Oleh :Hafiz M. Ahmed
TOKYO, bisniswisata.co.id: Sudah terlalu lama, dunia Muslim terjebak dalam cengkeraman geopolitik, takdirnya bukan karena mereka sendiri, melainkan akibat terjebak di antara dua kekuatan yang sama-sama merusak:
Intrik strategis kekuatan global dan ideologi kelompok ekstremis yang kejam dan menyimpang. Ini bukan sekadar krisis regional; ini adalah kegagalan besar sistem internasional dalam melindungi dan memberdayakan peradaban yang berpenduduk lebih dari dua miliar orang.
Dilansir dari halaltimes.com, seiring dunia berada di poros geopolitik baru, narasi harus di reklamasi, dan jalan ke depan harus ditempa oleh umat Muslim arus utama sendiri, yang telah menjadi korban utama eksploitasi eksternal maupun pengkhianatan internal.
Penjepit Geopolitik
Kondisi dunia Muslim saat ini bukanlah sebuah kecelakaan sejarah; melainkan hasil dari rancangan yang disengaja, warisan rekayasa kolonial dan manipulasi pascakolonial.
Setelah runtuhnya Kesultanan Ottoman, kekuatan-kekuatan Barat mengurai wilayah tersebut, menggambar ulang peta-peta wilayah tersebut, dan menempatkan para penguasa otokratis untuk melayani kepentingan strategis dan ekonomi mereka.
Kerangka kolonial ini bertahan hingga Perang Dingin, ketika kekuatan-kekuatan Barat dan Uni Soviet mengeksploitasi negara-negara Muslim sebagai pion dalam kontes ideologis mereka.
Melompat cepat ke masa kini, dan kita melihat versi baru dari permainan lama yang sama.
AS dan sekutunya secara konsisten menjalan-kan kebijakan destabilisasi atas nama kontra terorisme dan demokrasi. Perang di Afghanistan dan Irak saja merugikan AS lebih dari US$8 triliun (proyek Biaya Perang Universitas Brown) tetapi meninggalkan negara-negara yang gagal, pengungsian lebih dari 38 juta orang, dan pemerintahan yang rapuh yang masih memicu konflik.
Sementara itu, sekutu AS di Timur Tengah terus menerima kiriman senjata besar-besaran: pada tahun 2022 saja, Arab Saudi menghabiskan US$75 miliar untuk pertahanan (terbesar keenam di dunia), jauh melampaui pengeluarannya untuk pendidikan atau kesehatan.Namun, militerisasi semacam itu belum berikan stabilitas.
Kemunafikan yang mencolok tetap menjadi bentuk dukungan Barat terhadap rezim otoriter. Mesir, negara dengan penduduk terbanyak di dunia Arab, menerima sekitar US$1,3 miliar bantuan militer AS setiap tahunnya, meskipun memiliki rekam jejak pemenjaraan massal dan represi politik.
Kini, persaingan kekuatan besar baru muncul. Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) Tiongkok telah menginvestasikan lebih dari US$400 miliar di negara-negara mayoritas Muslim, mulai dari pelabuhan di Pakistan hingga jalur kereta api di Iran.
Namun, pinjaman BRI telah membuat beberapa negara—termasuk Pakistan dan Sri Lanka—berjuang untuk membayar utang. Sementara itu, Rusia telah memperkuat militernya di Suriah, di mana kampanye pengebomannya telah menewaskan puluhan ribu orang, sementara pada saat yang sama merayu negara-negara mayoritas Muslim untuk penjualan senjata.
Namun bagi umat Muslim arus utama, pilihannya jelas: kita tidak akan sekadar menukar satu tuan dengan tuan lainnya. Bangsa kita menolak menjadi pion dalam permainan besar ini.
Kita tidak akan dipaksa memilih antara Washington yang telah mengkhianati kepercayaan kita dan Beijing yang menawarkan iming-iming ekonomi tanpa memperhatikan martabat manusia.
Kemerdekaan kita bukanlah alat tawar-menawar. Kedaulatan dunia Muslim tidak akan dinegosiasikan di meja Washington, Moskow, atau Beijing.
Pengkhianatan Ideologis
Tekanan eksternal tercermin oleh pengkhianatan ideologis yang mendalam dari dalam. Selama beberapa dekade, jiwa intelektual dan spiritual dunia Muslim telah diserang oleh kelompok-kelompok ekstremis yang telah membajak keyakinan mereka demi kekuasaan politik.
Kelompok-kelompok seperti ISIS pernah menguasai wilayah seluas Inggris, membentang di Irak dan Suriah, tetapi korban mereka sebagian besar adalah Muslim. Menurut PBB, lebih dari 90% korban ISIS antara tahun 2014 dan 2018 adalah Muslim itu sendiri.
Hal ini mengungkap kebohongan bahwa gerakan-gerakan ini membela Islam—mereka mencoba menghancurkannya dari dalam.
Harga ekstremisme sangat mencengangkan. Konflik Suriah, yang sebagian dipicu oleh gerakan-gerakan ekstremis, telah menyebabkan 14 juta orang mengungsi, setengah dari populasi negara itu.
Ketidakstabilan Afghanistan telah menyebab-kan 97% penduduknya hidup dalam kemiskinan di bawah kekuasaan Taliban. Krisis semacam itu tidak hanya menghancurkan kehidupan tetapi juga menyediakan dalih yang nyaman untuk intervensi militer eksternal.
Perjuangan melawan ideologi yang merusak ini bukanlah perang terhadap umat Islam, melainkan perang yang dilakukan oleh umat Islam untuk merebut kembali agama dan masa depan mereka.
Mayoritas komunitas Muslim global menolak penyimpangan keyakinan mereka yang penuh kekerasan ini. Survei secara konsisten menunjukkan bahwa lebih dari 90% Muslim di seluruh dunia menentang kekerasan atas nama agama (Pew Research Center).
Ini adalah momen kebenaran bagi dunia Muslim. Pergaulan historis dengan ideologi ekstrem hanya berujung pada kehancuran.
Kembali kepada esensi sejati iman—yaitu keilmuan, keadilan, dan kemanusiaan—adalah satu-satunya cara untuk melucuti narasi para ekstremis dan menempa jalan yang layak ke depan.
Ekstremisme tumbuh subur dalam kekosongan yang ditinggalkan oleh pemerintahan yang gagal, pendidikan yang buruk, dan manipulasi asing. Obatnya terletak pada kebangkitan, bukan penindasan.
Penulis adalah: Pemimpin Redaksi The Halal Times, dengan pengalaman lebih dari 30 tahun dalam jurnalisme. Dengan spesialisasi di bidang ekonomi Islam, analisisnya yang mendalam membentuk wacana dalam ekonomi Halal global










