Strategi Voucher vs Hot Deals Untuk Gerakkan Wisnus

0
10

Wisatawan domestik atau disebut wisatawan nusantara di Situ Gunung Suspension Bridge, Sukabumi. Wisatawan domestik jadi andalan bangkitkan industri wisata. ( Foto: HAS)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Penggunaan voucher dan harga promosi berupa potongan harga untuk mendorong perjalanan domestik sebetulnya sudah di praktekan banyak negara untuk mendorong daya beli masyarakat misalnya di Perancis, kata pengamat pariwisata Thamrin B Bachri, hari ini.

Pemerintah China mengeluarkan Holiday voucher ketika terjadi resesi ekonomi memberikan “subsidi khusus” kepada keluarga yang berpendapatan rendah, anak muda, milenial dan warga senior, tambahnya.

” Strategi budget friendly ini kita praktekan ketika pariwisata Indonesia mengalami “multi-krisis” seperti tsunami Aceh, bomb Bali 1 dan 2, Avian Flu dan SARS dll yang merupakan hasil kerjama antar pelaku usaha dan pemerintah,” kata  alumnus School of Hospitality & Tourism, University of Wisconsin, AS ini.

Untuk itu dibuatlah program hot deals oleh Kemenpar RI untuk menggenjot dunia pariwisata di tanah air.“Hot deals sendiri adalah program menjual paket wisata dengan harga bersaing atau bundling berdasarkan konsep More for Less you get more, you pay less untuk semua komponen pada paket wisata,” jelas mantanDirjen Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar.

Menurut Thamrin, pada tahap rehabilitasi saat ini program hot deals sudah bisa diterapkan dengan asumsi bahwa wisnusnya atau wisman sudah tidak dihinggapi semacam mortality phobia karena destinasinya masih belum aman dari COVID-19. 

Jadi, tambahnya, hot deals sebetulnya adalah “survival strategy” misalnya mengejar target atau di industri sering disebut “BEP strategy” tentu saja hot deals ini bisa dipakai untuk memenangkan promosi musiman (off-peak). Jadi hot deals adalah strategi jangka pendek.

Bila pembatasan sudah dicabut, COVID-19 benar-benar sudah mereda, apalagi bila vaksin sudah ditemukan dan digunakan di seluruh dunia, strategi hot deals ini sudah tidak efektif lagi alias rugi kalau diterapkan dalam jangka panjang. 

” Repotnya kalau kita selalu dicitrakan sebagai budget friendly destination yang sama sekali tidak bersahabat dengan pariwisata yang berkelanjutan,” kata Thamrin.

Pada 2019, wisatawan asal Malaysia, China, Singapura, Australia dan Jepang merupakan yang terbanyak datang ke Indonesia. Namun saat ini negara-negara tersebut masih menutup diri untuk mencegah penyebaran virus COVID-19.

“Lima negara yang nenjadi pasar utama itu masih melakukan pembatasan-pembatasan untuk bepergian, contohnya seperti Australia melarang seluruh warganya keluar dari Australia sampai akhir tahun,” kata Thamrin.

Pihaknya berharap pemerintah dan  industri pariwisata terutama penerbangan dapat menemukan srategi yang pas agar kesiapan destinasi wisata di tanah air yang sebagian sudah siap dengan praktek kenormalan baru serta keinginan masyarakat untuk berwisata sudah mencapai titik temu.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.