HALAL INTERNATIONAL LIFESTYLE

Tampil Cantik Tanpa Jejak Mikroplastik

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Di balik kilauan produk kecantikan yang kita gunakan setiap hari, terdapat ancaman kecil yang seringkali tidak disadari: mikroplastik.

Partikel-partikel kecil dan tak terlihat ini mungkin membuat kulit Anda terasa halus, tetapi jejaknya dapat merusak lautan, tanah, dan bahkan masuk kembali ke tubuh kita melalui makanan.

Pertanyaannya adalah, apakah penampilan cantik sepadan dengan risiko yang ditimbulkan mikroplastik terhadap kesehatan dan lingkungan kita? Dalam hal tren kecantikan, banyak orang fokus pada hasilnya: kulit halus, tampilan segar, dan kepercayaan diri.

Tetapi pernahkah kita bertanya-tanya apakah “kecantikan” yang kita capai itu merugikan bumi? Salah satu masalah yang saat ini muncul adalah mikroplastik—partikel plastik kecil, berukuran kurang dari 5 milimeter, yang seringkali tersembunyi dalam produk sehari-hari kita.

Dilansir dari halalmui.org,Mikroplastik dapat berasal dari fragmen plastik yang lebih besar yang terurai seiring waktu, atau dapat diproduksi secara sengaja hingga berukuran mikro.

Berdasarkan asal-usulnya, mikroplastik dibagi menjadi dua kategori: mikroplastik primer, yang diproduksi dalam skala mikro dan dilepaskan langsung ke lingkungan.

Sementara itu, mikroplastik sekunder adalah fragmen plastik yang terbentuk secara tidak sengaja, misalnya, dari sampah plastik yang dihancurkan atau abrasi ban.

Anehnya, mikroplastik primer ini umum ditemukan di dunia kecantikan. Lulur wajah atau lulur tubuh, yang memberikan sensasi lembut dan berbutir untuk mengangkat sel kulit mati, sering menggunakan butiran mikroplastik kecil.

Dari perspektif industri, butiran mikro dianggap sebagai solusi murah. Dibandingkan dengan lulur alami seperti ampas kopi atau biji aprikot.

Butiran mikro lebih mudah diproduksi dalam jumlah besar, memiliki bentuk yang seragam, dan tentu saja, ekonomis. Akibatnya, banyak produk kecantikan di pasaran memilih jalur ini untuk memenuhi tuntutan harga yang kompetitif.

Jejak Mikroplastik di Alam

Masalahnya adalah, partikel-partikel kecil ini tidak berhenti di kulit kita. Setelah dibilas, butiran mikro mengalir bersama air ke saluran pembuangan dan akhirnya ke sungai atau laut. Di situlah masalah besar dimulai.

Penelitian telah menemukan bahwa mikroplastik tersebar luas: di lautan, air tawar, tanah, dan bahkan udara. Karena sifat bioakumulatifnya, mikroplastik menumpuk di dalam organisme dan sulit terurai, sehingga menimbulkan ancaman nyata.

Hewan kecil dapat menelannya, yang kemudian dimakan oleh hewan yang lebih besar, dan akhirnya masuk ke dalam rantai makanan manusia. Bayangkan: ikan yang kita konsumsi mungkin mengandung jejak mikroplastik di dalam tubuhnya.

Dampaknya sangat besar. Mikroplastik dapat merusak organ hewan, menyebabkan kematian, dan bahkan membawa zat berbahaya lainnya seperti logam berat. Bahan kimia dalam plastik, seperti BPA, juga diketahui mengganggu hormon dan sistem reproduksi.

Tidak hanya lautan yang menderita, tetapi pertanian juga terpengaruh. Tanah yang terpapar mikroplastik dapat kehilangan kualitasnya, mikroorganisme tanah terganggu, dan tanaman kesulitan tumbuh secara optimal. Dengan kata lain, mikroplastik berpotensi merusak sumber makanan kita dengan berbagai cara.

Apakah Produk Kosmetik yang Mengandung Mikroplastik Halal dan Thayyib?

Bagaimana status halal produk kosmetik yang mengandung mikroplastik?. Menurut Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1360 Tahun 2021, mikroplastik termasuk dalam kategori “Bahan Olahan yang Tidak Berisiko Mengandung dan/atau Terkontaminasi Bahan Non-Halal.”

Ini berarti bahwa, dari perspektif halal, mikroplastik bukanlah bahan kritis dan dianggap halal. Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah melarang penggunaan microbeads dalam produk kosmetik bilas sejak tahun 2019 melalui lPeraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019.

Sayangnya, peraturan ini tidak menentukan jenis bahan yang termasuk dalam kategori microbeads, sehingga sering membingungkan baik produsen maupun konsumen.

Meskipun mikroplastik mungkin aman dari perspektif halal, pertanyaan yang lebih besar tetap ada: apakah bahan-bahan ini thayyib (baik)?

Islam mengajarkan bahwa setiap Muslim hendaknya memilih bukan hanya apa yang halal, tetapi juga apa yang membawa kebaikan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf: 56: “Janganlah kamu merusak bumi setelah bumi itu diperbaiki. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Pesan ini mengingatkan kita untuk tidak merusak lingkungan dengan pilihan kita, sekecil apapun dampaknya. Menggunakan produk ramah lingkungan, memilih bahan-bahan alami, dan mendukung industri yang peduli terhadap bumi adalah langkah nyata yang dapat kita ambil.

Waktu untuk Perubahan

Sebagai konsumen, kita memiliki kekuatan yang besar. Setiap kali kita memilih suatu produk, kita mengirimkan sinyal kepada industri tentang apa yang kita anggap penting. Jika lebih banyak orang beralih ke lulur alami atau kosmetik ramah lingkungan, industri akan perlahan beradaptasi.

Bagi produsen, ini juga merupakan peluang emas. Mengembangkan produk kecantikan yang tidak hanya halal tetapi juga ramah lingkungan dapat menjadi nilai tambah di mata konsumen yang semakin sadar akan isu keberlanjutan.

Pada akhirnya, kecantikan sejati bukan hanya tentang penampilan luar. Ini juga tentang bagaimana kita merawat diri sendiri tanpa meninggalkan jejak mikroplastik.

Oleh karena itu, kita perlu merenungkan diri sendiri ketika membeli produk kecantikan: apakah produk ini mampu membuat kita cantik tanpa meninggalkan jejak mikroplastik.

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)