Museum Timah, Sayang Kunjungan Wisman Tiap Tahunnya Melemah

0
188
Museum Timah

PANGKALPINANG, bisniswisata.co.id: Museum Timah satu-satunya di Asia bahkan dunia, ternyata semakin dijauhi wisatawan mancanegara (wisman). Terbukti, jumlah kunjugan turis asing ke Museum yang berada di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, setiap tahunnya semakin merosot.

Sepanjang tahun 2018 tercatat sebanyak 276 orang asing. Jumlah kunjungan ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2017 mencapai 297 orang wisman. Tahun 2016, masih cukup tinggi sebanyak 342 pelancong asing yang rata-rata berasal dari Singapura, China, Jepang, Belanda dan negara lainnya.

“Memang grafiknya setiap tahunnya mengalami penurunan sejak dua tahun terakhir. Karena wisatawan asing yang berwisata di Pulau Bangka terus berkurang, sehingga mempengaruhi kunjungan ke museum Timah,” kata Kepala Museum Timah Indonesia Muhammad Taufik di Pangkalpinang, Sabtu (9/2/2019).

Taufik mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab penurunan kunjungan wisatawan asing ini ke Pulau Bangka, termasuk ke Museum Timah. Namun demikian, pihaknya tetap optimistis pengunjung 2019 akan mengalami peningkatan seiring sarana dan prasana pendukung museum ini semakin ditingkatkan.

Misalnya, Museum Timah Indonesia menyediakan dua unit bus Pownis, bus wisata gratis yang siap mengantarkan wisatawan mengunjungi objek wisata sejarah di Kota Pangkalpinang dengan sensasi kendaraan angkutan umum tahun 1980-an. Selain itu, peningkatan fasilitas di dalam dan luar museum untuk kenyamanan pengunjung museum bersejarah itu.

“Kami optimistis kunjungan wisatawan tahun ini meningkat, karena sarana dan prasanana pendukung museum ini yang semakin baik untuk keamanan serta kenyamanan pengunjung,” katanya seperti dilansir Antara.

Menurut dia, Museum Timah Indonesia merupakan museum teknologi pertimahan yang dikelola PT Timah Tbk. Museum ini didirikan pada 1958 untuk mencatat sejarah pertimahan di Bangka Belitung.

Museum Timah Indonesia menempati sebuah gedung bersejarah yang awalnya adalah rumah dinas Hoofdt Administrateur Bangka Tin Winning (BTW). “Pada masa perjuangan Kemerdekaan Indonesia, Bung Karno, Hatta dan para pemimpin tinggi Republik Indonesia diasingkan ke Bangka dan mengadakan perundingan dengan utusan PBB (Komisi Tiga Negara) pada 1948 di gedung tersebut,” kata Taufik.

Rumah ini memiliki nilai sejarah tinggi bagi kemerdekaan Republik Indonesia. Museum ini menyimpan catatan perjalanan panjang sejarah pertimahan di Bangka Belitung bahkan dunia. Museum ini, didirikan tahun 1958. Tujuannya untuk mencatat sejarah pertimahan di Bangka Belitung dan memperkenalkannya pada masyarakat luas.

Pendirian museum berawal tahun 50-an, saat itu dalam kegiatan penambangan banyak ditemukan benda-benda tradisional yang digunakan oleh penambang zaman dahulu, utamanya zaman Belanda. Museum Timah baru resmi dibuka sekaligus diresmikan pada 2 Agustus 1997.

Dalam perkembangannya, museum ini sangat berguna bagi masyarakat luas karena di dalamnya pengunjung bisa mengetahui sejarah pertimahan di Bangka Belitung, perkembangan teknologi pertambangan sejak zaman Belanda hingga masa kini.

Tahun 2010, melihat besarnya jumlah kunjungan wisatawan ke museum Timah, dilakukanlah renovasi tata letak sehingga lebih fokus pada pertambangan. Beragam koleksi materi yang ada didalam museum juga ditambah sehingga alur sejarah pertambangan menjadi semakin tampak.

Museum ini menjadi salah satu Destinasi Wisata Sejarah yang menarik bagi wisatawan karena merupakan satu satunya museum timah yang ada di Indonesia bahkan satu-satunya di dunia. Museum Timah juga menjadi daya tarik luar biasa bagi wisatawan yang pernah memiliki hubungan emosional dengan Bangka Belitung, seperti orang-orang Belanda yang dulu pernah bekerja di Bangka.

Museum ini menjadi menarik karena disamping koleksinya tentang sejarah penambangan timah, gedungnyapun merupakan tempat bersejarah karena dijadikan lokasi beberapa kali perundingan atau diplomasi antara pemimpin Republik yang diasingkan ke Bangka dengan Pemerintah Belanda dan UNCI (United Nations Commission for Indonesia) sehingga lahirlah Roem-Royen Statement pada tanggal 7 Mei 1949 (delegasi Indonesia dipimpin oleh Mr. Moh. Roem dan delegasi Belanda dipimpin oleh H.J. Van Royen). (NDY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.