JAKARTA, bisniswisata.co.id: – Seiring dengan evolusi lanskap pariwisata global, Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai destinasi utama bagi wisatawan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan.
Dilansir dari CrescentRating, dalam forum tingkat tinggi yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata, para pemimpin industri berkumpul untuk membahas tema: “Memperkuat Kolaborasi Industri dalam Pengembangan Pariwisata Ramah Muslim.”
Forum tersebut menyoroti bahwa pariwisata ramah Muslim bukan lagi pasar khusus, tetapi merupakan landasan strategi pariwisata nasional Indonesia, yang berfokus pada keunggulan layanan daripada pembatasan agama.
Tolok Ukur Global: Wawasan dari CrescentRating
Tawfiq Ikhtianto, Kepala Riset dan Pengembangan Kapasitas di CrescentRating, memberikan peta jalan berbasis data untuk pertumbuhan Indonesia di masa depan.
Keahliannya menjelaskan bagaimana keberhasilan Indonesia menduduki peringkat teratas Global Muslim Travel Index (GMTI) merupakan bukti dari infrastruktur yang ada, tetapi mempertahankan keunggulan tersebut membutuhkan inovasi yang berkelanjutan. Ia menekankan beberapa pilar penting:
Faktor “Generasi Z”: Terjadi peningkatan Generasi Z—wisatawan Muslim muda, melek teknologi, dan kaya. Demografi ini mencari pengalaman otentik dan layak diunggah di Instagram yang tidak memaksa mereka untuk mengkompromikan kebutuhan berbasis keyakinan mereka, seperti ruang sholat yang mudah diakses dan pilihan kuliner bersertifikat Halal.
Ekosistem Digital: Di era informasi instan, visibilitas adalah segalanya. Jika sebuah hotel atau objek wisata “ramah Muslim” tetapi tidak dapat dicari secara online dengan metadata yang jelas, maka secara efektif tidak ada bagi wisatawan internasional.
Di Luar Kamar Hotel: Ikhtianto berpendapat bahwa ekosistem Halal harus mulus. Perjalanan wisatawan dimulai di bandara dan berlanjut melalui transportasi dan tur lokal. Kolaborasi di seluruh sektor ini sangat penting untuk menciptakan pengalaman tanpa hambatan.
Dari Pembicaraan ke Tindakan
Forum ini juga berfungsi sebagai seruan untuk bertindak bagi dewan pariwisata regional. Dalam diskusi tersebut, Wakil Menteri Perindustrian dan Investasi di Kementerian Pariwisata, mendesak para pemangku kepentingan lokal untuk melampaui diskusi konseptual dan mulai menerapkan paket wisata konkret.
“Mari kita berhenti hanya berbicara. Mari kita ciptakan 10 perjalanan unik di daerah seperti Jawa Tengah yang menyoroti sejarah budaya dan Islam kita yang unik,” kata Deputi Handayani, seraya mencatat bahwa bahkan daerah yang mayoritas penduduknya bukan Muslim pun memiliki potensi besar jika dikemas dengan benar.
Paket Pariwisata Inovatif
Para pembicara juga menyoroti potensi Pariwisata Berbasis Acara. Ide ini didasarkan pada kalender keagamaan unik Indonesia, seperti 1 Muharram (Suro) di Jawa atau suasana Ramadan yang unik yang dapat dipasarkan sebagai pengalaman perjalanan premium bagi wisatawan internasional dari Turki, Timur Tengah, dan sekitarnya.
Mengakses Peta Jalan
Untuk mendukung inisiatif ini, Kementerian telah meluncurkan portal khusus untuk pelaku industri. Informasi detail tentang atraksi Islami, acara, dan standar “Ramah Muslim” kini tersedia di www.indonesia.travel.
Saat forum berakhir, pesannya jelas: Melalui kolaborasi antara pemerintah, badan sertifikasi seperti Badan Penyelenggara Penjaminan Produk Halal (BPJPH), dan pakar riset seperti CrescentRating, Indonesia siap memimpin pasar pariwisata Muslim global senilai lebih dari 200 miliar dolar AS.









