7 Langkah Menuju Orientasi yang Mulus

this formate

MAASTRICH, bisniswisata.co.id: Proses orientasi bisa membuat sakit kepala bagi klien. Dengan tenggat waktu yang ketat untuk dipenuhi, solusi teknis untuk dikomunikasikan, dan harapan pemangku kepentingan untuk dikelola, proses implementasi dapat terasa seperti tugas yang mustahil bahkan sebelum dimulai.

Namun yang paling penting adalah membuat prosesnya selancar mungkin dan membiasakan klien baru dengan produk dan layanan Anda. Jika Anda berhasil mendapatkan pelanggan baru yang bahagia, mereka akan merujuk Anda ke klien lain. 

Menurut perusahaan pemasaran, Wyzowl. 86% orang mengatakan bahwa mereka lebih cenderung untuk tetap setia pada bisnis yang berinvestasi dalam proses orientasi.

Sepanjang pandemi COVID-19, CWT mempertahankan fokus utama pada pengalaman orientasi klien, dengan memanfaatkan Webex versus pertemuan tatap muka, mengoptimalkan sumber daya melalui pembagian beban global, dan beradaptasi dengan ketersediaan dan prioritas klien, menghasilkan NPS 2020 skor 57, skor kelas dunia mengingat rata-rata untuk industri perjalanan adalah 18.

Dilansir dari Hospitalitynet.org, berikut adalah 7 langkah penting untuk memastikan orientasi lancar. Itu semua bermuara pada komunikasi yang kuat di setiap fase.

  1. Lingkup proyek

Meskipun tampaknya langkah pertama yang paling logis, orientasi dapat berubah menjadi kekacauan jika tujuan tidak ditentukan sejak awal dan ada ketidakpastian tentang siapa yang bertanggung jawab untuk apa. 

Sangat penting untuk memulai dengan definisi proyek yang jelas dan ruang lingkup yang terdefinisi dengan baik. Pastikan Anda tahu apa, kapan, di mana, dan bagaimana melakukan onboarding.

  1. Lokakarya penemuan

Untuk menumbuhkan pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan klien Anda, pertimbangkan untuk menyelenggarakan lokakarya. Jika Anda berbicara dengan orang-orang di tingkat yang berbeda dalam organisasi, Anda akan mendapatkan pandangan yang lebih baik tentang apa yang perlu dilakukan untuk menghubungkan titik-titik tersebut.

  1. Pembaruan proyek secara teratur

Pastikan Anda membuat semua orang terlibat, mendapat informasi, dan selaras dengan memberikan pembaruan proyek secara teratur. 

Jika timbul risiko yang memengaruhi proses implementasi, Anda dapat menggunakan pembaruan proyek ini untuk mengomunikasikan dan mengurangi masalah.

  1. Manajemen perubahan

Dukung pelanggan Anda dengan proses manajemen perubahan internal mereka. Untuk orientasi yang sukses, penting agar semua pemangku kepentingan diberi tahu dan selaras.

  1. Tahap uji pengguna

Sebelum Anda keluar dari tahap pengujian, pastikan Anda memvalidasi bahwa sistem berfungsi seperti yang disepakati. Lakukan setiap langkah dan detail dengan klien untuk mengatasi masalah apa pun.

  1. Handoff sukses

Jangan memotong kabelnya segera setelah klien Anda terhubung. Tetap terhubung dan dukung mereka dengan layanan terbaik dan tim pelanggan profesional untuk jangka panjang.

  1. Evaluasi

Manfaatkan umpan balik klien Anda selama dan setelah implementasi. Umpan balik positif dan negatif akan mendukung perbaikan berkelanjutan.

Maskapai Ethiopian Uji IATA Travel Pass

this formate

Maskapai Ethiopian telah menjadi digital dalam semua operasinya untuk menghindari kontak fisik dan memerangi penyebaran pandemi dan sekarang kami memulai inisiatif ini yang akan memungkinkan penumpang kami untuk menikmati pengalaman penerbangan yang tak tertandingi. Berikut tulisan Tatiana Rokou dilansir dari Travel Daily News

ADIS ABABA, bisniswisata.co.id: Ethiopian Airlines akan menguji IATA Travel Pass, aplikasi seluler perjalanan digital untuk meningkatkan efisiensi dalam pengujian atau verifikasi vaksin dan memulai kembali perjalanan.

Saat perjalanan dimulai kembali, wisatawan memerlukan informasi terkait COVID-19 yang akurat seperti pengujian dan persyaratan vaksin yang berbeda-beda di setiap negara. 

Inisiatif IATA Travel Pass membantu memverifikasi keaslian informasi tes yang disajikan oleh pelancong yang penting untuk memastikan keselamatan penumpang sambil mematuhi persyaratan masuk negara.  Ke depannya, pihaknya juga akan mengelola sertifikat vaksin untuk perjalanan.

Ethiopian telah menjadi digital dalam semua operasinya untuk menghindari kontak fisik dan memerangi penyebaran pandemi dan sekarang kami memulai inisiatif ini yang akan memungkinkan penumpang kami untuk menikmati pengalaman penerbangan yang tak tertandingi.

Mengenai uji coba tiket perjalanan IATA, Tewolde GebreMariam, CEO Grup Ethiopian Airlines mengatakan “Teknologi digital sangat penting untuk menyelesaikan banyak masalah yang muncul dari pandemi.  

Tewolde GebreMariam menambahkan pihaknya senang telah menawarkan peluang digital baru kepada penumpang untuk memulai kembali perjalanan udara secara penuh dan aman. 

Pelanggannya akan menikmati pengalaman perjalanan yang efisien, tanpa kontak, dan lebih aman dengan paspor digital paspor perjalanan mereka.  Sebagai maskapai yang mengutamakan keselamatan, pihaknya akan menjadi salah satu yang pertama menerapkan inisiatif tiket perjalanan IATA untuk memfasilitasi perjalanan.

Inisiatif baru ini akan meningkatkan kepercayaan wisatawan dalam perjalanan, mendorong pemerintah untuk membuka kembali perbatasan mereka, dan mempercepat memulai kembali industri, kata Tewolde GebreMariam.

Travel Pass akan membantu membuat paspor digital, menerima sertifikat tes dan vaksinasi dan memverifikasi bahwa mereka memadai untuk rute mereka, dan membagikan sertifikat pengujian atau vaksinasi dengan maskapai penerbangan dan pihak berwenang untuk memfasilitasi perjalanan.  Aplikasi perjalanan digital juga akan menghindari dokumentasi palsu dan membuat perjalanan udara menjadi lebih nyaman.

 Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA berkata, “Ethiopian Airlines membantu meletakkan dasar untuk dunia yang terhubung kembali di mana kredensial kesehatan – hasil tes COVID-19 hingga sertifikat vaksinasi – akan berperan.

IATA Travel Pass secara aman memungkinkan pelancong untuk mengontrol data kredensial kesehatan yang diverifikasi sambil membagikannya dengan maskapai penerbangan dan pihak berwenang sebagaimana mungkin diperlukan dalam proses perjalanan.

Hal  Itu akan menjadi sangat penting ketika pemerintah dapat membuka kembali perbatasan untuk perjalanan.  Sebagai mitra uji coba IATA Travel Pass, pelanggan Ethiopian Airline akan menjadi yang pertama merasakan manfaatnya. 

Merayakan (Kembali) Kebangkitan Film Indonesia dalam Fase New Normal

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sampai hari ini, jumlah pengunjung bioskop di Indonesia bisa dipastikan anjlok sejak pandemi Covid-19 melanda negeri ini. 

Meski ada beberapa bioskop yang sudah kembali beroperasi, peraturan pembatasan jumlah penonton yang hanya 50 persen dari jumlah normal membuat pelaku industri perfilman tanah air, khususnya pengusaha bioskop, menjerit.

Menurut data Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), dari 407 gedung bioskop yang tersebar di seluruh Indonesia, kini hanya 55 persen yang beroperasi.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, saat mendampingi Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Bali untuk meninjau pelaksanaan vaksinasi massal bagi para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif menjelaskan, Presiden meminta pihaknya untuk membantu sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dalam melakukan transformasi digital sehingga dapat meningkatkan peluang usaha.

“Harapan Presiden kepada kami berdua (Menparekraf dan Wamenparekraf) adalah bagaimana membantu sektor pariwisata dan ekonomi kreatif melakukan transformasi, di segi digitalisasi agar pandemi ini justru membawa perubahan menuju pariwisata dan ekonomi kreatif yang lebih berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Menparekraf Sandiaga Uno, pertengahan Maret 2021.

Meski berhadapan dengan situasi yang sulit, insan perfilman Indonesia , salah satu industri kreatif Indonesia tidak serta merta patah arang apalagi menyalahkan keadaan. 

Kolaborasi antara sineas Indonesia dan distributor film, berhasil melahirkan inovasi kreatif berupa situs bioskop bernama bioskoponline.com yang merupakan layanan Transactional Video On Demand (TVOD) untuk karya-karya terbaik anak bangsa. Situs tersebut kini menjadi alternatif baru bagi masyarakat penggemar film Indonesia. 

Sederhananya inovasi bioskop daring membawa angin segar bagi sineas, distributor, dan pecinta film Indonesia. Hal tersebut selaras dengan gerakan #BanggaBuatanIndonesia yang mengajak masyarakat untuk tetap beradaptasi, berinovasi, dan berkolaborasi dalam rangka membangkitkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia.

Kemungkinan besar tren menonton secara daring akan berlanjut, mengingat kegiatan ini bisa membantu mencegah penyebaran virus COVID-19. Bahkan diperkirakan tren menonton film secara daring akan tetap diminati meski pandemi telah usai.

Layanan bioskop daring menawarkan potensi pasar yang besar, khususnya bagi industri film di tengah kondisi pandemi. Meski banyak situs ilegal yang menawarkan film secara gratis, keberadaan situs resmi tetap jadi pilihan utama. Karena situs legal menawarkan kenyamanan dengan menghindarkan penontonnya dari iklan, atau malware yang berisiko merusak perangkat elektronik.

Sandiaga Uno Sampaikan Progres Long Term Stay Visa

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Pemerintah tengah merumuskan konsep long term stay visa alias visa jangka panjang untuk wisatawan asing. Diyakini mampu mendorong perekonomian pariwisata di tengah pandemi virus Corona, kata Menparekraf Ssndiaga Salahuddin Uno saat Weekly Press Briefing Kemenparekraf, hari ini, Senin, (29/3/2021) di Jakarta.

Visa jangka panjang memungkinkan wisatawan asing tinggal di Indonesia hingga 5 tahun. Hal itu sudah dikemukakannya sejak awal Febuari lalu karena kebijakan tersebut diyakininya skan meningkatkan kualitas pariwisata dari sisi lama kunjungan dan jumlah pengeluaran yang berdampak terhadap ekonomi masyarakat.

Seperti diketahui, dampak pandemi global COVID-19 yang paling utama adalah menghantam sektor pariwisata sehingga Badan pariwisata dunia         ( UNWTO)  maupun asosiasi industri pariwisata di seluruh dunia sudah memperingatkan pemerintahan di seluruh untuk segera membuka perbatasan, menghilangkan ketentuan karantina guna menyelamatkan sektor ini.

Menparekraf Sandiaga Uno memahami pula saat ini terdapat potensi 1 miliar warga dunia yang berusia 60 tahun ke atas dengan pendapatan lebih dari US$1,5 triliun. Wisatawan di kelompok umur tersebut memiliki kemampuan untuk berbelanja dan berwisata lebih lama. 

“Ini perlu menjadi fokus peningkatan kualitas wisatawan kita khususnya dari lama kunjungan dan spending atau belanja wisawatan tersebut selama di Indonesia,” ujar Sandiaga

Itulah sebabnya Indonesia berencana membuka pintu untuk wisatawan asing. Bali dicanangkan menjadi pionir dengan dijadwalkan mulai menghidupkan wisata untuk turis asing mulai bulan Juli 2021 dan seiring rencana itu, pemerintah RI menyiapkan visa jangka panjang bagi wisatawan asing sehingga aktivitas pariwisata berangsur kembali normal.

“Kami terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti Kemenhumkan dan Dirjen Imigrasi. Dan baru saja saya mendapatkan laporan bahwa hasil dari rakor bersama pak Luhut,  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman,  pemerintah mendukung secara totalitas langkah untuk memberikan long term visa,” kata Sandiaga.

Visa jangka panjang itu tak hanya mendongkrak dari kualitas turis dalam waktu kunjungan saja, namun juga dari tingkat pengeluarannya dan mendorong investasi. Karena, mereka tinggal lama mungkin mereka bisa berinvestasi menggerakkan usahanya dan juga membuka lapangan pekerjaan, jelasnya.

Adapun destinasi wisata yang akan dibuka untuk wisatawan sesuai dengan save travel corridor. Untuk Bali ada tiga daerah yang akan dijadikan percontohan, yaitu Sanur, Ubud, dan Nusa Dua. Kemudian, di Kepulauan Riau adalah Lagoi Bay dan Nongsa Point.

Visa jangka panjang memungkinkan wisatawan asing tinggal di Indonesia hingga 5 tahun. ( Foto: Unsplash.com/Marisa Howenstine)

 

Hotel Cetak Untung dengan Pemotongan Biaya Pandemi Masif – Tapi Berapa Harganya?

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Inisiatif pemotongan biaya yang meluas di seluruh industri hotel selama pandemi sebenarnya menyebabkan beberapa hotel menemukan keuntungan tahun lalu.

Tetapi struktur operasional baru dan marjin keuntungan yang lebih tinggi ini datang dengan mengorbankan banyak pekerjaan dan hotel yang beroperasi di ‘periuk’ pengalaman pra-pandemi mereka.

Dilansir dari Skift.com, hotel dengan layanan lengkap yang biasanya memiliki fasilitas seperti bar, restoran, layanan kamar, dan spa menurunkan titik impas finansial mereka dari 47 persen tingkat hunian pada 2019 menjadi hanya 30 persen tahun lalu, menurut STR.

“Menurut saya salah satu hal paling mengesankan yang kami saksikan adalah kecepatan di mana operator dipaksa untuk melakukan pivot dan seberapa baik mereka melakukan pivot,” kata Carter Wilson, wakil presiden senior bidang konsultasi dan analitik di STR.

Dia tidak dapat memikirkan jenis real estat komersial lain yang harus mengubah seluruh strategi operasionalnya dalam waktu sesingkat itu untuk mengurangi kerugian permintaan.

Hanya 45 persen hotel A.S. yang mencapai profitabilitas tahun lalu, tetapi beberapa di antaranya mampu memperoleh margin laba yang lebih tinggi dari gabungan pemotongan biaya dan tipe tamu baru. Hotel dengan layanan lengkap yang tetap buka tidak mengoperasikan spa atau restorannya, yang sering kali mengalami kerugian. 

Tetapi beberapa dari hotel tersebut juga penuh dipesan oleh pekerja penting atau digunakan untuk layanan kesehatan, memungkinkan margin keuntungan yang lebih tinggi selama masa-masa sulit.

Hotel dengan layanan terbatas juga memangkas titik impas mereka tahun lalu dari 43 persen menjadi 36 persen, tetapi ini lebih disebabkan oleh kurangnya staf. Hotel-hotel ini tidak memiliki fasilitas sebanyak yang dimiliki hotel dengan layanan lengkap.

Meskipun pemotongan biaya mungkin mendapat pujian dari C-suite, mereka tidak selalu menang di mata publik. Serikat pekerja di seluruh negeri menegur perusahaan perhotelan karena memiliki miliaran dolar dalam bentuk cadangan tunai sementara karyawan lama tetap tanpa pekerjaan.

Mendiang CEO Marriott, Arne Sorenson, bahkan mempertanyakan pada awal pandemi tahun lalu apakah beberapa pemotongan biaya yang agresif dalam industri akan membuat pemulihan lebih sulit.

Tetapi banyak pemimpin perusahaan hotel besar tidak menyembunyikan inisiatif berkelanjutan mereka untuk menerapkan beberapa tingkat strategi jangka panjang untuk penghematan biaya yang ditemukan selama pandemi.

“Pekerjaan yang kami lakukan saat ini di setiap merek kami adalah tentang menjadikan mereka bisnis dengan margin lebih tinggi dan menciptakan lebih banyak efisiensi tenaga kerja, terutama di bidang tata graha, makanan dan minuman, dan bidang lainnya,” kata CEO Hilton, Chris Nassetta. 

pada panggilan investor bulan lalu. “Ketika kita keluar dari krisis, bisnis-bisnis itu akan memiliki margin lebih tinggi dan membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja daripada yang mereka lakukan sebelum Covid.”

Keuntungan sementara VS Pelaksanaan jangka panjang

Beberapa perubahan operasional dalam pandemi kemungkinan besar akan tetap menjadi perlengkapan permanen dalam cara mengoperasikan hotel.

Check-in dan check-out nirkontak melalui perangkat seluler sedang meningkat dan akan mengurangi tingkat kepegawaian yang diperlukan untuk meja depan di masa mendatang.

Layanan tata graha harian selama seseorang menginap, terutama di sektor hotel dengan layanan terbatas, kemungkinan besar akan hilang untuk selamanya. Biaya rumah tangga selalu menjadi salah satu pengeluaran terbesar dalam menjalankan hotel.

Analis dan pemilik mengatakan kepada Skift selama rentang waktu pandemi, menemukan cara untuk mengurangi biaya penggajian adalah inisiatif utama sebelum krisis kesehatan masyarakat.

Tetapi ada batasan berapa banyak yang dapat dipotong secara permanen, terutama di sektor hotel dengan layanan penuh. Hanya empat dari 28 hotel di sistem Loews Hotels & Co. tetap buka selama masa pandemi, dan kemampuan untuk menjalankan restoran atau bar adalah salah satu faktor yang dimiliki perusahaan dalam menentukan kapan harus membuka kembali properti yang ditangguhkan sementara.

“Bagian penting dari pengambilan keputusan kami adalah pembatasan kapasitas [makanan dan minuman] dan batasan pengumpulan,”mkata Monica Xuereb, kepala pendapatan di Loews Hotels, mengatakan pada konferensi STR. 

“Kami adalah perusahaan hotel mewah, jadi jika tidak ada kemampuan F&B sama sekali, itu akan membatasi kemampuan kami untuk menawarkan pengalaman yang kami tawarkan kepada para tamu.”

Loews mampu memangkas biaya ke titik di mana salah satu dari 400 kamar hotelnya hanya perlu mencapai tingkat hunian 10 persen untuk mencapai titik impas terhadap biaya tetapnya seperti gaji, sewa, dan pajak. Perusahaan mengakui beberapa entitas yang biasanya merugi uang seperti layanan kamar pada akhirnya harus kembali.

“Selama ini, kami agak tidak keberatan dengan beberapa komentar negatif dari para tamu karena layanan yang mungkin tidak tersedia selama mereka menginap,” kata Xuereb. Pihaknya belajar untuk mengelola ekspektasi karena menjalankan hotel yang sedikit berbeda dari biasanya, tambahnya.

Tetapi mungkin ada peluang dengan kembalinya lebih banyak tempat makanan dan minuman serta layanan lain ke hotel-hotel ini. Pendapatan makanan dan minuman datang lebih tinggi dari yang diharapkan karena restoran dan bar dibuka kembali, kata Xuereb.

Bahkan permintaan layanan kamar pun meningkat, akibat dari para tamu yang lebih memilih untuk tinggal di hotel saat bepergian dalam pandemi daripada bertualang ke restoran. Respon yang kuat untuk makan dan minum di tempat menyebabkan gerai tambahan seperti bar roll-up untuk margarita di lobi.

“Ada kreativitas luar biasa di seluruh industri kami dalam 12 bulan terakhir hanya untuk menghasilkan pendapatan. Para tamu ingin menghabiskan uang ketika mereka berada di hotel, dan saya pikir itu akan terus berlanjut.” kata Xuereb

Riset WTTC Ungkap sektor Travel & Tourism global mengalami kerugian hampir US $ 4,5 triliun pada 2020 

this formate

LONDON, bisniswisata.co.id:  Laporan Dampak Ekonomi (EIR) tahunan WTTC mengungkapkan dampak buruk COVID-19 pada sektor travel & tourism global tahun lalu, yang menderita kerugian besar hampir US$4,5 triliun.

EIR tahunan dari World Travel & Tourism Council (WTTC), yang mewakili sektor swastal menunjukkan kontribusi sektor tersebut terhadap PDB turun secara mengejutkan 49,1%, ini dibandingkan dengan ekonomi global secara keseluruhan yang turun hanya 3,7%. tahun.

Kerugian besar meningkat selama tahun 2020, melukiskan gambaran lengkap pertama dari sebuah sektor yang berjuang untuk bertahan dalam menghadapi pembatasan perjalanan yang melumpuhkan dan karantina yang tidak perlu dan terus mengancam pemulihan ekonomi dunia yang mendesak.

Secara keseluruhan, kontribusi sektor terhadap PDB global anjlok menjadi US$4,7 triliun pada tahun 2020 (5,5% dari ekonomi global), dari hampir US$9,2 triliun pada tahun sebelumnya (10,4%).

Pada tahun 2019, ketika travel & tourism global berkembang pesat dan menghasilkan satu dari empat dari semua pekerjaan baru di seluruh dunia, sektor ini menyumbang 10,6% (334 juta) pekerjaan secara global.

Namun tahun lalu, ketika pandemi merobek jantung travel & tourism, lebih dari 62 juta pekerjaan hilang, mewakili penurunan 18,5%, menyisakan hanya 272 juta orang yang bekerja di seluruh industri secara global.

Hilangnya pekerjaan ini dirasakan di seluruh ekosistem travel & tourism dengan UKM, yang merupakan 80% dari semua bisnis di sektor ini, yang secara khusus terkena dampaknya. Selain itu, sebagai salah satu sektor yang paling beragam di dunia, dampaknya terhadap perempuan, pemuda, dan minoritas sangat signifikan.

Namun, ancaman tetap ada karena banyak dari pekerjaan ini saat ini didukung oleh skema retensi pemerintah dan pengurangan jam kerja, yang tanpa pemulihan penuh sektor travel & tourism dapat hilang.

WTTC, yang terus-menerus menjadi yang terdepan dalam memimpin sektor swasta dalam upaya memulihkan mobilitas internasional dan membangun kembali kepercayaan konsumen global, memuji pemerintah di seluruh dunia atas tanggapan yang cepat.

Namun, badan pariwisata global khawatir pemerintah tidak dapat terus menopang pekerjaan yang terancam tanpa batas waktu dan sebaliknya harus beralih ke sektor tersebut untuk membantu pemulihannya, sehingga dapat menggerakkan kebangkitan ekonomi global.

Caranya dengan menyelamatkan bisnis dan menciptakan lapangan kerja baru yang sangat dibutuhkan dan menyelamatkan jutaan orang. mata pencaharian yang bergantung pada sektor.

Laporan tersebut juga mengungkapkan kerugian mengejutkan dalam pengeluaran perjalanan internasional, yang turun 69,4% dari tahun sebelumnya.

Belanja perjalanan domestik turun 45%, penurunan yang lebih rendah karena beberapa perjalanan internal di sejumlah negara.

Gloria Guevara, Presiden & CEO WTTC mengatakan organisasinya harus memuji tindakan cepat pemerintah di seluruh dunia karena menyelamatkan begitu banyak pekerjaan dan mata pencaharian yang berisiko, berkat berbagai skema retensi, yang tanpanya angka saat ini akan jauh lebih buruk.

“Namun, Laporan Dampak Ekonomi tahunan WTTC menunjukkan tingkat kepedihan yang harus dialami sektor kami selama 12 bulan terakhir, yang telah menghancurkan begitu banyak kehidupan dan bisnis, besar dan kecil, tanpa perlu,” kata Gloria Guevara.

 Menurut dia, jelas tidak ada yang ingin mengalami apa yang telah diderita begitu banyak orang selama 12 bulan yang sulit ini. Penelitian WTTC menunjukkan sektor Perjalanan & Pariwisata global saja telah hancur, dibebani oleh kerugian yang belum pernah terjadi sebelumnya sebesar hampir US$4,5 triliun.

“Dengan kontribusi sektor ini terhadap PDB yang turun hampir setengahnya, lebih penting dari sebelumnya bahwa Travel & Tourism diberikan dukungan yang dibutuhkan sehingga dapat membantu menggerakkan pemulihan ekonomi, yang akan berperan dalam memungkinkan dunia untuk bangkit kembali dari efek pandemi.” tambahnya.

Rute menuju pemulihan

Sementara tahun 2020 dan musim dingin 2021 telah menghancurkan travel & tourism, dengan jutaan orang di seluruh dunia ferkena lockdown. Penelitian WTTC menunjukkan bahwa jika mobilitas dan perjalanan internasional dilanjutkan pada bulan Juni tahun ini, itu akan secara signifikan meningkatkan PDB tingkat global dan negara serta menganankan pekerjaan orang.

Menurut penelitian, kontribusi sektor terhadap PDB global bisa meningkat tajam tahun ini, naik 48,5% year-on-year. Riset tersebut juga menunjukkan bahwa kontribusinya hampir bisa mencapai level yang sama pada tahun 2019 pada tahun 2022, dengan kenaikan lebih lanjut dari tahun ke tahun sebesar 25,3%.

WTTC juga memperkirakan bahwa jika peluncuran vaksin global terus berjalan dengan cepat, dan pembatasan perjalanan dilonggarkan sebelum musim panas yang sibuk, 62 juta pekerjaan yang hilang pada tahun 2020 dapat kembali pada tahun 2022.

WTTC sangat menganjurkan dimulainya kembali perjalanan internasional yang aman pada bulan Juni tahun ini, jika pemerintah mengikuti empat prinsip pemulihannya.

Hal ini mencakup rezim pengujian internasional terkoordinasi yang komprehensif pada saat keberangkatan untuk semua pelancong yang tidak divaksinasi, untuk menghapus karantina.

Ini juga mencakup protokol kesehatan dan kebersihan yang ditingkatkan dan penggunaan masker wajib; beralih ke penilaian risiko wisatawan individu daripada penilaian risiko negara; dan dukungan berkelanjutan untuk sektor ini, termasuk fiskal, likuiditas, dan perlindungan pekerja.

WTTC mengatakan pengenalan kartu kesehatan digital, seperti ‘Sertifikat Hijau Digital’ yang baru-baru ini diumumkan, akan mendukung pemulihan sektor ini.

UNWTO juga mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk memberikan peta jalan yang jelas dan tegas, memberikan waktu bagi bisnis untuk meningkatkan operasi mereka guna pulih dari kerusakan akibat pandemi.

 

Soal Larangan Mudik, Menparekraf Minta Masyarakat Ikuti Anjuran Pemerintah

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id:  Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, meminta masyarakat mengikuti anjuran pemerintah untuk tidak melakukan mudik pada momentum libur lebaran tahun ini guna menekan penyebaran COVID-19.

“Soal mudik, Kemenparekraf akan mendukung secara penuh keputusan pemerintah yang melarang mudik di 2021,” kata Menparekraf Sandiaga Uno dalam “Weekly Press Briefing”, Senin (29/3/2021) sore.

Menparekraf Sandiaga menjelaskan, larangan untuk mudik diambil pemerintah guna mencegah penyebaran COVID-19 di tengah pergerakan masyarakat yang besar dalam waktu bersamaan.

Meski di sisi lain ia mengakui momen libur lebaran telah dinanti para pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif untuk mendulang peluang. Masyarakat dikatakannya tetap dapat mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dengan memilih destinasi yang ada di sekitar (lokal) dengan memperhatikan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin.

Pemerintah meminta pelaku usaha tetap optimistis di tengah upaya pemerintah mempercepat pelaksanaan vaksinasi guna terciptanya _herd immunity_ sehingga sektor pariwisata dan ekonomi kreatif benar-benar pulih.

“Masyarakat dapat memilih destinasi yang personalize, customize, localize dengan penerapan protokol kesehatan yang disiplin. 3M dan 3T ini semua dilakukan secara konsisten,” kata dia.

Begitu juga dengan ekonomi kreatif, masyarakat dapat mengkonsumsi produk ekonomi kreatif tanah air dengan memaksimalkan platform digital dimana saat ini sudah semakin banyak pelaku ekonomi kreatif tanah air yang beralih ke platform digital.

“Dari segi ekonomi kreatif, akan ada adaptasi. Karena tidak bisa langsung tatap muka dengan keluarga, bisa dikirim dengan produk-produk ekonomi kreatif yang dikirim dengan memaksimal-kan platform digital. (Sehingga) pelaku ekonomi kreatif tetap bisa mendapatkan manfaat positif,” ujarnya.

Kemenparekraf dikatakannya akan menjalankan program-program yang dapat membantu industri. “Begitu keluar larangan mudik, saya meminta beberapa jajaran saya untuk berkoordinasi dengan pihak-pihak yang saat sekarang membutuhkan sentuhan (soal) apa yang dibutuhkan,” kata Menparekraf Sandiaga.

Teror Bom

Dalam kesempatan itu Menparekraf Sandiaga juga menyampaikan duka cita dan keprihatinan yang mendalam terhadap korban teror bom di Makassar beberapa hari lalu. Ia mengutuk keras kejadian tersebut dan menyebut aksi terorisme sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Terorisme sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran agama manapun.

“Kami mengajak masyarakat untuk tetap tenang, jangan panik, serta menyerahkan (penyelesaian) kepada pihak berwajib untuk mengusut tuntas kasus tersebut dan membongkar jaringan terror hingga ke akar,” kata Sandiaga.

Ia mengapresiasi gerak cepat pihak kepolisian dalam penanganan kasus ini, melalui identifikasi dan penangkapan beberapa orang yang terduga terlibat dalam kasus tersebut. Hal ini dikatakannya akan mempercepat pemulihan dan rasa aman dan kepercayaan di masyarakat.

Kemenparekraf dikatakan Sandiaga tengah melakukan identifikasi atas dampak kejadian tersebut kepada sektor pariwisata dan mengajak semua anggota masyarakat khususnya di destinasi wisata, bersama-sama memerangi terorisme dan radikalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.

“Bagaimanapun kejadian ini menjadi pukulan keras serta menjadi ujian bagi soliditas bangsa Indonesia. Kita harus terus bergerak bersama meminimalisir agar kejadian ini tidak berdampak pada turunnya indeks daya saing pariwisata Indonesia. Kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait termasuk dengan pihak keamanan, untuk meningkatkan rasa aman bagi para wisatawan,” ujarnya.

 

transplantasi-terumbu-karang-program-padat-karya

Ajak Dubes Transplantasi Terumbu Karang

this formate

NUSA DUA, bisniswisata.co.id: Disela agenda Bali Invesment Forum 2021, Menko Marves Luhut B. Pandjaitan yang didampingi oleh Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Safri Burhanuddin, Gubernur Bali Wayan Koster, bersama Dubes Kanada, Dubes Italia, Dubes Swiss, Dubes Jepang, Wakil Dubes Belanda dan Wakil Dubes Rusia untuk melakukan transplantasi terumbu karang di Pantai Nusa Dua.

Kesempatan tersebut dipergunakan Menko Luhut untuk mempromosikan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) melalui kegiatan padat karya restorasi terumbu karang yang dilakukan oleh pemerintah.

“Program restorasi terumbu karang selain membawa manfaat positif bagi lingkungan juga memberikan manfaat bagi masyarakat Bali yang terdampak pandemi terutama yang tinggal di kawasan pesisir,” ujar Menko Luhut saat memberikan sambutan pada side event Forum Investasi Bali yang bertajuk “Penanaman Terumbu Karang untuk Ekonomi Biru Berkelanjutan”.

Program padat karya terumbu karang, sambungnya, telah mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi lebih dari  10.171 orang terdampak COVID- 19 terutama masyarakat yang sebelumnya bekerja di sektor pariwisata dan kelautan. “Dan program ini berjalan selama empat bulan sejak Bulan Oktober 2020-Januari 2021  yang dibiayai dengan anggaran APBN sebesar Rp 111.2 miliar dan area yang direstorasi mencapai  74.3 hektar,” pungkasnya.

Selain duta besar negara-negara mitra Indonesia, kegiatan ini juga diikuti oleh warga masyarakat sekitar dan pegiat lingkungan dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan.* 

Kapal Pesiar Relawan Mungkin Tidak Terjadi

this formate

MIAMI, bisniswisata.co.id: Uji coba kapal pesiar dengan sukarelawan mungkin tidak berlangsung seperti yang dibayangkan semula, karena industri bergerak untuk memulai kembali di Amerika Utara dan gagasan bahwa Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) AS dan Perintah Layar Bersyarat Pencegahan (CSO) dapat dibatalkan atau diubah.

Dilansir Cruiseindustrynews.com, CSO sejauh ini mengatakan perusahaan harus melakukan uji coba kapal pesiar menggunakan karyawan dan relawan sebagai penumpang siaga untuk menguji protokol keselamatan dan kesehatan.

Berbicara di webinar belum lama ini, Ketua dan CEO Royal Caribbean Group Richard Fain mengatakan ide tersebut diluncurkan enam bulan lalu, dan awalnya difokuskan pada pendekatan berbasis protokol untuk kesehatan dan keselamatan.

Sejak itu, katanya, industri telah melakukan ratusan pelayaran  kapal pesiar dengan penumpang (di Eropa dan Asia), dan itu adalah tes yang lebih baik sebagai sampel berlayar yang sangat teoritis.

“Mungkin ada pendekatan yang sedikit berbeda – lebih merupakan pendekatan penggeledahan. Hal ini untuk memberi waktu kepada kru berelatih dan memberikan kesempatan kepada mitra perjalanan pendukung setia kami untuk melihat dan mempelajari produk.” kata Fain sambil menambahkan  belum ada yang diputuskan.

 

Laporan IATA  2020: Terbang Itu Aman Meski Industri Penerbangan Alami Langkah Mundur

this formate

MONTREAL, bisniswisata.co.id: Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengumumkan publikasi Laporan Keselamatan 2020 dan merilis data untuk kinerja keselamatan tahun 2020 dari industri penerbangan komersial.

    Jumlah total kecelakaan menurun dari 52 pada 2019 menjadi 38 pada 2020.

    Jumlah total kecelakaan fatal menurun dari 8 pada 2019 menjadi 5 pada 2020.

    Tingkat kecelakaan seluruhnya 1,71 kecelakaan per juta penerbangan. Angka tersebut lebih tinggi dari angka rata-rata 5 tahun (2016-2020) yang sebesar 1,38 kecelakaan per satu juta penerbangan.

    Tingkat kecelakaan anggota maskapai IATA adalah 0,83 per juta penerbangan, yang merupakan peningkatan dari tingkat rata-rata 5 tahun di 0,96.

    Total operasi penerbangan berkurang 53% menjadi 22 juta pada tahun 2020.

    Risiko kematian tetap tidak berubah dibandingkan dengan rata-rata lima tahun di 0,13.

Dengan risiko kematian 0,13 untuk perjalanan udara, rata-rata seseorang harus melakukan perjalanan melalui udara setiap hari selama 461 tahun sebelum mengalami kecelakaan dengan setidaknya satu korban jiwa. 

Rata-rata, seseorang harus melakukan perjalanan setiap hari selama 20.932 tahun hingga mengalami 100% kecelakaan fatal.

“Terbang itu aman, meskipun industri memang mengambil langkah mundur dari kinerja pada tahun 2020. Penurunan jumlah penerbangan yang parah memperbesar dampak dari setiap kecelakaan ketika kami menghitung tarif. “kata Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA.

Tetapi angka tidak berbohong, dan kami tidak akan membiarkan ini menjadi tren. Kami akan memiliki fokus yang lebih tajam pada keselamatan selama periode pengurangan operasi ini dan karena jadwal penerbangan dibangun kembali ketika dunia dibuka kembali. tambahnya.

Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 15 tahun tidak ada kecelakaan Loss of Control Inflight (LOC-I), yang merupakan penyebab kematian terbesar sejak 2016.

 “Kurangnya peristiwa semacam itu pada tahun 2020 merupakan perkembangan positif. Meski demikian, berdasarkan laporan awal dari penyidikan kerugian tragis Sriwijaya Air SJ 182 di awal tahun 2021, kita harus terus belajar dan berbenah, ”kata de Juniac.