HALAL INTERNATIONAL KULINER

Wisatawan Muslim Ramai Cicipi Kuliner Korea Ramah Halal

Turis Malaysia mengenakan hijab tengah bersantap di restoran ikan bakar di Distrik Seodaemun, Seoul.( Foto: Ko Un-ho).

SEOUL, bisniswisata.co.id: Tren wisata kuliner di Korea Selatan mulai berubah. Semakin banyak wisatawan Muslim yang kini tertarik mencoba makanan khas Korea, asalkan disajikan dengan konsep ramah halal. Restoran-restoran di Seoul pun ikut beradaptasi demi menyambut lonjakan pengunjung.

Dilansir dari https://halalfocus.com, sebuah restoran ikan bakar di sekitar Stasiun Sinchon tampak penuh sesak. Hampir semua kursi terisi oleh wisatawan Muslim, sebagian besar mengenakan hijab. Pada sore hari tanggal 26 Desemner lalu, sambil menunjuk gambar menu, mereka memesan aneka hidangan laut seperti ikan makarel bakar dan cumi tumis pedas.

Begitu makanan datang, pujian “terbaik!” pun terdengar di beberapa sudut restoran. Awalnya, restoran tersebut hanya populer di kalangan mahasiswa. Namun sejak dikenal sebagai tempat makan ramah halal, sekitar 70 persen pendapatannya kini berasal dari pelanggan asing, khususnya wisatawan Muslim.

Dalam Islam, istilah halal merujuk pada makanan yang boleh dikonsumsi sesuai aturan agama. Popularitas K-pop dan K-beauty ikut mendorong meningkatnya kunjungan wisatawan Muslim ke Korea Selatan.

Dampaknya, pilihan tempat makan mereka juga ikut berubah. Jika dulu kawasan Itaewon menjadi tujuan utama untuk mencari kebab atau daging kambing, kini banyak wisatawan Muslim justru berburu restoran Korea yang menyesuaikan menu agar tetap aman dikonsumsi.

Data Organisasi Pariwisata Korea menunjukkan jumlah wisatawan Muslim terus meningkat tajam. Dari sekitar 360 ribu orang pada 2022, jumlahnya melonjak menjadi 800 ribu pada 2023. Tahun lalu, lebih dari 1 juta wisatawan Muslim berkunjung ke Korea, dan hingga Oktober tahun ini angkanya hampir menyentuh jumlah yang sama.

Sayangnya, restoran yang benar-benar memiliki sertifikasi halal resmi masih sangat terbatas, hanya sekitar 15 tempat di seluruh Korea Selatan. Karena itu, wisatawan Muslim saling berbagi rekomendasi restoran ramah halal lewat media sosial dan aplikasi khusus wisata. Restoran yang tidak menggunakan daging babi dan alkohol, atau menyajikan menu berbasis seafood dan sayuran, jadi favorit.

Di kawasan wisata seperti Myeongdong, pemandangan wisatawan Muslim mengantre di restoran Korea kini sudah biasa. Beberapa restoran bahkan menyediakan menu khusus tanpa daging olahan, serta fasilitas tambahan seperti ruang sholat untuk pengunjung.

Tak hanya restoran Korea, tempat makan dengan konsep vegan dan temple food juga makin diminati. Di kawasan Insadong, wisatawan Muslim terlihat antre di restoran yang menyajikan menu berbahan nabati, seperti olahan kedelai dan jamur. Pihak restoran bahkan membuka kelas memasak bagi pengunjung Muslim yang ingin belajar masakan Korea berbasis sayuran.

Pengamat pariwisata dari Universitas Hanyang, Jeong Ran-su, menilai perubahan ini sebagai tanda positif. Menurutnya, wisatawan Muslim kini tidak lagi sekadar mencari makanan yang familiar, tetapi mulai aktif mengeksplorasi kuliner lokal Korea, tentu saja tanpa meninggalkan prinsip keagamaan mereka

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)