JAKARTA, bisniswisata co.id: Ada yang menarik disimak dari travel talk di
Radio Pelita Kasih (RPK FM) 96.30 FM Jakarta saat mendobrak mitos tentang Arab Saudi yang identik dengan wisata religi untuk ibadah Haji dan Umroh.
Dipandu oleh Bob Moningka, Ketua Indonesian Tour Leaders Association ( ITLA), program Travel Talk: Arab Saudi dari Kacamata Traveler , Kamis, dengan nara sumber Farianti Gunawan seorang Traveler & Tour Leader.
Topik ini menarik karena selama puluhan tahun, citra Arab Saudi di mata dunia internasional—khususnya masyarakat non-muslim—sangat lekat dengan perjalanan ibadah haji dan umrah.
Namun, melalui program TravelTalk di RPK FM Jakarta, terungkap kisah inspiratif perjalanan seorang traveler non-muslim asal Indonesia, Farianti Gunawan, yang sukses mengeksplorasi keindahan sejarah, kemodernan metropolitan Riyadh-Jeddah, hingga eksotisme situs purbakala Al-Ula.
Farianti Gunawan yang akrab disapa Sis Fari disebut-sebut sebagai salah satu pelopor tour leader non-muslim asal Indonesia yang berkunjung ke sana dan kali ini membagikan pengalamannya.
Menurut dia, Arab Saudi kini membuka lebar pintunya bagi wisatawan umum dari berbagai latar belakang keyakinan.
Bagi Fari, dorongan utamanya adalah rasa penasaran mendalam terhadap destinasi baru yang belum pernah dikunjungi, serta keinginan untuk memperkaya wawasan budaya dan pengalaman profesional di bidang pariwisata.
Merencanakan perjalanan ke negara yang sebelumnya tertutup untuk pariwisata umum tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri tapi dengan memanfaatkan jaringan informasi dari Saudi Tourism Authority (STA) , persiapan unik dan pengurusan Visa stopover ini berjalan lancar
“ Persiapan ini termasuk berkonsultasi dengan praktisi pariwisata seperti Regi serta panduan dari pihak Saudi Arabian Airlines, “ ungkapnya dengan nada riang.
Farianti berhasik mendapatkan Stopover Visa berdurasi 96 Jam artinya fasilitas visa transitnya berdurasi kurang lebih 4 hari (3 malam) yang sangat efisien bagi pelancong dengan jadwal padat.
Persyaratan Imigrasi
Salah satu tantangan unik bagi pemegang visa tertentu adalah keharusan menunjukkan cap imigrasi dari negara keberangkatan sebelumnya (seperti Amerika Serikat), mengingat paspor keluar AS tidak selalu dicap secara otomatis.
Menerapkan prinsip lokal di tanah air seperti “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, termasuk penyesuaian busana yang sopan serta penggunaan kerudung saat mendekati kawasan khusus. Pendekatan budaya berhasil membuat wisatawan menjadi merasa nyaman.
Untuk mengeksplor destinasi wisata yang ada, memanfaatkan kereta cepat adalah salah satunya hingga dapat melihat keajaiban purbakala di Al-Ula.
Perjalanan dimulai dari kedatangan di Jeddah, dilanjutkan dengan menaiki kereta api cepat berkecepatan 300 km/jam menuju Madinah.
Kereta berteknologi tinggi ini menawarkan ketepatan waktu, kebersihan, serta kenyamanan kelas dunia yang menyamai standar transportasi modern di Eropa.

Museum Kreasi (Creation Museum) di dekat pintu masuk gerbang 303 juga menjadi salah satu titik edukasi sejarah yang menarik.
“Destinasi yang paling memukau dalam perjalanan ini adalah Al-Ula, sebuah kawasan lembah bersejarah yang sering disetarakan dengan situs Petra di Yordania,” ungkap Fari.
Di sini, wisatawan dapat menyaksikan formasi gua-gua alam purba, situs batu berbentuk gajah (Elephant Rock), serta bangunan kaca megah futuristik bernama Maraya Al-Ula yang memantulkan lanskap gurun pasir di sekitarnya.
Kota Tua Al-Ula
Kota Tua Al-Ula (Al-Ula Old Town) juga menawarkan atmosfer malam hari yang hidup dengan deretan kafe dan toko souvenir. kawasan pemukiman bersejarah berusia ratusan tahun di Arab Saudi kini menjadi destinasi wisata budaya.
Terletak di Provinsi Al-Ula, sekitar 400 km sebelah utara Kota Madinah. kawasan ini memiliki sekitar 800 bangunan kuno dari bata lumpur dan batu pasir yang tersusun rapat menyerupai labirin.
“ Soal sejarah dan budayanya menarik karena pernah menjadi pusat permukiman dan jalur perdagangan penting yang menghubungkan Semenanjung Arab, Mesir, dan India sehingga ada akulturasi budaya,”
Apalagi wilayahnya sendiri secara luas juga mencakup situs peninggalan kaum terdahulu seperti Kaum Tsamud (Madain Saleh/Hegra), sehingga sebagian kalangan memandangnya sebagai tempat untuk mengambil pelajaran sejarah dan refleksi diri.
Kini Al-Ula telah dipugar & dikembangkan oleh pemerintah Arab Saudi menjadi pusat warisan budaya, pasar tradisional, dan pariwisata global yang terbuka bagu wisatawan internasional
Menutup rangkaian perjalanan singkatnya, Fari kembali ke Jeddah yang menampilkan sisi kosmopolitan yang dinamis. Dia sempat mengunjungi kawasan pesisir Laut Merah (waterfront) kota tua Al-Balad, serta pusat perbelanjaan terbuka modern (Red Sea Mall).
Nah disini terasa sekali bahwa pemerintah Arab Saudi sangat terbuka terhadap wisatawan internasional dari berbagai belahan dunia.
Interaksi sosial dengan masyarakat lokal dirasakan sangat cair dan ramah, mematahkan kekhawatiran awal mengenai kekakuan budaya.
Ada sejarah panjang arsitektur. kota tua, lanskap alam, kuliner, hingga kehidupan masyarakat yang punya warna tersendiri
Hal ini membuktikan keberhasilan visi transformasi Arab Saudi dalam merangkul pariwisata global tanpa meninggalkan identitas budayanya.
Ketika waktu stopover Fari di Arab Saudi berakhir, rasa puas dan memiliki pengalaman sendiri mengenal budaya negara itu menjadi kenangan indah dan tak ragu membawa peserta tournya.










