Dua Restoran Indonesia Masuk 50 Daftar Restoran Terbaik di Asia 2026

this formate

August, Jakarta, peringkat 42 Asia’s 50 Best Restaurants 2026

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyambut dengan bangga pencapaian dunia kuliner tanah air di kancah internasional melalui keberhasilan dua restoran Indonesia yang masuk dalam daftar Asia’s 50 Best Restaurants 2026, seiring diraihnya penghargaan khusus untuk talenta kuliner Indonesia.

Restoran August dari Jakarta di peringkat #42 dan Locavore NXT dari Ubud, Bali di peringkat #44. Pencapaian ini sekaligus menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, di mana August naik dari peringkat #49 pada 2025, sementara Locavore NXT melesat dari peringkat #92 pada 2025.

“Pencapaian ini merupakan kabar menggembirakan bagi promosi pariwisata Indonesia, khususnya dalam memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman wisata berbasis budaya, kreativitas, dan cita rasa otentik,” kata Menpar Ment Widiyanti Putri Wardhana dalam keterangannya di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, Keberhasilan dua restoran Indonesia menembus daftar Asia’s 50 Best Restaurants 2026 serta penghargaan untuk chef pastry Indonesia adalah pencapaian yang sangat membanggakan.

Hal ini menunjukkan bahwa kekayaan gastronomi Nusantara memiliki daya saing global ketika dipadukan dengan inovasi, kualitas, dan storytelling yang kuat.

Kuliner adalah bagian penting dari pengalaman berwisata, dan Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk terus berkembang sebagai destinasi gastronomi kelas dunia, tambahnya.

Capaian ini menurut Menpar juga semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi wisata gastronomi unggulan Asia di bawah semangat Wonderful Indonesia.

August, yang dipimpin oleh Chef Hans Christian, berhasil mempertahankan posisinya sebagai restoran terbaik di Indonesia. Restoran yang berlokasi di Sequis Tower, SCBD, ini dikenal melalui pendekatan kuliner kontemporer yang tetap berakar pada identitas rasa Indonesia, serta pengalaman bersantap yang intim dan refined.

Asia’s 50 Best Restaurants juga menyoroti peran penting Chef Pastry August, Ardika Dwitama, yang menjadi salah satu kekuatan khas restoran tersebut. Tidak hanya itu, pencapaian Indonesia semakin lengkap dengan diraihnya penghargaan Asia’s Best Pastry Chef Award 2026 oleh Ardika Dwitama.

Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kreativitas dan kepiawaiannya dalam menerjemahkan bahan-bahan lokal Indonesia ke dalam karya pastry modern yang presisi, imajinatif, dan berkarakter kuat. Ardika Dwitama dikenal melalui pendekatan dessert yang sangat memperhatikan musim, lingkungan, dan kekayaan bahan lokal Indonesia.

Kreasi-kreasinya menghadirkan pengalaman rasa yang modern, berlapis, namun tetap terasa dekat dengan akar budaya Nusantara. Beberapa dessert yang menjadi sorotan antara lain interpretasi pastry berbasis jasmine sencha, jeruk, yogurt, es krim sourdough dengan mulberry dan mete, hingga puding ketan dengan granita markisa dan jeli nanas fermentasi.

Sementara itu, pencapaian Locavore NXT di Ubud, Bali juga menjadi tonggak penting bagi perkembangan gastronomi Indonesia. Menempati posisi #44, restoran ini mencatat sejarah sebagai salah satu representasi kuat dari kuliner progresif Indonesia yang berakar pada prinsip keberlanjutan dan pemanfaatan bahan-bahan lokal secara sangat selektif.

Asia’s 50 Best menyoroti konsep unik Locavore NXT yang menghadirkan pengalaman bersantap imersif dengan pendekatan eco-conscious, hyper-local, dan seasonal.

Masuknya Locavore NXT ke daftar utama tahun ini juga menjadi momen penting karena memperlihatkan semakin kuatnya posisi Bali, khususnya Ubud, bukan hanya sebagai destinasi wisata alam dan budaya, tetapi juga sebagai pusat inovasi gastronomi berkelas dunia.

Menteri Pariwisata mengungkapkan capaian ini juga memperkuat arah pengembangan pariwisata Indonesia yang semakin menempatkan gastronomi sebagai salah satu daya tarik strategis dalam membangun pengalaman wisata yang lebih berkualitas, bernilai tambah tinggi, dan berkelanjutan.

Melalui semangat Wonderful Indonesia, Kementerian Pariwisata terus mendorong penguatan ekosistem pariwisata gastronomi nasional, mulai dari promosi kuliner berbasis kekayaan lokal, pengembangan destinasi kuliner, hingga peningkatan eksposur pelaku industri kuliner Indonesia ke tingkat internasional.

“Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak pelaku industri kuliner Tanah Air untuk terus mengangkat identitas lokal Indonesia,” kata Menteri Pariwisata.

Ketika Kekuasaan Hancur dan Iman Tetap Ada: Refleksi tentang Iran, Keadilan, dan Kesabaran Sejarah

this formate

Oleh: Laala Bechetoula

“Dan persiapkanlah kekuatan yang mampu, kamu miliki untuk melawan mereka…” – Surat Al-Anfal (8:60)

PHOENIX, AS, bisniswisata.co.id: Pada pagi hari tanggal 28 Februari 2026, badai api menghantam Iran. Dalam hitungan jam, ratusan serangan menargetkan infrastruktur militernya, fasilitas strategisnya, dan jantung kepemimpinan politiknya.

Logika di balik kampanye ini sudah familiar: membanjiri, mendestabilisasi, dan memaksa keruntuhan. Diharapkan akan cepat. Menentukan. Konklusif. Namun waktu, seperti yang sering terjadi dalam sejarah, menolak untuk menuruti kekuasaan.

Dilansir dari www.islamicity.org, beberapa minggu kemudian, Selat Hormuz tetap tertutup, pasar global bergetar, dan perang belum memberikan kejelasan yang dijanjikan oleh para arsiteknya. Iran, meskipun terluka tetapi tetap berdiri, terus berfungsi, melawan, dan membentuk syarat-syarat konfrontasi.

Apa yang dimaksudkan sebagai demonstrasi dominasi justru mengungkapkan sesuatu yang jauh lebih kompleks: batas kekuatan ketika dihadapkan dengan ketahanan.

Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui apa yang dilakukan orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menunda mereka untuk hari di mana mata akan memandang dengan ngeri.” – Surat Ibrahim (14:42)

Ayat ini tidak menjanjikan keadilan segera. Ayat ini berbicara tentang waktu—tentang penundaan, tentang konsekuensi yang terungkap. Dan justru dalam waktu itulah perang ini harus dipahami.

Apa yang sedang terjadi bukanlah sekadar konflik militer. Ini adalah pertemuan antara dua hubungan yang berbeda dengan sejarah. Yang satu bersifat langsung, tidak sabar, terstruktur di sekitar hasil yang cepat dan kemenangan yang terukur.

Yang lain bersifat panjang, berlapis, dan berakar dalam ingatan. Iran bukanlah sekadar negara modern yang bereaksi terhadap tekanan; ia adalah pewaris kesinambungan peradaban yang telah mengalami penaklukan, fragmentasi, dan kelahiran kembali selama ribuan tahun.

“Tidak ada bangsa yang pernah dibebaskan oleh perang yang tidak dapat mereka tanggung.” – Frantz Fanon

Jauh sebelum munculnya kekuatan Barat modern, Persia telah merumuskan prinsip-prinsip pemerintahan dan hidup berdampingan yang akan bergema selama berabad-abad.

Dekrit Cyrus Agung, yang dikeluarkan pada abad keenam SM, menegaskan martabat bangsa, kebebasan berkeyakinan, dan hak kembali bagi para pengungsi. Ini bukanlah abstraksi; ini adalah realitas yang diimplementasikan.

Warisan seperti itu tidak hilang di bawah bombardir. Ia membentuk bagaimana suatu masyarakat memandang dirinya sendiri, bahkan di bawah tekanan ekstrem.

Ini tidak mengurangi penderitaan saat ini. Ribuan nyawa telah hilang. Keluarga telah hancur. Anak-anak telah meninggal di bawah ledakan yang tidak dapat mereka pahami. Suara-suara yang muncul dari dalam Iran berbicara tentang ketakutan, kemarahan, dan kontradiksi.

Beberapa orang yang pernah menentang pemerintah mereka sendiri sekarang mendapati diri mereka menolak kekerasan yang dipaksakan dari luar. Ketegangan ini bukanlah tanda keruntuhan; ini adalah tanda masyarakat yang bergulat dengan trauma sambil menolak untuk bubar.

“Penakluk tidak perlu lebih kuat dari yang ditaklukkan. Cukuplah ia lebih mampu bertahan.” – Ibn Khaldun

Selama beberapa dekade, Iran hidup di bawah sanksi, isolasi, dan tekanan ekonomi. Apa yang dimaksudkan untuk melemahkannya, dalam banyak hal, justru membentuknya kembali. Terputus dari sistem yang tidak dikendalikannya, Iran mengembangkan sistemnya sendiri.

Ditolak aksesnya terhadap teknologi, Iran beradaptasi dan berinovasi. Yang muncul bukanlah kekuatan konvensional, tetapi ketahanan—kemampuan untuk beroperasi di bawah keterbatasan dan mengubah keterbatasan menjadi strategi.

Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, tetapi itu baik bagimu; dan mungkin kamu menyukai sesuatu, tetapi itu buruk bagimu. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” – Surat Al-Baqarah (2:216)

Apa yang tampak sebagai kelemahan, seiring waktu, dapat menjadi sumber kekuatan. Ini bukanlah paradoks; ini adalah hukum sejarah yang berulang.

Geografi wilayah tersebut memperkuat realitas ini. Selat Hormuz, sempit namun sangat penting, membawa sebagian besar pasokan energi dunia. Gangguan ini tidak hanya memengaruhi mereka yang terlibat langsung dalam konflik, tetapi juga sistem global secara keseluruhan.

Di sampingnya terdapat kerentanan lain yang lebih tersembunyi: air. Sebagian besar wilayah Teluk bergantung pada desalinasi, sebuah sistem yang rapuh dan terkonsentrasi.

Dalam lanskap seperti itu, kekuasaan tidak lagi didefinisikan semata-mata oleh keunggulan militer, tetapi oleh kemampuan untuk mempengaruhi kondisi kehidupan itu sendiri.

Namun di balik strategi dan infrastruktur terdapat sesuatu yang kurang nyata, tetapi tidak kalah menentukan: makna. Bagi banyak orang di Iran, narasi pengorbanan dibentuk oleh tradisi spiritual yang mendalam.

Kenangan Karbala—di mana Imam Hussein memilih kematian daripada penyerahan diri—tetap menjadi titik acuan yang hidup. Dalam kerangka ini, penderitaan bukanlah sesuatu yang kosong. Penderitaan diinterpretasikan. Penderitaan diintegrasikan ke dalam cakrawala moral.

Dan janganlah kamu katakan tentang orang-orang yang gugur di jalan Allah, ‘Mereka telah mati.’ Padahal mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” – Surat Al-Baqarah (2:154)

Ini bukan sekadar teologi. Ini adalah pandangan dunia yang membentuk kembali makna kehilangan itu sendiri. Dan ketika kehilangan diubah, strategi yang dibangun di atas rasa takut mulai kehilangan efektivitasnya.

Sejarah berulang kali mengingatkan kita bahwa kekuatan yang luar biasa tidak menjamin keberhasilan yang langgeng. Kekaisaran seringkali keliru mengartikan kemampuan mereka untuk menghancurkan sebagai kemampuan mereka untuk menang.

Dari Asia Tenggara hingga Timur Tengah, polanya telah terlihat: kemenangan cepat diikuti oleh ketidakstabilan yang berkepanjangan, keberhasilan taktis diikuti oleh ketidakpastian strategis.

Masyarakat tidak selalu merespons tekanan dengan cara yang dapat diprediksi. Terkadang mereka terpecah. Terkadang mereka beradaptasi. Dan terkadang mereka bertahan.

Dan pada hari-hari ini Kami berganti-ganti di antara manusia…” – Surat Aal ‘Imran (3:140)

Ayat ini mengungkapkan prinsip yang melampaui konflik tunggal apa pun. Kekuasaan bukanlah sesuatu yang statis. Kekuasaan berputar. Kekuasaan bergeser. Kekuasaan berevolusi dari waktu ke waktu.

Di tengah perang ini, sementara perhatian tertuju pada konfrontasi langsung, transformasi yang lebih luas diam-diam sedang berlangsung. Keseimbangan strategis sedang dikalibrasi ulang. Persepsi bergeser.

Implikasi dari konflik ini akan meluas jauh melampaui medan perangnya, memengaruhi bagaimana bangsa-bangsa memahami kekuasaan, kerentanan, dan kemerdekaan di tahun-tahun mendatang.

Namun mungkin pertanyaan terpenting bukanlah geopolitik, tetapi moral. Apa artinya menang? Apakah kemenangan diukur dengan kehancuran, dominasi, atau pembungkaman musuh? Atau apakah kemenangan diukur dengan kemampuan untuk tetap bertahan, untuk menanggung, untuk melestarikan makna di bawah tekanan?

Menghadapi perang ini, jalur diplomasi dilaporkan dapat dicapai. Dialog dimungkinkan. De-eskalasi dapat dibayangkan. Pilihan untuk meninggalkan kemungkinan-kemungkinan ini demi kekuatan bukanlah sekadar strategis; itu etis. Dan sejarah, dalam ingatannya yang panjang, tidak melupakan pilihan-pilihan tersebut.

Pada akhirnya, kontrasnya tetap jelas. Kekaisaran memiliki kekuatan yang sangat besar, mampu membentuk peristiwa dalam jangka pendek. Peradaban memiliki sesuatu yang kurang terlihat tetapi seringkali lebih abadi: ingatan, makna, dan kemampuan untuk menyerap waktu.

Sesungguhnya Kami melemparkan kebenaran terhadap kebohongan, dan kebenaran itu menghancurkannya, lalu lenyaplah kebohongan itu.” – Surat Al-Anbiya (21:18)

Kebenaran, dalam pengertian ini, bukan hanya sebuah gagasan. Ia adalah kekuatan yang terungkap, terkadang perlahan, tetapi dengan kegigihan. Kekaisaran memiliki daya tembak yang lebih besar. Peradaban memiliki ingatan yang lebih dalam.

Sejarah, yang sabar dan tak kenal menyerah, cenderung tidak menyukai apa yang terkuat saat itu, tetapi apa yang mampu bertahan. Kekuatan dapat menghancurkan. Iman dapat bertahan. Waktu yang akan membuktikan.

Penulis : Laala Bechetoula adalah seorang sejarawan, jurnalis, dan analis geopolitik independen. Artikel ini telah tayang di IslamCity pada 26 Maret 2026

Krisis Hormuz Mengguncang Perdagangan Halal Global: Dapatkah Malaysia Melindungi Industri Senilai US$60 Miliar?

this formate

Oleh  Hafiz M. Ahmed

TOKYO, bisniswisata.co.id: Pada 28 Februari 2026, perang dimulai yang akan membentuk kembali perdagangan halal global selama bertahun-tahun mendatang. Ketika pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Iran di bawah Operasi Epic Fury.

Iran merespons dengan melakukan hal yang tak terbayangkan — menutup Selat Hormuz — hal itu tidak hanya menyulut konflik di Teluk. Hal itu mengirimkan gelombang kejut langsung ke jantung salah satu kisah ekonomi paling dinamis di dunia: industri halal Malaysia.

Bagi negara yang telah menghabiskan tiga dekade dengan cermat membangun dirinya menjadi pusat halal utama dunia, waktu kejadian ini sangat menyakitkan. Ekspor halal Malaysia baru saja mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar RM61,8 miliar pada tahun 2024.naik 15% dalam satu tahun.

Hanya dalam paruh pertama tahun 2025 saja, ekspor halal mencapai US$ 7 miliar, yang mewakili 16,1% dari ekspor nasional. Negara ini sedang berada di puncak kejayaan. Kemudian jalur pelayaran terpenting di dunia tiba-tiba ditutup.

Berikut adalah uraian lengkap tentang apa arti krisis ini — bagi Malaysia, bagi industri halal global, dan bagi 2 miliar konsumen Muslim yang dilayaninya.

BAGIAN I: TITIK PENYEMPITAN DUNIA

Untuk memahami mengapa perang di Teluk Persia merupakan keadaan darurat bagi industri halal, Anda perlu memahami bentangan perairan yang lebarnya hanya 34 kilometer pada titik tersempitnya.

Selat Hormuz membentuk jalur laut antara Iran dan Oman, dan dua jalur laut searahnya memfasilitasi transit sekitar 20 juta barel minyak per hari, yang mewakili sekitar 20% perdagangan minyak laut global. Tetapi Selat ini jauh lebih dari sekadar pipa minyak.

Sekitar 27% ekspor minyak dunia, 20% ekspor gas alam cair (LNG) global, dan 20–30% ekspor pupuk global — termasuk urea, amonia, fosfat, dan sulfur — melewati Selat ini.

Dan yang terpenting bagi perdagangan makanan halal: bagi negara-negara di Teluk Persia, jalur air ini lebih dari sekadar jalur energi — ini adalah jalur kehidupan bagi lebih dari 100 juta orang.

Negara-negara Arab Teluk mengimpor sebagian besar makanan mereka. Sebagian besar bersertifikasi halal dan sebagian besar berasal dari Malaysia.

Sekarang jalur kehidupan itu terputus. Hingga 12 Maret, Iran telah melakukan 21 serangan yang dikonfirmasi terhadap kapal dagang. Lalu lintas kapal tanker turun sekitar 70%, dengan lebih dari 150 kapal berlabuh di luar selat untuk menghindari risiko.

Harga minyak mentah Brent melampaui USD 100 per barel untuk pertama kalinya dalam empat tahun, naik hingga USD 126 per barel pada puncaknya — gangguan terbesar terhadap pasokan energi sejak krisis minyak tahun 1970-an.

Efek berantai pada pengiriman barang sangat mengejutkan. Perusahaan pelayaran telah mengenakan biaya tambahan sebesar USD 4.000 per kontainer yang ditujukan untuk seluruh Timur Tengah.

Biaya pengangkutan dan logistik berkisar antara US$ 4.000 hingga US$9.000 per kontainer untuk memindahkan barang ke UEA. Seorang manajer pengiriman melaporkan harga pengiriman dari Eropa ke Jeddah melonjak dari 3.000 euro menjadi 14.500 euro dalam semalam.

Perusahaan pengangkut kontainer utama telah merespons dengan menghentikan pemesanan ke Timur Tengah, mengenakan biaya tambahan risiko perang darurat, atau mengalihkan rute kapal di sekitar Tanjung Harapan.

Pengalihan rute tersebut menambah sekitar 3.500 mil laut dan sekitar US$ 1 juta biaya bahan bakar per perjalanan — biaya yang diperkirakan akan dibebankan kepada konsumen.

Bagi eksportir halal Malaysia, yang telah bertahun-tahun membangun rantai pasokan yang efisien dan hemat biaya ke negara – negara Teluk, ini merupakan pukulan telak bagi model bisnis mereka.

BAGIAN II: BAGAIMANA INI MEMPENGARUHI HALAL — SEKTOR DEMI SEKTOR

Tidak semua produk halal sama-sama rentan. Berikut adalah sektor-sektor yang paling terdampak:

*Daging Halal & Produk Mudah Rusak: Sektor yang Paling Rentan. Daging merah dan makanan laut termasuk di antara sektor yang paling berisiko. Kedua produk ini mudah rusak dan sangat rentan terhadap keterlambatan pengiriman.

Timur Tengah adalah salah satu konsumen daging domba terbesar di dunia, terutama untuk produk halal. Pemasok utama sudah menunda pengiriman, dengan logistik pengiriman diperkirakan akan menjadi faktor utama yang mengganggu.

Bagi eksportir daging halal olahan dan makanan siap saji Malaysia, kargo yang dikontrol suhu sangat rentan. Pengalihan rute selama 20 hari melalui Afrika bukan hanya mahal — untuk produk dingin, hal itu dapat berarti kehilangan produk secara total.

Minyak Sawit & Turunannya: Sensitif terhadap Energi dan Rentan. Kategori ekspor halal terbesar Malaysia adalah produk – produk terkait minyak sawit, dan berada di persimpangan setiap titik tekanan dalam krisis ini.

Harga minyak telah naik sekitar 45% dan gas sebesar 55%, sementara harga pupuk naik 35%. Sebagai komoditas yang intensif energi dan bergantung pada pengiriman global, margin minyak sawit tertekan dari berbagai arah secara bersamaan.

Farmasi & Nutrasetika Halal: Kerentanan Tersembunyi. Malaysia memegang posisi unik secara global sebagai pemimpin dalam farmasi halal, setelah menetapkan Standar Farmasi Halal pertama di dunia.

Namun sektor ini sangat bergantung pada impor gelatin, kapsul, dan aditif khusus bersertifikat halal — rantai pasokan yang berjalan langsung melalui wilayah yang terdampak, menciptakan hambatan yang sulit diatasi dengan cepat.

Pupuk & Input Pertanian: Bom Waktu yang Berdetik. Mungkin ancaman yang paling jarang dibahas tetapi paling berbahaya secara struktural terletak pada pupuk. Harganya telah melonjak tajam, dan gangguan yang berkepanjangan dapat memicu kekurangan pupuk di berbagai wilayah.

Hal ini menyebabkan penurunan hasil panen dan lonjakan harga pangan secara global. Bagi sektor pertanian halal Malaysia, ini merupakan ancaman jangka menengah terhadap biaya input dan kelangsungan produksi.

BAGIAN IV: MENGAPA MALAYSIA LEBIH SIAP DARIPADA YANG TERLIHAT

Berikut adalah kisah yang terlewatkan di tengah kepanikan: Malaysia memasuki krisis ini dari posisi kekuatan strategis yang nyata.

Kekuatan sertifikasi. Sertifikasi halal Malaysia diterima oleh puluhan badan di berbagai negara — lebih banyak daripada sertifikasi lainnya di dunia. Ini memberikan produk Malaysia keunggulan kepercayaan yang kuat.

Skala dan ekosistem. Lebih dari 10.000 perusahaan bersertifikasi halal berkontribusi pada jejak halal global Malaysia, memberikan fleksibilitas dan ketahanan.

Pasar yang beragam. Ekspansi ke pasar Asia Tengah dan ASEAN kini membuahkan hasil, karena wilayah-wilayah ini sebagian besar tetap terlindungi dari gangguan.

Target ambisius masih dapat dicapai. Target jangka panjang industri halal Malaysia tetap dapat dicapai. Krisis ini adalah kemunduran, bukan penyimpangan struktural — jika respons kebijakan yang tepat datang dengan cepat.

BAGIAN V: APA YANG DIKATAKAN PASAR HALAL GLOBAL KEPADA KITA

Jika dilihat dari perspektif yang lebih luas, gambaran makro memperkuat alasan mengapa Malaysia harus melindungi industri ini dengan segala cara.

Pasar makanan halal adalah salah satu segmen perdagangan dengan pertumbuhan tercepat di dunia, yang diproyeksikan akan meningkat lebih dari dua kali lipat nilainya dalam dekade berikutnya. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya populasi Muslim dan berkembangnya kelas menengah di seluruh Asia.

Ini bukan pasar khusus. Secara struktural, pasar ini didorong oleh permintaan. Konsumen Muslim tidak berhenti mengonsumsi produk halal selama krisis — mereka beradaptasi.

Pertanyaan kuncinya adalah apakah Malaysia tetap menjadi pemasok pilihan ketika situasi kembali normal.

Asia Pasifik diproyeksikan akan mendominasi pasar halal global. Kawasan yang menang adalah kawasan yang membangun rantai pasokan yang paling tangguh, tepercaya, dan terintegrasi secara digital.

BAGIAN VI: AGENDA KEBIJAKAN — APA YANG HARUS TERJADI SEKARANG

Para ekonom dan pemimpin industri sepakat pada tindakan mendesak:
*Membangun kapasitas input halal domestik.
*Malaysia harus mengurangi ketergantungan pada bahan impor seperti gelatin, enzim, dan aditif.

Mempercepat alternatif logistik.

Mengembangkan jalur udara-laut, kereta api, dan darat untuk mengurangi ketergantungan pada negara-negara Teluk.

*Mempercepat pengakuan timbal balik sertifikasi.
*Mengharmoniskan standar halal akan memudahkan perdagangan lintas batas.
*Menerapkan ketertelusuran digital.
Pelacakan waktu nyata dan transparansi sertifikasi akan membangun kembali kepercayaan pembeli.
*Ekspansi ke Afrika dan Amerika Selatan.
Diversifikasi pasar bukan lagi pilihan — ini mendesak.

KESIMPULAN

Dampak ekonomi langsung dari konflik ini termasuk peningkatan tajam harga barang, minyak, gas, dan pupuk — dengan inflasi, ekspor yang lebih lemah, dan peningkatan risiko utang yang kemungkinan akan terjadi.

Bagi industri halal Malaysia, ini bukanlah ancaman eksistensial — tetapi ini adalah momen kebenaran struktural.

Mesin ekspor tetap tangguh. Sertifikasi tetap menjadi standar emas global. Permintaan dari 2 miliar konsumen Muslim tidak akan hilang.

Namun, infrastruktur yang mengangkut produk halal dari pabrik-pabrik Malaysia ke pasar global dibangun untuk stabilitas—bukan untuk guncangan geopolitik sebesar ini.

Mengadaptasi infrastruktur tersebut—dengan kecepatan, investasi, dan keberanian kebijakan—kini menjadi tantangan utama.

Api sedang berkobar. Pertanyaannya adalah apakah sektor halal Malaysia akan menggunakannya untuk membangun sesuatu yang lebih kuat—atau hanya akan menyaksikan panasnya api tersebut melenyapkan keuntungan selama satu dekade.

Penulis : Hafiz Maqsood Ahmed adalah Pemimpin Redaksi The Halal Times, dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang jurnalisme. Mengkhususkan diri dalam ekonomi Islam, analisisnya yang mendalam membentuk wacana dalam ekonomi Halal global. Artikel ini telah tayang di The Halal Times, 24 Maret 2026.

Mengapa Daging Halal Menjadi Tren Besar Berikutnya di Rak-Rak Toko Kelontong Amerika

this formate

WASHINGTON, bisniswisata.co.id: Apakah Anda memperhatikan betapa berbedanya belanja bahan makanan saat ini? Berjalan-jalanlah di lorong makanan beku Walmart, dan Anda akan melihatnya: terletak di antara ayam organik dan daging sapi yang diberi makan rumput—sesuatu yang tidak akan Anda temukan satu dekade lalu: daging bersertifikat Halal.

Bukan hanya Walmart. Whole Foods, Costco, Kroger, dan bahkan toko-toko lingkungan setempat pun menyediakan produk Halal. Apa yang dulunya merupakan pilihan khusus untuk keluarga Muslim kini menjadi salah satu kategori dengan pertumbuhan tercepat dalam ritel makanan AS.

Jadi, mengapa daging Halal tiba-tiba ada di mana-mana? Jawabannya adalah kombinasi dari etika, rasa ingin tahu, dan perilaku konsumen yang terus berkembang. Mari kita telusuri seperti dilansir dari halalfocus.com

Pertumbuhan Pasar Halal & Populasi Muslim

Menurut Allied Market Research, pasar makanan Halal AS bernilai US$59,4 miliar pada tahun 2022 dan diproyeksikan mencapai hampir US$88,9 miliar pada tahun 2026, sebuah tren yang tidak dapat lagi diabaikan oleh para pengecer.

Tidak seperti banyak tren makanan yang cepat berlalu, Halal mendapat manfaat dari pendorong permintaan yang berkelanjutan. Faktor yang paling signifikan adalah meningkatnya populasi Muslim di AS, yang berjumlah sekitar 3,5 juta.

Pew Research menunjukkan banyak di antaranya adalah warga Amerika generasi kedua yang masih muda, dan populasi ini terus bertambah. Secara alami, ada peningkatan permintaan untuk produk Halal—tidak hanya di toko daging khusus tetapi juga di supermarket besar.

Daya Tarik Etis

Inti dari sertifikasi Halal adalah perlakuan manusiawi dan transparansi. Sebagian besar pembeli Amerika, baik Muslim maupun non-Muslim, semakin bersedia membayar harga premium untuk produk yang menawarkan sumber yang jelas, label yang transparan, dan praktik yang etis.

Daging halal selaras dengan nilai-nilai ini dan menarik bagi basis konsumen yang lebih luas, di luar kebutuhan keagamaan semata. Selain itu, dengan logo Halal yang sesuai seperti milik ISA, seseorang dapat melacak sumber dan pengolahan daging dengan sangat mudah. ​​

Jika salah satu logo Halal ISA kami ditampilkan pada kemasan produk, konsumen Halal dapat mengisi formulir pertanyaan kontak untuk mempelajari lebih lanjut tentang produk tertentu.

Tren Kesehatan dan Pola Makan Sehat

Seperti pepatah mengatakan, “Kita adalah apa yang kita makan.” Gerakan pola makan sehat mengangkat daging halal sebagai pilihan yang lebih sehat dan segar.

Penelitian menunjukkan bahwa daging halal dianggap lebih aman, dengan kontaminasi mikroba yang lebih rendah dibandingkan dengan daging non-halal.

Persepsi yang berkembang ini sangat sesuai dengan obsesi Amerika yang semakin meningkat terhadap sumber protein yang bersih dan sehat.

Ritel Utama dan Inovasi

Halal tidak lagi terbatas pada toko khusus yang terbatas. Merek-merek populer seperti Sukhi’s, Impossible Foods, dan Beyond Meat menyediakan pilihan Halal bagi konsumen daging biasa dan mereka yang menjalani diet nabati. Evolusi ini menjadikan Halal sebagai bagian integral dari pengalaman berbelanja setiap orang.

Rasa Ingin Tahu & Kemudahan Online

Makanan telah lama berfungsi sebagai jembatan antar budaya. Bagi banyak orang Amerika, rasa ingin tahu adalah faktor pendorong dalam menjelajahi daging Halal.

Dengan meningkatnya budaya makanan jalanan dan tagar media sosial seperti #HalalEats, semakin banyak orang yang tertarik dan ingin mencoba pilihan Halal di rumah.

Platform e-commerce seperti Amazon dan Halal World Depot telah memperluas jangkauan produk Halal, membuat daging bersertifikat dapat diakses oleh konsumen di seluruh negeri.

Sementara toko daging tradisional tetap menjadi pilar komunitas, pengecer online menjembatani kesenjangan tersebut, membuat produk Halal tersedia baik secara lokal maupun global.

Mengapa Merek Anda Harus Memperhatikan Sertifikasi Halal

*Menarik konsumen Muslim yang memprioritaskan sertifikasi Halal.
*Membangun kepercayaan dengan konsumen non-Muslim yang menghargai transparansi dan sumber yang etis.                              *Memposisikan merek Anda untuk pertumbuhan di pasar yang berkembang pesat.

Daging Halal telah beralih dari ceruk pasar menjadi arus utama, mendapatkan pengakuan tidak hanya dari konsumen Muslim tetapi juga dari pembeli yang beretika di seluruh Amerika.

Halal bukan lagi sekadar kategori produk; ini menjadi elemen kunci dari budaya makanan Amerika modern. Lain kali Anda berbelanja, jangan heran menemukan daging Halal di rak-rak toko – bukan sebagai alternatif, tetapi sebagai bagian yang berkembang dari lanskap makanan Amerika

Kementerian Pariwisata Perkuat Kepemimpinan Global dalam Pariwisata Muslim Melalui Kolaborasi Industri

this formate

JAKARTA, bisniswisata.co.id: – Seiring dengan evolusi lanskap pariwisata global, Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai destinasi utama bagi wisatawan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan.

Dilansir dari CrescentRating, dalam forum tingkat tinggi yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata, para pemimpin industri berkumpul untuk membahas tema: “Memperkuat Kolaborasi Industri dalam Pengembangan Pariwisata Ramah Muslim.”

Forum tersebut menyoroti bahwa pariwisata ramah Muslim bukan lagi pasar khusus, tetapi merupakan landasan strategi pariwisata nasional Indonesia, yang berfokus pada keunggulan layanan daripada pembatasan agama.

Tolok Ukur Global: Wawasan dari CrescentRating

Tawfiq Ikhtianto, Kepala Riset dan Pengembangan Kapasitas di CrescentRating, memberikan peta jalan berbasis data untuk pertumbuhan Indonesia di masa depan.

Keahliannya menjelaskan bagaimana keberhasilan Indonesia menduduki peringkat teratas Global Muslim Travel Index (GMTI) merupakan bukti dari infrastruktur yang ada, tetapi mempertahankan keunggulan tersebut membutuhkan inovasi yang berkelanjutan. Ia menekankan beberapa pilar penting:

Faktor “Generasi Z”: Terjadi peningkatan Generasi Z—wisatawan Muslim muda, melek teknologi, dan kaya. Demografi ini mencari pengalaman otentik dan layak diunggah di Instagram yang tidak memaksa mereka untuk mengkompromikan kebutuhan berbasis keyakinan mereka, seperti ruang sholat yang mudah diakses dan pilihan kuliner bersertifikat Halal.

Ekosistem Digital: Di era informasi instan, visibilitas adalah segalanya. Jika sebuah hotel atau objek wisata “ramah Muslim” tetapi tidak dapat dicari secara online dengan metadata yang jelas, maka secara efektif tidak ada bagi wisatawan internasional.

Di Luar Kamar Hotel: Ikhtianto berpendapat bahwa ekosistem Halal harus mulus. Perjalanan wisatawan dimulai di bandara dan berlanjut melalui transportasi dan tur lokal. Kolaborasi di seluruh sektor ini sangat penting untuk menciptakan pengalaman tanpa hambatan.

Dari Pembicaraan ke Tindakan

Forum ini juga berfungsi sebagai seruan untuk bertindak bagi dewan pariwisata regional. Dalam diskusi tersebut, Wakil Menteri Perindustrian dan Investasi di Kementerian Pariwisata, mendesak para pemangku kepentingan lokal untuk melampaui diskusi konseptual dan mulai menerapkan paket wisata konkret.

“Mari kita berhenti hanya berbicara. Mari kita ciptakan 10 perjalanan unik di daerah seperti Jawa Tengah yang menyoroti sejarah budaya dan Islam kita yang unik,” kata Deputi Handayani, seraya mencatat bahwa bahkan daerah yang mayoritas penduduknya bukan Muslim pun memiliki potensi besar jika dikemas dengan benar.

Paket Pariwisata Inovatif

Para pembicara juga menyoroti potensi Pariwisata Berbasis Acara. Ide ini didasarkan pada kalender keagamaan unik Indonesia, seperti 1 Muharram (Suro) di Jawa atau suasana Ramadan yang unik yang dapat dipasarkan sebagai pengalaman perjalanan premium bagi wisatawan internasional dari Turki, Timur Tengah, dan sekitarnya.

Mengakses Peta Jalan

Untuk mendukung inisiatif ini, Kementerian telah meluncurkan portal khusus untuk pelaku industri. Informasi detail tentang atraksi Islami, acara, dan standar “Ramah Muslim” kini tersedia di www.indonesia.travel.

Saat forum berakhir, pesannya jelas: Melalui kolaborasi antara pemerintah, badan sertifikasi seperti Badan Penyelenggara Penjaminan Produk Halal (BPJPH), dan pakar riset seperti CrescentRating, Indonesia siap memimpin pasar pariwisata Muslim global senilai lebih dari 200 miliar dolar AS.

Singapore Airlines Kembali ke Hangzhou Setelah 28 Tahun, Memperkuat Konektivitas Asia dan Pertumbuhan MICE

this formate

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Sebagai dorongan signifikan bagi penerbangan dan pariwisata regional, Singapore Airlines (SIA) akan melanjutkan penerbangan langsung antara Bandara Changi Singapura dan Bandara Internasional Hangzhou Xiaoshan.

Rute ini mulai 1 Juni 2026, menandai kembalinya maskapai ini ke kota Tiongkok tersebut setelah hampir 28 tahun. Menawarkan kenyamanan yang lebih baik bagi pelancong bisnis dan liburan.

Dari perspektif MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions), pengaktifan kembali rute ini sangat signifikan. Konektivitas yang ditingkatkan antara Singapura, pusat MICE global, dan Hangzhou, pusat bisnis dan teknologi yang berkembang pesat, diharapkan dapat memfasilitasi peningkatan perjalanan bisnis, konferensi internasional, dan program insentif.

Dilansir dari www.miceshowcase.com, maskapai ini akan mengoperasikan layanan harian di rute tersebut menggunakan pesawat jarak menengah Airbus A350-900, yang dikonfigurasi dengan 303 kursi, termasuk 40 kursi Kelas Bisnis dan 263 kursi Kelas Ekonomi,

Langkah ini mencerminkan meningkatnya permintaan perjalanan antara Singapura dan Tiongkok, khususnya wilayah Delta Sungai Yangtze, salah satu pusat ekonomi dan teknologi paling dinamis di Tiongkok.

Hangzhou, yang dikenal karena kehadirannya yang kuat dalam e-commerce dan inovasi, juga merupakan tujuan wisata utama, yang semakin memperkuat pentingnya strategis rute ini.

Dengan peluncuran ini, Hangzhou akan menjadi destinasi kesembilan Singapore Airlines di Tiongkok daratan, sementara SIA Group, termasuk Scoot, akan melayani 22 kota di seluruh negeri, menyoroti komitmennya untuk memperluas konektivitas di kawasan ini.

Layanan langsung ini juga akan mendukung kolaborasi bisnis lintas batas, keterlibatan perdagangan, dan partisipasi acara, memungkinkan pergerakan profesional dan delegasi yang lebih lancar antara kedua wilayah.

Kembalinya Singapore Airlines ke Hangzhou terjadi pada saat permintaan perjalanan global pulih, dan maskapai penerbangan secara strategis memperluas jaringan untuk memanfaatkan pasar dengan pertumbuhan tinggi.

Rute baru ini siap untuk memperkuat hubungan ekonomi, meningkatkan arus pariwisata, dan lebih mengintegrasikan ekosistem bisnis Singapura dan Tiongkok.

Seiring dengan terus berperannya konektivitas penerbangan dalam kegiatan bisnis global, perkembangan ini memperkuat pentingnya rute strategis dalam mendorong pertumbuhan industri pariwisata dan MICE di seluruh Asia.

Tiga R dalam Perencanaan Acara: Mana yang Paling Penting?

this formate

Pengembalian atas Hubungan (Return on Relationships/ROI) mudah diprioritaskan tetapi sulit dilacak. (Foto: iStock/Deagreez)

Apakah hubungan lebih penting daripada pendapatan, atau sebaliknya? Menurut para ahli acara, jawabannya bergantung pada beberapa faktor.

SINGAPURA, bisniswisata.co.id; Dahulu hanya ada satu metrik yang digunakan untuk menilai perencana acara – Pengembalian Investasi (Return on Investment/ROI). Dua R lagi telah masuk ke dalam rapat pasca-acara: Pengembalian atas Pengalaman (Return on Experience/ROE) dan Pengembalian atas Hubungan (Return on Relationship/ROR).

3 R dan Alasannya

Pergeseran ini mencerminkan transformasi yang lebih dalam tentang bagaimana acara menciptakan nilai di luar aspek komersial, dan bagaimana ketiga R dapat berfungsi sebagai metrik keberhasilan antara klien dan perencana; acara dan peserta.

“ROI ada karena organisasi menginginkan akuntabilitas, dan itu masuk akal,” kata Dwirt J Ang, wakil direktur, komersial di PMG Asia Pacific, agensi pemasaran terintegrasi yang berbasis di Singapura yang bekerja dengan klien teknologi termasuk Google, Dell, dan pemain di bidang teknologi kesehatan.

Dilansir dari meetings-conventions-asia.com,
bukan spreadsheet, tetapi hubunganlah yang membuat klien tetap loyal, lanjutnya.

“Terkadang ROI hanyalah tampilan luar. Yang benar-benar dipedulikan klien adalah kontinuitas, konsistensi, keandalan, dan hubungan. Antara kita dan mereka, serta antara mereka dan pelanggan mereka.”

Fokus semata-mata pada pengembalian finansial mengabaikan tujuan yang lebih dalam dari sebuah acara. Para profesional acara tidak menjual produk atau layanan, tetapi kepercayaan.

“Jadi, dalam pertemuan pertama itu, alih-alih bertanya apa yang perlu diberikan oleh acara tersebut, kita mulai dengan bertanya kepada klien mengapa acara tersebut perlu diadakan. Dan jawaban itu membentuk segalanya – desain, narasi, pengalaman, dan hasilnya.” kata Dwirt J Ang,

Dari situ, perencana dapat mulai melihat ROE dan ROR. Meskipun ROR terutama mengacu pada hubungan antara peserta dan merek, hal itu juga dapat berkaitan dengan hubungan antara klien dan agensi.

Pendekatan ROR secara bertahap

PMG Asia Pacific menggambarkan evolusi yang jelas dalam hubungan kliennya:

*Tahap pengemis – mencari peluang dan mengajukan penawaran untuk pekerjaan
*Tahap kasir – proyek transaksional dan pekerjaan sekali pakai
*Tahap konsultan – klien mencari nasihat dan masukan strategis
*Tahap penasihat – kemitraan strategis jangka panjang.

“Tujuan utamanya adalah tingkat penasihat,” jelas Ang. “Di mana klien datang kepada Anda dan berkata: ‘Kami memiliki tujuan selama setahun penuh. Bagaimana seharusnya kami memodelkan kampanye dan acara kami sesuai dengan tujuan tersebut?’ Itu adalah hubungan, bukan transaksi.”

Di sinilah ROR menjadi mata uang yang paling berharga.

Dalam hal keterlibatan peserta, ROR melampaui sekadar menghasilkan prospek, mencakup kemitraan, rujukan, kepercayaan, keterlibatan berulang, dan loyalitas jangka panjang.

“Di dunia yang penuh dengan kebisingan di saluran digital, acara adalah salah satu ruang terakhir yang tersisa untuk koneksi manusia yang tulus, dan pengalaman tatap muka memiliki bobot yang lebih besar dari sebelumnya.” kata Shah Nair, ahli strategi kreatif regional PMG Asia Pasifik.

Orang-orang dibombardir oleh PR, iklan, konten, media sosial, tetapi interaksi tatap muka membangun sesuatu yang lebih dalam. Kepercayaan tidak berkembang secara digital seperti halnya koneksi secara fisik,”.

ROI dan ROE menjadi produk sampingan dari ROR, tambah Nair. Jika orang mempercayai Anda, ROI akan mengikuti. Melalui kepercayaan, kualitas pengalaman meningkat secara alami.

Pengalaman memiliki bobot yang lebih besar dari sebelumnya. Orang-orang dibombardir oleh PR, iklan, konten, media sosial, tetapi interaksi tatap muka membangun sesuatu yang lebih dalam.Kepercayaan tidak berkembang secara digital seperti halnya koneksi fisik,kata Shah Nair

Contoh kasus: Google dan Dell

Bagi Ang dan Nair, membangun hubungan bukanlah hal yang abstrak—melainkan operasional.

Mereka mengutip aktivasi konsumen baru-baru ini untuk Google Pixel, di mana KPI utamanya sederhana: membuat orang berinteraksi dengan Pixel 10 yang baru.

Selain mencatat jumlah pengunjung, PMG Asia Pacific membingkai ulang aktivasi tersebut seputar keterlibatan, penceritaan, dan interaksi. Tujuan mereka adalah untuk memberikan produk tersebut kepada orang-orang dan mereka melacak:

*Keterlibatan yang bermakna
*Interaksi produk
*Daya tarik sosial (dengan Duta Google)
*Peningkatan penjualan pasca acara
*Perbincangan merek (melalui interaksi publik)
*Peluang aktivasi berulang

“Hasil yang kami inginkan juga tentang membangun hubungan antara setiap orang dan Google yang membangkitkan minat dan mendorong penyelidikan dan pembelian lebih lanjut,” kata Nair.

Pada saat yang sama, hal itu membangun kepercayaan antara perencana dan Google, yang membuka diskusi tentang perencanaan kampanye Google di masa mendatang di berbagai wilayah.

Di ruang B2B, kemitraan jangka panjang mereka dengan Dell melalui Dell Technologies Forum menunjukkan hal yang sama.

Para mitra kembali ke acara itu tahun demi tahun bukan hanya untuk pengalaman, tetapi karena hubungan yang terjalin kuat. “Jaringan, kemitraan, nilai bersama – forum ini telah menjadi sebuah komunitas, bahkan sebuah festival – jauh lebih dari sekadar acara tahunan,” jelas Nair.

Mengukur Aspek Non-Transaksional

Bagaimana perencana acara dapat mengukur ROR (Relationship of Relationship)?

“Ini tidak mudah. Sebagian besar organisasi melacak aktivitas, bukan perilaku. Sistem CRM seperti Salesforce dapat menunjukkan responsivitas dan keterlibatan, tetapi pelacakan hubungan yang sebenarnya itu kompleks.” kata Nair. “

Yang mereka lihat muncul adalah *pengukuran gabungan:
*KPI Keterlibatan
*Perilaku Pasca-Acara
*Partisipasi Berulang

Referensi

*Pertumbuhan Kemitraan
*Retensi Klien Jangka Panjang

Beberapa organisasi berkembang lebih cepat daripada yang lain, terutama merek teknologi dan klien perusahaan dengan ekosistem data yang kuat. Tetapi Ang dan Nair menegaskan: Tidak semua hal yang berharga dapat langsung diukur.

Nilai hubungan bertambah seiring waktu. Tapi itulah intinya, bukan? Untuk mengembangkan hubungan jangka panjang antara klien kami dan pelanggan mereka.”

Bisakah seseorang mendapatkan semuanya?

Jadi, sekarang pertanyaan besarnya: bisakah satu acara memberikan ketiga R (Return on Equity/Return on Investment/Pengembalian Investasi)?

“Ya, tetapi tidak secara merata,” kata Nair. Ini adalah skala yang bervariasi. Tidak ada rumus yang sempurna. Tetapi jika dilakukan dengan baik, ketiga R saling memperkuat.

ROE (Return on Equity/Pengembalian atas Pengalaman) dan ROR (Return on Investment/Pengembalian Investasi) secara alami berjalan beriringan. Pengalaman hebat membangun hubungan. Hubungan yang kuat meningkatkan ROI (Return on Investment/
Pengembalian Investasi), tambahnya.

Dari sisi kreatif, filosofi tim sederhana: “Jika ada ruang untuk narasi, cerita, dan makna, Anda dapat mencapai ketiga R dalam satu acara. Jika hanya transaksional, Anda hanya akan mengoptimalkan ROI.”

ROI menjaga kelangsungan bisnis, ROE membangun ingatan, dan ROR membangun umur panjang, demikian ringkasan Nair dan Ang, yang keduanya akan menghadiri The Meetings Show Asia Pacific 2026.

Dan dalam industri yang didorong oleh kepercayaan, loyalitas, dan koneksi antar manusia, itu mungkin pengembalian yang paling berharga dari semuanya.

Menjembatani Kesenjangan Antara Data dan Strategi dalam Manajemen Pendapatan

this formate

AI Wizard memposisikan dirinya sebagai solusi untuk menjembatani kesenjangan komunikasi antara manajer pendapatan yang sarat data dan tim kepemimpinan komersial.

MAASTRICHT, bisniswisata.co.id: Ini adalah momen yang familiar dalam kehidupan seorang Manajer Pendapatan. Di pagi hari, Manajer Umum meminta pembaruan singkat.

Dilansir dari www.hospitalitynet.org, Tim penjualan mencari kejelasan tentang potensi promosi. Pemilik memperhatikan dengan saksama akhir pekan yang akan datang.

Pada saat yang sama, Manajer Pendapatan sudah sibuk dengan dasbor, mencoba menghubungkan titik-titik dengan cukup cepat untuk tetap unggul dalam percakapan.

Selama bertahun-tahun, diskusi seputar Sistem Manajemen Pendapatan telah berfokus pada dua pemain: penyedia teknologi dan Manajer Pendapatan. Kita telah membahas algoritma, titik harga, dan akurasi peramalan. Kita telah membahas efisiensi.

Namun dalam bisnis perhotelan, efisiensi hanyalah setengah dari cerita. Setengah lainnya adalah keselarasan.

Keputusan pendapatan paling strategis di dunia akan kehilangan nilainya jika tidak dapat dipahami, didukung, dan dipercaya dengan jelas oleh seluruh tim kepemimpinan.

Kesenjangan antara Manajer Pendapatan yang sangat analitis dan kepemimpinan yang berfokus pada komersial adalah salah satu biaya tersembunyi terbesar dalam industri perhotelan modern.

Seperti yang telah kita bahas dalam episode internasional perdana 10 Minutes Hotels, masa depan AI bukanlah tentang bekerja lebih cepat. Ini tentang berpikir bersama dengan lebih baik.

Keselarasan Tanpa Sekat

Skenario klasik terjadi setiap pagi: Manajer Pendapatan (RM) sibuk dengan lima laporan; Manajer Umum (GM) menginginkan ringkasan 30 detik. Tim penjualan membutuhkan alasan yang jelas dan segera untuk promosi

Pemilik membutuhkan kepastian sebelum akhir pekan penting. RM menghabiskan waktunya untuk menyusun, memeriksa silang, dan mempertahankan data.

Data terfragmentasi, begitu pula fokus tim.

AI Wizard tidak dirancang hanya sebagai alat untuk pengguna tingkat lanjut bagi Manajer Hubungan Pelanggan (RM). AI Wizard dirancang sebagai titik referensi utama bagi seluruh tim komersial.

Ketika AI diterapkan dengan bijak, ia menjadi penerjemah universal untuk strategi Anda:
Untuk Manajer Umum: Mereka tidak membutuhkan kerumitan.

Mereka membutuhkan gambaran besar. Ringkasan Harian (Daily Glimpse) dari sistem ini adalah ringkasan tingkat tinggi yang dihasilkan AI yang merangkum kinerja properti, menyoroti prioritas penting, dan memberikan gambaran instan tentang prospek pasar untuk minggu tersebut.

Ini adalah ringkasan yang dibutuhkan setiap Manajer Umum, tetapi tidak pernah ada waktu bagi RM untuk menuliskannya. (Samuel Johnson)

Yotel Jalin Kesepakatan Waralaba dengan Hilton.l

this formate

Jejak Yotel saat ini mencakup pasar -pasar utama seperti New York, Tokyo, Amsterdam, Glasgow, dan Singapura. (Foto: Hilton)

 

SINGAPURA, bisniswisaya.co.id: Hilton telah menandatangani perjanjian waralaba eksklusif dengan Yotel, membawa merek yang berfokus pada desain ini ke dalam ekosistemnya sebagai anggota pertama dari platform Select by Hilton yang baru.

dilansir dari www.travelweekly-asia.com, select by Hilton dirancang untuk mengintegrasikan “merek hotel berkualitas tinggi dan mapan” ke dalam sistem Hilton.

Ini memungkinkan mereka untuk pertahankan identitas dan manajemen mereka sambil memanfaatkan distribusi global Hilton dan Hilton Honors, kata raksasa hotel tersebut.

Diluncurkan di London pada tahun 2007, jejak Yotel saat ini mencakup pasar-pasar utama seperti New York, Tokyo, Amsterdam, Glasgow, dan Singapura, yang dicirikan oleh fitur-fitur cerdas seperti Yotel SmartBed yang dapat diubah dari tempat tidur datar menjadi sofa, dan opsi penyimpanan bagasi otomatis.

Yotel akan terus mengelola dan melisensikan mereknya secara independen di 23 hotel di 10 negara, dengan tujuan untuk melipatgandakan portofolionya lebih dari tiga kali lipat dalam beberapa tahun mendatang.

Peluncuran mendatang di tahun 2026 termasuk Yotel Bangkok Sukhumvit yang menawarkan 250 kamar, dan Yotel Kuala Lumpur yang menawarkan 300 kamar.

Untuk paruh kedua dekade ini, Yotel Athens akan dibuka pada tahun 2027 di ibu kota Yunani, Yotel Lisbon pada tahun 2028 di Portugal, dan Yotel Belfast pada tahun 2028 sebagai properti pertama merek tersebut di Irlandia Utara.

Hotel-hotel pertama diharapkan tersedia untuk pemesanan melalui saluran Hilton pada akhir tahun 2026.

Bagaimana Perang di Iran Dapat Mengubah Pola Perjalanan di Timur Tengah

this formate

Sejumlah perusahaan penrrbangan tengah parkir di bandata. (Foto: HNR News)

LONDON, bisniswisata.co.id: Konflik di Iran diperkirakan akan secara signifikan mengubah perilaku perjalanan di seluruh Timur Tengah, dengan potensi dampak pada industri perhotelan di kawasan tersebut, termasuk pergeseran tujuan wisata dan perubahan permintaan akomodasi.

Dilansir dari hotelnewsresource.com, konflik yang melibatkan Iran kemungkinan akan mengubah pola perjalanan regional jauh melampaui periode gangguan langsung, karena maskapai penerbangan mengubah rute jaringan.

Wisatawan juga menilai kembali risiko tujuan, dan pasar pariwisata di seluruh Timur Tengah menghadapi prospek pemulihan yang tidak merata.

Gangguan perjalanan mungkin berlangsung lebih lama dari konflik Itu sendiri

Perang dan krisis keamanan regional seringkali menciptakan gangguan perjalanan langsung, tetapi dampak jangka panjangnya bisa jauh lebih signifikan.

Dalam kasus konflik saat ini yang melibatkan Iran, dampak pada perjalanan di Timur Tengah semakin dipandang bukan hanya sebagai masalah operasional jangka pendek, tetapi sebagai tantangan struktural bagi maskapai penerbangan, destinasi, dan pasar hotel di seluruh wilayah.

Sinyal terbaru datang dari World Travel & Tourism Council, yang mengatakan bahwa konflik tersebut telah merugikan sektor perjalanan dan pariwisata Timur Tengah setidaknya US$600 juta per hari dalam pengeluaran pengunjung internasional yang hilang.

Kelompok tersebut mengatakan bahwa pusat-pusat utama, termasuk Dubai, Abu Dhabi, Doha, dan Bahrain, telah terpengaruh oleh penutupan, gangguan, dan perubahan perilaku wisatawan.

Perubahan wilayah udara dan jaringan dapat mengubah arus perjalanan

Salah satu konsekuensi paling langsung dari konflik ini adalah gangguan terhadap wilayah udara regional dan pola layanan penerbangan.

Maskapai penerbangan terpaksa membatalkan penerbangan, mengubah rute pesawat, atau mengurangi jadwal karena kondisi keamanan dan kendala operasional terus berubah.

Menurut Reuters, Israel secara drastis mengurangi lalu lintas udara, dengan El Al hanya beroperasi sebagian kecil dari kapasitas normalnya, sementara beberapa maskapai penerbangan regional mengalih- kan operasinya ke bandara di negara-negara tetangga seperti Yordania dan Mesir.

Jenis perubahan ini dapat memiliki efek yang berkepanjangan. Setelah rute disesuaikan, pola penghubung berubah, dan para pelancong mulai lebih menyukai gerbang alternatif, proses pemulihan dapat memakan waktu berbulan-bulan atau lebih lama.

Untuk destinasi yang bergantung pada akses udara internasional, hal ini dapat membentuk kembali arus permintaan bahkan setelah pembatasan wilayah udara dicabut.

Persepsi dapat menyebar di luar zona konflik

Dampak perjalanan tidak terbatas pada daerah yang secara langsung terlibat dalam konflik. Dalam analisis baru-baru ini, Skift berpendapat bahwa salah satu risiko terbesar adalah “kontaminasi persepsi,”

Maksudnya di mana para pelancong memperlakukan wilayah geografis yang luas sebagai wilayah yang tidak stabil meskipun gangguan terkonsentrasi di area yang lebih kecil.

Hal itu penting karena para pelancong jarak jauh seringkali tidak membedakan secara cermat antara pasar-pasar di Timur Tengah ketika membuat keputusan tujuan.

Konflik yang melibatkan Iran mungkin tidak hanya memengaruhi negara-negara yang terpapar langsung, tetapi juga tujuan-tujuan di tempat lain di kawasan tersebut yang bergantung pada kepercayaan transit, stabilitas maskapai penerbangan, dan persepsi keamanan.

Pemulihan Kemungkinan Tidak Merata

Tidak semua tujuan akan terpengaruh secara sama. Pasar dengan branding global yang lebih kuat, pasar sumber yang beragam, dan konektivitas udara yang mapan mungkin pulih lebih cepat daripada tujuan wisata yang lebih kecil atau lebih rapuh.

Skift mencatat bahwa tujuan seperti Dubai dan Abu Dhabi mungkin lebih siap untuk pulih karena profil internasional mereka yang lebih kuat, infrastruktur yang lebih tangguh, dan peran yang lebih luas sebagai pusat transit global.

Sebaliknya, tujuan dengan akses udara yang lebih lemah atau pengakuan merek yang lebih sempit mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk memulihkan kepercayaan wisatawan.

Hotel dan Badan Pariwisata Mungkin Perlu Melakukan Reposisi dengan Cepat

Bagi industri perhotelan, masalahnya melampaui jadwal penerbangan. Perubahan ketersediaan penerbangan, sentimen wisatawan, dan keandalan transit dapat dengan cepat memengaruhi permintaan hotel, jendela pemesanan, lama menginap, dan perilaku perjalanan kelompok.

Hotel di kota-kota gerbang, destinasi resor, dan pasar transit utama mungkin akan mengalami pergeseran dalam komposisi internasional karena beberapa pasar sumber ragu-ragu, mengubah rute, atau menunda perjalanan regional.

Badan pariwisata juga mungkin menghadapi tekanan untuk berkomunikasi lebih aktif tentang keselamatan, aksesibilitas, dan keberlanjutan operasi.

Di beberapa pasar, permintaan domestik dan regional dapat membantu mengimbangi kedatangan jarak jauh yang lebih lemah.

Tetapi destinasi yang sangat bergantung pada penerbangan internasional mungkin menghadapi siklus pemulihan yang lebih panjang jika konflik tersebut meninggalkan jejak yang bertahan lama pada perencanaan rute dan persepsi wisatawan.

Risiko Bahan Bakar dan Penerbangan Menambah Lapisan Lain

Konflik ini juga berkontribusi pada risiko penerbangan yang lebih luas melalui kekhawatiran pasokan bahan bakar. Reuters melaporkan bahwa kekurangan bahan bakar yang terkait dengan situasi regional dapat memengaruhi operasi penerbangan di luar Timur Tengah itu sendiri.

Ini menggarisbawahi bagaimana guncangan geopolitik dapat bergerak melalui sistem penerbangan dalam berbagai cara.

Hal itu menimbulkan kemungkinan bahwa dampak jangka panjangnya tidak hanya terbatas pada citra destinasi. Dampaknya juga dapat meluas ke ekonomi maskapai penerbangan, perencanaan rute, dan ketahanan jaringan, yang memengaruhi pola perjalanan di masa depan di berbagai wilayah.

Prospek

Perang yang melibatkan Iran pada akhirnya mungkin terbukti lebih dari sekadar gangguan perjalanan sementara. Perang tersebut dapat membentuk kembali cara maskapai penerbangan mengerahkan kapasitas.

Begitu pula bagaimana wisatawan memandang risiko regional, dan bagaimana destinasi bersaing untuk pemulihan di bulan-bulan mendatang.

Bagi pemilik hotel, pejabat pariwisata, dan operator perjalanan, pertanyaan kuncinya bukan lagi hanya kapan operasi normal kembali. Pertanyaannya adalah apakah permintaan perjalanan kembali ke pola yang sama seperti sebelumnya. Di Timur Tengah, jawabannya mungkin semakin…