Nặm Đăm Mengembangkan Pariwisata Berkelanjutan

this formate

Pengrajin rakyat Ly Dai Thong telah meneliti dan mendokumentasikan adat istiadat serta praktik masyarakat Dao.

HANOI, bisniswisata.co.id: Pada awal tahun 1990-an, keluarga-keluarga Suku Dao yang telah lama tinggal tersebar di lereng-lereng gunung berkabut memutuskan untuk pindah ke dataran rendah. Setelah mensurvei beberapa lokasi, mereka memilih Nặm Đăm, sebuah daerah yang lebih datar dengan lahan subur dan sumber air yang andal, sebagai pemukiman baru mereka.

Dilansir dari https://en.nhandan.vn/, di tanah baru ini, penduduk desa bekerja keras dalam bertani dan beternak, dan standar hidup mereka meningkat pesat.

Kedekatan dusun dengan pusat komune juga berarti anak-anak dapat bersekolah dan orang dewasa memiliki akses yang lebih mudah ke layanan medis.

Akibatnya, dari hanya beberapa lusin keluarga pada awalnya, komunitas ini sekarang telah berkembang menjadi hampir 70 keluarga.

Hal yang paling luar biasa adalah tekad Suku Dao untuk melestarikan budaya tradisional mereka. Seniman rakyat Ly Dai Thong menjelaskan: “Bagi kami, budaya tradisional yang diwariskan oleh nenek moyang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Suku Dao, yang diturunkan dari generasi ke generasi.”

Ini tidak dapat ditinggalkan. Itulah mengapa adat istiadat, lagu-lagu rakyat, kostum tradisional, arsitektur, festival, dan masakan masih dipertahankan, tambah Ly Dai Thong.

Dengan pola pikir ini, terlepas dari perubahan dalam kehidupan modern, penduduk desa tetap konsisten dalam melestarikan arsitektur tradisional mereka.

Rumah-rumah berdinding tanah dengan atap genteng, yang dibangun dengan gaya khas Suku Dao, tidak hanya mewujudkan identitas budaya tetapi juga menyatu secara harmonis dengan lanskap hutan.

“Rumah-rumah tradisional berdinding tanah ini, yang terletak di ketenangan pegunungan, adalah daya tarik pertama bagi para turis. Itulah mengapa setiap rumah di sini, baik yang direnovasi maupun yang baru dibangun, dibangun dalam gaya tradisional.” kata Ly Quoc Thang, salah satu keluarga pertama yang menawarkan layanan penginapan.

Budaya khas komunitas Suku Dao juga tercermin dalam festival-festival mereka, terutama upacara cấp sắc, sebuah ritual penting yang menandai kedewasaan seorang pria.

Suku Dao Chàm di desa-desa budaya Nặm Đăm di Ha Giang .

Untuk melestarikan dan mempromosikan tradisi ini, Ly Dai Thong mendirikan dua kelompok pertunjukan rakyat: satu terdiri dari orang dewasa yang secara teratur tampil untuk turis dan mengambil bagian dalam ritual lokal, dan satu lagi anak-anak yang diajarkan dan diturunkan warisan budayanya.

“Setiap minggu, turis meminta pertunjukan di penginapan-penginapan di dusun. Di setiap acara, kelompok ini menampilkan lima pertunjukan dari upacara cấp sắc. Sepuluh anggota tersebut bersama-sama menerima sekitar satu juta đồng, belum termasuk tip tambahan dari pengunjung,” kata Thong.

Selain pertunjukan, turis juga dapat menikmati berbagai pengalaman budaya yang terkait erat dengan kehidupan sehari-hari Suku Dao, seperti mandi herbal tradisional, memasak bersama keluarga lokal, bertani, atau bergabung dalam festival menangkap ikan.

Akibatnya, setiap pengunjung ke Nặm Đăm tidak hanya bersantai dalam ketenangan alam tetapi juga membenamkan diri dalam budaya lokal, mengalami semangat komunitas dan kehangatan serta keramahan penduduknya.

Pelestarian tradisi budaya telah memungkinkan Nặm Đăm untuk mengejar pariwisata berbasis komunitas yang berkelanjutan. Pada tahun 2013, Ly Quoc Thang dan beberapa keluarga lain merintis layanan pariwisata.

Awalnya, mereka hanya merenovasi rumah mereka dan menambahkan kamar mandi untuk menampung tamu. Hari ini, 34 keluarga menjalankan homestay, menyambut ribuan pengunjung dari dalam dan luar negeri setiap tahun.

Dalam enam bulan pertama tahun 2025 saja, pendapatan pariwisata mencapai hampir 3 miliar VND. Selain menjamu pengunjung, keluarga-keluarga yang menjalankan homestay telah secara aktif berupaya meningkatkan kualitas layanan, memastikan kebersihan dan keamanan makanan, mempelajari komunikasi dasar dengan tamu asing, dan mempromosikan citra pariwisata dusun di platform digital.

Berkat upaya ini, Nặm Đăm telah mengembangkan pariwisata secara berkelanjutan dan meraih beberapa penghargaan. Khususnya, pada tahun 2017 dianugerahi gelar “ASEAN Homestay Standard” dan pada tahun 2023 memenangkan “ASEAN Community-Based Tourism Award”.

“Pengunjung di sini tidak hanya datang untuk mencari tempat menginap; mereka datang untuk hidup di dalam ruang budaya unik Suku Dao. Penduduk desa telah menciptakan banyak pengalaman menarik, mulai dari pertunjukan rakyat dan mandi herbal hingga kegiatan bertani dan hidangan tradisional yang kaya akan cita rasa pegunungan dan hutan.” kata Kepala desa Ly Ta Danh.

RI Raih 6 Penghargaan di Ajang World Islamic Tourism & Trade Awards 2025 (WITA 2025)

this formate

BANDAR SUNWAY, Selangor, Malaysia, bisniswisata.co.id: Enam institusi swasta, sosial maupun sosok inspiratif di Indonesia meraih penghargaan World Islamic Tourism & Trade Awards (WITA 2025) dalam berbagai kategori sebagai sosok inspiratif, Pelayanan Haji & Umroh terbaik, Media Excellence in Islamic Tourism Promotion dan World Best Islamic Bank.

Dr. Izyan Diyana, Ketua Penyelenggara, World Islamic Tourism & Trade Awards (WITA 2025) mengungkapkan sebanyak 25 penghargaan diberikan baik pada perorangan. usaha swasta maupun kalangan pemerintahan.

“ Selamat atas prestasi 6 dari 25 penghargaan diraih oleh Indonesia penghargaan lain dari luar Malaysia dan perusahaan swasta, pemerintah, kalangan pengusaha Malaysia serta lembaga sosial di dalam negeri. Sedangkan dari luar negri selain Indonesia adalah Jepang dan Brunei Darrusalam,” kata Dr. Izyan Diyana.

Acara penghargaan dengan gala dinner pada Senin malam (25/8) di Hotel mewah Sunway Resort, Selangor, Malaysia dihadiri sedikitnya dengan 500 undangan dan sebelumnya panitia telah menyelenggarakan World Islamic Tourism & Trade Expo (WITEX 2025) dan World Cultural & Arts Festival (WCAF 2025) dan ditutup dengan sesi penghargaan World Islamic Tourism & Trade Awards (WITA 2025).

Dari Indonesia, Detikcom meraih World Islamic Tourism and Trade Award untuk kategori Outstanding Media Excellence In Islamic Tourism Promotion. Juga ada PT Alhamdi Global Wisata yang menerima World Islamic Tourism and Trade Award 2025 untuk kategori Excellence In Umrah and Hajj Operation.

Bank Syariah Indonesia (BSI) diakui secara global atas kepemimpinannya dalam keuangan Islam berkelanjutan, BSI menerima penghargaan “Bank Islam Terbaik Dunia” dari Euromoney, serta gelar Bank Islam Terbaik Asia dan Bank Islam Terbaik Indonesia dalam ajang Islamic Finance Awards 2025 kategori Wealth Management.

Prestasi ini membuktikan peran transformatif BSI, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di panggung dunia, sebagai katalis bagi inovasi keuangan Islam, pertumbuhan berkelanjutan, dan pemberdayaan masyarakat.

Negara lain

Menurut Diyana, Food Diversity Inc, platform untuk makanan halal & biodiversity terkemuka dari Jepang dan Pimpinan sekaligus Managing Director Srikandi Grup dari Brunei Darussalam yang bergerak di industri hospitality, Kesehatan, Engineering serta tambang minyak juga menerima penghargaan.

Izyan Diyana yang pada malam penghargaan itu mengenakan gaun dari desainer Sumatera Barat, Emi Arlin mengatakan Food Diversity Inc sebelumnya dikenal sebagai Halal Media Japan, Co. Ltd.

Food Diversity, Inc. telah muncul sebagai pelopor dalam mempromosikan beragam pengalaman kuliner dan membangun lingkungan multikultural di Jepang. Penghargaan yang diterima adalah Japan’s Leading Platform for Halal Food & Diversity Tourism.

“Karya mereka tidak hanya mendukung wisatawan Muslim yang berkunjung ke Jepang, tetapi juga menginspirasi bisnis dan komunitas lokal di seluruh negeri untuk merangkul inklusivitas, menjadikan Jepang destinasi yang lebih ramah bagi wisatawan global dari beragam latar belakang,” tambah Diyana.

Sementara itu, konglomerat Brunei Darussalam, DR Shaikh Khalid bin Shaikh Haji Ahmad menerima penghargaan Islamic Corporate Leadership & Tourism Excellence yang usahanya juga sejalan dengan kegiatan sosial pribadi maupun bisnisnya terutama dalam penyebaran Alquran gratis.

Para penerima utama dari Indonesia adalah Wakil Menteri Pariwisata RI era Presiden SBY yaitu Prof. Dr. H. Sapta Nirwandar yang menerima Global Halal Lifestyle Inspiration di ajang WITA yang baru pertama kalinya ini.

Tokoh yang dinilai memberikan inspirasi gaya hidup halal global ini dengan karier gemilangnya dari berbagai event internasional maupun nasional yang sudah dipatenkan dan telah lama dikenal sebagai penggerak utama dalam memposisikan pariwisata halal dan gaya hidup halal sebagai fenomena global.

Prestasinya termasuk menjabat sebagai Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia 2011-2014 dan kini menjabat sebagai Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) yang mempelopori inisiatif untuk menjembatani nilai-nilai Islam dengan kehidupan modern, memberdayakan komunitas, industri, dan bangsa.

Di bawah kepemimpinannya, Indonesia telah berkembang menjadi salah satu tujuan wisata halal terbaik dunia, sementara kepemimpinan pemikirannya telah menginspirasi dialog, kerangka kerja, dan kolaborasi internasional yang memperkuat ekonomi halal.

Selain itu juga ada Hj Maizarnis yang dikenal sebagai Madame Je atau ibu Je, Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Siti Rahmah dan sebagai pendiri Universitas Biturahmah, Sumatera Barat. Dia memperoleh penggargaan sebagai Inspirational Woman Icon in Education.

Istri dari H Amran Sutan Sidi Sulaiman (alm), ini mampu menjadikan Universitas Baiturrahmah dengan 12 prodi, dua di antaranya prodi unggul yaitu Fakultas Kedokteran Umum dan Fakultas Kedokteran Gigi.

Masih dari Indonesia, penyanyi Vanny Vabiola yang dikenal sebagai Celine Dion versi Sumbar adalah penyanyi lagu-lagu pop Minang dan pop lawas. Ia telah merilis 20 album yang beberapa di antaranya telah memiliki video klip yang diunggah di kanal YouTube pribadinya.

Dr. Izyan Diyana mengungkapkan bahwa malam anugerah  penghargaan ini bukan sekedar pujian tapi mencerminkan komitmen kolektif untuk membangun masa depan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan sejahtera bagi pariwisata dan perdagangan Islam.

Mengapa WITA? Karena kami percaya pengakuan menginspirasi kemajuan. Dengan menghormati para pelopor dan pionir, kami menciptakan panutan bagi industri ini, mendorong inovasi, dan memperkuat ekosistem pariwisata Islam global.

“WITA bukan hanya tentang merayakan kesuksesan, tetapi juga tentang mendorong kolaborasi lintas negara, budaya, dan komunitas. “ tegas Dr Izyan Diyana.

Kopdes Merah Putih dan Fondasi Baru Penguatan Pariwisata Daerah

this formate

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Tahun 2025 menjadi momentum kebangkitan kembali koperasi sebagai pilar ekonomi kerakyatan. Program ini hadir sebagai simbol dari kebangkitan ekonomi berbasis gotong royong, kemandirian, dan digitalisasi. Dengan sistem yang lebih transparan dan terhubung secara digital, koperasi ini dirancang untuk menjadi instrumen utama pemerataan kesejahteraan di tingkat desa.

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan bahwa lahirnya Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih bukan sekadar upaya rebranding. Kehadiran 80.000 Koperasi Merah Putih adalah bentuk keberanian negara untuk mengembalikan koperasi pada khitahnya.

Keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Desa Merah Putih yang disertai dengan perencanaan matang, dan pendekatan kreatif, koperasi bisa berdampak baik pada pengembagan di berbagai sektor, baik pertanian, pertenakan, bahkan pariwisata.

Bertepatan Perayaan Hari Koperasi Ke-78, Senin, 21 Juli 2025 lalu, Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, meluncurkan program nasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

“Kami yakin keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dapat mendorong kolaborasi antarpelaku usaha di destinasi sekaligus membuka ruang bagi integrasi ekosistem pariwisata lokal di mana petani, pengrajin, penyedia akomodasi, kuliner, dan pemandu wisata bisa saling mendukung dalam satu sistem ekonomi yang sehat dan adil,” kata Menteri Pariwisata.

Belum lama diresmikan, keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih telah dirasakan manfaatnya. Seperti yang dialami oleh masyarakat Desa Wisata Tamanmartani, salah satu dari tiga desa percontohan nasional untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Ketua KDMP Tamanmartani, Mawardi, menjelaskan Koperasi Desa Merah Putih Tamanmartani, Sleman, DI Yogyakarta telah beroperasi sejak Senin (16/6/2025). Meski baru 2 bulan beroperasi, KDMP Tamanmartani telah memiliki 895 anggota dan disambut positif oleh masyarakat desa.

KDMP Tamanmartani menjalankan empat unit usaha, seperti klinik dan apotek, simpan pinjam, sembako, dan sarana produksi pertanian (saprotan). Keempat unit usaha bisa langsung berjalan dengan baik.

“Meski demikian, kami terus melakukan penyempurnaan, termasuk tenaga dan komoditas dagang,” kata Mawardi.

KDMP Tamanmartani juga mendukung dan menguatkan pengembangan pariwisata dan berfungsi sebagai agregator yang memasarkan produk dan layanan anggota, menyediakan wadah bagi UMKM lokal untuk menjual produk mereka langsung kepada wisatawan.

“Koperasi Desa Merah Putih Tamanmartani support system-nya ditopang produk oleh-oleh. Kami menerima berbagai produk dari UMKM yang ada di Desa Wisata Tamanmartani. Jadi di desa wisata ini mengusung wisata edukasi, wisatawan bisa belajar peternakan, berkebun, bertani, dan sebagainya. Nah hasil dari ternak, tani ini mereka juga bisa pasarkan di koperasi,” Kata Mawardi.

Pelaku usaha tidak perlu lagi berjuang sendiri untuk memasarkan produknya. Koperasi dapat berperan sebagai distributor, mengumpulkan produk dari berbagai anggota (petani, pengrajin, produsen kuliner), dan memasarkannya ke pasar yang lebih luas, baik secara lokal maupun digital, sehingga memperpendek rantai pasok dan meningkatkan daya tawar produk.

Pria berusia 58 tahun ini, menjelaskan ke depan nantinya para pelaku pariwisata di desa seperti pemilik homestay, UMKM, pengrajin bisa mengakses lebih mudah ke sumber pembiayaan, seperti pinjaman mikro dan perbankan untuk mengembangkan usaha, meningkatkan fasilitas, dan menciptakan produk-produk baru yang lebih berdaya saing.

“Waktu Bu Menteri Pariwisata ke sini, memberi arahan bahwa ini bisa dikerjasamakan dengan BNI. Jadi teman-teman pelaku pariwisata kalau butuh modal bisa lewat koperasi, lewatnya BNI. Mau pinjam KUR lewat kami bisa. Artinya layanan kami di sini bisa untuk membantu juga teman-teman pelaku wisata yang ada di Tamanmartani,” kata Mawardi.

Pinjaman yang diajukan pelaku pariwisata dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti membangun fasilitas baru seperti gazebo, toilet, atau area parkir, membeli peralatan pendukung misalnya perlengkapan outbound, atau melakukan renovasi pada penginapan.

Tak hanya itu, dana pinjaman dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas produk atau layanan. Contohnya, pelaku usaha kuliner di desa wisata bisa meminjam modal untuk membeli bahan baku dalam jumlah besar atau peralatan masak yang lebih modern.

Pengelola Bidang Wisata Bumdes Tamanmartani, Pandu Cahyo Gustoro, menambahkan bahwa KDMP juga berkolaborasi dengan Bumdes dan Pokdarwis dalam mengoptimalkan potensi pariwisata di desa.

Paket wisata yang dibuat oleh Kelompok Sadar Wisata, seperti paket wisata berkunjung ke Lumbung Mataraman, belajar jemparingan, belajar membatik, belajar soal pertanian, perkebunan, hingga peternakan. Sedangkan Bumdes dan KDMP membantu mempromosikan

“Alhamdulillah sudah berjalan lancar, sudah bisa mendatangkan wisatawan asing, wisatawan lokal, dan sudah ada dampaknya ke masyarakat atau pelaku wisata yang kami tangani, jadi ada peningkatan grafiknya,” kata Pandu.

Pelaku UMKM, Prima Sintalia, mengaku mulai merasakan manfaat adanya Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Ia bisa membeli barang lebih murah di KDMP Tamanmartani untuk dijual kembali di toko kelontong miliknya.

“Misalnya beli telur dari hasil peternakan, ini bisa lebih murah di koperasi. Karena di samping saya sudah mendapatkan harga yang lebih murah, saya bisa juga istilahnya memberikan masyarakat harga yang lebih spesial,” kata Prima.

Prima berharap KDMP bisa terus punya stok barang sembako, dan produk lainnya, yang bisa membantu pelaku usaha maupun masyarakat mendapatkan harga terbaik.

“Karena sejauh ini respons para pelaku usaha, maupun masyarakat bagus dengan adanya Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih ini.” kata prima.

Menikmati Mural, Kue Bulan, dan Museum di Pecinan Singapura

this formate

Bangunan komersial tua di Pecinan Singapura ( Foto:Ravish Maqsood/Pexels

SINGAPURA, bisniswisata.co.id: Setiap hasil pencarian Google mengarah ke tempat yang sama saat kami mencari tempat makan di Singapura: Pecinan.

“Oke, mungkin satu kali makan,” pikirku sambil mengangkat bahu. Dalam bayanganku, ada gang-gang yang bising, lampion merah, naga plastik, dan aroma manis-asam yang familiar.

Tetapi begitu kami melangkah keluar dari taksi ke jalan yang tenang, aku tahu ini bukan lingkungan biasa. Dilansir dari www.travelandleisureasia.com, hal pertama yang kami perhatikan adalah koreografi waktu—deretan ruko berwarna pastel dengan jendela berbilah, balkon besi melengkung, dan atap genteng.

Tepat di baliknya, gedung pencakar langit dari krom dan kaca menjulang ke langit. Aku menatap pemandangan terbelah ini… kepompong tekstur tua dan usang yang berpadu dengan kilau ambisi modern.

Namun, di altar yang lama dan baru ini, aku bisa merasakan kontras dua zona waktu yang melebur menjadi satu percakapan panjang yang belum selesai.

Dulu dan Sekarang

Aku berjalan mendekat ke deretan ruko pastel yang membentang di kedua sisi jalan, mengamati papan nama Tiongkok yang dilukis tangan. Udara membawa jejak samar aroma herbal dan kecap. Di sebuah gang samping, seorang pria tua keluar dari toko jahitnya.

“Sudah berapa lama Anda menekuni profesi ini?” tanyaku.

“Tujuh puluh tiga tahun,” jawabnya sambil tersenyum keriput.

Jalan itu mulai memudar. Aku bayangkan para pedagang mengangkut keranjang ikan kering, seorang ahli herbal menggiling akar di lumpang batu, dan wanita-wanita membungkuk di atas kuali kaldu panas.

Ini kembali ke tahun 1822. Sir Stamford Raffles baru saja menetapkan area di sebelah barat Sungai Singapura ini sebagai kampong Tiongkok. Gelombang migran dari Tiongkok selatan tiba, membawa mimpi dan dialek.

Orang Kanton menetap di sepanjang Temple Street, orang Hokkien di Telok Ayer, dan orang Teochew di dekat kanal. Mereka berbicara bahasa yang berbeda tetapi membangun dunia yang sama: kuil, pasar, toko obat dan warung mi.

Keajaiban itu hilang.

Aku kembali ke jalan yang sama, tetapi rasanya lebih utuh, berlapis-lapis. Selama beberapa dekade, restorasi yang cermat telah menghidupkan kembali bangunan-bangunan bersejarah di distrik terbesar Singapura ini.

Penjual ramuan tradisional, pedagang makanan laut kering, toko balsam, dan pembuat bingkai terus berdagang di samping kafe-kafe keren, restoran berdesain modern, dan ruang-ruang yang dialihfungsikan dengan cerdas.

Aku terpesona oleh perpaduan tekstur memori dan penemuan kembali ini. Sebuah lingkungan yang terus bergerak, sambil tetap memegang teguh akarnya.

Dinding dengan Cerita

Aku melihat sebuah gang samping dengan mural seukuran aslinya yang menggambarkan penjual makanan kaki lima dan masuk ke dalamnya.

Seorang pria menyendokkan mi yang mengepul ke dalam mangkuk sementara yang lain mengipasi panggangan arang. Dinding lain menampilkan penjual ikan dengan tangkapan berskala perak dan penjual sayuran dengan keranjang yang meluap.

Ini membuat ketagihan. Aku mulai mencarinya, satu per satu.Ada satu dengan tukang sepatu yang membungkuk di atas peralatannya, di samping penjual porselen yang dikelilingi oleh barang-barang berwarna biru-putih.

Di dinding lain, pagoda menjulang di atas awan yang dilukis, dan ratu berjubah melayang melalui lanskap impian. Aku menikmati para wanita Samsui, penjual boneka, penulis surat, dan penampil opera yang diabadikan di dinding oleh seniman Yip Yew Chong, dari masa kecilnya di daerah itu selama tahun 1970-an dan ’80-an.

Tetapi lukisan anak-anak yang bermain papan di balik jendela rumah memikatku. Terlihat begitu tiga dimensi, aku mengulurkan tangan, setengah berharap jariku bisa merasakan lipatan gorden, kemeja di gantungan, keranjang anyaman di lantai.

Pada saat itu, aku menyadari bahwa ini adalah selimut budaya dari memori Pecinan yang luput dari celah-celah sejarah. Melalui semua tempat Instagrammable di Singapura, aku berhasil membenamkan diri dalam tekstur hidup sebuah distrik yang menolak untuk melupakan dirinya sendiri.

Mozaik Kehidupan

Kuil Buddha Tooth Relic menjulang dalam tingkatan merah tua, finial emasnya menangkap cahaya pagi seperti ujung api. Di tengah mantra yang diucapkan dengan berbisik dan kibasan bendera doa, aku sejenak berada di antara dupa dan keheningan.

Beberapa langkah dari situ, sebuah tanda lapuk di pintu masuk Nanyang Old Coffee menguraikan ritual kopi Singapura. Mudah untuk menyerah pada godaan museum kopi yang unik.

Di dalam, botol kaca coklat berjejer di dinding, dan kipas langit-langit berputar lambat. Staf dengan polo merah meluncur diam-diam di antara meja, menyeimbangkan piring roti panggang kaya dan telur rebus setengah matang.

Kopi o kosong-ku tiba dalam cangkir porselen tebal dengan tepi bunga hijau. Ini bukan tempat untuk kopi dibawa pulang. Aku berlama-lama.

Di luar, jalan berubah lagi. Di bawah naungan halaman tertutup, sepasang pria tua dengan penuh perhatian membungkuk di atas catur Tiongkok. Jari-jari melayang di udara, tergantung dalam kalkulasi memori.

Ekspresi tidak terbaca tetapi intens dalam konsentrasi. Setiap gerakan membawa beban latihan. Orang yang lewat menonton dengan terpukau. Ini juga sebuah ritual.
Kemudian, warna dan kekacauan kembali membanjiri.

Kios-kios yang penuh dengan sandal bersulam, kipas sutra, gelang giok, dan patung Buddha yang tertawa. Seorang penjual durian mengupas buah berduri itu dengan presisi bedah.

Aku mengikuti aroma teratai manis dan wijen panggang ke toko roti tempat kue bulan dikemas dalam kotak pernis merah yang berkilauan. Apakah ini kekacauan yang dikurasi atau potongan melintang dari budaya? Apa pun itu, ini adalah perjalanan yang menarik ke Pecinan Singapura.

Mengunjungi Pecinan Singapura? Detail Penting

Kapan harus berkunjung: Waktu terbaik untuk menjelajahi Pecinan adalah pagi hari atau sore hari, ketika cahaya lembut dan keramaian lebih sedikit.

Untuk pengalaman budaya yang lebih dalam, pertimbangkan untuk berkunjung saat Tahun Baru Imlek untuk melihat lampion yang bersinar, tarian singa, dan pasar meriah.

Selama Festival Pertengahan Musim Gugur, kue bulan memenuhi jendela toko roti, dan pajangan lampion menerangi malam. Untuk detail lebih lanjut, lihat panduan komprehensif kami tentang waktu terbaik untuk mengunjungi Singapura.

Cara menuju: Pecinan mudah diakses melalui sistem MRT Singapura yang efisien. Cukup turun di Stasiun Chinatown, dan Anda akan berada tepat di jantung aktivitas. Taksi juga tersedia banyak.

Atraksi utama: Pesona berlapis Pecinan terletak pada kontrasnya. Jelajahi Kuil Buddha Tooth Relic untuk arsitektur yang terinspirasi dari Dinasti Tang.

Tepat di sudut, Anda bisa masuk ke Kuil Sri Mariamman, kuil Hindu tertua di Singapura. Chinatown Heritage Centre menghidupkan kisah migran melalui pameran yang mendalam.

Terapi belanja: Berbelanja di Pecinan lebih dari sekadar membeli souvenir, tapi juga tentang cerita. Berjalan-jalan di Pagoda Street untuk mencari jubah sutra, gulungan kaligrafi, dan lampion kertas, atau berburu porselen antik dan pernak-pernik vintage di Temple Street.

Chinatown Street Market sangat bagus untuk mendapatkan kipas yang dilukis tangan, obat herbal, dan barang-barang unik. Di pusat perbelanjaan seperti Chinatown Point dan People’s Park Complex, Anda bisa menemukan segalanya mulai dari perhiasan giok hingga busana modern di bawah satu atap.

Restoran dan kafe yang wajib dicoba: Baik duduk di warung makan yang ramai atau kafe terpencil, Pecinan adalah pesta untuk indra. Mulailah dengan keranjang dim sum yang mengepul di Yum Cha.

Di Maxwell Food Centre, desisan wajan dan aroma bawang putih akan menarik Anda ke hidangan favorit seperti char kway teow dan nasi ayam Hainan. Para tradisionalis akan menyukai racikan kopi yang kuat di Singapore Coffee Museum, sementara Nanyang Old Coffee menawarkan perpaduan nostalgia dengan suasana kontemporer.

Tips untuk Orang yang Mengunjungi Pecinan, Singapura

•Kenakan sepatu paling nyaman Anda untuk berjalan-jalan di sekitar Pecinan.

•Pagi hari sangat cocok untuk menangkap cahaya pada fasad ruko, sementara malam hari menghadiahi Anda dengan jalan-jalan yang diterangi lampion.

•Aku selalu membawa uang tunai untuk warung makan, meskipun sebagian besar tempat menerima kartu.

•Dan jangan hanya terpaku pada jalan utama. Beberapa penemuan favoritku, mulai dari toko teh hingga mural, tersembunyi di gang-gang sempit.

Pariwisata Pattaya Menghadapi Hambatan Meskipun Jumlah Turis Nasional Thailand Meroket

this formate

BANGKOK, bisniswisata.co.id : Ledakan pariwisata Thailand memang tidak terbantahkan, namun Pattaya masih berjuang untuk mengejar ketertinggalan.

Lebih dari 20 juta wisatawan telah datang ke negara itu sepanjang delapan bulan pertama tahun 2025, tetapi kota pantai ini tidak menikmati laju pemulihan yang sama, dengan jumlah kedatangan yang masih tertinggal di belakang tempat-tempat populer lainnya.

Dilansir dari www.travelandtourworld.com, Kementerian Pariwisata dan Olahraga baru-baru ini melaporkan 20.197.119 kedatangan hingga Agustus 2025, menghasilkan perkiraan pendapatan pariwisata sebesar 937,65 miliar baht, atau sekitar USD 26 miliar.

Jumlah terbesar berasal dari Tiongkok, Malaysia, India, Rusia, dan Korea Selatan, dengan Tiongkok kembali memimpin dengan hampir 2,8 juta kedatangan.

Cerminan lebih dekat dari data menunjukkan pertumbuhan dari banyak pasar, terutama selama musim panas dan sekitar hari libur nasional Jepang; pengunjung dari sana naik sebesar 86,33 persen.

Bahkan pasar jarak jauh seperti Israel mencatat lebih banyak kedatangan, karena beberapa wisatawan memperpanjang masa tinggal mereka setelah ziarah keagamaan. Namun, Pattaya, yang biasanya memanfaatkan gelombang pariwisata nasional, belum banyak menangkap lonjakan ini.

Tantangan yang Mempengaruhi Pariwisata Pattaya

Meskipun terjadi pertumbuhan jumlah wisatawan internasional di seluruh negeri, Pattaya telah menghadapi beberapa hambatan. Para ahli menunjuk pada faktor-faktor seperti meningkatnya biaya perjalanan, persaingan yang tumbuh dari resor pantai lainnya, dan persepsi tentang komersialisasi yang berlebihan.

Sementara destinasi seperti Phuket dan Krabi mengalami pertumbuhan yang kuat, daya tarik Pattaya telah berkurang jika dibandingkan.

Selain itu, reputasi kota yang sangat dikomersialkan telah membuat beberapa wisatawan enggan, dan lebih memilih destinasi yang lebih tenang dan santai.

Bisnis lokal di Pattaya telah menyatakan kekhawatiran tentang tren ini, karena mereka berjuang untuk memenuhi harapan selama periode pariwisata nasional yang tinggi.

Pertumbuhan di Seluruh Negeri, tetapi Pattaya Tertinggal

Tren nasional yang lebih luas menunjukkan pemulihan yang kuat. Minggu lalu saja, 627.339 wisatawan tiba di Thailand, mewakili peningkatan 7,08 persen dari minggu sebelumnya.

Rata-rata harian pengunjung asing naik menjadi 89.620, didorong oleh peningkatan kedatangan dari Tiongkok, Malaysia, dan Jepang.

Namun, Pattaya telah melihat pemulihan yang lebih lambat. Meskipun kota ini terus menarik pengunjung, pemulihannya tidak sebanding dengan destinasi populer lainnya di Thailand, membuat banyak orang di sektor pariwisata lokal merasa waspada.

Meskipun Pattaya masih tergolong sebagai destinasi wisata utama, jelas bahwa strategi promosi yang lebih kuat dan lebih terarah diperlukan untuk menangkap minat internasional yang terus tumbuh di kawasan ini.

Antisipasi Stabilisasi Jumlah Pengunjung
Pihak berwenang optimis bahwa pariwisata Pattaya akan stabil seiring dengan terus tumbuhnya perjalanan internasional.

Dengan adanya liburan sekolah yang akan datang di Eropa dan Asia Timur, ada ekspektasi bahwa Pattaya akan melihat peningkatan jumlah pengunjung, terutama dengan adanya kampanye Amazing Thailand Grand Tourism and Sports Year 2025 yang sedang berlangsung.

Selain itu, insentif pemerintah bagi maskapai penerbangan untuk memperluas kapasitas penerbangan dan penangguhan formulir imigrasi TM6 kemungkinan akan permudah proses perjalanan, menarik lebih banyak wisatawan internasional ke Pattaya dan bagian lain Thailand. Upaya -upaya ini dirancang untuk mendukung pariwisata di seluruh negeri, termasuk Pattaya.

Fokus pada Promosi yang Ditargetkan untuk Pertumbuhan Pattaya

Meskipun menghadapi kesulitan yang sedang berlangsung, Pattaya masih menjadi pemain utama dalam kisah kebangkitan pariwisata Thailand.

Operator lokal berfokus pada penyajian pengalaman yang benar-benar unik dan meningkatkan kualitas layanan agar kota ini menonjol dari kelompok resor pantai Thailand lainnya.

Dengan membuat perjalanan pengunjung menjadi lebih baik, dan dengan menampilkan budaya yang kaya serta daya tarik alam yang indah, Pattaya dapat menarik audiens yang lebih luas.

Agar Pattaya dapat pulih sepenuhnya, kota ini harus terus selaras dengan keinginan wisatawan yang berubah, menjaga harga tetap wajar, dan membuat transportasi yang sudah baik menjadi lebih baik lagi.

Meskipun destinasi lain berjuang keras untuk mendapatkan perhatian, Pattaya memiliki kartu trufnya sendiri yang beragam dan menarik untuk dimainkan, dan dorongan pemasaran yang terencana dengan baik bisa segera mengembalikannya ke jajaran terdepan dari tempat wisata yang wajib dikunjungi di Thailand.

Situs Jalur Ho Chi Minh Laos dan Vietnam: Perjalanan Warisan Nasional bagi Pelancong Budaya

this formate

VIENTIANE, bisniswisata.co id: Laos telah memberikan status warisan nasional untuk situs-situs penting di sepanjang Jalur Ho Chi Minh. Hal ini dilakukan untuk mengakui nilai sejarah dan budaya yang mendalam bagi Laos dan Vietnam.

Pengakuan ini membuka kesempatan bagi para wisatawan untuk menjelajahi momen penting dalam sejarah Asia Tenggara sambil menikmati keindahan alam di area tersebut.

Situs warisan baru di Laos tingkatkan pengalaman perjalanan. Pada tanggal 22 Agustus 2025, sebuah upacara di General Club Kementerian Pertahanan Nasional di Vientiane mengumumkan status warisan nasional ini.

Wakil Menteri Vongsone Inpanphim membagikan hasil survei bersama Laos – Vietnam yang dimulai pada akhir tahun 2023. Tim survei ini memetakan jalur-jalur penting dari Jalur Ho Chi Minh yang melintasi Bolikhamxay, Khammouane, Savannakhet, Salavan, Sekong, Champasak, dan Attapeu.

Secara total, 18 lokasi diidentifikasi sebagai bagian integral dari Jalur Ho Chi Minh dan perannya dalam konflik Indocina. Pengakuan ini menyoroti pentingnya jalur yang pernah menjadi rute pasokan militer vital, serta simbol persatuan dan ketahanan bagi rakyat Laos, Vietnam, dan Kamboja.

Perkembangan ini juga memberikan kesempatan menarik bagi wisatawan yang tertarik pada sejarah, budaya, dan wisata perang.

Sebagai hasil dari kerja sama yang erat antara Laos dan Vietnam, Vietnam menerbitkan buku yang merinci peninggalan Jalur Ho Chi Minh dalam bahasa Vietnam dan Lao. Selain itu, Laos merilis 18 publikasi yang mencakup buku sejarah, koleksi foto, dan peta jalur, yang semuanya akan membantu wisatawan lebih memahami signifikansi setiap situs.

Jalur Ho Chi Minh sebagai Simbol Persatuan Vietnam-Laos

Jalur Ho Chi Minh lebih dari sekadar rute militer. Jalur ini merupakan simbol kerja sama dan solidaritas yang tak lekang oleh waktu antara Laos dan Vietnam selama Perang Indocina.

Pengakuan ini tidak hanya menghormati makna militer dan sejarah, tetapi juga menekankan signifikansi budayanya, menyoroti persatuan antara kedua negara.

Bagi mereka yang mengunjungi Laos, Jalur Ho Chi Minh menawarkan lebih dari sekadar landmark bersejarah; ini adalah kesempatan untuk terhubung dengan cerita-cerita mereka yang berjuang demi kemerdekaan dan solidaritas.

Pengakuan jalur ini sebagai warisan nasional memastikan situs-situs ini akan dilestarikan untuk generasi mendatang, menjadikannya bagian penting dari setiap penjelajahan wisatawan di Asia Tenggara.

Pelestarian Sejarah untuk Generasi Mendatang dan Wisatawan

Pada tahun 2024, sebuah komite bersama dibentuk antara Kementerian Pertahanan Nasional Laos dan Vietnam untuk mengawasi upaya survei dan pelestarian situs Jalur Ho Chi Minh.

Kolaborasi ini menekankan pentingnya menjaga lokasi bersejarah ini sambil membuatnya dapat diakses oleh wisatawan.
Para wisatawan yang mengunjungi area ini dapat mengharapkan tour berpemandu, pameran sejarah, dan program budaya yang memberikan wawasan lebih dalam tentang peran jalur ini dalam sejarah modern Asia Tenggara.

Melalui koleksi foto atau plakat informasi di lokasi, wisatawan akan memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan masa lalu secara berarti. Laos, yang sudah menjadi destinasi yang sedang berkembang untuk wisata budaya, kini menjadi tempat yang wajib dikunjungi bagi mereka yang tertarik pada sejarah Perang Vietnam dan konflik Indocina yang lebih luas.

Kebangkitan Kelas Menengah Asia dan Artinya bagi Tren Perjalanan Global

this formate

Oleh : Andrew Smith, Senior Vice President, Supply, Agoda

SELANGOR, M’sia, bisniswisata.co.id : Kisah perjalanan global dalam dekade berikutnya akan tertulis di Asia. Dengan lebih dari 2 miliar konsumen kelas menengah dan proyeksi McKinsey & Company bahwa dua pertiga dari kelas menengah dunia akan tinggal di Asia pada tahun 2030. Wilayah ini membentuk kembali permintaan global.

Dilansir dari www.businesstoday.com.my, India, misalnya, diproyeksikan akan menyumbang lebih dari 20 juta individu kelas menengah baru dalam lima tahun ke depan menurut Forbes India, memicu meningkatnya selera untuk perjalanan internasional.

Seiring meningkatnya pendapatan yang membuka daya beli baru di seluruh pasar, skala dan dampak wisatawan Asia yang bepergian ke luar negeri akan menjadi belum pernah terjadi sebelumnya.

Ini bukan hanya soal volume, tapi juga soal ekspektasi. Gelombang baru wisatawan ini akan menuntut keterjangkauan dan aspirasi: proses pemesanan yang mulus, kenyamanan yang berpadu dengan relevansi budaya, serta pengalaman otentik yang terasa layak untuk dibagikan.

Bagi penyedia akomodasi di seluruh Asia, ini adalah momen sekali dalam satu generasi untuk membentuk loyalitas dengan basis pelanggan yang paling cepat tumbuh di wilayah ini.

Menciptakan Perjalanan untuk Wisatawan yang Mengutamakan Pengalaman
Wisatawan Asia masa kini menulis ulang aturan perjalanan, bergerak melampaui tempat-tempat wisata utama.

Menurut laporan Adventure Travel Trade Association (ATTA), mereka semakin mencari variasi, petualangan, dan pengalaman yang lebih kaya, bukan lagi sekadar liburan pantai satu minggu.

Pergeseran ini dipercepat oleh konektivitas udara yang lebih baik dan munculnya wisatawan Gen Z dan Milenial yang lebih tertarik pada pengalaman perjalanan berbasis petualangan.

Perilaku ini juga mendorong permintaan untuk perjalanan yang lebih terhubung, termasuk kemampuan mulus untuk memesan penerbangan, hotel, aktivitas, bahkan restoran dalam satu platform.

Hotel yang berkolaborasi—dengan menggabungkan dengan atraksi lokal, menawarkan transfer bandara, atau mengemas rencana perjalanan dengan multi-penginapan—akan dapat menangkap pangsa belanja wisatawan yang lebih besar.

Di wilayah di mana kenyamanan dan pilihan adalah yang utama, pemenangnya adalah mereka yang membuat perjalanan yang kompleks terasa mudah.

Kenyamanan dan Keaslian Membentuk Pondasi Loyalitas Tamu

Memenangkan loyalitas wisatawan kelas menengah Asia butuhkan keseimbangan antara kenyamanan dan keaslian. Kenyamanan datang dari sentuhan yang familiar—pilihan sarapan yang disesuaikan dengan kebutuhan diet, staf multibahasa, atau fasilitas ramah keluarga.

Keaslian datang dari penawaran yang membuat masa menginap berkesan: tur makanan di lingkungan sekitar, rute pendakian tersembunyi, atau kemitraan dengan seniman lokal. Gerakan penuh perhatian ini tidak hanya meningkatkan pengalaman; mereka menciptakan cerita yang layak dibagikan.

Di era di mana wisatawan yang makmur semakin mengandalkan media sosial untuk membentuk pilihan mereka, cerita-cerita ini telah menjadi pendorong loyalitas utama.

Faktanya, sebuah studi Skift menemukan bahwa 57% dari wisatawan Gen Z dan Milenial mengandalkan media sosial sebagai bagian penting dari perencanaan perjalanan mereka.

Memaksimalkan Pendapatan melalui Wawasan Berbasis Data

Bisnis perhotelan yang sukses mendapatkan keunggulan kompetitif melalui analisis data untuk memberikan personalisasi tingkat tinggi.

Di Agoda, kami melihat bagaimana sinyal permintaan dapat bergeser dengan cepat. Contohnya, menjelang liburan Idul Fitri, pencarian akomodasi dari wisatawan di Malaysia, Indonesia, dan Singapura mengalami peningkatan 80% dari bulan ke bulan, dengan Jepang, Thailand, dan Korea Selatan muncul sebagai destinasi utama.

Beberapa pemilik hotel yang mengantisipasi permintaan ini menggunakan wawasan data historis untuk beradaptasi dengan cepat dengan meluncurkan paket liburan panjang yang ditargetkan, menawarkan check-in fleksibel, dan menyediakan fasilitas khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan tamu.

Ini hanyalah salah satu dari banyak contoh tentang bagaimana data dapat memandu tindakan kecil namun bermakna yang membuat tamu merasa dipahami dan dihargai, membantu pemilik hotel memenuhi kebutuhan unik dari segmen wisatawan yang berbeda dalam kelas menengah Asia yang sedang tumbuh.

Dan ini penting karena kelas menengah Asia yang sedang bangkit bukanlah segmen yang seragam, melainkan kumpulan dari budaya dan preferensi perjalanan yang beragam.

Data membantu hotel bergerak melampaui pendekatan satu-untuk-semua (one-size-fits-all), memungkinkan mereka untuk bertemu wisatawan dengan cara mereka sendiri, baik itu keluarga yang mencari kamar terhubung atau penjelajah Gen Z yang mengejar kehidupan malam.

Gerakan kecil ini, rekomendasi yang disesuaikan, dan komitmen tulus untuk membuat tamu merasa dihargai dapat mengubah pengunjung pertama kali menjadi pendukung seumur hidup.

Untuk basis wisatawan kelas menengah yang sedang tumbuh ini, loyalitas didapatkan melalui personalisasi yang bijaksana dan layanan yang mulus. Di pasar saat ini, kemampuan untuk dengan cepat memahami dan menanggapi preferensi tamu sangat penting untuk memenuhi kebutuhan mereka dan membangun nilai yang langgeng.

Apa Artinya Ini bagi Mitra Perhotelan

Kelas menengah Asia yang berkembang mendorong pergeseran mendasar dalam lanskap perjalanan. Dengan daya beli yang lebih besar, selera yang berubah, dan preferensi untuk kenyamanan digital, para wisatawan ini meningkatkan standar untuk apa yang mereka harapkan dari perjalanan mereka.

Hotel yang merangkul platform perjalanan terhubung dapat memberikan sentuhan budaya yang familiar dengan cara yang mulus, sambil menciptakan pengalaman lokal yang otentik dan menggunakan data untuk mempersonalisasi setiap masa menginap.

Mereka yang melakukannya akan berada di posisi yang baik untuk menangkap momentum ini. Kesuksesan di wilayah ini melampaui tingkat hunian; ini tentang membangun fondasi untuk pertumbuhan jangka panjang.

Hotel yang bertindak sekarang untuk memahami dan melayani kelas menengah Asia yang tumbuh pesat akan membantu membentuk masa depan perjalanan, menetapkan standar baru untuk industri di seluruh dunia.

WITEX 2025 Berakhir, KTT Roundtable Sepakat Isi Peluang dan Investasi Bersama.

this formate

BANDAR SUNWAY, KL, bisniswisata.co.id: World Islamic Tourism & Trade Expo (WITEX 2025) yang berlangsung selama 3 hari resmi berakhir hari Minggu di Sunway Resort Hotel, Minggu diisi dengan Roundtable Meeting para CEO dan media internasional.

Konferensi Roundtable WITEX ini membahas peluang-peluang kerjasama yang konkrit di dunia Islam. Sapta Nirwandar, Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center ( IHLC) misalnya mengusulkan pada forum terutama pada Dr Azmil Munif Bin Mohd Bukhari, Lembaga Pembangunan Langkawi untuk saling menarik wisatawan RI-Malaysia terutama pada Visit Malaysia Year 2026.

“ Langkawi seperti Balinya Indonesia maka cocok sekali untuk menjaring wisatawan RI dari Sumatra Barat, Medan, Riau untuk datang begitu juga sebaliknya, wisatawan Makaysia dapat meningkatkan kunjungan ke Sumbar, lihat pacu jalur yang mendunia di Riau dan banyak lagi,” kata Sapta Nirwandar.

Langkawi cocok untuk destinasi halal tourism karena kaya dengan keindahan alami dan legenda masa silam ini telah menampilkan diri sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang paling populer di Malaysia. Geopark, cable car dan sport tourism juga menjadi andalan.

Pulau Langkawi, yang sering disebut sebagai “Permata Kedah”, merupakan salah satu destinasi paling mempesona di Malaysia, yang terkenal karena pemandangan alamnya yang memukau, warisan budaya yang semarak, dan kemewahannya.

Terletak di perairan Laut Andaman yang sebening kristal, Langkawi merupakan bagian dari kepulauan yang terdiri dari 99 pulau, masing-masing menawarkan pesona dan daya tariknya yang unik.

Di Langkawi, Malaysia memperkenalkan visinya untuk menjadi destinasi wisata Islam dan ekowisata unggulan dalam program Visit Malaysia Year 2026.

Berakhirnya ajang berskala internasional WITEX 2025 menandai tonggak penting dalam memposisikan Malaysia sebagai pusat global untuk pariwisata, budaya, perdagangan, dan investasi Islam yang dihadiri sedikitnya 12 negara terutama dari Asia Tengah seperti Uzbekistan, Kazakhstan, Azerbaijan.

Salah satu sorotan utama dari program tahun ini adalah mempertemukan para pemimpin industri, CEO dan pembuat kebijakan untuk mengeksplorasi strategi kolaboratif bagi pertumbuhan pariwisata Islam serta peluang perdagangan berkelanjutan.

Oleh karena itu Dato’ Sri Dr. Mohd Khalid Harun, Presiden Asosiasi Agen Tur & Perjalanan Malaysia (MATA) sebagai penyelenggara dan Ketua WITEX & WCAF 2025, menekankan dari awal pembukaan pada 22 Agustus lalu para CEO tak hanya sekadar diskusi melainkan membentuk masa depan pariwisata Islam dan memposisikannya sebagai mesin penggerak yang kuat bagi perkembangan ekonomi dan budaya global.

“Dengan meningkatnya permintaan wisata halal dan pasar wisata Muslim global yang diperkirakan mencapai US$300 miliar pada tahun 2030, KTT ini membuka jalan bagi kemitraan yang berdampak dan kemakmuran bersama,” jelasnya.

Perhelatan yang berlangsung di hotel mewah Sunway Resort Hotel dihadiri pula Nazli Ahmad yang mewakili CEO Alex Castaldi dari Sunway Hospitality. Dia mengungkapkan strategi branding dan positioning hotel sebagai destinasi halal tourism atau di Malaysia di sebut Islamic Tourism.

“ Disini branding kami adalah Integrated City dan dari Sunway Resort, Sunway Pyramid serta Sunway Lagoon sudah 1500 kamar & suites dengan kapasitas parkir hingga 9000 mobil. Ada tempat leisure yg sudah bersertifikat halal dan family friendly,” kata Nazli Ahmad.

Kawasan Bandar Sunway memang terintegrasi semua, depan hotel Sunway Hospitality Grup, ada hotel-hotel kecil yang tarifnya sangat terjangkau, jejeran resto, pertokoan bahkan mall, ada Medical Centre dengan jumlah tempat tidur capai 1000 unit, Sunway University dan international Schools dengan 23.000 pelajar, ada Convention Centres dan 60 an Venues untuk kegiatan bisnis MICE.

“ Bayangkan kalau kawasan Nusa Dua Bali bisa dipersiapkan dari awal sebagai integrated City seperti Sunway, mau yang mewah ada, yang harga terjangkau juga banyak,” kata Sapta Nirwandar.

Pada hari terakhir acara, ditampilkan berbagai presentasi menarik mengenai pariwisata Islam yang berfokus pada peluang, tantangan dan kisah sukses dari seluruh dunia. Dari Uzbekistan menyoroti warisan Jalur Sutranya sebagai magnet bagi wisata ramah muslim.

Negara Zambia memamerkan peluang investasi pariwisatanya, memposisikan dirinya sebagai garda terdepan baru Afrika untuk pariwisata Islam berkelanjutan dan infrastruktur perhotelan halal.

Lalu negara Kamboja mempromosikan situs bersejarahnya dengan layanan perhotelan halal yang ditingkatkan. Sementara itu, di negara Azerbaijan mempromosikan tentang destinasi kaya budaya dan warisan dengan infrastruktur ramah muslim.

Acara puncak World Cultural & Arts Festival (WCAF 2025) yang pertama di Sunway Resort berlangsung Senin Malam ini ( 25/8/2025).WCAF 2025 memamerkan kekayaan warisan global melalui pertunjukan, pengalaman kuliner dan pameran seni yang memperkuat komitmen Malaysia terhadap diplomasi budaya dan ekonomi kreatif.

Desainer kenamaan asal Sumbar, Emi Arlin akan membuka fashion show bertajuk AMARANGGANA diambil dari bahasa Sanksekerta yang berarti bidadari, menggambarkan kecantikan dan keindahan. Namun kecantikan yang berkarakter. Selain itu juga hadir penyanyi asal Sumbar pula, penampilan istimewa Vanny Vabiola, yang dikenal sebagai Celine Dion of West Sumatera, melalui lantunan suara merdunya.

Keberhasilan WITEX & WCAF 2025 dimungkinkan berkat dukungan dari Kementerian Pariwisata, Seni, dan Budaya (MOTAC), MyCEB, Batik Air, Etiqa Takaful, Tourism Selangor dan berbagai mitra internasional.

Pameran dan festival ini menjadi pembuka program Visit Selangor Year 2025 dan Visit Malaysia Year 2026 yang memperkuat peran Malaysia sebagai pemimpin dalam pariwisata Islam serta titik temu global budaya, seni dan perdagangan kata Dato’ Sri Dr. Mohd Khalid Harun

Rendang Mamaden, Olahan Rumahan Kualitas Global

this formate

Rahma Dheni Surya, S.Pd atau Mamaden

BANDAR SUNWAY, KL,bisniswisata.co.id
Senyumnya mengembang, menyambut pengunjung WITEX 2025 di lantai 15, Sunway Resort di Selangor, Kuala Lumpur. Wajahnya yang glowing, putih dan bebas dari permasalahan kulit.

Soalnya produk yang dibawanya pada expo perdagangan di dunia Islam yang ada di hadapannya adalah Rendang Mamaden. Apalagi Rahma Dheni Surya, S.Pd atau Mamaden ini sudah bercerita bahwa untuk produk andalannya, dia memasak sendiri mulai dari meracik bumbu hingga memasaknya.

“ Ada asisten juga tapi hanya bagian mengaduk-aduk agar rendangnya matang secara merata,” kata Mamaden singkat.

Ibu empat anak ini seperti ibu rumah tangga lainnya mengaku memang senang memasak buat suami tercinta dan dua pasang anaknya yang dua lelaki dan dua perempuan. Mereka kerap meminta ibundanya masak Rendang, Gulai ikan dan Daging asam padeh.

Waktu kecil, ungkapnya, Dheni yang menjadi anak seorang kepala daerah pertama di Pariaman, Sumbar suka membantu ibunya menyiapkan beragam masakan di dapur. Maklum ayahnya yang memiliki jabatan tinggi kerap harus menjamu tamu-tamu penting di rumah dinas dan saat itu bisnis catering belum ada hingga ibundanya banyak habiskan waktu di dapur dan ke pasar.

Dheni kecil suka mengantar ibu ke pasar, masak di dapur sehingga pulang dari pasarpun meski baru kelas 3 SD dia sudah mampu membersihkan ikan, memotong sayuran dengan baik dan pekerjaan lainnya.

“ Biasanya saya yang pilih sendiri dari tas keranjang ibu mau membantu apa, termasuk bersihkan ikan tadi,” katanya.

Setelah menjadi sarjana dan tenaga pendidik, mama Den yang disekolahnya kerap dipanggil Bukden, maksudnya bu guru Dheni, suka membawa makan siang dengan lauk yang dibuatnya sendiri. ” Umumnya anak didik dan kolega yang ikut mencicipi makanan saya berkomentar bahwa makanannya enak dan rendangnya yang berwarna coklat jadi favorit,” tuturnya.

Tahun 2019 akhir ketika pandemi global COVID 19 datang, tiga anaknya yang kuliah di Jakarta minta kiriman rendang sekaligus berjualan untuk pemasukan mereka di perantauan. Alhasil tiap bulan Mamaden bisa mengirim 100 kg dari dapur rumahnya ke Jakarta dan kota lainnya dari jaringan anak-anaknya sendiri.

“ Selain tidak terlalu pedas, warna rendangnya juga coklat berminyak dan disukai anak milenial maupun gen Z sehingga saya langsung belajar bagaimana kemasannya, tekhnik tahan lama dan strategi lainnya,”

Dia tidak gentar untuk memulai usaha kemasan rendangnya sendiri meskipun se Sumatra Barat sudah banyak yang berjualan rendang. Namun karena ada 19 kabupaten/ kota di provinsi Sumbar ini dan cara pembuatan rendangnya juga berbeda-beda maka Mamaden terus produksi dan berkembang sehingga saat ini menembus pasar mancanegara.

Sebelum ke  Kuala Lumpur, dia juga ikut rombongan Indonesia Halal Lifestyle Center       ( IHLC) pimpinan Sapta Nirwandar ke negara-negara di Asia Tengah. Dia juga diundang oleh Pegadaian untuk ikut program Gadepreneur sehingga tahun 2025 ini kesibukannya bertambah.

 

Hobby Membawa Berkah

Seperti ayahnya yang seorang kepala daerah, suami Mamaden sebagai Aparatur Sipil Negara ( ASN) juga memegang jabatan sebagai Kepala Dinas Dispora dan instansi negara lainnya dan terakhir menjadi kepala Balitbang.

“ Suami sempat khawatir saya akan kecapean mengurus bisnis. Tapi saya bilang dari kecil memang sudah suka masak kue-kue dan makanan enak jadi saya melakukan hal yang saya sukai. Don’t worry be happy dong,” tegasnya.

Rahma Dheni Surya, seorang perempuan kelahiran Lubuk Alung pada 11 November 1970, adalah sosok yang dikenal sebagai guru sekaligus pelaku usaha kuliner rendang.

Sejak tahun 2000, ia memulai kariernya sebagai pendidik di salah satu SMA Negeri di kota Padang. Dedikasinya dalam dunia pendidikan tidak pernah surut, namun di balik profesinya

Sebagai seorang guru, ada pula keinginan besar yang tumbuh sejak kecil, yaitu memasak dan senang mencoba resep-resep baru. Dia juga kerap membagikan hasil masakannya kepada teman- teman terdekat. Tidak jarang dia membagikan resep andalannya untuk teman-teman yang sedang berjuang untuk membuka usaha restoran.

Melihat kecintaannya yang begitu dalam terhadap dunia kuliner, banyak teman dan kerabat yang mendorongnya untuk membuka
usahanya sendiri. Akhirnya, pada tahun 2020, ia memberanikan diri untuk memulai usaha kuliner kecil-kecilan dengan mengandalkan hidangan yang telah lama menjadi kebanggaannya yaitu rendang.

Mamaden memulai usaha ini dengan sederhana, membagikan tester rendang buatannya kepada teman-teman, mendengarkan masukan, lalu mulai menjual secara perlahan lewat promosi dari mulut ke mulut (Word of Mouth). Menantunya Bobby yang memberikan masukan untuk memakai nama sendiri sebagai brand sehingga jadilah brand  ” Mamaden”. ungkapnya.

Respons yang positif membuatnya semakin yakin. Tak lama kemudian, ia memanfaatkan media sosial, terutama instagram, untuk menjangkau lebih banyak pelanggan. Dari sinilah bisnis rendangnya berkembang dan mulai dikenal luas dengan nama “Rendang Mamaden”.

Rendang Mamaden memiliki cita rasa yang khas dan membedakannya dari rendang pada umumnya. Ciri khasnya terletak pada warna coklat kehitaman, tekstur daging yang empuk, bumbu yang tidak terlalu basah, dan aroma harum yang menggoda selera.

Setiap orang yang mencicipinya tidak jarang untuk kembali memesan. Karena rasanya yang istimewa dan tahan lama, Rendang Mamaden kini sering dijadikan sebagai oleh-oleh khas Padang dan hadiah untuk keluarga dan kolega, bahkan dibawa ke luar negeri.

Kini, Rahma Dheni Surya bukan hanya sebagai seorang guru yang penuh dedikasi, tetapi juga sebagai pelaku usaha kuliner yang menyalurkan hobinya menjadi bisnis yang bermanfaat. Perjalanannya adalah contoh nyata bahwa seseorang bisa tetap mencintai profesinya, sekaligus mengembangkan potensi diri di bidang lain.

“ Jangan pernah memulai usaha yang tidak kita sukai alias karena terpaksa. Apapun yang kita lakukan sebisa mungkin adalah yang menjadi passion kita sehingga membuatnya dengan tingkat keikhlasan tinggi serta penuh suka cita,” pesannya.

Jika seseorang banyak berfikir dan menjadikan pekerjaan sehari-harinya adalah beban maka seluruh tubuhnya jadi sakit karena hidupnya tidak merasa bahagia. Yuk kita bahagia selalu dengan bergoyang lidah dengan rendang Mamaden, katanya berseloroh.

Emi Arlin, Perancang Busana Sumatra Barat Terus Menembus Pasar Dunia

this formate

Emi Arlin ( paling kiri) bersama Sapta Nirwandar Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center ( IHLC) dan rekan-rekan  UMKM Indonesia dari berbagai daerah di ajang WITEX & WCAF 2025, Malaysia.

BANDAR SUNWAY, Selangor,  Malaysia, bisniswisata.co.id: Berpindah dari satu event ke event yang lain di Asia Tengah seperti Bosnia, Sarajevo, Serbia, Biograd di medio akhir Juni lalu serta sukses menyabet penghargaan Rangkayo Award 2025, di Borobudur Hotel Jakarta, pada bulan Juli 2025 itulah sosok Emi Arlin.

Desainer Emi Arlin asal Sumatra Barat ini kembali mengukir prestasi dengan hadir di World Islamic Tourism & Trade Expo (WITEX 2025) Edisi ke-3 dan World Cultural & Arts Festival (WCAF 2025) yang pertama di Sunway Resort, Selangor, Malaysia.

Desainer yang terkenal melalui berbagai koleksi busana yang mengangkat berbagai kerajinan – kerajinan di Sumatera barat seperti Sulaman, Tenun, Bordiran, Batik dan lain-lain ini pada 25 Agustus 2025 juga didaulat menggelar fashion show diacara World Cultural & Arts Festival (WCAF 2025) yang pertama di Sunway Resort, Selangor, Malaysia.

Acara dinner sekaligus pemberian penghargaan bagi insan industri dan pariwisata halal ini akan menjadi momentum bagi promosi pariwisata Sumatra Barat sebagai tujuan wisata halal di Indonesia pula.

Kehadiran Emi Arlin, pemilik Rumah Mode yang beralamat Jalan Beringin IV B No.19, Lolong Belanti, Kec. Padang Utara, Kota Padang ini memang sangat tepat menghadiri event dari dunia Islam yang dihadiri lebih dari 10 negara belum lagi negara-negara non Muslim seperti Zambia, Thailand, Kamboja yang jumlah warga Muslimnya terus melesat .

Emi Arlin adalah perancang busana Indonesia yang terkenal melalui berbagai koleksi busana yang mengangkat berbagai kerajinan  kerajinan di Sumatera Barat seperti Sulaman, Tenun, Batik, Bordir dan lain – lain.

Terinspirasi dari kekayaan budaya Sumatera Barat (Minangkabau) yang selama ini tidak banyak terekspose, maka Emi Arlin mencoba menemukan berbagai kekayaan Sumatera Barat yang dapat dituangkan kedalam desain batik, tenun dan sulaman.

Bersama mufti dari Rusia

Emi Arlin ( kir) di booth Indonesia 

Saat ini desain dari Emi Arlin tersebut telah mendapat pengesahan Hak Kekayaan Intelektual dari Kemenkum & HAM seperti Batik Motif Rumah Adat Kajang Padati Khas Kota Padang, Batik Motif Mesjid Raya Sumatera Barat dan Tenun Khas Kota Padang Motif Rumah Adat Kajang Padati

Tak heran Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) yang dipimpin Sapta Nirwandar terus memfasilitasinya untuk berkibar di dunia fashion Muslim dunia karena menurut IHLC, brand Emi Arlin adalah salah satu ikon modest fashion Indonesia yang potensial dan dikenal.

“Emi Arlin terkenal dengan karya-karya yang mengangkat budaya Minang secara elegan, hal ini memperkaya representasi Indonesia dalam fesyen muslimah yang modern, inklusif, dan berdaya saing global,” terang Sapta Nirwandar

Ditambahkan Sapta Nirwandar, IHLC sebagai mitra penyelenggara WITEX dan WCAF 2025 menilai event ini merupakan platform strategis berskala internasional untuk
mempromosikan produk fesyen brand Emi Arlin, karena dihadiri delegasi lebih dari 10 negara dan para Duta Besar Negara-Negara Sahabat di Kuala Lumpur juga hadir .

Diantaranya negara-negara peserta pameran dan konfrensi dengan basis muslim yang kuat, antara lain: Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, Tiongkok, Zambia, Vietnam, Thailand, Spanyol, Kazakhstan, Azerbaijan, dan Tajikistan. Sementara perwakilan Dubes ada dari Rusia, Zambia dan belasan negara yang membuka kantor diplomatik di Malaysia.

Emi Arlin mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan Indonesia Halal Lifestyle ( IHLC). Baginya WITEX dan WCAF 2025 ini merupakan momentum perayaan seni Islam sekaligus mempromosikan busana-busana ciptaannya sekaligus daerah asalnya Sumatra Barat sebagai tujuan pariwisata halal.