TOKYO, Bisniswisata.co.id: Maskapai penerbangan asal Jepang merajai daftar ketepatan waktu yang belum lama ini dirilis oleh Official Airline Guide (OAG). Dari daftar tersebut, maskapai penerbangan Japan Airlines menempati peringkat teratas, dengan kinerja ketepatan waktu sebesar 85,27 persen.
Sementara itu, maskapai penerbangan All Nippon Airways menempati posisi ke-dua dengan kinerja ketepatan waktu sebesar 83,81 persen.
Tak hanya maskapai penerbangannya, Jepang juga merajai daftar ketepatan waktu kategori bandara.
Bandara Internasional Haneda menempati peringkat teratas dengan kinerja ketepatan waktu penerbangan sebesar 88,45 persen. Dalam kategori bandara besar di dunia, Bandara Internasional Osaka menempati peringkat teratas dengan kinerja ketepatan waktu penerbangan sebesar 86,75 persen.
Masih dalam daftar yang sama, OAG juga mendata rute penerbangan tersibuk di dunia sepanjang tahun 2017. Rute penerbangan Hongkong-Taipei, Kuala Lumpur-Singapura, Jakarta-Singapura, Jakarta-Malaysia, dan Hong Kong-Shanghai masuk dalam daftar lima teratas.
1. Japan Airlines
2. All Nippon Airways
3. Delta Air Lines
4. IndiGo
5. Alaska Airlines
6. SAS
7. United Airlines
8. LATAM Airlines Group
9. American Airlines
10. Southwest dan British Airways (dengan persentase yang sama)
Marta Uli Emilia, CEO PT Shali Riau Lestari ( ketiga dari kiri) bersama poktan binaan untuk kembangkan desa wisata.
KOTA BARU, Riau, bisniswisata.co.id: Aktivitas Kelompok Tani Mandiri Gunung Jati ( MGJ) di Desa Kota Baru, Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar, Riau, berpotensi menjadi desa wisata sentra lada, kata Marta Uli Emilia, CEO PT Shali Riau Lestari.
“Kelompok Tani ( Poktan) ini sejak 2 tahun terakhir merintis budi daya lada dengan sistem stek sulur panjat ( bolor) dan stek lada perdu. Selama ini banyak organisasi dan institutisi pendidikan yang berkunjung jadi saatnya Poktan membuat paket-paket wisata untuk melayani tamu-tamu,” ungkap Martha.
Takroni Ranca S. Pd, penyuluh kehutanan Swadaya Masyarakat ( PKSM) yang juga Ketua Kelompok Tani Mandiri Gunung Jati ( MGJ) ini menjelaskan bersama 25 orang anggotanya telah melakukan budidaya lada atau merica yang tidak membutuhkan lahan luas, bahkan dengan lahan sempit pun bisa diterapkan yaitu dengan cara tumpang sari atau menggunakan polybag.
Himbauan Marta Uli Emilia, CEO PT Shali Riau Lestari untuk menjadikan Desa Kota Baru, Kecamatan Tapung Hilir , Kabupaten Kampar, Riau sebagai desa wisata disambut positif oleh Takroni Ranca dan para anggotanya di seketariat Poktan MGJ, pekan lalu.
“ Kami siap mendapatkan bimbingan untuk menjadi desa wisata karena secara informal desa kami ini sudah dikunjungi murid-murid sekolah swasta dari ibukota Pekanbaru, kunjungan dinas pejabat dari berbagai instansi maupun dari sejumlah organisasi masyarakat,”
Marta Uli Emilia dalam penjelasannya mengatakan produk ekonomi hijau Provinsi Riau bukan hanya kelapa sawit tetapi juga agroforestry lada yang dapat meningkatkan penghasilan masyarakat setempat.
Takroni Ranca ( kiri) bersama tamu dari PT Shali Riau Lestari dan anggota Poktan MGJ
Kepeduliannya pada Poktan Mandiri Gunung Jati ini karena Takroni dan kawan-kawan selain bisa mengembangkan tanaman lada juga tumbuhan lainnya seperti budi daya coklat, buah naga dan tanaman lainnya yang punya nilai ekonomi tinggi sehingga setiap hari banyak mendapat kunjungan dari berbagai organisasi masyarakat.
“Di Pulau Jawa banyak desa yang kini bisa berkembang menjadi desa wisata oleh karena itu kunjungan anak-anak sekolah maupun masyarakat untuk belajar menanam lada seharusnya bisa menambah penghasilan warga desa dengan membuat paket belajar plus makan siang dan pulangnya anak-anak membawa bibit lada?” ungkap Marta.
Apalagi disamping menjadi konsultan lada antar provinsi, Takroni juga melayani pengadaan bibit lada tingkat provinsi dan kabupaten dengan ketentuan pemesanan minimal 1000 bibit. Ribuan bibit lada juga telah disebarkannya pada 25 desa dengan bantuan dari KPHP Tahura Mina sebagai pembina kelompok taninya.
“Sudah saatnya Desa Kota Baru menjadi pilot project desa wisata Agroforestry di Provinsi Riau sehingga instansi terkait juga dapat melakukan pembinaan dan dukungan infrastruktur jalan yang bagus apalagi Takroni dan kawan-kawan juga melakukan budidaya ikan seperti baung dan lainnya,” kata Marta
Dua tahun terakhir kegiatan Corporate Social Responsibility ( CSR) perusahaannya memang di fokuskan pada pengembangan kelompok tani MGJ ini dan pihaknya berharap bisa segera ada homestay mengingat untuk seluruh provinsi di Sumatra ini, Desa Kota Baru inilah yang mengembangkan agroforestry lada sistem stek sulur panjat ( bolor) dan stek lada perdu.
Takroni mengatakan pihaknya siap membina anggota dan masyarakat desanya untuk menjadi sentra training budidaya lada karena perawatan tanaman tidaklah rumit, dengan lahan sempitpun bisa bahkan lahan berpasir sekalipun.
Sementara harga lada juga cendrung meningkat per kilogram bisa mencapai 120 ribu, harga lada cendrung naik pertahunnya, menjelang Lebaran dan Natal bisa mencapai 170 ribu per kilogramnya.
Bimbingan langsung Marta Uli Emilia sebagai pribadi maupun sebagai CEO PT Shali Riau Lestari yang tidak segan -segan mendatangkan nara sumber profesional dibidangnya untuk membuka wawasan petani bukan hanya soal lada juga sangat dihargainya.
“Bersama anggota kami juga menanam buah-buahan, sayuran hingga budi daya coklat dan buah naga sehingga hasilnya kami harapkan nantinya bisa memasok industri perhotelan di Riau maupun provinsi lainnya,” kata Takroni optimistis.
TANGERANG, bisniswisata.co.id,- PRESIDEN RI, Joko Widodo didampingi Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, Menteri BUMN; bersama dengan Direktur Jenderal Perkeretaapian, Zulfikri; Direksi PT. KAI (Persero), Direksi PT. Angkasa Pura II, Direksi PT. Railink, meresmikan pengoperasian KA Bandara Soekarno–Hatta.
Peresmian pengoperasian KA Bandara Soekarno– Hatta dimaksudkan untuk penyediaan transportasi antar moda yang nyaman, aman dari dan menuju bandara. Dalam kesempatan tersebut Presiden menegaskan, konsep makro pembangunan kereta bandara Soekarno Hatta adalah terintegrasi semuanya. Ada busway, kereta ringan atau light rail transit (LRT), kereta cepat massal atau mass rapid transit (MRT), kereta bandara, ke depannya juga ada kereta cepat.
“Semuanya memang di dalam desainnya terintegrasi. Kalau sudah selesai. Ya ini kan satu-satu diselesaikan. Kereta bandara dulu rampung, nanti LRT 2019 selesai, MRT yang dari selatan ke utara rampung, ” kata Presiden Jokowi kepada wartawan usai mencoba menggunakan jasa kereta bandar Udara Soekarno-Hatta, di Stasiun Sudirman Baru, Jakarta, Selasa (2/1) siang.
Kepala Negara menegaskan, bahwa transportasi massal, transportasi umum yang nyaman, aman, tepat waktu memang harus untuk Jadebotabek, karena kemacetan setiap tahun menghabiskan anggaran Rp67 triliun.
Mengenai kereta bandara Soekarno Hatta sendiri, Presiden Jokowi menilai keretanya bagus, nyaman, yang paling penting tepat waktu, 55 menit sampai. Soal pembayaran non-tunai, Presiden mengingatkan, harus dimulai baik menggunakan kartu kredit, atau e-money. Hal tarif sebesar Rp70.000 sekali jalan, diharapkan angka Rp70.000 itu bisa dipertahankan.
“Untuk non tunai, perlu counter untuk pembeli pre paid-nya. Hal tarif masih dihitung semuanya karena kita ini kan bukan hanya urusan membangun kereta ke bandara, juga ingin mengalihkan mobil-mobil pribadi supaya mau menggunakan transportasi massal kita. Bisa saja nanti subsidi dari pemerintah Provinsi DKI, kenapa tidak,” tukas Presiden Jokowi
Uji Coba dan Sertifikasi
Selama persiapan peresmian pengoperasian tersebut, Menteri Perhubungan menginstruksikan kepada seluruh pihak terkait terutama Direktorat Jenderal Perkeretaapian untuk secara intensif melakukan peninjauan dan uji coba di lapangan. Sebelumnya telah dilakukan pengujian dan sertifikasi terhadap sarana, prasarana berikut fasilitas operasinya dan kesiapan SDM. Pada awal Desember 2017, sarana KA Bandara Soekarno– Hatta telah dijalankan secara ujicoba tanpa membawa penumpang. Kemudian pada tanggal 24-25 Desember 2017, sarana KA Bandara Soekarno-Hatta telah dijalankan penuh sebanyak 42 KA per hari, sebagai ujicoba final dengan fokus terhadap penyesuaian jadwal perjalanan serta ketepatan waktu. Selanjutnya, pada tanggal 27 Desember 2017, telah dilakukan soft launching KA Bandara Soekarno-Hatta dengan tarif promo Rp. 30.000,- per penumpang.
KA Bandara Soekarno-Hatta melalui rute sejauh 37,6 Km yang ditempuh dalam waktu 55 (lima puluh lima) menit. Jalur KA sepanjang 25,3 Km merupakan jalur KA eksisting dari stasiun Manggarai sampai stasiun Batu Ceper, sedangkan 12,3 Km jalur KA dari stasiun Batu Ceper ke stasiun Bandara Soekarno – Hatta merupakan jalur KA baru. Nilai investasi untuk penyelenggaraan perkeretaapian KA Bandara Soekarno Hatta sebesar Rp. 3,6 Triliun yang dibiayai oleh tiga perusahaan yakni, PT. Railink, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT. Angkasa Pura II (Persero).
Guna mendukung pengoperasian KA Bandara Soekarno – Hatta, telah dilakukan berbagai pekerjaan seperti pembangunan jalan rel dan jembatan, pekerjaan persinyalan dan telekomunikasi, pembangunan gardu listrik aliran atas, pembangunan stasiun Sudirman Baru dan stasiun Bandara Soekarno – Hatta. Stasiun-stasiun tersebut dilengkapi fasilitas ramah disabilitas seperti seperti ramp, guiding block, lift, dan eskalator. Dilengkapi vending machine,tapping gate, commercial area, toilet, dan mushala. Khusus di stasiun Bandara Soekarno-Hatta juga dilengkapi public hall dan waiting lounge.
Pada tahap awal pengoperasian, KA Bandara Soekarno-Hatta melayani penumpang dari stasiun Sudirman Baru, stasiun Duri, stasiun Batu Ceper, dan stasiun Bandara Soekarno-Hatta. Setiap harinya disiapkan 42 (empat puluh dua) perjalanan KA dengan headway 60 (enam puluh) menit. Jadwal keberangkatan dari Stasiun Sudirman Baru mulai pukul 03.51 WIB dan keberangkatan akhir pukul 21.51 WIB. Jadwal keberangkatan daristasiun Bandara Soekarno-Hatta mulai pukul 06.10 WIB dan berakhir pukul 23.10 WIB.
Untuk mengangkut penumpang dari dan ke Bandara Soekarno-Hatta, pada awal pengoperasian disiapkan 3 trainset kereta. Setiap trainset terdiri dari 6 kereta dengan 272 kursi pada setiap rangkaian, sehingga dalam sehari dapat diangkut ± 11.000 penumpang. Di setiap kereta juga dilengkapi priority seat bagi penyandang disabilitas, pendingin udara, layar TV LED untuk hiburan dan memberikan informasi posisi kereta. Dilengkapi bagasi khusus untuk menempatkan barang bawaan penumpang, di bangku penumpang juga terdapat pengisi daya ponsel (charging port); serta toilet terpisah antara pria dan wanita. Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, para pengguna jasa KA Bandara dapat dengan mudah melanjutkan perjalanan menuju Terminal 1, 2 dan 3 karena KA Bandara Soekarno-Hatta terkoneksi dengan Automated People Mover System (APMS) atau skytrain.
Keseluruhan prasarana, sarana dan SDM KA Bandara telah menjalani pengujian kelaikan operasi oleh Kementerian Perhubungan guna menjamin kelancaran dan keselamatan operasi KA Bandara Soekarno – Hatta. Untuk dua bulan pertama, berlaku tarif promo KA Bandara sebesar RP 70.000,-. Selanjutnya berlaku tarif normal KA Bandara yang ditetapkan operator sebesar Rp 100.000,-. Menteri Perhubungan menghimbau agar tarif KA Bandara dapat dijangkau oleh masyarakat sehingga memperbesar kesempatan masyarakat untuk memanfaatkan moda transportasi ini.
Dengan adanya kereta bandara, masyarakat Jakarta dan sekitarnya juga semakin mudah mengakses transportasi publik menuju bandara, dalam perencanaan di stasiun Sudirman Baru tersedia fasilitas pejalan kaki yang menghubungkan stasiun Sudirman Baru ke stasiun Sudirman. Stasiun Sudirman Baru berfungsi sebagai area interchange (integrasi moda transportasi publik) yang menghubungkan masyarakat dengan keseluruhan kawasan Dukuh Atas mencakup Stasiun Sudirman (KRL), bus Transjakarta, MRT dan LRT.
Pembangunan jalur KA menuju Bandara Soekarno Hatta merupakan upaya nyata Kementerian Perhubungan untuk melayani pengguna transportasi publik agar tercapai efisiensi pergerakan, biaya dan waktu. Beroperasinya KA Bandara Soekarno Hatta menjadi wujud realisasi salah satu Proyek Strategis Nasional. *Dwi/*
TANJUNG LESUNG, bisniswisata.co.id: Kluster Casamora di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan menjadi tempat start perjalanan di hari Minggu terakhir tahun 2017. Kami berkumpul di rumah Agusman Effendi, ‘komandan’ komunitas Rais Family yang akan melewatkan pergantian waktu di Villa Kalicaa, Tanjung Lesung Resort.
Sebelum berangkat, rombongan kecil kami sempat berfoto ria. Jam 5.30 pagi ketika matahari mulai muncul mobil bergerak menuju tol JOR Barat dan sempat berhenti di rest area sebelum pintu keluar Serang Timur.
Setelah empat jam perjalanan dan dua keluarga bergabung di pintu keluar gerbang tol Serang Timur kecerian Rais Family menjadi lengkap dengan kehadiran dua cucu yaitu Farabi dan Sakha.
Kami menginap di Kalicaa Resort yang dikelola oleh Jababeka. Villanya bernama Blue Whale Santuary ( BWS). Di area ini villa-villa milik perorangan di dalam kompleks dan dikelola oleh Tanjung Lesung Resort.
Tempat ini menjadi pilihan keluarga besar karena letaknya 180 km dari ibukota Jakarta dan menjadi surga tersembunyi di wilayah Barat yang tidak kalah dengan keindahan pantai di Bali. Tanjung Lesung ini terletak di Desa Panimbangjaya,Pandeglang, Banten. Selain itu magnet yang membuat rombongan keluarga ini datang karena kawasan Tanjung Lesung kini telah dinobatkan sebagai “ Bali Baru” dan menjadi satu dari 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) oleh Kementerian Pariwisata Berlokasi di ujung paling barat Pulau Jawa, yaitu Kabupaten Pandeglang, Banten, KEK Tanjung Lesung merupakan KEK Pariwisata pertama dan telah diresmikan beroperasi pada Februari 2015
Letaknya cukup strategis dan akses yang mudah dijangkau dengan potensi pariwisata yang beragam, antara lain keindahan alam pantai, keragaman flora dan fauna serta kekayaan budaya yang eksotis.
Lokasinya dekat dengan atraksi wisata Banten lainnya seperti Kawasan Tua Banten, Budaya Badui dan Debus, Taman Nasional Ujung Kulon, Gunung Krakatau serta wisata kepulauan. Tanjung Lesung berasal dari kata “lesung” yaitu alat penumbuk padi tradisional, Tanjung Lesung memiliki bentuk dataran pantai wilayah yang menjorok ke laut dan mirip lesung. Dengan pantai pasir putih serta laut yang jernih, KEK Tanjung Lesung telah menarik baik wisatawan nasional maupun internasional.
Selama tahun 2016 tercatat jumlah kunjungan wisatawan sejumlah 570.000 orang dan ditargetkan meningkat hingga 6,1 juta wisatawan saat beroperasi penuh pada 2020.
Progress percepatan pengembangan destinasi wisata ‘Bali Baru’ ini makin menggeliat dan yang menjadi fokus prioritas, adalah 3A yaitu Akses, Atraksi dan Amenitas. Untuk akses selain tol juga akan ada program re-aktivasi kereta api, yang sudah lama mangkrak dan bakal dihidupkan lagi untuk jalur Rangkasbitung-Pandeglang-Saketi-Labuhan. Soal atraksi, Pemprov Banten dan PT Banten West Java Tourism Development Corporation ( PT BWJ) memiliki event tahunan Festival Pesona Bahari Tanjung Lesung dimana selama festival pada tahun lalu Festival itu meliputi Photography juga ada festival Kuliner, Handicraft & Souvenir, Business Forum dan lainnya. Sedangkan dari aspek amenitas, nantinya fasilitas tambahannya adalah Air strip, Kampung Sawah Cottage, Ladda Bay Village, Kalicaa Villa, Mongolian Culture Centre, Residence dan rencana pembangunan 10.000 Homestay di Kawasan KEK Tanjung Lesung. Dukungan lainnya adalah realisasi program Infrastruktur Pemukiman Pendukung Pariwisata. Terutama untuk Kampung Wisata Cikadu, Desa Tanjung Jaya (Kelompok Batik). Villa Kalicaa
Foto di pantai dan diatap villa
Jam baru menunjukkan pukul 9.30 pagi ketika rombongan memasuki pintu masuk kawasan Tanjung Lesung Resort. Untuk mencapai villa Kalicaa yang bernama Blue Whale Santuary ( BWS) jarak dari gerbang menuju tempat kami menginap cukup jauh, sekitar 2,5 kilometer. Tidak ada kendaraan umum yang bisa mengantarkan kami keluar masuk kawasan tersebut. Sehingga mobil-mobil pribadi dari para tamu dan motor karyawan yang nampak lalu lalang.
Karena datang lebih awal rombongan diarahkan menuju restoran di pinggir pantai. Ada playground dan sejumlah permainan anak-anak serta ayunan yang langsung menjadi tempat bermain para cucu dan keponakan.
Empat jam perjalanan membuat kami semua bergegas ke pantai menikmati desiran angin ditemani minuman kelapa muda, jus, kopi dan cemilan lainnya sambil menunggu check-in di BWS, Tanjung Lesung Resort.
Jam belum menunjukkan jam 12 siang tapi para karyawan di hotel itu sudah mengarahkan kami ke villa BWS. Unik juga bangunan properti ini mirip huruf V dan dibagian depan langsung ada kolam renang.
Di atas kolam renang adalah lobby villa menyatu dengan ruang makan, sofa-sofa untuk santai dan dapur bersih.Sambil duduk mengobrol, kita bisa mengawasi anak-anak yang langsung berenang tanpa bisa dirayu lagi untuk menunggu waktu sore saat sinar matahari mulai meredup. Tiba di villa welcome drink sudah disiapkan berupa buah kelapa muda.
Ketua rombongan, Al Fatih belum lagi selesai membagi-bagikan kamar dari 6 keluarga Rais yang hadir berwisata bersama, namun sebagian peserta sudah nyebur di kolam renang dan melepaskan penat dengan berenang santai.
Sementara yang lain berenang, saya dan ipar-ipar mulai menyiapkan makanan matang yang sudah kami bawa dari Jakarta sehingga makan siang dapat segera dihidangkan.
Di villa BWS ini ada Anah dan saudaranya yang siap di dapur untuk membantu tamu villa. Terdiri dari enam kamar, empat kamar berada di sisi-sisi kolam dan dua lagi berada di lantai atas berupa kamar besar yang bisa diisi hingga 10 orang.
Praktis setelah makan, sholat zhuhur dan berenang, suasana villa seketika menjadi sepi karena masing-masing keluarga istirahat di kamarnya masing-masing. Maklum bangun paginya sebelum pukul 4.00 dan melewati perjalanan panjang untuk tiba di Tanjung Lesung. Kamar yang saya tempati cukup luas dan bisa diisi 5 orang. Kamar mandinya juga dilengkapi shower namun sayang tidak tersedia air panas.
Letak kamar persis berhadapan dengan kolam renang sehingga saat suasana sepi dan kolam kosong saya mondar-mandir berenang dengan leluasa
Salah seorang keponakan, Nafisha, kelas V SD yang ikut klub renang di Lampung bergabung dengan saya di kolam. Kami berdua berlomba, Namun Nafisha yang akrab dipanggil neng ini tak terkalahkan dan sudah pantas menjadi atlit renang.
Sementara kami puas berenang, tamu-tamu dari villa – vila Kalicaa lainnya melintas di depan villa. Penasaran dengan kolam dan villa kami yang terbesar dari villa yang ada. Mereka berombongan dan berjalan santai ke tepi pantai di seberang. Jarak vila ke tepi pantai hanya dibatasi jalan dan padang rumput yang hijau sehingga dari kamar bisa melihat ombak lautan dari kejauhan sekaligus rumput hijau yang luas.
Malam Tahun Baru
Usai magrib, semua berkumpul di lobby villa sambil memantau laporan berita di televisi jelang pergantian tahun di berbagai kota. Hidangan kambing guling sudah disiapkan pengurus villa tepat di halaman depan kamar saya.
Menikmati kambing guling dan ikan bakar
Aroma kambing guling memang menggoda. Wak Agusman berinisiatif membeli cumi dan ikan-ikan segar sehingga bisa menjadi alternatif menu bagi yang sudah harus membatasi diri dengan makan daging kambing.
Barbeque di halaman bersama keluarga besar menjadi momen berharga. Apalagi pertemuan seperti ini dengan anggota keluarga yang lengkap minimal hanya dua kali dalam setahun yaitu saat libur Lebaran dan libur akhir tahun seperti sekarang ini.
Kehebohan dan keseruan menunggu daging kambing matang dan banyolan-banyolan diantara pada keponakan yang rara-rata sudah menjadi mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Jakarta, Lampung dan Bandung tambah mengikat tali persaudaraan.
Puncak pergantian tahun didominasi bunyi petasan yang menggelegar hampir satu jam lamanya. Pesta kembang api dan petasan seakan tidak ada habisnya karena penghuni villa lainnya juga menyalakan petasan dan kembang api.
Mentari awal 2018 bersinar terang. Udara cerah ketika keluar dari kamar dan ramai-ramai kami bemain ke pantai. Meski sebagian besar semalam bergadang tapi dua cucu sudah asyik bermain pasir di pantai.
Pagi hari ini saya sempat mencicipi bermain air di pinggir pantai sebelum diajak Effin Agusman jalan kaki menyusuri sepanjang pantai. Langkah saya jauh tertinggal dari tante saya itu tapi akhirnya kami jumpa di Beach Club, Tanjung Lesung Resort yang pagi-pagi sudah dipadati pengunjung. Tempat yang menjadi lokasi wajib foto selfie di Tanjung Lesung ini adalah di ayunan yang berada di air dan instagramable banget. Ada juga beberapa permainan air yang bisa dijajal, mulai dari banana boat, jetski dan kayak.
Tanjung Lesung Beach Club merupakan pantai yang paling ramai dikunjungi di Tanjung Lesung. Aktivitas watersport di sini memang lumayan lengkap, dan dibandingkan dengan pantai di depan area villa yang dipenuhi karang, pantai di Tanjung Lesung Beach Club lah yang bisa dijadikan tempat berenang.
Terdapat sebuah jetty yang sering dijadikan area foto untuk pre-wedding. Banyak pengunjung berkumpul di tempat ini untuk foto selfie di sini. Untuk selfie banyak spot untuk seperti di depan tulisan besar Beach Club, foto dengan patung badak dan di depan tenda perkemahan yang warna warni.
Menghadap pantai juga ada Restoran Nelayan yang menyediakan seafood segar. Restonya cukup luas sekaligus untuk menampung tamu umum maupun tamu penyewa tenda di camping hround yang bisa menyewa untuk beberapa malam.
Kelebihan menginap di tenda adalah menikmati pemandangan alam saat matahari mulai muncul maupun akan tenggelam ( sunrise dan sunset) dan berenang karena hanya disini pantainya tidak berkarang.
Puas berfoto ria, saya dan Effin kembali ke villa menyusuri pinggir pantai lagi. Tubuh yang berkeringat dan rencana naik kapal ke pulau Liwungan membuat saya langsung berbelok ke arah villa sementara Effin masih semangat meneruskan joggingnya.
Puas menghirup udara pagi mengawali 2018 di pantai. Saya bersyukur atas kebersamaan selama tiga hari dua malam yang dilalui bersama. Silaturahim dan ikatan persaudaraan semoga bisa diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya.