Perjalanan Panjang Vanilla Hijab

0
237
Kreasi Vanilla Hijab di pamerkan (Foto: Liputan6.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Tak ada usaha yang mengkhianati hasil. Begitulah keyakinan Atina Maulina ketika merintis bisnis busana Muslim di bawah label Vanilla Hijab sekitar enam tahun silam. Ide membangun usaha ini dimulai dari cerita kurang menyenangkan.

“Saya tadinya kuliah di ITB jurusan Teknik Perminyakan. Itu jurusan yang betul-betul saya mau. Sudah bayangin dong kerja di perusahaan asing dengan gaji dolar. Tapi, saya harus berhenti (kuliah) di semester 4,” cerita Atina Maulina.

Keputusan berat ini diambil Atina, lantaran sakit yang membuatnya hanya bisa duduk di kursi roda. Pengobatan yang tak hanya memakan waktu, tapi juga nominal tak sedikit itu membuat Atina tak ingin membebani orangtua ketika kembali mulai kuliah di Jakarta. “Pilihannya jualan hijab itu karena lebih gampang. Cari yang tidak terlalu cape karena baru sembuh,” katanya.

Dari niat itu, Atina berkeliling mencari penjahit yang mau membantunya. “Akhirnya, ketemu satu penjahit keliling,” kenang perempuan yang memulai bisnis di usia 20 tahun.

Dilanjutkan, Vanilla Hijab dimulai tanpa modal sepeser pun. Saat itu, Atina menjelajah sejumlah toko kain di Jakarta, izin memfoto kain tersebut, diunggah, dan baru akan dibeli saat sudah ada pesanan masuk.

Permintaan pasar yang terus meningkat membuat Atina sukses mengembangkan Vanilla Hijab. Dengan tekun, bisnis ini terus digeluti perempuan 25 tahun itu bersama sang kakak, Intan Fauzia, di tengah kekecewaan sang ayah. “Waktu saya keluar dari ITB, ayak kecewa banget. Keluarga bahkan sempat tidak percaya dengan niat saya berjualan hijab,” tutur Atina.

Tapi, kegigihan kakak-beradik dan perkembangan Vanilla Hijab berbicara sebaliknya. Dimulai dari satu penjahit keliling, karyawan yang membantu Atina dalam produksi, tak hanya hijab, tapi sederet busana Muslim, berkembang jadi 75 orang. Sekarang, brand yang sudah melangsungkan Annual Show selama tiga tahun belakangan ini telah punya dua rumah konveksi di Jakarta dan Tangerang, Banten.

Memulai usaha di usia sangat muda, serta tak memiliki basic di dunia fashion membat Atina dan Intan kerap mendengar perkataan terkesan meremehkan usaha mereka. Komentar macam ini, kata Atina, tak membuat semangat mereka kendur.

“Kalau diremehkan, kami selalu menganggap itu sebagai doa. Supaya bisa berusaha lebih baik lagi, menuangkan ide lebih kreatif, dan selalu punya ide-ide segar untuk dikasih ke konsumen loyal Vanilla Hijab,” tutur Atina seperti dilansir Liputan6. Senin (06/05/2019),.

Jadi salah satu lini hijab fashion kenamaan, desain Vanilla Hijab tak luput dari aksi plagiat. Soal ini, Atina mengaku tak terlalu ambil pusing dan enggan mengurusi siapa saja yang meniru rancangan brand miliknya.

Ia mengatakan, waktu akan terbuang banyak jika mengurusi kasus plagiat melibatkan desain brand yang sudah secara resmi jadi partner Swarovski sejak 2017 tersebut.

Sebelum memasuki bulan Ramadhan, menggelar annual show bertemakan “Menyapa Senja” di Jakarta, awal Mei 2019. Sedikitnya 30 koleksi baru diluncurkan oleh Atina bertemakan “Kisah”, yang mengartikan bahwa setiap wanita memiliki cerita dan perjalanan hidupnya masing-masing yang kemudian ia tumpahkan dalam busana-busana tersebut.

“Aku selama membangun Vanilla Hijab sudah banyak sekali bertemu dengan berbagai perempuan kuat dan tangguh. Dari situ aku sadar betapa banyak kisah-kisah yang sudah mereka lewati, dan masing-masing memiliki cerita Kartininya sendiri. Tidak harus menjadi pahlawan untuk mengikuti nilai-nilai Kartini.” lontarnya.

Dari mulai lace, silk, print, voal, crepe, dan simple cutting, Vanilla Hijab merupakan brand busana yang menggunakan pernak-pernik dan beads sebagai detail dari desain mereka. Sejak 2017, Vanilla Hijab menjadi brand online pertama di Indonesia yang resmi berkolaborasi dengan brand kancah internasional, Swarovski Crystal.

“Alhamdulillah kita berhasil punya kolaborasi denga Swarovski, kalau dilihat di website mereka, ada nama kita, satu deretan dengan Gucci, Chanel, dan lain-lain.” tutur Atina.

Dengan menawarkan beragam model mulai dari dress, blouse, tunik, dan hijab, Vanilla Hijab menawarkan busana-busana muslim dengan harga Rp350-450 ribu rupiah dan Rp150-210 ribu rupiah untuk hijab. Yang biasanya dikenal dengan warna-warna soft dan pastel, kini mereka lebih berani untuk bermain dengan warna-warna gelap seperti hitam dan ungu tua.

Atina menganggap bahwa fashion bukan hanya sekedar modis dalam berbusana, namun ada banyak makna di baliknya, apalagi dalam menyambut bulan suci Ramadhan. (NDY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here