UBUD, bisniswisata.co.id: Setelah merilis anthem perdamaian “My Free Heart”, musisi dan terapist suara kelahiran Iran, Shervin Boloorian, kembali menghadirkan karya terbaru bertajuk “One More Day”, sebuah single indie-folk yang lembut namun penuh ketegangan emosional. Lagu ini menjadi rekam jejak terbaru perjalanan artistik dan spiritual Boloorian, yang sejak lama menenun suara dan pengalaman hidupnya sebagai pengungsi, penyintas kehilangan, sekaligus penyembuh melalui musik.
Berbeda dari single sebelumnya yang sarat pesan geopolitik dan seruan perdamaian, “One More Day” bergerak lebih intim. Lagu ini menyelami ruang paling sunyi dari proses berduka: keheningan setelah kehilangan, benturan antara waktu yang terus berjalan dan hati yang tertinggal pada masa lalu, serta kerinduan manusiawi untuk memiliki satu hari lagi bersama orang yang dicintai.
Meski bertemakan tragedi personal, single ini justru menjadi trek paling “ceria” dalam EP mendatang Boloorian, Unbroken, sebuah paradoks yang terencana dan disengaja, meminjam pendekatan dualitas emosional ala The Smiths dan The Cure, yang dapat meramu lirik pedih di atas warna musik yang hangat.
“One More Day” menonjol sebagai karya paling sederhana namun paling emosional dari katalog terbarunya. Diproduksi oleh Kipper Eldridge, pemenang Grammy yang dikenal lewat kolaborasi bersama Sting dan Gary Numan, lagu ini mempertahankan struktur yang minimalis; hanya fondasi gitar dan vokal. Sehingga membuka ruang bagi interpretasi emosional yang jernih.
Eldridge sendiri menyebut lagu ini sebagai karya yang “paling langsung dan paling dalam” dari EP tersebut, sekaligus menjadi tantangan produksi tersendiri: bagaimana menjaga kejujuran vokal Shervin tanpa merusaknya dengan lapisan produksi yang berlebihan.
Warna musiknya diperkaya oleh kontribusi Carl Young (Spearhead, Michael Franti), yang menambah tekstur lembut namun kokoh pada aransemen. Hasil akhirnya adalah komposisi indie-folk yang bersahaja namun menyentuh, dengan nuansa pop lembut yang membuatnya mudah dipahami sekaligus emosional.

Dari Kehilangan Menuju Penerimaan
“One More Day” lahir dari tragedi pribadi yang tak terduga: kematian mendadak ibunya setelah sakit singkat, disusul kepergian ayahnya setahun kemudian. Dua kehilangan besar ini membentuk inti dari proses kreatif Boloorian, sekaligus membuka lapisan-lapisan duka yang selama ini ia tekan di balik peran sebagai musisi dan penyembuh.
Lagu ini menggambarkan suatu keinginan yang universal, kerinduan untuk memutar balik waktu, walau hanya 24 jam, demi merasakan kembali kehangatan seseorang yang telah pergi. Bagi Shervin, keinginan itu menjadi jembatan antara keputusasaan dan penerimaan; sebuah ruang di mana rasa sakit, cinta, dan harapan dapat hidup berdampingan tanpa saling meniadakan.
“One More Day” juga menangkap paradoks emosional yang umum dalam proses kehilangan: dunia bergerak maju, namun diri sendiri merasa beku. Lagu ini menjadi semacam “nafas penyelamat”, sebuah cara bagi Boloorian untuk bertahan di tengah spiral kehilangan yang membingungkan serta panjang.
Sebagai penyanyi dan pengungsi asal Iran yang kini berbasis di Bali, Boloorian telah lama menggunakan musik sebagai cara untuk menjembatani trauma personal dengan realitas sosial. Suaranya yang dikenal bergetar halus dan penuh intensitas emosional kerap menjadi alat penyembuhan, baik bagi dirinya maupun bagi pendengar dalam sesi healing yang ia pimpin.

“One More Day” melanjutkan tradisi itu. Lagu ini bukan hanya catatan duka, namun juga undangan bagi siapa pun yang pernah kehilangan; baik karena kematian, perpisahan, maupun perubahan hidup besar, untuk menemukan ketenangan di tengah kekacauan batin.
Boloorian berharap single ini dapat menjadi teman bagi banyak orang yang sedang berjuang memahami kembali hidup setelah kehilangan: dari mereka yang mencoba menerima duka bertahun-tahun kemudian, hingga mereka yang masih berada di tengah gelombang emosional yang belum mereda.
Melalui “One More Day”, Shervin Boloorian menegaskan dirinya bukan hanya sebagai musisi indie-folk yang berbakat, tetapi juga sebagai pencerita yang berani menelanjangi sisi paling rapuh dari kemanusiaan. Karya ini memperluas jejak musiknya yang selama ini berfokus pada penyembuhan, perdamaian, dan pemulihan spiritual—kini dengan nada yang lebih pribadi dan transparan.
Dengan perpaduan narasi duka yang jujur, aransemen intim, dan produksi yang matang, “One More Day” mengajak pendengar masuk ke ruang reflektif yang hangat namun getir. Lagu ini adalah peringatan bahwa kehilangan tidak hanya tentang perpisahan, tetapi juga tentang keberanian untuk mengakui luka-luka yang masih tinggal.
“One More Day” rilis 14 November 2025 dan tersedia di seluruh platform streaming utama sebagai bagian dari album Unbroken yang akan datang.










