Wisata Kuliner ala Swiss di Charbonnade La Taverne du Valais, Jenewa

0
242

Iman Djuniardi (tengah) menjamu rombongan bisniswisata.co.id dengan menu panggang (berbeque)

JENEWA, Swiss, bisniswisata.co.id: Kuliner khas Swiss, makanan yang sangat terkenal di dunia dan menjadi favorit banyak orang adalah cheese fondue, saus keju lezat yang ditempatkan ke dalam panci khusus yang diletakan diatas api agar terus meleleh.

Belum sempat mencicipi cheese fondue, datang undangan dari pengusaha Indonesia di Swiss, Iman Djuniardi untuk makan siang di dekat apartement tempat saya tinggal di Swiss yaitu di restoran La Charbonnade La Taverne du Valais di kawasan Lignon, hanya beda satu blok.

“Kita makan yang dipanggang-panggang  dan masak sendiri di atas meja, ada salad, roti dan kentang goreng sebagai pelengkap. Nah khasnya adalah beragam saus yang dibuat sendiri secara turun temurun oleh sang pemilik,” kata Iman Djuniardi berpromosi.

Pengusaha perminyakan yang sudah lebih 40 tahun tinggal di Swiss ini mengatakan sering membawa keluarga, teman-temannya bahkan mitra bisnisnya ke La Taverne du Valais yang sudah berdiri sejak tahun 1967.

Lokasinya di tepi jalan Chemin des Sellières 4, 1219 Vernier, tapi tempatnya tidak eye catching. Baru setelah menanjak sedikit masuk halaman tampaklah restoran yang luas. Mobil yang diparkir juga banyak saat jam makan siang.

“Untuk makan siang di restoran biasanya di Swiss kita harus reservasi dulu karena operasionalnya sampai jam 2.30 siang baru nanti buka lagi jam 19.00 malam. Kalau selesai makan mau santai-santai tetap di restoran juga tidak apa-apa,” kata Iman.

Turun dari mobil, rombongan bisniswisata.co.id yang terdiri dari empat oma langsung berfoto di restoran yang mirip rumah pedesaan. Gemes lihat pohon jeruk dengan buahnya yang bergantungan warna kuning dan oranye.Belum lagi taman dengan bunga mawar merekah.

Lingkungan asri, mascot sapi dan serunya memanggang sendi
Daging domba panggang dan beragam saus andalan

 Mascot yang menyambut tamu di depan pintu masuk adalah patung dua sapi, ibu dan anak berwarna merah dalam ukuran sebenarnya dan badannya bergambar tanda palang putih. Di luar banyak meja dengan taplak kotak-kotak merah untuk tamu yang ingin bersantap di udara terbuka.

Berhubung siang itu matahari bersinar terang tapi hembusan anginnya cukup dingin, maklum Swiss di kelilingi pegunungan Alpen, maka kami langsung masuk ruangan  dengan interior dan alat pemanggang warna merah yang dominan di setiap meja.

Sebuah lemari es besar dengan kaca berisi beragam daging sapi dan kambing domba yang segar terpajang. Tamu tinggal memilih jenis daging yang diinginkannya pada pelayan restoran.

Agaknya memang bukan hanya restorannya yang sudah berusia 52 tahun, pelayan restoran agaknya juga awet kerjanya dan hafal benar dengan tamunya yang datang. Bertanda bahwa pengunjungnya selalu kembali seperti Iman Djuniardi.

“Saya pesan daging domba dan sapi, bisa minta seafood seperti udang, scalop, cumi dan ikan untuk dipanggang-panggang juga. Menu vegetarian juga ada,” jelas Iman.

Rupanya meja lain yang penuh dengan tawa sudah melewati main course, makan utama sehingga pelayan yang bolak – balik membawa minuman dan dessert seperti ice cream yang menggiurkan.

Dalam menu memang banyak jenis minuman tersedia mulai dari teh, kopi termasuk jus hingga bir dan alkohol. untuk makanan penutup selain ice cream ada cake, caramel dan coklat.

“Ini beragam sausnya dulu yang keluar dan ini juga ada saus sambelnya orang Indnesia,” kata pelayan setelah membawakan sedikitnya 15 macam saus termasuk mayones, saus tomat, barbeque, saus Itali, Prancis termasuk lada hitam dan garam dalam satu nampan untuk setiap orang.

Perlahan-lahan dia masukan pemanggang ke dalam tempatnya yang diletakkan dua sekaligus karena kami datang berlima. Rasanya makin penasaran melihat menu utama, saat dia kembali dengan membawa salad, roti dan kentang goreng.

Sambil menunggu, Massimo Torri, salah satu pengelola resto datang menghampiri dan menyapa. Sempat mengobrol sebentar dengan Iman yang memperkenalkan rombongan dari Indonesia.

      Salah Knifati ( kanan) dan Mossimo Torri

Hospitality yang kental tak heran kalau umur restoran yang panjang dan tamunya juga bantak menjadi pelanggan tetap serta kualitas makanan yang segar pastinya menjadikan bisnis restoran itu berjalan dengan baik.

“Bisnis restoran bukan hanya harus punya sumber daya manusia yang jujur dan amanah tetapi juga suplier produk yang bermutu dan jujur. Jadi hulu-hilir harus diawasi dengan baik, “

Iman sempat memiliki Restoran Bali pada 1993-1997 yang menjadi restoran Indonesia pertama di Jenewa kelas menengah-atas. Saat itu, ujarnya, salah satu suplier ternyata nakal.

“Pesan 30 botol wines misalnya, diantar hanya 25 tapi tagihannya tetap 30. Jadi semua lini harus diawasi supaya tidak ada kecurangan,” ujar Iman berbagi pengalaman. Kini dia bergelut di bisnis  cerutu Indonesia juga yang dipasarkan di Eropa.

Kesibukan memanggang, makan dan mengobrol memang membuat tamu betah berada di La Taverne du Valais. Ketika membuka restoran ini, pasangan suami-istri Schmidt  menyediakan Cheese fondu dan Raclette makanan tradisional Swiss.

Racklette  merupakan makanan yang umumnya dimakan saat musim dingin. Bahannya terdiri dari keju khusus yang dilelehkan dan kentang rebus. Sekilas, bentuknya mirip dengan Cheese Fondu.

Setahun kemudian, mulai 1968 sang nyonya rumah, Ny. Schmidt mencari cara agar memiliki menu utama yang bisa digemari dari generasi ke generasi dan membuat eksperimen daging panggang, domba panggang dicocol beragam saus.

Sejalan dengan pola hidup sehat masyarakat dunia, menunya juga bertambah untuk para vegetarian sehingga restoran ini punya banyak segmen pelanggan,  termasuk anak-anak yang disajikan dengan daging-daging yang empuk dan enak.

Agaknya kami memang rombongan terakhir tamu yang pulang karena datangnya juga terlambat, satu jam sebelum tutup. Acara foto-foto ternyata masih berlanjut karena salah satu pemilik restoran, Salah Knifati jadi ngobrol karena ucapannya saya tanggapi dengan bahasa Prancis pula.

Pria keturunan Siria dan Lebanon ini senang benar dengar nama Indonesia. Bahkan kalau Iman ada bisnis trip ke Jakarta, Salah ingin ikut sambil melihat peluang bisnis.

Sebagai Muslim, restorannya menyajikan masakan halal dan dia paham Indonesia adalah negara Islam terbesar, makanya tanpa ragu dan langsung akrab Salah Knifati minta saya bisa jadi mitra bisnisnya. Kontan saya bilang oke..oke saja dan dia melepas kami dengan senyum lebar. Aurevoir Monsieur !.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.