LIFESTYLE SOSOK

Rima Khansa Nurani, Sosok Arsitek Peduli  Bangunan Rendah Karbon

Rima Khansa Nurani ( Foto-Foto: ESQnews.id)

JAKARTA, bisniswis0ata co.id: Namanya Rima Khansa Nurani, CEO Green Architects, unit bisnis dari ESQ Group yang  mempunyai ambisi besar untuk berkontribusi pada social and economic sustainability melalui sustainable buildings. 

“Low Carbon Development Indonesia (LCDI) menyatakan semakin ambisius aksi kita dalam menanggulangi perubahan iklim atau   climate change, maka semakin baik bagi perekonomian Indonesia,” kata ibu satu anak ini mengawali pertemuan.

Senyumnya terus mengembang apalagi dibalut hijab dan modest fashion warna pastel coklat muda yang senada sehingga penampilan Rima pagi itu memantulkan aura kasih seorang ibu sekaligus profesional muda yang anggun.

“Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi risiko perubahan iklim ini adalah dengan bangunan yang tahan terhadap iklim dan desain yang sustainable. Dengan mempertimbangkan desain dan pemilihan material bisa mengurangi potensi kerugian,” ungkapnya sambil menunjukkan bagian-bagian dari rumah tinggalnya yang dibangun dengan konsep green building.

Carbon emission

Menurut Rima, cara ampuh mengurangi emisi dunia adalah dengan memfokuskan penurunan carbon emission atau gas rumah kaca pada bangunan. Mengapa? Karena bangunan bertanggung jawab sebesar 40% dari pengeluaran energi di dunia.

Kerugian akibat perubahan iklim yakni mencapai Rp. 544 T untuk tahun 2020-2024. Angka tersebut merupakan prediksi dari Bappenas yang memperkirakan berapa total kerugian apabila tidak ada tindakan pencegahan terhadap perubahan iklim.

Angka yang sangat signifikan di atas  bisa membantu banyak Rakyat Indonesia yang saat ini membutuhkan sekali pertolongan. Sekolah-sekolah bisa dibangun di pedesaan dan jembatan bisa dibangun untuk menghubungkan masyarakat yang terisolasi, tegasnya.

Kebayangkan betapa besar energi yang telah dikeluarkan karena bangunan – bangunan ini adalah tempat kita bekerja dan beristirahat. Dimana, kita menghabiskan 90% waktu kita di dalam ruangan (indoor) ” katanya prihatin.

Sampai di sini lawan bicaranya sudah tak mampu mengajukan pertanyaan karena kagum dengan pengetahuan dan  kepeduliannya pada umat dan tekadnya yang mulia diusia muda.

Rima yang besar di Bali dan melanjutkan studi arsitektur di Curtin University,  Perth  Australia lalu  pascasarjana ke Universitas Liverpool, Inggris menjadi sosok wanita yang tangguh dengan prinsip-prinsip hidup dan ajaran agamanya.

“Dulu kan kita tinggal di rumah-rumah kecil yang terbuat dan dikelilingi alam, dapat penerangan dari matahari, dan minuman dari sungai. Walau zaman telah berubah, bukan berarti kita tidak bisa mempelajari esensi kebiasaan manusia terdahulu yang sangat menyatu dan ramah dengan alam,” katanya.

Namun yang menjadi pertanyaan, apa sih Pembangunan Rendah Karbon atau Net Zero Carbon Building itu? ini adalah bangunan yang energinya sangat efisien dalam pembangunan, pelaksanaan, dan operasinya.

Bangunan Rendah Karbon ini bisa menggunakan atau menghasilkan sendiri energi terbarukan yang bebas karbon. Dengan tujuannya, untuk menyeimbangi pengeluaran emisi karbon tahunan.

Dedikasi dan keberanian seorang arsitek untuk memperjuangkan bangunan yang hijau bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia, tegpas Rima.

Karena tiap bahan baku dan operasional bangunan itu sendiri akan meninggalkan jejak polusi yang berupa karbon, strategi, dan perencanaan arsitek untuk meminimalisir berbagai sumber daya menjadi sangat penting.

Contohnya, dalam pembangunan untuk mengurangi jejak karbon kita bisa memilih bahan yang sustainable seperti kayu yang tersertifikasi berasal dari hutan. Kemudian kayu tersebut dikelola secara sustainable, bukan berasal dari pohon-pohon di Kalimantan, dimana satwa yang terancam punah seperti Orang Hutan hidup.

Dalam pelaksanaan pembangunan, sampah proyek yang biasanya dibuang ke TPA dipilah untuk reuse dan recycle. Daripada mencemari tanah dengan menumpuk sampah di TPA, sedikit waktu diluangkan untuk memilah mana bahan bangunan yang bisa dipakai lagi dan yang tidak.

“Seperti salah satu proyek renovasi rumah oleh Green Architects dimana lantai rumah dan pintu yang sudah tidak terpakai dilepas dengan kesabaran tukang, sehingga bisa dipakai untuk membangun sebuah Musholla di Sawangan ” tuturnya.

Selanjutnya, dari segi pencahayaan, bangunan yang di desain dengan pencahayaan serta udara yang baik, ditambah pilihan sanitary yang hemat air, lampu LED yang 70% lebih hemat listrik.

“Betapa besar penghematan yang dapat dicapai secara cuma-cuma, hanya karena kita membuat ‘conscious choice’ yang artinya membuat pilihan yang sudah dipertimbangkan dengan baik,” ungkap Rima

 Oleh karena itu, dengan mendesain bangunan yang menggunakan prinsip Low Carbon Design akan mengarah pada penghematan energi yang sangat besar.

Pembangunan Rendah Karbon sangatlah layak secara teknis dan finansial. Tindakan kecil untuk memilih bangunan dengan baik akan berdampak sangat besar jauh dari apa yang kita duga, tambahnya.

Hasilnya, hutan tropis kita sebagai paru-paru dunia aman dari penebangan liar. Air tanah kita tidak tercemar oleh sampah. Biaya energi kita menjadi lebih rendah tiap tahunnya. 

Jadi, investasi dalam Zero Carbon Buildings dapat melindungi dari harga karbon yang semakin tinggi dan menawarkan manfaat di luar pengurangan karbon itu sendiri.

Presiden Joko Widodo telah mengesahkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK) atau carbon pricing. Dengan adanya Perpres ini, Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang menggerakkan penanggulangan perubahan iklim berbasis pasar di tingkat global untuk menuju pemulihan ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Rima bertekad ingin berkontribusi dalam penurunan karbon ini. Oleh karena itu dia masuk ke ranah low carbon design dan fokus ke arah bangunan green. “Sudah banyak yang support terkait penurunan emisi gas rumah kaca ini. Tapi Green Architects sendiri lebih gencar lagi ke arah dimana manusia itu tinggal,” 

Profesi amanah

Menjadi arsitek sebagai salah satu stakeholder yang berkontribusi dalam industri konstruksi merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Menjaga amanah dengan profesi pilihannya menjadi sangat penting.

“Jika kita menghitung dan menambahkan semua anggaran bangunan yang pernah mengalir melalui tangan kita, maka pada akhir karir yang telah kita capai, tentu akan menghasilkan angka yang cukup besar, bahkan bisa mencapai triliunan dollar,”.

Sebagai pemimpin di industri konstruksi kita harus terus memastikan apakah setiap keputusan yang kita buat dapat memberikan kontribusi terhadap keadilan sosial? Atau justru akan merusak lingkungan? tanyanya.

Pengetahuan arsitek tentu menjadi elemen strategis untuk meraih green design. Salah satu cara mendesain sebuah bangunan yang sustainable dan mampu memberi aspek kepedulian terhadap lingkungan dan sosial adalah dengan menggunakan prinsip Low Carbon Design. 

Pada dasarnya setiap bahan baku bangunan dan operasional dalam sebuah proyek tentu meninggalkan jejak polusi yang berupa karbon. Dengan pendekatan Low Carbon Design kita bisa meminimalisir berbagai sumber daya dalam proses konstruksi, pelaksanaan, dan penggunaannya.

Saat saya melanjutkan pendidikan di Perth, Australia, dosen arsitektur saya pernah berkata, “If you want to change the world, then you are in the right position.” Artinya, jika kamu mau mengubah dunia, kamu ada di posisi yang tepat. Arsitektur adalah alat yang ampuh untuk mengatasi climate change dan meningkatkan keadilan sosial. 

Sebagai seorang arsitek kita memilih untuk memimpin dan mengedukasi manusia untuk beralih ke Green dan Low Carbon Design serta membuka mata untuk mengatasi global warming.

Indonesia juga merupakan negara yang rentan terhadap dampak variabilitas dan perubahan iklim. Dengan adanya perubahan iklim Indonesia yang bertambah panas, kebutuhan untuk pendinginan ruangan akan menjadi lebih besar dan boros energi. 

Oleh karena itu dengan mendesain bangunan yang mengikuti prinsip Low Carbon Design dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap penghematan energi.

Saat ini banyak sekali gedung-gedung yang tidak didesain dengan dasar-dasar sustainable arsitektur. Namun, Presiden Jokowi sudah menetapkan sebuah komitmen untuk penurunan emisi gas rumah kaca yang ditargetkan sebesar 29% pada 2030

Tekad Presiden juga mengurangi kerugian ekonomi yang diakibatkan dari dampak perubahan iklim yaitu sebesar 1.15% di tahun 2024. Oleh karenanya, mulai saat ini kita harus beralih ke Low Carbon Design sejalan dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi dan populasi Indonesia.

Sampai saat ini sudah tak terhitung kerugian yang ditimbulkan akibat dari bangunan yang tidak efisien dan sustainable. Padahal bila didesain secara tepat, biaya operasional setiap gedung bisa berkurang.

Bayangkan apabila sebuah gedung bisa menghemat biaya operasionalnya sekitar 20% saja atau Rp. 100.000.000 per bulan, dan dikalikan seratus atau bahkan ribuan gedung.

” Berapa banyak uang dan energi yang sebenarnya kita buang. Padahal uang tersebut bisa dipergunakan untuk membangun kemanusiaan, dimana bangsa Indonesia membutuhkan begitu banyak pertolongan?,”

Kehadiran perusahaan yang dipimpinnya menjadi sangat penting di Indonesia, dimana kondisi pertumbuhan ekonominya sangat pesat dan juga rentan oleh dampak climate change. 

“Dengan keberanian Green Architects untuk memimpin di Low Carbon Design, kerugian ekonomi karena tidak efisiennya bangunan bisa dihindari. Dengan Green dan Low Carbon Design maka bangunan-bangunan ini akan menunjang psychological, emotional, dan environmental sustainability,” ujarnya mengakhiri obrolannya.Sukses ya Rima !

 

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)