kota Samarinda, dan Bandara Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), Kamis (25/10/2018). Kehadiran bandara baru ini, bertujuan untuk mengembangkan pariwisata yang sangat banyak di wilayah ini, juga bisa menjadi titik pertumbuhan ekonomi baru.

“Pembangunan Bandar Udara APT Pranoto ini inisiatif pemerintah daerah. Pemerintah pusat hanya mendorong sedikit anggarannya. Dan ini akan saya pakai untuk contoh agar daerah lain mencontoh apa yang sudah dikerjakan Provinsi Kalimantan Timur,” lontar Jokowi di halaman Bandar Udara APT Pranoto, Samarinda, Kaltim.

Meski menyambut baik rampungnya pembangunan, Jokowi menilai masih punya dua permintaan kepada Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi. Pertama, Jokowi ingin luas gedung terminal diperbesar dari 12 ribu meter persegi jadi 36 ribu meter persegi dalam waktu 3 tahun.

“Terserah anggaran dari APBN, APBD, atau anggaran Angkasa Pura, silakan. Karena penumpang di sini sekarang 1,5 juta per tahun. Tapi memiliki potensi sampai 5 juta penumpang per tahun. Jadi tidak mungkin terminal cukup. Harus diantisipasi dan segera bisa kita siapkan untuk perluas kembali,” ujarnya.

Kedua, Jokowi meminta Menhub menyiapkan rute penerbangan dari Samarinda ke Jakarta dan Samarinda ke Surabaya.” Dijawab Pak Menhub, ya pak 1,5-2 bulan. Saya tidak mau. Terlalu lama. Saya minta maksimal dua minggu sudah harus ada penerbangan dari sini ke Jakarta atau dari sini ke Surabaya,” pinta kepala negara.

Dilanjutkan pembangunan infrastruktur di Indonesia sangat penting. Meninggat mobilitas orang, mobilitas barang di seluruh penjuru Tanah Air begitu cepat dan sangat penting peranannya. Jika tak ada pembangunan infrastruktur bagaimana kondisi bangsa ini. “Jadi ini bukan untuk gagah-gagahan, bukan untuk keren-kerenan,” lontarnya.

Selama empat tahun kepemimpinannya, pemerintah terus mengejar kemunculan kantong-kantong ekonomi baru di berbagai daerah. Sebab, kata dia, pada zaman dulu, orang berbicara ekonomi Indonesia selalu fokus yang ada di Jawa. Tapi, kini orang berbicara ekonomi Indonesia mulai membahas potensi-potensi pertumbuhan ekonomi yang ada di luar Jawa, salah satunya adalah Provinsi Kalimantan Timur.

Karena itu, pembangunan infrastruktur berupa bandara, pelabuhan, jalan tol, jalur kereta api sangat penting untuk menghadirkan konektivitas atau menyambungkan seluruh kawasan. “Bayangkan 17 ribu pulau, 514 kabupaten kota, 34 provinsi bagaimana mempersatukan negara ini kalau tidak ada konektivitas, pelabuhan, bandara, jalan yang sambung menyambung mempersatukan negara sebesar negara kita,”

Menhub Budi menjelaskan bandara APT Pranoto mulai dibangun pada 2011. Pada 2013 terminal selesai dibangun. Pembangunannya sempat terhenti sebelum dilanjutkan kembali pada awal 2015 dengan menyelesaikan bangunan sisi udara secara bertahap. Baru pada 2016 diikuti dengan penyerahan bandara ini dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk dikembangkan dan dioperasikan.

Saat awal beroperasi, Bandara APT Pranoto melayani rute penerbangan dan penumpang yang selama ini beroperasi di Bandara Temindung, dan melayani penumpang dari Bandara Sepinggan Balikpapan. Sebab, 80 persen penumpang Sepinggan berasal dari sekitar Samarinda.

Saat ini, spesifikasi Bandara APT Pranoto memiliki ukuran runway 2.250m x 45m, taxiway berukuran 173 x 23m, apron 300m x 123m, dan mampu melayani pesawat Boeing 737-900 ER. Adapun di sisi darat telah dibangun gedung terminal seluas 12.700 meter persegi yang mampu menampung penumpang dengan kapasitas 1.500.000 penumpang per tahun serta gedung hanggar seluas 36 ribu meter persegi.

Dilanjutkan, biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Rp 1,8 triliun. Pembiayaan tersebut menggunakan APBN dan APBD. “Bandara ini dibangun untuk mempermudah masyarakat Samarinda dalam transportasi. Sehingga, tidak perlu lagi ke Balikpapan jika ingin pergi menggunakan pesawat. Antara Balikpapan dan Samarinda berjarak 120 kilometer, membutuhkan waktu 3-4 jam menggunakan transportasi darat,” ungkapnya.

Spesifikasi Bandara APT Pranoto memiliki ukuran runway 2.250 meter x 45 meter, taxiway berukuran 173 meter x 23 meter, apron 300 meter x 123 meter, dan mampu melayani pesawat Boeing 737-900 ER. Di sisi darat telah dibangun gedung terminal seluas 12.700 meter persegi mampu menampung penumpang dengan kapasitas 1,5 juta penumpang per tahun.

Bandara ini aktif digunakan sejak 24 Mei 2018. Setidaknya sudah ada 14 penerbangan dalam sehari. Budi Karya menargetkan 50 penerbangan siap dilayani di Bandara APT Pranoto. “Kendala Bandara APT Pranoto hanya dapat melayani penerbangan siang hari. Alasannya, belum adanya lampu di runway landasan pacu. Akhir tahun akan segera AP I pasang,” ucapnya. (EP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here