Libur Imlek Tak Mampu Dongkrak Kunjungan Wisatawan

0
119
Saat Imlek, Barangsoi tampil di Nusa Bali Bali (Foto: Tem;po.co)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Momentum libur Imlek 2019, diprediksi kuat tak mampu mendongkrak sekaligus memberikan kontribusi banyak dalam menambah jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus). Minat berpelesir wisman dan wisnus pada periode libur Tahun Baru China 2570, tidak setinggi tahun lalu.

Meski Imlek 2019 jatuh pada Selasa (5/2), namun minat wisnus mengambil cuti untuk berlibur pada Senin (4/2/2019) tidak tinggi. “Memang ada hari kejepit’ Sayangnya hal ini tidak berpengaruh terlalu signifikan karena ada beberapa hal yang menghalangi minat bepergian masyarakat,” papar Pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Budijanto Ardiansjah.

Ardiansyah berpendapat, seperti dilansir Bisnis.com, Selasa 5/2/2019) rendahnya minat turis domestik untuk berpelesir saat libur Imlek disebabkan kenaikan harga tiket pesawat. Bahkan, mayoritas masyarakat telanjur membelanjakan uangnya dan jatah liburnya untuk periode libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019.

Menurutnya, wisnus cenderung memilih untuk berwisata ke daerah yang dekat dengan kediamannya dan hanya dilakukan pada hari libur saja. Dia memperkirakan, kota-kota besar seperti Bandung, Bogor, dan Yogyakarta akan menjadi tujuan melancong wisnus saat libur Imlek tahun ini.

Di sisi lain, Budijanto memproyeksikan angka kunjungan wisman saat libur Imlek tahun ini juga tidak akan setinggi tahun lalu. Menurutnya, kunjungan wisman paling banyak saat sincia biasanya ditorehkan oleh turis asal China. Namun, seiring dengan perlambatan ekonomi Negeri Panda, dia meyakini minat berwisata penduduknya pun menurun.

“Perlambatan ekonomi di China kami perkirakan sangat berpengaruh ke tingkat kunjungan mereka ke Indonesia. Berdasarkan laporan yang saya dapat, hingga saat ini belum ada tanda-tanda lonjakan tamu dari China,” lanjut dia.

Menurut analisisnya, wisatawan China lebih banyak yang mengalihkan kunjungan wisatanya saat libu Imlek ke negara lain. Pasalnya, citra Indonesia di mata wisman China telah turun lantaran kasus ‘zero dollar tour’ yang merebak di Bali pada tahun lalu.

Budijanto mengatakan, wisatawan China cenderung memilih destinasi pelesir dengan biaya yang murah. Dalam hal ini, Indonesia dinilai kalah murah apabila dibandingkan dengan Filipina maupun Vietnam dan Thailand.

Dengan demikian, dia tidak yakin kunjungan wisman Tiongkok pada libur Imlek 2019, akan mampu melampaui capaian pada Februari 2018 yang menembus 214.485 wisman. Para pengusaha sektor pariwisata pun harus bekerja ekstra keras untuk mencapai taget pemerintah dalam menggaet 200.000 kunjungan wisman China saat Imlek.

Secara terpisah, Sekretaris Eksekutif Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Gunawan Wibisono memperkirakan, jumlah kunjungan wisatawan ke tempat rekreasi saat libur Imlek tidak akan naik signifikan.

“Perkiraan kami ada kenaikan menjadi 10.000—20.000 kunjungan wisman di berbagai tempat rekreasi di seluruh Indonesia. Jumlah itu tergolong wajar, atau sama seperti ketika libur Sabtu dan Minggu atau tanggal merah lainnya yang hanya berlangsung satu hari,” jelas dia.

Sementara itu, terkait dengan tingkat kunjungan wisman China tahun ini, dia memprediksi kenaikan baru terjadi menjelang perayaan Cap Go Meh 2019. “Kunjungan wisman China perkiraan kami akan lebih banyak dilakukan di daerah-daerah seperti Singkawang atau Manado, sehingga potensi kunjungan wisman ke tempat rekreasi di sekitar dua daerah itu akan mengalami kenaikan.” tandasnya.

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari menyebutkan, lokasi-lokasi wisata yang memiliki keterkaitan sejarah dengan China selama ini belum digarap dengan baik oleh pemerintah. Akibatnya, Indonesia gagal memanfaatkan peluang dari kunjungan wisman yang memiliki budaya primordialisme yang tinggi.

“Selama ini baru Singkawang dan Palembang yang rutin menggelar acara dan menggarap dengan baik kebudayaan etnis China untuk menarik [kunjungan] wisman. Selain itu, [destinasi lainnya] tidak [digarap] maksimal, sehingga yang dikunjungi wisman China selama ini hanya destinasi wisata alam seperti Bali atau Manado,” jelasnya.

Padahal, ujarnya, minat wisman China untuk menelusuri jejak leluhurnya di Indonesia sangat besar. Terlebih penduduk negara tersebut memiliki budaya berkunjung ke rumah saudara dan lokasi peninggalan lelurhurnya saat libur Tahun Baru.

Dia berpendapat, Indonesia sebenarnya memiliki cukup banyak daerah yang kental dengan budaya Tionghoa seperti Semarang, Cirebon, Tangerang dan beberapa daerah lain yang sempat menjadi persinggahan pedagang China pada masa lampau.

“Uang pemerintah selama ini lebih banyak dihabiskan untuk promosi dibandingkan dengan mengembangkan dan memoles destinasi wisata yang dimiliki. Akibatnya, banyak potensi yang akhirnya terbengkalai,” ujar dia.

Sekadar catatan, Kementerian Pariwisata menargetkan 200.000 kunjungan wisman asal China selama Februari dalam rangka perayaan Imlek dan Cap Go Meh.

Ketua Umum Asosiasi Penguasaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, upaya yang dilakukan pemerintah pada 2018 sebenarnya sudah cukup baik. Meski demikian, dia juga mengeluhkan strategi pemasaran yang dilakukan Kemenpar. Padhal, pelaku industri pariwisata sudah menyiapkan banyak paket yang bisa diobral untuk dapat mengundang lebih banyak wisman.

Akan tetapi, menurutnya, dana pemerintah terlalu banyak digunakan untuk membiayai pemasaran seperti forum berkal dan forum group discussion, sehingga membuat pelaku industri pariwisata harus berjuang sendiri dalam penjualan paket wisata.

“Maka dari itu, untuk tahun ini kami lebih mengedepankan usaha sendiri. Kami akan buat kerja sama sendiri antar pelaku usaha, kami mengajak juga pelaku online-nya,” katanya.

Untuk tahun ini, pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk menggaet 20 juta kunjungan wisman dan mendatangkan devisa pariwisata senilai US$20 miliar. (NDY)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.