Yusuf Sumako: Lompatan Besar Diperlukan Bagi Pariwisata Kabupaten Paser

0
16

TANA PASER, Kaltim, bisniswisata.co.id: Lompatan besar terus dilakukan Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporpar) Paser, HM Yusuf Sumako untuk memajukan pariwisata di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

Selain membangun kemitraan lintas sektoral yang kini lebih kenal dengan istilah Pentahelix, jumlah obyek wisata yang dikembangkannya melonjak dari hanya 12 obyek wisata menjadi 220 obyek wisata. Padahal amanat yang diberikan padanya sebagai Kadispopar Paser baru berumur 8 bulan. 

” Selama 14 tahun keberadaan Dinas Pariwisata di Kabupaten ini yang maju adalah bidang Pemuda dan Olahraga, pariwisatanya mati suri dan hanya ada 12 obyek wisata. Selama itu pula tidak pernah ada pejabat Kementria Pariwisata pusat apalagi Menteri Pariwisata yang pernah datang ke Kabupaten Paser,” ungkapnya.

Belum pernah ada pula Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN) yang mengucur ke Kabupaten Paser  untuk mendanai kegiatan pariwisata di daerahnya sehingga sempat terpikir dibenaknya, daerahnya ini masuk dalam wilayah NKRI atau bukan ?.

Kadisporpar Kabupaten Paser, Yusuf Sumaka

Tak mau menjadi ahli mengeluh, Yusuf Sumako justru kreatif dan terus bekerja menbangun kerjasama lintas sektoral di wilayah kerjanya. ” Pengembangan pariwisata harus dibangun bersama, bukan cuma tanggungjawab Disporpar saja. Oleh karena itu saya bekerjasama dengan instansi pemerintah terkait, swasta, akademisi, masyarakat dan media massa yang disebut Pentahelix tadi,” ungkapnya.

Berada di Kabupaten Tingkat II Paser, Kaltim yang berbatas wilayah dengan Sulawesi Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, daerah seluas 11.600 km persegi itu disebutnya seperti ‘kantong’ di wilayah paling selatan Kalimantan Timur.

“Tidak ada jalan lain, kalau mau bikin lompatan besar, gandeng semua pihak untuk mengembangkan pariwisata dan saya langsung bermitra dengan Dandim, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa ( PMD ) dan instansi terkait lainnya.”  jelas Yusuf Sumako.

Menurut dia, Komando Distrik Militer (Kodim) adalah komando pembinaan dan operasional kewilayahan TNI Angkatan Darat di bawah Korem. Kodim membawahi beberapa Komando Rayon Militer (Koramil) karena itu kerjasama yang strategis adalah menyatukan kesamaan visi dan misi terutama unsur aman dalam butir-butir 7 Sapta Pesona yaitu Aman, Bersih, Indah, Sejuk, Ramah Tamah dan Kenangan.

Mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa ( PMD ) selama lima tahun ini mengaku minta waktu belajar dulu pada Bupati Paser yang memanggilnya untuk tugas baru sebagai Disporpar. Yusuf tidak merasa kesulitan untuk belajar masalah olahraga dan kepemudaan. 

Namun untuk pariwisata dengan konsep Pentahelix dan keyakinannya akan dampak ekonomi dari pariwisata yang besar mengantarnya berguru dulu ke Jawa Timur, tepatnya menemui Prof Hery Purnobasuki dan Dr. Eko Supeno Ahli Bidang Pengembangan Pariwisata dari Universitas Sirlangga ( Unair). Mereka berdua ikut berperan mendesain pariwisata Banyuwangi dan Nusa Tenggara Barat ( NTB).

Pulang kembali ke Paser, Yusuf baru menyanggupi permintaan mutasi dari Bupati Paser dan Januari 2019 lalu dilantik sebagai Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporpar) Kabupaten Paser yang beribukota di Tana Paser yang sebelumnya bernama Rana Grogot.

Yusuf Sumako menambahkan sektor pariwisata diharapkan dapat menjadi andalan mendulang sumber Pendapatan Asli Daerah ( PAD )  pasca habisnya cadangan sumber daya alam kabupaten Paser. 

Roh Pariwisata

Roh pariwisata itu sendiri adalah pada Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah ( Ripparda) untuk mengembangkan pembangunan pariwisata.  ” Penyusunan Ripparda jadi langkah awal yang saya lakukan usai dilantik sebagai Kepala Disporpar di sini. Dengan adanya Ripparda itu, kami sudah mengajukan DAK fisik 2020, ” jelasnya.

Langkah selanjutnya adalah membuka akses ke desa-desa yang dihuni oleh suku terasing. Dia mengaku sewaktu menjabat sebagai Kepala Dinas PMD sudah membuka akses ke kampung suku terasing Kabupaten Paser dengan dana dari World Bank dan Islamic Development Bank ( IDB ) karena merupakan desa tertinggal yang layak dibantu institusi keuangan internasional itu.

Kampung suku terakhir Dayak Paser yang bertransformasi menjadi kampung wisata Warna warni.

Yusuf mengaku setelah akses dan memakmurkan desa, maka para kepala desa se Kabupaten Paser secara serentak bisa memiliki satu mobil dan satu motor agar lebih mudah bergerak dalam membina masyarakat di daerahnya.

Kini perannya mengembangkan pariwisata di daerahnya terbantu oleh prestasi kerja sebelumnya karena kunci pengembangan ada di 3 A, yaitu Akses, Atraksi dan Amenitas yang diyakininya  mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan dan meningkatkan SDM. 

“Pemerintah Daerah yang Indeks pembangunan manusianya (IPM) tinggi adalah daerah yang pembangunan obyek wisatanya maju dan yang terpenting objek wisata terkelola dengan baik. Itu sebabnya kami terus menginventarisir lahan obyek sehingga ternyata kami juga punya desa diatas awan seperti di Toraja,”.

Gunung Embun atau Gunung Boga di Desa Luan, Kecamatan Muara Same, Kabupaten Paser memiliki pemandangan indah dmana pada pagi dan sore hari tertutup awan sehingga dijuluki Negri di Atas Awan, padahal obyeknya hanya satu jam dari Tana Grogot. Obyek yang masuk kawasan perkebunan kelapa sawit PT AAMU diyakininya segera mendunia.

Keberagaman obyek dan atraksi wisata tengah di gali. Salah satu terobosan dan loncatan besar yang sudah menuai hasil adalah Kampung Warna Warni di Desa Janju, Kecamatan Tana Paser ( Grogot), Kabupaten Paser, Kaltim yang kini banyak dikunjungi wisatawan. 

Kabid Pengembangan Masyarakat Pariwisata Kemenpar RI,  Dra Ambar Rukmi MPd, awal pekan lalu bersama tim juri kompetisi Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis ) melakukan penilaian karena pengelola obyek wisata ini lolos 20 besar kompetisi nasional tersebut.

Dalam kunjungan yang didampingi terus oleh Yusuf Sumako, pihaknya sempat ‘curhat’ pada Ambar Rukmi soal tidak pernah adanya alokasi DAK dan pentingnya bantuan dari Kemenpar untuk ikut mempromosikan pariwisata Paser terutama memasukan Festival Melas Taun di Paser dalam Calender of Event ( CoE) Pariwisata RI.

Pokdarwis merupakan kelompok non profit yang didalamnya terdapat berbagai macam unit usaha. tergantung kampung atau desanya masing-masing, sebab semakin banyak usaha  maka semakin bagus.

Kampung warna-warni merupakan kampung nelayan suku terasing yang terdiri dari puluhan Kepala Keluarga. Disebut kampung warna-warni karena rumah-rumah di kampung tersebut dicat dengan berbagai macam warna mulai dari atas hingga jembatan. Di Kampung warna-warni terdapat beberapa wahana wisata seperti bola air raksasa, motor air, dan wisata keliling hutan bakau dengan perahu motor.

Ambar Rukmi mengakui obyek wisata tersebut bersih dan tidak kotor, tempatnya bagus  sehingga kampung nelayan warna warni bisa lebih maju jika terus dikembangkan. “Nanti kita salurkan bantuan DAK melalui Pemprov Kaltim,” ujarnya.

Pentahelix dan Event

Berkaca pada keberhasilan Pemkab Banyuwangi dengan membuat banyak event untuk menjaring wisatawan nusantara maupun mancanegara, Yusuf Sumako optimistis pengembangan pariwisatanya bisa lebih maju dari daerah lainnya.

“Kami optimistis karena strategi Pentahelix yang diterapkan juga mendapat respons serius dari kalangan swasta. Saat  ini Disporapar Paser telah menjalin kerja sama dengan PT. Kideco Jaya Agung, perusahaan tambang batu bara terbesar di Paser, “

Dikatakannya perusahaan tambang batu bara PT.Kideco  Jaya Agung setuju sebagian CSR-nya akan disalurkan untuk pengembangan wisata alam seperti Goa Tengkorak dan Bukit Sembinai. 

Pihaknya meminta sebagian dana CSR perusahaan tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sejumlah objek wisata. Begitu pula dengan pihak swasta lainnya yang mengolah SDA dan agribisnis di seluruh wilayah Kabuparen Paser mengingat jarak dari satu lokasi obyek wisata dengan obyek wisata lainnya berjauhan dan dana pemda terbatas.

Yusuf menyadari pentingnya melengkapi Amenitas seperti  hotel, restoran, jasa transportasi local, money changer, dan lainnya. untuk memiliki semua kelengkapan tempat wisata. Kini di Tana Paser restoran Kedai Sampan Tradisional, misalnya, tidak kalah dengan restoran di Jakarta.

Namun pemberdayaan masyarakat juga yang diutamakan sehingga homestay di berbagai obyek wisata yang akan  diperbanyak. Dampak berganda pariwisata dari dan oleh masyarakat lebih ampuh menyejahterakan masyarakat yang menjadi ujung tombak.

“Sudah tiga hari terakhir ini kami mempercantik kota, mendatangkan ahli taman dari Surabaya, memasang lampu-lampu hias dan lampion persiapan Pembukaan MTQ ke 41 di Tana Paser pada 28 Agustus 2019,” ungkapnya.

Penyelenggaraan event juga menjadi salah satu strateginya membuat lompatan besar ke depan agar pariwisata Paser dikunjungi banyak tamu. SDM, ujarnya menjadi kunci karena itu bidang Pemuda dan Olahraga yang menjadi tanggungjawabnya terus dipacu menghasilkan SDM berkualitas dan berprestasi nasional.

” Alhamdulikah Tim Pasibraka Paser lolos ke Istana  egara di Jakarta pada 17 Agustus lalu, Tim sepak bola Desa Bekoso Juara 1, Liga Desa Nusantara 2019. Kami juga mengirim ketua dan anggota Pokdarwis Kampung Warna Warni yang sudah viral untuk belajar ke Desa wisata Pujon Kidul, Malang,” kara yusuf.

Dia berharap Pokdarwis Kampung Warna-Warni yang baru hits setelah Lebaran lalu juga bisa lolos menjadi salah satu pemenang kompetisi nasional di Kemenpar. Desa wisata yang jaraknya hanya 25 km dari kota Tana Paser ( Grogot ) itu penduduk aslinya adalah kategori suku terasing yang masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan.

” Tak mudah meyakinkan mereka untuk membuka diri sehingga sekarang bisa 2500 orang wisatawan datang per hari terutama saat hari-hari besar. Warga Paser menjadi saksi proses from nothing menjadi something dan dalam hitungan bulan bisa hidup makmur,” kata alumnus Universitas Gajahmada ini mengakhiri obrolannya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.