Jogja Street Sclupture Project (JSSP) Libatkan Pematung RI & Malaysia  

0
62

Kepala Dinas Kebudayaan (DIY), Aris Eko Nugroho bersama panitia dan kurator

JOGJAKARTA, bisniswisata.co.idSebanyak 33 orang pematung dari Indonesia dan Malaysia ikut ambil bagian dalam proyek Jogja Street Sclupture Project (JSSP), kata Rosanto Bima Pratama, Ketua panitia, hari ini.

Berbicara di Galeri Tiforti Art Space, dia mengatakan pameran tahun ini dibuat berbeda dari tahun sebelumnya.Tahun ini JSSP ke 3 memamerkan puluhan patung di tiga lokasi yang berbeda yang masuk kedalam Garis Imajiner Jogyakarta yaitu Pantai Parangkusumo, Titik Nol Jogyakarta dan Kinahrejo Cangkringan,” ujarnya.

Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Jogyakarta bekerjasama dengan Asosiasi Pematung Indonesia (API) berlangsung mulai  17-23 Oktober 2019.  Kepala Dinas Kebudayaan (DIY), Aris Eko Nugroho mengungkapkan bahwa JSSP merupakan bagian dari program dinas kebudayaan provinsi DIY menggunakan dana keistimewaan.

“Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri dalam rangka mengembangkan kebudayaan, maka itulah bermitra dengan API. Kegiatan JSSP sudah memasuki ketiga kalinya, diadakan tiap dua tahun sekali, kami berharap kegiatan kebudayaan di Jogyakarta bisa terlaksana dengan tertata dan konsisten,” ungkap Aris Eko Nugroho.

JSSP adalah proyek seni patung di ruang publik  yang hadir sebagai bentuk kontribusi pematung atas perkembangan dinamika ruang hidup masyarakat. Proyek ini menjadi platform intervensi artistik yang bukan semata menambah keindahan ruang, namun juga diikhtiarkan sebagai medium pemantik kesadaran masyarakat akan dinamika sosial yang terjadi. 

Rosanto Bima Pratama menambahkan bahwa gagasan-gagasan kontemporer dalam JSSP secara sadar telah memproduksi generator kreativitas bagi tumbuhnya berbagai persepsi publik yang cerdas terhadap ruang hidupnya.

Lahirnya kesegaran interpretasi kreatif ini menjadi passion bagi JSSP untuk merevitalisasi peran strategis ruang publik sebagai laboratorium seni dan kreatifitas. 

Hasil karya para pematung ini, diharapkan dapat menelusuri kembali kemungkinan poros-poros baru dan dapat menjembatani keterbatasan serta kepedulian sosial dalam merespons ruang. Melahirkan tantangan untuk proses interaksi penonton dalam memberikan respons terhadap konsep karya, lokasi dan dampak sosial.

” Poros tata ruang Daerah Istimewa Jogyakarta memiliki keistimewaan berupa garis imajiner yang masih satu garis lurus, terbentang dari laut selatan, Keraton, hingga Gunung Merapi,”ungkap Soewardi salah seorang kurator.

Kurator JSSP terdiri dari tiga orang yaitu, Kris Budiman, Eko Prawoto, dan Soewardi. Ketiganya meramu konsep kuratorial dan diterjemahkan para pematung yang terlibat termasuk 4 orang dari Malaysia. Seleksi diperuntukkan bagi anggota API yang sifatnya nasional.

“Patung tidak hanya diletakkan di suatu tempat, namun diharapkan mampu menciptakan efek keberlangsungan dan kegunaan bagi masyarakat. Misalnya, jika nanti patung berada di area Gumuk Pasir mampu menunjang daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke lokasi tersebut,” jelasnya.

Penekanan tafsir garis imajiner bukan hanya ruang namun juga pada imajinasi. Dalam konteks ruang, kekuatan Gunung Merapi, Laut Selatan dan Keraton mempengaruhi dinamika alam dan sosial.

Imajinasi sosial dalam konteks kekinian yang mewarnai perilaku masyarakat plural.     Banyak poros baru yang sekarang sangat majemuk. Keberanian mendefinisikan kembali poros imajiner klasik, memberi tafsir baru dan kontekstual.

 JSSP juga mengadakan workshop dan diskusi agar wawasan masyarakat sekitar juga bertambah, terutama di lokasi Gumuk Pasir dan Gunung Merapi. Banyak Seniman yang tergabung di API juga pelaku usaha. 

Edukasi yang diberikan seperti branding dan marketing bagi masyarakat sekitar untuk membuat merchandise khas daerah masing-masing,” ungkap Rosanto Bima Pratama.

“Kami ingin menjadikan Jogyakarta kota berbudaya, salah satunya dengan patung. Dengan memamerkan patung di tiga tempat berbeda yaitu Bantul, Kota Jogyakarta, dan Sleman, kami mencoba agar patung itu masuk ke masyarakat. Kegiatan JSSP #3 akan melibatkan pemuda, perangkat desa, dan masyarakat setempat. 

Agenda JSSP #3 akan diisi sejumlah kegiatan seperti pameran maket, pameran utama, dan seminar. Diskusi, tidak hanya soal karya, tetapi juga soal branding wisata melalui patung-patung, workshop edukasi pada masyarakat soal pembuatan dan marketing merchandise. JSSP tour kamisan, JSSP performing art ruang publik dan aneka lomba.

Suarsono, B. FA., ketua umum API mengakui tema Pasir Bawono Wukir lumayan berat bagi pematung sebab harus merespon garis filosofis Yogyakarta dari selatan, tengah, dan utara. 

“Dari 170-an anggota API terdapat 61 anggota yang mengikuti , baik secara individu maupun kolaborasi,” ujarnya.

 

      

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.