YLKI: Masyarakat Shock Akibat Tiket Pesawat Mahal

0
130
Tiket pesawat masih mahal

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai persoalan harga tiket pesawat agar tidak terus menerus menimbulkan shock di masyarakat. Diharapkan pemerintah segera mengatasi persoalan harga tiket pesawat yang belum kembali normal.

“Terus terang selama 12 tahun terakhir, tarif pesawat itu sangat murah karena ada subsidi BBM. Subsidi oleh maskapai penerbangan itu berupa tarif promosi, sehingga harga tiket pesawat menjadi murah bahkan sangat murah,” ujar Ketua Harian YLKI Tulus Abadi di Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Sayangnya saat ini, sambung Tulus, subsidi tiket pesawat dicabut oleh maskapai sehingga harganya menjadi tarif normal. Hal ini dilakukan agar maskapai tetap bisa hidup di tengah kondisi yang memberatkan. Utamanya karena harga avtur dan nilai tukar rupiah yang ada di atas Rp 14.000 per dollar AS.

“Endingnya timbul gejolak. Jadi selama 12 tahun itu masyarakat sudah addict dengan tarif pesawat murah, ekosistem sudah terbentuk. termasuk ekosistem ekonomi, wisata, dan lainnya. Saat subsidi (tarif promo) dicabut, harga menjadi naik, masyarakat mengalami shock. Padahal sekalipun belum ada pelanggaran tarif batas atas (oleh maskapai),” ungkapnya.

Karena itu, lanjut dia seperti dilansir laman Kompas.com, pemerintah sesegera mungkin mengatasi persoalan harga tiket pesawat.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla memahami permintaan untuk menurunkan harga tiket pesawat yang melonjak dan berharap kebijakan maskapai untuk menyesuaikan harga tiket pesawat, tidak terlalu rendah maupun tidak terlalu tinggi.

“Jadi saya yakin perusahaan penerbangan tidak ingin naik, kalau naik lagi penumpang turun, tapi kalau terlalu rendah, bisa mati juga,” ujar JK saat diwawancarai wartawan di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (7/5).

JK menilai tiket pesawat saat ini memang sangat murah dibandingkan seharusnya. “Padahal, persaingan harga tiket yang tidak normal tersebut membuat banyak maskapai penerbangan bangkrut,” ungkapnya.

Dalam 20 tahun terakhir, kata Wapres, setidaknya hampir 10 maskapai penerbangan dalam negeri terpaksa gulung tikar, dan menyisakan dua grup maskapai penerbangan yakni Garuda dan Lion Grup. “Dalam waktu kurang lebih 20 tahun kurang lebih 10 perusahaan penerbangan tumbang, Mandala, Batavia, Adam Air, Indonesia Air, Merpati. Hampir 10 itu. Semua tidak kuat,” ujar JK.

Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu menjelaskan tarif tiket pesawat mengacu komponen impor yang menggunakan mata uang dollar USD. “Tarif ini 70 persen komponennya komponen impor yang memakai dolar, pesawat, sewa, sparepartnya, komponen lainnya. Sekarang akibat persaingan ketat tinggal dua, grup garuda, grup lion,” ujar JK.

JK pun membandingkan tarif tiket pesawat murah di luar negeri yang jumlahnya hanya sedikit, dibandingkan harga normal. “Kalau anda keluar negeri ada yang murah benar tapi kursinya sedikit,” katanya. (NDY)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.