ENTREPRENEUR NASIONAL NEWS

Kiat BPR Lestari Menyelamatkan Nasabahnya.

CANGGU, Bali, bisniswisata.co.id: Menyelamatkan nasabah bank dari penyitaan aset akibat tak mampu membayar bunga bank menjadi upaya serius Alex Purnadi Chandra, pemilik dan pendiri BPR Lestari.

” Kami punya tiga kluster nasabah. Kluster pertama kurang lebih sepertiganya adalah nasabah yang bisnisnya tetap tumbuh di masa krisis. Jangan dikira semuanya di Bali menderita lho,” jelasnya.

Kluster nasabah inilah yang antara lain menyebabkan aset bank tetap bertumbuh di masa pandemi. “Aset BPR Lestari tumbuh konsisten 100 Miliar setiap bulannya dari Januari sampai Mei ini,” kata Alex.

Kluster nasabah yang kedua juga kurang lebih sepertiga-nya adalah nasabah yang terdampak, bisnisnya menurun drastis, namun masih mampu membayar cicilan bunga banknya dari uang tabungannya selama ini. 

“Tapi semakin lama periode pandemi semakin berkurang tabungannya. Jika berlarut, mereka akan terpaksa melepas aset-aset  yang sudah bertahun-tahun dikumpulkan.”

Nah sepertiga nasabah lainnya, terdampak bisnisnya dan tidak punya cadangan cash. Ketiadaan cash flow membuat mereka tidak mampu mencicil kewajibannya ke bank. Nah merekalah yang kreditnya memerlukan kebijakan buat direstrukturisasi.”

Restrukturisasi itu menunda kewajiban, memecahkan masalah cash flow yang terhenti di masa ini. Ketika bisnisnya recover, cash flownya kembali, maka nasabah akan mampu mulai mencicil kembali, jelas Alex.

Itu prinsip restrukturisasi. Intinya ‘membeli waktu’ supaya debitur tidak menjadi macet kreditnya. Restrukturisasi itu macam-macam jenisnya, disesuaikan kebutuhan dan kemampuan, baik kemampuan debitur maupun kemampuan banknya.

Ada yang berupa penundaan pembayaran (deferred), ada yang berupa pemberian penambahan pinjaman, perpanjangan jangka waktu dan keringanan bunga.

“Sayangnya, beberapa debitur mengartikan restrukturisasi sebagai kesempatan untuk tidak membayar, atau menego bunga serendah mungkin.” 

“Restrukturisasi itu debitur diberi waktu sampai cashflownya kembali, tapi banknya kan enggak boleh rugi juga. Harus win-win,” demikian kata Alex. Kredit direstruktur supaya debitur tidak macet. Kalau macet, bank terpaksa mengeksekusi jaminan. 

“Bank itu tidak mau memiliki aset. Bank tidak boleh pegang aset lama-lama. Ada ketentuannya. Harus segera jual. Kalau debitur macet, dan bank terpaksa mengeksekusi, sama-sama rugi. Debitur rugi kehilangan asetnya, bank juga rugi karena harus segera menjual.” ungkap Alex

“Siapa yang membeli aset di masa ini. Jikalau ada penawaran, maka harganya dibawah pasaran.” Restrukturisasi merupakan jalan tengah. Debitur punya kesempatan tidak kehilangan asetnya sampai bisnisnya pulih dan bank tidak kehilangan pendapatannya.

Kluster  terakhir yang terdampak dan mulai kehabisan napas ini beresiko untuk menjual asetnya jikalau ekonomi tak kunjung pulih. “Akan mungkin terjadi transfer aset besar-besaran,” kata Alex. 

Para spekulan datang dari berbagai kota besar di Indonesia dan berada diatas angin karena di saat pariwisata Bali terpuruk punya uang tunai sehingga mudah mendapatkan aset-aset dengan harga serendah mungkin.

“Kami, sebagai bank lokal berinisiatif meluncurkan kebijakan kredit Bali Bangkit. Ada sekitar 1 Triliun dana yg kami siapkan buat pembiayaan kembali usaha para pelaku bisnis di Bali. Supaya ketika ekonomi recover, aset- asetnya siap bekerja kembali. 

“Hal ini Untuk menghindari terjadinya transfer aset besar2-an dari para pengusaha Bali ke investor luar. Sayang, aset-aset itu sudah dikumpulkan dengan jerih payah berpuluh tahun,” ujarnya.

Menghadapi situasi ini dan melindungi masyarakat Bali dari spekulan apalagi sudah ada pencanangan Work from Bali, sekarang Bali juga tujuan Wisata Vaksin dan Pemerintah maupun BUMN ke depan fokuskan MICE ke Bali. Maka itu industri pariwisata harus pertahankan aset bukan ramai-ramai jual aset,”kata Alex panjang-lebar.

Siapa pemilik Bali pasca COVID-19 ? Bisa saja orang asing ! bukan lagi putra daerahnya. Oleh karena itu pemerintah memang dituntut untuk mereview semua peraturan perbankan agar tidak terjadi kredit gagal dan pelelangan.

Prinsipnya pemerintah harus mengevaluasi lebih mendalam aturan perbankan yang memberatkan kreditur di tengah pandemi global dimana semua institusi keuangan dunia termasuk para penyelenggara negara secara global juga kesulitan likuiditas,” kata Alex P. Chandra memberikan solusinya.

 

Hilda Ansariah Sabri

Hilda Ansariah Sabri, Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers. Saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat ( 2018-2023)