EVENT INTERNATIONAL KOMUNITAS NASIONAL NEWS

Bedah Buku: “Agusjam, Penyemai Keindonesiaan Dalam Selubung Jas Putih”.

Penulis buku dr. Simon Yosonegoro Liem Sp.Mk, Мнkes ( kiri) dan Endang Ernawati, 

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Ada event istimewa Senin pekan lalu di Museum Layang-Layang Indonesia, Cilandak, Jakarta Selatan. M Rikaz Prabowo Mpd, seorang akademisi dan peneliti pendidikan menjadi moderator bedah buku “Agusjam, Penyemai Keindonesiaan Dalam Selubung Jas Putih”.

Ada penulis bukunya,dr. Simon Yosonegoro Liem Sp.Mk, Мнkes, Praktisi dan Akademisi Kesehatan, Prof. Dr. Agus Mulyana, M. Hum dari Direktorat Sejarah dan Pemuseuman, Direktorat Jenderal Perlindungan, Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan RI dan Asep Kambali S.Pd., M.LK, Sejarawan Indonesia, Akademisi dan Peneliti Pendidikan juga.

Uniknya antara penulis dan sosok yang ditulis profesinya bukan penulis tetapi sama-sama seorang dokter yang hidup di jaman perjuangan dan di jamam Now !.

Cerita berawal dari Kemunculan golongan bumiputera terpelajar di awal abad ke-20 berkat politik etis dan akses pendidikan yang luas, dikenal menjadi pionir lahirnya kebangkitan nasional.

Dalam hal ini kalangan dokter-dokter bumiputera cukup memainkan peranan penting melalui sejumlah tokoh-tokohnya, seperti: Wahidin Sudirohusodo, Sutomo, dan Radjiman Wedyodiningrat. Ketiga nama ini berkiprah melalui sebuah organisasi sebagai wadah perjuangan melawan kolonialisme Belanda, yakni Budi Utomo (1908) dan Indischi Partij (1912).

Bercita-cita untuk memajukan peri-kehidupan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya kelak. Selain ketiga nama tersebut, tentunya terdapat nama-nama dokter lain yang juga dikenal sebagai tokoh pergerakan kebangsaan atau pejuang.

STOVIA yang kala itu dianggap sebagai lembaga pendidikan terbaik di Hindia Belanda, dikenal sebagai ‘sarang’ pemuda-pemuda nasionalis yang melek politik.

Tidak mengherankan setelah nantinya lulus dengan gelar Indhische Artsen dan ditempatkan dimanapun, para dokter ini kerap mengusahakan kesadaran nasional kepada segenap rakyat bagaimanapun caranya.

Termasuk dr. Agusjam yang pada 1921 telah ditempatkan di Pontianak, yang saat itu ibukota Keresidenan Borneo Barat.
Agusjam ialah dokter asal Pacitan yang seangkatan dengan dr. Sutomo dan beberapa sejawat lainnya yang tergabung dalam Budi Utomo.

STOVIA telah menjadi melting pot yang turut membawanya dalam paham kebangsaan. Jiwa untuk membantu rakyat kecil ditunjukkannya dengan penempatan di Plantungan yang saat itu dikenal sebagai tempat perawatan penyakit kusta dan kemudian dipindahkan ke Ngawi antara 1918-1920.

Pada tahun 1921, Agusjam dipindahkan ke Pontianak namun wilayah kerjanya sangat luas untuk seluruh keresidenan. Ditugaskan untuk turne hingga ke kampung-kampung pedalaman dan kota-kota lainnya. Demikian ungkap Simon Yosonegoro dalam peluncuran biografi dr. Agoesdjam yang disusunnya.

Menurut Simon, sang penulis, sosok yang kemudian diabadikan menjadi nama RSUD di Kabupaten Ketapang itu lebih dari sekedar dokter bumiputera di era kolonial. Agusjam juga banyak berkontribusi pada organisasi lainnya di Pontianak.

Hal Ini tak lepas dari pengalaman Agusjam bersentuhan dengan pergerakan kebangsaan. Waktu di STOVIA berinteraksi dengan para aktivis Budi Utomo dan organisasi pemuda seperti Jong Java, juga saat ditempatkan di Ngawi, daerah itu dekat dengan Surakarta yang menjadi basis besar National Indische Partij (NIP) atau Insulinde.”, tutur Simon yang juga berprofesi sebagai dokter di RSUD Ketapang.

Sekitar bulan Mei 1928 dr. Agusjam mendirikan klub soos (societeit) bernama Medan Sepakat, yang dimaksudkan sebagai tempat bersenang-senang untuk semua kalangan. Khususnya pegawai bumiputera untuk melepas lelah sehabis bekerja.

Keberadaan klub soos ini barangkali terlihat eksklusif dan elite, namun menurut sejarawan Asep Kambali yang hadir sebagai pembahas pada peluncuran buku, pembentukan klub soos ini sebenarnya sebagai siasat perjuangan.

“Klub soos itu hanya untuk berkamuflase saja, sebenarnya para anggota klub sering mendiskusikan soal masalah politik dan perjuangan Indonesia,”.

Isi pembicaraan di klub itu hal-hal politik, agar tidak terdeteksi aparat kolonial dibentuklah dalam sebuah klub, ujar tambah Asep Kambali,dimana klub tergabung dalam Tim Memori Kolektif Bangsa (MKB) ANRI.

Apa yang disampaikan oleh Asep Kambali ini senada dengan sang penulis, yang berhasil menemukan sejumlah potongan pidato-pidato dr. Agusjam di mimbar Medan Sepakat.

Dari pembacaannya tersebut, Simon menyimpulkan bahwa sosok Agusjam pada tahun 1928 telah memperkenalkan istilah ‘Indonesier’, sebagai istilah yang lebih inklusif dalam menyebut orang tanpa membawa-
bawa suku bangsanya.

Bahkan Agusjam di tahun 1928 dalam pidatonya juga menekankan persatuan antar suku dan bangsa khususnya di Pontianak, termasuk mengemukakan istilah Indonesia Raya. Bahkan di tahun 1939 saat telah berdiri Partai Indonesia Raya (Parindra) pimpinan teman seangkatannya dr. Sutomo di daerah ini, dr. Agusjam memutuskan untuk bergabung di dalamnya.

Nahas, ketika pendudukan Jepang seluruh aktivitas pergerakan politik dibekukan sejak 1942. Agusjam yang tercatat sebagai tenaga medis yang menolong korban perang- pemboman pesawat tempur Jepang pada 19 Desember 1941, bergerak secara sembunyi-sembunyi bersama rekan lainnya seperti dr. Rubini dan Noto Sujono.

Pada Agustus 1943, dr.Agusjam dipindahkan ke Ketapang untuk menggantikan menantunya dr. Suharso yang cuti ke Jawa. “dr. Agusjam hingga akhir 1943 masih hidup dan berada di Ketapang, saya mendapatkan kwitansi pembayaran yang dikeluarkan beliau tertanggal 31 Desember 2603 (tahun Jepang)”, ungkap Simon Yosonegoro.

Keturunan dr Agusjam dan para undangan

Aksi penangkapan dan pembunuhan terhadap kaum intelektual di Kalimantan Barat pada 1943-1944 telah menggugurkan nyawa dr. Agusjam. Jepang menangkapi banyak tokoh, khususnya kaum intelektual dan politik, yang dinilai akan melakukan perlawanan.

Dalam hal ini banyak memakan nyawa dokter-dokter di Kalimantan Barat, seperti dr. Agusjam, dr. Ismail, dr. Sunaryo, dr. Achmad Diponegoro, dan dr. Rubini yang disebut-sebut sebagai pemimpin gerakan menentang Jepang.

Warisan dan Harapan

Endang Ernawati, selaku ahli waris dan penggagas penulisan buku ini mengungkapkan kekagumannya kepada perjuangan dan pribadi kakeknya tersebut.

Endang yang sedari kecil telah mendengarkan kisah-tradisi lisan mengenai dr. Agusjam dari sang nenek (istri dr. Agusjam, yaitu R.A. Siti Sujarah) dan orang tuanya, menekankan pentingnya agar sang kakek dapat menjadi sosok yang dapat diteladani oleh banyak orang.

Warisan perjuangan Agusjam berlanjut ke sejumlah keluarga besarnya, misalnya istrinya sendiri Nyonya R.A Siti Sujarah yang dikenal sebagai aktivis perempuan di Kalimantan Barat tergabung di organisasi Aisyiyah dari Muhammadiyah.

Salah satu putra Agusjam juga turut bergerilya dalam perang kemerdekaan 1945-1949, dan gugur sekitar Clash kedua. Bahkan dr. Suharso yang merupakan menantunya juga dikenal sebagai dokter garis depan sekitar perang kemerdekaan yang banyak membantu prajurit-prajurit yang terluka dan cacat.

Dia akhirnya dianugerahi oleh pemerintah RI sebagai Pahlawan Nasional. “Nyonya Harso (istri dr. Suharso, Djohar Insiyah) meneruskan perjuangan kemanusiaan yang diwariskan Agusjam dan suaminya, dengan mendirikan Yayasan Perlindungan Anak Cacat,

“Cabangnya tersebar di beberapa kota hingga kini”, kenang Endang yang merupakan pendiri Museum Layang-Layang Indonesia (MLLI).

Sementara itu, gagasan agar sosok dr. Agusjam dapat diajukan menjadi pahlawan nasional mengemuka dalam forum tersebut. Asep Kambali menilai kedepannya dr. Agusjam layak diajukan sebagai calon Pahlawan Nasional, tentunya dengan sejumlah proses dan tahapan yang cukup panjang.

Mulai dari mengadakan seminar daerah dan seminar nasional, berlanjut pada pembahasan oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) dan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) hingga ke Dewan Gelar.

“Harapan saya arsip-arsip dan dokumen mengenai dr. Agusjam yang berhasil ditemukan segera didaftarkan ke ANRI agar dapat ditetapkan dalam daftar Memori Kolektif Bangsa (MKB), hal ini akan memperkuat proses pencalonan Agusjam menjadi Pahlawan Nasional”, tambah Asep Kambali yang juga dikenal sebagai pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI).

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)