LIFESTYLE NEWS

’Indonesia Spice Up the World’, Cara Cepat Populerkan Kuliner RI

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Sudah bukan rahasia lagi kuliner Indonesia kalah populer di luar negri ketimbang Thailand yang memiliki banyak restorannya di mancanegara dengan makanan khasnya Tom Yam.

Menparekraf Sandiaga Uno punya cara Gercep untuk mengangkat kembali citra Indonesia sebagai sumber rempah-remoah dunia de gan membuat gebrakan event di New York dalam waktu dekat.

” Pilihan di tangan kita, meski kita tengah disibukkan dengan kegiatan PPKM, kegiatan harus berjalan dan “Indonesia Spice Up The World”  menjadi andalan ketika masyarakat di benua Amerika sudah mulai pulih perekonomian maupun  life style ke New Normal pasca pandemi COVID-19,” kata Menparekraf Sandiaga Uno yang Sabtu lalu baru meraih gelar doktor di bidang Manajemen dari UPH.

Menurut dia, seperti halnya China yang meluncurkan program Silk Road, maka program pariwisata kali ini akan mendongkrak bisnis kuliner di dalam dan luar negri dengan pola pasokan bahan baku dan panduan bagi restoran Indonesia di luar negeri.

Ini merupakan salah satu program utama pemerintah yang melibatkan lintas kementerian/lembaga sebagai salah satu upaya perluasan pemasaran produk bumbu atau pangan olahan dan rempah Indonesia.

 Selain itu juga menguatkan industri kuliner Indonesia dengan pengembangan restoran Indonesia di luar negeri atau sebagai bagian dari gastrodiplomasi restoran. 

Berbicara pada Sandiaga Weekly Press Briefing yang digelar secara daring, Senin (19/7/2021), mengatakan “Indonesia Spice Up The World” diharapkan akan meningkatkan peluang Indonesia di industri kuliner dunia.

Pihaknya mendukung penuh program yang digagas Kemenko Marves tersebut dengan berangkatnya delegasi pendukung ke Amerika Serikat dalam waktu dekat.

“Program ini sudah dirancang dengan baik sejak lama. Ini adalah pilihan, ditunda atau dijalankan dengan adaptasi. Adaptasi ini yang saya ambil sebagai langkah untuk memastikan pemulihan ekonomi kita tidak tertunda. Bahwa kita tidak akan sepenuhnya hadir secara fisik, tapi hybrid,” kata Menparekraf Sandiaga Uno. 

Menparekraf Sandiaga menjelaskan, berdasarkan data, nilai ekspor bumbu/rempah olahan dan komoditas/rempah segar Indonesia mengalami tren positif dengan rata-rata pertumbuhan 2,95 persen selama lima tahun terakhir. Pada 2020, nilai ekspor tercatat sebesar US$1,02 miliar 

Target dari “Indonesia Spice Up The World” hingga 2024 mendatang adalah peningkatan nilai ekspor bumbu dan rempah menjadi US$ 2 miliar. Selain itu juga hadirnya 4.000 restoran Indonesia di luar negeri.

“Pelaku parekraf kita butuh pasar di luar negeri, mereka harapkan bahwa pandemi ini bisa membuka peluang-peluang rempah Indonesia untuk berkembang. Kita tidak boleh menurunkan semangat dan persiapan agar pelaku ekonomi kreatif, terutama UMKM kita bela. Kita harus hadir dan mereka butuh pasar ini,” kata Sandiaga.

Amerika Serikat sendiri dikatakan Sandiaga merupakan pasar yang besar untuk pengembangan pasar rempah dan kuliner khas Indonesia. Sekitar 20-25 persen dari pasar ekspor rempah Indonesia. 

“Jadi peluang besar juga adalah restoran Indonesia di sana. Dalam koordinasi dengan tim Konjen RI di sana, ada sekitar 100 sampai 150 restoran yang dapat berpartisipasi dalam mewujudkan 4.000 restoran Indonesia di luar negeri,” kata Sandiaga. 

Kehadiran delegasi Kemenparekraf nantinya sebagai langkah awal dalam program “Indonesia Spice Up The World” dengan melakukan koordinasi bersama KBRI dan KJRI di New York. 

Mereka melakukan penguatan jejaring melalui pertemuan dengan para penggiat kuliner, importir bumbu, dan pengusaha restoran non Indonesia di New York untuk ikut berperan aktif menyemarakkan program dan mendorong pembukaan restoran baru berbasis kuliner Indonesia di New York. 

Selain itu juga melakukan pertemuan terkait International Year of Creative Economy dengan PTRI untuk menekankan kembali posisi Indonesia dan peluang untuk kerja sama internasional; serta penguatan jejaring strategis lainnya antara lain di bidang musik, wisata minat khusus, dan MICE. 

“Walau saya sudah mendapat persetujuan pimpinan, tapi saya putuskan untuk tidak berangkat tapi ikuti kegiatan secara hybrid,” kata Sandiaga.  

Pihaknya berkomitmen untuk menjalankan program yang tepat sasaran, tepat manfaat, dan tepat waktu bagi industri dan juga pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif. Kemenparekraf akan mempercepat kebijakan yang berpihak pada pelaku parekraf melalui program mandiri maupun kolaborasi dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). 

Di antaranya adalah Restrukturisasi Kewajiban Perbankan, Program Penjaminan Kredit Usaha, baik untuk UKM maupun usaha besar atau korporasi, program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sementara untuk usaha perorangan mikro, pemerintah telah menyediakan program Bantuan Presiden untuk Usaha Mikro (BPUM).

Pemerintah juga meluncurkan program untuk membantu beban operasional usaha melalui relaksasi biaya listrik dan juga perpajakan untuk para pekerja dan masyarakat yang terdampak. Pemerintah juga telah menyediakan program Pra Kerja dan Bansos.

Di sektor parekraf sendiri, Kemenparekraf telah mengajukan ke Kementerian Keuangan dan mempersiapkan secara khusus program PEN dengan pagu anggaran sebesar Rp2,4 triliun.

Program PEN tersebut dijalankan melalui sejumlah program, yaitu: Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI), Bangga Buatan Indonesia (BBI), Sertifikasi CHSE bagi usaha Pariwisata, PEN Film, dukungan akomodasi hotel untuk tenaga kesehatan, juga Bantuan Pemerintah untuk Usaha Pariwisata (BPUP). 

“Kita akan pastikan ketepatan sasaran program serta akuntabilitasnya,” kata Menparekraf Sandiaga Uno sambil menegaskan ke depan  media pariwisata juga akan menerima bantuan.

Kemenparekraf mendorong para pelaku pariwisata untuk memanfaatkan program-program yang telah dipersiapkan agar dapat menciptakan peluang-peluang baru,  meningkatkan kapasitas dan kompetensi diri, serta mempersiapkan daya tarik wisata yang lebih baik lagi.

 

Hilda Ansariah Sabri

Pendiri, Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan pemegang sertifikasi Wartawan Utama Dewan Pers dan Ketua Departemen Pariwisata PWI Pusat (2018-2023)