TRANSPORTASI

Tragis, Keuangan Air India Berdarah-darah

NEW DELHI, bisniswisata.co.id: Air India yang berdiri tahun 1932, merupakan maskapai tertua. Maskapai BUMN India ini, sempat merajai langit. Sayangnya lebih dari satu dekade, keuangan perusahaan berdarah-darah.

Perusahaan juga kehilangan pangsa pasarnya karena gagal bersaing dengan maskapai penerbangan berbiaya rendah. November 2019, Menteri Penerbangan Hardeep Singh Puri menegaskan bahwa Air India harus ditutup jika tidak diprivatisasi.

BUMN minyak India pun telah menghentikan pasokan bahan bakar ke Air India, setelah pembayarannya mengalami perlambatan. Air India disebut semakin tak berdaya sejak kemerosotan Jet Airways pada tahun lalu.

Kini lebih tragis lagi, Pemerintah India bakal menjual seluruh sahamnya di Air India. Maskapai penerbangan India tersebut diketahui mengalami permasalahan keuangan, terlilit utang US$8 miliar, kesulitan membayar gaji karyawan, dan tidak cukup uang untuk membeli bahan bakar.

Walhasil, Pemerintah India memutuskan menghentikan operasional Air India sampai investor atau pembeli ditemukan. Air India sendiri telah ditawarkan sejak 2018 lalu, namun gagal mendapatkan mitra strategis.

Mengutip AFP, Senin (27/1), Kementerian Penerbangan India mengungkap dokumen yang berisi ajakan untuk investor mengantongi 100 persen saham Air India. Dokumen tersebut menetapkan batas waktu penawaran hingga 17 Maret 2020. “Calon pembeli harus mengasumsikan utang sekitar US$3,26 miliar,” tulis dokumen itu.

Tahun 2018, Pemerintah India terpaksa membatalkan rencana menjual 76 persen saham Air India, karena gagal menarik satu pun investor. Padahal, sebelumnya Tata Group India, Singapore Airlines (SIA), dan IndiGo sempat menyatakan minat mereka. Namun, belakangan, ketiga perusahaan raksasa itu mengurungkan minat mereka. (*)

Endy Poerwanto