Lebaran, ASITA di Daerah Paceklik

0
71
Ilustrasi pesawat terbang

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) yang memiliki tujuh ribu anggota agen perjalanan yang tersebar di seluruh Indonesia mulai marah, berang, protes, mengeluh, geregetan, jengkel, emosi yang semuanya bercampur aduk. Sikap itu terpaksa muncul akibat banyak paket wisata terpaksa dibatalkan lantaran harga tiket pesawat yang mencekik konsumen.

Seharusnya suasana liburan Lebaran merupakan masa panen bagi biro perjalanan wisata, ternyata malah mengalami paceklik. Ya gara-gara harga tiket pesawat selangit. Meski sebelum bulan Puasa, pemerintah sempat menurunkan harga tiket pesawat sebesar 12-16 persen, sayangnya penurunan itu dianggap tidak rasional karena harga tiket pesawat masih dianggap mahal.

Ketua Asita Riau Dede Firmansyah mengakui mahalnya harga tiket pesawat mengakibatkan masyarakat membatalkan paket wisata yang sudah dipesan lewat agen wisata. “Hal ini jelas berdampak langsung pada lesunya usaha travel agent dan pariwisata di Riau,” kata Ketua Asita Riau Dede Firmansyah di Pekanbaru, seperti dilansir laman Republika, Kamis (06/06/2019).

Dilanjutkan, beberapa agen mengeluhkan terpaksa membatalkan paket-paket tur wisata, terutama ke Jawa, akibat mahalnya tiket pesawat domestik. Sejak Januari hingga Desember 2018 sampai saat ini, tren harga tiket pesawat domestik khususnya dari Pekanbaru ke sejumlah Kota di Indonesia belum menunjukkan penurunan seperti yang diharapkan masyarakat.

Bahkan, jelang Idul Fitri 1440 Hijriyah, harga tiket cenderung naik hingga mencapai Rp 2-3 juta untuk kelas ekonomi. Tak heran, banyak calon pemudik yang biasanya menggunakan jasa penerbangan kini banyak beralih menggunakan transportasi darat atau laut.

Menurutnya, mahalnya harga tiket tidak hanya memberikan dampak terhadap penjualan tiket pesawat di kalangan agen wisata, tetapi juga berpengaruh terhadap lesunya berbagai sektor dunia pariwisata. “Kita travel agent kan mau buat paket tur untuk bisa mewujudkan perputaran wisatawan Nusantara, sesuai keinginan kementerian pariwisata tapi kondisi saat ini belum mendukung,” lontarnya.

Sejumlah penggunan jasa justru ada mengalihkan turnya ke Singapura dan Malaysia karena tiketnya jauh lebih murah. Kenaikan harga tiket dapat dimaklumi jika terjadi di musim liburan seperti akhir tahun, karena fenomena itu biasanya dipicu oleh permintaan pengguna jasa penerbangan yang tinggi.

“Tetapi memasuki Januari dan Februari itu pasti turun biasanya, karena permintaan juga kurang. Makanya, saya heran, kok dari Januari sampai sekarang nggak turun-turun. Bahkan ada penerbangan yang katanya low cost carrier(LCC), tetapi harga bagasinya mahal,” ujarnya.

Disarankan, Pemerintah agar membuka rute bagi maskapai (LCC) lainnya. Dede menyatakan sudah pernah mendesak Menteri Pariwisata untuk melakukan upaya agar harga tiket pesawat kembali murah, sehingga sektor pariwisata kembali bergairah. “Saya sudah sampaikan ini langsung ke Menteri Pariwisata, supaya dunia pariwisata kita tidak lesu,” ucapnya.

Banda Aceh

Hal senada juga dilontarkan ASITA Aceh yang menyebut seharusnya pemerintah menurunkan harga tiket pesawat mencapai 45 persen bagi konsumen di luar Jawa. Tujuannya demi meningkatkan gairah penumpang terutama merangsang wisatawan kunjungi provinsi tersebut. “Harusnya TBA (Tarif Batas Atas) tiket pesawat itu, turun hingga 45 persen. Bukan 12 persen sampai 16 persen,” ujar Sekretaris ASITA Aceh, Totok Julianto di Banda Aceh.

Diakui, penurunan tiket pesawat belasan persen dianggap pihaknya tidak realistis. Sebab kenaikan tiket pesawat sudah terjadi selama hampir enam bulan sejak akhir 2018. Persentase penurunan tiket tranportasi udara terlalu kecil, sehingga belum mampu dijangkau oleh masyarakat, apalagi menumbuhkan minat untuk mengunjungi berbagai destinasi wisata di provinsi paling barat Indonesia ini.

Kendati demikian, ASITA Aceh tetap memberi apresiasi atas kebijakan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang telah menurunkan Tarif Batas Atas tiket pesawat senilai 12 persen hingga 16 persen. Desember 2018 hingga Januari 2019 itu, merupakan kenaikan paling tajam sekitar 60 persen lebih.

“Sampai-sampai orang Aceh harus transit di Kuala Lumpur (Malaysia), baru ke Jakarta. Angka realistis penurunan tarif batas atas harus mencapai 45 persen. Kalau cuma belasan persen, tiket pesawat masih tinggi itu. Masih di luar batas kemampuan masyarakat di tengah perekonomian daerah yang sedang lesu,” tandasnya.

NTT

Ketua ASITA Nusa Tenggara Timur (NTT) Abed Frans angkat bicara soal mahalnya harga tket pesawat. Menurutnya tarif transportasi udara yang mahal menjadi masalah serius bagi pengembangan pariwisata di NTT. “Mahalnya tiket pesawat sejauh ini memang masih menjadi masalah serius bagi pariwisata kita di NTT,” katanya di Kupang.

Menurut Abed berbagai upaya promosi pariwisata yang dilakukan untuk peningkatan kunjungan wisatawan tidak memberi dampak signifikan jika biaya perjalanan mahal. Dicontohkan harga tiket pesawat rute Jakarta-Kupang berkisar di harga Rp 2,5 juta hingga Rp3 jutaan. Selain itu, tarif tiket pesawat dari Kota Kupang ke daerah-daerah kabupaten juga bisa mencapai di atas Rp 1 juta.

“Selain tarif mahal, ada maskapai yang mulai mengurangi frekuensi penerbangan bahkan ada yang meniadakan,” katanya. Perihal tiket adalah masalah serius apalagi NTT belum punya penerbangan langsung ke luar negeri sehingga sulit meningkatkan kunjungan wisatawan asing.

Menurut Abed, ketika tarif penerbangan masih mahal maka berbagai kegiatan pariwisata di daerah-daerah akan sulit dijangkau wisatawan dari luar. “Artinya event yang digelar di daerah jadinya dari kita untuk kita bukan dari kita untuk wisatawan karena animo dari luar kurang,” katanya.

Jawa Barat

Asita Jawa Barat menyayangkan masih mahalnya harga tiket pesawat domestik. Mereka khawatir kondisi tersebut bakal berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan domestik atau asing. Kenaikan harga tiket pesawat akhir-akhir ini menyebabkan kemauan orang naik pesawat menurun. Dia menyebut, penurunan tersebut hingga 30%.

Bahkan, kenaikan harga tiket pesawat berdampak terhadap semua sektor. Salah satunya pariwisata. Perputaran wisatawan domestik dan asing di dalam negeri jadi berkurang. “Ini yang kami sayangkan. Kalau harga tiket naik boleh-boleh aja, tapi jangan terlalu drastis. Tarif bagasi juga seperti itu, jangan ujug-ujug naik, masyarakat kaget,” kata Ketua Asita Jabar Budijanto Ardiansjah

Dicontohkan, turis asing yang biasanya berkunjung ke Bali memilih tinggal di Bali lebih lama. Padahal, sebelumnya mereka biasanya akan meneruskan perjalanan ke beberapa kota lainnya seperti Yogyakarta, Bandung, atau lainnya. “Bila kondisi tersebut terus terjadi, akan berdampak terhadap sektor pariwisata dan turunannya. Bisnis travel agent juga sepi,” ucapnya.

Sumatera Utara

Asita Sumatera Utara berang dengan harga tiket pesawat domestik yang alami kenaikan selangit, yang berdampak pada menurunnya minat kunjungan wisata domestik. Kebijakan maskapai yang menaikkan harga tiket dengan nominal yang tinggi sangat merugikan mereka.
“Dampaknya biro perjalanan yang melayani wisata domestik akan bangkrut. Ini membunuh travel agent namanya,” kata Ketua Asita Sumatera Utara, Solahuddin Nasution

Karena tiket domestik yang tinggi, para biro perjalanan nantinya akan lebih memilih membawa wisatawan ke luar negeri dari pada wisata domestik. Karena dari sisi bisnis, paket wisata yang ditawarkan lebih murah. Juga mengkritisi soal bagasi berbayar yang diterapkan maskapai. Dampaknya akan menyasar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di destinasi wisata. “Wisatawan akan memilih tidak berbelanja. Karena biaya bagasi yang sangat mahal,” ungkapnya.

Kondisi ini menurut Asita sangat buruk. Ditengah geliat pariwisata yang terus berkembang. Artinya, target kunjungan wisatawan yang juga terancam. (NDY)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.