Kupatan Kendeng, Foklor Era Wali Songo yang Tetap Lestari

0
82
Kupatan Kendeng Rembang (Foto: Liputan6.com)

REMBANG, bisniswisata.co.id: Masyarakat Kendeng, Rembang Jawa Tengah, punya tradisi unik usai lebaran. Tradisi yang bernama Kupatan Kendeng ini sudah menjadi rutinitas yang digelar tiap 5 Syawal, yang hingga kini masih tetap lestari, tetap dipertahankan dan tetap diselenggarakan.

Dilansir laman Liputan6, Senin (10/06/2019), Perayaan Kupatan Kendeng 2019 tersebut digelar pada Minggu (9/6/2019) dan dipusatkan di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang. Ada tiga prosesi yang dilakukan dalam ritual Kupatan Kendeng yaitu Temon Banyu Beras, Dono Weweh Kupat lan Lepet, dan Lamporan.

Pertama, Temon Banyu Beras merupakan prosesi mencari sumber air, mempertemukan bulir-bulir beras dengan air untuk bisa diwujudkan sebagai makanan (ketupat) menjadi sumber energi bagi kita untuk tetap hidup dan menghidupi. ‘Temon Banyu’ melambangkan bahwa tanpa air tidak mungkin ada kehidupan.

Dalam prosesi ini, petani menggunakan baju serba putih melambangkan kesucian hati setelah 30 hari menjalani puasa, mengendalikan segala hawa nafsu, menempa jiwa agar kembali eling dan kinilingan akan kesejatian diri sebagai manusia yang luhur. Bukan manusia yang serakah, bukan manusia yang tidak peduli pada penderitaan ibu bumi, dan bukan manusia yang hanya memikirkan urusan perut semata.

Kedua, Dono Weweh Kupat lan Lepet merupakan prosesi membawa ketupat yang telah matang beserta lauk-pauknya, disusun membentuk gunungan dan dipikul bersama-sama mengelilingi desa untuk dibagi-bagikan kepada seluruh warga desa. Ketupat sebagai ‘tanda lepat’ kita sebagai manusia yang penuh kekurangan, salah dan dosa untuk mohon maaf kepada sesama kita.

Kerendahan hati diperlukan sebagai awal dari segala rencana baik merangkul seluruh sedulur, saudara desa agar bersama meneruskan perjuangan penyelamatan Pegunungan Kendeng dari upaya perusakkan sumber-sumber mata air, penambangan batu kapur, pengalihan fungsi lahan pertanian untuk industri pabrik semen. Demi keselamatan kita bersama serta demi masa depan kehidupan anak cucu kita semua.

Ketiga, Lamporan merupakan prosesi yang dilakukan turun temurun dari leluhur dalam upaya mengusir hama pertanian. Hama pertanian yang dimaksud tidak hanya wereng dan tikus, tetapi juga kebijakan yang tidak berpihak kepada petani dan dunia pertanian.

Hama itu misalnya pengalihan fungsi lahan-lahan subur untuk industri dan pertambangan, gunung dengan hutan yang mengandung keanegaragaman hayati dihancurkan bahkan fungsinya telah beralih menjadi daerah industri perkebunan monokultur bahkan industri pertambangan.

Gunung dengan hutan yang awalnya menjadi penyerap air, menjaga sumber-sumber mata air tetap berlimpah yang menjadi sumber utama keberlangsungan dunia pertanian serta penyedia udara bersih bagi seluruh makhluk hidup menjadi hilang. Itulah hama utama petani dan dunia pertanian masa kini yang harus diperangi bersama.

Acara terakhir dalam kupatan kendeng 2019, ditutup dengan pegelaran wayang dengan lakon ‘Mawas Diri, Menakar Keberanian’ oleh salah seorang Dalang bernama Jliteng Suparman.

Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi menegaskan, tradisi kupatan merupakan bentuk sublimasi (perubahan ke arah satu tingkat lebih tinggi) dari ajaran Islam dalam tradisi masyarakat Nusantara. Hampir tak ada bukti tertulis yang bisa dijadikan rujukan mengenai tradisi kupatan.

Semua referensi hanya berdasar cerita tutur (foklor) yang berkembang di masyarakat di era Wali Songo kemudian ditulis. Momentum setelah melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal atau Syawalan dikenal lebaran ketupat atau tradisi kupatan. “Jelas di sini terlihat tradisi ketupat sebagai rangsangan melaksanakan hadits Nabi mengenai puasa sunnah di bulan Syawal,” ujar Zastrouw seperti dilansir NU Online.

Menurut Ketua Lesbumi PBNU periode 2010-2015 itu, tradisi ini kemudian dijadikan sarana oleh Wali Songo untuk mengenalkan ajaran Islam mengenai cara bersyukur kepada Allah, bersedekah, dan bersilaturrahim di hari lebaran.

Zastrouw menjelaskan, secara filosofis tradisi ketupat berasal dari kiroto boso (akronim) Jawi dari kata kupat yang berarti ngaku lepat (mengaku salah). Melalui tradisi ketupat ini manusia diingatkan agar pada saat lebaran saling mengakui kesalahan. Kupat juga sering dimaknai sebagai simbol kata khufadz yang berarti menjaga. Maksudnya orang yang sudah mengakui kesalahan hendaknya menjaga diri agar tidak melakukan kesalahan lagi.

Ketupat terbuat dari janur dari kiroto boso jaa nur yang berarti datangnya cahaya. Maksudnya orang yang telah mengakui kesalahan dan bisa menjaga diri dari kesalahan akan memperopeh cahaya kehidupan.

Ketupat berbentuk segi empat melambangkan empat arah mata angin (kiblat papat). Maksudnya dari empat penjuru mata angin manusia ada yang menjaga dan mengikuti yang dikenal dengan sebutan sedulur papat dalam pandangan kosmologi manusia Nusantara. “Pandangan ini kemudian digunakan untuk mentrasformasikan ajaran Islam mengenai adanya malaikat pencatat amal yang selalu mengikuti perjalanan hidup manusia,” katanya.

Melalui tradisi ketupat, imbuhnya, Wali Songo mengingatkan bahwa kehidupan ini senantiasa diawasi dan dicatat oleh malaikat atau sedulur papat. Selain dalam kosmologi Jawa juga ada istilah limo pancer sebagai pengendali dan pusat dari sedulur papat. Limo pancer bermakna diri pribadi manusia itu sendiri beserta seluruh amal perilakunya.

Para wali kemudian disimbolisasikan dengan lepet yang menjadi pasangan dari kupat. Lepet ini berbentuk bulat panjang mencerminkan bahwa diri manusia harus tegak lurus secara vertikal menuju Allah.

Ada juga yang menaknai simbol kupat dan lepet merupakan transformasi dari simbol lingga yoni. Lepet sebagai simbol yoni yang tegak luruh vertikal sebagai cermin hubungan pada Allah. Kupat sebagai transformasi simbol lingga-lingga. “Pertemuan lingga yoni akan melahirkan kehidupan, harmoni dan keseimbangan,” tutur Zastrouw yang juga Pimpinan Grup Musik Religi Ki Ageng Ganjur ini.

Dengan demikian, tandas Zastrouw, tradisi kupatan juga memiliki makna menjaga harmoni dan keseimbangan untuk menjaga dan menumbuhkan kehidupan baru. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam mengenai tawassuth (moderat), tasammuh (toleran), tawazzun (proporsional), dan i’tidal (adil). (NDY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here