ENTREPRENEUR KOMUNITAS NASIONAL

Wisman tak Kunjung Tiba, Transaksi Valuta Asing Turun

BALI, bisniswisata.ci.id: Berdasarkan data September 2021, transaksi jual beli valuta asing pada money changer berizin tercatat sebesar Rp182 miliar atau turun 36,15% (yoy) dibandingkan September 2020 yang mencapai Rp285 miliar. Salah satu faktor adalah belum pulihnya kinerja kepariwisataan di Bali, meski border telah dibuka per 14 November, sampai saat ini belum ada penerbangan internasional yang langsung terbang ke Bali.

Menurut Kepala Kanpor Perwakilan Bank Indonesia Prov. Bali, Trisno Nugroho, Bank Indonesia bekerja sama dengan Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) berupaya untuk meningkatkan layanan digital dalam penyelenggaraan money changer. Melalui pengembangan aplikasi penukaran valas yang diluncurkan 7 September 2021. Dengan harapan  dapat meningkatkan transparansi dan kemudahan bertransaksi. Aplikasi menyediakan informasi lokasi dan nilai tukar moneychanger berizin yang ada di wilayah Bali. Tercatat sebanyak 14 pengurus moneychanger juga telah melakukan sertifikasi pada tahun 2021.

Dalam hal menyikapi perkembangan Bitcoin dan cryptocurrency lainnya, di wilayah Bali, Trisno Nugroho mengingatkan masyarakat bahwa aset kripto tersebut bukan merupakan alat pembayaran yang sah di Indonesia.

“Rupiah, mata uang resmi dan alat pembayaran yang sah di Indonesia,” tegasnya.

Untuk menjaga kenyamanan dan keamanan dalam bertransaksi baik tunai mau pun non-tunai, Bank Indonesia menghimbau masyarakat untuk  selalu meneliti uang yang diterima dengan 3D, — dilihat, diraba dan diterawang — agar terhindar dari kerugian uang yang diragukan keasliannya. Selalu merawat uang rupiah dengan 5J –jangan dilipat, jangan dicoret, jangan distapler, jangan dibasahi dan jangan diremas–  agar uang selalu dalam kondisi baik. Serta

berhati-hati dalam bertransaksi dengan selalu menjaga kerahasiaan informasi pribadi seperti username dan password, pin serta kode OTP (One Time Password).

Kebutuhan Nataru

Sementara dalam masa perayaan Hari Raya Natal dan menjelang Akhir Tahun 2021, BI memprediksi kebutuhan uang tunai bulanan masyarakat meningkat dan mencapai Rp2,1 triliun. Secara tahunan, total kebutuhan uang tunai masyarakat di Provinsi Bali diperkirakan mencapai Rp10,8 triliun.

Mengantisipasi peningkatan kebutuhan uang tunai tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali telah menyiapkan uang tunai, baik dalam jumlah mau pun pecahan yang dibutuhkan sebanyak 1,5 kali dari proyeksi kebutuhan hingga akhir tahun 2021.

Sejalan dengan peningkatan kebutuhan uang tunai, jumlah transaksi digital berbasis QR Code Indonesian Standard (QRIS) juga mengalami pertumbuhan signifikan. Sampai dengan Oktober 2021, tercatat jumlah transaksi QRIS mencapai 982 ribu transaksi dengan nominal sebesar Rp75 miliar. Mengalami peningkatan sebesar 555% (ytd) dari sisi transaksi dan 345% (ytd) dari sisi nominal, jika dibandingkan dengan awal tahun 2021– tercatat sebesar 150 ribu transaksi dengan nominal 17 miliar rupiah–.

Semakin meluasnya penerimaan pelaku usaha dalam memanfaatkan kemudahan bertransaksi menggunakan QRIS, sampai awal Desember 2021, merchant QRIS tercatat mencapai 388.223 merchant atau tumbuh 122% (ytd) dibandingkan awal tahun 2021 — tercatat 174.893 merchant–.

Menurut Trisno Nugroho, tren pertumbuhan transaksi tunai, non-tunai menggunakan QRIS tidak diikuti oleh transaksi jual beli valuta asing pada industri money changer berizin di Bali.*

Dwi Yani

Representatif Bali- Nusra Jln G Talang I, No 31B, Buana Indah Padangsambian, Denpasar, Bali Tlp. +628100426003/WA +628123948305 *Omnia tempus habent.*