Khánh Hòa Promosikan Produk Wisata Baru

this formate

Provinsi Khánh Hòa berencana membangun produk wisata baru untuk menarik wisatawan domestik dan internasional. Wisata budaya Menara Po Klong Garai di Bukit Trâu di Distrik Đô Vinh diperkirakan akan menjadi salah satu objek wisata di Provinsi Khánh Hòa. (Foto VNA/VNS oleh Nhật Anh)

KHÁNH HÒA, Vietnam, bisniswisata.co.id: Provinsi Khánh Hòa berencana membangun produk wisata baru untuk menarik wisatawan domestik dan internasional.

Dilansir dari VNS, Setelah bergabung dengan Provinsi Ninh Thuận, Khánh Hòa menjadi rumah bagi beberapa situs warisan unik masyarakat Chăm, yang menyoroti potensi provinsi baru ini dalam pariwisata berbasis budaya dan komunitas.

Cung Quỳnh Anh, Wakil Direktur Dinas Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi, mengatakan bahwa penggabungan Provinsi Khánh Hòa dan Ninh Thuận merupakan prasyarat untuk membentuk keterkaitan regional dan sistem pariwisata guna mengoptimalkan sumber daya, menarik kedatangan wisatawan mancanegara, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Anh mengatakan bahwa provinsi tersebut telah merestrukturisasi sistem pengelolaan, promosi, dan pengembangan produk pariwisata dengan menargetkan peningkatan citra pariwisata Khánh Hòa, menjadikan provinsi tersebut sebagai destinasi yang dinamis, dan menawarkan pengalaman unik bagi pengunjung.

Provinsi ini akan meluncurkan produk-produk yang berfokus pada budaya Chăm, seperti tur untuk menjelajahi Menara Po Klong Garai, Kuil Ponagar, dan Desa Tembikar Bàu Trúc.

Menara Po Klong Garai di Bukit Trâu di Distrik Đô Vinh dikaitkan dengan sejarah pembentukan dan perkembangan Panduranga – wilayah paling selatan dari kerajaan Chăm Pa kuno.

Menara ini dibangun pada akhir abad ke-13 dan awal abad ke-14 untuk memuja Raja Po Klong Garai, yang memimpin masyarakat Chăm dalam melawan penjajah asing dan membangun parit serta bendungan untuk mengembangkan persawahan. Menara ini diakui sebagai Situs Warisan Nasional Khusus pada tahun 2016.

Sementara itu, Kuil Ponagar di Bukit Cù Lao di Distrik Nha Trang Utara dibangun pada pertengahan abad ke-8 di atas lahan seluas 57.000 m² untuk memuja Ratu Po Ina Nagar, dewi pencipta menurut kepercayaan masyarakat Chăm. Kuil ini diakui sebagai Situs Warisan Nasional Khusus pada bulan Januari 2025.

Bàu Trúc di Distrik Đông Ninh Hòa merupakan salah satu desa tembikar Chăm tertua dan terunik di negara ini. Desa ini dikenal karena metode produksinya yang sepenuhnya buatan tangan selama ratusan tahun.

Phạm Minh Nhựt, Ketua Asosiasi Pariwisata Nha Trang – Khánh Hòa, mengatakan perlunya penyesuaian rencana pengembangan pariwisata provinsi dengan menciptakan produk wisata baru dan menyediakan beragam rencana perjalanan bagi wisatawan.

Selain wisata warisan budaya, provinsi ini berencana membangun wisata baru untuk menikmati pantai-pantai indahnya seperti Nha Trang, Bãi Dài, Vĩnh Hy, Bình Tiên, dan Ninh Chữ, serta menjelajahi kuliner lokal, terutama hidangan laut segar.

Selain itu, wisata pertanian akan terus dikembangkan agar wisatawan dapat mengunjungi kebun buah-buahan seperti kebun jeruk Cam Lan dan kebun anggur Phan Rang, serta belajar membuat makanan khas setempat.

Provinsi ini akan mempromosikan ekowisata dan wisata petualangan di Taman Nasional Gunung Chúa – Cagar Biosfer Dunia UNESCO, dan Bukit Pasir Mũi Dinh.

Provinsi ini juga meningkatkan hubungan dan kerja sama dengan daerah-daerah di Delta Cửu Long dan Kota Ho Chi Minh untuk menciptakan wisata dan produk baru guna menarik lebih banyak wisatawan.

Trần Minh Đức, ketua Asosiasi Perjalanan Khánh Hòa, mengatakan bahwa Khánh Hòa tidak hanya memperluas hubungan di dalam provinsi, tetapi juga dengan daerah-daerah lain, misalnya, rute Nha Trang – Ninh Hải – Đà Lạt atau Nha Trang – Mũi Dinh – Mũi Ne untuk membantu wisatawan menjelajahi laut, hutan, dan dataran tinggi.

Ia menambahkan bahwa kerja sama antar agen perjalanan di provinsi ini dan daerah-daerah lain akan menciptakan produk-produk menarik untuk meningkatkan pengeluaran dan durasi menginap wisatawan.

Filipina Raih 3 Nominasi Utama di Wanderlust Reader Travel Awards

this formate

Departemen Pariwisata Filipina (DOT) hari ini menyatakan bahwa Filipina adalah salah satu kandidat teratas dalam kategori “Negara Paling Diinginkan” (di seluruh dunia) di Wanderlust Reader Travel Awards ke-24.

Menteri Pariwisata Christina Frasco
mendesak warga Filipina di seluruh dunia untuk memilih Filipina agar menang dan menerima penghargaan pada 5 November 2025 di London, Inggris. (Infografis milik DOT)

MANILA, bisniswisata.co.id: Filipina telah mendapatkan nominasi dalam tiga kategori bergengsi di Wanderlust Reader Travel Awards ke-24, menandai pengakuan yang signifikan bagi negara tersebut di panggung pariwisata global.

Dalam pengumuman publik pada hari Senin, DOT menyatakan bahwa Wanderlust, majalah perjalanan tertua di Inggris, yang berbasis di Inggris Raya, menominasikan Filipina untuk penghargaan “Negara Paling Diinginkan” (dunia).

Sementara itu, Cebu mendapatkan penghargaan dalam kategori “Wilayah Paling Diinginkan” (dunia) dan Palawan dalam kategori “Pulau Paling Diinginkan” (dunia).

Selain itu, Filipina berhak memenangkan beberapa subkategori, termasuk Budaya dan Warisan, Alam dan Margasatwa, Petualangan, Gastronomi, dan Keberlanjutan.

Menteri Pariwisata Christina Frasco menyampaikan rasa terima kasih atas nominasi tersebut, menyebutnya sebagai bukti keindahan alam, kekayaan budaya, dan keramahan masyarakatnya.

“Saya pribadi ingin sekali lagi mengajak sesama warga Filipina, serta teman-teman dari mancanegara, untuk menunjukkan kecintaan kepada Filipina dengan memilihnya dalam Wanderlust Reader Travel Awards ke-24 mendatang,” ujarnya.

Pemungutan suara dibuka untuk umum di wanderlusttravelawards.com hingga 27 Oktober 2025. Hasilnya akan diumumkan pada upacara penghargaan pada 5 November 2025, di Galeri Nasional di London, Inggris. (PNA)

Tak Hanya Penjaga Hutan, Orang Muda Papua Tuntut Hak di Forum Iklim Dunia

this formate

Anak-anak Papua tengah berperahu

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Saat hutan hujan kian hilang dan suhu bumi yang terus naik, ada suara-suara yang menolak menyerah. Mereka bukan menteri, bukan negosiator, bukan diplomat.

Mereka adalah orang muda, sebagian bahkan belum genap 25 tahun, yang memilih berdiri melawan diam, dan akan membawa suara dari tanah kelahiran mereka ke ruang paling strategis di dunia: Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa, COP30, di Brasil.

Salah satu dari mereka adalah Iqbal Kaplele, 25, pemuda adat dari Suku Sobey, Papua. Lahir di tengah kedamaian hutan wilayah adat Mamta, Iqbal tumbuh menyaksikan kehijauan yang perlahan memudar.

“Kita harus berhenti berpura-pura Bumi baik-baik saja. Kami, orang muda, adalah yang paling terdampak krisis iklim, tapi justru paling jarang diajak bicara,” kata Iqbal, yang kini menjadi aktivis lingkungan dari Papua Trada Sampah.

Pernyataan Iqbal bukan sekadar opini pribadi. Ini adalah kenyataan yang dihadapi jutaan orang muda di belahan dunia Selatan. Generasi muda adalah kelompok yang akan mewarisi dampak paling panjang dari krisis iklim, karena mereka menjalani masa depan yang dibentuk oleh keputusan-keputusan hari ini. Ironisnya, mereka masih sering dikecualikan dari proses pengambilan keputusan.

Di tengah dunia yang memanas, keterbatasan akses terhadap pendidikan, pekerjaan, informasi, serta tekanan mental akibat ketidakpastian masa depan, keterlibatan mereka dalam forum seperti COP30 adalah wujud hak yang harus diakui.

Bersama Vanessa Reba, 24, dari Gerakan Malamoi, yang juga aktif dalam pemberdayaan pemuda, dia bergabung dalam 23 pemuda Indonesia yang menyusun Deklarasi Pemuda Global untuk Keadilan Iklim melalui inisiatif organisasi Kolombia, Life of Pachamama.

Bersama ratusan orang muda dari berbagai negara, deklarasi ini akan disampaikan langsung dalam forum resmi COP30, yang akan digelar pada November 2025 di Belém, Brasil.

Deklarasi ini menegaskan bahwa orang muda tidak boleh diposisikan sekadar sebagai penerima kebijakan, melainkan sebagai aktor kunci dalam mengatasi krisis iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan mewujudkan keadilan lingkungan.

Vanessa mengungkapkan melalui deklarasi ini berharap bahwa suara orang muda, terutama dari kelompok yang terpinggirkan secara geografis dan struktural, dapat benar-benar diakui dan diberi ruang dalam pengambilan keputusan global.

           Iqbal dan Vanessa siap ke forum dunia

“Keterlibatan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan saya sebagai advokat muda adat yang berkomitmen membawa perubahan dari akar, membangun masa depan yang adil dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.” ujarnya

Tanah yang Luka

Vanessa dan Iqbal membawa cerita dari tanah yang tak hanya kaya sumber daya, tapi juga luka. Papua kini perlahan terkikis oleh ekspansi tambang dan perkebunan. Namun dari tanah yang tergerus, suara mereka justru tumbuh paling kuat.

“Sebagai orang asli Papua, saya selalu merasa memiliki ikatan kuat dengan akar budaya saya dan tanggung jawab besar untuk berkontribusi bagi komunitas saya,” ujar Vanessa yang berasal dari Suku Saireri. Ia juga terus berjejaring bersama orang muda di berbagai wilayah melalui berbagai macam organisasi di Indonesia.

Sementara Iqbal sebagai pemuda adat menyoroti masih terbatasnya ruang formal yang benar-benar memberikan tempat bagi suara orang muda dalam kebijakan iklim di Indonesia.

“Tantangan terbesar yang saya hadapi sebagai pemuda adat adalah sempitnya ruang partisipasi bagi orang muda dalam pengambilan keputusan iklim.

Meski ada mekanisme seperti Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) dan Forum Anak Indonesia, keduanya belum efektif dan perlu dievaluasi agar benar-benar melibatkan suara pemuda dalam kebijakan, termasuk iklim, ujarnya.

Ia juga percaya bahwa keterlibatannya dalam deklarasi global ini mempunyai makna besar bagi komunitas lokal dan wilayah adatnya.

“Terutama tanah Papua yang termasuk benteng terakhir pertahanan iklim dunia setelah rusaknya sebagian besar Hutan Amazon, dan sebagai benteng terakhir bagi Indonesia melawan laju krisis iklim global setelah rusaknya hutan Sumatera dan Kalimantan,” kata Iqbal.

Keterlibatan mereka dalam deklarasi ini dimulai dari program pelatihan pemuda oleh Life of Pachamama, yang mempertemukan orang muda dari seluruh dunia dalam diskusi soal demokratisasi ruang iklim.

Deklarasi ini disusun lebih dari 600 pemuda dari berbagai belahan dunia. Hal tersebut merupakan hasil dari 30 lebih sesi pelatihan dan dialog antar generasi yang mendalam, mengangkat isu keterlibatan pemuda, keadilan iklim, hak atas informasi, dan perlindungan pembela lingkungan.

Deklarasi tersebut memuat seruan moral dan agenda konkret dalam peta jalan pemuda menuju COP30 dengan lima agenda utama yang mereka bawa.

Agendanya memastikan partisipasi yang bermakna dalam kebijakan lingkungan, memperjuangkan desentralisasi berbasis wilayah, menuntut akuntabilitas korporasi atas kerusakan lingkungan, melindungi pembela lingkungan muda, serta mendorong keterbukaan informasi dan pembentukan observatorium pemuda.

Tiga Isu Besar

Direktur Eksekutif Life of Pachamama, Juan David Amaya, menegaskan bahwa deklarasi ini bukan sekadar simbol perlawanan, tetapi pernyataan strategis atas peran yang harus diemban oleh pemuda dari belahan dunia Selatan dalam membentuk tata kelola sosial-lingkungan dunia.

“Deklarasi ini adalah afirmasi politik dan strategis atas peran pemuda dari belahan dunia Selatan dalam membentuk arah tata kelola sosial-lingkungan global. Ini bukan sekadar simbolik, melainkan latihan kepemimpinan yang memiliki kapasitas dan legitimasi,” ujarnya.

Bagi Iqbal, suara yang ia bawa ke COP30 merupakan cerminan dari perjuangan panjang masyarakat adat yang selama ini terpinggirkan dalam diskusi iklim global.

Keterlibatannya membawa tanggung jawab besar. “Saya akan membawa tiga isu besar dari Indonesia ke COP30: hak masyarakat adat, deforestasi, dan pertambangan. Kalau kita serius dalam menangani perubahan iklim, RUU Masyarakat Adat merupakan solusi iklim yang kritikal,” katanya lantang.

Pernyataan Iqbal mengandung semangat yang dirasakan oleh banyak orang muda di seluruh dunia yang menghadapi ketimpangan yang sama dalam krisis iklim.

“Orang muda di seluruh dunia harus bangkit, keluarlah dan hentikan sistem yang terus mengeksploitasi sumber daya alam tanpa peduli pada keberlanjutannya. Indonesia juga harus berhenti mengkriminalisasikan masyarakat adat dan pemuda yang berjuang karena mereka bersuara untuk udara yang layak,” ujar Iqbal lagi.

Di COP30, Iqbal, Vanessa dan rekan-rekannya menuntut ruang, hak, dan keadilan. Dan dunia harus berhenti merumuskan masa depan tanpa melibatkan generasi yang akan menjalaninya.

Tentang Life Of Pachamama

Life of Pachamama adalah organisasi yang berbasis di Kolombia dan dipimpin oleh orang muda. Organisasi ini bekerja untuk memajukan keadilan iklim dan pendidikan lingkungan, mengintegrasikan isu-isu iklim ke dalam wacana publik, serta mendorong agar isu sosial , lingkungan menjadi bagian dari kebijakan pemerintah.

Organisasi ini juga memperjuangkan pengakuan terhadap suara anak-anak, remaja, dan pemuda dalam ruang-ruang negosiasi negara. Mereka kedepankan pendekatan intergenerasional dan interseksional untuk mendorong tata kelola lingkungan yang demokratis, inklusif, dan berkeadilan.

Tentang COP30

COP30 adalah Conference of the Parties (COP) ke-30 dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) yang akan diselenggarakan pada 10–21 November 2025 di Belém, Brasil.

Pertemuan tahunan ini menjadi forum global tempat para pemimpin dunia, ilmuwan, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat sipil berkumpul untuk merumuskan langkah-langkah kolektif dalam mengatasi perubahan iklim, dampak sosial-lingkungannya, serta transisi menuju masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Abby Traveler Punya Kepedulian Tinggi Pada Kesejahteraan Pemandu Gunung

this formate

                Abby Traveler ( foto: dok. pribadi)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Ingatan Abby masih melekat pada sosok Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang jatuh ke jurang di Gunung Rinjani. Wanita 27 tahun yang periang dan senang mendengarkan musik sambil sedikit dance saat mendaki Gunung Rinjani Lombok itu baru pertama kalinya naik gunung ungkap Ali Musthafa, pemandu wisata yang mendampinginya naik gunung.

Pagi itu, hari belum lagi menunjukkan jam 7.00 pagi. Abby sudah hadir di kawasan Andara. Sambil merebahkan diri di lantai keramik, obrolan Abby tak lepas dari kasus Juliana Marins yang mencoreng nama Indonesia itu. Keberadaan korban berhasil terpantau menggunakan drone thermal dalam posisi tersangkut di tebing batu pada kedalaman sekitar 500 meter dalam keadaan tidak bergerak pada Senin (23/6/2025).

Namanya lebih dikenal sebagai Abby Traveler, pendaki gunung ini memang sedikit berbeda karena dia juga pendiri LPK Elang Khatulistiwa Indonesia yang terus menggelar pelatihan bagi pemandu gunung, dalam penguatan SDM di tengah membaiknya sektor pariwisata.

Dia juga salah satu women traveler yang dimiliki Indonesia dan tentunya suka berpergian secara solo. Jika wanita pekerja mengambil liburan disaat cuti dalam hitungan seminggu atau dua minggu, maka Abby bisa terus ‘berlibur’ selama setahun penuh karena dia memang banyak berbagi ilmu dengan warga desa terutama di daerah-daerah pegunungan. Antara hobby dan pekerjaan yang ditekuninya itulah masa yang dianggap orang awam seperti saya menjadi masa berliburnya Abby.

Ibu dua anak yang sudah menjadi ibu tunggal ini tinggal mengatur jadwal dengan anak-anak yang sudah bekerja kapan dia bisa turun gunung dan berkumpul bersama mereka. Saat menjadi ibu di rumahnya di kawasan Tebet, maka sepasang anak lelaki dan perempuan yang dimilikinya akan memanfaatkan waktu untuk staycation bersama, masak, belanja dan aktivitas rumahan lainnya untuk mereka bertiga.

“Sejak kecil karena Indonesia itu memiliki pesona yang luar biasa, sudah sewajarnya anak seperti saya mempunyai kebanggaan dengan negaranya yang beragam memiliki kekayaan alamnya untuk mengembangkan pariwisata,” kata Abby

Wanita yang dikenal ramah dan punya trade mark selalu memakai kaos sport You Can See dengan celana jeans serta kaca mata hitam ini selalu melakukan riset-riset terlebih dahulu sebelum berwisata ke tempat-tempat baru terutama kategori hidden gem

Riset tentang suatu kawasan sangat penting termasuk keamanan dalam traveling seorang diri bagi seorang perempuan. Riset dan kenali adat istiadat daerah yang bakal kita kunjungi dan tetaplah memegang prinsip dimana bumi kita pijak di situlah langit kita junjung, ujarnya

“Alhamdulillah perjalanan wisata ke sejumlah tempat juga banyak menemukan teman, sahabat, bahkan ada yang menganggap Abby saudara mereka,” ucapnya memberikan kiat bertualang sendiri keliling Indonesia dan mancanegara.

Pasca Covid 19, dia aktif membangkitkan kembali industri pariwisata beserta pelaku ekonomi kreatif lainnya di berbagai daerah. Tak heran jaringan pertemanan maupun jaringan bisnisnya tersebar di berbagai pelosok hingga mancanegara. Dia juga kerap dilibatkan dalam membuat kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan wisata petualangan karena menjadi ‘pekerja’ lapangan.

Penampilannya bisa dianggap preman gunung tapi yang satu ini punya hati selembut lagu-lagunya musisi alm Rinto Harahap, pergaulannya tidak dibatasi oleh strata atau status sosial. Abby bisa menjadi ‘anak’ banyak orang karena sikapnya yang santun dan kalimat-kalimat yang meluncur juga tak lepas dari nama-nama besar Asmaul Husna milik Allah.

Nongkrong di Cafe di Bali bersama Abby juga punya keasyikan sendiri karena saat memakai gaun hitam tanpa lengan dia bisa cuek minta difoto bergaya ala model dengan hasil jepretan yang bagus-bagus padahal cuma berpose di atas tangga. Lain waktu kami ke warung pecel makan dengan lahap pakai tangan.

Kapasitas Pemandu Gunung.

Kebersamaan dalam meningkatkan kapasitas pemandu gunung kini menjadi harapannya yang memuncak agar kasus-kasus Juliana Marins yang jatuh di gunung terjal berbatu dengan upaya evakuasi yang rumit tidak terjadi lagi.

Potensi gunung-gunung di Indonesia untuk dikunjungi wisatawan mancanegara memang besar dan sebagai negara yang terletak di jalur cincin api atau yang lebih dikenal dengan sebutan ring of fire, RI dikenal memiliki kekayaan alam yang melimpah dengan banyaknya jumlah gunung berapi di sepanjang wilayahnya

Abby Traveler dan aktivitas gunungnya

Gunung berapi bisa menghasilkan panas bumi, sumber mata air panas yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan masyarakat, pasir gunung api yang dapat digunakan untuk bahan bangunan, menghasilkan batu apung untuk industri disamping juga batuan dan mineral logam mulia.Kerugian dari banyaknya wilayah dengan gunung berapi yaitu sering terjadi bencana alam seperti gempa bumi dan gunung meletus.

Sejak dulu pemandu gunung yang keahlian di bidangnya memiliki sertifikasi seperti pemandu di luar negeri menjadi cita-citanya. Oleh larena itu lahirlah LPK Elang Khatulistiwa Indonesia.
Menurut perempuan yang piawai mengendarai motor trail dan mobil-mobil gunung seperti land cruiser ini banyak sekali ilmu yang harus dikuasai oleh pemandu gunung, sebelum bekerja di lapangan.

“Apalagi membawa wisatawan yang masih awam dan belum paham menjelajahi hutan dan pegunungan. Tidak sembarangan orang bisa melakukan kegiatan mendaki gunung karena ada risiko nyawa yang akan dipertaruhkan. Sebab gunung adalah alam terbuka yang kondisinya bisa berubah setiap waktu dan hal ini di luar kendali manusia,” ucapnya serius bak seorang coach menghadapi peserta pelatihannya.

Pemandu gunung wajib juga mengetahui medan dan cuaca yang berbeda ketika akan mendaki gunung atau menjelajahi kawasan hutan dan pegunungan itu sendiri, jelas penyuka kaos sport warna hitam ini. Dalam pelatihan berbasis survival ini, peserta juga diajarkan teknik-teknik dasar dan mereka yang tinggal di kawasan pegunungan tidak bisa hanya bermodal Akamsi, tambahnya.

“Tahu nggak kepanjangan Akamsi ? Anak Kampung Sini,” katanya sambil terkekeh. Soalnya dia banyak menemui pemuda di area gunung tertentu merasa sudah mengenal dengan baik gunung tempatnya tinggal. Padahal mereka juga harus menguasai tekhnik-teknik berbasis survival. Bukan sekedar tahu jalan menuju puncak gunung.

Oleh sebab itu Lembaga Pelatihan Kerja ( LPK) Elang Khatulistiwa Indonesia yang didirikannya juga mengajarkan teknik-teknik dasar penanganan P3K, pengetahuan geologi, iklim/cuaca hingga risk manajement, termasuk ilmu medan yang wajib diketahui seorang pemandu gunung.

Karena itulah pihaknya rajin menggelar pelatihan bagi pemandu gunung, dalam penguatan SDM di tengah membaiknya sektor pariwisata. Kegiatannya sendiri mendapat dukungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta pendukung lainnya dari berbagai komunitas pecinta alam.

“Dukungan pemerintah untuk LPK jangan hilang timbul tergantung siapa pejabatnya yang peduli tetapi harus punya anggaran dan bertekad untuk mencetak pemandu profesional dan bersertifikasi yang bisa hidup sejahtera dari gunung, punya skill memadai, punya pelindungan hukum dan jaminan kesejahteraan juga karena pemandu gunung itu profesi, “ tegas Abby.

Selain Dieng yang menjadi tujuan wisatawan mancanegara Pemerintah harus persiapkan  gunung-gunung lainnya dengan berbagai fasilitas hingga ke puncak gunung terutama jalur pengaman dan sign serta pengumuman mengenai area yang akan dilewati para pendaki.

“ Jalan setapak dan kiri-kanan jurang sangat riskan apalagi bagi pemula yang baru pertama kalinya naik gunung. Kasus yang mendapat perhatian serius dari Brazil negara asal Juliana maupun para pendaki di seluruh dunia membuat pemerintah Indonesia harus memprioritaskan pemandu yang bersertifikasi lewat test, tahu medan gunungnya dan juga Safety. P3K bukan harus jadi dokter tapi paham penanganan atas kecelakaan,” ujanya panjang lebar.

Bang Babo ( kanan atas) Akamsi, anak yang lahir dan besar di gunung lulusan LPK Elang Khatulistiwa kini menjadi pemandu gunung bersertifikat melayani wisatawan dalam dan luar negri

Anak Kampung Sini ( Akamsi)

Sebagai bagian dari anak bangsa, bersama teman-temannya Abby mendorong potensi masyarakat dan desa wisata kreatif untuk meningkatkan perekonomi masyarakat Indonesia. Dari pengalamannya melakukan pendakian ke berbagai gunung, kunjungan-kunjungan ke desa-desa dan pelatihan yang diadakannya, potensi Akamsi (Anak Kampung Sini atau setempat) setelah mengikuti pelatihan mampu hidup lebih sejahtera.

Anak-anak yang tinggal dipegunungan dan menjadi lulusan LPK yang didirikannya membanggakan karena secara formal pendidikannya hanya Sekolah Dasar dan lainnya tidak tamat Sekolah Menengah Pertama ( SMP).

Perempuan penggemar musik country dan balada serta genre reggae ini lalu menceritakan kisah Kabul, anak gunung yang hanya tamatan SD tapi kini secara rutin mendapatkan pelanggan para pendaki bule mancanegara.

Sementara alumnus lainnya, biasa dipanggil bang Babo jadi pemandu wisatawan nusantara dan wisatawan dari negara-negara tetangga seperti Malaysia yang berbahasa Melayu. Babo bahkan mengirimkan foto pada Abby saat bersama pendaki wanita dari Jakarta yang sudah usia 71 tahun naik Gunung Raung di Jawa Timur di atas ketinggian 3344 MDPL.

Seperti halnya seorang guru, ketika anak didiknya bisa meningkatkan skill dan hidup lebih sejahtera tentunya menjadi kebahagian tersendiri bagi Abby Traveler. Dia yakin jika pemerintah membangun infrastruktur jalan yang bagus ke berbagai gunung di Indonesia dan serius menggarapnya sebagai Wisata Minat Khusus maka pariwisata Indonesia akan berkembang pesat.

“ Ribuan desa wisata di Indonesia bisa mengemas wisata pendakian gunung, menjadikan desa wisatanya sebagai base camp, menggerakan UMKM dan mensejahterakan masyarakat secara berjamaah,” kata Abby menutup obrolannya.

Aruna Books Publishing dan Forwaparekraf Bedah Ulang Buku Prof. Arysio Santos Soal Atlantis di Nusantara.

this formate

Frank Joseph Hoff, Presiden Atlantis Publications ( kanan) bersama pembawa acara, Pemred Majalah Eksekutif Wahyu Indrasto ( Foto : Forwaparekraf)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Gagasan bahwa Indonesia adalah lokasi sesungguhnya dari benua legendaris Atlantis kembali mengemuka dalam sebuah diskusi terbuka yang digelar di Jakarta, Jumat (11/7). Maklum, ribuan buku telah ditulis tentang Atlantis sejak keberadaannya pertama kali diungkapkan oleh Plato, pangeran para filsuf, sekitar dua setengah milenium yang lalu. Orang mungkin bertanya-tanya apakah buku baru tentang subjek ini benar-benar dibutuhkan.?

Adalah Aruna Books Publishing dan Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) yang membedah ulang buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found, karya mendiang Prof. Arysio Santos, ilmuwan asal Brasil yang mengklaim bahwa jejak peradaban Atlantis sesungguhnya berada di kawasan Nusantara.

“Dalam semua parameter yang disebut Plato, mulai dari sistem irigasi, kekayaan logam, hingga letusan besar yang menenggelamkan daratan, Indonesia selalu relevan,” ujar Frank Joseph Hoff, Presiden Atlantis Publications sekaligus asisten riset utama Prof. Santos, dalam forum tersebut.

Hoff tidak sekadar berbicara. Ia menampilkan peta topografi purba, citra satelit, kutipan teks-teks kuno, serta grafik elevasi Laut Jawa dan Selat Sunda yang mendukung hipotesis Santos. Ia juga menyebut jejak mitos banjir besar di berbagai budaya lokal, dari Nusa Tenggara hingga Kalimantan, sebagai sinyal bahwa wilayah Indonesia pernah mengalami peristiwa geologis besar yang paralel dengan narasi tenggelamnya Atlantis.

“ Sedikitnya ada 32 temuan variabel geografis sesuai gambaran yang dijelaskan Plato bahwa Atlantis adalah di Indonesia dan gerbang ‘Surga’ asli yang sebenarnya berada di antara Bali dan Lombok (Selat Lombok), kata Frank Joseph Hoff yang selama 15 tahun mendalami penelitian tentang Atlantis dan menjadi asisten riset Prof. Santos.

Bedah buku di Restaurant Aroem di Jalan Mahakam, Kebayoran Baru itu menjadi hal yang baru bagi wartawan Parekraf meski buku juga ranah ekraf. Tapi pertanyaannya bisakah sesuatu yang baru dikatakan lagi tentang Atlantis? Jawabnya bisa saja apalagi teka-teki Atlantis belum pernah terpecahkan sejauh ini dengan memuaskan kebanyakan orang, para ahli akademis khususnya.

Meski telah terbit sejak awal 2000-an, kali ini buku yang diterbitkan kembali oleh Aruna Books Publishing kini dibaca ulang dalam konteks baru. Di tengah meningkatnya perhatian pada sejarah lokal dan identitas budaya, diskusi ini menyoroti bagaimana teori Santos bisa diolah menjadi narasi kreatif lintas format—dari dokumenter, novel grafis, hingga permainan edukatif.

Mendiang Prof. Santos menggabungkan geologi, linguistik, sejarah kuno, arkeologi, hingga paleoklimatologi dalam menyusun teorinya. Salah satu temuan kunci adalah analisis terhadap letusan gunung purba Krakatau, yang diyakini sebagai pemicu bencana besar yang menenggelamkan sebagian daratan Sunda, sebuah skenario yang disebutnya mirip dengan kisah kehancuran Atlantis menurut teks Plato, Timaeus dan Critias.

Dia mempelajari data mengenai lapisan tanah, aktivitas tektonik, persebaran flora-fauna purba, hingga jejak budaya agraris kuno. Dari seluruh variabel yang diuji, Santos menyimpulkan bahwa wilayah Indonesia, khususnya dataran Sunda yang kini sebagian besar berada di bawah laut, memiliki tingkat kesesuaian paling tinggi dengan deskripsi Atlantis dalam sumber-sumber klasik.

“Kami juga telah lama menunjukkan – untuk pertama kalinya sehubungan dengan Atlantis – bahwa permukaan laut naik 130 meter dan lebih sejak akhir Zaman Es terakhir dan bahwa, sebagai akibat dari kenyataan ini, Plato mungkin benar,” ungkap Frank Joseph Hoff .

Frank Joseph Hoff, Presiden Atlantis Publications ( ke tiga dari kanan) yang juga asisten riset bersama Ketua Forwaparekraf, Tiara M ( paling kiri) bersama para undangan dari Kementrian Kebudayaan, Kementrian Ekraf, panitia dan pembawa acara, Pemred Majalah Eksekutif Wahyu Indrasto, paling kanan ( Foto : Forwaparekraf)

Sebagai akibat dari kenaikan permukaan laut yang sangat besar ini, beberapa wilayah, seringkali dari perluasan benua, tenggelam di beberapa wilayah di dunia: di Indonesia (Paparan Sunda), di Eropa (Paparan Celtic, Paparan Laut Utara), di Amerika (Paparan Antilles), dan sebagainya.

Plato juga memberikan tanggal spesifik 11.600 BP [Sebelum Sekarang] untuk bencana Atlantis dahulu kala. Dan tanggal ini persis sama dengan tanggal berakhirnya Zaman Es Pleistosen terakhir yang dahsyat dan apa yang disebut peristiwa Dryas Muda. Kebetulan persis seperti itu sangat kecil kemungkinannya dalam praktik, sebagaimana diketahui oleh semua fisikawan, terlepas dari pendapat yang berlawanan.

Menurut Santos, buku ini dipersembahkan kepada semua orang yang percaya bahwa legenda Atlantis lebih dari sekadar fabel atau kisah moral yang diciptakan oleh Plato atau mitografer kuno lainnya. Santos berharap tiga dekade yang telah didedikasikannya dengan penuh sukacita untuk penelitian Atlantis tidak sia-sia.

“Setidaknya beberapa benih yang telah disebarkan di mana-mana akan jatuh di tanah yang subur dan tumbuh untuk menghasilkan benih-benih selanjutnya, menjadikan jenis penelitian ini sebagai disiplin akademis yang bereputasi baik dan melayani kesejahteraan seluruh umat manusia,”

ini merupakan hasil penelitian selama kurang lebih 30 tahun. Selama bertahun-tahun ini, banyak orang telah membantu dengan berbagai cara. Ada yang membantu dengan saran ahli, saran tema penelitian dan klarifikasi, ada yang membantu dengan memberikan jawaban atas pertanyaan -pertanyaan khusus. Ada pula yang membantu dengan menunjukkan kesalahan substansi, dan sebagainya.

Di antara para pendukung awal ini dalam bukunya, Santos menyebut Frank J. Hoff dan Renato R. Carneiro, yang memberikan bantuan dan dorongan. Masuk akal bahwa di wilayah dunia yang sekarang tenggelam inilah orang harus memulai pencarian Atlantis, jika mereka benar-benar ingin menemukannya.

Hal ini jauh lebih logis daripada hanya mengandalkan pendapat para ahli yang selalu berubah meskipun seringkali negatif pada banyak disiplin ilmu yang secara langsung atau tidak langsung terkait dengan Atlantis: Geologi, Klimatologi, Evolusi, Antropologi, Arkeologi, Linguistik, Agama dan Mitologi Komparatif, Paleoantropologi, dll.

Dengan kata lain, kita harus memperhatikan fakta dan alasan ilmiah daripada sekadar pendapat, tidak peduli seberapa otoritatifnya. Teori ilmiah dan pendapat ahli tidak lebih dari sekadar spekulasi, seringkali sangat tidak berdasar dan disarankan sebagai hipotesis kerja belaka yang bersifat tentatif.

“Bagi kami, buku ini masih sangat hidup. Kami ingin generasi muda membaca ulang warisan pengetahuan ini bukan sebagai mitos, tapi sebagai titik tolak untuk bertanya ulang: apa yang sebenarnya kita ketahui tentang peradaban kita sendiri?” ujar Frank Joseph Hoff.

Pemesanan Sekarang Dibuka untuk Royal Caribbean’s Royal Beach Club Paradise Island

this formate

Rendering Party Cove di Royal Beach Club Paradise Island milik Royal Caribbean, yang akan dibuka pada tahun 2025. (Foto: Royal Caribbean)

NEW JERSEY, bisniswisata.co.id : Bagi penggemar kapal pesiar, pemesanan sekarang dibuka untuk Royal Beach Club pertama milik Royal Caribbean .

Destinasi lengkap yang secara resmi disebut Royal Beach Club Paradise Island ini dijadwalkan akan dibuka di Bahama pada bulan Desember. Sementara itu, wisatawan dapat mulai bermimpi—dan merencanakan—kunjungan pertama mereka.

Dilansir dari travelpulse.com, Para tamu yang memesan tiket pelayaran ke Nassau mulai akhir Desember dapat membeli tiket harian mereka di situs web Royal Caribbean. Para pelancong dapat memilih dari beberapa tiket harian Royal Beach Club Paradise Island.

Tiket-tiket tersebut adalah:

• Tiket masuk harian dengan bar terbuka dan tempat makan tanpa batas, mulai dari $169,99 untuk tamu berusia 21+

• Tiket masuk harian dengan minuman non-alkohol dan bersantap, mulai dari US$129,99 untuk tamu berusia 13 tahun ke atas; US$109,99 untuk usia 4-12 tahun; dan gratis untuk tamu berusia 3 tahun ke bawah

• Tiket masuk harian yang dibundel dengan paket minuman di atas kapal atau dipasangkan dengan pengalaman destinasi eksklusif di Perfect Day di CocoCay

Destinasi ini memiliki dua pantai, tiga kolam renang, tiga pantai berjenur, dan 10 bar—termasuk bar kolam renang terbesar di dunia. Semuanya sudah termasuk, seperti transportasi air pulang pergi, permainan pantai, Wi-Fi, payung dan kursi santai, loker, dan handuk.

Heritage Line Luncurkan Penawaran Hari Kemerdekaan, Rute Baru di Vietnam

this formate

Heritage Line’s Jayavarman  di Sungai Mekong (Foto: Heritage Line)

NEW JERSEY, bisniswisata.co.id : Wisatawan dapat memanfaatkan penghematan pada pelayaran sungai Asia Tenggara selama penjualan Hari Kemer- dekaan Heritage Line .

Dilansir dari travelpulse.com, Pada pelayaran antara Agustus 2025 dan April 2026, wisatawan dapat menghemat $407 per tamu, diskon 40,7 persen untuk perawatan spa pertama mereka, diskon 4,7 persen untuk tagihan minuman terakhir mereka, dan diskon 17,76 persen untuk paket tamasya pribadi .

Promosi ini berlaku untuk pemesanan yang dilakukan sekarang hingga 31 Juli. Dengan Heritage Line, wisatawan dapat berlayar di Sungai Mekong Hilir antara Vietnam dan Kamboja dalam perjalanan 7 malam di atas kapal The Jahan atau Jayavarman.

Perusahaan ini juga baru-baru ini luncurkan rencana perjalanan dua malam baru melalui Teluk Bai Tu Long, perpanjangan Teluk Halong di Vietnam yang kurang dikenal. Diluncurkan pada 2 Januari 2026, pelayaran baru ini ditawarkan dengan kapal Violet yang memiliki enam suite.

Teluk Bai Tu Long merupakan kawasan laut yang dilindungi dengan batasan ketat terhadap ukuran kapal, serta jumlah kapal yang berlayar di kawasan tersebut.

Rencana perjalanan baru Teluk Bai Tu Long hadir saat Heritage Line mengakhiri penawarannya saat ini ke Teluk Halong, yang akan beroperasi hingga akhir tahun 2025.

“Rute perjalanan baru ini benar-benar mendefinisikan ulang cara wisatawan menikmati Teluk Halong,” ujar Andreas Schroetter, direktur penjualan dan pemasaran di Heritage Line.

Menurut dia, Bai Tu Long menawarkan pengalaman pelayaran paling autentik dan damai di Vietnam Utara saat ini. Rasanya seperti Teluk Halong 15 hingga 20 tahun yang lalu—asli, intim, dan penuh penemuan.
“Itulah esensi kemewahan yang ingin kami tawarkan: akses, ruang, dan substansi.” kata
Andreas Schroetter.

Gelombang Panas Mengganggu Pariwisata Eropa Dan Mengungkap Tantangan Iklim

this formate

CHESHIRE, bisniswisata.co.id : Musim panas 2025 terbukti sulit bagi Eropa. Gelombang panas yang intens, mendorong suhu hingga 46°C, berdampak serius pada pariwisata Eropa di destinasi-destinasi populer seperti Prancis, Spanyol, Portugal, Italia, dan Yunani.

Dilansir dari tourism-review.com, konsekuensinya beragam, mulai dari penutupan sementara landmark seperti Menara Eiffel hingga peningkatan kunjungan rumah sakit akibat panas yang signifikan, yang membebani infrastruktur yang ada.

Hal ini jelas mengubah pengalaman berlibur dan, sejujurnya, menimbulkan beberapa pertanyaan sulit terkait keselamatan wisatawan, keberlanjutan lingkungan, dan bagaimana masa depan pariwisata Eropa.

Eropa di Bawah Gelombang Panas

Suhu tertinggi telah tercatat, terutama di Portugal, di mana kota Mora mencatat suhu hingga 46°C, angka yang dilaporkan merupakan salah satu yang tertinggi yang pernah tercatat di Eropa, menurut badan meteorologi mereka, IPMA.

Bersamaan dengan itu, rumah sakit di Italia mengalami lonjakan penerimaan pasien sebesar 15-20% terkait penyakit seperti dehidrasi dan sengatan panas ; tragisnya, beberapa kasus mengakibatkan kematian, yang menggambarkan betapa parahnya situasi ini.

Lebih lanjut, gelombang panas laut juga mempengaruhi Mediterania, menyebabkan suhu laut mencapai 25-30°C. Wilayah pesisir di Spanyol dan Yunani sedang berjuang untuk memberikan kelegaan yang sangat dibutuhkan penduduk dan wisatawan mereka dari panas yang menyengat.

Ambil contoh Menara Eiffel. Puncaknya ditutup pada tanggal 1 dan 2 Juli ketika suhu di Paris mencapai 40°C, menunjukkan betapa besarnya gangguan tersebut.

Karena tidak dapat menikmati pemandangan, para pengunjung berkumpul di sekitar air mancur Taman Trocadéro, sebuah indikasi kecil betapa banyak orang yang berusaha menghindari kondisi terik.

Kepadatan pengunjung dan penutupan pantai akibat masalah keamanan mengganggu pantai-pantai di seluruh area, mengurangi daya tarik liburan klasik Mediterania ini.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Pariwisata merupakan bagian penting dari PDB Uni Eropa, berkontribusi sekitar 10%, sehingga wajar jika gangguan menjadi masalah ekonomi utama.

Tutupnya objek wisata, menurunnya kepuasan pelanggan, dan infrastruktur yang terbatas membahayakan pendapatan di negara-negara yang bergantung pada perjalanan musim panas.

Di sisi lingkungan, gelombang panas memperburuk masalah yang ada. Meningkatnya kebutuhan pendinginan di perkotaan meningkatkan emisi, dan daerah pedesaan yang menghadapi kekeringan juga menghadapi kekurangan air tambahan akibat pariwisata.

Rasa frustrasi yang semakin lantang disuarakan oleh para petani dan konservasionis lokal, yang sangat prihatin dengan tekanan terhadap ekosistem.

Bayangkan Barcelona. protes terhadap pariwisata yang berlebihan semakin intens, dan para aktivis bahkan menggunakan pistol air untuk memprotes kepadatan penduduk dan kekurangan sumber daya.

Aksi-aksi ini menunjukkan semakin besarnya ketidakpuasan terhadap gaya pariwisata yang semakin sulit dipertahankan akibat perubahan iklim.

Kebijakan Iklim Uni Eropa Sedang Diperiksa

Target iklim 2040 yang diusulkan Komisi Eropa – pengurangan emisi karbon bersih sebesar 90% – telah dikritik oleh Greenpeace karena tidak cukup jauh, bahkan jauh dari target pengurangan domestik sebesar 90-95% yang diusulkan oleh Dewan Penasihat Ilmiah Eropa untuk Perubahan Iklim.

Penggunaan kredit karbon internasional, yang memungkinkan hingga 3% pengurangan berasal dari pembayaran kepada negara-negara non-Uni Eropa, serta mengandalkan penghapusan karbon.

“permanen”, yang dapat membahayakan keanekaragaman hayati, telah menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan celah hukum yang dapat melemahkan target tersebut.

Menurut Greenpeace, kompromi semacam itu dapat secara signifikan menurunkan pengurangan emisi aktual, yang berpotensi melemahkan kepemimpinan Uni Eropa di sektor iklim.

Namun, rencana Komisi tersebut mencakup beberapa poin penting, seperti penggunaan panduan ilmiah, analisis biaya ketidakaktifan, dan prioritas keanekaragaman hayati serta transisi yang adil.

Seiring proposal tersebut diajukan ke Parlemen Eropa dan para menteri nasional untuk dibahas, yang diharapkan akan diselesaikan sebelum COP30 PBB di Brasil pada 10 November 2025, terdapat tekanan yang semakin besar untuk menciptakan strategi iklim yang lebih kuat dan adil.

Seruan untuk Pariwisata Berkelanjutan

Gelombang panas ini menekankan perlunya memikirkan kembali pariwisata Eropa. Kota-kota sedang mempertimbangkan berbagai opsi seperti membatasi jumlah kapal pesiar, mengelola akomodasi, dan berinvestasi dalam infrastruktur yang tahan iklim.

Tujuannya adalah untuk menemukan keseimbangan antara manfaat finansial dengan keberlanjutan ekologis dan sosial. Bagi wisatawan, suhu tinggi menjadi pengingat yang jelas tentang situasi iklim Uni Eropa, yang mendorong beberapa wisatawan untuk memikirkan kembali rencana perjalanan mereka atau memilih lokasi yang lebih sejuk.

Eropa saat ini menghadapi musim panas yang sangat panas, yang menggabungkan tingkat panas yang belum pernah terjadi sebelumnya, beberapa gangguan pada pariwisata, dan diskusi yang sedang berlangsung mengenai kebijakan iklim, menandai momen krusial ini.

Untuk memastikan pariwisata tetap kuat dan destinasi-destinasi terkenalnya tetap ramai dan tersedia untuk generasi mendatang, Eropa harus mengatasi kekurangan infrastruktur, mengendalikan pariwisata yang berlebihan, dan tentu saja mengejar pengurangan emisi domestik yang ambisius.

Crystal Cruises Memperoleh Pembiayaan untuk Kapal Baru

this formate

Penumpang Crystal Cruise menikmati perjalanan. ( Foto: Crystal Cruise)

NEW JERSEY, bisniswisata.co.id : Crystal Cruises telah mendapatkan pembiayaan untuk dua kapal pesiar baru. Pembiayaan ECA yang didukung SACE dimungkinkan melalui beberapa lembaga keuangan dan mitra perbankan.

Mitra perbankan a.l Citibank, NA Cabang London; Banco Santander, SA; CaixaBank, SA, Cabang Inggris; Cassa Depositi dan Prestiti SpA; Bank Korporasi dan Investasi Credit Agricole; Banca Monte Dei Paschi Di Siena Spa dan Bper Banca SpA.

Dilansir dari travelpulse.com, dukungan lembaga tersebut “memvalidasi posisi kami di segmen pelayaran ultra-mewah,” kata Manfredi Lefebvre d’Ovidio, ketua eksekutif A&K Travel Group, perusahaan induk Crystal Cruises .

Kapal baru tersebut masing-masing akan mampu menampung hingga 650 penumpang dan akan memiliki tonase kotor sebesar 61.800 ton.

Dibangun oleh Fincantieri dengan kapal pertama siap dikirim pada Mei 2028, diikuti kapal kedua pada 2030. Kapal ketiga , yang bukan bagian dari putaran pembiayaan terkini, dijadwalkan akan dikirim pada tahun 2032.

Laporan Baru Ungkap Tren yang Membentuk Masa Depan Wisata Halal

this formate

Arab Saudi adalah destinasi wisata halal yang populer, menawarkan kombinasi kuat antara warisan budaya dan fasilitas modern.

RIYADH, bisniswisata.co.id: Seiring meningkatnya kesadaran akan kebutuhan wisatawan Muslim, wisata halal semakin membentuk cara destinasi merancang dan memberikan pengalaman.

Menurut Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index 2025 yang baru dirilis, kedatangan Muslim internasional mencapai 176 juta pada tahun 2024 — naik 25 persen dari tahun 2023 — dan diproyeksikan akan tumbuh menjadi 245 juta pada tahun 2030.

Dilansir dari www.arabnews.com, pada saat itu, total pengeluaran perjalanan diperkirakan akan mencapai $230 miliar, yang menyoroti pengaruh dan potensi ekonomi yang semakin besar dari pasar yang dinamis ini.

Agar tetap kompetitif, para pemangku kepentingan perjalanan dan pariwisata harus beradaptasi dengan kebutuhan wisatawan Muslim yang terus berkembang, dengan memprioritaskan tujuan, inklusivitas, dan inovasi digital.

Tren konsumen utama yang memengaruhi perjalanan halal;

• Aplikasi pintar: Wisatawan Muslim menggunakan perangkat digital yang menawarkan akses mudah ke layanan yang selaras dengan agama dan pengalaman yang dipersonalisasi.

• Wisatawan Muslim wanita modern: Wanita membentuk sektor perjalanan halal dengan cara yang hebat, mendorong permintaan akan tempat yang lebih aman, inklusif, dan dirancang dengan cermat.

• Fasilitas ramah Muslim: Destinasi yang menawarkan lingkungan bebas alkohol, tempat makan bersertifikat halal, fasilitas salat, serta kolam renang dan spa yang dipisahkan berdasarkan jenis kelamin menjadi hal yang penting.

• Lonjakan perjalanan solo: Pelancong Muslim yang lebih muda menyukai petualangan solo, lebih menyukai otonomi dan rencana perjalanan yang dipersonalisasi.

• Retret detoks digital: Terinspirasi oleh nilai-nilai Islam tentang kesadaran dan keseimbangan, banyak pelancong mencari pelarian bebas teknologi yang berakar pada alam dan spiritualitas.

Di antara destinasi OKI, Malaysia mempertahankan posisi teratas, yang dikenal karena layanan dan infrastrukturnya yang ramah halal dan mudah diakses.

Turki, Arab Saudi, dan UEA berbagi posisi kedua, masing-masing menawarkan kombinasi yang kuat antara warisan budaya, fasilitas modern, dan upaya khusus untuk meningkatkan pengalaman perjalanan Muslim. Indonesia juga mendapat peringkat tinggi, didukung oleh daya tarik budayanya yang kaya.

terkenal lainnya di kawasan Teluk termasuk Qatar, Oman, dan Kuwait, yang semuanya terus memperkuat penawaran mereka untuk pelancong Muslim.

Di antara destinasi non-OKI, Singapura tetap menjadi yang terdepan — dikenal karena penekanannya pada inklusivitas dan kepekaan budaya.

Thailand dan Filipina terus muncul sebagai destinasi ramah Muslim yang sedang naik daun di Asia Tenggara. Thailand tawarkan keramahtamahan yang hangat dan berbagai layanan bersertifikat halal yang terus bertambah.

Sementara Filipina meningkatkan kapasitasnya untuk melayani wisatawan Muslim melalui akses makanan halal yang lebih baik dan fitur-fitur ramah Muslim di lokasi wisata utama.